Buletin PSP
Not a member yet
155 research outputs found
Sort by
KEBIJAKAN INTERNASIONALMENGENAI KESELAMATAN NELAYAN
Kapal ikan, alat tangkap ikan dan nelayan merupakan tiga faktor yang mendukung keberhasilan suatu operasi penangkapan ikan. Aktivitas menangkap ikan, terutama di laut merupakan kegiatan yang beresiko tinggi. Faktor keselamatan kapal maupun nelayan merupakan hal yang utama untuk menunjang kesuksesan suatu operasi penangkapan. Menurut IMO, 80% dari kecelakaan, disebabkan oleh kesalahan manusia (human error) dan sebagian besar kesalahan ini dapat dihubungkan dengan kekurangan manajemen yang menciptakan pra-kondisi untuk terjadinya kecelakaan. Kebijakan internasional dibuat berdasarkan persetujuan dan kesepakatan bersama negara-negara anggota yang tergabung didalamnya, sehingga menjadi kewajiban untuk setiap negara anggota melaksanakannya. Telaah yang dilakukan pada penelitian ini adalah mengidentifiksi kebijakan internasional yang berhubungan dengan keselamatan nelayan. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Data tersebut diperoleh dengan cara studi pustaka, yaitu melakukan pengumpulan data pustaka atau telaah dokumen berupa aturan yang terkait dengan materi penelitian. Dokumen tersebut didapatkan dari lembaga internasional yang terkait, antara lain IMO, ILO dan FAO yang mempunyai kepentingan pada keselamatan nelayan, serta penelusuran melalui situs-situs internet yang terkait. Saat ini, pada tingkat internasional, telah ada lembaga atau organisasi internasional yang mengatur tentang keselamatan pelayaran. Keselamatan pelayaran yang dimaksud oleh lembaga tersebut mencakup keselamatan nelayan dan kapal ikan yang digunakan. Lembaga yang dimaksud adalah IMO, ILO dan FAO. Setiap lembaga yang terlibat, mempunyai batasan-batasan sesuai dengan cakupan organisasi masing-masing.Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan, secara jelas telah mengatur tentang keselamatan nelayan dan kapal ikan, sedangkan implementasi yang dilakukan pada negara-negara anggotanya tersebut masih kurang. Kebijakan internasional yang ada belum dapat diimplementasikan sebelum dilakukan kesepakatan pada regional tersebut.Kata kunci: kebijakan keselamatan, keselamatan nelaya
DESAIN DAN KONSTRUKSI PERAHU KATAMARAN FIBERGLASS UNTUK WISATA PANCING
Bahan baku kayu pembuat perahu/kapal semakin langka dan mahal. Informasi tentang cara pembuatan perahu berbahan dasar fiberglass pun masih sangat sedikit yang dipublikasikan dalam bentuk karya ilmiah. Penelitian yang dilaksanakan pada bulan Maret-Juli 2012 ini memberikan alternatif solusi untuk kedua permasalahan tersebut melalui proses desain dan konstruksi perahu katamaran fiberglass berdasarkan rujukan BKI. Pengolahan data dilakukan dengan metode numeric berupa formula-formula naval architecture untuk mendapatkan nilai parameter hidrostatis dari kapal yang diteliti. Analisis data dilakukan dengan membandingkan nilai rasio dimensi kapal. Pembuatan perahu katamaran fiberglass diawali dengan pembuatan desain perahu, pembuatan model perahu, pembuatan cetakan perahu dan pembuatan perahu. Desain perahu katamaran yang dibuat memiliki dimensi utama sebagai berikut: panjang (LOA), lebar (B), dalam (D) dan jarak antar lambung secara berurutan yaitu: 4 meter; 1,9 meter; 0,55 meter dan 1 meter. Adapun kelengkapan perahu katamaran ini antara lain: kursi, tempat umpan, mesin, palka, tempat alat pancing, tempat accu, lampu, tempat peralatan dan ruang reserve buoyancy. Konstruksi perahu katamaran ini dilengkapi dengan gading-gading dan galar sebagai penunjang kekuatan melintang dan memanjang dari perahu. Cadangan daya apung/reserve buoyancy didesain pada perahu ini untuk memperkecil resiko tenggelam.Kata kunci: perahu, katamaran, fiberglas
