Teknik Sipil dan Arsitektur
Not a member yet
350 research outputs found
Sort by
REDESAIN LINGKUNGAN KANTOR DESA KENALAN BERBASIS KONSTRUKSI SEDERHANA DAN PEMANFAATAN BAHAN BANGUNAN LOKAL
Berangkat dari permasalahan bahwa bangunan di kompleks Kantor Kepala Desa Kenalan sudah memerlukan penyesuaian, dengan redesain bangunan sehingga tercipta efisiensi lahan di lingkungan Kantor Desa Kenalan. Setelah menjadi desa wisata di tahun 2017, dan dibangunnya Balai Ekonomi Desa (Balkondes) sebagai prasarana pariwisata oleh BUMN, bersebelahan dengan kantor Pemerintah Desa Kenalan, Aktivitas warga meningkat dengan mulai berdatangannya pengunjung, dan akibat keterbatasan lahan pengunjung memarkir kendaraannya di halaman kantor desa. Dampaknya timbul ketidaknyamanan di lingkungan kantor, terutama bagi kegiatan sekolah PAUD. Pemecahan masalah utama lingkungan PAUD dengan pembuatan desain bangunan baru sehingga murid bisa beraktifitas belajar dan bermain di dalam ruang kelas maupun di taman tanpa terganggu. Lahan yang tersedia sangat terbatas dan memiliki kontur cukup ekstrim, tetapi memiliki potensi alam sungai dan kebun yang memberikan iklim sejuk. Maka dibuat desain bangunan yang menyesuaikan kondisi tersebut, memperhatikan kekuatan konstruksi, estetika, tetapi juga efisiensi bahan, Pada bagian lahan berkontur menggunakan ketinggian lantai berjenjang, sehingga dapat membentuk bangunan dua lantai, dengan fungsi PAUD di dasar dan kantor desa di lantai atas. Bangunan didesain menggunakan konstruksi batu kali, dinding bata, dan memanfaatkan udara alami dengan ventilasi bersilang sehingga memberi keamanan dan kenyamanan pengguna. Pembuatan ramp sebagai pengganti tangga dan pemagaran tepi sungai untuk keamanan siswa
PENGARUH PEMBERIAN POLI ALUMINIUM CHLORIDA TERHADAP KADAR PHOSPAT DAN TOTAL DISSOLVED SOLID PADA AIR LIMBAH RUMAH SAKIT ORTOPEDI PROF. DR. R. SOEHARSO SURAKARTA
Limbah cair rumah sakit merupakan salah satu sumber pencemaran air yang sangat potensial. Oleh karena itu maka setiap rumah sakit diharuskan mengolah limbah cair sampai memenuhi persyaratan standar yang berlaku, diantaranya untuk kandungan phospat yang dapat menimbulkan kerugian seperti pertumbuhan ganggang yang cepat dan tidak terkendali, sehingga air menjadi keruh dan berbau yang menyebabkan habisnya kadar oksigen dalam sungai. Salah satu metode untuk menurunkan kandungan phospat yaitu dengan penambahan Poli Aluminium Chlorida (PAC). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian Poli Aluminium Chlorida (PAC) dengan dosis 0,01 gr/l; 0,02 gr/l; 0,03 gr/l; 0.04 gr/l; dan 0,05 gr/l terhadap kadar phospat dan Total Dissolved Suspended (TDS) pada air limbah Rumah Sakit Ortopedi Prof. DR. R. Soeharso Surakarta serta untuk mengetahui dosis efektif PAC.Metode penelitian dengan melakukan eksperimental di laboratorium. Adapun sampel air limbah diambil dari Rumah Sakit Ortopedi Prof. DR. R. Soeharso Surakarta, sedangkan percobaan dilakukan di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surakarta dan pemeriksaan sampel dilakukan di Laboratorium Pusat Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Sebelas Maret Surakarta.