Teknik Sipil dan Arsitektur
Not a member yet
350 research outputs found
Sort by
CITRA PESONA KOTA SURAKARTA DALAM UPAYA MEWUJUDKAN DESTINASI WISATA TERKAIT OBYEK WISATA YANG ADA
Citra suatu kota sangat menarik untuk diteliti, terutama kaitannya dengan keberadaan obyek wisata yang ada , di mana wisata, budaya, tradisi dan monumen erat kaitannya dengan estetika, di samping estetika yang terkandung di dalam visual monumen tersebut, citra akan menentukan arah kemajuan, termasuk di dalamnya sektor  pariwisata. Permasalahan estetika kota, monumen dan citra pesona pariwisata belum banyak dikaji, hal ini mengingat perencanaan dan pengelolaan daya tarik wisata alam, sosial budaya maupun objek wisata minat khusus harus berdasarkan pada kebijakan rencana pembangunan nasional maupun regional. Jika kedua kebijakan rencana tersebut belum tersusun, tim perencana pengembangan daya tarik wisata harus mampu mengasumsikan rencana kebijakan yang sesuai dengan area yang bersangkutan.Tujuan dari penelitian  ini adalah:a) Mengetahui kondisi fasilitas, sarana prasarana Wisata kota Surakarta b) Mengkaji usaha-usaha yang dilakukan Pemerintah Kota Surakarta dalam mempersiapkan Surakarta menjadi Destinasi, c). Memetakan potensi wisata kota Surakarta. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah memberikan informasi kepada pemerintah Kota Surakarta , Penyusunan ini didasarkan pada permasalahan yang dirumuskan sebelumnya beserta tujuan yang akan dicapai. Adapun prosedur penelitian yang dimaksud :a) Mengurus perijinan.b) Menyiapkan perlengkapan penelitian. c) Menyusun protokol penelitian dengan merencanakan jadwal pelaksanaan serta mengembangkan pedoman pengumpulan dananya. d) Mengumpulkan data di lokasi dengan melakukan wawancara, observasi, dananalisa dokumen e) Menelaah masalah yang dianggap penting guna menentukan strategi pengumpulan data berikutnya serta mempersiapkan analisis awal. Untuk selanjutnya data mendapatkan data yang lebih memfokus, untuk menghasilka data yang sudah terkumpul selanjutnya merumuskankesimpulan akhir sebagai temuan penelitian
KAJIAN MANAJEMEN RISIKO BISNIS JASA KONSTRUKSI
Industri konstruksi merupakan salah satu industri terbesar di dunia. Peralatan baru yang muncul dengan disertai hadirnya berbagai software komputer yang canggih semakin mempermudah pekerjaan dalam bidang konstruksi. Saat ini berbagai teknik baru muncul, yang diharapkan dapat mempercepat pekerjaan suatu proyek konstruksi yang sedang dilakukan, serta mempermudah dalam mengevaluasi suatu pekerjaan bangunan. Akan tetapi, dengan segala kemajuan yang ada saat ini, bukan berarti industri jasa konstruksi tidak akan diperhadapkan pada suatu risiko kegagalan. Industri konstruksi juga merupakan suatu bisnis yang sangat kompetitif dengan tingkatan yang tinggi kemungkinannya untuk bangkrut, apabila tidak dikelola secara baik. Pemahaman akan aspek-aspek teknis dari konstruksi sangatlah diperlukan, di sisi lain orang-orang yang bergerak di bidang industri dan jasa konstruksi juga haruslah mempunyai pemahaman yang baik tentang aspek-aspek profesi bisnis dan manajemen risiko. Industri konstruksi seringkali dianggap sebagai suatu industri yang tingkat risikonya tinggi. Risiko yang dihadapi pada suatu proyek konstruksi sudah ada sejak awal proyek berjalan sampai proyek berakhir, bahkan tahapan awal sebelum dimulainya proyek konstruksi sudah berhadapan dengan risiko. Risiko yang melekat pada perusahaan dalam kelompok industri konstruksi tidak terlepas dari karakteristik utama kegiatan perusahaan, yaitu : penyediaan jasa konstruksi. Oleh karena itu, kajian ini mengidentifikasi risiko-risiko yang berpotensi paling besar berdasarkan frekuensi dan bobot risiko pada industri jasa konstruksi. Sekaligus mengkaji upaya bagaimana penerapan manajemen risiko pada jasa konstruksi dalam menghadapi risiko di atas, sehingga perusahaan dapat memenuhi target pekerjaan berdasarkan biaya, mutu, dan waktu pekerjaan
