Teknik Sipil dan Arsitektur
Not a member yet
350 research outputs found
Sort by
PERAN PENDAMPINGAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PADA KAWASAN KRATON YOGYAKARTA SEBAGAI BAGIAN DARI UPAYA MEMINIMALISIR DEGRADASI KUALITAS KAWASAN CAGAR BUDAYA
Penyusunan peraturan bangunan khusus merupakan rancangan pengendalian bangunan kawasan yang diperlukan setelah adanya rencana tata ruang pada kota dimaksud. Kegiatan penyusunan peraturan bangunan khusus dimaksudkan untuk mewujudkan tertib bangunan, sehingga dapat berjalan tertib dan lancar sesuai dengan karakteristik bangunan setempat, pengaturan keselamatan bangunan yang bertujuan agar setiap bangunan dapat memberikan keselamatan, keamanan dan kenyamanan bagi penghuninya, mendukung keselarasan dan keseimbangan lingkungannya. Kedudukan masyarakat yang bergiat pada lingkungan permukiman pada kawasan Cagar Budaya Kraton Yogyakarta perlu diarahkan agar mampu memberi nilai positif sebagai bagian yang menentukan dalam upaya yang meminimalisir degradasi kualitas kawasan cagar budaya, melalui pendampingan dalam penataan bangunan dan lingkungan permukiman
IDENTIFIKASI ARSITEKTUR PUSAT KOTA LAMA SURAKARTA
Kota Surakarta berdasarkan sejarahnya, merupakan salah satu di antara kota-kota pusat pemerintahan tradisional di Pulau Jawa pada masa Mataram-Islam, disebut Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (KKSH). Tata ruang kotanya disusun dari empat komponen: keraton, Alun-alun, masjid, dan pasar yang disebut Catur Tunggal, berdasarkan konsep kosmogoni berorientasi pada sumbu utara-selatan dan timur-barat. KKSH yang didirikan pada tahun 1746 oleh Sunan Paku Buwono II pada tahun 1755 (dipecah menjadi dua: KKSH sendiri dan Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang di kemudian hari menjadi kota Yogyakarta. Untuk Surakarta, dalam perkembangannya pusat kota lamanya selain pusat kota tradisional, juga pusat kota lama yang terbangun dari sebuah permukiman Eropa (Belanda): Europeschewijk, yang hingga kini masih banyak menyisakan bangunan-bangunan kolonial bersama sebuah permukiman Cina, yang keduanya berada di sekitar Pasar Gede. Metode untuk identifikasi arsitektur ini adalah survei lapangan dan eksplorasi pustaka. Hasilnya, dalam komponen pokok Catur Tunggal: Keraton, Alun-alun dan Masjid Agung berciri Arsitektur Tradisional Jawa sangat kuat; sedangkan pasar dalam hal ini Pasar Gede, berciri arsitektur perpaduan antara Jawa dan Eropa (Belanda). Selain itu terdapat beberapa bangunan lain (tempat ibadah, sekolah dan lainnya) berciri arsitektur Eropa (Belanda) di bekas kawasan Europeschewijk), juga bangunan rumah toko dan tempat ibadah di bekas permukiman Cina yang berciri Arsitektur Cina kuat. Dalam perkembangan setelah kemerdekaan hingga kini, muncul karakter-karakter arsitektur lain, antara lain Arsitektur Vernakular Jawa, sinkretisme Arsitektur Jawa dan Eropa serta Arsitektur Modern dalam berbagai ragamnya
KAJIAN PENERAPAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA ( K-3 ) BIDANG KONSTRUKSI
Proyek bidang konstruksi adalah merupakan kegiatan yang kompleks dan begitu banyak melibatkan unsur ataupun pihak lain, terutama tenaga kerja, alat dan bahan material berkapasitas besar atau dalam jumlah yang besar baik secara pribadi maupun secara kolektif bersama-sama dapat menjadi sumber potensial terjadinya kecelakaan. Tenaga kerja yang kurang akan mempengaruhi kelancaran pekerjaan dan sangat merugikan semua pihak, dalam hal ini owner, konsultan, kontraktor maupun tenaga kerja beserta keluarganya. Usaha-usaha kontraktor dalam menerapkan progam Keselamatan  dan Kesehatan  Kerja ( K-3 ) pada pelaksanaan proyek konstruksi perlu dianalisis dan dikaji. Latihan praktek tenaga kerja baru menjadi faktor penting dalam menunjang pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja. Sedangkan memiliki tenaga ahli  K-3 benar-benar mempengaruhi pelaksanaan progam keselamatan dan kesehatan kerja. Pelatihan K-3 untuk pekerja/staff dan kegiatan cheking secara rutin merupakan faktor penting dalam pelaksanaan progam keselamatan dan kesehatan kerja
