Teknik Sipil dan Arsitektur
Not a member yet
350 research outputs found
Sort by
MANAJEMEN KINERJA PERUSAHAAN JASA KONSTRUKSI
Banyaknya stakeholder yang terlibat dalam kegiatan industrijasa konstruksi menuntut perusahaan atau organisasi konstruksi sebagai penyedia jasa konstruksi memiliki kinerja yang baik. Manajemen kinerja perusahaan jasa konstruksi menjadi persoaian serius, ketika disadari bahwa sifat hubungan dengan para stakeholder akan menentukan bagaimana dan sejauh apa faktor hubungan kerja akan mempengaruhi kinerja perusahaan. Makin jelas dan erat hubungan kerja tersebut, makin besar pula pengaruh yang dimiliki oleh pekerja jasa konstruksi terhadap kinerja organisasi / perusahaan jasa konstruksi, dalam rangka memberi kepuasaanpenggunaanjasa konstruksi (konsumen). Kajian ini dimaksudkan untuk menggambarkan adanya berbagai pendekatan dalam memanage hubungan dengan stakeholder sebuah perusahaan jasa konstruksi (konsultan/kontraktor). Pendekatan manajemen kinerja seperti apa yang perlu dijalankan, tergantung dari beberapa hal. Lingkungan yang dihadapi antara satu perusahaan dengan perusahaan lain, tentu berbeda, tergantung dari domain yang dipilihnya. Kajian ini menelaah pada manajemen kinerja yang berhubungan dengan pihak stakeholder internal perusahaan jasa konstruksi
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENILA1AN PENGGUNA JASA /KLIEN PRO YEK KONSTRUKSI DALAM PROSES PEMILIHAN KONTRAKTOR
Pemilihan kontraktor merupakan salah satu tahapan penting yang menentukan keberhasilan proyek konstruksi. Karena itu. dalam tahap prakualifikasi untuk memilih kontraktor, seharusnya terdapat faktor kriteria seleksi yang lebih baik, disamping faktor harga penawaran yang diajukan kontraktor. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang dianggap penting bagi pengguna jasa I klien proyek konstruksi dalam proses pemilihan kontraktor yang meliputi: faktor kemampuan peralatan, kemampuan personil, keuangan, pengalaman kerja, Catalan kegagalan, penerapan asuransi dan keselamatan kerja, serta faktor-faktor lain. Penelitian ini juga mengkaji ranking dan bobot tiap faktor sehingga dapat diterapkan pada sebuah model penilaian prakualifikasi untuk subdinas di lingkungan Dinas Kimpraswil. Hasildari penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan-perbedaan diantarapara responden ketika mereka menilai faktor yang dianggap penting dan berpengaruh dalam proses pemilihan kontraktor. Perbedaan lersebut ternyata banyak dipengaruhi oleh adanya perbedaan latar belakang instansi dan spesifikasi / kebutuhan proyek yang ada. Hasil Aritmatic Mean menunjukan urutan bobot faktor: (1) Faktor kemampuan keuangan / fmansiil kontraktor 16,25%, (2) Faktor pengalaman kerja!5,36%, (3) Faktor personil perusahaan kontraktor 14.58%, (4) Faktor kemampuan peralatan 14,28%, (5) Faktor Catalan kegagalan kerja 13,72%, (6) Faktor penerapan asuransi dan keselamatan kerja 12,98%, (7)Faktor domisili dan Iain-lainl2,83%. Modelpenilaian prakualifikasi kontraktor selanjutnya dapat digunakan di subdinas yang ada di lingkungan Dinas Kimpraswil
A PROJECT EVALUATION IN SURAKARTA (A Case Project of Order and Built in Taman SumberAsri Housing)
The Housing business is an effort done by developers to gain profits from the offered investments. In developing housing business, there are two functions that the developers should carry on; the busiÂÂÂness and technical function. The Business function means that every cost should mutually affect incomes or profits. The tecnical function means that developers should build houses with their facilities for the consumers. This research purposes to evaluate time and cost at the Development of Order and Build Housing in Taman Sumber Asri Housing Project in Surakarta. This research used Critical Path Method (CPM), Curve S and Bar Chart. At the Development of Order and Build housing process, there hapÂÂÂpened accelerations at elapsed time in which the project was conducted, so that the project retained the cost reduction from the