Buletin PSP
Not a member yet
155 research outputs found
Sort by
POLA INTERAKSI ANTAR PELABUHAN PERIKANAN DI KABUPATEN SUKABUMI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola interaksi antar pelabuhan perikanan dan pola distribusi hasil tangkapan di Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PPN Palabuhanratu merupakan pelabuhan pemasok perbekalan melaut berupa BBM dan es bagi sebagian besar pelabuhan perikanan yang ada di Kab. Sukabumi. Sedangkan kebutuhan air sebagian besar dipenuhi oleh pelabuhan perikanan masing-masing. Faktor-faktor yang mempengaruhi adanya interaksi tersebut adalah tingkat kebutuhan bahan perbekalan melaut, ketersediaan dan kemudahan untuk memperolehnya dan jarak antarpelabuhan perikanan tersebut. Pola interaksi pelabuhan perikanan dalam pendistribusian hasil tangkapan adalah adalah (i) pelabuhan perikanan yang berperan sebagai daerah pasar dan daerah transit bagi pelabuhan lainnya (ii) pelabuhan perikanan yang berperan sebagai daerah pemasok sekaligus daerah pasar bagi pelabuhan perikanan lainnya dan (iii) pelabuhan perikanan yang hanya berperan sebagai pemasok bagi pelabuhan perikanan lainnya. Hasil tangkapan ikan segar sebagian besar didistribusikan ke wilayah Jakarta melalui PPN Palabuhanratu dan perusahaan pengolahan, sedangkan ikan olahan didistribusikan ke wilayah Jakarta, beberapa kota di Jawa Barat, Banten dan Jawa Tengah.Kata kunci: distribusi, Kabupaten Sukabumi, pelabuhan perikanan, pola interaks
MORPHOMETRIC STUDY OF TWO INDONESIAN MANTIS SHRIMPS (Harpiosquilla raphidea and Oratosquillina gravieri)
Dua jenis udang mantis Indonesia, Harpiosquilla raphidea dan Oratosquillina gravieri, variasi karakter morfometrik [Panjang Kubo (BL), panjang capit (CL), lebar capit (CW), dan panjang penis (PL)] dikaji berdasarkan hasil tangkapan dari pantai berlumpur di Kuala Tungkal, Jambi, Sumatera. Hubungan alometri dibuat dengan kombinasi dua karakter morfometrik, dimana BL dijadikan sebagai faktor tetap pada sumbu x; hasilnya memperlihatkan bahwa nilai CL, CW, dan PL meningkat secara linear seiring peningkatan nilai BL. Hail analisis kovarians mengindikasikan bahwa panjang capit jantan H.raphidea lebih panjang daripada panjang capit jantan O.gravieri. Karakter ini mungkin merupakan faktor dibalik superioritas kemampuan kompetisi H. raphidea terhadap O. gravieri ketika keduanya hidup berdampingan. Kata kunci: udang mantis, kajian morfometri, Harpiosquilla raphidea, Oratosquillina gravier
SENSITIVITAS USAHA PERIKANAN GILLNET DI KOTA TEGAL, PROVINSI JAWA TENGAH (Sensitivity of Gillnet Fisheries in Tegal City, Central Java Province)
Badan Pusat Statistik (2008) menyatakan hanya sekitar 13% usaha skala kecil yang mampu mengakses pembiayaan dari perbankan, dan usaha perikanan skala kecil termasuk gillnet merupakan yang paling rendah. Hal ini karena pengelolaan usaha yang belum baik terutama dari aspek kelayakan finansial dan pengalokasian faktor produksi yang dibutuhkandalam operasi penangkapan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sensitivitas kelayakan usaha dan faktor produksi signifikan dalam operasi perikanan gillnet. Hasil analisis menunjukkan usaha perikanan gillnet di Kota Tegal mempunyai Nilai NPV, Net B/C, IRR, dan ROI berturut-turut Rp 1.993.457.657, 72, 1,09, 75,64%, dan 51,74, sehingga layakdikembangkan dan mendapatkan dukungan pembiayaan. Usaha perikanan gillnet sensitif terhadap penurunan penerimaan (Rp 3.845.549.000 per tahun) hingga 6,9%, peningkatan semua kebutuhan operasional (Rp 2.991.750.000 per tahun) hingga 21,7%, dan peningkatan kebutuhan solar (Rp 1.323.000.000 per tahun) hingga 49,1%. Ukuran jaring, lama trip, stock BBM, stock es, anak buah kapal (ABK), stock air tawar, dan perbekalan signifikan (sig < 0,05) mempengaruhi produksi ikan pada perikanan gillnet di Kota Tegal. Ada kecenderungan produksi ikan meningkat dengan bertambahnya panjang gillnet, stock BBM, stock es, danjumlah ABK yang ikut serta, sedangkan penambahan trip operasi, stock air tawar dan perbekalan tidak menyebabkan peningkatan.Kata kunci: faktor produksi, kelayakan, sensitivitas, dan signifika