UNGKAPAN BENTUK DAN MAKNA FILOSOFI DALAM KAIDAH ARSITEKTUR RUMAH TRADISIONAL JAWA DI ERA MODERNISASI
Budaya jawa telah dikenal dunia sebagai budaya yang adiluhung, hal ini tidak lepas dari pandangan hidup dalam budaya jawa yang memahami hidup sebagai hanya semata karena tuhan yang maha kuasa (uriping manungso mung sakdermo), dan hidup itu hanya singkat (uriping menungso ibarat mung mampir ngombe) hal ini melebur dan mendasari semua aspek dalam kehidupan sosial budaya masyarakat jawa, dimana karya-karya budaya jawa didedikasikan kepada pemahaman akan dari mana asal kehidupan, apa yang harus dilakukan dalam kehidupan ini, hingga akhirnya akan kembali lagi kepada tuhan, hal ini terlihat dalam mengekspresikan pikiran kedalam karya-karya seni (wayang, bathik, tosan aji, tarian, tembang-tembang, dll.), bentuk arsitektur rumah tradisional jawa, maupun prilaku sebagai individu maupun dalam tatanan bersosial dan bermasyarakat, dimana semua itu ditujukan kepada pengagungan kepada tuhan dan penghormatan kepada nilai-nilai kehidupan. Karya budaya jawa dapat dilihat dlam dua aspek yaitu aspek fisik dan aspek yang menjiwai, sehingga semua ditampilkan dalam bentuk fisik yang serba indah, cantik, dan merdu agar orang tertarik untuk melihat, mendengar,atau membaca kemudian dapat menikmati dan menghayati sehingga akan menemukan makna atau pesan- pesan simbolik yang terkandung didalamnya hingga pada akhirnya dapat mengingatkan, menyadarkan, dan dpat menjadi sarana membentuk tatanan dalam kehidupan sosial masyarakat jawa, sehingga dapat disimpulkan bahwa karya budaya jawa dituntut untuk dapat memenuhi tiga unsur yaitu sebagai sesuatu yang menarik, mengandung pesan-pesan/ajaran, dan dapat membentuk pola aturan dalam masyarakat (tontonan, tuntunan dan tatanan). Bertolak dari pemahaman tersebut maka dapat diulas bagaimana makna bentuk arsitektur rumah tradisional jawa, apa yang melandasi bentuk-bentuk tersebut, pesan-pesan simbolik apakah yang akan disampaikan dan apa tujuan yang hendak dicapai. Waktu terus berjalan kemasa depan sehingga kita dituntut untuk bisa arif dan bijaksana dalam menghadapi modernisasi dan perkembangan tuntutan jaman, kemudian bagaimana kita memahami dan mensikapi nilai-nilai arsitektur tradisional jawa dalam era modern ini
UNSUR ESTETIKA PADA STRUKTUR KABEL DALAM BANGUNAN ARSITEKTUR MODEREN
Bicara tentang struktur dan konstruksi maka image yang ada di benak kita adalah terkait dengan kekuatan, kekokohan, tahan beban, gaya tarik, gaya tekan dan lain sebagainya. Namun kalau dikaji lebih dalam lagi, ada beberapa struktur yang mempunyai nilai estetika yang tinggi yang dapat menunjang keindahan suatu bangunan arsitektur, antara lain bangunan hightrise building ( mall, hotel, office), bangunan yang mempunyai bentang panjang, bangunan bandar udara, pelabuhan, terminal, bangunan jembatan bentang panjang dan lain sebagainya. Kekokohan dan kekuatan yang ada pada struktur yang kadang-kadang membuat para arsitek/perencana bangunan lupa bahwa di balik