Teknik Sipil dan Arsitektur
Not a member yet
    350 research outputs found

    KARAKTERISASI KUAT TEKAN BETON AGREGAT LOKAL DENGAN VARIASI SUPERPLASTICIZER PADA UMUR AWAL: KARAKTERISASI KUAT TEKAN BETON AGREGAT LOKAL DENGAN VARIASI SUPERPLASTICIZER PADA UMUR AWAL

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi pengaruh penambahan superplasticizer pada beton agregat lokal terhadap workability dan kuat tekan beton pada umur awal. Metode yang digunakan meliputi penggunaan semen Portland Composite Cement, agregat halus dan kasar lokal, serta superplasticizer Fosroc Auracast SP310 dengan variasi 1%, 1,6%, dan 2%. Empat desain campuran beton disiapkan, yaitu beton normal (BN) dan beton dengan penambahan superplasticizer (BN-1%, BN-1,6%, BN-2%). Uji slump dan kuat tekan dilakukan sesuai SNI untuk mengetahui workability dan kekuatan beton pada umur 7 dan 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan superplasticizer secara signifikan meningkatkan workability beton dengan nilai slump mencapai 560-630 mm dibandingkan beton kontrol 115 mm. Kuat tekan juga meningkat secara signifikan, dengan beton BN-2% memiliki kuat tekan tertinggi 38,56 MPa pada umur 7 hari dan 51,94 MPa pada umur 14 hari. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan superplasticizer efektif menaikkan workability dan kuat tekan beton tanpa meningkatkan kebutuhan air, memungkinkan struktur beton lebih padat dan kuat pada umur awal pengerasan.This study aims to characterize the effect of superplasticizer addition on local aggregate concrete workability and early-age compressive strength. The methodology involved the use of Portland Composite Cement, local fine and coarse aggregates, and Fosroc Auracast SP310 superplasticizer at dosages of 1%, 1.6%, and 2%. Four concrete mix designs were prepared: normal concrete (BN) and concrete with superplasticizer additions (BN-1%, BN-1.6%, BN-2%). Slump and compressive strength tests were conducted according to Indonesian standards to assess workability and strength at 7 and 14 days. Results indicate that superplasticizer addition significantly improves concrete workability with slump values ranging from 560 to 630 mm compared to 115 mm for the control. Compressive strength also increased markedly, with BN-2% showing the highest strength at 38.56 MPa at 7 days and 51.94 MPa at 14 days. The study concludes that superplasticizer effectively enhances both workability and compressive strength without increasing water demand, resulting in denser and stronger concrete at early curing ages

