Teknik Sipil dan Arsitektur
Not a member yet
350 research outputs found
Sort by
PROSPEK REVITALISASI EKS PABRIK GULA COLOMADU KARANGANYAR TERHADAP PERKEMBANGAN KOTA KARANGANYAR DAN SURAKARTA
Eks  Pabrik  Gula  (PG)  Colomadu Karanganyar  merupakan salah satu dari dua  buah pabrik  gula  di Karanganyar  sebagai peninggalan Sri Paduka  Mangkunegara  IV  (MN IV). Karenanya MN IV juga dikenal sebagai Bapak Gula. Lokasi PG Colomadu di Kecamatan  Colomadu,  suatu  enclave  dari  Kabupaten  Karanganyar  di  seb elah  barat Surakarta. Sedangkan PG Tasikmadu berlokasi di kecamatan Tasikmadu, di dekat Kecamatan  Kabupaten  Karangnyar,  di  sebelah  timur  Surakarta.  Dalam perkembangannya  PG  Tasikmadu  masih  beroperasi,  sedangkan  PG  Colomadu  tidak lagi.  Dengan  kehadiran  PG  ini,  Kabupaten  Karanganyar  sebagai  hinterland  kota Surakarta berkaitan dengan perkembangan kota Surakarta. Revitaslisasi PG Colomadu selain untuk menyelamatkan arsitektural dan aset-aset pabriknya, untuk menumbuhkan kembali  nilai-nilai  penting  Cagar  Budaya  dengan  penyesuaian fungsi ruang baru yang tidak  bertentangan  dengan  prinsip  pelestarian  dan  nilai  budaya  masyarakat,  menjadi solusi  tepat  untuk  menghentikan  vandalisme  yang  melanda  peninggalan  arsitektural jaman   peninggalan   kolonial  Belanda   ini.   Pembahasan   revitalisasinya   ini  untuk mengetahui  apa  posisi  dan  makna  hasil  revitalisasinya  nanti  terhadap  perkembangan kota  Karanganyar  sendiri  dan  kota  Surakarta.  Dengan  metode  deskriptif  analitik kualitatif,  dihasilkan  bahwa  hasil  revitalisasi  bangunan  beserta  kawasannya  dimaksud akan  menjadi  ikon  baru  penanda  (landmark)     lingkungan  yang  menambah  dan merupakan rangkaian daerah tujuan wisata di daerah Karanganyar  dan Surakarta
ANALISIS RESIKO TAHAP ENGINEERING DESIGN PADA PEMBIAYAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI PROYEK EPC (Studi Kasus : Asam-Asam CPP And OLC Project, PT. Krakatau Engineering)
Dalam  tahap  perencanaan  atau  engineering  perusahaan EPC  harus  mempunyai sumber daya  manusia  yang  sangat  tinggi.  Mengingat  kompleksitas  pekerjaan,  pada  tahap  ini harus  mempunyai  konseptual  dari  basic  engineering  design  sampai  detail  engineering design yang matang. PT. KE adalah perusahaan EPC yang telah melaksanakan beberapa pekerjaan konstruksi dengan jenis kontrak EPC. Salah satu pekerjaan pada tahun 2011 adalah  Asam-Asam  CPP  And  OLC  Project.  Pada  kajian  analisis  resiko  engineering terhadap  biaya  ini  digunakan  skala  likert.  Responden  memberikan  penilaian  pada variabel resiko yang kemungkinan terjadi dan dampak terhadap pembiayaan. Dari hasil penelitian  yang  dilakukan,  responden  menyatakan  bahwa  variabel  resiko  yang  ada sebanyak 57 variabel tersebut merupakan variabel yang dominan pada tahapan engineering.Tahap  basic  engineering,  variabel  yang dominan adalah manajemen perusahaan dimana untuk satu sumber daya manusia diperuntukan bagi berbagai proyek yang  ditangani  perusahaan.  Sumber  daya  manusia  sebagai  kebutuhan  utama  dalam proses  desain  engineering  menjadi  resiko  yang  dominan,engineer  harus  bekerja  secara matrik dan jadwal penyelesaian pekerjaan yang ketat. Tahap detail engineering variabel dominan produk  desain engineering yang ekonomis berdampak pada biaya yang cukup besar. Dalam proses detail desain dituntut menghasilkan desain yang optimal dan sesuai dengan  kebutuhan  pekerjaan  lapangan.  Karena  pada  tahal  detail  desain,  hasil  desain sudah harus bisa diaplikasikan dan meminimalisasi ketidak sesuaian saat dilakukan pemasangan. ÂÂÂ
