Teknik Sipil dan Arsitektur
Not a member yet
350 research outputs found
Sort by
POTENSI ABU KERTAS FOOD GRADE SEBAGAI ALTERNATIF FILLER CAMPURAN ASPAL PANAS PENGUJIAN FISIK DAN KIMIA
Population growth and industrial activities in Indonesia significantly increase the production of solid waste every year. One of the large amounts of waste that has not been optimally utilized is paper waste, including food grade paper waste. Handling food grade paper waste is an environmental challenge that requires innovative solutions. This research examines the potential of food grade paper ash as an alternative filler in hot mix asphalt through physical and chemical analysis. Food grade paper waste from industries in East Java was burned to ash and tested to meet the technical requirements of asphalt filler. Physical testing included particle size analysis with a No. 200 sieve and specific gravity measurement, while chemical testing used the X-Ray Fluorescence (XRF) method to determine the composition of the main compounds. The test results showed that 85.43% of the ash particles passed the No. 200 sieve, exceeding the minimum limit of 75% according to the 2018 Bina Marga General Specifications. The specific gravity of paper ash was 2.640 gr/cm3, in accordance with the SNI 1970-2008 standard which requires a minimum of 2.5 gr/cm3. The chemical composition of ash is dominated by calcium oxide (CaO) at 71.52%, silica (SiO?) 11.6%, and aluminum oxide (Al?O?) 7.3%, which play a role in increasing the adhesion and stability of asphalt mixtures. With these characteristics, food grade paper ash is suitable to be used as a filler to replace conventional materials in hot asphalt mixtures. The utilization of food grade paper ash not only meets the technical aspects, but also contributes to the reduction of industrial waste and provides an environmentally friendly solution in road construction.
Keyword: Food grade paper ash, Filler material, waste utilization, Hot mix asphaltPertumbuhan jumlah penduduk dan aktivitas industri di Indonesia secara signifikan meningkatkan produksi limbah padat setiap tahunnya. Salah satu limbah yang jumlahnya besar namun belum dimanfaatkan optimal adalah limbah kertas, termasuk limbah kertas food grade. Penanganan limbah kertas food grade menjadi tantangan lingkungan yang membutuhkan solusi inovatif. Penelitian ini mengkaji potensi abu kertas food grade sebagai filler alternatif dalam campuran aspal panas melalui analisis fisik dan kimia. Limbah kertas food grade yang berasal dari industri di Jawa Timur dibakar hingga menjadi abu dan diuji untuk memenuhi persyaratan teknis filler aspal. Pengujian fisik meliputi analisa ukuran partikel dengan saringan No. 200 dan pengukuran berat jenis, sementara pengujian kimia menggunakan metode X-Ray Fluorescence (XRF) untuk mengetahui komposisi senyawa utama. Hasil pengujian menunjukkan bahwa 85,43% partikel abu lolos saringan No. 200, melebihi batas minimal 75% sesuai Spesifikasi Umum Bina Marga 2018. Berat jenis abu kertas adalah 2,640 gr/cm3, sesuai standar SNI 1970-2008 yang mensyaratkan minimal 2,5 gr/cm3. Komposisi kimia abu didominasi oleh kalsium oksida (CaO) sebesar 71,52%, silika (SiO?) 11,6%, dan aluminium oksida (Al?O?) 7,3%, yang berperan dalam meningkatkan daya rekat dan stabilitas campuran aspal. Dengan karakteristik tersebut, abu kertas food grade layak digunakan sebagai filler pengganti material konvensional pada campuran aspal panas. Pemanfaatan abu kertas food grade tidak hanya memenuhi aspek teknis, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan limbah industri dan memberikan solusi ramah lingkungan dalam konstruksi jalan.
