Teknik Sipil dan Arsitektur
Not a member yet
350 research outputs found
Sort by
PERKEMBANGANPERUMAHAN DAN PERMUKIMAN SEBAGAI PENENTU ARAH DAN BENTUK KEBUTUHAN PERMUKIMAN DI PINGGIRAN KOTA
Latar belakang yang melandasi dilakukannya penelitianPerkembangan Perumahan dan Permukiman sebagai Landasan dalam Menentukan Arah dan Bentuk Kebutuhan Permukiman di Pinggiran Kota adalah terciptanya kesinambungan program, untuk mengatasi permasalahan perumahan dan permukiman yang kompleks, karena perumahan dan permukiman merupakan salah satu unsur utama dalam tata ruang wilayah yang berkembang dinamis sesuai perkembangan penduduk. Permasalahan yang terjadi menyangkut belum tersedianya Naskah Akademik, sehingga memberi pengaruh yang sangat besar bagi program pembangunan dan pengembangan perumahan dan permukiman di wilayah perdesaan dan perkotaan belum secara komprehensif memecahkan permasalahan perumahan dan permukiman, sebagai konsekuensi dari pertumbuhan penduduk terjadi perluasan fungsi wilayah dan peningkatan kebutuhan akan perumahan dan permukiman yang tidak terkendali. Tujuan jangka panjang dari kegiatan penelitian ini adalah terstrukturkannya upaya penataan dan mengantisipasi pengembangan dan pembangunan perumahan dan permukiman perdesaan dan perkotaan pada suatu kota/ wilayah. Metodologi yang direncanakan, tersusun atas dua tahapan yang terkait. Tahap pertama, metodologi yang digunakan adalah peran data-base dan naskah akademik untuk memberi arah dan bentuk pengembangan perumahan dan permukiman di perdesaan. Sedangkan tahap kedua metodologi yang digunakan adalah peran data-base dan naskah akademik untuk memberi arah dan bentuk pengembangan perumahan dan permukiman di perkotaan. Pada masing-masing tahapan dilakukan analisis terhadap beberapa kebijakan rencana tata ruang, tata lingkungan, tata bangunan, serta pengembangan dan pembangunan perumahan dan permukiman pada berbagai bentuk kawasan perumahan dan permukiman.Secara keseluruhan diharapkan dapat diperoleh gambaran seutuhnya dari peran data-base dan naskah akademik dalam memberi arah dan bentuk pengembangan perumahan dan permukiman pada suatu wilayah. Manfaat dari penyusunan Naskah Akademik merupakan langkah inovatif bagi pengembangan ilmu perancangan arsitektur, perencanaan kota dan wilayah, serta lingkungan. Mengingat dominasi pemanfaatan ruangnya diharapkan pengembangan dan pembangunan perumahan dan permukiman yang berciri kedesaan dan kekotaan dapat didukung oleh arahan dan pengendalian yang benar untuk menghindari terganggunya kelangsungan perkembangan wilayah, baik kegiatan fungsional maupun aktivitas penduduk di dalamnya
EVALUASI KUAT TEKAN JALAN BETON YANG POLA PEMBANGUNANNYA DENGAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Pembangunan jalan berguna bagi masyarakat untuk menghubungkan antar wilayah, mempermudah pengiriman hasil-hasil produksi ke pasar, meningkatkan jasa pelayanan sosial, kesehatan dan pendidikan. Kerusakan jalan yang terjadi dapat mengganggu terlaksana fungsi pelayanan jalan dan menimbulkan kerugian bagi pengguna jalan seperti: waktu tempuh lebih lama, kenyamanan terganggu, kecelakaan dan lain sebagainya. Salah satu pola pembangunan dilaksanakan dengan pemberdayaan masyarakat, dimana dengan partisipatif dari masyarakat diharapkan hasil pekerjaan pembangunan menjadi lebih baik dan efisien. Pada kenyataannya ditemukan jalan yang sudah mengalami kerusakan sebelum umur layan habis. Untuk itu diperlukan identifikasi kerusakan jalan beton yang telah dibangun sehingga didapatkan solusi yang tepat untuk perbaikannya.Tahapan penelitian ini meliputi : penentuan dimensi jalan beton dan dimensi slab beton dengan pengukuran, identifikasi kerusakan jalan dengan observasi langsung di lokasi, dilanjutkanevaluasi kualitas perkerasan beton dengan hammer test. Hasil penelitian menemukan 10 tipe kerusakan jalan beton, meliputi : penurunan atau patahan (settlement atau faulting), pelat terbagi (divided slab), retak sudut (corner cracking), retak memanjang (longitudinal cracking), retak melintang (transversal craking), kerusakan penutup sambungan (joint seal damage), gompal sambungan (spalling joint), lepasnya agregat (scaling), agregat licin (polished aggregate), pemompaan (pumping). Hasil hammer test menyatakan bahwa kuat tekan perkerasan beton rata-rata yang dihasilkan bermutu rendah, yaitu 123,10 kg/cm2. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa salah satu faktor penyebab kerusakan jalan beton yaitu kualitas beton yang rendah
