Buletin PSP
Not a member yet
    155 research outputs found

    POLA IMPLEMENTASI CO-MANAGEMENT PERIKANAN TANGKAP DI PALABUHANRATU (Implementation Patterns of Capture Fisheries Co-Management in Palabuhanratu)

    Full text link
    Co-management merupakan salah satu pendekatan pengelolaan sumberdaya perikanan yang memberi peran besar bagi partisipasi masyarakat dengan fasilitasi oleh pemerintah dan stakeholders lainnya dalam pengelolaan sumberdaya yang dimilikinya. Palabuhanratutermasuk kawasan pesisir yang telah banyak kegiatan/proyek melibatkan partisipasi masyarakat pemerintah, perguruan tinggi, LSM, dan swasta dalam pengembangan kegiatan perikanannya, dan saat ini menjadi kawasan minapolitan. Penelitian ini bertujuan merumuskan pola implementasi co-management dalam mendukung pengelolaan perikanantangkap di Palabuhanratu. Penelitian ini menggunakan metode Structural Equation Modelling (SEM). Beberapa komponen pengelolaan berinteraksi signifikan adalah (a) pengembangan sumberdaya manusia dan permodalan (

    ANALISIS HUKUM INTERNASIONAL DALAM PENGELOLAAN PERIKANAN DI LAUT LEPAS UNTUK MEWUJUDKAN PERIKANAN BERKELANJUTAN

    No full text
    Produksi perikanan dunia semakin menurun, sehingga beberapa hukum internasional dikeluarkan untuk mengatasi hal tersebut. Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis landasan hukum pengelolaan perikanan di laut lepas; dan (2) memaparkan organisasiorganisasi sub-regional dan regional perikanan yang terbentuk di wilayah laut lepas yang berbatasan dengan perairan Indonesia. Metode dalam penelitian ini adalah analisis yuridis normatif melalui pendekatan yuridis historis dan yuridis  komparatif. Analisis hukum mengungkapkan terdapat lima hukum internasional yang mengatur pemberantasan IUU  Fishing, yaitu UNCLOS 1982, FAO Compliance Agreement 1993, UNIA 1995,CCRF 1995, danIPOA on IUU Fishing 2001. Sementara RFMO yang berbatasan dengan perairan Indonesia, adalah IOTC, WCPFC, dan CCSBT. Beberapa hal yang diperhatikan dalam kerjasama  RFMO, yaitu wilayah kewenangan, spesies ikan yang ditangkap, keanggotaan, dan kewajiban para pihak. Kata kunci: hukum internasional, laut lepas, perikanan,  RFM

    KEBERLANJUTAN PERIKANAN SKALA BESAR DI LAUT ARAFURA

    Full text link
    Arafura merupakan salah satu  perairan di Indonesia “the golden fishing ground” dalam industri perikanan tangkap Indonesia. Potensi lestari (MSY) sebanyak 771.600 ton /tahun terdiri ikan pelagis, ikan demersal, udang, cumi-cumi, lobster dan ikan karang, Laut Arafura telah menjadi "faktor menarik" untuk perikanan tangkap skala besar yang menggunakan kapal > 30 GT. Sayangnya, memancing intensitas tinggi di Laut Arafura mengakibatkan "penangkapan ikan yang berlebihan" dan masalah lain sebagai Illegal-Unreported-Unregulated (IUU) fishing, metode penangkapan ikan yang merusak, perusakan habitat ikan, dan konflik sosial. Di sisi lain, Laut Arafura telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam mendapatkan pekerjaan pemerintah dan menyediakan bagi nelayan dan orang-orang yang terlibat. Sehingga sangat penting untuk mengelola Laut Arafura perikanan mempertimbangkan aspek multi-disiplin seperti ekologi, teknologi ekonomi, sosial, dan etika. Juga penting untuk mengetahui keadaan keberlanjutan Laut Arafura dalam multi-disiplin sebagai dasar untuk menentukan kebijakan perikanan terbaik di daerah itu di masa depan. Ada 5 (lima) perikanan utama (dengan alat tangkap) di Laut Arafura menggunakan sebagai jaring ikan, jaring udang, insang bersih, garis panjang bawah, dan garis squid / jigging. RAPFISH (Penilaian cepat untuk Perikanan) adalah metode analisis baru yang dikembangkan oleh University of British Columbia, Kanada untuk mengevaluasi keberlanjutan perikanan dalam multi-disiplin. Analisis RAPFISH (termasuk Leverage dan Monte Carlo analisis) oleh 5 (lima) jenis perikanan memberikan beberapa hasil sebagai: (1) perikanan dari Laut Arafura adalah cukup berkelanjutan dengan skor 53,86; (2) squid jigging, rawai bawah , dan perikanan berkelanjutan gillnet cukup; tetapi ikan bersih dan jaring udang kurang berkelanjutan, (3) dimensi ekologi yang baik dengan skor 72,43 berkelanjutan, tetapi dimensi etika kurang berkelanjutan dengan skor 37,26. Analisis Leverage menunjukkan atribut yang memberikan pengaruh tertinggi untuk setiap dimensi sebagai: (1) ukuran ikan pada dimensi ekologi, (2) sektor pekerjaan pada dimensi ekonomi, (3) FAD (ikan menarik perangkat) menggunakan dan selektivitas gigi pada teknologi dimensi; (4) tingkat pendidikan pada dimensi sosial, dan (5) hanya manajemen padadimensi etika. Ini direkomendasikan untuk pengembangan perikanan Laut Arafura untuk mempromosikan alat tangkap rawai keberlanjutan seperti cumi jigging, bawah, dan perikanan gillnet.Kata kunci: Laut Arafura, RAPFISH, keberlanjuta