Kata kunci: Abu kertas food grade, Material filler, Pemanfaatan limbah, Campuran aspal pana
PENGARUH LIGHT SHELF STATIS TERHADAP KINERJA PENCAHAYAAN ALAMI KANTOR OPEN-PLAN
An office with an open-plan system is a popular building today with the complexity of activities and user needs. The advantages of saving space and making a spacious impression make open-plan offices popular. The main activity of the office as a place to work requires optimal daylighting to accommodate all its main activities during office hours. This study is a quasi-experimental research evaluating natural lighting performance in office buildings. The consideration of office building was chosen based on the general open-plan office criteria. The problem of uneven daylighting in the office space demands a system to increase daylighting performance. The use of lightshelf as a natural shading system is proposed as an alternative to increase daylighting performance, which is computationally simulated using Ecotect with the Radiance plug-in. Data collection techniques are carried out through computer simulation modeling and literature studies. It is hoped that the results of this study can add insight and be used as an alternative to daylight shading systems.Kantor dengan sistem open-plan merupakan bangunan yang populer saat ini dengan kompleksitas aktivitas dan kebutuhan pengguna. Keuntungannya yang hemat tempat dan membuat kesan luas menjadikan kantor open-plan digemari. Aktivitas utama kantor sebagai tempat bekerja membutuhkan pencahayaan alami yang optimal dalam mengakomodir seluruh kegiatan utamanya pada jam kantor di siang hari. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi experimental dengan mengevaluasi kinerja pencahayaan alami bangunan kantor. Pertimbangan bangunan kantor yang dipilih yakni berdasarkan kriteria kantor open-plan pada umumnya. Permasalahan pencahayaan alami yang tidak merata ke dalam ruang kantor menuntut kebutuhan sistem untuk peningkatan kinerja pencahayaan alami. Penggunan lightshelf sebagai sistem pembayang alami diusulkan sebagai salah satu alternatif peningkatan kinerja pencahayaan alami yang di simulasikan secara komputasi menggunakan Ecotect dengan plug-in Radiance. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui permodelan simulasi komputer dan studi literatur. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan digunakan sebagai alternatif sistem pembayang matahari
PERBANDINGAN HASIL PENGUKURAN GETARAN MENGGUNAKAN ACCELEROMETER TYPE PIOZOELECTRIC CRYSTAL (PCB) DENGAN TYPE MICRO ELECTRO MECHANICAL SYSTEM (MEMS)
The periodic vibration parameters are deviation, velocity, and acceleration, and the measuring instruments for the three parameters are called displacement pickups, velocity pickups, and accelerometers respectively. Recently, many other materials have been discovered for measuring vibrations called MEMS (Micro Electro Mechanical System) which provide an output in the form of a voltage so that it does not require an amplifier/charge amplifier. This MEMS technology accelerometer will replace the piezoelectric crystal (PCB) technology accelerometer. This research aims to determine the comparison of vibration measurement results from the two types of accelerometers. Both types of accelerometers are placed at the end of a metal plate which is clamped at the other end. The iron plate is vibrated by providing an impact and the vibration response is recorded by Dewesoft, the vibration response is also recorded in ambient conditions. From the results of vibration measurements in ambient conditions and given impact forces, these two types of accelerometers produce the same natural frequency values, while the amplitude values ??in the form of acceleration values ??have a difference of 4.75% for impact forces and 11.35% for ambient conditions.Parameter getaran periodik adalah simpangan, kecepatan dan percepatan dimana alat ukur untuk ketiga parameter berturut-turut disebut displacement pickups, velocity pick up dan accelerometer. Akhir-akhir ini, banyak menemuan bahan lain untuk mengukur getaran yang disebut MEMS (Micro Electro Mechanical System) yang memberi keluaran berbentuk tegangan sehingga tidak memerlukan amplifier/charge amplifier. Accelerometer berteknologi MEMS ini akan menggantikan accelerometer berteknologi piozoelectric crystal (PCB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil pengukuran getaran dari kedua type accelerometer tersebut. Kedua type accelerometer tersebut diletakkan di ujung besi pelat yang dijepit pada ujung lainnya. Besi pelat digetarkan dengan memberikan impact dan respon getaran direkam oleh dewesoft, respon getaran juga direkam dalam kondisi ambient. Dari hasil pengukuran getaran dalam kondisi ambient dan diberi gaya impact, kedua type accelerometer ini menghasilkan nilai frekuensi alami yang sama sedangkan nilai amplitudonya berupa nilai percepatan terdapat perbedaan sebesar 4,75% untuk gaya impact dan 11,35% untuk kondisi ambi