planed budget initially. The concept of result value, or the term known as earned value method, which generally can be ident ivied by the integrity of cost and time technique, has the basic concept of the progress evaluation at the progress of the process infield, with 2 variables scales; the time and cost variable. The research result showed the difference of cost at Rp. 2,182,445, -, retained from the initial budget ofRp. 107,193,550 - (Housing type 80/140. the land price and land tax were excluded) into Rp. 105, Oil, 105. Based on time estimations, it was calculated the time for building the house was 15,673 weeks. According to the plan, the housing would be finished in 16 weeks, so that there happened an acceleration of 0.327 weeks from the initial plan. For the totally 5 years in finishing the project, in 2years 5 months, the project have been accomplished that it underwent time acceleration of 2 years and 7 month, or 31 months. From the project cost view, the project gained profits as much as Rp 1,797,046,572,
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SIKAP MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN DI PERUMNAS MOJOSONGO SURAKARTA
Pembangunan perumahan sederhana yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surakarta adalah dengan melaksanakan pembangunan perumahan oleh Perumnas Mojosongo. Dengan dibangunnya perumahan sederhana bagi golongan masyarakat berpenghasilan menengah kebawah diharapkan masyarakat yang semula tinggal di perkampungan kumuh atau dari daerah permukiman lainnya, kemudian pindah ke permukiman baru yaitu Perumnas Mojosongo, maka akan mengalami suatu perubahan ekologi spasial. Berubahnya ekologi spasial dari suatu permukiman konvensional kesuatu permukiman baru ini diasumsikan akan mempengaruhi sikap masyarakat penghuninya. Penelitiam ini mengkaji tentang faktor-faktor yang mempengaruhi sikap masyarakat dalam pengelolaan lingkungan di Perumnas Mojosongo Surakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi lingkungan social yang meliputi tingkat pendidikan, mata pencaharian dan kepemilikan rumah terhadap sikap masyarakat dalam pengelolaan lingkungan di Perumnas Mojosongo Surakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian diskriptif kuantitatif yaitu penelitian terhadap suatu gejala yang terjadi dalam masyarakat yang actual pada saat sekarang, dengan mengumpulkan data, menyusun, mengklarifikasikan, menganalisa danpenginterpretasikan dalam bentuk suatu laporan. Hasil pembahasan adalah merupakan kesimpulanyang merumuskan bahwa sikap masyarakat dalam pengelolaan lingkungan merupakan kemampuan masing-masing pribadi anggota masyarakat, dalam hal ini sikap masyarakat dalam pengelolaan lingkungan dipengaruhi olehfaktor kondisi lingkungan sosial dan lingkungan ekonomi. ÂÂÂ
CATURDAYA SEBAGAI KETERPADUAN UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN
Berkembangnya pola pembangunan di Indonesia melalui komunitas masyarakat kota dan desa yang masing-masing memiliki karakter spesifik, serta meningkatnya kebutuhan kehidupan yang dentokratis, telah berpengaruh pada bergesernya peran para pelaku pembangunan, dengan konsekuen dan konsisten mendudukkan pemerintah, masyarakat, dan swasta pada peran dan fungsi yang semestinya. Selanjutnya berkembang paradigma pola pembangunan dengan memberikan peran secara penuh kepada setiap orang yang bergiat pada maslng-masing komunitas masyarakat, tidak hanya dalam proses, namun terutama di dalam spirit pembangunan yang terdiri dan unsur masyarakat dan swasta. Sejalan dengyn perubahan paradigma tersebut, terjadi pergeseran peran pemerintah dalam proses pembangunan, menjadi fasilitator yang menjembatani para pelaku pembangunan untuk memperoleh kesepakatan dan manfaat optimal dari setiap proses pembangunan. Sehingga proses pembangunan tidak lagi semata-mata sebagai proses teknis plamologis, namun juga proses sosial-budaya, politik, dan ekonomi. Dalam kaitannya dengan pembangunan sebagai bagian dari Caturdaya pemberdayaan manusia, pemberdayaan