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian PAC dapat menurunkan kadar phospat dalam air limbah dengan penurunan rata-rata kadar phospat dengan dosis 0,01 gr/l sebesar 35,24 %, dosis 0,02 gr/l sebesar 44,28%, dosis 0,03 gr/l sebesar 49,70 %, dosis 0,04 gr/l sebesar 68,67 % dan 0,05 gr/l sebesar 44,88 % serta menaikkan kadar TDS dengan kenaikan rata-rata kadar TDS dengan dosis 0,01 gr/l sebesar 1,3 %, dosis 0,02 gr/l sebesar 1,9 %, dosis 0,03 gr/l sebesar 2 %, dosis 0,04 gr/l sebesar 3,9 % dan dosis 0,05 gr/l sebesar 4,6 %. Pengaruh pemberian Poli Aluminium Chlorida (PAC) terhadap kadar phospat yaitu pada penambahan Poli Aluminium Chlorida (PAC) dari 0,01 gr/l sampai dengan 0,04 gr/l kadar phospat mengalami penurunan secara optimum yaitu dengan kadar 0,014 mg/l, sedangkan pada penambahan Poli Aluminium Chlorida (PAC) dari 0,04 gr/l sampai dengan 0,05 gr/l mengalami kenaikan. Pengaruh PAC terhadap kadar TDS yaitu bahwa semakin tinggi dosis PAC maka kadar TDS semakin tinggi
PENGARUH PERLETAKAN FONDASI PADA LERENG TERHADAP ANGKA AMAN
Fondasi merupakan bagian yang sangat penting pada struktur bangunan, karena fondasi memikul beban struktur diatasnya. Perletakan fondasi pada lereng akan mempengaruhi kestabilan lereng itu sendiri, oleh karena itu perletakan fondasi menjadi sangat penting. Apabila lereng longsor fondasi akan runtuh begitu juga struktur di atasnya, seringkali kegagalan struktur akan menelan korban jiwa. Pada Analisis ini akan membahas keamanan lereng pada suatu struktur jalan dimana fondasi terletak pada lereng tersebut. Analisis numerik menggunakan bantuan software Slope/W dengan data tanah hasil pemboran inti. Data kohesi tanah merupakan hasil konversi dari nilai N-SPT. Berdasarkan perhitungan dapat diketahui bahwa perletakan fondasi pada tanah keras menghasilkan angka aman yang lebih besar dibandingkan dengan perletakan fondasi ada tanah lunak/tidak padat
EKSISTENSI DAN KEBERLANJUTAN KAMPUNG JOGLO DALAM MASYARAKAT, BUDAYA DAN LINGKUNGAN ASLINYA
Joglo merupakan arsitektur tradisional sebagai representasi budaya Jawa terpopuler. Hambatan utama adalah pada aspek keberlanjutannya dalam menghadapi pengaruh global. Akibatnya, eksistensinya di masa mendatang hanya akan tertinggal pada “museum†yang terlepas dari masyarakat/budaya aslinya. Kampung Joglo di Pondokrejo ini sangat unik (anomali) karena ekesitensi rumah joglo masih sangat banyak dan tetap tumbuh. Penelitian ini mendata eksistensi rumah-rumah joglo yang ada serta menganalisis pada empat pilar keberlanjutan (sosial, ekonomi, lingkungan dan budaya). Pendekatan kualitatif dilakukan pada tahap pendataan dan analisis bangunan, serta dilanjutkan kualitatif melalui wawancara mendalam untuk menganalisis keberlanjutannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa eksistensi dan jumlah rumah joglo masih sangat banyak dan tetap bertambah dari tahun ke tahun. Semua pilar keberlanjutan adalah terlihat dan jelas dalam lingkungan ini, sehingga dapat menjelaskan eksistensi dan berkelanjutannya
PERAN TENAGA KERJA WANITA DALAM PROYEK KONSTRUKSI (STUDI KASUS DI SURAKARTA)
Sumber daya manusia mempunyai peranan yang sangat penting dalam proyek konstruksi. Keberhasilan proyek ditentukan salah satunya adalah kualitas sumber daya manusia. Indonesia pada saat ini memasuki era bonus demografi yang ditandai dengan jumlah usia produktif lebih besar dari jumlah penduduk non produktif. Pada tahun 2016 jumlah jumlah total buruh/karyawan/pegawai dari 17 sektor pekerjaan sebanyak 45,8 juta orang dengan perbandingan tenaga kerja wanita separuh dari jumlah tenaga kerja laki-laki. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa besar tenaga kerja wanita yang bisa terserap pada proyek konstruksi dan bagaimana peran tenaga kerja wanita pada proyek konstruksi di Surakarta. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dan wawancara, selanjutnya data dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil yang diperoleh dari analisis data menunjukkan bahwa pada proyek konstruksi di Surakarta mampu menyerap tenaga kerja wanita 24,2% dari total jumlah tenaga kerja atau sepertiga dari tenaga kerja laki-laki. Kelompok umur tenaga kerja wanita didominasi oleh kelompok umur antara 41 tahun sampai 50 tahun. Tingkat pendidikan kebanyakan masih rendah yaitu tingkat SD. Untuk jenis tenaga kerja sebesar 95% tenaga kerja wanita adalah pekerja atau buruh
