Dialogia: Jurnal Studi Islam dan Sosial
Not a member yet
    237 research outputs found

    PEREMPUAN DALAM KUNGKUNGAN FUNDAMENTALISME

    Get PDF
    Absract: Islam is honored women. However, in reality the women role are often marginalized in the areas of political, economic, social, cultural, and education, in public and domestic. According to the writer, women become paralyzed by the religious authorities and the social structures that despise against women and consider women did not have any role in social life. Generally, religious authorities and social structures live fundamentalism. Women and regain control authority patriarchal family is the ultimate goal in a fundamentalist utopia. For them, women are a symbol of the purity of religion, so that women are the first group to experience the 'purification' or 'cleaning'. Fundamentalists feel that because of differences in natural and biological, women should have different roles in the family and society. Even so, there are some women who support fundamentalist movements with practices such as polygamy willingly and others. The women who participated in a range of fundamentalism is usually caused by several things, such, firstly, because of ideology through religious doctrines; secondly, because of social factors and the thirdly due to economic factors. Keywords: Marginalisasi, Us}u>liyah, Dakwah dan Domest

    BENTUK, ARGUMEN LARANGAN, DAN UPAYA PENANGGULANGAN KORUPSI DALAM PERSPEKTIF HADIS NABI SAW

    Get PDF
    AbstractThe fact of the magnitude of corruption in Indonesia prompted all segments of society to make efforts to overcome. One method for preventing and combating corruption is a development of anti-corruption religious discourse. One form of the development of anti-corruption religious discourse is the study of the traditions of the Prophet. Study of the traditions of the Prophet had previously been done by many researchers. This paper aims to explain thematically and contextually the forms of corruption, the arguments underlying the prohibition of corruption, and preventive, detective, and curative control of corruption as referred to in the traditions of the Prophet Muhammad. Religious views that are part of the Indonesian nation worldview need to be explored in order to play a greater role in these efforts. This research has been successful in uncovering Islamic dimension associated with the concept of corruption, its prohibition arguments, and its eradication measures in the traditions of the Prophet. However, researchs are still open to see Islam more deeply and widely in order to further strengthen and deepen the explanation. Kenyataan masih besarnya tindak korupsi di Indonesia mendorong semua pihak untuk melakukan upaya-upaya untuk mengatasi. Salah satu metode untuk mencegah dan memberantas korupsi adalah pengembangan wacana keagamaan antikorupsi. Salah satu bentuk pengembangan wacana keagamaan antikorupsi adalah kajian-kajian di bidang hadis Nabi. Kajian hadis Nabi seperti tersebut sebelumnya telah banyak dilakukan oleh para peneliti. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk-bentuk korupsi, argumen yang mendasari larangan korupsi, serta upaya preventif, detektif, dan kuratif penanggulangan korupsi sebagaimana disebut dalam hadis-hadis Nabi Muhammad saw. secara tematik-kontekstual. Pandangan keagamaan yang menjadi bagian dari pandangan hidup bangsa Indonesia perlu terus digali untuk berperan lebih besar dalam upaya-upaya tersebut. Penelitian ini telah berhasil mengungkap dimensi ajaran Islam terkait dengan konsep korupsi, argumen pelarangan, dan upaya pemberantasannya dalam hadis-hadis Nabi saw.. Namun demikian, peneliti melihat masih terbukanya penggalian ajaran Islam secara lebih mendalam dan meluas agar lebih menguatkan dan memperdalam penjelasan. Keywords: korupsi, pandangan Islam, hadis, cara penanggulangan