kekokohan dan kekuatan dalam sistem struktur terkandung nilai-nilai estetika yang menunjang keindahan dalam penampilan arsitektur. Dengan demikian, kalau para arsitek jeli terhadap sistem struktur yang diterapkan dalam desain bangunan, maka akan dapat menimbulkan suatu keterpaduan antara kekokohan kekuatan dan keindahan bangunan Arsitektur. Salah satu sistem struktur yang mempunyai nilai keindahan atau estetika tersebut adalah sistem struktur kabel. Kabel adalah suatu bahan dari baja atau bahan lainnya yang dapat digunakan sebagai salah satu unsur sistem struktur/konstruksi bangunan karena sifatnya yang dapat menahan gaya tarik dan gaya tekan bila diregangkan.Kabel sebagai material konstruksi sudah dikenal sejak jaman Mesir kuno.Pada saat itu kabel dibuat dari serat alami.Pada abad pertengahan Leonardo da Vinci (1452 †“ 1519) sudah membuat sketsa gambar konstruksi jembatan dengan sistem kabel-kabel penahan girder jembatan.Sejak akhir abad ke-19, mulai digunakan kabel-kabel dari bahan metal besi/baja, di mana penggunaannya masih terbatas untuk konstruksi jembatan berbentang lebar. Tetapi kini para arsitek pun dapat menggunakan struktur kabel untuk menciptakan bangunan dengan ruangan dalam yang luas, dengan kesan ringan, anggun, dan transparan. Melalui kajian yang dilakukan dalam penelitian beberapa tahun yang lalu tulisan ini dibuat dengan menambahkan materi dan bahasan disesuaikan dengan perkembangan desain arsitektur modern pada masa kini khususnya desain bangunan yang menggunakan sistem struktur kabel sebagai struktur utamanya
ANALISIS PENGARUH KONFLIK DALAM PELAKSANAAN KONSTRUKSI TERHADAP KESUKSESAN PROYEK
Pada tahap pelaksanaan proyek konstruksi sangat besar kemungkinannya terjadi konflik karena dalam pelaksanaan proyek konstruksi sumberdaya yang digunakan besar, jumlah kegiatan yang sangat banyak dan melibatkan banyak pihak yang saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Perbedaan-perbedaan tujuan, pandangan, pendapat dari masing-masing pihak akan dapat menimbulkan konflik. Analisis pengaruh konflik dalam pelaksanaan konstruksi terhadap kesuksesan proyek ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk dapat mengetahui faktor-faktor dominan yang dapat menimbulkan konflik dan bagaiman pengaruh konflik terhadap kesuksesan proyek. Data diperoleh melalui survei kuesioner dengan responden yang diteliti adalah kontraktor, konsultan pengawas dan dari pihak pemilik pada tingkat manajemen menengah yang pernah terlibat dalam pelaksanaan pembangunan konstruksi gedung. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Untuk mengetahui keakuratan data dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Untuk mengetahui faktor dominan yang dapat menimbulkan konflik dilakukan analisis mean dan untuk menganalisis pengaruh konflik dengan kesuksesan proyek dilakukan anilisis korelasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor-faktor yang sering menimbulkan konflik dalam pelaksanaan proyek konstruksi adalah wewenang dan tanggung jawab yang kurang jelas, tugas yang tidak sesuai keahliannya, kesalahan desain dan spesifikasi, keterlambatan peralatan dan bahan, estimasi biaya yang tidak akurat dan pendekatan menangani masalah. Berdasar uji konkordansi kendall menunjukkan bahwa variabel konflik dari kontrak dan spesifikasi, sumber daya manusia, manajemen dan organisasi, biaya, dan perbedaan kultur mempunyai korelasi yang rendah terhadap kesuksesan proyek atau mampu mempengaruhi kesuksesan proyek sebesar 23% sedangkan 77% dipengaruhi oleh faktor lain
