Teknik Sipil dan Arsitektur
Not a member yet
350 research outputs found
Sort by
KETAHANAN ELEMEN STRUKTUR TERHADAP KEBAKARAN
Kebakaran merupakan bencana yang dapat terjadi setiap saat dan kapan saja. Banyak bangunan telah mengalami kebakaran karena berbagai sebab, antara lain akibat hubungan arus pendek, ledakan gas, sambaran petir dan sebagainya. Berbagai fenomena yang ada ketika kebakaran terjadi, diketahui adanya beberapa hal antara lain keganasan api, pemindahan panas, penjalaran api dan pengaruhnya terhadap suatu elemen struktur. Sehingga dengan diketahui fenomena tersebut dapat diupayakan agar elemen struktur tahan terhadap bahaya panas dan api. Upaya yang dilakukan dengan cara memberikan perlindungan terhadap elemen struktur, melakukan sistem perancangan struktur yang tepat, dan peningkatan kwalitas bahan struktur yang dipakai
KASUS PENYIMPANGAN KODE ETIK DALAM PROFESI ARSITEK
Kode Etik dan Kaidah Tata Laku Profesi Arsitek bagi anggota IAI disusun dengan tujuan untuk mengatur para arsitek anggota IAI dalam melaksanakan tugas profesionalnya sesuai dengan prilaku dan moral sebagai arsitek yang beretika. Artinya bahwa seorang arsitek profesional dalam menjalankan tugas profesionalnya dilandasi dengan panggilan hati nurani, didasarkan pada moral agama yang dianutnya untuk melaksanakan bidang ilmu yang dikuasainya dengan taat azas kepada para pengguna jasa dengan penuh tanggung jawab. Menyimpang dari aturan yang tercantum dalam Kode Etik dan Kaidah Tata Laku Profesi Arsitek para anggota IAI akan mendapatkan sangsi organisasi. Namun pelanggaran tersebut apabila masuk ke ranah hukum akan diselesaikan secara hukum pula di Pengadilan. Aturan yang ada di Kode Etik tersebut sudah jelas, namun dalam prakteknya banyak para arsitek yang melanggar etika ini. Secara moral para arsitek yang baik berkewajiban untuk mengingatkan dan memberi pengertian pada rekan sejawatnya yang mungkin kurang memahami tentang etika yang tercantum dalam Kode Etik dan Kaidah Tata laku Profesu Arsitek bagi anggota IAI. Pemberian pemahaman dan pengertian tentang arsitek yang beretika dapat melalui penataran kode etik dan kaidah tata laku profesi arsitek bagi para arsitek dan calon arsitek profesinal. Tujuan pelatihan atau penataran kode Etik dan Kaidan Tata Laku Profesi Arsitek bagi anggota IAI adalah untuk memberikan bekal bagi calon arsitek dan arsitek professional, agar dalam menjalankan praktek profesionalnya mempunyai sikap prilaku serta moral yang baik dan bertanggng jawab terhadap profesiny
STUDI PENENTUAN FUNGSI SABUK HIJAU KOTA DALAM MASALAH PEMBANGUNAN LINGKUNGAN PERKOTAAN DI SURAKARTA
Perubahan kondisi lingkungan dapat berpengaruh buruk terhadap manusia. Hal ini tentunya bisa berdampak global pada lingkungan, khususnya bagi kesehatan masyarakat sendiri. Berbagai bentuk perusakan lingkungan, seperti pencemaran udara, pencemaran air, dan menurunnya kualitas lingkungan akibat bencana alam, seperti bencana banjir, bencana kekeringan, tanah longsor, kebakaran hutan, masalah sampah, dan meningkatnya kadar polusi udara merupakan masalah lingkungan yang tergolong bukan sepele. Sebab, tidak terselesaikannya atau berlarut-larutnya masalah lingkungan akan menghancurkan potensi pemenuhan generasi mendatang. Termasuk adanya kemerosotan kualitas lingkungan bisa berdampak buruk bagi kenyamanan lingkungan, khususnya bagi kehidupan manusia. Sabuk hijau  kota merupakan pendekatan dan penerapan salah satu atau beberapa fungsi hutan dalam kelompok vegetasi di perkotaan untuk mencapai tujuan proteksi, rekreasi, estetika, dan kegunaan fungsi lainnya bagi kepentingan masyarakat perkotaan. Untuk itu, hutan kota tidak hanya berarti hutan yang berada di kota, tetapi dapat pula berarti bahwa hutan kota dapat tersusun dari komponen hutan, dan kelompok vegetasi lainnya yang berada di kota, seperti taman kota, jalur hijau, serta kebun dan pekarangan