POLA DAN GAYA ARSITEKTUR TRADISIONAL SEBAGAI KEKAYAAN BUDAYA DALAM MENDUKUNG WISATA MINAT KHUSUS DI KOTA YOGYAKARTA
Sudah menjadi pemahaman umum bahwa Benda Warisan Budaya dan Cagar Budaya yang sarat dengan kandungan kesejarahan dan kebudayaan memiliki tingkat signifikan yang tinggi untuk dilestarikan. Kedudukan ini dipertegas dengan hadirnya seperangkat perundang-undangan yang sangat relevan dengan keperluan ini. Yang menjadi induknya adalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Benda Cagar Budaya penting untuk dilestarikan adalah demi terpeliharanya jati diri setempat. Bagi Kota dan Kabupaten di Yogyakarta, jelas bahwa Benda Warisan Budaya dan Cagar Budaya yang menjadi salah satu cikal bakal hasil budaya leluhur, merupakan wujud identitas dan sumber kebanggaan bagi masyarakat yang tidak boleh dihilangkan. Bukan hanya kehidupan sosial budaya saja, melainkan juga segala artifak, petilasan dan benda-benda tinggalan yang gayut dengan kehidupan Benda Warisan Budaya dan Cagar Budaya dimasa lalu. Kedudukan Karya Arsitektur Cina memberi andil yang cukup signifikan dalam ikut membentuk Benda Warisan Budaya dan Cagar Budaya yang ada di Yogyakarta yang dapat ditengarai dari keragaman elemen-elemen Arsitekturnya. Pola dan Gaya Arsitektur Tradisional sebagai Kekayaan Budaya dalam Mendukung Wisata Minat Khusus di Kota Yogyakarta dilakukan dengan penalaran yang bersifat induktif, yang mendasarkan penelitian berdasarkan pengamatan sampai dengan penyimpulan, sehingga terbentuk generalisasi empirik. Tipe kajian in menerapkan tipe penelitian eksplikatif atau deskriptif. Eksplikatif atau deskriptif, yaitu memberikan gamabaran data arkeologi yang ditemukan, baik dalam kerangka waktu, bentuk, maupun keruangan serta mengungkapkan hubungan diantara berbagai variabel penelitianPendekatan yang diterapkan dalam kajian ini adalah pendekatan dalam ilmu studi Arsitektur. Salah satu pendekatan dalam studi Arsitektur adalah pendekatan kontekstual dalam perancangan Arsitektur. Melalui kajian ini diharapkan akan diperoleh gambaran tentang Pola dan Gaya Arsitektur Tradisional sebagai Kekayaan Budaya dalam Mendukung Wisata Minat Khusus di Kota Yogyakarta, meliputi elemen Arsitektur dan tampilan Arsitekturnya
PERENCANAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM IBUKOTA KECAMATAN (IKK) MIRI KABUPATEN SRAGEN PDAM TIRTO NEGORO KABUPATEN SRAGEN
PDAM Tirtonegoro Kabupaten Sragen merupakan badan usaha milik Pemerintah yang bergerak dalam usaha pemenuhan kebutuhan masyarakat akan air bersih. Sesuai dengan Peraturan Daerah, tujuan pendirian PDAM Tirtonegoro Kabupaten Sragen adalah memberi pelayanan air bersih bagi seluruh masyarakat secara adil dan merata serta secara terus menerus untuk memenuhi norma pelayanan dan syarat-syarat kesehatan, serta sebagai sumber pendapatan asli daerah dan sebagai sarana pengembangan perekonomian dalam rangka pembangunan daerah. IKK Miri adalah salah satu Kecamatan di Kabupaten Sragen yang belum mempunyai jaringan air bersih dari PDAM Tirtonegoro Kabupaten Sragen. Dalam upaya