ANALISIS SIMPANG TAK BERSINYAL DENGAN BUNDARAN
Studi kasus di simpang Gladak Surakarta. Pada hakikatnya dilatar belakangi oleh kinerja simpang tersebut, dimana jenis kendaraan yang melewati simpang teridiri dari berbagai macam kendaraan seperti becak, sepeda, sepeda motor, mobil, bus, dan lain-lain. Hal tersebut perlu mendapat perhatian karena ramainya arus lalu lintas yang terjadi sehingga menyebabkan kemacetan terutama pada jam-jam sibuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa, pengaruh simpang tak bersinyal dengan bundaran terhadap kapasitas, derajat kejenuhan, tundaan dan peluang antrian yang terjadi pada simpang Gladak Surakarta.Metode penelitian yang digunakan dalam pengambilan data adalah observasi dan pencatatan secara langsung di lapangan. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer deperoleh dari hasil pengamatan langsung di lapangan, sedangkan data sekunder diperoleh dari hasil instansi terkait. Sebagai dasar penyelesaian atau analisa data digunakan rumusan yang terdapat pada Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) tahun 1997 untuk mengetahui tingkat pelayanan simpang.Adapun hasil analisis menunjukkan bahwa dari survey pada senin 8 Desember 2008, tingkat pelayanan simpang Gladak Surakarta ini masih cukup baik. Pada jam puncak nilai kapasitasnya untuk bagian jalinan AB = 5858 smp/jam, bagian jalinan BC = 6799 smp/jam, bagian jalinan CD = 6008 smp/jam, bagian jalinan DA = 3199 smp/jam. Sedangkan derajat kejenuhannya (DS), bagian jalinan AB = 0,11, bagian jalinan BC = 0,10, bagian jalinan CD = 0,07 dan bagian jalinan DA = 0,01.Sedangkan kinerja pada tahun 2011 pada jam puncaknya nilai kapasitas diasumsikan sama dengan tahun 2008. Untuk derajat kejenuhannya (DS) bagian jalinan AB = 0,14, bagian jalinan BC = 0,11, bagian jalinan CD = 0,03 dan bagian jalinan DA = 0,01. Sehingga tingkat pelayanan simpang Gladak Surakarta in pada tahun 2011 tidak layak dalam melayani arus lalu lintas
PENGARUH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TEMPAT USAHA PEDAGANG KAKI LIMA ( PKL) TERHADAP CITRA WAJAH ARSITEKTUR KOTA SURAKARTA
Implikasi sosial ekonomis akibat dari masa krisis ekonomi pada kota-kota besar di Indonesia termasukdiantaranya kota Surakarta sangat terasa sekali terutama bagi lapisan masyarakat yang tingkatan perekonomiannya sangat rendah. Kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan, pemutusan hubungan kerja (PHK) karena adanya pembatasan tenaga pada beberapa perusahaan serta kekurang mampuan pemilikan modal untuk membuka lapangan pekerjaan mendorong mereka untuk mencari usaha sesuai dengan keterbatasan kemampuan modal yang dimilikinya dengan diantaraya berdagangkecil-kecilan sebagai pedagang kaki lima atau penjaja keliling. Didalam membuka usaha ini banyak diantara masyarakat yang kurang atau tidak memahamidan mengetahui peraturan-peraturan tentang penataan kota, sehingga mereka mencari tempat usaha yang menurut pertimbangan mereka sangat tepat untuk mejajakan dagangannya dengan mendirikan kios/bedeng atau bangunan yang secara kualitas tidak layak bahkan mengganggu keindahan kota. Kota Surakarta yang pernah dilanda kerusuhan akibat kondisi politik Negara kita sedang labil yang terjadi di tahun1988-1989 an, merupakan awal pertumbuhan dan berkembangnya pedagang kaki lima (pkl) yang muncul dibeberapa bagian kota ( di pinggir jalan, di taman, di bantaran sungai atau ditempat