STRESS ANALYSIS OF REDUCED BEAM SECTION STEEL MOMENT CONNECTION (AISC 358-2005)
Earthquakeresistant building structures should be properly andappropriately designed, especially in the planning and detailing of the beam - column connections. Thecollapse mechanism of seismic building shall occur plastichinge first and the column is still in elastic condition (strong column weak beam).AISC 358-2005 provides type of steel connection for seismic buialding. In the regulation mentioned that the connection is used in the structure with the Special Moment Frames (SMF) and Intermediate Moment Frames (IMF), one of the connection types is reduced beam section. Reduced Beam Section (RBS) moment connection, portionsof the beam flangesare selectively trimmed in the region adjacent to the beamtocolumn connection. Result modeling RBS on FEM, the top of the beam occur tensile strenght 1367kN/m2, the bottom of the beam has a compressive stress 2943kN/m2, the beam web has a tensile stress 1281kN/m2, the face of the column occur tensile stress 667kN/m2 and the column web 857kN/m2. The shear stress in the beam web is largest (857kN/m2) than on the beam flange (275kN/m2), and the shear stress on the column is smaller (503kN/m2)
PENGARUH PERUBAHAN FUNGSI PUBLIC SPACE TERHADAP KAWASAN DISEKITARNYA STUDI KASUS TAMAN BANJARSARI SURAKARTA
Sebagai bagian dari rencana tata ruang kedudukan public space akan menjadi penentu keseimbangan lingkungan hidup dan lingkungan binaan. Rencana tata ruang menjadi landasan dalam mengantisipasi pesatnya perkembangan ruang-ruang terbangun, yang harus diikuti dengan kebijakan penyediaan ruang terbuka, oleh sebab itu public space merupakan elemen penting keberadaannya yang tanpa disadari baik secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kawasan disekitarnya. Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai bagian dari penataan ruang kota perlu ditetapkan keberadaannya secara serius, direncanakan secara menyeluruh dan diperkuat dengan peraturan yang tegas untuk memperjelas status hukumnya. Latar belakang pemikiran yang digunakan sebagai landasan Penelitian Pengaruh Perubahan Fungsi Public Space terhadap Kawasan disekitarnya dengan study kasus Taman Banjarsari Surakarta didasarkan pada proses, tahapan dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan fungsi dan aktifitas di kawasan Taman Banjarsari dari sejak dibangun hingga sekarang. Dari hasil penelitian diharapkan dapat diketahui bagaimana pengaruh yang ditimbulkan oleh adanya perubahan fungsi ruang terbuka publik pasif menjadi ruang terbuka publik aktif pada taman Banjarsari Surakarta terhadap kualitas kawasan di sekitarnya. Dengan demikian pengembangan dan pengelolaannya lebih terarah serta dapat menghindari perubahan fungsi Ruang Terbuka Hijau menjadi fungsi lainnya, dan mengupayakan terciptanya Kota Hijau sebagai bagian dari Ruang Terbuka Publik di kawasan perkotaan. Pada proses analisis, terdapat variabel penelitian yang dibangun dari kajian teori, yang dianalisis menggunakan metode kuantitatif rasionalistik. Temuan studi menunjukkan perubahan kualitas kawasan pemukiman di sekitar taman Banjarsari pasca perubahan fungsi dan variabel fungsi taman Banjarsari yang berpengaruh paling signifikan terhadap perubahan tersebut, yang kemudian akan ditarik menjadi kesimpulan
PENGEMBANGAN POTENSI BAMBU SEBAGAI BAHAN BANGUNAN RAMAH LINGKUNGAN
