Teknik Sipil dan Arsitektur
Not a member yet
    350 research outputs found

    KAJIAN TEORI MEMBRAN PADA ANALISIS PLAT CANGKANG TIPIS PADA STRUKTUR TANGKI STORAGE SILINDRIS

    No full text
    Teori membran biasanya relatif lebih praktis dalam menetukan  respon struktur yang terjadi dari pada teori tegangan lentur. Bentuknya juga jauh lebih sederhana dalam perhitungannya. Untuk struktur plat cangkang tipis dengan tidak adanya perubahan pada ketebalan secara mendadak, kemiringan lereng, atau lengkungan, tegangan meridional seragam di seluruh tebal dinding. Teori lentur umumnya terdiri dari solusi membran, yang harus dilakukan koreksi pada daerah-daerah di mana efek diskontinuitas terjadi. Tujuannya adalah tidak untuk perbaikan dari solusi struktur membran, melainkan analisis tegangan dan regangan yang disebabkan karena gaya pada tepi plat atau beban trpusai, tidak dapat dicapai dengan teori membran saja. Penting untuk dicatat bahwa gaya pada struktur membran tidak bergantung pada momen lentur dan sepenuhnya ditentukan oleh kondisi kesetimbangan statis. Karena tidak ada sifat material yang digunakan dalam menurunkan persamaan gaya ini ,maka teori membran berlaku untuk semua cangkang yang terbuat dari berbagai bahan (logam, beton bertulang, plywood dan sebagainya). Berbagai hubungan yang dikembangkan untuk  teori lentur, bagaimanapun, terbatas pada plat cangkang yang homogen, elastis dan isotropik

    HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTARA PENGHUNI DENGAN LINGKUNGANNYA KASUS : PERUMAHAN FAJAR INDAH SURAKARTA

    No full text
    Berdasarkan pada suatu teori  yang menganggab bahwa lingkungan merupakan stimulus atau rangsangan terhadap proses kejiwaan manusia/ masyarakat, yang kemudian dapat menghasilkan  tingkah laku tertentu. Dalam  hubungannya dengan arsitektur, maka lingkungan dalam hal ini merupakan lingkungan buatan, yang termasuk di dalamya adalah lingkungan pemukiman. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pengaruh hubungan timbal †“ balik  antara lingkungan dengan manusianya/ masyarakat, maka diambil kasus Perumahan Fajar Indah di kota Surakarta, untuk diketahui hubungan timbal-balik lingkugan buatan  yang berupa lingkungan pemukiman dengan penghuninya, dilihat tingkah lakunya terhadap pola bentuk lingkungan, ruang terbuka, serta interaksi sosial yang terjadi. Dengan metoda survey dan observasi lapangan, serta studi literature, dihasilkan bahwa  penghuni berperilaku: a) Pola jalan lingkungan menjadi pola sirkulasi penghuni dalam aktivitasnya setiap harinya. b) Ruang terbuka merupakan tempat yang paling sering  digunakan penghuni untuk kontak sosial. c) Hubungan antar keluarga  tipe rumah  kecil lebih  akrab dibandingkan dengan rumah tipe besar. d) Interaksi dengan lingkungan sekitar di luar perumahan, tipe rumah kecil lebih akrab dibandingkan dengan rumah tipe besar

    PERGESERAN NILAI BUDAYA PADA BANGUNA RUMAH TRADISIONAL JAWA

    No full text
    Rumah tradisional sebagai salah satu peninggalan Arsitektur Tradisional mempunyai arti sebagai arsitektur yang mencerminkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukungnya berkenaan dengan pemafaatan bentuk dan ruang untuk memenuhi hajad hidup masyarakat pada masanya baik yang bersifat fisik maupun non fisik. Masyarakat  jawa dalam membangun rumah selalu berpedoman pada kaidah-kaidah yang telah dianut secara turun temurun berdasarkan kebudayaan jawa. Kaidah-kaidah membangun dalam arsitektur jawa sebagai suatu unsure kebudayaan sangat ditentukan oleh manusia, tradisi dan filosofi dan unsur-unsur itu sangat menentukan fungsi dsari arsitektur, bangunan dan ruang. Pada penelitian ini dikaji fenomena karateristik pergeseran nilai budaya dengan mengkaitan perubahan aspek fisik dan non fisik. Untuk memperoleh faktor pengaruh yang bersifat deskriptif dari perubahan bentuk bangunan maka metoda pendekatan yang digunakan adalah metoda observasi jejak fisik. Diharapkan dengan metoda ini nantinya akan dapat dijelaskan adanya pengaruh yang melatar belakangi terjadinya perubahan tersebut. Dalam pembahasan penelitian ini diambil kriteria pergeseran nila-nilai budaya  yang berkaitan dengan bangunan rumah tradisional jawa, bangunan-bangunan yang digunakan perbandingan adalah bangunan rumah tradisional yang terletak diwilayah inti (kutanegara) dan nagaragung. Pengambilan smpel ini dengan pertimbangan bahwa bangunan-bangunan yang terdapat pada wilayah tersebut dalam pembangunannya menggunakan kaidah dan norma yang baku. Hasil pembahasan menghasilkan kesimpulan yang antara lain menggugah kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai luhur budaya jawa yang dicerminkan pada bagnuna rumah tradisional, hendaknya selalu dijaga kelestariaannya dan dipelihara selaras dengan perkembanhan jaman

