Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS.Dr. Soetomo
Not a member yet
267 research outputs found
Sort by
Hubungan Faktor Demografi dengan Pendapat Masyarakat tentang Cara Mengatasi Trauma Muskuloskeletal berdasarkan Health Belief Model di Kota Sawahlunto
Angka kejadian trauma muskuloskeletal di Kota Sawahlunto tergolong tinggi dengan jumlah 3.268 orang dalam satu tahun. Pengobatan trauma di Sumatera Barat secara tradisional dikenal dengan sebutan dukun patah tulang. Pandangan untuk memilih pengobatan trauma muskuloskeletal dipengaruhi oleh suatu teori yang bernama health belief model. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional kepada 346 responden di Kota Sawahlunto dari bulan Januari 2023 sampai Maret 2024. Data dikumpulkan menggunakan metode consecutive sampling. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Chi-Square. Hasil analisis Chi-Square didapatkan usia dengan perceived susceptibility (p=0,011), tidak ada hubungan jenis kelamin dengan pendapat masyarakat, dan hubungan pekerjaan dengan perceived susceptibility (0,004), pekerjaan dengan perceived benefits (0,041), pekerjaan dengan perceived barrier (0,027), dan pekerjaan dengan cues to action (0,038). Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara usia dengan perceived susceptibility, tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan pendapat masyarakat, dan terdapat hubungan signifikan antara pekerjaan dengan perceived susceptibility, perceived benefits, perceived barrier, dan cues to action. Kata kunci : Trauma muskuloskeletal, health belief model, dukun patah tulang The incidence of musculoskeletal trauma in Sawahlunto City is high with 3,268 people in one year. Trauma treatment in West Sumatra is traditionally known as fracture healers. The view to choose musculoskeletal trauma treatment is influenced by a theory called the health belief model. This study employed an analytical approach with a cross-sectional design, encompassing 346 respondents in Sawahlunto City from January 2023 to March 2024. Data were gathered using a consecutive sampling method, and analysis was conducted utilizing the Chi-Square test. Chi-Square analysis unveiled a significant association between age and perceived susceptibility (p=0.011), no discernible correlation between gender and public opinion, and notable relationships between occupation and perceived susceptibility (p=0.004), perceived benefits (p=0.041), perceived barriers (p=0.027), as well as cues to action (p=0.038). In summary, this study concludes that age is significantly linked to perceived susceptibility, gender exhibits no significant relationship with public opinion, and occupation is significantly associated with perceived susceptibility, perceived benefits, perceived barriers, and cues to action.Keywords: Musculoskeletal trauma, health belief model, bone fracture shaman
Tinjauan Literatur Sistematis: Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko dan Pengendalian Risiko Pada Operasi Pertambangan
Keselamatan pertambangan adalah suatu aktivitas yang mencakup manajemen keselamatan dan kesehatan kerja berdasarkan manajemen risiko yang baik. Langkah-langkah utama manajemen risiko dilakukan melalui identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian risiko setelah menentukan konteksnya. Studi ini bertujuan untuk melakukan tinjauan literatur sistematis tentang identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian risiko dalam operasi pertambangan. Metode studi ini dengan mengadopsi PRISMA-ScR. Hasil studi yang diperoleh menjelaskan bahwa metode HIRADC dan HIRARC secara umum banyak digunakan untuk mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, mengendalikan risiko, dan menentukan pengendaliannya. Kedua metode tersebut menggunakan tahap-tahap yang sama dalam identifikasi bahaya dan penilaian risiko. Metode semi-kuantitatif