PENELUSURAN BENTUK ARSITEKTUR BANGUNAN STASIUN KERETA API JAMAN KOLONIAL DI YOGJAKARTA
Arsitektur kolonial merupakan ragam atau gaya arsitektur yang dibangun pada era Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Bangunan-bangunan yang berkesan grandeur (megah) dengan gaya arsitektur Neo Klasik. Periode gaya arsitektur Kolonial berkembang sejak tahun 1884 yang sampai sekarang masih banyak yang berdiri dengan kokoh .Kota Yogjakarta banyak memiliki bangunan bangunan peninggalan jaman Belanda dengan gaya arsitektur kolonial, salah satu contoh bangunan peninggalan sejarah tersebut bangunan stasiun kereta api. UU RI No 5 Th 1992 pasal 1 & 2 tentang Perlindungan Bangunan Cagar Budaya bahwa, setiap benda yang mempunyai nilai sejarah dan budaya yang tinggi merupakan benda arkeologi serta berusia minimal 50 tahun wajib untuk dilestarikan serta dipertahankan dengan cara konservasi, renovasi maupun revitalasi.Penelitian dengan judul Penelusuran Bentuk Arsitektur Bangunan Stasiun Kereta Api Jaman Kolonial dilakukan karena adanya permasalahan bahwa banyak bangunan peninggalan jaman kolonial khususnya bangunan Stasiun Kereta Api di kota Yogjakarta ini yang sudah banyak mengalami perubahan baik berubah fungsi , bentuk bahkan sudah banyak yang mengalami kepunahan.Kajian dilakukan melalui penelusuran bentuk - bentuk bangunan stasiun yang masih ada, kemudian dilakukan penganalisaan dari bentuk bangunan stasiun satu dengan lainnya. Hasil dari penelitian ini diharapkan mendapatkan suatu cara atau metode dalam rangka untuk ikut melestarikan bangunan cagar budaya tersebut. Manfaat yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah dapat dipakai sebagai acuan atau pedoman dalam rangka kegiatan pelestarian bangunan dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu sejarah budaya bangsa
COMPRESSIVE STRENGTH OF GEOPOLYMER LIGHTWEIGHT CONCRETE WITH COMPARISON OF RICE HUSK ASH AND ALKALI ACTIVATOR 50% -50% IN CURING TIME VARIATIONS
Today, concrete is a very important building material material in construction. Geopolymers are concrete technologies that utilize polymerization reactions in the binding process. The main arrangement of this geoplimer material is silica and alumina (aluminum silica hydroxide). Silica material used is derived from inorganic materials that have high silica content. Rice husk ash is one of the industrial by-products that have high silica content. Rice husk ash resulting from burning bricks reaches a temperature of 400o C and has a silica content of around 85%. High silica content in rice husk ash can be used as a binding material in geopolymer concrete. The study carried out on lightweight geopolymer concrete rice husk ash with a ratio of rice husk and alkali activator ratio is 50%:50%, in the variation of curing time 12 hours and 24 hours. It was concluded that the compressive strength of geopolymer concrete from rice husk ash increases with the duration of curing time
KAPASITAS LENTUR BALOK BETON BERTULANG PERKUATAN CARBON FIBER WRAPS (CFW) (BALOK DIBEBANI OLEH BEBERAPA KONDISI PEMBEBANAN AWAL DAN KEMUDIAN DIPERKUAT DENGAN CFW)
