Teknik Sipil dan Arsitektur
Not a member yet
350 research outputs found
Sort by
PENGGUNAAN STRUKTUR BRESING KONSENTRIK TIPE X UNTUK PERBAIKAN KINERJA STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT TERHADAP BEBAN LATERAL AKIBAT GEMPA
Penelitian ini dilakukan dengan bertujuan untuk melakukan evaluasi struktur gedung pada kondisi terjadinya gempa sebelum dan setelah penambahan bresing X. Analisis menggunakan metode analisis gempa statis dan dinamis dengan bantuan program SAP 2000. Evaluasi dilakukan pada gaya moment (bending moment), gaya geser (shear force), gaya normal (axial force), dan perpindahan (displacement) antara struktur sebelum dan sesudah penambahan bresing X. Berdasarkan analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa kinerja batas layan dan batas ultimit struktur tanpa bresing berdasarkan analisis gempa dinamis tidak tidak aman baik untuk arah X maupun arah Y. Kinerja batas layan dan batas ultimit struktur dengan penambahan bresing alternatif 1 tidak aman untuk arah X sedangkan untuk arah Y sudah aman. Kinerja batas layan dan batas ultimit struktur dengan penambahan bresing alternatif 2 aman untuk arah X dan arah Y. Kinerja struktur dengan penambahan bresing alternatif 2 jauh lebih baik jika dibandingkan struktur tanpa bresing dan struktur dengan penambahan bresing alternatif 1. Penambahan bresing dengan lokasi yang tepat dapat memperbaiki kinerja struktur secara signifikan
PERAN, FUNGSI DAN MAKNA ARSITEKTUR RUMAH LAMIN DALAM BUDAYA ADAT SUKU DAYAK DI KUTAI BARAT KALIMANTAN TIMUR
Arsitektur rumah tinggal secara umum dalam kehidupan manusia memiliki fungsi, peran dan makna universal yang relatif sama, yaitu sebagai tempat berlindung dari kondisi alam dan lingkungan yang tidak bersahabat, sebagai tempat bersosialisasi, berinteraksi dan membina keluarga, sebagai setatus sosial yang mencerminkan pribadi pemilik dalam komunitas masyarakat maupun budayanya, dsb., namun ketika kita telaah lebih dalam teryata ada nilai-nilai yang hanya berlaku pada budaya atau kelompok masyarakat tertentu sementara akan berbeda nilai maupun artinya bagi budaya maupun kelompok masyarakat lainnya, sebagai contoh bagi suku toraja suatu rumah akan memiliki setatus sosial yang tinggi apabila semakin banyak jumlah tanduk kerbau yang disusun di tiang utama bagian depan dari rumah tongkonannya, sementara rumah joglo akan menjadi identitas bahwa pemilik rumah adalah keluarga ningrat atau bangsawan bagi suku jawa, dan lain-lain, meskipun banyak nilai-nilai yang telah mengalami degradasi maupun pergeseran sebagai akibat perkembangan jaman namun bagi beberapa suku budaya ini masih dipegang teguh dan tetap bertahan hingga sekarang. Pulau Kalimantan dengan suku Dayak yang merupakan penduduk aslinya memiliki bentukan arsitektur rumah tinggal yang sangat unik dan khas yang mencerminkan budayanya, yang biasa disebut rumah panjang atau lamin, suku dayak secara umum dikelompokkan menjadi 6 rumpun yaitu rumpun klemantan, iban, apokayan, murut, ot danum-ngaju, dan punan. ke enam rumpun tersebut tersusun atas 268 suku, di Kabupaten Kutai Barat yang merupakan bagian dari Propinsi Kalimantan Timur terdapat 6 kelompok suku dayak yaitu suku Dayak Kenyah, Toonyoi, Benuaq, Bahau, Aoheng, dan Punan, pada ke enam suku tersebut rumah lamin diperankan selain sebagai rumah tinggal bersama secara berkelompok yang didasarkan pada kebersamaan juga berfungsi sebagai pusat kegiatan upacara-upacara ritual maupun persembahan, hal ini dapat terlihat dari patung-patung atau totem yang biasa disebut Blonthang yang di taruh berjajar di depan rumah lamin, demikian pula dengan penggunaan ornamen-ornamen ukiran khas dayak yang berwarna-warni dimana tiap warna melambangkan makna-makna  tertentu
ANALISIS FAKTOR PENGHAMBAT DAN PENDUKUNG KONTRAKTOR DALAM MEMAHAMI DOKUMEN KONTRAK KONSTRUKSI