    PERENCANAAN DAN ESTIMASI BIAYA PADA PROYEK PEMBANGUNAN JEMBATAN PATIHAN KABUPATEN SRAGEN

    Get PDF
    Indonesia merupakan negara kepulauan yang berjajar-jajar dari kepaulauan Sabang  sampai kepulauan Mauroke, tentunya dibatasi oleh sungai-sungai yang memisahkan antar kepulauan tersebut. Pemerintah bertekad membangun sarana dan prasarana transportasi guna menembus isolasi dan keterbelakangan daerah terpencil serta memantapkan perwujudan wawasan Nusantara. Dengan semangat bersatu berencana membangun jembatan-jembatan di semua wilayah tanah air Indonesia, bentang panjang maupun bentang pendek. Perencanaan merupakan fungsi penting dan fital dalam kegiatan pembangunan konstruksi.Dalam suatu proyek konstruksi selalu memerlukan sumber daya yang berupa tenaga kerja biaya bahan material dan peralatan. Biaya merupakan salah satu sumber daya yang sangat berperan besar untuk menunjang pembangunan proyek.Maka diperlukan perencanaan terhadap kebutuhan biaya melalui suatu penjadwalan biaya untuk mendapatkan jumlah biaya yang diperlukan berdasarkan waktu pelaksanaan proyek. Di Kabupaten Sragen, salah satunya berencana membangun Jembatan Patihan. Dari hasil perhitungan Rencana Anggaran Biaya untuk menyelesaikan, proyek pembangunan jembatan Patihan di Kecamatan Masaran Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, dibutuhkan ± Rp.1.225.144.000,00 dalam waktu ±179 hari

    PENGARUH PENGELOLAAN PERSAMPAHAN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN CITRA KAWASAN WISATA PULAU DERAWAN

    Get PDF
    Pengelolaan persampahan menjadi permasalahan yang diamati sebagai upaya strategis peningkatan citra Kawasan Wisata Pulau Derawan, sejalan dengan meningkatnya jumlah wisataan yang berkunjung, yang berakibat pada peningkatan kuantitas dan kualitas sampah yang dihasilkan, dibandingkan dengan pulaunya yang relatif kecil seluas 3,858.96 Km2. Penelitian ini bertujuan untuk menemu-tunjukkan acuan pengembangan sistem pengelolaan persampahan domestik Kawasan Pulau Derawan yang komprehensif, efektif, efisien dan sesuai dengan rencana pengembangan Kawasan Pulau Derawan sebagai kawasan wisata yang lebih menarik. Metoda yang digunakan adalah analisis komparatif terhadap kondisi eksisting menuju pada kondisi oengolahan sampah yang diinginkan, mengacu pada peraturan perundangan dan kebijakan dalam bidang persampahan, sehingga diperoleh sintesis berupa arahan bentuk pengembangan sistem pengelolan persampahan yang mampu mendukung citra Pulau Derawan sebagai kawasan wisata laut yang terjaga lingkungan hidup dan binaannya Hasil yang diperoleh adalah alternatif pengelolaan sampah yang tepat dalam mendukung eksistensi Pulau Derawan, sebagai tujuan wisata, dengan segala keterbatasan yang ada. Sebagai kesimpulan dari penelitian ini adalah pengelolaan persampahan akan sangat menentukan dalam meningkatkan citra Kawasan Wisata Pulau Derawan, dengan mempertimbangkan teknologi pengelolaan yang sesuai dengan kondisi kawasan, dalam konstelasi pengelolaan akhir persampahan di luar Pulau Derawan. ÂÂÂ