    MODIFIKASI STRUKTUR GEDUNG MONUMEN DAN MUSEUM REOG PONOROGO MENGGUNAKAN KOLOM BULAT

    Full text link
    Bangunan tinggi dengan patung Reog seberat 1800 ton di atas gedung sangat riskan terhadap gempa bumi yang mengancam jiwa pengguna gedung. Oleh karena itu, untuk merencanakan bangunan bertingkat tersebut, struktur harus didesain dengan baik dan benar agar tidak terjadi kegagalan saat terjadi gempa. Modifikasi ini meliputi balok, pelat, tangga, dan kolom. Dengan perubahan bentuk kolom persegi menjadi kolom lingkaran. Untuk memaksimalkan fungsi ruang serta kegunaan gedung dilakukan penambahan pelat lantai di lantai 4 dan 8 – 12. Perhitungan struktur beton bertulang menggunakan peraturan SNI 2847:2019 dan pembebanan menggunakan peraturan SNI 1727:2020. Metode yang digunakan dalam modifikasi ini adalah Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) untuk mendapatkan struktur bangunan bertingkat tinggi yang kuat dan aman. Analisis statika struktur menggunakan perangkat lunak Autodesk Robot Structural Analysis (RSAP) Student Version 2021. Diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut: Balok 350/700 dengan tulangan longitudinal tarik 8 D29, tulangan tekan 4 D29, tulangan transversal tumpuan D19-100, dan tulangan transversal lapangan D19-200. Balok anak 250/300 dengan tulangan longitudinal tarik 5 D22, tulangan tekan 3 D22, tulangan transversal tumpuan D13-50, dan tulangan transversal lapangan D13-100. Pelat lantai tebal 120 mm, tulangan arah X D13-150, arah Y sebesar D13-150 dan tulangan bagi D13-300. Pelat tangga tebal 130 mm dengan tulangan D16-100. Kolom diameter 1000 mm dengan tulangan utama 18D22, tulangan transversal tumpuan D16-100, dan tulangan transversal lapangan D16-100. Digunakan pondasi bored pile dengan diameter 1000 mm dengan daya dukung tiang tunggal dihasilkan 8.313kN. Tulangan pile cap dihasilkan sebesar D22 – 60.Bangunan tinggi dengan patung Reog seberat 1800 ton di atas gedung sangat riskan terhadap gempa bumi yang mengancam jiwa pengguna gedung. Oleh karena itu, untuk merencanakan bangunan bertingkat tersebut, struktur harus didesain dengan baik dan benar agar tidak terjadi kegagalan saat terjadi gempa. Modifikasi ini meliputi balok, pelat, tangga, dan kolom. Dengan perubahan bentuk kolom persegi menjadi kolom lingkaran. Untuk memaksimalkan fungsi ruang serta kegunaan gedung dilakukan penambahan pelat lantai di lantai 4 dan 8 – 12. Perhitungan struktur beton bertulang menggunakan peraturan SNI 2847:2019 dan pembebanan menggunakan peraturan SNI 1727:2020. Metode yang digunakan dalam modifikasi ini adalah Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) untuk mendapatkan struktur bangunan bertingkat tinggi yang kuat dan aman. Analisis statika struktur menggunakan perangkat lunak Autodesk Robot Structural Analysis (RSAP) Student Version 2021. Diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut: Balok 350/700 dengan tulangan longitudinal tarik 8 D29, tulangan tekan 4 D29, tulangan transversal tumpuan D19-100, dan tulangan transversal lapangan D19-200. Balok anak 250/300 dengan tulangan longitudinal tarik 5 D22, tulangan tekan 3 D22, tulangan transversal tumpuan D13-50, dan tulangan transversal lapangan D13-100. Pelat lantai tebal 120 mm, tulangan arah X D13-150, arah Y sebesar D13-150 dan tulangan bagi D13-300. Pelat tangga tebal 130 mm dengan tulangan D16-100. Kolom diameter 1000 mm dengan tulangan utama 18D22, tulangan transversal tumpuan D16-100, dan tulangan transversal lapangan D16-100. Digunakan pondasi bored pile dengan diameter 1000 mm dengan daya dukung tiang tunggal dihasilkan 8.313kN. Tulangan pile cap dihasilkan sebesar D22 – 60