KRITERIA DESAIN RUANG TERBUKA UNTUK OPTIMALISASI INTERAKSI SOSIAL DAN PERFORMA BISNIS DI PUSAT KULINER
Open spaces play a crucial role in creating culinary centers that are not only visually appealing but also support social interaction and optimal business performance. This research aims to identify effective open space design criteria for enhancing social interaction and business performance in culinary centers. The research method employs a qualitative descriptive approach with a comparative case study method. Data collection was conducted through field observations, visual documentation, and literature and online media reviews. The main findings of this research reveal that an ideal open space design must consider elements such as flexible layouts, comfortable and interaction-supportive furniture, lighting that creates a warm atmosphere, and cleanliness. These design criteria have proven to have a significant impact on increasing social interaction among visitors and enhancing the attractiveness of culinary centers for business actors. The implications of this research provide valuable insights for developers and managers of culinary centers in creating open spaces that are not only functional but also capable of improving the visitor experience and supporting business growth.
Ruang terbuka memiliki peran krusial dalam menciptakan pusat kuliner yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mendukung interaksi sosial dan kinerja bisnis yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kriteria desain ruang terbuka yang efektif dalam meningkatkan interaksi sosial dan performa bisnis di pusat kuliner. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus komparatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, dokumentasi visual, serta kajian literatur dan media daring. Temuan utama penelitian ini mengungkapkan bahwa desain ruang terbuka yang ideal harus mempertimbangkan elemen-elemen seperti tata letak yang fleksibel, furnitur yang nyaman dan mendukung interaksi, pencahayaan yang menciptakan atmosfer hangat, serta kebersihan. Kriteria desain ini terbukti memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan interaksi sosial antar pengunjung dan peningkatan daya tarik pusat kuliner bagi pelaku bisnis. Implikasi dari penelitian ini memberikan wawasan berharga bagi pengembang dan pengelola pusat kuliner dalam menciptakan ruang terbuka yang tidak hanya fungsional, tetapi juga mampu meningkatkan pengalaman pengunjung dan mendukung pertumbuhan bisnis
English English
Reinforced concrete (RC) buildings with Special Moment Resisting Frames (SMRF) are widely used in seismic regions due to their superior ductility and energy dissipation capabilities. However, their actual performance under strong ground motions still requires detailed investigation, especially in regions with limited seismic design experience. This study assesses the seismic performance of a four-story SMRF RC building located in Delta-4, Dili, Timor Leste, using nonlinear time history analysis (NLTHA). The structural model was developed in SAP2000 v19 following the provisions of SNI 1726:2019 for seismic design and SNI 2847:2019 for concrete detailing, given their applicability in the absence of national standards. Seven ground motion records were selected and scaled to match the site-specific response spectrum. Key parameters such as story drift ratios, base shear, and plastic hinge development were analyzed. Results show that the building satisfies the Immediate Occupancy (IO) and Life Safety (LS) performance objectives under design-level seismic events. Plastic hinges formed primarily in beams rather than columns, validating a strong-column weak-beam mechanism. Drift ratios remained within acceptable limits, ensuring minimal structural and non-structural damage. The study confirms that properly detailed SMRF RC buildings can perform satisfactorily under earthquake loads, even in regions with emerging seismic design practice. Moreover, it