KUALITAS PENERANGAN ALAMI BANGUNAN GEREJA BLENDUK SEMARANG
Beberapa bangunan kuno peninggalan Kolonial Belanda, seringkali menunjukkan upaya pemanfaatan faktor†“faktor iklim seperti matahari dan angin dalam konteks iklim tropis lembab di Indonesia dengan baik, meskipun arsiteknya berasal dari negara beriklim empat musim. Seperti dalam tata letak membujur utara-selatan beserta selasar depannya untuk mengurangi panas matahari. Namun, tak jarang, membawa kebiasaan mereka, membuat bukaan dinding (pintu dan jendela) yang berukuran lubang tinggi vertikal hampir ke plafondnya yang tinggi pula dalam rangka mendapatkan penerangan alami cukup. Mengingat seumumnya kavling di negaranya berlebar sempit, sangat panjang ke dalam, dan berpenataan close-plan. Melalui kasus bangunan kuno peribadahan umat Katolik berlantai dua Gereja Blendhuk di Semarang penelitian ini dilakukan; bertujuan untuk mengungkapkan kualitas penerangan alaminya. Metode penelitian berpendekatan kombinasi antara kualitatif (menggunakan teori) dan kuantitatif (menggunakan alat pengukur penerangan lux meter). Jendela lantai bawahnya berkaca timah, dan pada lantai atas: jendela jungkit. Hasil penelitian, luas bukaan untuk penerangan sudah memenuhi persyaratan, kekuatan penerangan alami pada ruang dalampun memenuhi, serta kedalaman ruang yang dapat dijangkau penerangan alami juga terpenuhi. Dengan demikian desain penerangan alami pada bangunan Gereja Blenduk, sesuai dengan kriteria penerangan alami
PENGARUH PERKEMBANGAN TEMPAT USAHA PEDAGANG KAKI LIMA TERHADAP CITRA WAJAH ARSITEKTUR KOTA SURAKARTA
Suasana kota Surakarta yang semakin semrawut dan kotor yang kita lihat pada saat ini, akibat perkembangan yang tidak terkendali dari para pedagang kaki lima didalam mencari tempat usahanya dibeberapa sudut kota tanpa memperhatikan tata tertib maupun peraturan tentang keindahan kota Surakarta. Gejala perkembangan tempat usaha pedagang kaki lima yang bentuk fisiknya merupakan bangunan sederhana yang sifatnya bangunan temporer terkesan kumuh dan kotor serta sangat mengganggu pemandangan kota. Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap wajah kota Surakarta yang selama ini terkenal dengan slogannya, bersih, sehat, rapi dan indah (berseri) .citra ini nampaknya akan hilang apabila perkembangan pedagang kaki lima ini akan dibiarkan terus tumbuh dan berkembang sendiri tanpa dikendalikan ( diatur). Melalui studi penelitian yang dilakukan akan dapat menjawab pertanyaan : adakah pengaruh perkembangan pedagang kaki lima ini dengan Citra wajah Arsitektur Kota Surakarta yang akan diuraikan dalam tulisan ini
ANALISA BIAYA PROYEK KONSTRUKSI DITINJAU DARI UPAH DAN HARGA BAHAN
Estimasi biaya merupakan unsur penting dalam pengehlaan biaya proyek secara keseluruhan, Estimasi biaya adalah proses perhitungan volume pekerjaan dan harga satuan dari beberapa jenis pekerjaan, Harga satuan pekerjaan terdiri dari analisa tenaga kerja dan analisa bahan yang akan terjadi pada suatu kontruksi. Sesuai tidaknya suatu estimasi biaya dengan biaya sebenarnya, sangat tergantung dari kepandaian dan keputusan yang diambil oleh si penaksir atau si estimator berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya. Kajian ini bertujuan menganalisa harga satuan pekerjaan, sehingga diperoleh ketepatan pada saat menghitung biaya Untuk memperoleh ketepatan pada saat menghitung biaya proyek diperlukan beberapa ketentuan: estimator Hants mempunyai kualifikasi yang baik; dalam menentukan upah tenaga berdasarkan pada indek biaya hidup dan tingkat kehidupan; serta memperhitungkan hal-halyang mempengaruhi harga satuan upah; koejisien tenaga kerja dan koefisien bahan pada suatu jenis pekerjaan dihitung sesuai dengan spesifikasi pekerjaan