    PAVING BLOK K-200 UNTUK AREA PARKIR MOBIL RECYCLE LIMBAH PAVING LAMA

    Full text link
    Students use private vehicles with the aim of making it easier to mobilize from their residence to the University Campus environment. This influences the intensity of motorists in the university area to be high, so quality road infrastructure is needed so that students can drive comfortably and safely. One way to develop quality road infrastructure is by installing paving blocks. Generally, apart from installation on university roads, paving blocks are installed on sidewalks, pedestrians, parking areas, even in hotel and factory areas. Apart from roads, parking areas also need to be planned using paving.  The ease of installation and costs required are considered cheaper and meet the aesthetic aspect because they have various shapes, making the use of paving blocks increasingly popular. The use of paving blocks as road pavement and parking areas is also needed in the Tunas Pembangunan Surakarata University environment. The conventional method of making paving blocks is done using a block tool with a compaction load that affects the energy of the person doing the work. The materials used in making paving blocks are Portland Cement, sand (old/paving waste), and water. In this research, 6 samples were made, with a ratio of 1:3. After 14 days, a press test of the paving was carried out and it was discovered that the new paving (recycled) had a strength of more than K-200 , so it could be used for roads and parking in the UTP Surakarta campus area.. Keyword: recycle paving, pressure test, old paving, K-200, parkingPara mahasiswa menggunakan kendaraan pribadi dengan tujuan untuk mempermudah mobilisasi dari tempat tinggal ke lingkungan Kampus Universitas untuk melakukan aktivitas. Hal ini mempengaruhi intensitas para pengendara di kawasan universitas menjadi tinggi, sehingga dibutuhkan prasarana jalan yang bermutu dan memadai agar mahasiswa bisa berkendara dengan nyaman dan aman. Mengembangkan prasarana jalan yang bermutu salah satunya yaitu dengan cara perkerasan jalan. Umumnya, selain pemasangan dilakukan di jalan kawasan universitas, paving blok di pasang pada trotoar di jalanan kota, pedestrian, area parkir, jalanan di perumahan, gang-gang kecil, halaman depan rumah, memeperindah taman, bahkan di area hotel, perusahaan, dan pabrik. Selain jalan, area parkir juga perlu direncanakan dengan menggunakan paving.  Kemudahan dalam pemasangan dan biaya yang dibutuhkan dinilai lebih murah serta memenuhi aspek keindahan karena memiliki bentuk yang beragam membuat penggunaan paving block makin digemari. Penggunaan paving block sebagai perkerasan jalan dan area parkir juga diperlukan di lingkungan Universitas Tunas Pembangunan Surakarata (UTP). Metode pembuatan paving block cara konvensional dilakukan dengan menggunakan alat gablokan dengan beban pemadatan yang berpengaruh terhadap tenaga orang yang mengerjakan. Material yang digunakan dalam pembuatan paving block adalah semen portland (PC), pasir (limbah paving/lama), dan air. Dalam penelitian ini membuat sampel berjumlah 6 buah, dengan perbandingan 1:3. Setelah 14 (empat belas) hari, kemudian dilakukan uji tekan paving diketahui paving baru (hasil recycle) kekuatannya lebih dari K-200, sehingga mampu digunakan untuk jalan dan parkir di area kampus UTP Surakarta. Kata kunci: paving daur ulang, uji tekanan, K-200, parki

    KAJIAN PENGARUH VARIASI KEMIRINGAN CHUTE TERHADAP KECEPATAN DAN JENIS ALIRAN DI SALURAN TERBUKA

    Full text link
    Studies related to flow in open channels are still very important to support understanding of flow behavior and also applications in civil engineering such as the construction of irrigation and drainage channels to increase efficiency and better design. Most of the designed flows in artificial open channels are non-uniform steady flows. The flow becomes non-uniform, one of which is because the flow passes through a channel whose geometry changes, including changes in width, height and slope angle of the channel. One of the structures in an artificial channel is a chute. Through this research, the effect of variations in chute slope on flow velocity and the type of flow that occurs downstream of the chute was studied. This research uses primary data with independent variables in the form of 4 variations in flow discharge or flow opening and 4 variations in slope. To analyze flow velocity, three measurement were used, using  a current meter and float. Based on the analysis results, the greater the slope, the greater the flow velocity at the end of the chute and decreases further downstream. Flow velocity using a float produces a greater velocity because the float was on the surface of the flow, so it requires a correction number to become the average flow velocity. Because the influence of slope also had on velocity, the greater the slope, the greater the velocity, the more supercritical flow forms. Keyword: Open Channel Flow, Chute, Velocity, Non-uniform Flow, Slope ChannelKajian terkait aliran pada saluran terbuka masih sangat penting untuk menunjang pemahaman perilaku aliran dan juga aplikasi dalam teknik sipil seperti konstruksi saluran irigasi dan drainase untuk meningkatkan efisiensi dan desain yang lebih baik. Sebagian besar aliran yang didesain pada saluran terbuka buatan merupakan aliran tetap tidak seragam. Aliran menjadi tidak seragam salah satunya karena aliran melewati saluran yang geometrinya berubah-ubah, meliputi perubahan lebar, tinggi, dan sudut kemiringan saluran. Salah satu struktur pada saluran buatan adalah chute atau dikenal dengan selokan miring. Melalui penelitian ini dipelajari pengaruh variasi kemiringan selokan (chute) terhadap kecepatan aliran dan jenis aliran yang terjadi di hilirnya. Penelitian ini menggunakan data primer dengan variabel bebas berupa 4 variasi debit aliran atau lebih tepatnya bukaan pintu dan 4 variasi kemiringan. Untuk menganalisis kecepatan aliran digunakan tiga alat ukur yaitu menggunakan current meter dan pelampung Berdasarkan hasil analisis, semakin besar kemiringan maka kecepatan aliran di ujung parasut akan semakin besar dan semakin menurun ke hilir. Kecepatan aliran dengan menggunakan pelampung menghasilkan kecepatan yang semakin besar karena pelampung berada di permukaan aliran, sehingga membutuhkan angka koreksi untuk menjadi kecepatan rerata aliran. Karena kemiringan juga berpengaruh pada kecepatan, maka semakin besar kemiringan, semakin besar kecepatan, semakin besar potensi aliran superkritis yang terbentuk. Kata kunci: Aliran Saluran Terbuka, Selokan Miring, Chute, Aliran Tidak Seragam, Kemiringan Salura