    MANAJEMEN PRODUKSI IKAN TERI NASI DI CV. SUMBER REJEKI INDRAMAYU

    No full text
    Indramayu merupakan daerah penghasil ikan teri nasi yang cukup besar di Jawa Barat. Ikan teri nasi memiliki nilai jual yang tinggi karena merupakan ikan ekspor. Oleh karena itu, banyak bermunculan perusahaan pengolahan ikan teri di Kabupaten Indramayu, salah satunyaadalah CV. Sumber Rejeki. Tujuan dari penelitian ini untuk  membandingkan praktis dan teoritis manajemen usaha ikan teri nasi di CV. Sumber Rejeki yang meliputi: 1) manajemen bahan baku; 2) manajemen produksi ikan teri nasi mulai dari tahap pengolahan sampai dengan tahap pemasaran; dan 3) manajemen mutu produk ikan teri nasi kering. Metode yang digunakan adalah analisis teknis dan deskriptif, analisis klasifikasi pola produksi, serta analisis mutu menggunkaan peta kendali p. Teknik pengumpulan data menggunakan snowball sampling dengan cara pengamatan dan wawancara terhadap sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen bahan baku di CV. Sumber Rejeki belum baik karena kurangnya pengawasan terhadap bahan baku. Perbedaan harga ikan teri nasi antara nelayan dan bakul Rp 1.000 hingga Rp 2.000.  Proses pengolahan ikan teri nasi pada umumnya terdiri dari dua proses yang akan terbagi menjadi proses-proses yang lebih rinci, sedangkan dalam pemasaran produk ekspor, CV. Sumber Rejeki bekerja sama dengan perusahaan pengekspor.  Produk chirimen adalah produk ikan teri nasi ekspor yang memiliki standar mutu  tersendiri, berdasarkan analisis mutu, maka mutu produk ikan teri nasi CV. Sumber Rejeki berada pada batas luar kendali (tidak terkontrol). Penjualan produk CV. Sumber Rejeki pada tahun 2011 adalah 80% (222.525 kg) merupakan produk domestik dan 20% (55.072 kg) produk ekspor. Kata kunci: bahan baku, Indramayu, produksi, teri nas

    MOBILITAS DAN ALIH STATUS NELAYAN SKALA KECIL DI PROVINSI SULAWESI UTARA (Mobility and Status Exchange of Small Scale Fishermanin North Sulawesi Province)

    No full text
    North Sulawesi’s fisherman still predominated by traditional fisherman with small scale industry. This condition can trigger traditional fisherman perform a mobilization to get result of which is more to place/other area, because arrest its own region have been predominated by big scale fishermen. With condition of fisherman as elaborated above, hence require to be studied systematic and comprehensive related to Mobility and status Exchange of Small Scale Fisherman in North Sulawesi Province. Target of Research are: (1) Identifying fisherman mobility status in North Sulawesi Province., (2) Mapping factors/component having an effect on to mobility work of fisherman. Mapping resulted from impact mobility work of fisherman. Time and place of this research is conducted during 6 months, namely January 2011 up to June 2011. Research conducted in Province Sulawesi North, and intake of primary data focused at coastal countryside. Intake of sample determined by some example of region having the effort fishery catch able to deputize entire population exist in research region. Intake of fisherman household example conducted by withdrawal of random example "clustery" and is high rise (multi-stages). Type and Source Data Pursuant to target of research to reach, hence data which collected in this research consist of two type, that is: primary data and of secondary data. Analyze data which used in this research are: (1)  Descriptive Qualitative Analysis; (2) Analysis of SEM. Fisherman in North Sulawesi Province do mobility either through geographical and or work, mentioned on the basis of some consideration. As for geographical transfer of arrest area location to neighbor countryside, while transfer of work is transfer of fisherman become the non fisherman. Result of analysis of SEM mapping factors/component having an effect on to mobility work fisherman and map resulted from impact is mobility work fisherman.  Key words: mobility, small-scale fishermen, status exchange, and SE

