Teknik Sipil dan Arsitektur
Not a member yet
350 research outputs found
Sort by
EVALUASI EROSI TANAH BERVEGETASI DENGAN ALAT RAINFALL SIMULATOR (TES EKSPERIMENTAL DI LABORATORIUM)
Hujan adalah bagian dari siklus hidrologi yang paling berbahaya karena dapat menyebabkan erosi. Penelitian di Kebun Kolektif TP PKK Kota Bandar Lampung mengindikasikan kekurangan unsur hara akibat erosi yang disebabkan oleh limpasan air hujan, ditambah dengan kondisi lahan yang cukup curam. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh variasi kemiringan dan intensitas curah hujan terhadap laju erosi serta upaya pengendaliannya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah rainfall simulator. Hasil dari penelitian adalah laju erosi terkecil terjadi pada intensitas curah hujan 0,75 liter/menit dan kemiringan lereng 8% terjadi sebesar 0,04 Ton/Ha sedangkan laju erosi paling besar terjadi yaitu pada intensitas curah hujan 1,75 liter/menit dan kemiringan lereng 45% terjadi sebesar 0,59 Ton/Ha, terlihat bahwa intensitas curah hujan dan kemiringan lereng mempunyai pengaruh signifikan terhadap laju erosi tanah, laju erosi semakin meningkat seiring dengan kedua faktor tersebut. Kesimpulannya adalah curah hujan dengan intensitas tinggi dan kemiringan lereng yang curam meningkatkan laju erosi yang dapat merusak struktur tanah, sehingga perlu dilakukan teknik konservasi untuk mengurangi laju erosi dan menjaga kesuburan tanah, seperti pemeliharaan vegetasi penutup tanah dan penyuluhan teknik konservasi tanah bagi petani dan masyarakat.
Kata kunci: Siklus Hidrologi, Vegetasi, Limpasan, Curah Hujan, Kemiringan Leren
PEMANFAATAN BUBUK GAMPING SEBAGAI BAHAN SUBSTITUSI SEMEN TERHADAP SIFAT MEKANIK BETON
Penelitian tentang pemanfaatan bubuk gamping sebagai bahan substitusi atau pengganti semen pada campuran beton, bertujuan unuk mengetahui pengaruhnya terhadap sifat mekanik beton, yakni kuat tekan, tarik belah dan lentur beton. Bubuk gamping yang digunakan berasal dari batu gamping desa Lengko Lolok kabupaten Manggarai Timur dengan proporsi substitusi terhadap berat semen sebesar 0%, 5%, 10% dan 15%. Kuat tekan, tarik belah dan lentur beton diukur dengan pengujian pada beton usia 14 hari dan 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beton tanpa substitusi bubuk gamping mencapai kuat tekan rata-rata 20,2 MPa, sesuai dengan target yang direncanakan. Namun, penambahan bubuk gamping dari batu gamping desa Lengko Lolok, Kabupaten Manggarai Timur, umumnya menurunkan kuat tekan, kuat tarik belah, dan kuat lentur rata-rata beton. Meskipun demikian, penambahan bubuk gamping menunjukkan efek positif dalam mempercepat peningkatan kuat lentur beton pada usia awal
BETON SELF COMPACTING CONCRETE RAMAH LINGKUNGAN YANG BERKELANJUTAN DENGAN PEMANFAATAN LIMBAH ABU MARMER, ABU SEKAM PADI DAN ABU BATU: Self Compacting Concrete
Penggunaan beton pada dunia konstruksi sudah lama dikenal dan semakin luas penggunaannya. Seiring dengan laju pembangunan yang semakin pesat, beton telah banyak dipakai sebagai bahan utama yang digunakan dalam struktur. Salah satunya beton Self Compacting Concrete, yaitu beton yang dapat mengalir, mengisi celah tulangan dan sudut cetakan tanpa perlu alat getaran (vibrator) serta pemadatan selama proses penuangan. Pada penelitian beton Self Compacting Concrete kali ini yaitu, dengan memanfaatkan limbah abu sekam padi, sebagai bahan pengganti semen karena memiliki kandungan silika yang tinggi yang cocok sebagai pozzolan yang dapat digunakan sebagai material pengganti sebagian semen, limbah abu marmer merupakan limbah dari hasil pemotongan marmer dan abu batu merupakan limbah hasil gerusan pemecahan batu pada stone crusher (mesin penghancur/pemecah), limbah abu marmer dan limbah abu batu digunakan sebagai filler dalam agregat halus, dari pemanfaatn limbah tersebut dapat terciptanya beton Self Compacting Concrete yang ramah lingkungan . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan limbah abu sekam padi, serbuk marmer dan abu batu dalam campuran beton dan kandungan kimia dari limbah tersebut. Metode yang digunakan dalam pembuatan beton adalah metode ACI. Setelah melakukan penelitian, diketahui presentase optimum abu sekam padi 10% dari berat semen, abu marmer 30% dan abu batu 5% dari berat pasir, dari presentase penggunaan limbah tersebut memperoleh kuat tekan 40 MPa umur 28 hari, dengan benda uji silinder berdiameter 15 x 30 cm