    PERAN RUANG PUBLIK PERKOTAAN DALAM MENDORONG BUDAYA POLITIK INKLUSIF DI KOTA MAKASSAR

    Full text link
    Urban public spaces serve as vital social platforms where interactions between diverse groups occur, potentially strengthening an inclusive political culture. This study seeks to find out how the design, management, and utilization of public spaces in Makassar City promotes civic political involvement. The methodology used is qualitative, using a case study approach that includes comprehensive interviews, participatory observations, and documentation analysis. The data was studied using NVivo software to uncover prominent themes arising from socio-political engagement in public locations such as Losari Beach, Karebosi, and Fort Rotterdam. The findings suggest that carefully designed public spaces can act as catalysts for fostering a participatory political culture, despite structural barriers such as inadequate supportive regulations and limited access. The results of this study provide a basis for formulating recommendations aimed at improving democratic and socially fair public space planning.   Keyword: Public Space, Urban, Political Culture, Makassar CityRuang publik perkotaan berfungsi sebagai platform sosial vital dimana interaksi antara beragam kelompok terjadi, berpotensi memperkuat budaya politik inklusif. Penelitian ini berusaha untuk mengetahui bagaimana desain, pengelolaan, dan pemanfaatan ruang publik di Kota Makassar mempromosikan keterlibatan politik sipil. Metodologi yang digunakan adalah kualitatif, menggunakan pendekatan studi kasus yang mencakup wawancara komprehensif, pengamatan partisipatif, dan analisis dokumentasi. Data diteliti menggunakan perangkat lunak NVivo untuk mengungkap tema-tema menonjol yang timbul dari keterlibatan sosial-politik di lokasi publik seperti Pantai Losari, Karebosi, dan Benteng Rotterdam. Temuan menunjukkan bahwa ruang publik yang dirancang dengan cermat dapat bertindak sebagai katalis untuk menumbuhkan budaya politik partisipatif, terlepas dari adanya hambatan struktural seperti peraturan pendukung yang tidak memadai dan akses yang terbatas. Hasil penelitian ini memberikan dasar untuk merumuskan rekomendasi yang bertujuan meningkatkan perencanaan ruang publik yang demokratis dan adil secara sosial.   Kata kunci: Ruang Publik, Perkotaan, Budaya Politik, Kota Makassar