SELEKTIVITAS CELAH PELOLOSAN (ESCAPE VENT) TERHADAP IKAN KUPAS-KUPAS (Cantherhines fronticinctus)
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kurva selektivitas celah pelolosan yang digunakan pada bubu tambun untuk menangkap ikan kupas-kupas. Penelitian ini menggunakan bubu tambun yang dipasang celah pelolosan dengan ukuran diameter 5 cm. Untuk menentukan kurva selektivitas celah pelolosan terhadap ikan kupas-kupas digunakan fungsi logistik. Selanjutnya, metode pengambilan data untuk analisis kurva selektivitas dilakukan dengan metode Cover Net . Hasil penelitian ini menunjukan bahwa total hasil tangkapan selama penelitian sebanyak 653 ekor dengan berat total 45,08 kg. Jumlah spesies yang tertangkap selama penelitian sebanyak 55 spesies yang terbagi ke dalam 23 famili. Hasil tangkapan dominan adalah ikan betok hitam sebanyak 96 ekor sedangkan hasil tangkapan ikan kupas-kupas sebanyak 50 ekor. Selama penelitian panjang kupas-kupas (Cantherhinesfronticinctus) yang tertangkap pada bubu berada pada kisaran 7,6-16,9 cm, sedangkan yang tertangkap pada cover net berada pada kisaran 7 cm-16,1 cm. Berdasarkan kurva selektivitas terhadap ukuran ikan kupas-kupas (Cantherhines fronticinctus) yang diperoleh menggunakan persamaan fungsi logistik, diperoleh L50 sebesar 11,45 cm. Parameter kurva selektivitas a dan b diperoleh sebesar -4,4 dan 0,38. Adapun nilai Selection Range (SR) kurva selektivitas tersebut 5.9. Hal ini berarti bahwa bubu tersebut menangkap ikan dengan kisaran panjang yang sangat besar.Kata kunci: bubu, celah pelolosan, ikan kupas-kupas, selektivita
POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN SUMBERDAYA IKAN UNGGULAN DI PERAIRAN SELAT ALAS NUSA TENGGARA BARAT
Perikanan tangkap di Selat Alas, Nusa Tegggara Barat menyumbang peranan penting tidak hanya untuk nelayan, tetapi juga untuk masyarakat setempat. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sumber daya ikan di daerah ini membutuhkan pengelolaan yang tepatdengan segera. Namun, informasi ilmiah sebagai pilihan pengelolaan komoditas di daerah ini sangat miskin. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prioritas yang dipilih dari sumber daya ikan, menilai saham dan mendefinisikan status eksploitasi prioritas yang dipilihdari sumber daya ikan yang ditangkap di Selat Alas. Metode scoring diterapkan untuk memilih sumber daya ikan, sementara surplus model produksi yang digunakan untuk menilai ukuran saham. Ada lima spesies ikan yang diidentifikasi sebagai prioritas pilihan yaitu cumi, sarden,ikan kakap merah, ikan teri, dan ikan haring. Dari lima ikan yang dipilih, hasil tertinggi maksimum lestari (MSY) masing-masing adalah ikan teri (7,915.76 ton/tahun) diikuti oleh kakap merah (2,00.01 ton/tahun), sarden (1,282.21 ton/tahun), herring (867,49 ton/tahun), dancumi-cumi (638,40 ton/tahun). Status eksploitasi komoditas terpilih tersebut diklasifikasikan ke dalam tiga kategori yaitu lebih MSY (cumi), lebih dari total tangkapan yang diperbolehkan (TAC), tetapi lebih rendah dari MSY (sarden dan herring) dan lebih rendah dari TAC (ikan teridan ikan kakap merah). Berdasarkan status eksploitasi mereka, cumi, sarden, dan ikan haring adalah tiga dari lima prioritas ikan yang dipilih di Selat Alas yang benar-benar segera membutuhkan manajemen yang serius dan tepat. Kata kunci: kelautan, MSY, perikanan tangkap, Selat Alas, TA