Dewasa ini planet bumi sedang menghadapi anomali perubahan iklim yang cukup mengancam kelangsungan kehidupan semua makluk di planet ini, sehingga semua pihak dituntut untuk mampu menekan kegiatan yang menimbulkan emisi krbon dengan teknologi, alat, maupun sistem yang lebih ramah lingkungan. Penyumbang terbesar terjadinya global warming atau pemanasan global adalah penggunaan bahan bakar minyak bumi atau bahan bakar fosil sebagai sumber energi utama untuk menggerakan mesin-mesin industri, kendaraan bermotor, antara lain mobil, motor, kereta api, kapal laut sampai dengan pesawat terbang yang jika diakumulasi penggunaannya diseluruh dunia maka akan menjadi penyumbang sumber emisi karbon yang terbesar, disamping hal tersebut percepatan terjadinya global warming ini dipicu karena semakin menipisnya luasan hutan di muka bumi karena guna memenuhi berbagai kepentingan dan tuntutan kebutuhan manusia sehingga dari tahun ke tahun semakin besar hutan yang di babat sehingga berubah menjadi lahan pertanian, perkebunan bahkan jadi kwawasan hunian. Bertolak dari kondisi tersebut saat ini semua industri telah berlomba-lomba mencari solusi teknologi yang ramah lingkungan, banyak negara telah mengemmbangkan sumber-sumber energy alternatif yang ramah lingkungan dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil antara lain dengan solar cell, pembangkit listrik tenaga panas bumi, PLTA, pembangkit listrik Tenaga Angin dsb. Dunia Arsitektur merupakan penyumbang terjadinya percepatan global warming karena setiap tahun dibangun puluhan juta rumah diseluruh muka bumi dan mayoritas rumah -rumah ini dibangun dengan bahan dasar kayu sehingga secara otomatis mempercepat terjadinya perusakan hutan karena kebutuhan sebagai bahan bangunan, meskipun hutan yang dibabat dapat ditanami kembali namun butuh waktu yang sangat lama untuk pulih, paling cepat 30 tahun, sedangkan kayu-kayu tertentu butuh sampai ratusan tahun untuk pulih kembali menjadi hutan, dunia arsitektur juga tidak ketinggalan dengan inovasi-inovasi barunya yang telah melahirkan banyak bangunan maupun kawasan yang telah menerapkan konsep maupun teknologi arsitektur ramah lingkungan Bambu dapat menjadi salah satu alternatif bahan bangunan yang ramah lingkungan,yang dapat menggantikan kayu, karena bambu mudah untuk dibudidayakan, dapat hidup dengan baik hampir disemua jenis tanah, mulai dari dataran rendah hingga tinggi, dan relatif singkat untuk bisa dipanen dan setelahnya dapat dipanen secara terus-menerus
ANALISIS FAKTOR DOMINAN RESIKO BIAYA PADA PELAKSANAAN PROYEK KONSTRUKSI GEDUNG DI SURAKARTA
Pekerjaan konstruksi merupakan pekerjaan yang banyak mengandung risiko, salah satunya adalah risiko biaya. Biaya adalah salah satu komponen penting dalam pelaksanaan proyek konstruksi gedung selain sumber daya material, pekerja dan waktu. Penggunaan biaya yang melebihi anggaran yang ditentukan merupakan pembengkaan biaya terhadap anggaran tersebut, sehingga akan merugikan perusahaan. Agar pembengkaan ini tidak terjadi, maka kontraktor perlu mengetahui faktor-faktor dominan yang menyebabkan terjadinya penyimpangan biaya. Analisis faktor resiko biaya pada tahap pelaksanaan proyek konstruksi gedung ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk dapat mengetahui faktor-faktor dominan yang menyebabkan pembengkaan biaya. Penelitian dilakukan di Surakarta dan data diperoleh melalui survei kuesioner dengan responden yang diteliti adalah kontraktor yang pernah terlibat dalam pelaksanaan pembangunan konstruksi gedung. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Untuk mengetahui keakuratan data dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Untuk mengetahui faktor dominan yang dapat mengakibatkan pembengkaan biaya dilakukan analisis mean dan analisis faktor. Faktor-faktor dominan yang dapat menimbulkan resiko pembengkaan biaya pada tahap pelaksanaan konstruksi gedung yang pertama adalah Faktor perencanaan dan profesionalisme yang terdiri dari spesifikasi material yang kurang jelas, metode pelaksanaan yang kurang tepat, keterlambatan pengadaan material di lapangan, pengetahuan dan pengalaman subkontraktor yang kurang, kesalahan dan keterlambatan dalam pengambilan keputusan, teknik dan metode estimasi yang kurang tepat, Kurangnya kedisiplinan kerja. Yang kedua adalah Faktor lingkungan dan estimasi yang terdiri dari terjadi huru-hara, lingkungan proyek yang tidak aman, dan Kecakapan estimator. Yang ketiga adalah Faktor material yang terdiri dari kelangkaan material di pasaran dan kelemahan dalam perencanaan logistik. Faktor paling dominan yang dapat menimbulkan resiko pembengkaan biaya pada tahap pelaksanaan konstruksi gedung adalah Faktor Perencanaan dan Profesionalisme sebesarnya 35,21 %, selanjutnya Faktor Lingkungan dan Estimasi besarnya 21,47 % kemudian Faktor Material sebesar 10,04 %
GATED COMMUNITY Studi Kasus: Perumahan Casa Grande di Yogyakarta
Gated community merupakan bagian dari kota dan kemunculannya juga tidak lepas sebagai dampak dari perkembangan kota itu sendiri. Di lain pihak gated community juga tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia karena keberadaannya merupakan pengaruh dari pergeseran gaya hidup manusia yang semakin hari semakin berkembang. Kehidupan manusia di jaman sekarang selalu dipenuhi oleh kesibukan & aktivitas, hingga akibatnya gaya hidup yang dijalani adalah gaya hidup individualis. Oleh karena itulah, tepat jika dikatakan bahwa fenomena gated community di perkotaan memang tidak terelakkan. Kini hampir semua kota di dunia memiliki gated community dengan karakteristik dan latar belakang yang berbeda-beda. Di Indonesia sendiri, gated community yang ada menunjukkan karakteristik yang berbeda dari gated community pada umumnya. Walaupun membatasi diri dengan dinding dan pagar di sekelilingnya, Gated community di Indonesia masih mengizinkan orang luar bukan penghuni untuk masuk dan menikmati sebagian fasilitas yang ada. Kondisi yang seperti ini tidak lain disebabkan oleh adanya peraturan pembangunan perumahan oleh pengembang yang mengatur agar sebagian lahan yang dibangun tersebut menyerahkan fasilitas umum dan fasilitas sosial yang terdapat di dalamnya, ke pemerintah daerah setempat agar dapat dipergunakan oleh publik. Peraturan inilah yang menyebabkan pola-pola perumahan yang ada di Indonesia umumnya berbentuk cluster-cluster yang terkumpul dalam satu kompleks. Namun, aplikasi di lapangan khususnya gated community Casa Grande berbeda, fasilitas umum warga berupa jalan tidak dapat digunakan oleh masyarakat sekitar. Jalan tersebut hanya dikhususkan kepada penghuni perumahan. Fasilitas pendukung juga hanya dapat digunakan oleh masyarakat yang terdaftar sebagai member. Untuk menjadi member fasilitas tersebut, warga sekitar perumahan tidak mampu mengingat pendapatan mereka yang rendah
INTERAKSI ANTARA UPAYA KONSERVASI ARSITEKTUR DENGAN PENGEMBANGAN PUSAT KOTA LAMA KOLONIAL DI SURAKARTA
Dalam suatu kota seumumnya terdapat konflik-konflik dan ketidak pastian antara konservasi lingkungan dan bangunan dengan pengembangan pelayanan umum, jasa komersial dan fasilitas budayanya. Sektor formal ekonomi perkotaanpun berkonflik dengan sector ekonomi informal. Kebijakan yang awalnya merupakan kebijakan pusatpun berkonflik dengan harapan dan kepentingan daerah setelah kota-kota berstatus otonom. Kesemua interaksi dimaksud menimbulkan kekacauan visual; kekumuhan, pelanggaran atas lingkungan dan bangunan yang dikonservasikan, marjinalisasi masyarakat kelas ekonomi bawah, menimbulkan penurunan kualitas lingkungan-lingkungan fisik, alami dan sosial. Tujuan penelitian, untuk mendapatkan model perancangan perkotaan tersesuai bagi pusat kota lama kolonial Surakarta, berkarakteristik interaksi antara upaya konservasi arsitektur dengan pengembangan pusat kota. Terujinya tingkat keefektifan dan feasibilitas model interaksi dimaksud, sebagai salah satu bahan pertimbangan untuk mengendalikan interaksi dimaksud. Metoda penelitiannya adalah penelitian kualitatif, berketerpaduan faham rasionalistik dan naturalistik. Hasil penelitian adalah design guidelines model interaksi antara upaya konservasi arsitektur dengan pengembangan di pusat kota lama colonial di Surakarta, bergradasi tema interaksi
