Teknik Sipil dan Arsitektur
Not a member yet
350 research outputs found
Sort by
KLAIM KONSTRUKSI (STUDI KASUS: PEKERJAAN PENGADAAN GEDUNG KESEHATAN PADA BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA)
Klaim merupakan bentuk atau cara permohonan atau permintaan tambahan waktu, biaya atau kompensasi yang lain di dalam suatu pekerjaan konstruksi. Klaim akan lebih memungkinkan di terima, jika di dalam kontrak sudah terdapat klausula mengenai klaim. Sayangnya di dunia jasa konstruksi di Indonesia klausula klaim masih sangat jarang dimasukkan ke dalam dokumen kontrak, sebab masih banyak yang belum memahami tentang klaim atau memahami klaim sebagai tuntutan, dimana orang yang mengajukan klaim dianggap orang yang suka menuntut dan susah diatur. Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman mengenai klaim dimana arti klaim dari kepustakaan barat menyatakan bahwa klaim adalah suatu permintaan (demand). Klaim di dunia konstruksi adalah klaim yang timbul dari atau sehubungan dengan pelaksanaan suatu pekerjaan jasa konstruksi antara pengguna jasa dan penyedia jasa atau pemasok bahan atau antara pihak luar dan pengguna / penyedia jasa yang biasanya mengenai permintaan tambahan waktu, biaya atau kompensasi lain (Nazarkhan Yasin, 2004). Proyek pekerjaan Pengadaan Gedung Kesehatan pada Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta dikerjakan oleh PT. Karya Kencana Mukti, sedangkan proses perencanaannya dikerjakan oleh konsultan CV. MEDESAIN serta Konsultan Pengawas CV. AFIAT. Proyek pekerjaan Pengadaan Gedung Kesehatan pada Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta ini dalam pelaksanaanya mengalami permasalahan-permasalahan yang berakibat kerugian pada pihak kontraktor, sehingga pada akhirnya pihak kontraktor mengajukan klaim (permintaan atau permohonan) kepada pihak pengguna (user). Dari hasil pembahasan pada proyek pekerjaan Pengadaan Gedung Kesehatan pada Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta Tahun Anggaran 2007 didapatkan beberapa kesimpulan sebagai berikut : Klaim pertama mengenai perpanjangan waktu pelaksanaan dimana pada dokumen kontrak pelaksanaan berakhir pada tanggal 4 Desember 2007 setelah melalui kesepakatan disetujui penambahan waktu pelaksanaan pekerjaan berakhir sampai tanggal 31 Desember 2007. Klaim kedua terjadi pada pembangunan gedung Aula dimana terdapat penambahan item pekerjaan yaitu peninggian elevasi lantai Aula setinggi 40 cm. Sesuai kesepakatan biaya penambahan item pekerjaan tersebut diambilkan dari pengurangan volume pekerjaan Paving halaman. Klaim ketiga terjadi juga karena terdapat penambahan item pekerjaan peninggian elevasi Paving halaman. Sesuai kesepakatan biaya penambahan item pekerjaan tersebut juga diambilkan dari pengurangan volume pekerjaan Paving halaman
KAJIAN PEMBATASAN WAKTU GETAR ALAMI FUNDAMENTAL TERHADAP STRUKTUR BANGUNAN BERTINGKAT
Semakin tinggi tingkat sebuah struktur bangunan akan menyebabkan adanya pengaruh P-Delta yang semakin besar. Dengan simulasi model struktur bangunan beton 6 tingkat yang dilakukan dengan program SAP 2000, dan dengan melakukan pembatasan waktu getar alami fundamental pada sebuah struktur bangunan maka diperoleh peningkatan kekakuan struktur, hal ini akan mengakibatkan pengurangan simpangan antar tingkat. Dengan adanya ini maka pengaruh P-Delta pun akan semakin berkurang besarnya. Dengan melakukan pembatasan waktu getar alami fundamental struktur, maka simpangan antar tingkat yang berlebihan akan dapat dicegah, hal ini akan menyebabkan pelelehan pertama struktur dapat dihindari, dan kerusakan dan keruntuhan strukturpun dapat dicegah. Pembatasan waktu getar alami fundamental ini akan sangat efektif untuk struktur-struktur bangunan tingkat tinggi, sementara untuk struktur bangunan tingkat rendah, pembatasan waktu getar alami dapat menyebabkan struktur menjadi sangat kaku dan tidak efisie