STRATEGI NELAYAN DALAM MENGHADAPI DAMPAK REKLAMASI DI TELUK JAKARTA
Reklamasi merupakan salah satu jalan untuk mengatasi kebutuhan lahan di DKI Jakarta yang terus meningkat. Program reklamasi yang akan dilaksanakan di Teluk Jakarta tentunya membawa dampak terhadap aktivitas perikanan yang saat ini telah berlangsung. Penelitian inibertujuan untuk mengidentifikasi dampak reklamasi terhadap aktivitas perikanan dan strategi adaptasi nelayan untuk menghadapi dampak tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dogol, bagan, payang, gillnet dan budidaya kerang hijau merupakan jenis aktivitas perikananyang akan menerima dampak reklamasi dimana gangguan terhadap jalur kapal, rusaknya sumber daya ikan dan gangguan terhadap budidaya kerang hijau merupakan jenis dampak yang paling dominan. Nelayan akan tetap menjalankan profesinya sebagai nelayan meskipun terjadi penurunan hasil tangkapan atau harus berpindah ke lokasi lain sebagai dampak dari kegiatan reklamasi. Kata kunci: dampak, perikanan, reklamasi, Teluk Jakart
PENGARUH POSISI UMPAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN BUBU LIPAT
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jumlah hasil tangkapan yang tertangkap pada bubu lipat dengan posisi pemasangan umpan yang berbeda. Penelitian ini menggunakan bubu lipat yang biasa digunakan oleh nelayan untuk menangkap kepiting bakau di Perairan Subang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama penelitian hasil tangkapan dominan adalah kepiting batu (Thalamita sp.) dengan jumlah 87 ekor atau 36% dari total hasil tangkapan, diikuti oleh rajungan (Portunus pelagicus) sebanyak 49 ekor atau setara dengan 20% dari total hasil tangkapan. Berdasarkan uji Mann-Whitney terhadap total hasil tangkapan bubu dan bobot hasil tangkapan bubu dengan posisi umpan yang berbeda, diperoleh nilai Asympt.Sig.(2-tailed) sebesar 0,761 pada taraf nyata 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata terhadap jumlah hasil tangkapan bubu dengan posisi umpan yang berbeda.Kata kunci: umpan, bubu lipat, hasil tangkapa
JENIS MUATAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP ROLLING PERIOD MODEL KAPAL
Salah satu jenis kapal perikanan adalah kapal pengangkut ikan hidup. Kapal pengangkut ikan hidup (KPIH) ini terdiri dari dua muatan yaitu padat dan cair. Perbedaan muatan tersebut akan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap pergerakan kapal. Perbedaan pergerakan ini dikarenakan muatan padat akan bersifat tetap sedangkan muatancair mudah berubah bentuk sesuai dengan tempatnya. Selain itu, apabila tangki yang bermuatan cair tidak terisi penuh maka akan terdapat permukaan bebas yang dapat mengakibatkan terjadinya efek free surface yang dapat menurunkan kualitas stabilitas kapal. Pengaruh perbedaan muatan terhadap pergerakan kapal dapat diamati melalui pergerakan rolling yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendapatkan nilai rolling period kapal bermuatan padat pada ketinggian muatan yang berbeda, 2) mendapatkan nilai rolling period kapal bermuatan cair pada ketinggian muatan yang berbeda, dan 3) mendapatkan nilai perbedaan rolling period antara kapal bermuatan padat dengan kapal bermuatan cair. Metode penelitian dilakukan dengan cara mengamati gerakan rolling model kapal sebagai efek dari keberadaan muatan padat dan pergerakan free surface muatan cair. Dari hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata rolling period kapal bermuatan padat pada ketinggian 2,2 cm adalah 0,28 detik; pada ketinggian 4,5 cm adalah 0,28 detik; dan pada ketinggian 6,7 adalah 0,33 detik. Sedangkan rata-rata rolling period kapal bermuatan cair pada ketinggian 2,2 cm adalah 0,45 detik; pada ketinggian 4,5 cm adalah 0,37 detik; dan pada ketinggian 6,7 adalah 0,37 detik. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kapal dengan muatan cair memiliki rolling period lebih lama dibandingkan kapal dengan muatan padat. Kata Kunci: free surface, stabilitas, rolling perio