VIBRIO SP. ATTACK ON DOMESTICATED MANTIS SHRIMP, HARPIOSQUILLA RAPHIDEA
The mantis shrimp, Harpiosquilla raphidea, is an economically valued crustacean species caught mainly in some Indonesian coastal waters, and is the main target of fisherman in Kuala Tungkal, Province Jambi. To avoid the extinction of the species due to intensive exploitation, a domestication effort was conducted in laboratory. The domestication was aimed to observe gonad development in female shrimp. However, during domestication necrosis and some clinical signs of vibriosis occurred. Microbial isolation from hepatopancreas, intestine, gills and uropod of infected shrimps found Vibrio sp. The occurrence of vibriosis seems to affect gonad development in females. Besides, the Vibrio sp. attack caused total mortality also. Key words: vibrio, vibriosis, mantis shrimp, gonadal developmen
DAYA DUKUNG LINGKUNGAN DAN PERAN STAKEHOLDERS UNTUK PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN BERBASIS PENANGKAPAN DI PENGAMBENGAN, JEMBRANA-BALI
Pengambengan dipilih sebagai sasaran pengembangan kawasan minapolitan sekitar 75,3% kegiatan perikanan Kabupaten Jembrana terjadi di Pengambengan. Selain itu, sekitar 6.935 dari 10.149 RTN beraktivitas di sana. Metode yang digunakan dalam penelitian inimencakup analisis fisiko-kimia, analisis bivariat correlation, dan analisis QSPM. Dari aspek lingkungan, pengembangan kawasan minapolitan berbasis penangkapan masih terkendala oleh kondisi perairan yang sedikit tercemar oleh deterjen (1,02 ppm) dan logam berat Pb (0,0011ppm). PEMDA dan nelayan mempunyai tingkat peran “kuat’ bagi pengembangan kawasan minapolitan berbasis penangkapan, yang ditunjukkan oleh NK masing-masing 0,713 dan 0,645. Industri perikanan mempunyai tingkat peran “sedang” (NK 0,379), sedangkan usahapendukung/jasa perikanan seta masyarakat mempunyai tingkat peran “sangat kuat” bagi pengembangan kawasan minapolitan berbasis penangkapan, dengan NK masing-masing 0,785 dan 0,814. Praktek produksi bersih dalam penangkapan dan penanganan industri perikananmerupakan strategi terpilih (TNKO= 5,65) untuk mendukung pengembangan kawasan minapolitan berbasis penangkapan di Pengambengan, Kabupaten Jembrana.Kata kunci: lingkungan, minapolitan, perikanan tangkap, tingkat pera
PENDEKATAN TERPADU PENGAYAAN STOK DAN SEA RANCHING UNTUK MENJAMIN KEBERLANJUTAN SUMBER DAYA PERIKANAN TANGKAP
Stok ikan tangkapan global mengalami penurunan sejak era 1990-an. Fenomena yang sama juga telah terjadi di beberapa kawasan penangkapan di Indonesia. Integrasi upaya pengayaan stok (stock enhancement) dan sea ranching dalam kerangka pengelolaan perikananyang bertanggung jawab merupakan alternatif solusi yang perlu segera diimplementasikan. Analisis dilakukan terhadap berbagai hasil studi yang tersedia untuk memahami konsep dan permasalahan pengayaan stok ikan. Hasilnya, suatu pendekatan yang terintegrasi dan sistematis dalam melakukan program pengayaan stok disintesis dan diusulkan dalam kontribusi ini. Selanjutnya, karakteristik bioekologi yang dimiliki sumberdaya ikan kelompok invertebrata laut, potensial digunakan sebagai biota target dalam menginisiasi dan mengembangkan program stock enhancement dan sea ranching. Namun serangkaian penelitian perlu dilakukan untuk efektifitas program ini. Kata kunci: pengayaan stok, sea ranching, avertebrata laut, overfishin
PEMASARAN HASIL TANGKAPAN DAN KEBIJAKAN PUMP DI PPN PALABUHANRATU