PERWUJUDAN SIMBOLISME LANSEKAP SITIHINGGIL UTARA KRATON KASUNANAN SURAKARTA HADININGRAT
PERWUJUDAN SIMBOLISME LANSEKAP SITIHINGGIL UTARA KERATON SURAKARTA HADININGRAT Rully Abstrak Lansekap pada Sitihinggil Utara memiliki penataan yang terencana (planting design) sehingga tujuan perencanaan kawasan tersebut dapat tercapai, yaitu melalui aura yang diwujudkannya. Menurut GPH Poeger, tanaman di Sitihinggil Utara memiliki makna simbolis dan kekuatan gaib yang dipancarkannya, semua penanaman pohon di Keraton Surakarta adalah atas perintah raja,setelah mendapat petunjuk dari Tuhan, tujuan penanamannya untuk mendapatkan kekuatan gaib, yang dipancarkan oleh tanaman tersebut, yang berguna untuk menyelaraskan, menyeimbangkan, dan melindungi dari pengaruh buruk agar tidak masuk ke dalam Keraton. Pembahasan mengenai lansekap pada Sitihinggil Utara pada penelitian ini dibatasi pada hard material dan soft material atau tanaman yang mempunyai makna simbolis dan peran, serta waktu penanaman yang relatif lama. Komponen ruang luar pada Sitihinggil Utara Keraton Kasunanan Surakarta Hadingrat berupa soft material atau tanaman dan hard material berupa penempatan beberapa meriam secara hirarki memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan bangunan-bangunannya , komponen-komponen tersebut merupakan perwujudan pendukung makna simbolis utama Sitihinggil Utara serta aura magis yang ditimbulkan oleh bangunan inti dan bangunan penunjangnya. Kata Kunci : lansekap, makna, simbolis, ruang luar
STUDI TIPOMORFOLOGIS BANGUNAN KANTOR PENINGGALAN ARSITEKTUR KOLONIAL DI SURAKARTA PERIODE 1900-1940
Bangunan kolonial, dalam hal ini kolonial Belanda, adalah arsitektur cangkokan dari negeri induknya (Eropa) ke daerah koloni di seberang laut tersebar di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia (dulu: Hindia Belanda), dalam hal ini kota Surakarta. Suka atau tidak, bangunan dimaksud telah menjadi bagian dari khasanah arsitektur di Indonesia. Dalam menjalankan aktivitas mereka, kolonial Belanda antara lain memerlukan bangunan kantor. Dalam perkembangan jaman, sejak adanya politik etis dalam pemerintahan tradisional Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningratpun, muncul tipe bangunan kantor, yang belum dikenal dalam jaman-jaman sebelumnya. Tujuan penelitian, untuk mendeskripsikan perolehan macam tipologi dan morfologi bangunan di Surakarta yang berfungsi awal kantor  yang dirancang dan dibangun antara tahun 1900-1940. Penggalian tipomorfologinya, dirunut dari bangunan sumber pengaruh yang relevan di Belanda sebagai hasil pengaruh dari negara-negara relevan di sekitarnya, yang kemudian terbawa dan mempengaruhi bangunan yang diperuntukkan sejak awal sebagai kantor di Surakarta. Kajian tipomorfologis, selain dikaji tipologi arsitektural dan non arsitekturalnya, juga morfologi dalam tata letak, tata ruang dan bentuk arsitektural. Metoda penelitiannya adalah perpaduan dari deskriptif analitis kualitatif dan historis. Hasil penelitian, dalam tipologi non arsitektural terkait kepemilikan lama bangunan, untuk tipologi arsitektural adalah asal tipologi bangunan kantor. Dalam morfologi tata letak terkait square dan jalan penting. Dalam morfologi tata ruang, terkait tipe dasar, pola organisasi ruang, sifat dasar, berruang antara/selasar depan,  kesimetrisan dan hirarki ruang. Untuk morfologi bentuk, terkait bentuk geometris massa, berlantai tingkat atau tidak, gaya arsitektur, serta penampilan entranse. Perbedaan yang timbul, disebabkan antara lain oleh iklim dan budaya setempat serta karakter arsitek yang terlacak
FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA MASALAH LIMBAH DI LINGKUNGAN PERUMAHAN RT 05/RW VII SOLO BARU DESA LANGENHARJO KEC.GROGOL KAB.SUKOHARJO