highlights the effectiveness of NLTHA as a tool to support performance-based design in Timor-Leste and recommends further studies for taller structures and varied structural systems in similar contexts.Bangunan beton bertulang (RC) dengan Rangka Pemikul Momen Khusus (SMRF) banyak digunakan di daerah seismik karena duktilitas dan kemampuan disipasi energinya yang unggul. Namun, kinerja aktualnya di bawah gerakan tanah yang kuat masih memerlukan penyelidikan terperinci, terutama di daerah dengan pengalaman desain seismik yang terbatas. Studi ini menilai kinerja seismik bangunan SMRF RC empat lantai yang terletak di Delta-4, Dili, Timor Leste, menggunakan analisis riwayat waktu nonlinier (NLTHA). Model struktural dikembangkan dalam SAP2000 v19 mengikuti ketentuan SNI 1726:2019 untuk desain seismik dan SNI 2847:2019 untuk perincian beton, mengingat penerapannya tanpa adanya standar nasional. Tujuh rekaman gerakan tanah dipilih dan diskalakan agar sesuai dengan spektrum respons spesifik lokasi. Parameter utama seperti rasio pergeseran tingkat, geser dasar, dan perkembangan sendi plastis dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan tersebut memenuhi tujuan kinerja Hunian Langsung (IO) dan Keselamatan Jiwa (LS) di bawah kejadian seismik tingkat desain. Sendi plastis terbentuk terutama pada balok daripada kolom, yang memvalidasi mekanisme kolom kuat balok lemah. Rasio drift tetap dalam batas yang dapat diterima, yang memastikan kerusakan struktural dan non-struktural yang minimal. Studi tersebut menegaskan bahwa bangunan SMRF RC yang dirinci dengan baik dapat bekerja dengan memuaskan di bawah beban gempa, bahkan di wilayah dengan praktik desain seismik yang baru muncul. Selain itu, studi tersebut menyoroti efektivitas NLTHA sebagai alat untuk mendukung desain berbasis kinerja di Timor-Leste dan merekomendasikan studi lebih lanjut untuk struktur yang lebih tinggi dan sistem struktural yang bervariasi dalam konteks yang sama
ANALISIS KEBUTUHAN LIFT GEDUNG MERAH YAYASAN MABADI’UL IHSAN BERDASARKAN SNI: 03-6573-2001
The Red Building of Foundation Mabadi’ul Ihsan functioned as an educational facility for both school and university-level activities, consisting of five floors in the central area and seven floors on the sides. Currently, the building lacks a vertical transportation system such as an elevator, which is essential to support vertical mobility, especially considering the high volume of daily activity and the accessibility needs of its users. This study aims to calculate the required number and capacity of elevators based on SNI 03-6573-2001, the Indonesian national standard for planning vertical transportation systems in buildings. This standard provides technical guidelines for calculating, installing, and operating elevators to ensure safety, efficiency, and user comfort. The research methodology includes literature review, preliminary surveys, data collection, data analysis, result discussion, and the formulation of conclusions and recommendations. Through this structured approach, the study seeks to determine accurate elevator requirements tailored to the building’s capacity and usage. The final outcome is expected to serve as a practical recommendation for the building management in considering the implementation of elevators. By doing so, the overall comfort and accessibility for students, faculty, and visitors can be significantly improved, thereby enhancing the effectiveness and inclusiveness of educational activities within the facility.Gedung Merah Yayasan Mabadi’ul Ihsan merupakan bangunan pendidikan yang berfungsi sebagai sekolah dan perguruan tinggi, dengan jumlah lantai sebanyak 5 pada area tengah dan 7 pada area samping. Gedung ini belum dilengkapi sistem transportasi vertikal seperti lift yang sangat dibutuhkan untuk menunjang mobilitas antar lantai, terutama mengingat aktivitas yang tinggi serta kebutuhan aksesibilitas bagi seluruh pengguna gedung. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kebutuhan dan kapasitas lift yang ideal berdasarkan SNI 03-6573-2001 tentang Tata Cara Perencanaan Sistem Transportasi Vertikal pada Gedung (Lift). Standar ini digunakan sebagai acuan karena mencakup panduan teknis dalam perencanaan, pemasangan, serta pengoperasian lift untuk menjamin keselamatan, efisiensi, dan kenyamanan penggunaan. Metode penelitian yang diterapkan meliputi studi literatur, survei pendahuluan, pengambilan dan pengolahan data, pembahasan hasil, serta penarikan kesimpulan dan saran. Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat diperoleh data yang akurat mengenai jumlah dan kapasitas lift yang dibutuhkan untuk menunjang aktivitas gedung secara optimal. Hasil akhir penelitian ini diharapkan menjadi rekomendasi bagi pengelola gedung dalam mempertimbangkan pemasangan lift, sehingga kenyamanan dan aksesibilitas bagi siswa, tenaga pendidik, serta pengunjung gedung dapat lebih terjamin dan mendukung efektivitas operasional pendidikan di lingkungan tersebut
