Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS.Dr. Soetomo
Not a member yet
267 research outputs found
Sort by
Motivasi Kerja dan Kompetensi Profesional Terhadap Kinerja Perawat di Ruang Rawat Inap Bougenvil dan Seruni Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong Bogor
Kinerja perawat memberikan pengaruh terhadap mutu pelayanan keperawatan di ruang inap. Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja perawat baik yang berasal dari diri sendiri ataupun manajemen rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mendalam tentang pengaruh motivasi kerja dan kompetensi profesional terhadap kinerja perawat di ruang rawat inap Bougenvil dan Seruni RSUD Cibinong Bogor. Metode penelitian yang digunakan adalah survei. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi ke lapangan, wawancara, dan penyebaran angket. Teknik analisis data menggunakan analisis bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh positif dari motivasi kerja terhadap kinerja perawat, sedangkan kompetensi profesional tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja perawat. Implikasi dari penelitian ini berorientasi pada peningkatan perhatian rumah sakit terhadap kinerja perawat dari berbagai faktor yang mempengaruhinya
Situasi Pembiayaan Kesehatan Untuk Manajemen Penyakit Tidak Menular Di Pelayanan Primer Berbagai Negara Selama Pandemi Covid-19
Di era pandemi COVID-19, klien dengan Penyakit Tidak Menular (PTM) di tatanan komunitas memiliki kendala dalam melakukan perawatan yang membutuhkan konsultasi tenaga kesehatan (perawat/dokter). Sebab, pelayanan primer cukup membatasi kegiatan yang bersifat public program. Guna tetap memberikan perawatan yang optimal, beberapa pelayanan primer di berbagai negara membuat inovasi untuk tetap memberikan perawatan secara virtual. Namun, hal tersebut ternyata juga memiliki hambatan, terutama berkaitan dengan pembiayaan kesehatan. Tujuan dari studi ini adalah untuk menyajikan gambaran dasar tentang dinamika yang terjadi terkait dengan pembiayaan kesehatan untuk perawatan PTM di pelayanan primer berbagai negara selama pandemi COVID-19. Studi ini merupakan studi literatur yang menggunakan tiga online database sebagai media pencarian artikel ilmiah yang dikehendaki, yaitu PubMed, Scopus, dan Google Scholar. Hasil penelusuran ditemukan 7 artikel yang sesuai dengan kriteria. Pembiayaan kesehatan untuk perawatan klien dengan PTM di pelayanan primer berbagai negara mempunyai dinamika yang berbeda. Namun, dapat disimpulkan bahwa pelayanan primer masih cenderung tertinggal dibanding pelayanan sekunder, apalagi dari segi pembiayaan. Perlu ditekankan kembali, bahwa PTM sangat berkontribusi tinggi pada kejadian morbiditas dan mortalitas masyarakat. Tetapi, itu semua mampu dicegah ketika pembiayaan di pelayanan primer untuk pelaksanaan program promotif dan preventif cukup adekuat
Pengaruh Person-Environment Fit, Kepuasan Kerja dan Komitmen Organisasional Terhadap Intention To Leave Pegawai
Perputaran tenaga kerja adalah keluar masuknya pegawai dalam suatu organisasi atau perusahaan karena alasan tertentu, baik sukarela maupun tidak sukarela. Tingginya tingkat perputaran kerja di RS Orthopedi & Traumatologi Surabaya sebesar 40% - 88% selama tahun 2012 hingga tahun 2015. Penelitian ini di lakukan untuk mengkaji pengaruh person-environment fit, kepuasan kerja, dan komitmen organisasi terhadap intention to leave pegawai. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan analitik dan desain cross sectional. Uji regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh antar variabel. Sampel dalam penelitian ini adalah 50 pegawai yang dipilih dengan simple random sampling. Person-environment fit tidak berpengaruh signifikan terhadap intention to leave sebesar 0,662 dan kepuasan kerja juga tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap intention to leave sebesar 0,405. Komitmen organisasi berpengaruh signifikan terhadap intention to leave sebesar 0,000. Komponen dari komitmen organisasi yaitu komitmen afektif berpengaruh signifikan terhadap intention to leave sebesar 0,018. Berdasarkan penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa person-environment fit dan kepuasan kerja berpengaruh tidak signifikan terhadap intention to leave pegawai, sedangkan komitmen organisasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap intention to leave. Berdasarkan ketiga sub variable dari komitmen organisasi ditemukan bahwa komitmen afektif diketahui berpengaruh signifikan terhadap intention to leave dan menunjukkan arah negatif.