paling banyak digunakan dalam pemetaan risiko dan merupakan hasil penilaian antara kemungkinan dan dampak di mana tabel matriks yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing industri atau organisasi. Perbedaan antara keduanya terletak pada tahap ketiga, yaitu apakah menggunakan tahap pengendalian risiko dengan penerapan langkah-langkah yang tepat, karena HIRARC menggunakan pemahaman risiko spesifik untuk dapat menentukan langkah-langkah pengendalian yang lebih relevan. Sedangkan pada HIRADC, penentuan pengendalian diperlukan setelah risiko secara keseluruhan telah diidentifikasi dan dampaknya terhadap sistem secara umum dievaluasi. Pada intinya, kedua metode dapat digunakan untuk menerapkan manajemen risiko dalam operasi pertambangan sehingga dapat dilakukan secara efektif
Analisis Pelaksanaan Manajemen Program Vaksinasi Covid-19 Di RSUD Dr. Pirngadi Medan
Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 sebagai upaya pengendalian dalam mengatasi pandemi Covid-19, Indonesia menjadikan pelaksanaan vaksinasi COVID-19 sebagai bagian dari strategi penanggulangan pandemi Covid-19 untuk melindungi masyarakat dari infeksi SARS-CoV-2. Penelitian dilakukan di RSUD Dr. Pirngadi Medan. Penelitian bertujuan mendeskripsikan pengelolaan sumber daya manajemen program vaksinasi Covid-19, mendeskripsikan penyelenggaraan program vaksinasi Covid-19, mendeskripsikan keluaran hasil pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di RSUD DR. Pirngadi Medan. Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Metode pengumpulan data melalui wawancara mendalam. Informan penelitian ini Tim Pelaksana Program Vaksinasi Covid-19 dan Tim Manajemen Program Vaksinasi Covid-19 dengan jumlah seluruhnya 8 informan. Instrument penelitian adalah peneliti sendiri dan pengumpulan data melalui wawancara dan dokumentasi. Pengolahan dan analisis data menggunakan metode Content Analysis. Hasil penelitian adalah untuk mendapatkan obat (vaksin Covid-19) menunggu ada stok obat (vaksin Covid-19) tersedia maka baru dapat diambil di Dinas Kesehatan Kota Medan, jika stok obat (vaksin Covid-19) kosong maka menunggu tersedianya kembali obat (vaksin Covid-19) yang akan dikonfirmasi ke PIC (Person In Charge) RSUD Dr. Pirngadi Medan. Belum dibuatkan perencanaan waktu (time-plans) pada pelaksanaan program vaksinasi covid-19 baik itu jadwal mingguan, bulanan, atau tahunan. Tidak adanya perangkat monitoring dalam memandu program kerja vaksinasi Covid-19 untuk menjamin agar program pelaksanaan vaksinasi Covid-19 dapat berjalan seperti yang diharapkan, dan membantu tim serta pengawasnya untuk dapat mempertahankan jumlah dan mutu pekerjaan yang diharapkan. Tidak adanya evaluasi pengkajian ulang tahunan pengawas terhadap kinerja tim pelaksana vaksinasi Covid-19. Kata Kunci : Manajemen Program, Pelaksanaan, Vaksinasi Covid-1
Pengaruh Faktor Internal Terhadap Praktik Konsumsi Imunomodulator Petugas Kesehatan
Imunomodulator berperan penting bagi tenaga kesehatan yang bekerja di bidang pelayanan kesehatan selama pandemi Covid-19. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor internal terhadap praktik konsumsi imunomodulator pada tenaga kesehatan di Puskesmas wilayah Kota Denpasar. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan rancangan ”cross sectional study”. Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 232 orang yang berasal dari petugas kesehatan yang bertugas di Puskesmas wilayah Kota Denpasar. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh antara faktor umur (p=0,020), jenis kelamin (p=0,021), pekerjaan (p=0,016) dan status Covid-19 (p=0,008) terhadap praktik konsumsi imunomodulator pada petugas kesehatan. Variabel yang tidak berpengaruh terhadap praktik konsumsi imunomodulator adalah faktor pendidikan (p=0,102). Dengan demikian, sebagian besar faktor internal berpengaruh terhadap praktik konsumsi imunomodulator.