    منهج الإمام ابن الجوزي ÙÙŠ كتابه: الكش٠لمشكل الصحيحين

    No full text
    Abstract Salah satu cabang ulum hadis yang tidak boleh dilewatkan begitu saja oleh pengkaji hadis adalah ilmu musykil hadis. Di kalangan ulama klasik, ada beberapa ulama yang mendedikasikan dirinya menggeluti salah satu cabang ulum hadis tersebut.Salah satu di antara mereka adalah Imam Ibnu al-Jauzi dengan karyanya yang berjudul ”˜Al-Kasyf li Musykil al-Shahihain’. Tulisan ini berusaha untuk mengenal lebih dalam karya tersebut, dengan menitik-beratkan pada metodologi yang ditempuh oleh pengarangnya. Diantara keunikan kitab ini adalah pengarangnya menertibkan hadis-hadis yang dianggap musykil tidak berdasarkan tema, melainkan berdasarkan musnad (riwayat Sahabat). Dalam hal ini, dia terinspirasi oleh musnad al-Humaidi. Sebelum menjelaskan hadis yang dianggap musykil, dia mendahulinya dengan riwayat singkat Sahabat yang meriwayatkan hadis tersebut. Setelah itu dia menghadirkan redaksi (matan) hadisnya. Terkadang dia meriwayatkan hadis secara maknanya (tidak literal). Yang patut dicatat dalam kitab ini adalah tidak semua yang dibahas dan diulas oleh pengarangnya adalah termasuk dalam kategori musykil hadis--sebagaimana yang didefinisikan dalam Musthalah Hadis. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang dijelaskan oleh Ibnu al-Jauzi meskipun tidak termasuk hadis musykil. Dia melakukan itu untuk memperkuat argumentasinya ketika menjelaskan hadis tertentu, atau untuk mengambil dalil dari hadis tersebut, atau untuk tambahan penjelasan.  ÙŠØ¹Ø¯ علم مشكل الحديث من أهم علوم الحديث الذي لا بد لدارس الحديث الاهتمام به، وإذا تتبعنا جذور هذا العلم نجد بعض المتقدمين من العلماء قد خاضوا ÙÙŠ هذا العلم، ومن بين هؤلاء هو الإمام ابن الجوزي الذي أل٠كتاب "الكش٠لمشكل الصحيحين".  يحاول هذا البحث الموجز التعر٠على هذا الكتاب القيم مركزا على منهج مؤلÙÙ‡. يخرج البحث بنتائج منها: انتهاج المؤل٠طريقة المسند ÙÙŠ تصني٠الأحاديث المشكلة، وهو ÙÙŠ هذا المنوال ينهج منهج الحميدي ÙÙŠ ترتيب مسنده، ولو خالÙÙ‡ ÙÙŠ بعض المناهج، ÙØ¹Ù†ÙˆÙ† لكل مسند بقوله: "كش٠المشكل من مسند Ùلان"ØŒ وذكر اسم الصحابي، ثم قام بتعري٠موجز عن الصحابي بذكر شيء من ÙØ¶Ø§Ø¦Ù„Ù‡ وعدد أحاديثه، ثم أخذ يذكر جزءاً من الحديث الذي يريد شرح إشكاله، ÙˆÙÙŠ الغالب سرد Ù„ÙØ¸Ù‡ من أوله، ثم توق٠عند موضع الإشكال، وربما ذكر الحديث Ù…ØªØµØ±ÙØ§Ù‹ØŒ ÙØ±ÙˆØ§Ù‡ بالمعنى. لم يكن جميع ما تطرق ابن الجوزي لشرحه من قبيل المشكل -على المصطلح المستقر ÙÙŠ علوم الحديث. لذلك نجد ÙÙŠ كتابه بعض الأحاديث الذي ليس مشكلاً، إلا أن ابن الجوزي ذكره من أجل الاستشهاد أو الاستدلال على شيء أو زيادة بيان.كلمات Ù…ÙØªØ§Ø­ÙŠØ©: مشكل الحديث، غريب الحديث، ناسخ، ومنسوØ

    KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM: KAJIAN TEMATIK DALAM AL-QURAN DAN HADITS

    Get PDF
    AbstractThe most basic ethics in leadership is responsibility. Humans living in this world is called the leader. Therefore, as a leader, humans hold responsibility, at least to themselves. A husband and a wife are responsible for their children, an employer is to the workers, and a top leader is to his subordinates. A president, a governor, and a regent are accountable to the people they lead. Etika yang paling pokok dalam kepemimpinan adalah tanggung jawab. Manusia yang hidup di dunia ini disebut pemimpin. Oleh karena itu, sebagai pemimpin manusia memegang tanggungjawab, sekurang-kurangnya terhadap dirinya sendiri. Seorang suami bertanggung jawab kepada isteri dan anak-anaknya. Seorang majikan bertanggung jawab kepada pekerjanya. Seorang pimpinan bertanggungjawab kepada bawahannya. Seorang presiden, gubernur, dan bupati bertanggung jawab kepada rakyat yang dipimpinnya. Keywords: kepemimpinan, Islam, dan al-Quran Hadit

    MENIMBANG PENAFSIRAN SUBJEKTIVIS TERHADAP AL-QUR’AN: TELAAH TERHADAP PENAFSIRAN EDIP YUKSEL DKK. DALAM QURAN: A REFORMIST TRANSLATION