    ADAPTASI SPASIAL RUMAH PASCA-BENCANA DENGAN STRUKTUR FLEKSIBEL DAN STRUKTUR PERMANEN

    Full text link
    The earthquake that struck Yogyakarta and its surrounding areas in 2006 caused significant physical damage across the region. Post-disaster reconstruction was carried out through various housing assistance programs. These programs produced diverse housing types that varied in architectural form, structural systems, and distribution mechanisms. Two notable examples of such housing are the dome houses in Ngelepen Village, Sleman, and the core houses in Tembi Village, Bantul. These two types of post-disaster dwellings reflect different structural approaches in terms of their capacity for spatial growth and transformation. Dome houses were designed with a fixed structural system, limiting future expansion, while core houses were built with a flexible structural concept, allowing for spatial modification and extension. Almost two decades after the earthquake, both housing types have undergone significant spatial adaptations in response to the evolving needs of their inhabitants. This study aims to evaluate how residents have spatially adapted to the design of these post-disaster homes and how such adaptations relate to their spatial cognition. The findings reveal both differences and similarities in the patterns of spatial adaptation between the two housing models, highlighting the influence of initial structural design on the subsequent spatial transformation. This research contributes to a deeper understanding of post-disaster housing resilience and resident-driven spatial evolution over time.Gempa bumi yang mengguncang wilayah Yogyakarta dan sekitarnya pada tahun 2006 menyebabkan kerusakan fisik yang cukup besar. Upaya rekonstruksi pasca-bencana dilakukan melalui berbagai program bantuan perumahan. Rumah-rumah bantuan ini dibangun dengan beragam variasi, mencakup perbedaan dalam desain, struktur bangunan, serta mekanisme distribusinya. Dua contoh yang menonjol dari tipe rumah bantuan tersebut adalah dome house yang berada di Desa Ngelepen, Sleman, dan core house yang dibangun di Desa Tembi, Bantul. Kedua tipe hunian ini memiliki pendekatan struktur yang berbeda dalam hal potensi pengembangan. Dome house menerapkan struktur yang bersifat tetap (fixed structure), sementara core house dirancang dengan konsep struktur yang fleksibel (flexible structure), memungkinkan adanya pertumbuhan atau penyesuaian ruang. Setelah hampir dua dekade sejak bencana, kedua jenis hunian tersebut telah mengalami berbagai bentuk adaptasi dan perubahan secara spasial sebagai respons terhadap kebutuhan penghuninya. Studi ini dilakukan untuk menilai bagaimana warga menyesuaikan diri secara spasial terhadap desain rumah pasca gempa serta keterkaitannya dengan kognisi spasial mereka. Hasil penelitian menunjukkan adanya pola perbedaan maupun kesamaan dalam proses adaptasi spasial antara kedua model rumah tersebut, mencerminkan pengaruh dari struktur awal terhadap dinamika perubahan ruang yang terjadi

    PENAMBAHAN LIMBAH SPONS SANDAL EVA TERHADAP KARAKTERISTIK ASPAL MODIFIKASI PG 70 PADA CAMPURAN ASPAL BETON

    Full text link
    In Indonesia, waste from home industries is still a major challenge in sustainable environmental management efforts. One type of waste that is often overlooked is Ethylene Vinyl Acetate (EVA)-based sandal sponge waste. This waste is generally disposed of without further utilization, thus potentially polluting the surrounding environment. This research aims to utilize EVA waste as an additive in PG 70 modified asphalt mixture in the asphalt concrete layer, which is a road pavement layer that directly bears the traffic load and must be able to withstand vertical pressure, shear force, deformation, and temperature fluctuations. EVA waste was processed through washing, shredding, and drying before being mixed into the asphalt using the wet mixing method. A series of laboratory tests were conducted to assess the effect of EVA addition on the physical characteristics of asphalt, including penetration, flash point, ductility, specific gravity, and softening point tests. The results showed that the addition of EVA waste tended to increase the flash point and softening point, but decreased the penetration, ductility, and specific gravity values. All test parameters are still within the limits required by the General Specifications of Bina Marga 2018 (Revision 2). These findings prove that EVA waste has potential as an additive that not only improves asphalt performance, but also supports more environmentally friendly and sustainable waste management solutions. Keyword : PG 70 asphalt, EVA waste, asphalt concrete, physical characteristics, asphalt modification.Di Indonesia, limbah dari industri rumahan masih menjadi tantangan besar dalam upaya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Salah satu jenis limbah yang sering diabaikan adalah limbah spons sandal berbahan dasar Ethylene Vinyl Acetate (EVA). Limbah ini umumnya dibuang tanpa pemanfaatan lebih lanjut, sehingga berpotensi mencemari lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah EVA sebagai bahan aditif dalam campuran aspal modifikasi PG 70 pada lapisan aspal beton (Laston), yaitu lapisan perkerasan jalan yang langsung menanggung beban lalu lintas dan harus mampu bertahan terhadap tekanan vertikal, gaya geser, deformasi, serta fluktuasi suhu. Limbah EVA diolah melalui proses pencucian, pencacahan, dan pengeringan sebelum dicampurkan ke dalam aspal menggunakan metode pencampuran basah. Serangkaian pengujian laboratorium dilakukan untuk menilai pengaruh penambahan EVA terhadap karakteristik fisik aspal, meliputi uji penetrasi, titik nyala, daktilitas, berat jenis, dan titik lembek. Hasil menunjukkan bahwa penambahan limbah EVA cenderung meningkatkan titik nyala dan titik lembek, namun menurunkan nilai penetrasi, daktilitas, dan berat jenis. Seluruh parameter hasil uji masih berada dalam batas yang dipersyaratkan oleh Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 (Revisi 2). Temuan ini membuktikan bahwa limbah EVA memiliki potensi sebagai bahan tambah yang tidak hanya meningkatkan performa aspal, tetapi juga mendukung solusi pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Kata kunci : Aspal PG 70, limbah EVA, aspal beton, karakteristik fisik, modifikasi aspal