Penggunaan struktur beton bertulang pada suatu bangunan sudah lazim. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kekuatan lentur ultimit oleh tambahan carbon fiber wraps (CFW) pada balok beton bertulang yang sudah dan sedang dibebani oleh beban mati. Dalam penelitian ini digunakan 4 buah Benda uji balok, terdiri dari : 1 balok kontrol (BK), dan 1 balok yang diperkuat dengan CFW tanpa beban awal (BP 0%), serta 2 balok yang diperkuat dengan CFW setelah balok dibebani 30% dan 60% beban ultimit (BP 30% dan BP 60%). Balok memiliki lebar 150 mm, tinggi 200 mm, dan panjang 2000 mm. Balok sederhana dengan dua tumpuan dikedua ujungnya dibebani terpusat tepat di tengah bentang. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan terhadap BK yaitu balok BP 0%, BP 30%, dan BP 60% mengalami peningkatan kekuatan secara berturut-turut sebesar 114,28%; 108,57%; dan 105,71%. Kapasitas lentur hasil eksperimen dibandingkan dengan hasil teoritis secara berturut-turut pada BK, BP 0%, BP 30 %, dan BP 60% yaitu 94,42%, 102,78%, 97,68%, dan 94,41%. Kekakuan kondisi retak pada beban 7 kN terhadap BK yaitu balok BP 0%, BP 30%, dan BP 60% mengalami peningkatan kekakuan secara berturut-turut sebesar 117,27%; 96,99%; 90,20%. Daktilitas terhadap BK yaitu balok BP 0%, BP 30%, dan BP 60% mengalami peningkatan daktilitas secara berturut-turut sebesar 45,90% , 63,97%, 45,47%. Pola keruntuhan yang terjadi pada BK, BP 0%, BP 30%, dan BP 60% adalah keruntuhan lentur
STUDI PERMASALAHAN LINGKUNGAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) MINAPADI (Obyek Amatan: Jembatan Kandangsapi-Terminal Pedaringan di Surakarta)
Berbagai kawasan di Indonesia, terutama di kota-kota besar termasuk di Kota Surakarta sudah mulai banyak yang mengalami kerusakan lingkungan, sehingga ekosistem yang telah ada menjadi terganggu. Salah satunya adalah kawasan DAS Minapadi. Hal inilah yang sebenarnya harus dicegah. Kegiatan membangun merupakan hal utama yang paling banyak merusak lingkungan, karena dalam membangun biasanya melakukan pembukaan kawasan yang luas dengan menebangi pohon-pohon dan vegetasi lainnya. Dalam penelitian ini menggunakan cara pandang rasionalistik empiris, dimana permasalahan lingkungan yang dilihat akan dipaparkan secara logic. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, dimana permasalahan lingkungan yang terjadi akan di gambarkan lewat narasi, dan didukung dengan foto-foto kondisi eksisting kawasan. Melihat kondisi fisik biotik, keberadaan hutan kota yang ada sekarang di kawasan DAS Minapadi Surakarta harus tetap dipertahankan, jangan sampai hilang karena adanya pembangunan bangunan-bangunan baru dan rumah-rumah semi permanen penduduk nantinya. Hilangya hutan kota yang ada di kawasan DAS Minapadi ini akan mengakibatkan meningkatnya suhu udara pada kawasan tersebut dan juga mengancam punahnya fauna yang masih ada di dalam hutan-hutan kota tersebut, dan hal inilah yang tidak diinginkan. Oleh sebab itu perlu dibuatkan tata guna lahan yang di dalamnya mengatur secara jelas dan detail mengenai fungsi guna lahan, mana yang boleh dibangun dan tidak. Pembuatan taman di DAS Minapadi diharapkan memberikan manfaat kepada masyarakat sebagai ruang terbuka publik dan disisi lain sebagai kawasan yang tetap menjaga keseimbangan lingkungan biotik dan abiotik. Dana pemeliharaan (maintenance) taman kota yang berfungsi sebagai kawasan hutan lindung, harus dianggarkan dari awal, sehingga kedepannya keberadaan hutan-hutan kota ini akan tetap terjaga