PENGUKURAN KINERJA KONSULTAN PENGAWAS KONSTRUKSI JALAN DENGAN METODE CSI
Penelitian ini adalah tentang pengukuran kinerja konsultan pengawas konstruksi jalan menggunakan metode CSI dalam pelaksanaan proyek Rekonstruksi Jalan Surakarta-Gemolong-Purwodadi. Data diolah dengan menggunakan program MS.Excel dan SPSS yaitu dengan uji validitas, uji reliabilitas, dan uji analisis data dengan indeks kepuasan konsumen atau Customer Satisfaction Index (CSI). Dengan metode ini akan didapat indeks kepuasan stakeholder / responden terhadap kinerja Konsultan Pengawas Konstruski Jalan. Hasilnya adalah sebagai berikut: Nilai Customer Satisfaction Index (CSI) pada Konsultan Pengawas sebesar 84,32% yang menunjukan bahwa para stakeholder / responden proyek merasa “sangat puas†dengan kinerja Konsultan Pengawas Konstruksi Jalan Surakarta – Gemolong – Purwodadi.Kemampuan Mencapai Tujuan Proyek : 81,41% (Sangat Puas), kemampuan Menjamin Kualitas Pekerjaan : 63,42% (Cukup Puas), kemampuan Manajerial Proyek: 79,99% (Puas), kemampuan mencegah, mengurangi, atau mengatasi masalah/ konflik : 59,50% (Cukup Puas) dan kualitas Internal SDM Konsultan : 60,28% (Cukup Puas).
 
STUDI KOMPARASI PROFIL KABEL PADA JEMBATAN GANTUNG PEJALAN KAKI KELAS I DENGAN BENTANG UTAMA 2x80 METER
Jembatan lazim digunakan untuk membantu mobilisasi. Salah satu tipe jembatan yang mempunyai keunggulan di bentang panjang adalah jembatan gantung. Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum No. 02/SE/M/2010 sudah melampirkan dimensi dan profil baja untuk membangun jembatan gantung pejalan kaki dengan beberapa variasi bentang. Tetapi sangat mungkin terjadi kebutuhan bentang yang berbeda dengan yang sudah dilampirkan di pedoman. Selain itu, beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan hasil perhitungan dimensi profil yang sedikit lebih kecil daripada yang tertera di pedoman. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan komparasi penggunaan profil kabel pada jembatan gantung dengan dua bentang. Penelitian dilakukan dengan menggunakan data dari hasil desain penelitian sebelumnya. Profil kabel untuk kabel utama dan kabel penggantung selanjutnya dikombinasikan sesuai pedoman yang berlaku. Nilai rasio antara kapasitas dan kebutuhan (d/c ratio) dihitung dan dibandingkan. Pemodelan jembatan dilakukan dengan bantuan software SAP2000. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa dimensi kabel utama sesuai dengan yang tertera di pedoman, sedangkan untuk kabel penggantung dapat digunakan profil yang lebih kecil dari pedoman. Perbedaan nilai rasio kapasitas dan kebutuhan yang didapat tidak signifikan untuk kabel penggantung, tetapi signifikan untuk kabel utama
INOVASI BETON RINGAN DAN EKONOMIS MENGGUNAKAN ABU SEKAM PADI, SERBUK BATA RINGAN, ABU BATU
ABSTRAK
Beton ringan lightweight concrete adalah beton yang memiliki agregat ringan atau campuran agregat kasar ringan dan pasir alam sebagai pengganti agregat kasar dengan ketentuan tidak boleh melampaui berat isi maksimum beton 1850 kg/m3 dan harus memenuhi ketentuan kuat tekan dan kuat tarik berat beton ringan untuk tujuan struktural. Untuk memperoleh berat beton ringan diperlukan inovasi material dengan berat jenis ringan serta ekonomis yaitu dengan menggunakan limbah abu sekam padi sebagai subsitusi semen, kemudian limbah bata ringan yang digunakan sebagai material pengganti agregat halus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas penggunaan abu sekam padi, serbuk bata ringan dan abu batu terhadap peningkatan kuat tekan dan berat isi beton ringan. Jumlah semen yang digunakan 340 kg/m3, sehingga didapatkan hasil optimum penggunaan abu sekam padi 10 % dari berat semen, kemudian serbuk bata ringan yaitu 75 % dan 25 % dari berat agregat halus Rencana kuat tekan beton yang dibuat yaitu 30 MPa umur 28 hari, dengan benda uji silinder berdiameter 15 x 30 cm. Abu sekam padi dapat digunakan sebagai material subsitusi semen karena mengandung senyawan yang ada dalam semen, kandungan terbesarnya yaitu silika sebesar 71.08 %. Dari penelitian tersebut dapat diperoleh prosentase penggunaan material limbah yaitu abu sekam padi 10 % dari berat semen, serbuk bata ringan 75 % dan abu batu 25 % dari agregat halus. Beton Inovasi dengan limbah abu sekam padi, serbuk bata ringan pada penelitian ini lebih ringan daripada beton ringan tanpa inovasi. Dan lebih hemat sebesar Rp. 142,818.54 atau 16 % lebih ekonomis.