    ANALISIS BIAYA SIKLUS HIDUP BANGUNAN: STUDI KASUS BIAYA AWAL, OPERASIONAL, DAN PEMELIHARAAN PADA KANTOR DESA NDORUREA 1

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan menganalisis total biaya siklus hidup (Life CyceI Cost/LCC) dari pembangunan Kantor Desa Ndorurea 1 di Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende. Pendekatan LCC digunakan untuk mengevaluasi seluruh biaya yang dikeluarkan selama umur layanan bangunan, meliputi biaya awal (initial cost), biaya operasional tahunan, dan biaya pemeliharaan berkala selama 30 tahun. Data diperoleh melalui dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB), observasi lapangan, dan wawancara, serta dianalisis menggunakan metode nilai kini (Present Worth). Tingkat inflasi sebesar 2,73% dan tingkat diskonto 5,5% digunakan untuk menghitung nilai masa depan (Future Value) dan konversi ke nilai sekarang. Hasil Analisis menunjukkan bahwa total LCC mencapai Rp 1.579.890.525,62, yang terdiri dari biaya awal sebesar Rp 784.461.207,31 (49,65)%, biaya operasional sebesar Rp 322.649.142,80 (20,42%), dan biaya pemeliharaan sebesar Rp 472.780.275,51 (28,92%). Hasil ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh biaya terjadi pasca-konstruksi. Oleh karena itu, penerapan pendekatan LCC sejak tahap perencanaan sangat penting untuk memastikan efisiensi biaya, keberlanjutan, dan akuntabilitas dalam pembangunan infrastruktur desa.  This study sets out to analyze the total Life Cycle Cost (LCC) involved in constructing the Ndorurea 1 Village Office located in Nangapanda District, Ende Regency. Using the LCC approach, the research evaluates all expenses incurred throughout the building’s service life, which includes the initial construction costs, recurring annual operational costs, and scheduled maintenance costs over a span of 30 years. Data for this analysis were collected from the official Budget Plan (RAB), on-site observations, and interviews, and were processed using the Present Worth method. An inflation rate of 2.73% and a discount rate of 5.5% were applied to calculate the Future Value and convert it into Present Value. The findings reveal that the total LCC amounts to Rp 1,579,890,525.62, comprising an initial cost of Rp 784,461,207.31 (49.65%), operational costs of Rp 322,649,142.80 (20.42%), and maintenance costs of Rp 472,780,275.51 (28.92%). These results clearly show that more than half of the overall expenses are incurred after construction is completed. Hence, integrating the LCC approach from the initial planning stage is essential for ensuring cost efficiency, sustainability, and financial accountability in the development of village infrastructure