IDENTIFIKASI CIRI-CIRI PERUMAHAN DI KAWASAN PESISIR KASUS KELURAHAN SAMBULI DAN TODONGGEU KECAMATAN ABELI KOTA KENDARI
Kawasan pesisir merupakan daerah pantai/ tepi laut, yaitu kawasan dimana daratan dan air laut bertemu,  kawasan tersebut merupakan kawasan dinamis dan unik dari suatu kota, disamping itu juga sangat strategis karena mudah dicapai dari daratan dan laut. Kawasan ini digunakan untuk berbagi fungsi antara lain perdagangan, rekreasi, perkantoran, pergudangan, pelabuhan, perumahan, dan lain-lain. Khusus untuk kajian akan dibahas  perumahan. Sebagai studi kasus dilakukan kajian pada kelurahan Sambuli dan Tondonggeu kecamatan Abeli kota Kendari. Kota Kendari merupakan kota yang unik, kota tersebut pada bagian tengahnya terdapat Teluk Kendari yang berhubungan langsung dengan laut Banda. Di sepanjang pantainya banyak ditempati masyarakat untuk permukiman. Dari kajian yang dilakukan disimpulkan tentang identifikasi cirri-ciri  perumahan di kawasan pesisir kota Kendari yaitu,  lokasi menempati daerah pantai/ tepi laut, baik di darat maupun di atas permukaan air laut. Masa bangunan yang berada di darat berbentuk teratur, sedangkan yang berada di atas permukaan air laut berbentuk tidak teratur. Penampilan bangunan sederhana berbentuk panggung, struktur bangunan dibuat dari konstruksi rangka dari bahan kayu/ bambu, untuk mencapai bangunan satu dengan lainnya dilengkapi dengan jembatan kay
KETAHANAN ELEMEN STRUKTUR TERHADAP KEBAKARAN
Kebakaran merupakan bencana yang dapat terjadi setiap saat dan kapan saja. Banyak bangunan telah mengalami kebakaran karena berbagai sebab, antara lain akibat hubungan arus pendek, ledakan gas, sambaran petir dan sebagainya. Berbagai fenomena yang ada ketika kebakaran terjadi, diketahui adanya beberapa hal antara lain keganasan api, pemindahan panas, penjalaran api dan pengaruhnya terhadap suatu elemen struktur. Sehingga dengan diketahui fenomena tersebut dapat diupayakan agar elemen struktur tahan terhadap bahaya panas dan api. Upaya yang dilakukan dengan cara memberikan perlindungan terhadap elemen struktur, melakukan sistem perancangan struktur yang tepat, dan peningkatan kwalitas bahan struktur yang dipakai. ÂÂÂ
RTBL BANDARA TEMINDUNG SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI PEMANFAATAN RUANG KOTA SAMARINDA
Sebagai bagian dari lingkungan yang memperoleh imbas dari perkembangan Kola Samarinda, Kawasan Bandara Temindung yang tersusun atas wilayah Kelurahan Bandara, sebagian wilayah Kelurahan Pelita, dan sebagian wilayah Kelurahan Temindung Permai Kecamatan Samarinda Utara, telah mengalaml pertumbuhan fisik yang cepat namun berkembang kurang tertib, tidak selaras dan serasi dengan lingkungannya, sehingga Kawasan Bandara Temindung menjadi tidak produktif. Kondisi ini terlihat dari kualitas tata bangunan dan lingkungan yang tidak terencana dengan baik. Dengan pola yang berkembang saat ini diperlukan pengaturan lebih khusm berkaitan dengan tata bangunan dan lingkungannya, agar dengan disusunnya Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL), Kawasan Bandara Temindung ke depan diharapkan dapat berkembang menjadi lingkungan yang mampu memberi manfaat optimal bagi kesejahteraan masyarakat yang bergiat di dalamnya dengan kualitas yang lebih baik dari kondisi yang ada sekarang. Pada sisi lain diharapkan juga dapat memberikan arahan terhadap pemanfaatan lahan sesuai dengan kebijakan tata bangunan dan tata lingkungan yang tertuang dalam berbaga arahan kebijakan penataan ruang yang berlaku. RTBL tersebut juga merupakan arahan untuk perwujudan arsitektur lingkungan setempat agar lebih melengkapi peraturan bangunan yang ada