PEMBOROSAN BIAYA PEMBANGUNAN AK1BAT PENULANGAN YANG TIDAK SESUAI ATURAN TEKNIK
Membangun berarti mengatur dan aturan tersebut dapat dicerminkan dalam setiap proses tahapan pembangunan. Aturan pokok ini merupakan dasar-dasar dari segala kegiatan membangun yang selalu dipikirkan oleh manusia.Beberapa pemikiran tentang aturan-aturan untuk membangun yang sudah banyak dilakukan, diantaranya .menentukan tiga pokok dasar, yaitu : firmitas ( kekukuhan,stabilitas), utilitas (kenyamanan), dan venustas (keindahan dalam arsitektur). Jikalau kita ingin menentukan pokok bentuk struktur bangunan man tidak mau kita harus menerapkan aturan teknis.Kita bisa mulai misalnya, dengan bahan bangunan (batu alam, batu buatan, kayu, baja, beton bertulang dan sebagainya), atau kita memperhatikan konstruksinya (pondasi, dinding, atap dan sebagainya). Pengaturan yang integral dalam bidang fungsi/tugas, bentuk, dan teknik membutuhkan aturan baru yang berkesinambungan dan yang mewujudkan ketergantungan antara konstruksi dengan bentuk danfungsi atau sebaliknya. Perkembangan tercapai oleh perubahan teknologi dalam pembangunan, oleh perubahan konstruksi bangunan, oleh bahan bangunan yang baru, oleh pengetahuan baru dalam fisika bangunan, perbaikan cara membangun, dan oleh penggunaan peralatan pembangunan yang baru. Dengan adanya perkembangan ini, perwujudan bentuk struktur bangunan akan berubah. Aspekyang bersifat indah dan bermutu tinggi dalam arsitektur tidak akan berubah, tetapi aspek yang bersifat teknologis akan berkembang terus
PERANAN KONSTRUKSI PELINDUNG TEBING DAN DASAR SUNGAI PADA PERBAIKAN ALUR SUNGAI
Defenisi dari siklus hidrolologi yaitu hujan yang turun ke permukaan tanah, sebagian ada yang meresap kedalam tanah (infiltrasi), sebagian lagi mengalir dipermukaan bumi (run off). Sebagian air hujan yang mengalir di atas permukaan bumi karena grafitasi akan mengalir ke tempat-tempat yang lebih rendah seperti sungai dan akhirnya bermuara ke laut, air yang ada diatas permukaan tanah, air sungai dan air laut sebagian menguap (evaporasi). Aliran sungai dalam perjalanannya ke hilir akan bertemu dengan banyak sungai yang mana di daerah dataran rendah secara berangsur-angsur tubuh sungai menjadi semakin lebar. Pada awalnya sungai merupakan saluran drainase alamiah, akan tetapi dengan adanya air yang mengalir di dalamnya. Untuk di daerah pegunungan alur sungainya terjal dan kemiringan tebingnya juga terjal sehingga aliran sungai ini menggerus tanah dasarnya secara terus menerus sepanjang masa existensinya dan terbentuklah lembah-lembah sungai. Peranan konstruksi pelindung tebing dan dasar sungai adalah pembangunan sistim pengamanan banjir dan memperlancar lalu lintas sungai. Konstruksi pelindung tebing dan dasar sungai yang dapat digunakan adalah : Tanggul, konstruksi krip dan ambang (ground sill)
PELESTARIAN RUANG PUBLIK LINGKUNGAN LAWEYAN SURAKARTA
Lingkungan Laweyan Surakarta dengan kehidupan masyarakatnya menjadi bagian yang melengkapi perkembangan kota, suatu lingkungan dengan pola kehidupan yang khas diharapkan mampu mempertahankan jati dirinya di tengah perkotaan yang selalu mengalami perubahan-perubahan karena tuntutan kebutuhan masyarakat. Perubahan Ruang Publik Lingkungan Laweyan Surakarta bertujuan untuk memperoleh gambaran dan makna yang signifikan tentang bentuk ruang publik, agar dalam kegiatan pelestariannya tidak menjadikan asing bagi penghuninya. Dari latar belakang permasalahan dan tujuan penelitian, yakni mengungkapkan tentang makna pengaruh-pengaruh sosial budaya masyarakat terhadap morfologi lingkungan untuk melestarikan suatau