peningkatan cakupan pelayanan, pdam Tirto Negoro kabupaten Sragen di tahun 2015 berencana memperluas cakupan pelayanan hingga 80% untuk perkotaan dan 60 % untuk pedesaan. Kecamatan Miri merupakan Kecamatan yang belum ada pelayanan air bersih dengan sistem perpipaan dari PDAM. Masyarakat memperoleh air bersih dari sumur-sumur gali, belik-belik di tepian sungai yang kualitasnya kurang baik Kondisi kecamatan adalah daerah rawan air, pada saat musim kemarau sumber air dangkal mengalami penurunan drastis, sehingga kebutuhan air minum masyarakat sebagian harus dropping mobil tangki dari PDAM. IKK Miri berjarak kurang lebih 2 km dari jaringan eksisting PDAM, sehingga diperlukan Sistem Penyediaan Air Minum dengan perencanaan sesuai dengan kebutuhan penduduk sekitar. Rencana SPAM akan dibangun sumur dalam yang berlokasi di Desa Doyong Kecamatan Miri dan alat kelengkapan lainnya untuk mendukung kelancaran air PDAM sampai kepada pelanggan. Perencanaan jaringan perpipaan disimulasikan dengan software program Epanet 2.0 agar lebih mendukung keberhasilan sistem tersebut. Perencanaan juga dilakukan dalam pembuatan bangunan pelengkap air bersih seperti reservoir dan jembatan pipa. Semua data yang dibutuhkan dalam perencanaan system ini: proyeksi penduduk, panjang pipa, elevasi dan sebagainya digunakan untuk input data ke dalam program Epanet 2.0. Sumber air baku yang akan dipakai oleh PDAM adalah air sumur dalam yang direncanakan dibangun di Desa Doyong Kecamatan Miri dengan kebutuhan air pelanggan tahun 2014 sebanyak 1,85 L/dtk dan tahun 2034 sebanyak 26,85 L/dtk. Perencanaan sistem aliran distribusi air yang akan direncanakan menggunakan sistem pemompaan karena perbedaan topografi yang ada tidak dapat mendorong aliran air sampai daerah pelayanan. ÂÂÂ
DEGRADASI FUNGSI RTH KAWASAN PERUMAHAN WONOREJO SURAKARTA PADA KONDISI THERMAL LINGKUNGAN
Ruang terbuka hijau (RTH) pada kawasan perumahan sesuai amanat undang-undang wajib disediakan pertama bertujuan guna menjaga keseimbangan alam dan lingkungan antara lain dapat digunakan sebagai daerah penyangga guna penyerapan/peresapan air tanah, sebagai sarana penyerapan karbon dioksida sekaligus sebagai sarana penyediaan oksigen melalui proses fotosintesis oleh tanaman penghijauan yang ditanam pada ruang terbuka hiajau (RTH), guna menyerap radiasi sinar matahari / mengurangi tingkat kesilauan, sebagai ruang publik masyarakat sekitarnya yang dapat menjadi sarana ruang interaksi sosial, sebagai sarana berolah raga, berrekreasi atau hanya sekedar bersantai dsb. Kawasan perumahan pasca huni secara umum akan terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, Seiring perkembangan jumlah penduduk, peningkatan kebutuhan akan ruang, peningkatan kondisi sosial ekonomi, dan sebagainya hal ini seringkali telah mendorong terjadinya pergeseran / perubahan fungsi ruang terbuka hijau pada kawasan perumahan, hal ini sangat menarik untuk diteliti guna mengetahui seberapa besar dampak pengaruhnya terhadap penurunan kualitas lingkungan hunian. Obyek penelitian adalah RTH pada dikawasan perumahan Wonorejo Surakarta, dimana kawasan  perumahan ini telah dihuni lebih dari lima belas tahun, dan setelah limabelas tahun pasca huni ini telah banyak sekali terjadi / mengalami perubahan / pergeseran yang sangat nyata, terutama perubahan / pergeseran fungsi pada ruang terbuka hijaunya yang tidak sesuia amanat undang-undang.. Guna mengetahui perubahan kondisi thermal pada Penenelitian ini akan dilaksanakan dengan mengkomparasikan data hasil pengamatan kondisi lingkungan pada tahun 2018 dengan hasil pengamatan lingkungan pada tahun 2003 kemudian dianalisis guna mengetahui seberapa besar perubahan kondisi thermal lingkungan yang terjadi. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa degradasi perubahan fungsi ruang terbuka hijau (RTH) pada kawasan perumahan wonorejo telah memicu terjadinya perubahan kondisi thermal lingkungan