    GEOMETRI TERUMBU PULAU KECIL: MODEL PERENCANAAN KAWASAN KONSERVASI BERBASIS PERIKANAN TANGKAP DI KABUPATEN KEPULAUAN SITARO (Reef geometri of small islands : A Model Conservation Planning based on Fisheries Capture in Sitaro Archipelagic Regency)

    Full text link
    Model pengelolaan pulau-pulau kecil berdasar pada geometrik terumbu karang dapat digunakan dalam penentuan suatu kawasan konservasi laut. Metode ini mencoba melihat ikantarget sebagai variabel prediksi, karang sebagai variabel indikator dan geometri terumbu sebagai variabel pengungkit yang dipakai sebagai suatu unit penentuan suatu kawasankonservasi laut. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengungkapkan model geometri terumbu pulau kecil sebagai suatu kerangka model dalam penentuan kawasan konservasi dan perencanaan perikanan artisanal berbasis ekosistem. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komposisi kelimpahan ikan target bervariasi antara 208–732 individu/250 m, tutupan karang keras 28,40–50,92% dan karakteristik pulau berdasar geometri terumbu terdiri dari 4 model yaitu terumbu segitiga, terumbu lingkaran, terumbu ginjal dan persegi panjang terumbu. Dari hasil simulasi dengan pendekatan indeks kesamaan (morpho-structural groups ) berdasar pada persentasi tutupan karang, model yang terbentuk menghasilkan 3 kelompok utama, dengan Pulau Mahoro 1 dan 2 menunjukkan nilai konservasi tertinggi. Model pendekatan geometrik terumbu pulau-pulau kecil ini adalah merupakan salah satu cara di dalam penentuan unit kawasan konservasi, bukan sebagai syarat ekslusif dalam membuat keputusan tentang kebijakan atau zonasi kawasan konservasi. Sebaliknya metode ini memperkirakan kelas terumbu dan ikan target sebagai unit di dalam penentuan lokasi konservasi, sehingga perlu ada kombinasi lain yang berhubungan dengan target konservasi lainnya. Target konservasi ini bisa dikombinasikan dengan keberadaan spesies langka (endangered spesies), sosial ekonomi nelayan, aktivitas transportasi dan faktor fisik perairan di dalam penetapan status kawasan konservasi.Kata kunci: geometri, konservasi, spesies, terumb

    STATUS DESA PESISIR UNTUK PENGEMBANGAN INDUSTRI PERIKANAN TERPADU DI KOTA AMBON

    Full text link
    Ambon City is located in coastal area of Ambon island. Economic contributon of fisheries sector to its PDRB was relativey high (about 15%) but the poverty level of itspopulation is high. Since coastal villages are the main players of the fisheries sector, its development approach to promote community welfare should be based on the characteristicsof the 32 coastal villages. This study was designed to develop a methodology for determining coastal village status in promoting integrated fisheries industry in Ambon City. This study uses 17 indicators representing three main variables comprising fisheries business, fisheries infrastructure and socio-cultural aspects of coastal communities. Based on score calculation, there are three categories of coastal villages, i.e. desa mina mula (TSS 2,39). The analysis concludes no village of mina politan, 30 villages of mina mandiri, and 2 villages of mina mula. Such diverse characteristics indicate that fisheries development approach should vary among villages to ensure development effectiveness.Kata kunci: coastal communities, fisheries development status, mina polita

    Desain Perahu Fiberglass Bantuan LPPM IPB di Desa Cikahuripan, Kecamatan Cisolok, Sukabumi