lingkungan dengan segala perubahan kehidupan masyarakatnya, maka digunakan metoda deskriptif kualitatip. Konservasi adalah salah satu bentuk pelestarian yang mempunyai pengertian melestarikan apa yang ada sekarang dan mengarahkan perkembangannya ke masa depan. Pelestarian tersebut digunakan untuk menjaga agar tempat-tempat yang menarik dan dapat dipakai tidak dihancurkan atau diubah dengan cara yang kurang sesuai. Dari pembahasan terungkap bahwa faktor-faktor sosial budaya di Laweyan Surakarta yaitu tingginya tingkat privacy yakni kehidupan individu yang tidak ingin diganggu oleh orang yang tidak dikenal menyebabkan morfologi lingkungan menjadi rutin, sehingga timbul konservasi/pelestarian dari masyarakatnya sendiri. Hasil dari interaksi faktor-faktor sosial masyarakat Laweyan tersebut menyebabkan dinding dipersepsikan sebagai pelindung privacy, dan sebagai ciri khas lingkungannya. Rutinnya fungsi ruang publik pada lingkungan permukiman yang ada di Laweyan karena interaksi sosial budaya masyarakat banyak dilakukan di dalam tembok bangunan, sehingga ruang publik menjadi tempat untuk penuntun manusia dari satu tempat ke tempat lain. Dalam mengantisipasi perkembangan kota maka penambahan bangunan pada kawasan guna mendukung kehidupan lingkungannya diharapkan tidak menggusur tempat tinggal dan ruang publik yang ada, dengan harapan dapat mempertahankan identitas Laweyan sebagai lingkungan yang dikonservasi
HUBUNGAN ANTARA PERUBAHAN FUNGSI DAN FISIK ARSITEKTURAL RUANG TERBUKA BERSEJARAII KOTA DENGAN KEBIJAKAN PENGUASA PADA ERA 1901-2004 Studi Kasus: Taman Sriwedari Surakarta
Penelitian ini berpendekatan naturalistik kualitatif, analisis isi dan Performance Management System. Tujuannya: interpretasi peneliti atas fenomena empirik hubungan antara perubahan fungsi dan fisik arsitektural ruang terbuka bersejarah kota Surakarta: Taman Sriwedari dengan pengaruh kebijakan penguasa pada era 1893-2004. Tiga era tema perubahannya: 1901-1979, 1979-1984 dan 1984-2004. Fungsi dan fisik awalnya didominasi budaya sakral (Malem Selikuran) serta profan (Maleman Sriwedari, wayang orang, ketoprak, rekreasi umum, olahraga dan pendidikan); berdomain publik. Penguasa tradisional pembangunnya (PB X, 1893-1939), berpemerintahan kuat, berpergaulan modern, memajukan budaya ke puncak. Perubahan terbesar pada era ketiga: Walikota Hartomo (1985-1994), merenovasi Sriwedari (1986), banyak mengalihkan fungsi dan fisik budaya bernuansa alami berdomain publik ke fungsi dan fisik komersial berdomain privat. Kesimpulan, pertama: desain awal Taman Sriwedari berkarakter organic, (diduga) dipengaruhi konsep Garden City. Kedua, pendekatan tata ruang fungsional dan ekologis pemerintah, seyogyanya pendekatan perilaku dan partisipasi masyaraka
PERAN CITY WALK SEBAGAI RUANG TERBUKA PUBLIK DALAM MENDUKUNG KEINDAHAN DAN KENYAMANAN KOTA Studi Kasus City Walk Koridor Jalan Slamet Ruyadi Surakarta
Perkembangan kota yang bergulir cepat terkadang mengabaikan kebutuhan ruang terbuka yang sangat didambakan bagi kehidupan perkotaan, dimana factor keamanan dan kenyamanan perlu diutaman untuk pemenuhan ruang terbuka tersebut, sebagai fasiltas interaksi social ruang public diharapkan dapat mempertautkan seluruh kepentingan pengguna tanpa membedakan latar belakang ekonomi, social, budaya dalam dinamika kehidupan kota. City Walk sebagai ruang terbuka menjadi tempat alternatif yang nyaman dalam memenuhi kebutuhan masyarakat untuk bersantai, melakukan pergerakan dengan berjalan kaki, berinteraksi dan sekedar duduk-duduk. Keberadaan city walk dapat mengubah kawasan /pedestrian yang kurang berfungsi optimal menjadi kawasan yang aktif dan menghadirkan ruang terbuka dengan fungsi baru. Koridor jalan Slamet Riyadi yang dipilih