    Get PDF
    AbstractSubjectivist approach to the Qur’anic interpretation is essentially an attempt to contextualize the literal meaning of the Qur'anic text in the current context. Therefore, this approach does not use historical components to support the interpretation of the Qur'an. As a result, hadits, occasions of revelation (asbâb al-nuzûl) and the history of the Prophet (sîrah) are not used as source of the interpretation. Moreover, the interpretation using the subjectivist approach emphasizes more on the textual exploration of the Qur'anic verses by adhering to the logic and language of the Qur'an itself. Thus, the result of such interpretation fully represents the subjectivity of interpreter in exploring the meaning of Qur’anic text without the need to consider the objectivity of the meaning of the text. The subjectivist approach to the Qur’anic interpretation is shown by Edip Yuksel et. al. in their work Quran: A Reformist Translation, as a renewal in the field of translation and interpretation of the Qur'an in which the humanist principles of interpretation does not distinguish gender. Therefore, the application of their interpretation of the gender verses, as I have described in this study, will be relevant. Pendekatan subyektivis dalam penafsiran al-Qur’an pada dasarnya adalah upaya untuk kontekstualisasi makna literal teks Al-Qur'an ke dalam konteks saat ini. Oleh karena itu, pendekatan ini tidak menggunakan komponen sejarah untuk mendukung penafsiran al-Qur'an. Akibatnya, hadits, kesempatan wahyu (asbâb al-nuzûl) dan sejarah Nabi (sîrah). Selain itu, penafsiran dengan pendekatan subyektif lebih menekankan pada eksplorasi tekstual dari ayat-ayat Al-Qur'an dengan mengikuti logika dan bahasa Al-Qur'an itu sendiri. Dengan demikian, hasil interpretasi tersebut sepenuhnya dipengaruhi subyektivitas penafsir dalam mengeksplorasi makna teks al-Quran tanpa perlu mempertimbangkan objektivitas makna teks. Adapun pendekatan subyektif dengan penafsiran Alquran ditunjukkan oleh Edip Yuksel dkk. dalam karya mereka Quran: A Reformist Translation (Quran: Sebuah Terjemahan Reformis) sebagai pembaruan di bidang penerjemahan dan penafsiran al-Qur'an yang di dalamnya prinsip-prinsip humanis interpretasi tidak membedakan gender. Oleh karena itu, penerapan interpretasi mereka atas ayat-ayat gender, saya jelaskan dalam penelitian ini, akan menjadi relevan . Keywords: subjectivist approach, Qur’an reformist, gender interpretatio

    KEBURUKAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Telaah Ragam, Dampak, dan Solusi Terhadap Keburukan

    Get PDF
    AbstractBadness is something hated and thrown away, but in Muslim society of Indonesia, bad expression and activities are still heard and seen. In social interaction it sometimes appears false accusation to a person or a group because of lack of knowledge. As a result, the good is considered bad and the bad is considered good. God endowed human a nature to do good, but due to certain factors, he/she is lapsed into negligence and bad deeds. Every badness would be bad for the culprit. The Qur'an provides solutions to badness. Thematic study of the Quran in depth to get a hint about how to overcome evil is very useful for scientists and commentators of Quran. Keburukan merupakan sesuatu yang dibenci dan harus ditinggalkan, namun dalam kehidupan umat Islam di Indonesia saat ini, ungkapan dan perbuatan buruk masih sering terdengar. Dalam interaksi sosial terkadang muncul tuduhan yang salah kepada seseorang atau suatu kelompok dikarenakan kurangnya pengetahuan. Akibatnya, yang baik dianggap buruk dan yang buruk dianggap baik. Allah menganugerahi manusia fitrah untuk berbuat baik, namun karena adanya faktor tertentu, ia lalai dan terjerumus ke dalam perbuatan buruk. Setiap keburukan akan berdampak buruk kepada pelakunya. Al-Qur’an memberikan solusi terhadap keburukan. Kajian tematik atas al-Qur’an secara mendalam untuk mendapatkan petunjuk tentang upaya mengatasi keburukan sangat bermanfaat bagi ilmuwan tafsir dan masyarakat. Keywords: al-Qur’an, tafsir tematik, problem keburukan