    EVALUASI KINERJA SISTEM IRIGASI WADUK CENGKLIK

    Get PDF
    Air merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi semua makhluk hidup. Ketersediaan air dalam kualitas yang baik dan kuantitas yang memadai merupakan hal yang mutlak diperlukan. . Pada musim penghujan, debit air yang sangat besar menjadi penyebab bencana banjir; sedangkan pada musim kemarau, debit air yang kecil menjadi penyebab kekeringan. Belajar dari kondisi alam seperti ini, manusia berusaha mencari cara untuk mengatur ketersediaan air, salah satunya adalah dengan membangun waduk. Agar waduk dapat selalu memberikan layanan yang  sesuai dengan yang direncanakan maka dibutuhkan pemeliharaan yang baik pada setiap aspek. Salah satu waduk yang berfungsi sebagai penampung air untuk keperluan  irigasi adalah waduk Cengklik yang berada di Kabupaten Boyolali Propinsi  Jawa Tengah. Umur waduk sekarang ini telah mencapai 89 tahun. Walaupun volume tampungannyu berkurang karena adanya sedimentasi tapi menurut pemeriksaan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa laju sedimen waduk relatif kecil. Pengelolaan lahan  di kawasan DAS Waduk Cengklik yang baik, membantu mengurangi masuknya sedimen ke waduk sehingga tidak menjadi kendala operasional waduk

    KOORDINASI PENGATURAN LAMPU LALU LINTAS (Studi kasus : Ruas Jalan Prof.Dr.Sorharso-Adi Sucipto-A.Yani-Adi Soemarmo)

    No full text
    Di daerah perkotaan permasalahan transportasi semakin meningkat dan salah satu cara untuk mengurangi permasalahan tersebut adalah dengan mengkordinasikan lampu lalu lintas antar persimpangan. Tujuan penelitian ini untuk mengkordinasikan lampu lalu lintas yaitu pada ruas jalan, dan ruas jalan Prof.Dr.Sorharso-Adi Sucipto-A.Yani-Adi soemarmo tersebut terdiri dari 5 simpang yang membentuk ruas arterial, dimana dari simpang 1 sampai simpang 2 arusnnya searah sedangkan simpang 3 arusnya dua  arah .Koordinasi lampu lalu lintas antar simpang, analisisnya digunakan program transit dan program optimasi offset. Kedua program tersebut memerlukan data input yang diperoleh dari survey di lapangan dan sebagian lagi data sekunder. Output dari kedua program tersebut tidak dapat dibandingkan satu sama lainnya, karena penggunaan arus pada input data berbeda. Program TRANSYT memberikan output sebelum dan sesudah dikoordinasikan performance index (PI) mengalami perubahan pagi, siang, dan sore hari :-16,45%,-6496% dan -86,05%, tundaan : -16,73%,-65,53% dan -86,56%, number of stops : -13,70%,-14,49% dan -39,26% dan kecepatan rata-rata : 9,4%, 123,07%,dan 233,33%. Output program Transyt dan program optimasi offset memberikan nilai offset sehingga simpang satu dengn yang lainnya bias dikoordinasikan. Selain itu kedua program tersebut memberikan perubahan waktu perjalanan sebelum dan setelah koordinasi masing-masing program TRANSYT perubahan yang terjadi pada pagi,siang dan sore hari sebesar -37,6%, -42,5%, dan -27,1% sedangkan pada program optimaso offset perubahan sebesar -29%, -27,1%, -27,1%. Program TRANSYT apat dilakukan beberapa optimasi, diantarannya pengaturan kembaliwaktu siklus yang memberikan performance index minimum. Optimasi yang lain yaitu mencari panjang siklus optimum, pada studi ini panjang siklus yang optimum pada pagi, siang dan sore hari masing-masing 100, 120,dan  90 detik