ANALISIS DEBIT SUNGAI SAMBONG KABUPATEN BATANG DENGAN HEC-RAS
The Sambong River is located in Batang District, with relatively flat topography and proximity to the sea, making it prone to frequent flooding. As observed in the past three years, the largest flood occurred on January 2, 2023, at 11 points in Batang District, which indirectly caused significant losses to the surrounding community. Therefore, a study is needed to determine the rise in water levels and the flood discharge volume of the Sambong River and to analyze its ability to accommodate such discharge.In this study, the flood discharge analysis for the planned Sambong River was calculated using the Nakayasu HSS method, and the river flow conditions were simulated using the HEC-RAS program with the unsteady flow method. Several data and parameters were based on the existing conditions of the river, resulting in the following discharge values: Q5 319.787 m³/s, Q10 381.146 m³/s, Q25 460.936 m³/s, Q50 521.907 m³/s, and Q100 584.437 m³/s. Based on the HEC-RAS simulation results from 66 STA observation points, it was found that for the Q5 and Q10 return periods, 88% of the STA locations flooded; for the Q25 return period, 91% of STA locations flooded; for the Q50 return period, 92% flooded; and for the Q100 return period, 95% of STA locations flooded, with varying flood heights. Therefore, it can be concluded that the Sambong River is no longer able to accommodate the planned flood dischargeSungai Sambong merupakan sungai yang terletak di Kecamatan Batang dengan kondisi topografi relatif landai dan dekat dengan laut sehingga menjadi salah satu alasan sering terjadi banjir. Seperti yang terjadi pada 3 tahun terakhir, banjir terbesar tercatat pada 2 januari 2023 di 11 titik di Kecamatan Batang yang secara tidak langsung menyebabkan kerugian bagi masyarakat sekitar. Sehingga diperlukan kajian untuk mengetahui besar kenaikan muka air dan volume debit banjir sungai sambong serta menganalisa kondisi sungai sambong dalam menampung debit tersebut. Dalam kajian ini, analisis debit banjir rencana sungai sambong dihitung menggunakan metode HSS Nakayasu dan kondisi aliran sungai disimulasikan menggunakan program HEC-RAS metode unsteady flow, dengan beberapa data dan parameter yang diambil berdasarkan kondisi eksisting sungai menghasilkan debit pada Q5 319,787 m³/dt, Q10 381,146 m³/dt, Q25 460,936 m³/dt, Q50 521,907 m³/dt, Q100 584,437 m³/dt. Berdasarkan hasil simulasi dengan program HEC-RAS dari 66 titik STA pengamatan menghasilkan pada Q5 tahun dan Q10 tahun sebanyak 88% STA meluap, Q25 tahun sebanyak 91% STA meluap, Q50 tahun 92% STA meluap dan pada Q100 tahun sebanyak 95% STA meluap dengan ketinggian bervariasi. Sehingga disimpulkan sungai sambong sudah tidak dapat menampung debit banjir rencan
ANALISIS HUBUNGAN JUMLAH KECELAKAAN TERHADAP TINGKAT FATALITAS LALU LINTAS DI RUAS JALAN SUDIRMAN KOTA MAUMERE
Traffic accidents remain a major issue affecting public safety worldwide. This study aims to analyze the relationship between the number of traffic accidents and the level of fatality on Sudirman Road in Maumere City. The research uses secondary data from the Sikka District Police covering the period 2019–2023, along with primary data from traffic volume surveys conducted in the study area. The analytical methods used include simple linear regression and correlation to determine the strength and direction of the relationship between the variables. The results show a fairly strong positive linear relationship between the number of accidents and the level of fatality, with a coefficient of determination (R²) of 0.6722. This means that approximately 67.22% of the variation in fatality levels can be explained by changes in the number of accidents. These findings indicate that an increase in the number of accidents is likely to be followed by a higher fatality rate. This research is expected to serve as a reference for improving traffic safety measures in urban areas.