Kontrak konstruksi merupakan suatu persetujuan yang disepakati bersama oleh pihak-pihak yang melakukan kesepakatan dalam suatu proyek konstruksi. Suatu kontrak harus bebas dari semua terminology yang dapat mempunyai arti yang samar atau ganda. Kata-kata yang bermakna samar atau ganda dapat menimbulkan kesalahan dalam mengartikan dan menafsirkannya sehingga dapat menjadi bibit timbulnya suatu perselisihan. Oleh karena itu sangat penting bagi semua pihak yang terkait dalam kontrak konstruksi untuk mengerti dan memahami apa yang diharapkan dan apa yang akan diberikan oleh masing †“ masing pihak. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor utama yang menjadi penghambat dan pendukung bagi kontraktor dalam memahami dokumen kontrak.Data diperoleh melalui survei kuesioner dengan responden yang diteliti adalah kontraktor yang berada di wilayah Sragen propinsi Jawa Tengah. Analisis dilakukan dengan mencari nilai mean dari hasil jawaban responden, selanjutnya dilakukan perangkingan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Bahasa dalam kontrak menjadi faktor penghambat utama bagi kontraktor dalam memahami dokumen kontrak.Sedangkan faktor utama yang mendukung agar lebih baik dalam memahami dokumen kontrak adalah gambar kerja harus jelas dan diperiksa oleh kedua pihak
PENATAAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) PADA KAWASAN RUMAH PEMOTONGAN HEWAN (RPH) SAMARINDA SEBAGAI UPAYA TERCIPTANYA KAWASAN HIJAU PADA KORIDOR BANDARA SEI SIRING SAMARINDA
Kedudukan RTH akan menjadi penentu keseimbangan lingkungan hidup dan lingkungan binaan. Pada sisi lain rencana tata ruang menjadi landasan dalam mengantisipasi pesatnya perkembangan ruang-ruang terbangun, yang harus diikuti dengan kebijakan penyediaan ruang terbuka. Pada dasarnya perkembangan beberapa kawasan di Kota Samarinda yang karena kondisi dan potensi yang dimiliki perlu direncanakan arah dan bentuk penataan RTH-nya. Dengan demikian perkembangan tata ruang hijau di masing kawasan yang ada pada Kota Samarinda perlu didukung oleh arahan, kebijakan, dan keinginan yang kuat untuk dapat diwujudkan. Pada sisi lain perkembangan pemanfaatan ruang terbangun yang tidak terkendali dengan mengabaikan fungsi dan peran keberadaan ruang terbuka (hijau), akan berakibat pada semakin turunnya efisiensi penggunaan ruang dan lahan yang ada, dan kualitas kehidupan pada kawasan yang bersangkutan. Pada akhirnya berbagai kondisi tersebut terakumulasi dan akan memberi dampak pada beberapa kawasan pendukung di sekitarnya, sehingga menganggu kelangsungan perkembangan kawasan secara menyeluruh, baik yang berujud terganggunya kegiatan fungsional maupun aktivitas yang berlangsung di dalamnya. Koridor yang menghubungkan Kota Samarinda dengan Bandara Sei Siring, pada saatnya akan berkembang sebagai suatu kawasan prestisius dengan tingkat pemanfaatan lahan yang tinggi. Perlu antisipasi sejak awal agar tetap terjaga keseimbangan antara ruang terbuka dengan ruang terbangun. Kawasan yang saat ini diperuntukkan untuk pembangunan RPH, merupakan kawasan stretegis yang bisa di kembangkan sebagai RTH, mengingat fungsi arsitektural dan estetika yang diemban, maupun potensi yang bisa dikembangkan sebagai ikon Kota Samarinda di masa mendatang
TIDAK BERFUNGSINYA JALUR LAMBAT PADA KORIDOR JL. IR SUKARNO SOLO BARU
Hasil Penelitian dengan judul Analisis Pertumbuhan dan Perkembangan Tata Bangunan pada Koridor Jl.Ir.Soekarno Solo Baru menemukan beberapa permasalahan yang timbul akibat pertumbuhan dan perkembangan tata bangunan di koridor Jl.Ir Soekarno Solo Baru diluar tata bangunan yang menjadi topik penelitian. Salah satu permasalahan tersebut adalah tidak berfungsinya jalur lambat pada koridor Jl.Ir.Soekarno Solo Baru. Jalur Jl.Ir.Soekarno yang dulu bernama Jl.Raya Solo Permai yang berada di kawasan kota Solo Baru didesain sedemikian rupa dengan tujuan untuk memberikan pelayanan kepada pengguna jalan yaitu para pengendara kendaraan dan arus lalu lintas kendaran agar berjalan secara teratur, lancar,tertib dan aman, dengan memisahkan