    No full text
    Desa Cikahuripan sebagian besar penduduknya, yaitu 1.425 dari total penduduk sebanyak 2.507 jiwa adalah sebagai nelayan. Sebagai nelayan, kapal/perahu merupakan kebutuhan vital yang digunakan untuk sarana unit penangkapan ikan, yaitu sebagai alat transportasi dari fishing base ke fishing ground dan media pengangkutan ikan. Keadaan dari perahu nelayan Cikahuripan sebagian besar sudah tua dan tidak layak laut, sehingga perlu peremajaan kapal. Namun kendala yang dihadapi adalah pengadaan bahan baku berupa kayu yang berkualitas tinggi di daerah Cikahuripan sangat sulit dan ditambah lagi maraknya isu illegal logging yang semakin menambah susah dalam usaha mencari bahan baku. Sehingga dipilih bahan fiberglass sebagai alternatif pengganti kapal kayu. Permasalahan sakarang ini adalah belum adanya pengujian kelayakan dari perahu yang diproduksi sehingga peneliti merasa perlu meneliti lebih lanjut. Perahu fiberglass yang diproduksi diberi nama perahu “Kahuripan Nusantara“. Perahu ini mempunyai dimensi utama sebagai berikut; panjang total (LOA) sebesar 9,56 m; LPP sebesar 8,2 m; dalam (D) sebesar 73,5 cm dan lebar (B) sebesar 111,6 cm. Bahan baku utama pembuatan fiberglass yaitu resin, katalis, talk, erosil, met, roving dan kayu sebagai penguat rangka (gading-gading). Perahu yang diproduksi mengikuti desain perahu dari Cilacap. Proses pembuatan perahu fiberglass masih menggunakan metode sederhana yaitu hand lay up dengan urutan pengerjaan yaitu pelapisan gelcoat -> met -> roving -> met dan terakhir dilakukan pelapisan gelcoat kembali. Secara umum perahu fiberglass yang diproduksi sesuai dengan kapal-kapal yang beroperasi di Indonesia, mulai dari nilai rasio dimensi utama sampai nilai parameter hidrostatisnya. Selain itu, perahu Kahuripan Nusantara juga tergolong mempunyai kestabilan yang cukup baik.Kata kunci: desain perahu, fiberglass, general arrangement, lines plan, parameter hidrostati

    HASIL TANGKAPAN PANCING TONDA BERDASARKAN MUSIM PENANGKAPAN DAN DAERAH PENANGKAPAN TUNA DENGAN RUMPON DI PERAIRAN SELATAN PALABUHANRATU

    No full text
    Penelitianpada pancing tonda berdasarkan musim penangkapan ikan dan penangkapan ikan tuna di sekitar rumpon ini dilakukan dari bulan April sampai Juli 2012 di selatan perairan Palabuhanratu. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan komposisi CPUE tuna danmemetakan penangkapan tuna dengan rumpon pada musim yang berbeda. Analisis Varians (ANOVA) digunakan untuk membandingkan CPUE di setiap musim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan musim memberikan perbedaan yang signifikan terhadap CPUE tuna. Persentase ikan tuna yang ditangkap di sekitar rumpon pada musimrata-rata terdiri dariyellowfin (42%), cakalang (36%) dan bigeye (22%). Musim tangkapan terendah terdiri dari yellowfin (44%), cakalang (30%) dan bigeye (25%). Musim puncak terdiri dariyellowfin (34%), cakalang (46%) dan bigeye (21%). Penangkapan ikan tuna di wilayah selatan Palabuhanratu pada posisi 070-080300 LS and 1060-1070 BT dengandaerah penangkapan ikan yang berbeda untuk setiap musim.Kata kunci: rumpon, daerah penangkapan ikan, musim penangkapan, pancing tonda, tun

    MORFOLOGI HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN (BYCATCH) JARING ARAD (DEMERSAL TRAWL) DI PERAIRAN UTARA JAWA BARAT (Morfology of the Bycatch from Jaring Arad (Demersal Trawl) in Northern Water’s of West Java)

    No full text
    Perikanan trawl dasar menangkap ikan hasil tangkapan sampingan sehingga digolongkan ke dalam alat tangkap yang tidak selektif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa komposisi hasil tangkapan dan mengidentifikasi morfologi ikan hasil tangkapan sampingan dari jaring arad. Hasil tangkapan utama dan hasil tangkapan sampingan di Blanakan pada bulan Juli sebesar 52,92 kg dan 354,88 kg (ratio 1:6) dan pada bulan Desember 192 kg dan 788 kg (ratio 1:4). Hasil tangkapan utama dan hasil tangkapan sampingan di Eretan Kulon pada bulan Juli sebesar 101,38 kg dan 273,43 kg (ratio1:3) dan pada bulan Desember 194,2 kg dan 692 kg (ratio 1:4). Hasil tangkapan sampingan di Blanakan didominasi oleh ikan pipih tegak seperti Leiognathidae, Sciaenidae, Nemipteridae dan Mullidae, pipih datar seperti Platychepalidae. Hasil tangkapan sampingan untuk di Eretan Kulon didominasi oleh jenis ikan pipih tegak seperti Sciaenidae, Leiognathidae, Nemipteridae dan Mullidae, ikan cerutu dari Synodontidae.  Kata kunci: morfologi, hasil tangkapan sampingan, trawl dasa

    71

    full texts

    155

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin PSP
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