    HADÎTS-HADÎTS TENTANG KEUTAMAAN NIKAH DALAM KITAB LUBÂB AL-HADÎTS KARYA JALÂL AL-DÎN AL-SUYÛTHÎ

    No full text
    Abstract Lubâb al-Hadîts, creation of  Imam Jalâl al-Dîn al-Suyûthî is a secondary book that contains 400 hadîtss. But in this book the author did not explain about the quality of the sand and matn of the hadîts overall. The issues that will be studied in this paper are hadîtss about the virtues of marriage at chapter twenty-five. The hadîtss have been frequently used by the public as evidence, especially at wedding moments. The writer concludes that only three of seven hadîtss on the importance of marriage in the book of Lubâb al-Hadîts have sands. They are also mentioned in the Ibn Majah’s book and Ahmad bin Hanbal’s book. The sand of first and second hadîts is dla’if and the third hadîts is shahîh lighairih. The matns of all hadîts are shahîh and those hadîtss can be hujjah because they relate to fadlâ’il al-aÊ»mâl. Lubâb al-Hadits, karya Imam Jalâluddin al-Suyûthî, adalah buku hadis sekunder yang berisi 400 hadîts. Dalam buku ini, penulis tidak menjelaskan kualitas sanad dan matan hadis secara keseluruhan. Masalah-masalah yang akan dikaji dalam tulisan ini difokuskan pada hadis tentang keutamaan pernikahan yang bab dua puluh lima. Hadis-hadis tersebut telah sering digunakan oleh masyarakat sebagai dalil, terutama dalam momen pernikahan. Penulis menyimpulkan bahwa hanya tiga dari tujuh hadis tentang pentingnya pernikahan dalam kitab tersebut memiliki sanad. Hadis-hadis tersebut juga disebutkan dalam kitab Ibn Mâjah dan Ahmad bin Hanbal. Sanad pertama dan kedua hadis adalah dlaʻîf dan sanad hadits ketiga adalah shahîh lighayrih. Matan semua hadits tersebut berkualitas shahîh dan dapat hujjah karena berhubungan dengan persoalan keutamaan amal. Keywords: Keutamaan nikah, Lubâb al-Hadîts, Jalâl al-Dîn al-Suyûthî

    STILISTIKA AL-QUR’AN Memahami Fenomena Kebahasaan Al-Qur’an dalam Penciptaan Manusia

    Get PDF
    AbstactThis paper revealed linguistic phenomenon of the Qur'an that takes the story of the creation of human as its central theme. The stylistic problems of the Qur'an studied included  phonology, morphology, syntax, and semantics in the verses about the creation of human. This paper is expected to be a reference for the development of other linguistic research that takes the same object, al-Qur'ân. This paper has proved and showed the value-laden language of the Qur’an that is very spectacular which is known as i”˜jâz al-Qur'ân. The method used is the method of stylistics limited to three things: preferences of pronunciation, sentence preference or preferred meaning in a sentence, and deviations from the general rules of grammar. The main object of this research is the construction of various forms of texts as a communication system as they are used in their own contexts. Tulisan ini mengungkap fenomena kebahasaan al-Qur’an yang tema sentralnya adalah kisah penciptaan manusia. Masalah yang dikaji mencakup stilistika al-Qur’an dari aspek fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik dalam ayat-ayat tentang penciptaan manusia. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi acuan pengembangan penelitian kebahasaan lainnya yang mengambil obyek yang sama yakni al-Qur’ân. Tulisan ini membuktikan dan menunjukkan adanya muatan nilai yang sangat spektakuler dalam bahasa al-Qur’ân yang dikenal dengan istilah i’jâz al-Qur’ân. Metode yang digunakan adalah metode stilistika yang dibatasi hanya pada tiga hal: preferensi lafal, preferensi kalimat atau makna yang lebih disukai dalam suatu kalimat, dan deviasi atau penyimpangan dari kaidah umum tata bahasa. Yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah konstruksi dari berbagai bentuk teks sebagai sistem komunikasi yang digunakan sesuai dengan konteksnya. Keywords: stilistika, al-Qur’an, fonologi, morfologi, sintaksis, semantik