    TIPOLOGI BENTUK DAN DENAH RUMAH JOGLO MILIK PETANI JAWA DI PEDESAAN

    Full text link
    Pondokrejo Joglo Village is a traditional Javanese settlement with many joglo houses that are preserved both in terms of physical and socio-cultural aspects. This research was conducted to find a typology of roof shapes and house plans in Pondokrejo Village, Rembang. This research uses a descriptive method, with qualitative-descriptive analysis, and a typological approach through data collection in the field. This typology categorizes types based on the similarity of roof shapes and floor plan configurations used in each house. The results show that there are several types of house forms, namely Joglo, Wedhok (Bekuk Lulang), Paris (Limasan), and Sinom. The Tajug form is only used for mosques, and the Panggang Pe form is only for warehouses, bathrooms, stalls, huts, and others. The plan configuration varies from one building to three buildings. There is one similarity between the buildings, which is that the Joglo house is always at the front, however, there is an exception for the Sinom house, which is an embodiment of the 'pacekan Joglo' that functions as a pendopo-like building in the Javanese house concept. The "sinom" and "wedhok" house forms are building forms that already have a "soko guru" that can later be upgraded or transformed into a joglo.Kampung Joglo Pondokrejo merupakan pemukiman tradisional Jawa dengan banyaknya rumah joglo yang lestari baik dari segi fisik maupun sosial budanyanya. Penelitian ini dilakukan untuk menemukan tipologi bentuk atap dan denah rumah-rumah di Desa Pondokrejo, Rembang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dengan analisis kualitatif-deskriptif, dan pendekatan tipologi melalui pengambilan data di lapangan. Tipologi ini mengelompokkan tipe-tipe berdasarkan kemiripan bentuk atap dan konfigurasi denah yang digunakan pada setiap rumah. Hasil penelitian menunjukkan terdapat beberapa tipe bentuk rumah yaitu Joglo, Wedhok (Bekuk Lulang), Paris (Limasan), dan Sinom. Bentuk Tajug hanya digunakan untuk masjid, dan bentuk Panggang Pe hanya untuk gudang, kamar mandi, warung, gubug, dan lain-lain. Bentuk konfigurasi denah bervariasi dari satu bangunan hingga tiga bangunan. Ada satu kesamaan di antara bangunan-bangunan tersebut, yaitu rumah Joglo selalu berada di bagian depan, meskipun demikian, ada pengecualian untuk rumah Sinom, yang merupakan perwujudan dari 'pacekan Joglo' yang berfungsi sebagai bangunan mirip pendopo dalam konsep rumah Jawa. Bentuk rumah “sinom†dan “wedhok†merupakan bentuk bangunan yang sudah memiliki “soko guru†yang kelak dapat ditingkatkan atau ditransformasikan menjadi joglo

    EKOWISATA MANGROVE CUKU NYI-NYI SESUAI INDEKS KESESUAIAN WISATA DAN DAYA DUKUNG KAWASAN

    Full text link
    Ekowisata mangrove Cuku Nyi-Nyi adalah ekowisata yang berkelanjutan, namun belum memiliki penilaian terkait kesesuaian wisata dan masterplan. Tujuan penelitian adalah menganalisis secara spasial, Indeks Kesesuaian Wisata (IKW), Daya Dukung Kawasan (DDK), dan masterplan infrastruktur pendukung di ekowisata mangrove Cuku-Nyi-Nyi. Metode yang digunakan meliputi analisis kesesuaian ekowisata mangrove menggunakan metode transek jalur, analisis spasial dengan perangkat lunak analisis spasial, serta analisis kesesuaian masterplan infrastruktur pendukung menggunakan metode supply and demand. Hasil penelitian menunjukkan data transek vegetasi rhizophora apiculata dengan Indeks Nilai Penting (INP) sebesar 249,744 dan rhizophora stylosa dengan Indeks Nilai Penting (INP) sebesar 50,255. Kawasan ini memiliki nilai Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) sebesar 2,1 dan nilai Daya Dukung Kawasan (DDK) sebesar 91 orang per hari. Selain itu, penelitian ini juga menghasilkan masterplan infrastruktur pendukung yang direkomendasikan, yaitu sumber daya listrik, selter edukasi, dermaga, jalan beton, musholla, dan kios makanan. Kesimpulannya adalah wilayah ekowisata Cuku Nyi-Nyi memiliki nilai IKW yang masuk dalam kategori sesuai (S2) dan DDK yang masuk dalam kategori aman per hari, serta menghasilkan masterplan dan DED Infrastruktur pendukung

    236

    full texts

    350

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Teknik Sipil dan Arsitektur
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