PRODUKSI HASIL TANGKAPAN SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI PENGOLAHAN: KASUS PELABUHAN PERIKANAN PANTAI MUNCAR KABUPATEN BANYUWANGI
Sebagian besar hasil tangkapan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Muncar dijadikan bahan baku olahan baik di Muncar maupun di luar Muncar. Perkembangan sektor industri olahan tersebut menghendaki adanya ketersediaan bahan baku secara kontinyu dan kualitasnya terjamin. Penelitian ditujukan untuk mendapatkan informasi tentang produksi hasil tangkapan yang didaratkan dan besaran proyeksi tahun 2011-2020 serta pendistribusiannya sebagai kebutuhan bahan baku utama industri pengolahan ikan. Penelitian menggunakan metode kasus terhadap aspek produksi hasil tangkapan di PPP Muncar sebagai bahan baku industri. Volume dan nilai produksi hasil tangkapan yang didaratkan di PPP Muncar cenderung meningkat masing-masing sebesar 43,86% dan 33,62% pada periode 1999-2008, namun indeks relatif nilai produksinya < 1 atau kualitas pemasarannya kurang baik. Jenis ikan yang paling banyak dibutuhkan oleh industri pengolahan ikan di Muncar adalah lemuru, layang, dan tongkol. Bahan baku industri pengolahan di wilayah Muncar 89% berasal dari PPP Muncar. Pendistribusian hasil tangkapan langsung ditujukan ke industri pengolahan ikan dan ke konsumen wilayah Muncar serta ke daerah lain di Pulau Jawa dan Bali. Hasil proyeksi volume produksi ikan lemuru dan layang menunjukkan peningkatan pada periode 2011-2020, sedangkan ikan tongkol menunjukkan penurunan sehingga perlu didatangkan dari luar daerah seperti Bali dan Jawa Timur untuk mencukupi kebutuhan industri.Kata kunci: bahan baku, hasil tangkapan, industri pengolahan, PPP Munca
KONTRIBUSI PERIKANAN TANGKAP TERHADAP PENYEDIAAN PANGAN IKAN DALAM MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI JAMBI
Ketahanan pangan terdiri dari tiga sub sistem utama yaitu ketersediaan, akses, dan penyerapan pangan, di mana ketiga sub sistem ini harus dipenuhi secara utuh dan berkaitan secara hirarkis. Sub sistem ketersediaan pangan merupakan keharusan untuk dapat menjaminsub sistem akses pangan dan sub sistem penyerapan pangan, yang pada akhirnya akan bermuara pada terwujudnya ketahanan pangan. Ikan adalah bagian dari bahan pangan yang merupakan sumber protein hewani yang sangat berguna untuk kesehatan. Untuk memenuhiketersediaan pangan ikan, dapat diperoleh melalui perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kontribusi perikanan tangkap terhadap penyediaan pangan ikan dalam mendukung ketahanan pangan di Provinsi Jambi. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa pada tahun 2009 produksi total perikanan tangkap di Provinsi Jambi mencapai 50.039,6 ton yang peruntukannya terdiri dari pemenuhan kebutuhan ekspor sebesar 34.657,0 ton atau 69,26% dan pemenuhan kebutuhan ketersediaan pangan lokal sebesar 15.382,6 ton atau 30,74%. Berdasarkan alokasi pemenuhan kebutuhan di atas makatingkat kontribusi perikanan tangkap terhadap penyediaan pangan ikan di Provinsi Jambi hanya mencapai 20,10%. Kata kunci: ketahanan pangan, kontribusi, perikanan tangka