    PENGEMBANGAN ARSITEKTUR SURYA DI INDONESIA UNTUK PENGKONDISIAN UDARA SEBAGAI ARSITEKTUR HEMAT ENERGI

    No full text
    Dalam upaya mewujudkan arsitektur surya di Indonesia yang bertujuan untuk memanfaatkan potensi alam, khususnya radiasi surya ke dalam bangunan, perlu dilakukan pengkajian, khususnya penggunaan energi surya untuk pengkondisian udara. Hal ini dimaksudkan, selain tercipta arsitektur yang dapat menyediakan energi sendiri, sekaligus mengurangi ketergantungan pemakaian energi fosil bumi, serta mengurangi biaya pada masa operasional bangunan tersebut. Bangunan yang menggunakan energi surya, diperlukan komponen-komponen  seperti : kolektor, penyimpanan, distribusi, transport, energi bantuan, kontrol, mesin AC, dan sistem distribusi udara dingin. Seluruh komponen di atas agar dapat berfungsi dengan baik, maka perlu dilakukan langkah-langkah untuk mengintegrasikan kedalam bangunan, sehingga seluruh komponen penggunaan energi surya dan komponen teknologi bangunan menjadi satu kesatuan dalam bangunan. Untuk mengintegrasikan komponen energi surya kedalam bangunan, perlu mempertimbangkan kriteria perancangan meliputi : orientasi kolektor, orientasi bangunan, elemen bangunan penangkap energi surya, pengetrapan komponen energi surya ke dalam bangunan, distribusi udara dingin, jarak antar bangunan, penghalang sinar surya, dan gubahan masa bangunan. Untuk mengetahui manfaat arsitektur surya untuk pengkondisian udara dibuat model, dari hasil pengkajian disimpulakn : Jika seluruh atap dipasang kolektor, maka dapat menghasilkan 8 lantai yang dapat didinginkan.Dinding barat yang dipasang kolektor, akan menghasilkan 2 lantai yang dapat didinginkan.Perbandingan biaya operasional antara pengkondisian udara energi surya dengan energi listrik, biaya operasional energi surya = 20 % dari biaya energi listrik untuk operasional siang hari.  Bilamana operasional selama 24 jam, biaya operasional energi surya= 52,5 % dari biaya energi listrik.Penggunaan pengkondisian udara energi surya ekonomis, jika harga maksimum investasi awal mesin energi surya 4 x mesin energi listrik, dan masa operasionalnya lebih dari 10 tahun. Ternyata hasilnya sangat dimungkinkan dan feasible untuk dipertimbangkan

    KARAKTER ARSITEKTUR TRADISIONAL SUKU BADUY LUAR DI GAJEBOH BANTEN

    No full text
    Suku Baduy merupakan masyarakat yang hidup di daerah Lebak, Banten dan merupakan masyarakat yang hidup dengan tetap memelihara tradisi nenek moyang. Masyarakat Baduy membagi diri dalam dua kelompokyang disebut Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy Dalam bersikap menutup diri terhadap pengaruh kebudayaan dari luar wilayah, sedang Baduy Luar bersikap lebih terbuka terhadap pengaruh-pengaruh dari luar wilayahnya. Aspek arsitektur yang berkembang di Baduy Luar tidak berbeda dari yang berkembang di Baduy Dalam, Bangunan yang ada pada setiap kelompok sama yaitu : kelompok rumah tinggal, kelompok lumbung, fasilitas bersama seperti tempat menumbuk padi / lesung, tempat mandi dan cud. Perbedaan yang ada adalah pada detail-detail bangunan

    KARAKTER LINGKUNGAN PADA DAERAH PINGGIRAN KOTA SURAKARTA Kasus : Lingkungan Batas Kota Gerbang Makhuto

    No full text
    Daerah pinggiran kota atau periphery adalah daerah yang terletak antara kota dan desa yang ditandai dengan penggunaan tanah campuran. Hal ini dapat terjadi karena adanya interaksi antara kota dan desa dengan berbagai faktor  atau unsur   yang ada dalam desa, dalam kota dan di antara desa dan kota. Interaksi ini dapat dilihat sebagai suatu proses sosial, ekonomi, budaya ataupun politik, yang lambat ataupun cepat dapat menimbulkan suatu realita atau kenyataan. Lingkungan  sekitar  gerbang Makhuto di  Jalan Adi Sucipto yang terletak di bagian barat kota Surakarta, adalah merupakan daerah pinggiran kota yang mengalami interaksi antara kota Surakarta dan desa di sekitarnya yang masuk daerah Kabupaten Karanganyar. Dengan adanya  interaksi tersebut,  menarik untuk dilakukan penelitian yang lebih mendalam, khususnya dilihat dari aspek perkembangan fisik lingkungan. Dengan melakukan pengumpulan data, observasi lapangan,dan  analisis, dihasilkan perkembangan lingkungan di batas kota Gerbang Makhuto  membentuk lingkungan baru dengan karakter desa-kota, hal ini dapat dilihat dari: faktor-faktor yang mendorong pertumbuhan dan perkembangan, pioneer pertumbuhan dan perkembangan, tata guna lahan, pola jalan, ruang terbuka, dan  sirkulasi dan parkir

    236

    full texts

    350

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Teknik Sipil dan Arsitektur
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