kegiatan usaha produktif, pemberdayaan kelembagaan, dan pendayagunaan secara optimal prasarana dan sarana lingkungan, maka kepentingan masyarakat yang bergiat pada suatu komunitas merupakan basis utama dalam perumusan rencana pembangunan. Kondisi ini memberi arah bagi dikembangkannya mekanisme yang membuka peluang bagi partisipasi warga (masyarakat) secara lebih luas dan langsung dalam penyusunan rencana, implementasi, dan pembangunan. Implikasi dari pendekatan tersebut menjadi bagian mendasar yang digunakan dalam menentukan bentuk dan arah pembangunan yang spesifik bagi setiap komunitas, baik melalui organisasi. kelompok, atau bahkan individu. Harus disadari, bahwa berbagai keputusan yang tertuang dalam serangkaian proses pembangunan yang nantinya disusun dalam bentuk Community Action Plan-CAP (Rencana Tindak Komunitas), terutama sangat memungkinkan munculnya berbagai perbedaan di dalam implementasinya di tengah masyarakat yang bergiat di tingkat komunitas yang secara langsung terkena kebijaksanaan tersebut. Kegiatan Caturdaya diharapkan dapat berperan sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas Ungkungan pada suatu komunitas disusun sebagai bentuk kepedulian (kkususnya Pemerintah), dalam bentuk stimulan (dorongan), pendampingan, dan penyediaan sarana dan sarana, untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas masyarakat pada suatu komunitas untuk dapat dikembangkan dalam skala yang lebih luas dari komunitas vang bersangkutan. ÂÂÂ
METODE PENYAMBUNGAN PADA STRUKTUR BETON BERTULANG
 The magnitude of most concrete construction is such tahat interruption will inevitably accur to the placing of concrete. Whetherthe period of these interruptions be days, overnight, or merely 30 minutes, if it allows the concrete to stiffen to the extent that it cannot be worked, then a joint must be made. There will also be ocasions where for structural reasons it is considered necessary,to porposely break the continuity concrete placing and to construct a joint. Where construction joint to be made in structural member they should be located at a position where on either side of them can be nemed according in the type of movement they allow: contraction joint, dummy contraction or control joint, expansion joint, isolation joint. The positioning of joint and the type of joint may same time be governed be architectural as wel as structural reqttirementand in some structurea , the need for making watertight joint is primary cosideration
PENGARUH KINERJA PERSIMPANGAN TERHADAP PROSES PEMILIHAN RUTE PADA JARINGAN JALAN PERKOTAAN
Pertumbuhan lalu lintas yang begitu cepat di Indonesia khususnya di daerah perkotaan perlu dimbangi dengan perbaikan kinerja prasarana lalu lintas seperti perbaikan jalan dan perbaikan persimpangan. Tundaan yang besar pada suatu persimpangan menyebabkan orang enggan untuk melewati persimpangan tersebut dan memilih melewati rule yang lain, sehingga lokasi kemacetan menjadi lebih menyebar. Dalam perencanaan transportasi, pemodelan jaringan jalan sangat membatu dalam menganalisis kinerja suatu jaringan jalan. Sering dalam pemodelan jaringan jalan khususnya di perkotaan suatu persimpangan dianggap berupa suatu titik padahal di persimpangan tersebut terdapat banyak pergerakan yang tiap-tiap pergerakan mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. IHCM 1997, menyatakan bahwa kapasitas dan kinerja sistem jaringan jalan pada suatu kota sangat tergantung pada kinerja persimpangan, bukannya kinerja segmen jalan antar persimpangan. Dalam tulisan ini akan dibahas seberapa jauh pengaruh kinerja suatu persimpangan terhadap proses pemilihan rule pada jaringan jalan -yang berdampak pada kebutuhan akan perbaikan jaringan jalan
MAKNA FILOSOFI DALAM KARYA DESAIN ARSITEKTUR