PATTERNS AND INDICA ARCHITECTURE STYLE AS A WEALTH OF CULTURE IN SUPPORTING SPECIAL INTEREST TOUR IN THE CITY OF YOGYAKARTA
Heritage and Cultural Heritage objects loaded with historical and cultural content have a high level of significance to be preserved. This position is reinforced by the resence of a set of legislation that is highly relevant to this need. The parent is the Law of the Republic of Indonesia Number 5 of 1992 on Heritage Objects. Mentioned in the reamble of the Act that the Heritage Preserve is important to be preserved is for the sake of maintaining local identity. For the city of Yogyakarta, it is clear that the Objects of Cultural Heritage and Heritage which became one of the forerunner of ancestral cultures, is a form of identity and a source of pride for the community that should not be eliminated. Heritage and Cultural Heritage objects need to be preserved, not just social cultural life, but also all artifacts, ’petilasan’s and objects that are left with the life of the past. Understanding of Architectural Research and some matters relating to Heritage and Cultural Heritage by architectural style need to be understood. In this research research, limited to Pattern and Style of Architecture in Indie Period which during the past period grow and develop as Heritage and Cultural Heritage objects in Yogyakarta City. Bintaran area becomes a sample of this research activity because of the development of style and pattern of Architecture of Building
TERCIPTANYA RUANG TERBUKA HIJAU KOTA di SURAKARTA TERKAIT SURAKARTA SEBAGAI KOTA LAYAK ANAK
Sebuah kota /kabupaten sebagai kota layak anak adalah merupakan kumpulan dan akumulasi dari program yang ada pada beberapa kementerian. Karena itu, tidaklah heran kalau program kota layak anak akan memberi manfaat secara langsung kepada anak-anak, karena perspektifnya bukan pada anak tapi program sektoral. Penerapan kebijakan kota layak anak ini pun tak bisa dipisahkan dari karakter masing-masing kota. Meskipun bertujuan sama, belum tentu kota satu dan lainnya mempunyai hasil yang sama dalam pengimplementasian sebuah kebijakan yang sama Setiap kota adalah organisme yang spesifik dengan karakter yang spesifik pula. Upaya penerapan kebijakan ini memerlukan sebuah kajian mendalam dan panjang. Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang semakin berkurang akan menimbukan masalah tersendiri bagi suatu kota mengingat RTH diarahkan untuk pemenuhan kuota 30% dengan berbagai peningkatan baik secara kualitas maupun kuantitas. RTH suatu perkotaan merupakan bagian terpenting dari sistem penataan Tata Ruang baik RTH pasif maupun aktif. RTH aktif merupakan program pemerintah Surakarta. Taman yang dibangun memiliki fungsi beragam yang utamanya untuk pendidikan anak. Dengan mencoba menampilkan konsep yang berbeda dalam pembangunan taman. Taman RPTRA dibangun dekat dengan permukiman warga, terutama warga miskin. Sehingga RPTRA dapat berperan sebagai community center bagi masyarakat sekitar. Proses pembangunan RPTRA juga melibatkan masyarakat sekitar. Bahkan perawatan taman juga dilakukan oleh masyarakat di sekitar, RPTRA memposisikan warga sebagai pemilik dan pengelola taman, bukan sekadar penikmat tama
PERAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL SEBAGAI UPAYA STRATEGIS DALAM PENINGKATAN EKSISTENSI KEDAULATAN MARITIM INDONESIA