Keyword: traffic accidents, fatality rate, linear regression, Jalan Sudirman, MaumereKecelakaan lalu lintas merupakan salah satu permasalahan serius yang berdampak besar terhadap keselamatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara jumlah kecelakaan dan tingkat fatalitas kecelakaan lalu lintas di ruas Jalan Sudirman, Kota Maumere. Data yang digunakan meliputi data sekunder kecelakaan dari Kepolisian Resor Kabupaten Sikka tahun 2019–2023, serta data primer berupa volume lalu lintas dari hasil survei lapangan. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier sederhana dan korelasi untuk mengetahui kekuatan dan arah hubungan antar variabel. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif linear yang cukup kuat antara jumlah kecelakaan dan tingkat fatalitas, dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,6722. Artinya, sekitar 67,22% variasi tingkat fatalitas dapat dijelaskan oleh perubahan jumlah kecelakaan. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan jumlah kecelakaan secara signifikan berkontribusi terhadap peningkatan risiko fatalitas di lokasi penelitian. Penelitian ini diharapkan menjadi acuan dalam perencanaan dan pengendalian keselamatan lalu lintas di wilayah perkotaan.
Kata kunci: kecelakaan lalu lintas, tingkat fatalitas, regresi linier, Jalan Sudirman, Maumer
KINERJA AKUSTIK DAN TERMAL DINDING BATA GEOPOLYMER CELLULAR LIGHTWEIGHT CONCRETE (GCLC): KINERJA AKUSTIK DAN TERMAL DINDING BATA GEOPOLYMER CELLULAR LIGHTWEIGHT CONCRETE (GCLC)
The rapid growth of the construction industry in Indonesia has led to a surge in cement production, a process that is energy-intensive and releases significant amounts of CO2. To mitigate the environmental impact of cement, geopolymer materials have emerged as a sustainable alternative. Given their role as spatial dividers, walls play a crucial role in a building's thermal and acoustic performance. Effective thermal performance can reduce the energy consumption required for air conditioning, while good acoustic performance enhances occupant comfort. This study compared the thermal and acoustic performance of lightweight concrete bricks (using cement as the primary material) with geopolymer bricks (utilizing fly ash). Two simulated rooms with distinct wall materials were constructed, and their temperature and acoustic properties were simultaneously measured. The thermal testing revealed that geopolymer bricks exhibited superior acoustic performance compared to lightweight bricks. Acoustic testing indicated that both brick types performed well acoustically. However, the acoustic performance of lightweight bricks peaked in hot weather, while geopolymer bricks demonstrated better acoustic performance at lower temperatures.Pembangunan konstruksi di Indonesia mengalami peningkatan yang sangat pesat, hal ini berpengaruh pada meningkatnya produksi semen yang memerlukan banyak energi dan melepaskan CO2 dalam jumlah besar. Dalam upaya mengurangi dampak semen terhadap lingkungan, material geopolimer menjadi alternatif ramah lingkungan. Dinding yang memiliki fungsi sebagai pembatas antar ruang pada bangunan juga memiliki peran yang penting pada kinerja termal dan akustik bangunan. Kinerja termal yang baik pada bangunan dapat mengurangi konsumsi listrik yang digunakan untuk penghawaan buatan, sementara kinerja akustik yang baik dapat meningkatkan kenyamanan penghuni. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan kinerja termal dan akustik antara bata ringan berbahan utama semen dengan bata geopolimer yang memanfaatkan abu sisa pembakaran sebagai bahan penyusunnya. Penelitian dilakukan dengan membuat dua ruang simulasi dengan material dinding yang berbeda kemudian diukur temperatur dan kinerja akustiknya secara simultan. Dari hasil pengujian termal disimpulkan bahwa bata geopolimer memiliki kinerja akustik yang lebih baik dibandingkan dengan bata ringan, sedangkan hasil pengujian akustik menunjukkan bahwa kedua jenis bata memiliki kinerja akustik yang baik. Kinerja akustik bata ringan akan maksimal pada cuaca panas, sedangkan kinerja akustik bata geopolimer justru lebih baik pada suhu lebih rendah