sebagai kawsan city walk mempunyai banyak titik-titik menarik yang sangat mendukung keberadaannya Jalur wisata mulai dari Stasiun Purwosari berujung di kawasan Gladag, dipenuhi bangunan-bangunan heritage yang beberapa masih berdiri. Dijalur ini dapat dijumpai pusat perbelanjaan modern, kawasan konservasi Sriwedari, Museum Radya Pustaka, Museum Batik Wuryaningratan, Kawasan Ngarsopuran Mangkunegaran, Kampung Kauman dan Gladag. Saat ini sisi selatan Jalan Slamet Riyadi telah mengalami perubahan berupa penataan kawasan pedestrian dengan jalur hijau dan jalur pejalan kaki. Lebarnya pedestrian, taman yang tertata rapi dan fasilitas penunjang lainnya yang memadai, membuat kawasan ini menjadi lokasi yang ideal untuk bisa menjadi kekhasan Kota Solo ke depan dan juga sebagai kota tujuan wisata. Pedagang kaki lima yang keberadaannya berusaha dihilangkan atau diposisikan sebagai pihak yang terpinggirkan di kebanyakan kota-kota besar di Indonesia, diberi tempat-tempat khusus dan diberikan sarana berjualan yang seragam dan rapi, street furniture ditata terencana sehingga kenyamanan dan keindahan tampak mendominasi kawasan ini
BALOK BETON BERTULANG KINERJA TINGGI TERBUAT DARI BATU PASIR AGREGAT REAKTIF
Penelitian ini mengenai perilaku lentur beton bertulang kinerja tinggi. Butiran batu pasir dikenal sebagai agregat reaktif digunakan untuk kedua jenis agregat yaitu agregat halus dan agregat kasar. Selain itu, pencampuran mineral seperti silica fume dan fly ash yang dikombinasikan dengan superplasticiser. Kedua balok dibuat dengan beton yang memiliki kekuatan tekan yang berada pada kisaran 74-88 N/mm2 dan penguatan tarik dalam kisaran 1,34%-3,14%. Saat akhir eksperimen ditemukan menjadi sekitar 14%-34% dan 3%-15% lebih tinggi dari prediksi saat akhir berdasarkan BS 8110 dan ACI 318 masing-masing. Karena kekakuan agregat lebih rendah dari batu pasir reaktif, aktual defleksi balok yang ditemukan menjadi sedikit di atas nilai-nilai yang diijinkan di bawah beban layanan. Lebar retak diamati di bawah beban pelayanan dalam batas yang dapat diterima. Ditemukan bahwa HPC dibuat dengan batu pasir hancur agregat kasar dan halus yang lebih baik dari integritas struktural. Oleh karena itu, ada potensi tinggi untuk menghasilkan HPC kekuatan tinggi menggunakan agregat batu pasir dengan silica fume dan fly ash
KARAKTERISTIK PERUMAHAN DI KAWASAN TEPI SUNGAI MAHAKAM KASUS KELURAHAN SELILI KECAMATAN SAMARINDA ILIR KOTA SAMARINDA
Kawasan tepi sungai  merupakan kawasan tempat bertemunya daratan dan air sungai.  Kawasan dimaksud merupakan kawasan dinamis dan unik dari suatu kota, selain itu juga sangat strategis karena mudah dicapai dari daratan maupun sungai. Kawasan ini difungsikan antara lain untuk perdagangan, rekreasi, perkantoran, pergudangan, pelabuhan, maupun perumahan. Khusus untuk kajian akan dibahas  perumahan. Sebagai studi kasus, dilakukan kajian pada kelurahan Selili kecamatan Samarinda Ilir kota Samarinda. Kota Samarinda merupakan kota yang unik, dengan bagian tengahnya mengalir Sungai Mahakam yang berfungsi untuk transportasi air berhubungan langsung dengan laut Selat Makasar. Di sepanjang tepi sungai  banyak ditempati masyarakat sebagai permukiman. Dari kajian yang dilakukan, disimpulkan tentang karakteristik perumahan di kawasan tepi sungai Mahakam kota Samarinda, yaitu :  lokasi perumahan menempati daerah tepi sungai, baik di darat maupun di atas permukaan air sungai. Masa bangunan yang berada di darat berbentuk teratur,dan  yang berada di atas permukaan air sungai juga berbentuk  teratur. Penampilan bangunan sederhana berbentuk panggung, struktur bangunan dibuat dari konstruksi rangka dari bahan kayu, untuk mencapai bangunan satu dengan lainnya dilengkapi dengan jembatan kayu