kendaraan cepat atau kendaraan bermotor mempunyai jalur terpisah dengan jalur untuk kendaraan tidak bermotor. Namun dalam perkembangannya ( dari pengamatan pada penelitian ini) jalur lambat praktis tidak berfungsi akibat ketidak disiplinan para pemakai jalan, pemilik lahan/bangunan dengan memanfaatkan jalur lambat ini untuk kepentingan bisinisnya atau kepentingan pribadinya. Permasalahan yang lain dengan tidak berfungsinya jalur lambat ini mengundang para pedagang kaki lama yang menjajakan dagangannya di jalur lambat ini. Penelitian dengan judul Analisis Pertumbuhan dan Perkembangan Tata Bangunan pada Koridor Jl.Ir.Soekarno Solo Baru ini akan memberikan penyelesaian masalah yang terjadi baik yang terkait dengan tata bangunan maupun penyelesaian masalah yang terkait dengan jalur lambat ini
MERENCANAKAN DAN MERANCANG RUMAH TINGGAL YANG OPTIMAL
Rumah tinggal bagi manusia merupakan kebutuhan dasar disamping kebutuhan pangan dan sandang. Setelah manusia memenuhi kebutuhan jasmaninya berupa sandang, pangan dan kesehatan, kebutuhan akan tempat tinggal merupakan salah satu motivasi untuk pengembangan tingkatan kehidupan yang lebih tinggi lagi, dalam perkembangannya rumah tinggal tidak hanya sebagai tempat berlindung manusia dari gangguan cuaca dan hewan, namun merupakan sarana peningkatan kebanggaan dan harga diri, serta dinikmati juga keindahannya. Beragamnya tingkat ekonomi, sosial, kebudayaan, politik, pendidikan dan karakter serta subyektifitas manusia akan mempengaruhi disain rumah tinggal yang ditempatiny
PENGATURAN PEMANFAATAN LAHAN UNTUK PENGEMBANGAN JALAN YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN
Pembangunan nasional ditujukan guna meningkatkan taraf kehidupan masyarakat secara adil dan merata. Untuk mewujudkannya maka pemanfaatan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki negara harus dilakukan secara bijaksana dan berkelanjutan. Salah satu prasarana utama adalah diperlukannya pembangunan jalan, karena fungsinya yang vital yaitu sebagai penghubung antar wilayah yang pada akhirnya perekonomian dapat bergerak ke arah yang lebih baik. Pembukaan jalan baru juga dimaksudkan memperpendek dan mempercepat jarak perjalan. Pelebaran jalan, pengembangan jalan dan pembangunan jalan baru membutuhkan lahan yang tidak sedikit, diperlukan pengaturan lahan sehingga tidak mengganggu ekosistem dan keseimbangan alam. Pengunaan lahan untuk pengembangan atau pembuatan jalan baru yang merupakan fasilitas layanan umum untuk masyarakat dalam meningkatkan perekonomian dan transportasi juga harus dilakukan dengan mentaati pengaturan tata ruang wilayah yang ada, sehingga menghindarkan alih fungsi lahan yang kurang tepat misal alih fungsi lahan dari yang produktif/lahan pertaniaan lestari dan kawasan lindung menjadi jalan
PERENCANAAN PERHITUNGAN BIAYA REHABILITASI PERKERASAN JALAN PADA RUAS JL. KYAI MOJO †“ JL. H. KAHARMUZAKIR SURAKARTA
 Pada ruas Jl. Kyai Mojo †“ Jl. H. Kaharmuzakir, Surakarta, perkembangan lalu lintas semakin ramai dan kendaraan berat semakin meningkat, pertumbuhan ekonomi di wilayah antar kota/Kabupaten, khususnya Jl.Kyai Mojo †“ Jl. H. Kaharmuzakir, atau arah dari Mojolaban ke Surakarta atau arah sebaliknya terus meningkat untuk mengimbangi masalah itu maka diperrlukan kelengkapan sarana dan prasarana akses jalan umurn guna menunjang kelancaran transportasi sehingga tingkat perekonomian daerah semakin maju dan berkembang dengan baik. Masalah utama tentunya rehabilitasi sebelum terjadi kerusakan lapis permukaan jalan atau perbaikan jalan akan dapat memperlancar transportasi. Dengan perkembangan yang cukup baik antar kota/kabupaten. Jl. Kyai Mojo †“ Jl. Kaharmuzakir merupakan jalan provinsi adalah termasuk dalam wilayah Kota Surakarta, yang diharapkan akan terjadi perkembangan kota serta pergerakan manusia yang tidak hanya terpusat pada pusat kota sehingga dapat dilakukan perluasan kota ke segala penjuru arah yang pada akhimya