Latar belakang dilakukannya penelitian adalah terciptanya kesinambungan program, untuk mengatasi permasalahan pemanfaatan ruang yang kompleks, karena merupakan salah satu unsur utama dalam tata ruang pembangunan. Permasalahan yang terjadi menyangkut belum tersedianya arahan dan bentuk spesifik pemanfaatan ruang, sehingga memberi pengaruh yang sangat besar bagi program pembangunan dan pengembangan pemanfaatan ruang di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang yang tersebar luas di Indonesia. Adanya indikasi intervensi yang masif pemanfaatan ruang oleh asing yang cenderung mengabaikan ekosistem darat dan perairan. Tujuan jangka panjang dari kegiatan penelitian ini adalah terstrukturkannya upaya penataan dan mengantisipasi pengembangan dan pembangunan pemanfaatan ruang khususnya di wilayah pesisir, dan pulau-pulau kecil sebagai upaya strategis dalam peningkatan eksistensi kedaulatan maritim dan sumberdaya perairan Indonesia. Metodologi yang direncanakan adalah peran pengembangan pemanfaatan ruang di wilayah pesisir, dalam upaya strategis dalam peningkatan eksistensi kedaulatan maritim dan sumberdaya perairan Indonesia. Diharapkan dapat diperoleh gambaran seutuhnya dari pembangunan pemanfaatan sebagai lahan budidaya dan pariwisata sebagai upaya strategis dalam peningkatan eksistensi kedaulatan maritim dan sumberdaya perairan Indonesia. Manfaat dari penelitian ini adalah terciptanya langkah inovatif bagi pengembangan ilmu perancangan arsitektur, perencanaan kota dan wilayah, serta lingkungan. Mengingat dominasi pemanfaatan ruangnya diharapkan pengembangan dan pembangunan pemanfaatan ruang yang berciri khas pesisir dan pulau-pulau kecil dapat didukung oleh arahan dan pengendalian yang benar untuk menghindari terganggunya kelangsungan perkembangan wilayah, baik kegiatan fungsional maupun aktivitas investasi budidaya dan pariwisata pulau-pulau kecil di dalamnya
ANALISIS STRUKTUR SISTEM RANGKA PENAHAN MOMEN BIASA PADA BERBAGAI JENIS TANAH BERDASARKAN DISPLACEMENT DAN DRIFT
Dalam suatu proyek perencanaan bangunan gedung pasti memiliki keunikan sendiri dan selalu berbeda dengan dengan proyek lainnya. Suatu perencanaan bangunan yang mempunyai lokasi tertentu pasti memiliki jenis tanah yang berbeda pula dengan lokasi lainnya. Bangunan yang terletak pada wilayah gempa tertentu dengan percepatan puncak batuan dasar periode ulang 500 tahun belum tentu memiliki percepatan respon gempa yang sama, jika dilihat dari berbagai jenis tanah yang ada (tanah lunak, tanah sedang dan tanah keras). Dari penelitian ini dihasilkan waktu getar alami metode empiris dengan Methode A dari UBC Section 1630.2.2 menghasilkan periode yang lebih kecil yaitu 0,937 detik sedangkan menurut SNI 03-1726-2002 pasal 5.6 tabel 8, untuk wilayah gempa 3 adalah 1,8 detik. Gaya Geser Dasar Nominal terbesar terjadi pada Tanah Lunak yaitu sebesar 803,572 kg, Tanah Sedang adalah 353,572 kg dan Tanah Keras adalah 246,428 kg. Hal ini dikarenakan percepatan gravitasi pada setiap jenis tanah berbeda. Dari hasil analisis dengan program ETABS, waktu getar alami terbesar terdapat di bangunan dengan jenis tanah lunak, yaitu 4,134 detik, tanah sedang 2,747 detik dan tanah keras 2,289 detik. Dan kinerja batas layan (ÃŽâ€Âs) dan kinerja batas ultimit (ÃŽâ€ÂM) masih memenuhi syarat. Dan displacement lantai terbesar terjadi pada tanah lunak, diikuti tanah sedang dan terkecil pada tanah keras