POTENSI LIMBAH KERAK TUNGKU PEMBAKARAN GENTENG SEBAGAI FILLER ALTERNATIF PADA CAMPURAN ASPAL BETON
The utilization of industrial waste as a construction material is a strategic step in supporting sustainable development. In this context,the study was conducted to evaluate the characteristics of tile kiln crust waste as a substitute for filler in asphalt concrete mixture. Thewaste was obtained from tile production in Kencong Village, Kediri Regency, East Java, then processed into fine powder before beingused in the mixture. This study was conducted at the National Road Implementation Center Laboratory, with a series of tests includingsieve analysis, determination of specific gravity, and X-Ray Fluorescense (XRF) test. Based on the results of the sieve analysis test, itshowed that 77.63% of tile kiln crust powder filler particles could pass through the No. 200 sieve, while the specific gravity value ofthe material was 2.713. Meanwhile, the results of the XRF analysis indicated that the content of CaO (12.3%), SiO2 (36.7), and AI2O3(12%) were the main elements, with characteristics resembling limestone filler. Based on the test results, it shows that the waste of theroof tile kiln crust has met the criteria as a filler in the asphalt concrete mixture according to the Bina Marga 2018 specifications(Revision 2). The use of this waste not only contributes to increasing the stability of the asphalt mixture, but also becomes anenvironmentally friendly waste management solution. Therefore, tile kiln slag waste has significant potential to be applied as a fillersubstitute in road paveent construction.Keyword: Tile Waste, Filler, Marshall, Asphalt ConcretePemanfaatan limbah industri sebagai material kontruksi merupakan langkah strategis dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.Dalam konteks ini, penelitian dilakukan untuk mengevaluasi karakteristik limbah kerak tungku pembakaran genteng sebagai bahanpengganti filler dalam campuran aspal beton. Limbah tersebut diperoleh dari prosuksi genteng di Desa Kencong, Kabupaten Kediri,Jawa Timur, kemudian diolah menjadi serbuk halus sebelum digunakan dalam campuran. Penelitian ini dilaksanakan di LaboratoriumBalai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional, dengan rangkaian pengujian yang mencakup analisis saringan, penentuan berat jenis, serta ujiX-Ray Fluorescense (XRF). Berdasarkan hasil pengujian analisa saringan menunjukkan bahwa sebanyak 77,63% partikel filler serbukkerak tungku pembakaran genteng yang dapat melewati ayakan No.200, sedangkan nilai berat jenis material tersebut didapatkan nilai2,713. Sementara itu, hasil analisis XRF mengidikasikan bahwa kandungan CaO (12,3%), SiO2 (36,7), dan AI2O3 (12%) merupakanunsur utama, dengan karakteristik yang menyerupai filler dari batu kapur. Berdasarkan hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwalimbah kerak tungku pembakaran genteng telah memenuhi kriteria sebagai filler dalam campuran aspal beton sesuai dengan spesifikasiBina Marga 2018 (Revisi 2). Penggunaan limbah ini tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan stabilitas campuran aspal, tertapijuga menjadi solusi pengelolaan limbah yang ramah lingkungan. Dengan demikian, limbah kerak tungku memiliki potensi signifikanuntuk diaplikasikan sebagai substutusi filler dalam kontruksi perkerasan jalan.Kata kunci: Limbah Genteng, Filler, Marshall, Aspal Beton