Kata kunci: tuliskan 3-5 kata kunci yang terkait dengan isi makalah
 
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP EARLY WARNING SYSTEM SAAT MELINTAS DI PERLINTASAN SEBIDANG TANPA PALANG PINTU
Improving safety at railroad level crossings is continually conducted to reduce accidents rate at railroad level crossings, especially unguarded official railroad level crossings where accidents often occur. Railroad level crossings are prone to accidents and it mainly caused by accidents that occur at level crossings. Accidents at level crossing are caused by several factors such as human error, crossing guards who are late to lower the barrier, and inferior public awareness to comply with signs at level crossings. This research is located at the railroad level crossing KM 31+988 in Taman District, Sidoarjo. The analysis result shows that the influence factors of people violating the train early warning system are the frequency of random crossings in a day which affects the committing violations with a probability value of 60.72%, and the waiting time before a train passes which takes too long promote committing violations with a probability value of 32 .7%.
 
PENGARUH ABU TULANG SAPI SEBAGAI BAHAN TAMBAH AGREGAT HALUS DALAM PEMBUATAN BETON READY MIX
ABSTRACT
In this study the authors aimed to determine the effect of using beef bone aggregate as an added ingredient for sand (fine aggregate) as well as an added ingredient for making ready mix concrete. The percentage levels of beef bones used in this study were 4%, 6% and 17%. In the manufacture of the test object is done by mixing the binder (cement), sand (fine aggregate and cow bone ash), gravel (coarse aggregate) and water using the experimental method. Samples of specimens were made using cylindrical molds (molds) and treated. The concrete compression test was carried out using a press machine, the mix design plan for making concrete was planned at 30 MPa. The total test objects made in this study were 20 pieces. The results of the test object with a cow bone ash content of 4% obtained compressive strength results of 7.58MPa 8.775 MPa 11.21 MPa 10.92 MPa and 10 MPa with an average value of 9.7 MPa. From the results of the addition of 6% beef bone ash, the results were 9.79 MPa, 9.73 MPa, 8.03 MPa, 9.23 MPa and 13.36 MPa and an average value of 10 MPa, for results with an addition of 17% cow bone ash was 10.3 MPa, 18.11 MPa, 15.28 MPa, 16.53 MPa and 19.13 MPa with an average yield of 15.87 MPa
Keyword: Concrete, Cow Bone Ash, Compresive masive, Aggregate
IDENTIFIKASI FUNGSI CANDI NGLUMBANG DUNGIK BERDASARKAN KONSTELASI TOPONIMI KAWASAN SEBAGAI KEKUATAN KEARIFAN LOKAL
Toponimi merupakan identifikasi ruang sebagai tempat dalam konteks place dalam kajian budaya, memiliki sebuah entitas unik yang memiliki sejarah dan juga makna. Penamaan tempat berhubungan dengan bahasa sebagai olah budaya, sarana komunikasi manusia dalam menjelaskan hasil olah pikir kepada sesama. Sebagai place identity, toponimi melekat dengan budaya masyarakat dan bersifat identitas esensial yang mengacu pada tradisi. Penamaan tempat merupakan bagian dari kearifan lokal. Mempelajari penamaan tempat menjadi sebuah sarana pembelajaran dan penggalian informasi aspek intangible mengenai keunikan situs cagar budaya Candi Nglumbang Dungik
ANALISA PERBANDINGAN BIAYA DAN WAKTU METODE KOSTRUKSI TOP-DOWN DAN BOTTOM-UP PADA PEKERJAAN BASEMENT GEDUNG TENTREM SEMARANG
Tentrem Semarang Building is one of the tallest buildings in Semarang with 4 basement floors and 17 top floors. The construction of basements in high-rise buildings is currently being carried out a lot, one of the factors is due to the limited land to be built, in general, the construction of basements is used for parking lots. The basement to be built has different depths and conditions, so it takes the right method according to the conditions in the field. There are 2 methods for implementing basement construction, namely bottom-up and top-down. In the basement structure work of the existing Tentrem Semarang Building construction project, the basement construction used the bottom-up construction method. In this study, the method will be modified using the top-down construction method. Information regarding work methods, worker productivity was obtained by interviewing field supervisors from the owner, interviews with supervisors from the main contractor and direct field observations. Calculation of costs and time is carried out by analyzing the capacity and productivity of labor and heavy equipment, comparing the normal time with the time after changes in construction methods. The results of the modification of the construction method using the top-down construction method for the basement structure of the Tentrem Semarang Building project took 510 days to complete and cost IDR 205,059,861,826. Whereas for the bottom-up method it takes 685 days with a total cost of IDR 253,609,405,225. The application of the Top-Down method to the implementation of the basement structure of the Tentrem Semarang building project is more effective and efficient than the implementation of the Bottom-Up method and produces a time effectiveness value of 25.55% and a cost efficiency of 19.14% compared to the Bottom-Up method