    FISIBILITAS HERMENEUTIKA DALAM PENAFSIRAN AL-QUR’AN

    Get PDF
    AbstractThis paper is motivated by the fact that the Quran is the holy book of Islam that is relevant beyond time and space. It is a source of way of life for Muslims. Along with the course of time, to keep the spirit of the Qur'an relevant to the problems of the present, the interpretation of the Quran must be done, accompanied by the process of its contextualization instead of its being ideology. In fact, some people interpret the Qur'an with biases rooted in their ideological backgrounds. The meaning of the Qur'an is often contaminated by ideological interests of its interpreters. As a result, Muslims accused each other of infidelity and heresy. Hermeneutics as a science which deals with the activities of interpretation is supposed to be able to glue the wide spectrum of the activities. This paper focuses the discussion on the feasibility  of hermeneutics in the interpretation of the Quran. It argues that some of the positive principles of interpretation in hermeneutics are feasible for the interpretation of the Quran. The purpose of the hermeneutical interpretation of the Qur'an is to purify the Qur'an from the ideological interests of its interpreters. Tulisan ini dilatarbelakangi oleh fakta bahwa al-Qur’an adalah kitab suci agama Islam yang cocok untuk segala ruang dan waktu. Ia adalah pedoman hidup bagi umat Islam dalam menjalankan kehidupan. Seiring dengan terjadinya dinamisasi masa, untuk menjaga semangat al-Qur’an agar senantiasa relevan dengan problematika zaman, penafsiran atasnya harus dilakukan dengan disertai proses kontekstualisasi tanpa disertai ideologisasi. Faktanya, beberapa pihak menafsirkan al-Qur’an dengan kecondongan tertentu sebagai akibat pengaruh latar belakang ideologi yang dianut. Maksud dan makna al-Qur’an yang suci dikotori oleh kepentingan ideologi penafsirnya. Akibatnya, saling menghukumi dan mengkafirkan antaraliran sering terjadi di kalangan umat Islam. Hermeneutika sebagai ilmu yang membahas kegiatan interpretasi dipandang mampu merekatkan kembali aliran-aliran tersebut. Dari latar belakang tersebut, tulisan ini membahas fisibilitas hermeneutika dalam penafsiran al-Qur’an. Penulis melihat bahwa beberapa prinsip interpretasi dalam hermeneutika dapat digunakan dalam penafsiran al-Qur’an. Salah satu tujuan hermeneutika dalam penafsiran al-Qur’an adalah menghindarkan al-Qur’an dari pengaruh destruktif ideologi penafsirnya

    TRADISI SAJEN DALAM PERNIKAHAN DI KELURAHAN TONATAN PONOROGO

    Get PDF
    Abstract Theoretically, the society of a city as a part of modern society address the tradition critically. However, the fact shows that there are people of city who maintain the tradition, such as sajen in the tradition of marriage. This fact occurs in an Islamic society of Tonatan Village of Ponorogo in East Java. This study discussed traditional practice, sajen, at the wedding in the village of Tonatan of Ponorogo and its meaning. The approach used is symbolic-interpretive-anthropological approach. This study found that the purpose of the village residents of Tonatan in performing wedding ceremonies is to run Islamic sharia on the one hand and also to run sesaji tradition on the other. Motives underlying the implementation of the tradition can be grouped into four: 1) sesaji as the transmission medium of morality of Java, 2) form of a relationship with God, 3) form of a relationship with a supernatural being, and 4) a form of social relationship.  Secara teoritis, masyarakat kota sebagai bagian dari masyarakat modern menyikapi tradisi secara kritis. Namun demikian, faktanya masih ada masyarakat kota yang mempertahankan tradisi, seperti tradisi sajen dalam pernikahan. Keadaan inilah yang terjadi dalam masyarakat Islam Kelurahan Tonatan Ponorogo Jawa Timur. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki pandangan unik dalam rangka mempertahankan tradisi tersebut. Penelitian ini membahas bagaimana praktik tradisi sajen pada acara pernikahan di Kelurahan Tonatan Ponorogo dan apa maknanya. Untuk mengungkapnya, penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan antropologi simbolik interpretatif. Penelitian ini menunjukkan bahwa tujuan warga Kelurahan Tonatan dalam melaksanakan upacara pernikahan adalah menjalankan syariat agama Islam di satu sisi dan juga menjalankan tradisi-tradisi sesaji di sisi lain. Tradisi sesaji tersebut oleh warga setempat dikenal dengan istilah “sajen,” “cok bakal,” dan “uba rampe.” Motivasi yang mendasari pelaksanaan tradisi tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat: 1) sesaji sebagai media transmisi moralitas Jawa, 2) bentuk hubungan dengan Tuhan, 3) bentuk hubungan dengan makhluk gaib, dan 4) bentuk hubungan sosial. Keywords: tradisi, sajen, pernikaha

    201

    full texts

    237

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Dialogia: Jurnal Studi Islam dan Sosial
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