Pengaruh Riwayat Asi Eksklusif Dan Cuci Tangan Pakai Sabun Terhadap Kejadian Diare Pada Bayi
Diare masih menjadi permasalahan kesehatan di Kota Bandung dan salah satu penyakit penyebab kematian pada bayi dan balita. Meningkatnya kejadian diare seiring dengan penurunan ASI Eksklusif. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh riwayat ASI eksklusif dan perilaku cuci tangan pakai sabun terhadap kejadian diare pada bayi. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol. Populasi kasus dalam penelitian ini yaitu ibu yanng memiliki bayi usia 7-12 bulan yang mengalami diare, sedangkan populasi kontrol bayi yang tidak menderita diare. Sampel diambil secara random sampling sebanyak 120 responden. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Uji statistik yang digunakan adalah chi square. Hasil penelitian didapatkan sebagian besar balita tidak memiliki riwayat berat badan lahir rendah (70,8%), memiliki riwayat mendapatkan ASI Eksklusif (75,8%), memiliki riwayat imunisasi dasar lengkap (67,5%), dan ibu yang melakukan perilaku cuci tangan pakai sabun (67,5%). Faktor penyebab yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita adalah Riwayat ASI eksklusif (p=0,033) dan Perilaku cuci tangan pakai sabun (p=0,019). Bayi lebih berisiko mengalami diare jika tidak diberikan ASI eksklusif dan ibu tidak melakukan perilaku cuci tangan pakai sabun. Tenaga kesehatan bagian promosi kesehatan diharapkan bisa bekerja sama dengan instansi lainnya seperti Kecamatan untuk melakukan sosialisasi mengenai pentingnya cuci tangan pakai sabun dan pemberian ASI eksklusif
Resiliensi dan Kesejahteraan Psikologis Pada Dokter dan Perawat IGD RSUD Dr. Soekardjo
Dokter dan perawat yang bekerja pada Instalasi Gawat Darurat (IGD), dituntut untuk siapsiaga memberikan pelayanan kesehatan secara profesional. Dalam pemberian pelayanankesehatan ini, dokter dan perawat mengalami tekanan yang tinggi akibat tuntutan kerjayang tinggi, mengakibatkan keletihan secara fisik maupun emosional. Problematikadokter dan perawat yang bekerja pada IGD membuat ketidaktercapaiannya suatukesejahteraan psikologis, dan berakibat pada kesehatan mental yang dapat berimbas padakualitas pelayanan kesehatannya. Hal ini harus diatasi agar tidak memperburuk kondisi dokter dan perawat. Untuk mencapai kesejahteraan psikologis, maka diperlukan kemampuan dalam mengatasi stres dan kesulitan yang dihadapi melalui resiliensi.Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara resiliensidengan kesejahteraan psikologis pada dokter dan perawat IGD di RSUD Dr. SoekardjoKota Tasikmalaya. Metode yang digunakan adalah kuantitatif desain korelasional.Sebanyak 41 partisipan diperoleh menggunakan sampling jenuh. Pengukuranmenggunakan Winwood Resilience at Work Scale (α = 0,821) dan Ryff’s PsychologicalWell-Being Scale (α = 0,921). Metode analisis data menggunakan uji korelasi KarlPearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif signifikanantara resiliensi dan kesejahteraan psikologis pada dokter dan perawat IGD (r = 0,546 dansig. = 0,000). Hal ini mengindikasikan bahwa resiliensi menjadi salah satu faktor yangberhubungan dengan meningkatnya kesejahteraan psikologis pada dokter dan perawatIGD RSUD Dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya.