Analisis Kesiapan Perubahan Organisasi Balai Kesehatan Masyarakat (Balkesmas) di Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah
Perubahan tupoksi di Balkesmas sebagai penyelenggara UKM strata dua membawa implikasi luas terhadap kinerja organisasi. Transisi perubahan perlu dilakukan efektif dan efisien. Tujuan penelitian untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan perubahan organisasional di Balkesmas. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan 150 orang pegawai Balkesmas yang diperoleh secara stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan path analysis. Hasil penelitian faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan perubahan Balkesmas pada level individual adalah konten perubahan, proses perubahan, konsteks perubahan dan atribut individual. Atribut individual merupakan faktor yang memberikan pengaruh paling besar (beta = 0,945), sedangkan konteks perubahan merupakan faktor yang memberikan pengaruh paling kecil (beta = 0,313). Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan perubahan pada level organisasi adalah konten perubahan, proses perubahan, konteks perubahan, atribut individual, dan kesiapan perubahan individual. Konten perubahan merupakan faktor yang memberikan pengaruh paling besar (beta = 1,035), sedangkan atribut individual merupakan faktor yang memberikan pengaruh paling kecil (beta = 0,231). Kesiapan perubahan individual memediasi pengaruh konten perubahan, proses perubahan, konsteks perubahan dan atribut individual terhadap kesiapan perubahan organisasional di Balkesmas. Semakin baik konten perubahan, proses perubahan, konsteks perubahan dan atribut individual maka semakin tinggi kesiapan perubahan individual yang pada akhirnya meningkatkan kesiapan perubahan organisasional.
Dukungan Sosial dan Ketersediaan Informasi Mempengaruhi Kesiapan Remaja Putri dalam Menghadapi Menarche
Menarche merupakan menstruasi pertama kali yang dialami oleh setiap wanita. Menarche yang datang lebih awal dapat menjadi masalah bagi remaja putri jika belum ada kesiapan. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh dukungan sosial dan ketersediaan informasi terhadap kesiapan remaja putri dalam menghadapi menarche. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2020 sampai dengan bulan Februari 2021 di MI Darul Ulum Kraksaan Probolinggo. Merupakan penelitian observasi dengan design cross sectional. Populasi penelitian sebanyak 35 orang remaja putri. Pengambilan sampel dengan teknik non probability sampling yaitu sampling jenuh sehingga besar sampel penelitian 35 orang remaja putri. Variabel dependent adalah kesiapan remaja putri dalam menghadapi menarche, variabel independent terdiri dari dukungan sosial (social support) dan ketersediaan informasi (accessibility of information). Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara serta dianalisis statistik dengan chi square dan spearman rho. Hasil penelitian menginformasikan bahwa dukungan sosial dan ketersediaan informasi mempengaruhi kesiapan remaja putri dalam menghadapi menarche. Perlu edukasi dan dukungan sosial terkait menarche dari orang tua, guru atau petugas kesehatan untuk mempersiapkan remaja putri dalam menghadapi menarche. Kata kunci : Dukungan sosial, ketersediaan informasi, kesiapan remaja putri, menarch
Evalusi Sistem Pencatatan dan Pelaporan Kasus Tuberculosis di Rumah Sakit Syarif Hidayatullah