akan berdampak baik bagi terwujutnya perkembangan ekonomi, sosial, politik dan transportasi yang aman dan ramah lingkungan. Dari hasil pengamatan dan pembahasan bahwa rehabilitsi jalan menggunakan konstruksi seperti kondisi yang ada yaitu jenis perkerasan lentur. Adapun jenis konstruksi lapis permukaan perkerasan jalan tersebut adalah: Laston/Asphalt Concrere (AC) dengan ketebalan rata-rata 7,5 cm, lebar jalan 7,0 m, bahu jalan 1,0 m. Berdasarkan kiasifikasi jalan ruas Jl. Kyai Mojo †“ Jl. H. Kaharmuzakir, Surakarta ruas jalan tersebut termasuk dalam kategori jalan Kolektor Primer. Besar Anggaran Biaya yaitu Rp.6,945.920,000,00 (Enam milyard Sembilan ratus empat puluh lima juta sembilan ratus dua puluh ribu rupiah) Perencanaan rehabilitasi jalan dimaksud agar lalu lintas jalan bisa dilayani dengan lancar, diharapkan lebar, sehingga kepadatan lalu lintas dapat diberjalan dengan baik nyaman dan aman
KAJIAN HUKUM KONSTRUKSI BANGUNAN UNTUK PELAYANAN PUBLIK
Sektor jasa konstruksi nasional, menjadi salah satu industri yang akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan. Hal tersebut , karena diperkirakan tetap akan terus mencatat pertumbuhan. Yang perlu diwaspadai oleh para pelaku bisnis di bidang ini, adalah perekononian Indonesia akan dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi global dan fundamental ekonomi domestik, serta suasana pesta politik nasional.Dalam rangka menjamin kepstian dan ketertiban hukum penyelenggaraan bangunan gedung, maka setia bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administratif yang meliputi: kejelasan status hak atas tanah, kejelasan status kepemilikan banguan dan izin mendirikan bangunan , yang secara normatif telah dirumuskan didalam ketentuan fundamentalnya yaitu UndangUndang No.28 tahun 2002 tentang bangunan gedung, Peraturan Pemenrintah No. 36 Tahun 2005 tentang bangunan gedung, dan Permen PU nO 24 TAHUN 2006 Tentang Pedoman Teknis Izin Mendirikan Bangunan
TIPOMORFOLOGI TATA LETAK BANGUNAN KANTOR ARSITEKTUR KOLONIAL BELANDA PERIODE TAHUN 1870-1940 DI SEMARANG
Indonesia yang pada masa pra kemerdekaan disebut para leluhur sebagai Nusantara, dari segi penjajah/kolonial Belanda mereka sebut Hindia Belanda. Kolonial Belanda banyak meninggalkan arsitekturnya di masa lalu pada hamper seluruh wilayah negeri ini, tak terkecuali kota Semarang. Semarang sebagai kota pelabuhan, pada era kolonialisme Belanda kota ini berperan strategis bagi penyelenggaraan kegiatan supply pangan, komersial maupun pertahanan keamanan mereka. Antara lain terwujud dalam bangunan kantor.  Pada periode tahun 1870-1940 sejak diterbitkannya Undang-Undang Agraris adanya Cultuurstelsel dan adanya politik etis, hingga pada era surutnya arsitektur kolonial pada tahun 1940, di Semarang terdapat banyak bangunan kantor yang hingga kini masih dilestarikan, meski terdapat pula yang sudah terlanjur didemolisi. Penelitian ini bertujuan untuk menggali macam tipologi dan morfologi bangunan yang berfungsi awal kantor, dalam periode antara tahun 1870-1940. Penggalian tipomorfologinya, ditelusur dari pengaruh arsitektur Belanda dan Negara sekitarnya yang terbawa dan mempengaruhi arsitektur lokal Jawa; baik dalam wujud yang masih kental karakter asal Eropanya, maupun yang lebih berimbang sebagai persenyawaan antara kedua karakternya.Baik dalam aspek tata letak, tata ruang dan bentuk arsitektural. Macam metoda penelitiannya, deskriptik analitis kualitatif. Hasil penelitiannya, macam tipomorfologi bangunan kantor di Semarang, baik yang berlokasi di kota lama Semarang, maupun di luar sekitarnya. Pertama, adalah tipologi sejenis dengan bangunan komersial Eropa abad XVII. Kedua, serupa dengan tipe bangunan kantor merangkap rumah dinas di kota-kota lama di Nederland. Ketiga, Berdenah layaknya bangunan publik masa awal Arsitektur Modern, yang berperencanaan open plan Keempat, kurang spesifik sebagai bangunan karena mirip denah bangunan rumah tinggal