terbuka yang menurut mereka sangat tepat dan strategis untuk berdagang).Namun mereka tidak menyadari bahwa menempati tanah-tanah Negara adalah dilarang. Pemerintah kota sebetulnya sudah mengadakan penataan dan relokasi untuk mengatur tempat usaha para pedagang kaki lima ini, namun sampai saat ini kurang lebih 15 tahunan yang lalu pasca kerusuhan problema tentang pedagang kaki lima ini terus berlanjut yang seolah-olah seperti rantai kehidupan yang tidak ada hentinya, ditata ulang selalu muncul masalah yang baru. Penataan pedagang kaki lima yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surakarta ini dimaksud agar kota menjadi teratur rapi indah serta mempunyai citra kota yang bersih dan nyaman. Melalui penelitian ini mencoba untuk mengungkap adakah pengaruh hubungan antara pedagang kaki lima (PKL) di kota Surakarta ini dengan Citra Wajah Arsitektur Kota Surakarta
IDENTIFIKASI SIRKULASI DAN PARKIR DALAM KONTEKS PENGENDALIAN ARSITEKTUR DAN PRESERVASI JALAN JENDERAL SUDIRMAN KOTA SURAKARTA
Sirkulasi  dan parkir pada suatu kota berkaitan dengan aspek-aspek perancangan urban lainnya. Keseluruhan aspek perancangan urban terdiri dari: tata guna lahan, masa dan bentuk bangunan, sirkulasi dan parkir, ruang terbuka, jalur pedestrian, pendukung kegiatan, tanda-tanda, dan preservasi. Oleh sebab itu, sirkulasi dan parkir kota tidak dapat dilepaskan dari aspek-aspek urban dimaksud. Sistem sirkulasi kota sebagai suatu sarana pergerakan manusia dan barang dari suatu tempat ke tempat lainnya pada dasarnya merupakan media transportasi,sedangkan parkir sebagai tempat pemberhentian kendaraan. Penelitian ini mengambil lokasi di Jalan Jenderal Sudirman kota Surakarta, untuk mengetahui kondisi sirkulasi dan parkir di Jalan Jenderal Sudirman dilakukandengan metoda survey dan observasi lapangan, serta studi literature. Hasilnya Jalan Jenderal Sudirman menggunakan dua arus lalu-lintas, dilewati mobil, sepeda motor, pejalan kaki, dengan kepadatan lalu-lintas yang tinggi. Sedangkan parkir terdapat di dalam tapak masing-masing bangunan, khusus tapak pada Benteng Vastenburg digunakan untuk parkir umum.Sirkulasi dalam konteks pengendalian arsitektur sudah terbentuk streetscape yang menarik dan unik, sedangkan dalam konteks preservasi bangunan disusun dengan tata masa setback, sehingga tidak mengganggu konstruksi bangunan, dan terdapat hubungan dengan jalan lainnya sehingga mendapatkan keuntungan aksesibilitas ke pusat kota lama Surakarta
KETAATAN TERHADAP REGULASI KOEFISIEN DASAR BANGUNAN SEBAGAI UPAYA UNTUK MEMINIMALISIR TERJADINYA DEGRADASI KUALITAS LINGKUNGAN KOTA SURAKARTA
Setiap kota akan dihadapkan pada kondisi yang akan menunjukkan bahwa ketersediaan lahan untuk menjadi lahan terbangun akan semakin terbatas, hal ini yang akan menjadi melatar-belakangi perlunya ketaatan regulasi terhadap koefisien dasar bangunan agar kualitas lingkungan tetap dapat terjaga dengan baik dan lestari. Permsalahannya menjadi semakin meningkat terjadi pada beberapa koridor jalan potensial yang ada di setiap kota, menyebabkan beberapa kegiatan investasi yang semakin marak berkembang, mencoba untuk dapat merancang setiap bangunan dengan memaksimalkan setiap bagian lahan yang telah diakuisisi, dapat memberi nilai lebih terhadap perhitungan ekonomis (sebagai bentuk upaya investasi yang menguntungkan). Tujuan yang dari penelitian ini adalah diperolehnya upaya untuk mensiasati dilakukan dalam kegiatan perancangan dan pembangunan, dengan mengambil