Limbah pada suatu lingkungan perumahan akan selalu menimbulkan masalah yang sangat serius , baik itu lingkungan perumahan yang baru dibangun oleh pengembang atau lingkungan perumaham tradisionil yang berkembang secara alamiah yang sudah ada sejak lama. Limbah yang berasal dari linkungan perumahan adalah limbah rumah tangga berupa sampah, tinja dari WC, limbah cair dari KM,dapur, tempat cuci dan limbah hujan. Limbah dari lingkungan perumahan ini apabila tidak ditata dan dikelola secara baik dan teratur dengan mengacu pada syarat teknis yang ada, akan menimbulkan dampak lingkungan yang negatif diantaranya adalah, terjadinya pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan timbulnya wabah penyakit begitu juga terjadinya bencana banjir. Dampak lingkungan negatif dari limbah lingkungan perumahan ini terjadi juga di kawasan perumahan Solo Baru yang merupakan kawasan real estate yang dihuni sejak tahun 1986. Selama kurun waktu 26 (dua puluh enam) tahun permasalahan dari limbah ini selalu timbul tanpa ada pemecahan yang berarti. Melalui studi kasus dengan mengambil simple Lingkungan RT 05 RW VII Solo Baru Desa Langenharjo Grogol Sukoharjo yang merupakan bagian lingkungan terkecil dari kawasan perumahan Solo Baru ini dapat mengungkap faktor penyebab timbulnya pemasalahan limbah perumahan dan diharapkan akan didapatkan solusi alternative pemecahanny
PERAN TAMAN BALEKAMBANG SEBAGAI PEMBENTUK ESTETIKA KOTA
Taman Balekambang adalah area seluas 10 ha yang merupakan sebuah simbol kebesaran Swapraja Mangkunegaran, merupakan asset Kota Surakarta dan mempunyai nilai histories, serta nilai budaya yang tinggi mempunyai fasilitas rekreasi yang potensial untuk dikembangkan meliputi rekreasi air, rekreasi hiburan, dan rekreasi alam, selain sebagai daerah resapan air dan tata air kota. Taman Balekambang juga difungsikan menjadi taman rekreasi untuk memperindah tata ruang kota. Mangkraknya kawasan Balekambang nampaknya memaksa sebuah revitalisasi, dan revitalisasi saat ini telah terealisas. Pemerintah Kota Surakarta merevitalisasi taman Balekambang, mengembalikan kejayaan masa lampaunya dengan tidak menghilangkan konsep aslinya, yakni sebagai hutan buatan dan ruang publik yang juga berfungsi sebagai daerah resapan air dan paru-paru kota. Dalam revitalisasi penataan Taman Balekambang sebagai taman kota, kebutuhan sarana dan prasarana taman mendapat perhatian utama karena nilai-nilai estetika taman merupakan hal yang sangat penting untuk diolah secara keseluruhan dan berkinambungan. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui perancangan sebuah taman yang mengacu pada komponen perancangan lansekap, sehingga taman dapat ditata dengan baik secara fungsional dan estetis. Setelah melakukan kajian dan pembahasan, dapat diketahui bahwa Taman Balekambang menerapkan unsur-unsur perancangan lansekap, prinsip perancangan lansekap dan aplikasi perancangan lansekap dengan baik. Pemerintah Kota Surakarta telah merevitalisasi, dengan tidak meninggalkan nuansa yang pernah ada yakni kejayaan masa lalunya untuk kembali diangkat sebagai penguat citra taman tersebut. Pemugaran dan penambahan fasilitas estetik taman yang berupa bangku tempat duduk, rancangan sirkulasi yang didesain dengan batuan, paving berornamen membuat nyaman penggunanya, penambahan sanitasi dan aspek kebersihan juga menjadi salah satu keunggulan dari taman ini. Lahan Parkir dan Fasilitas hot spot menjadikan Taman Balekambang tidak hanya sebagai tempat rekreasi keluarga tetapi juga sebagai taman edukasi dengan pengadaan rusa- rusa yang bebas berkeliaran dan tanaman langka menjadikan Balekambang benar-benar seperti yang diinginkan masyarakat yakni memunculkan kembali kejayaan masa lalu dan saatnya sekarang untuk dipelihara karena taman ini sarat manfaat dan sejara