Pendahuluan: Target program penanggulangan TB nasional yaitu eliminasi pada tahun 2035 dan Indonesia bebas TB tahun 2050. Rumah sakit harus menetapkan Tim DOTS yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program Penanggulangan TB dan wajib melakukan pencatatan dan pelaporan terhadap setiap kejadian penyakit. Pelaporan kasus TB menggunakan Sistem Informasi Tuberkulosis Terpadu (SITT) yang menjadi Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) sejak tahun 2020. RS Syarif Hidayatullah termasuk 1 dari 3 rumah sakit yang belum melengkapi pelaporan dalam SITB. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain studi kasus. Teknik pengambilan data dengan telaah dokumen, observasi dan wawancara mendalam pada informan kunci. Hasil dan Pembahasan. Pencatatan dan pelaporan tidak berjalan maksimal karena 1) kurangnya SDM perawat sebagai ujung tombak pencacatan manual, 2) belum adanya pendaan untuk program TB DOTS termasuk untuk pencatatan dan pelaporan, 3) belum terintegrasinya SIMRS ke semua unit pelayanan, 4) jeraring internal tidak berjalan baik. Kesimpulan: Peningkatan komitmen manajemen dalam implementasi program TB DOTS
Pengaruh Ketepatan Waktu Pengembalian Rekam Medis Rawat Inap Terhadap Efektivitas Pelayanan Di RS X
ABSTRAK Ketepatan pengembalian rekam medis sangat penting terhadap proses pelayanan kesehatan di rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ketepatan waktu pengembalian rekam medis rawat inap terhadap efektivitas pelayanan di RS X. Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif korelasional dan pengolahan data menggunakan SPSS 25. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner, observasi dan kajian pustaka. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling dengan sampel sebanyak 88 rekam medis dan 15 petugas. Berdasarkan hasil penelitian bahwa pengaruh ketepatan waktu pengembalian rekam medis rawat inap terhadap efektivitas pelayanan di RS X yaitu sebesar 50,4%. Masalah yang sering timbul dalam pengembalian rekam medis rawat inap adalah masih terdapat ketidaktepatan waktu pengembalian rekam medis, waktu pengembalian yang belum sesuai dengan SOP yang telah di tetapkan oleh pihak rumah sakit, belum optimalnya pengawasan terhadap petugas rekam medis mengenai waktu pengembalian rekam medis. Kata kunci : Ketepatan waktu pengembalian, efektivitas pelayanan, rekam medi
Karakteristik Perawat Dan Kualitas Asuhan Ruang Akut Psikiatri
Karakteristik ODGJ dengan ciri gangguan yang khas menyebabkan mereka membutuhkan penanganan yang khusus. Ruang PHCU atau Psychiatric High Care Unit merupakan ruang perawatan intensif psikiatri yang digunakan untuk merawat pasien dengan kondisi akut. Kualitas asuhan keperawatan di Ruang PHCU dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah karakteristik perawat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan metode cross sectional. Populasi dari penelitian ini adalah perawat Ruang PHCU RSJ dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor, adapun besar sampel yang diteliti ditentukan dengan metode total sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode survey melalui penyebaran kuesioner dalam format digital. Uji statistik dilakukan untuk data univariat dan bivariat. Hasil penelitian pada analisis univariat diketahui bahwa perawat Ruang PHCU sebagian besar berusia ≥ 36 tahun, memiliki jenjang pendidikan non profesi dan memiliki masa kerja > 3 tahun. Gambaran kualitas asuhan berdasarkan determinan kualitas asuhan diketahui bahwa sebagian besar perawat mempunyai persepsi yang baik terkait pengembangan diri, pelaksanaan standar asuhan keperawatan, sarana dan prasarana serta ketersediaan anggaran untuk pemeliharaan sarana dan prasarana. Adapun persepsi yang kurang baik terjadi pada pengukuran determinan terkait ketersediaan anggaran untuk diklat dan anggaran untuk imbal jasa atau remunerasi. Pada analisis bivariat yang dilakukan dengan menggunakan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan 95% dan nilai α ≤ 0,05, diketahui bahwa tidak ada hubungan antara usia, tingkat pendidikan dan masa kerja perawat dengan kualitas asuhan keperawatan.
Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Kemauan Membayar JKN Pada Pekerja Informal Di Kulon Progo
Jumlah peserta jaminan kesehatan nasional merupakan salah satu indikator keberhasilan penyelenggaraan jaminan kesehatan nasional. Rendahnya kepesertaan jaminan kesehatan nasional yang berasal dari pekerja informal merupakan salah satu hambatan tercapainya indikator tersebut. Sehingga perlu diadakan penelitian untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi kemauan untuk membayar jaminan kesehatan nasional pada pekerja sektor informal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif femonenologi dengan teknik sampling yang diambil secara purposive sampling. Subjek penelitian ini adalah 10 kepala keluarga yang bekerja pada sekor informal dan belum tergabung dalam jaminan kesehatan nasional. Hasil penelitian ini menunjukkan faktor yang mempengaruhi kemauan pekerja informal untuk membayar jaminan kesehatan naional yakni pengetahuan akan jaminan kesehatan nasional, faktor ekonomi, faktor kebutuhan mengenai perawatan kesehatan, dan memiliki persepsi negatif mengenai kualitas pelayanan kesehatan dan lembaga pengelola asuransi. Dari hasil yang ditemukan mengenai berbagai faktor yang mempengaruhi kemauan membayar jaminan kesehatan nasional pada sektor informal, dapat disimpulkan bahwa pekerja informal cenderung menunda untuk bergabung dengan jaminan kesehatan nasional
Implikasi Faktor Individu Terhadap Stigma Sosial Tuberkulosis di Kelurahan Tanjung Mas Semarang
Stigma dapat memperparah penyakit tuberkulosis paru sehingga dapat menyebabkan keterlambatan pengobatan dan berdampak negatif terhadap kelangsungan berobat penderita. Berkaitan dengan hal tersebut maka perlu diketahui bagaimanakah peran faktor internal dan eksternal masyarakat terhadap stigma sosial pada penyakit tuberkulosis di wilayah Kelurahan Tanjung Mas Semarang. Populasi terjangkau penelitian ini adalah masyarakat di Kelurahan Tanjung Mas Semarang dengan sampel sebesar 219 responden. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa umur yang lebih muda lebih rentan terhadap stigma (p=0,011). Status pernikahan akan memperkecil stigma karena lebih adanya perhatian dari keluarga dan anak-anak mereka. Hasil penelitian menunjukkan status pernikahan berhubungan dengan stigma (p-value=0,011). Informasi tuberkulosis menunjukkan tidak adanya hubungan dengan keterkaitan seseorang pernah ataupun tidak pernah mendapatkan stigma dengan nilai (p=0,233). Nilai stigma yang tinggi sangat berbanding terbalik dengan nilai informasi tinggi yang diterima. Stigma tuberkulosis pada analisis multivariat menunjukkan tingkat kemaknaan p<0,25 yaitu variabel umur dan status pernikahan berdasarkan keterkaitan kandidat yang masuk dalam uji regresi logistik menunjukkan pada stigma tuberkulosis ≥32 adalah sebesar 60% sedangkan 40% disumbang oleh faktor lain. Status pernikahan terutama pada kategori tidak pernah menikah sangat berpengaruh lebih besar dengan stigma tuberkulosis contohnya di negara India dan negara Malawi. Stigma terkait tuberkulosis tetap menjadi tantangan dalam pencegahan dan pengendalian penyakit tuberkulosis. Pengurangan stigma baik di keluarga maupun masyarakat dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pengaruh tuberkulosis perlu ditinggatkan agar penemuan penderita dapat meningkat karena menurunnya stigma negatif di masyarakat