celah pada setiap peraturan yang telah ditetapkan dalam Regulasi tentang Tata Bangunan dan Lingkungan yang berlaku pada setiap bagian kawasan dapat terjaga dengan baik. Metoda penelitian yang digunakan sebagai upaya untuk dapat merunut secara terstruktur aspek-aspek data, analisis, dan hasil yang ingin diperoleh dari kegiatan penelitian yang disusun berdasarkan hipotesis: prediksi atas dis-sinkronisasi pemanfaatan ruang yang dapat menyebabkan terjadinya degradasi kualitas lingkungan (hidup maupun binaan) pada suatu kota, dengan mengambil kasus Kota Surakarta, yang diorientasikan pada pembuktian dari hipotesis yang diajukan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah tersusunnya rancang-bangun dengan memaksimalkan ruang terbangun, dan meminimalkan ruang terbuka (termasuk di dalamnya berbagai ketentuan tentang keberadaan ruang terbuka hijau dan ketetapan tentang upaya yang harus dilakukan dalam menjaga kelestarian dan keseimbangan lingkungan hidup dan lingkungan terbangunnya. Bagi Kota Surakarta yang menjadi kasus dari penelitian ini, melalui kebijakan dari Dinas Tata Ruang Kota (DTRK), Tim Ahli Bangunan Gedung (TABG) menjadi kunci strategis dalam mengawali setiap kegiatan rancang-bangun di Kota Surakarta agar tetap dapat menjaga berbagai kriteria dalam penataan bangunan dan lingkungan, sesuai dengan Ijin Peruntukan Ruang (IPR) untuk setiap usulan kegiatan perancangan bangunan gedung, khususnya yang diprakirakan akan memberi dampak yang signifikan bagi kepentingan aktivitas masyarakat di Kota Surakarta
KAJIAN ULANG MANAJEMEN PENGADAAN JASA PEKERJAAN KONSTRUKSI
Pengadaan barang dan jasa (procurement) dalam proyek konstruksi dapat dilakukan dengan berbagai metode, antara lain : pelelangan umum, pelelangan terbatas, pemilihan langsung dan penunjukkan langsung. Proses pengadaan barang/jasa dalam proyek konstruksi yang menggunakan sistem pelelangan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu : pelelangan pasca kualifikasi dan pelelangan prakualifikasi. Dalam pelelangan pasca kualifikasi, semua penyedia jasa yang memenuhi syarat dapat ikut dalam pelelangan; sedangkan dalam pelelangan Prakualifikasi yang diijinkan ikut adalah penyedia barang / jasa yang lulus kualifikasi diundang oleh pengguna jasa (klien konstruksi). Pengguna jasa / klien konstruksi seharusnya mempunyai kriteria penilaian yang lebih baik dalam memilih kontraktor, di samping pertimbangan wajarnya harga penawaran yang diajukan kontraktor peserta tender. Jika kriteria-kriteria tersebut dapat diidentifikasi dan tingkat kepentingan masing-masing kriteria tersebut diketahui, maka pengembangan model ( framework) pemilihan kontraktor yang objektif dapat dijembatani. Pengguna jasa selanjutnya dapat menerapkan metode pemilihan kontraktor yang obyektif untuk mendapatkan penyedia jasa / kontraktor yang sesuai dengan proyek yang ditawarkan. Pemilihan kontraktor merupakan salah satu tahapan penting yang menentukan keberhasilan proyek konstruksi. Karena itu dalam tahap prakualifikasi untuk memilih kontraktor, seharusnya terdapat faktor kriteria seleksi yang lebih baik; di samping faktor harga penawaran yang diajukan kontraktor. Kajian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang dianggap penting bagi pengguna jasa / klien proyek konstruksi dalam proses pemilihan kontraktor yang meliputi : faktor kemampuan peralatan, kemampuan personil, keuangan, pengalaman kerja, catatan kegagalan, penerapan asuransi dan keselamatan kerja