Banyak orang melihat hasil karya desaln arsitektur berupa wujud / wadah yang kasat mata, berupa sebuah bangunan yang menjulang megah di atas sebidang tanah, seolah-olah merupakan bangunan yang mati tanpa nilai atau makna yang berarti. Prinsip para pengguna bangunan dari karya desain arsitektur ini adalah bagaimana mereka dapat menggunakan dan memfungsikan bangunan ini dengan nyaman, luncar dan aman, lengkap dengan fasilitas pelayanan yang diinginkannya saat melakukan aktifitasnya di dalam hangunan tersebut. Begitu juga orang lain yang bukan pengguna bangunan ini dapat menikmati indahnya bangunan karena tampilan estetika yang unik dan menarik. Namun kalau kita mau mengkaji lebih dalam lagi bahwa sebuah karya desain arsitektur disamping tuntutan tersebut di atas tentunya diperlukan juga suatu nilai-nilai yang tidak dapat diujudkan dalam bentuk wadah (bangunan) yaitu suatu nilai filosofi yang mendasari terciptanya bangunan tersebut. Melalui kajian ini, dengan acuan dasar pada sludi pustaka dan pengamatan hasil-hasil karya desain arsitektur, yang sudah ada dengan topik materi Makna Filosofi dalam Karya Desain Arsilektur, memberikan gambaran tentang pentingnya konsep filosofi dalam suatu desain arsitektur, sehingga suatu karya arsitektur bukan hanya sekedar sebuah bangunan mati yang megah menjulang di atas tanah saja. Namun sebuah karya desain arsitektur yang mempunyai nilai dan makna filosofi yang tinggiyang seolah-olah mempunyai "roh" yang hidup
PENGGUNAAN HAMILTON'S PRINCIPLE UNTUK MEMPEROLEH GOVERNING EQUATIONS : PERMASALAHAN MEKANIKA SOLID ELASTIK LINEAR
Dalam penyelesaian masalah mekanika pada material dapat dilakukan dengan Mathematics Analysis maupun dengan Numerical Analysis. Dengan menggunakan solusi ini maka harus ditentukan dahulu Constitutive Equations sebelum menentukan Governing Equations-nya pada suatu kontinum. Permasalahannya adalah apabila hukum-hukum Newton sulit untuk memformulasikan Constitutive Equations-nya dan permasalahan akan komplek jika kontinum pada kondisi elastic nonlinearity maupun jika sudah dalam kondisi plastis. Hamilton's Principle mengasumsikan bahwa suatu sistem mekanika berdasar pada fungsi tenaga kinetik (T) dan fungsi tenaga potensial (V). Jika sistem mekanikanya dinamis maka Hamilton's Principle ditinjau dengan sistem konservatif yang berdasar pada persamaah La grange. Dengan penggunaan Hamilton's Principle maka sangat memudahkan dalam memformulasikan persamaan diferensial untuk memperoleh Governing Equations. Hamilton's Principle berguna sekali pada permasalahan sistem mekanika, dimana hukum-hukum Newton sangat sulit untuk memformulasikan penyelesainnya. ÂÂÂ
PENGARUH KOMPOSISI CAMPURAN TERHADAP DURABIUTAS HIGH-FLOWABLE CONCRETE PADA PENGECORAN BETON DI RAW AH AIR
Concrete that used for under water construction need to be proportioned to spread readily and self consolidate. High Flowable Concrete (HFC) is a kind of High Performance Concrete (HPC) that able to spread readily (flowability more than 50 cm according to BS †“ 1881). This kind of concrete can be resulted by using higher water/binder ratio or adding some High Range Water Reducer (HRWR) agent. This reseacrh proposed to evaluate effects of water/binder ratio and High Range Water Reducer based on polycarboxylatether (Sika Viscocrete-5) dosage on fresh concrete properties, compressive strength and water absorption of underwater concrete. The research has done with o,40 and 0,45 water/binder ratio and 0.3, 0.6, 0.8, 1.0 and 1.3 percent of HRWR by total wight of binder. 30 cubes (15cm x15cm x15cm) of underwater concrete  were used for absorption examination according to ASTM C-127-68 underwater concrete cylinders (Ø 15cm x 30cm) were investigated for compressive strength in 56 days. Test result indicates that HRWR based on polycarboxylatether could improve flowability up to 3.24 % for 0.4 water per binder ratio and 23.90 % for 0.45 w/c. High Range Water Reducer also improve durability of underwater concrete, indicates by the reduction of water absorption up to 11.11 % for 0.4 water per binder ratio and 18.28 for 0.45 water per binder ratio. Better durability of underwater concrete could be obtained by reducing the value of water per binder ratio that indicated by lower water absorption