PENGARUH ABU AMPAS TEBU SEBAGAI BAHAN SUBSTITUSI SEMEN TERHADAP SIFAT KADAP AIR BETON
Abu ampas tebu memiliki kandungan unsur silika (SiO2) yang cukup tinggi apabila dilakukan pembakaran dengan suhu secara terkontrol. Dari penelitian yang dilakukan dengan menggunakan abu ampas tebu dari Pabrik Gula Mojo †“ Sragen †“ Jawa Tengah, pada temperatur pembakaran 700° C selama 60 menit, kandungan silika ( SiO2) abu ampas tebu tercatat sebesar 86,20 %. Penelitian ini mengkaji pengaruh abu ampas tebu sebagai bahan substitusi semen pada campuran beton dan pengaruhnya terhadap rembesan air (kekedapan) beton. Prosentase jumlah abu ampas tebu sebagai bahan substitusi sebesar 10%, 15 %, 20 %, 25 %, 30 % dan 35 % dari berat semen. Dari hasil penelitian, substitusi abu ampas tebu sebesar 15 % dari berat semen,. Pengujian benda uji pada umur beton 28 dan 56 hari besarnya serapan air (absorbsi) untuk beton kontrol sebesar 4,61% dan 4,38 %, sedangkan untuk beton dengan substitusi abu ampas tebu sebesar 15 % sebesar 2,73 % dan 2,60 % untuk lama perendaman 24 jam. Sedangkan dari pengujian penetrasi air ke dalam beton, untuk beton dengan substitusi abu ampas tebu 15 %, rembesan air pada tekanan air sebesar 3 bar selama 24 jam, 7 bar selama 24 jam, 1 bar selama 48 jam mengalami penurunan masing †“ masing sebesar 10 %, 12,50 %, dan 7,14 % dari beton kontrolnya
KERANCUAN ATURAN PENATAAN BANGUNAN SEBAGAI PENYEBAB TERJADINYA DEGRADASI KUALITAS KAWASAN CAGAR BUDAYA KAWASAN KRATON YOGYAKARTA
Pada umumnya kawasan yang berpotensi di Indonesia belum dikelola secara baik, sebagian peraturan yang ada masih bersifat peraturan secara umum, sehingga belum mampu berfungsi sebagai alat pengendali pada tingkat operasional di lapangan. Kenyataan tersebut disebabkan oleh desain kota/kawasan yang masih lebih bersifat dua dimensi dan penjelmaannya menjadi tiga dimensi, tidak lagi bersekala kota/kawasan tetapi lebih kepada pekerjaan individu dalam bentuk kapling. Disamping itu pranata-pranata pembangunan yang telah dipunyai oleh masing-masing Daerah (RIK, RDTK, RTRK dan sebagainya) sifatnya masih umum, dan walaupun telah dapat digunakan sebagai acuan untuk kawasan yang khusus sulit sekali dalam penerapannya dilapangan. Oleh karena itu upaya penanganannya tidak mungkin dapat dilaksanakan tanpa melalui peraturan yang mampu menjangkau ke arah pengendalian arsitektur bangunan secara tiga dimensional. Dari hasil penelitian: Peran Peraturan Bangunan Khusus dalam Meminimalisir Degradasi Kualitas Kawasan Cagar Budaya diperoleh gambaran tentang memnurunnya kualitas kawasan cagar budaya oleh beberapa masalah yang salah satunya adalah belum adanya panduan baku rancangan khusus yang menjembatani pembangunan fisik di Kawasan Cagar Budaya Kraton Yogyakarta tersebut. ÂÂÂ
PERUBAHAN PENATAAN RUANG PERMUKIMAN PADA KERATON KASUNANAN SURAKARTA
Keraton Kasunanan Surakarta sebagai pusat pemerintahan kerajaan merupakan sumber atau pusat kebudayaan pada saat itu, hal ini dapat dilihat pada bangunan-bangunan telah berdiri mempunyai orientasi dan mengambil panutan pada pola bangunan keraton. Peanataan ruang pada Komplek perumahan Baluwarti adalah merupakan kawasan perumahan yang ada di dalam tembok keraton, didalam komplek ini status kepemilikan tanah adalah milik keraton. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran secara deskriptif didalam mengusahakan perkembangan pola permukiman yang terjadi dengan tetap menjaga kelestarian nilai-nilai budaya tradisional dari temuan factor pengaruh perubahan tersebut dengan menihat fenomena perubahan social budaya serta implikasi perubahan fisik yang terjadi. Berdasarkan pengamatan menunjukan bahwa masyarakat Keraton baik dalam arti fisik, cultural, filosofis maupun mitologis sangat mewarnai totalitas pola kehidupan masyarakat di kawasan ini, sehingga apabila terjadi suatu perubahan pada salah satu factor akan berpengaruh pada factor-faktor lain yang berhubungan. Proses perubahan yang terjadi dalam masyarakat pada permukiman ini diperkuat dengan intervensi pemerintah sebagai upaya pengembangan lingkungan. Stimulan dari pemerintah sebagai upaya dari ekonomi (bagian dari budaya) membawa perubahan-perubahan di dalam pola penggunaan lahan. Perubahan budaya sifatnya sangat komplek, karena tidak terlepas dari perubahan-perubahan bidang ekonomi, social, politis dan sebagainya, yang didalamnya terdapat pengaruh timbale balik antara budaya dan aspek-aspek tersebut. Dari hasil pembahasan kajian perubahan penataan ruang permukiman pada Keraton Kasunanan Surakarta ini dapat diambil kesimpulan bahwa system kekerabatan yang sangat kuat nampak pada pola permukiman yang merupakan salah satu unsure budaya cerminan hidup yang akrab dan mempunyai hirarki yang ketat sebagai warisan budaya dan terbukti bertahan menghadapi perkembangan jama
KAJIAN DRAINASE PERMUKAAN DI KAMPUS UNIVERSITAS SLAMET RIYADI
Universitas Slamet Riyadi adalah perguruan tinggi swasta yang ada di Surakarta, yang tepatnya di Jalan Sumpah Pemuda no.18 Joglo Kadipiro, permasalahan banjir terjadi pada saluran drainase di kampus UNISRI setiap tahun. Beberapa kemungkinan penyebab banjir adalah kapasitas tampung saluran drain yang tidak mampu mengalirkan debit banjir dengan curah hujan yang sangat tinggi. Cara analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menganalisis debit banjir rancangan (2 tahun) dengan Metode Hidrograf Rasional dan muka air banjir “Steady Flow†dengan Metode Step Method. Dari hasil analisis di dapatkan sebagian debit banjir melimpas antara lain di saluran tersier 8, 11, 5, 21, 24, 25, 28, 29, disebabkan kurang memadainya dimensi saluran untuk menampung debit yang berlebih. Hal ini dapat di atasi dengan merencanakan sumur resapan yang berfungsi untuk menampung debit banjir di hulu sumur resapan, direncanakan penempatan sumur resapan di 2 tempat yaitu saluran tersier 2 dan saluran primer 22, sehingga muka air banjir disaluran muara atau hilir turun sebesar 45,586
ELEMEN RUANG TERBUKA HIJAU DALAM FENOMENA KEBUTUHAN TATA RUANG PERKOTAAN
Sebagai bagian dari rencana tata ruang kota (RTRK), kedudukan ruang terbuka hijau (RTH) merupakan ruang terbuka publik yang direncanakan pada suatu kawasan atau lingkungan , yang tersusun atas ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non hijau. Ruang terbuka hijau, memiliki fungsi dan peran khusus pada masing-masing kawasan yang ada pada setiap perencanaan tata ruang kota, yang direncanakan dalam bentuk penataan tumbuhan, tanaman  dan vegetasi dari jenis tanaman penyejuk, pelindung, penutup tanah , serta instrumen kelengkapan lain, agar dapat berperan dalam mendukung fungsi ekologis, sosial budaya, dan estetika/arsitektural, sehingga dapat memberi manfaat optimal bagi kesejahteraan masyarakat. Ruang terbuka memiliki peran yang cukup penting dalam memberikan keleluasaan gerak penggunanya,  karena aktivitas dan perkembangan kota yang semakin lama semakin berkembang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan manusia yang hidup di dalamnya. Dengan adanya ruang terbuka, manusia dihadapkan pada suasana yang berbeda dengan aktivitas kesehariannya