Analisis Penerimaan Aplikasi E-Promkes di Kabupaten Probolinggo
Penggunaan teknologi informasi ini berhubungan erat dengan upaya untuk meningkatkan percepatan arus informasi dengan sarana perangkat elektronik untuk mampu menunjang pelayanan dan pengelolaan di dalam suatu sistem kesehatan. Penggunaan aplikasi e-promkes sebagai platform pelaporan kegiatan promosi kesehatan sangat penting sebagai dasar sebuah penentuan kebijakan. Tujuan penelitian ini adalah menilai seberapa besar penerimaan sistem informasi e-promkes dan pengaruh antar variabel TAM dalam penggunaan e-promkes. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah petugas kesehatan yang pernah mengoperasikan e-promkes di tiap kecamatan dengan jumlah 33 responden. Untuk melihat pengaruh antar variabel, analisis jalur dilakukan menggunakan SmartPLS 4.0. Berdasarkan analisis jalur didapatkan empat variabel yang signifikan antara lain Persepsi kemudahan (PEOU) memberikan dampak penggunaan e-promkes oleh petugas karena mampu membantu dalam penyelesaian tugas, meningkatkan kinerja, meningkatkan produktivitas dan efektivitas
Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Need Unit Rawat Inap di RS Surabaya Medical Service (SMS) Surabaya
Penyelenggaranaan pelayanan kesehatan yang optimal merupakan salah satu kunci mencapai derajat kesehatan masyarakat yang tinggi. RS Surabaya Medical Service (SMS) belum mencapai angka BOR (<60%) yang menjadi salah satu indikator belum optimal dalam pemberian layanan. Kondisi ini mendorong untuk ditinjau kembali kebutuhan (need) dalam faktor demografi, aksesabilitas dan sosial dalam rawat inap. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan faktor yang mempengaruhi need rawat inap di RS SMS. Rancang bangun penelitian kuantitatif ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Popolasi dalam peneilitan ini adalah seluruh pasien rawat inap dan rawat jalan di RS SMS di tahun yang sama. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sambling, melalui pengambilan data dari kuisoner. Hasil penelitian ini diketahui bahwa faktor demografi (umur,jenis kelamin, tingkat Pendidikan, dan status pekerjaan), aksestabilitas (kepemilikan asuransi, dan domisili) mempunyai hubungan terhadap need rawat inap di RS SMS. Berdasarkan analisa data dari faktor-faktor tersebut, faktor yang paling dominan yaitu faktor asal domisili (sig 0,048 dan OR 6,756). Kata kunci : Faktor demografi, aksestabilitas, need rawat ina
Analisis Efisiensi Rawat Inap Di Bali Royal Hospital Dengan Pendekatan Barber Johnson
Efisiensi dan efektifitas dalam pelayanan ini berkaitan dengan pemanfaatan semua sumber daya di rumah sakit agar dapat berdaya guna dan berhasil guna. Penilaian efisiensi pelayanan berkaitan dengan pemanfaatan tempat tidur yang tersedia di rumah sakit, serta efisiensi pemanfaatan penunjang medik rumah sakit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efisiensi hunian tempat tidur di Bali Royal Hospital dari Tahun 2019 sampai dengan tahun 2021. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancang cross-sectional. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder. Instrumen yang dipergunakan adalah lembar observasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif yang disajikan dalam bentuk tabel untuk indikator BOR, BTO, TOI dan AvLOS dan Grafik Barber Johnson. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh bahwa nilai BOR dan BTO menunjukkan hasil yang efisien sedangkan nilai TOI dan AvLOS belum menunjukkan efisiensi dari tahun 2019 sampai dengan tahun 2021. Berdasarkan grafik barber johnson, diperoleh bahwa secara keseluruhan menunjukkan hasil yang belum efisien
Faktor Risiko Demam Berdarah di Indonesia
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah jenis penyakit arbovirus yang ditularkan oleh dua jenis vektor nyamuk, yaitu Aedes aegypti dan Aedes albopictus serta menjadi masalah utama penyakit di dunia, terutama pada negara tropis seperti Indonesia. Metode penelitian ini adalah systematic review dengan mengikuti pedoman PRISMA Checklist tahun 2009. Berdasarkan pencarian awal ditemukan sebanyak 1.175 artikel dengan menggunakan kata kunci “faktor risiko Demam Berdarah Dengue (DHF Risk Factor)”. Selanjutnya dilakukan seleksi abstrak yang relevan dan ditemukan 63 item artikel penelitian terpilih. Lalu, melalui critical appraisal teks artikel yang lengkap, didapatkan 27 artikel yang memenuhi kriteria seleksi. Hasil penelitian didapatkan 4 kelompok besar faktor risiko yang banyak diteliti yaitu sosiodemografi, klimatologi, lingkungan, dan perilaku. Faktor sosiodemografi yang paling banyak diteliti dengan kejadian DBD di Indonesia adalah tingkat pendidikan. Faktor klimatologi seperti suhu merupakan faktor yang penting dan signifikan dalam proses perkembangbiakan vektor. Aspek lingkungan yang paling banyak diteliti adalah tempat perindukan nyamuk. Faktor perilaku yang berisiko dalam penularan kasus DBD yang paling banyak ditemukan signifikan adalah perilaku menggantung pakaian. Berdasarkan 27 artikel penelitian yang di review, ditemukan 69,5% artikel dimana seluruhnya meneliti variabel perilaku pencegahan