Permasalahan pemasaran ikan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu (PPNP) terjadi pada saluran pemasaran yang melibatkan pemilik modal yang berperan sebagai bakul atau pedagang besar. Nelayan berharap dominasi bakul/tengkulak bisa dikurangi salah satunya melalui kebijakan pemberian modal nelayan agar ketergantungan pada bakul bisa terputus dan tidak ada lagi kecurangan dalam sistem lelang di PPNP. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji permasalahan pemasaran yang ada di PPNP dan menganalisis efektifitas dari kebijakan Pemberdayaan Usaha Mina Perdesaan (PUMP). Hasil penelitian menunjukkan margin pemasaran yang dinikmati bakul sangat besar yaitu Rp 9000/kg untuk Tuna dan Rp 7000/kg untuk Cakalang. Fisherman share pemasaran ikan Tuna adalah 51,5% sedangkan Ikan Cakalang hanya 40%. Pelaksanaan kebijakan PUMP di PPNP menunjukkan bahwa masih banyak tengkulak yang mengkoordinir nelayan untuk menjadi kelompok usaha agar mendapat bantuan dimana tengkulak menjadi ketuanya. Hasil analisis kebijakan menunjukkan bahwa Program PUMP akan bisa berjalan dengan baik jika memperhatikan beberapa faktor: pertama, dilakukan melalui pendekatan kultural untuk menciptakan community relationship dan kesejahteraan nelayan, kedua: Bantuan Langsung Masyarakat harus rutin diaudit agar tidak ada penyalahgunaan dana dan modal benar-benar bisa sampai ke nelayan. ketiga : evaluasi dan keberlanjutan program harus dilakukan meski ada perubahan kepemimpinan, keempat : harus diikuti oleh mekanisme pengawasan dan penegakan hukum.Kata kunci: Pemasaran Ikan, Palabuhanratu, Kebijakan, Pemberdayaan Usaha Mina Perdesaa
ANALISIS KEBERLANJUTAN RAPFISH DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA, IKAN KAKAP MERAH Asep Suryana (Lutjanus sp.) DI PERAIRAN TANJUNG PANDAN
Pemanfaatan sumber daya ikan secara berkelanjutan pada dasarnya adalah tujuan dari pengelolaan yang menjamin tingkat pemanfaatan sumber daya yang tidak merusak atau melampaui daya pulihnya, sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup generasi masa kinimaupun generasi yang akan datang. Hasil penelitian menunjukan bahwa upaya pemanfaatan sumber daya ikan kakap merah (Lutjanus sp.) di Perairan Tanjungpandan dan sekitarnya, dari dimensi ekologi, sosial dan etik sudah berada pada kondisi kurang berkelanjutan, sementaradari segi ekonomi dan teknologi berada pada kondisi cukup berkelanjutan. Dalam rangka untuk meningkatkan status keberlanjutan, pengambil kebijakan sebaiknya mempertimbangkan atribut-atribut utama yang memiliki daya ungkit tinggi, yang meliputi hasil samping, daerahkonservasi, tingkat konflik, partisipasi masyarakat, ukuran kapal, keamanan, limbah buangan dan mitigasi habitat. Kata kunci: kakap merah, perairan Tanjungpandan, rapfis
PENGEMBANGAN DESAIN KAPAL PANCING TONDA DENGAN MATERIAL FIBERGLASS DI KABUPATEN BUTON
Penggunaan kayu sebagai bahan pembuat kapal sudah mulai menghadapi permasalahan, khususnya kesediaan bahan baku. Selain semakin langkanya bahan baku kayu, harganya pun semakin mahal. Oleh karena itu upaya untuk mengaplikasikan bahan lain sebagai bahan pembuat kapal sudah saatnya dilakukan. Pada penelitian ini, salah satu bahan yakni fiberglass dicobakan untuk menggantikan kayu sebagai bahan pembuat kapal pancing tonda (troller). Walaupun harganya relatifmahal, namun untuk jangka panjang bahan ini lebih ekonomis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan aplikasi fiberglass, kapal yang dihasilkan lebih ringan dan menghasilkan kecepatan lebih tinggi dengan kekuatan mesin yang sama. Kata kunci: Buton Regency, fiberglass, kapal pancing tonda (troller), kecepatan, pengembangan desai
SELEKSI JENIS ALAT TANGKAP DAN TEKNOLOGI YANG TEPAT DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA LEMURU DI SELAT BALI
Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan untuk penangkapan ikan lemuru di Selat Bali, baik oleh nelayan di Kabupaten Banyuwangi maupun di Kabupaten Jembrana terdiri dari beberapa jenis. Jenis alat tangkap tersebut adalah purse seine (sleret), gillnet, payang, bagan, dan pukat pantai. Untuk memperoleh pedoman pengembangan alat tangkap, diperlukan suatu kajian dan seleksi terhadap alat yang digunakan. Kajian ini dapat dijadikan sebagai informasi dalam pengambilan keputusan dan penyusunan kebijakan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis alat tangkap yang baik untuk penangkapan lemuru di Selat Bali, dilihat dari aspek biologi, teknis, sosial, ekonomi, dan aspek ekosistem. Analisis yang digunakan adalah analisis skoring. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa unit alat tangkap yang dapat dijadikan sebagai dasar dan pedoman untuk dikembangkan dalam rangka upaya pemanfaatan sumberdaya perikanan lemuru di Selat Bali yang dilakukan oleh nelayan di Kabupaten Banyuwangi secara berurutan adalah purse seine, gillnet, payang, dan bagan. Untuk Kabupaten Jembrana secara berurutan alat tangkap yang dapat dikembangkan adalah purse seine, gillnet, dan pukat pantai. Jika dilihat secara keseluruhan, maka alat tangkap utama yang potensial untuk menangkap lemuru (Sardinella lemuru Bleeker, 1853) adalah purse seine. Namun demikian, hal yang perlu dipertimbangkan bahwa alat tangkap selain purse seine yangdimiliki oleh nelayan kecil tetap dapat diupayakan karena menyangkut kelangsungan hidup nelayan yang menggunakan alat tangkap selain purse seine di Selat Bali. Pembaharuan terhadap kuota alat tangkap purse seine di masing-masing wilayah melalui keputusan bersamadua Provinsi. Berdasarkan keputusan bersama tersebut, dapat terwujud pengelolaan sumberdaya perikanan lemuru (Sardinella lemuru Bleeker, 1853) di Selat Bali secara berkelanjutan, ramah lingkungan dan lestari.Kata kunci: Selat Bali, seleksi alat tangkap, skoring, sumberdaya lemuru, teknolog
PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PENGELOLAAN SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN PERIKANAN TANGKAP DI KABUPATEN PADANG PARIAMAN, SUMATERA BARAT (Development of Management Information System of Capture Fishery Resources and Environment in Padang Pariaman Regency, WS)
UU Nomor 45 tahun 2009 pasal 46 dan 47 menekankan perlunya pengembangan pusat data dan informasi perikanan yang mudah diakses untuk kepentingan pemanfaatan danperlindungan sumberdaya ikan dan lingkungannya, termasuk di Kabupaten Padang Pariaman. Penelitian ini bertujuan merancang sistem informasi pengelolaan sumberdaya dan lingkungan perikanan tangkap di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Analisis penelitian ini menggunakan Software Microsoft Access, Microsoft Visual Basic 6, Adobe Photoshop CS,CorelDRAW X4 dan ArcView 3.3. Sistem informasi yang dihasilkan diberi nama SI-PSLP 1.0. SI-PSLP untuk Kabupaten Padang Pariaman ini mempunyai lima menu utama, yaitu menu sumberdaya ikan, menu lingkungan, menu sarana prasarana, menu sosial ekonomi, dan menu manajemen data. Menu sumberdaya ikan memuat informasi jenis ikan, taksonomi ikan, tingkah laku ikan, penyebaran ikan, produksi dan nilai produksi ikan, dan menu lingkungan memuat informasi kondisi lingkungan fisika (suhu, cahaya, arus, gelombang dan bathimetri), kimia (salinitas, pH, fosfat, nitrat, logam berat dan DO), biologi, dan ekosistem pantai. Menusarana prasarana memuat informasi alat penangkapan ikan, kapal perikanan, alat bantu penangkapan dan PPI, sedangkan menu sosial ekonomi memuat informasi nelayan,pemberdayaan nelayan dan kelompok nelayan. Setiap menu terkoneksi dengan menu yang lainnya yang dikendalikan oleh menu manajemen data. SI-PSLP ini memiliki fasilitas dalammelakukan manipulasi data (penambahan, penghapusan, dan pengubahan), dan mencetak keluarannya.Kata kunci: lingkungan, menu, sistem informasi, sumberdaya ika