KEKELIRUAN PERSEPSI DALAM PENYEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU DI PENGGAL JALAN YOSODIPURO SURAKARTA
Ruang terbuka kota serta jalur pedestrian merupakan dua dari delapan elemen fisik perancangan kota yang harus terdapat dalam perancangan kota. Ruang terbuka kota dapat berbentuk ruang terbuka hijau (RTH), maupun ruang terbuka non hijau (RTNH) sebagaimana: jalan, jalur pedestrian; maupun badan air. Di antara bermacam-macam fungsi utama ruang tata hijau, adalah menjadi bagian dari sistem sirkulasi udara kota, sebagai peneduh, produsen oksigen. Di tengah situasi perubahan iklim global yang berdampak kerusakan lingkungan dan bencana yang semakin memprihatinkan, sebagai responnya adalah pasal 63 UU Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH): prinsipnya pemerintah bertugas dan berwenang membina dan mengawasi pelaksanaan kebijakan nasional, peraturan daerah, dan peraturan kepala daerah, dengan salah satu instrumen pembinaan dan pengawasan berupa: Program Menuju Indonesia Hijau (Program MIH). Ini dilatarbelakangi oleh makin merosotnya luasan RTH di Surakarta hingga 11,9 %. Kementerian Pekerjaan Umum terdorong untuk mewujudkan Kota Hijau sebagai metafora Kota Berkelanjutan, yang mendorong timbulnya  Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) bagi setiap kota, antara lain di Surakarta. Diduga terdapat kekeliruan persepsi dan bagi perencana dan pelaksanaan pelaksana P2KH dalam penambahan RTH, sehingga jalur-jalur pedestrian pada beberapa bagian penggal-penggal jalan di kota Surakarta, antara lain di penggal jalan Yosodipuro dari perempatan Monumen Pers Nasional†“pertigaan dengan Jalan dr. Muwardi yang merupakan RTNH berubah menjadi RTH. Jalur pedestrianpun menghilang. Penelitian ini bertujuan untuk menggali macam kekeliruan persepsi dalam penyedian RTH pada penggal jalan Yosodipuro dari Monumen Pers Nasional-pertigaan dengan jalan dr. Muwardi. Macam metoda penelitiannya, deskriptik analitis kualitatif. Hasil penelitiannya, terdapat enam kelompok tema yang dirinci dalam sembilan macam tema kekeliruan dalam dan solusi penganggulangannya bagi pihak-pihak terkait di Surakart
REVITALISASI SITUS MASJID KAUMAN-PLERET SEBAGAI UPAYA REKONSTRUKSI KEHIDUPAN RELIGI PADA ZAMAN KERAJAAN MATARAM ISLAM
Masjid Kauman-Pleret merupakan salah satu tempat bersejarah yang memilikinilai penting ilmu arkeologi. Sebagai cabang ilmu pengetahuan tujuan   arkeologiantara lain adalah melakukan rekonstruksi kehidupan manusia pada masa lampau.Keberhasilan mengkisahkan kembali kehidupan atau peristiwa yang terjadi pada masalampau sangat ditentukan oleh keberadaan artefak dan sumber informasi lainnya.Kecanggihan metodologi   sebaik apapun tidak akan mampu menghasilkan suaturekonstruksi sejarah, tanpa ketersediaan data.Sebagaimana yang terjadi dalam beberapa lingkungan di mana terdapat bendadan atau bangunan cagar budaya, yang tidak atau belum mampu memberi implikasilangsung secara ekonomi, cenderung belum dikelola secara baik, kondisi ini terjadikarena sebagian peraturan tentang pengelolaannya masih bersifat peraturan secaraumum,  sehingga  belum  mampu  berfungsi  sebagai  alat  pengendali  pada  tingkatoperasional di lapangan. Oleh karena itu upaya penanganannya tidak mungkin dapatdilaksanakan tanpa melalui peraturan yang mampu menjangkau ke arah pengendalianarsitektur bangunan secara tiga dimensional. Diperlukan upaya-upaya penataan yangmampu menjembatani pembangunan fisik di suatu lingkungan di mana terdapat bendacagar budaya yang akan dilestarikan, sebagaimana yang ada pada Situs MasjidKauman-Pleret.Kata Kunci: Situs, Cagar Budaya, Masjid Kauman, Rekonstruksi Relig