CIRI KHAS DAN BENTUK RUMAH BANYUBIRU KABUPATEN SEMARANG
Banyubiru  merupakan  kecamatan  di  Kabupaten  Semarang  yang  di  sisi  Timur  Laut berbatasan langsung dengan danau Rawapening dan pada sisi Selatan terletak gunung Telomoyo.  Pemukiman  di  sekitarnya  diperkirakan  sudah  berumur  lama,  dibuktikan dengan  keberadaan  candi  Dukuh  di  area  tepian  Rawapening.  Selain  itu  juga  banyak batu-batu candi yang ditemukan di desa Kebondowo yang merupakan desa paling ramai di kecamatan Banyubiru. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap karakteristik atau kekhasan rumah yang ada di kawasan Banyubiru, yakni kawasan sekitaran Danau Rawapening  dan Gunung Telomoyo.  Utamanya  untuk  mendapat  gambaran karakteristik rumah  khas  perbukitan  di  kawasan  pinggiran  Negarigung,  yang  berbatasan  dengan Pesisiran Kilen dan Wetan.  Sementara  itu rumah-rumah  di daerah ini terbukti memiliki bentuk  dan ciri-ciri yang berbeda jika dibandingkan dengan rumah tradisional di daerah lain seperti pesisir atau disekitar Surakarta serta Yogyakarta. Kondisi geografisnya yang terletak  di  pegunungan,  orientasi  bangunan  rumah  yang  lebih  mengutamakan  jalan didepan  rumah,  tatanan  memanjang  ke  belakang,  dengan  bentuk  atap  kampung srotongan adalah kekhasan yang dimiliki
SIMULASI PENGARUH PENERAPAN REKAYASA NILAI (VALUE ENGINEERING) PADA METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN BEKISTING PILE CAP
Dalam menghadapi persaingan global, perusahaan konstruksi selain dituntut untuk memberikan nilai tambah (value) pada hasil pekerjaannya, juga dituntut untuk memberikan harga dengan penawaran terbaik pada konsumen. Value Engineering (VE) merupakan suatu metode yang digunakan untuk melakukan efisiensi waktu dan biaya dalam pelaksanaan konstruksi tanpa mengurangi fungsi serta mutu pekerjaan. Tujuan dari penelitian ini adalah, untuk mengetahui perbandingan waktu, perbandingan biaya dan mengetahui perbandingan jumlah tenaga kerja metode bekisting papan GRC dengan multiplek. Penelitian ini dibatasi pada pekerjaan bekisting pile cap. Berdasarkan tahapan VE maka yang akan dibahas dalam artikel ini adalah tahap evaluasi. Dari hasil penelitian, kesimpulannya adalah metode pemasangan bekisting dengan menggunakan papan GRC lebih mempercepat durasi waktu pemasangan sekitar 80%, biaya yang dibutuhkan metode pemasangan bekisting dengan menggunakan papan GRC lebih murah sekitar 22% dan bekisting multiplek membutuhkan tenaga lebih banyak daripada bekisting dari papan GRC. Kata kunci: value Engineering, biaya, waktu, tenaga kerja  Abstract To face the global competition the construction companies being required to provide added values to their work. They are being required to provide price with the best offer to consumers. Value Engineering (VE) is a method to make time and cost efficiency in construction implementation, without reducing the function and quality of work. The purposes of this research are, to find out the comparison of time, cost and the number of manpower, using the method of GRC board formwork and the multiplex formwork. This research is limited to pile cap formwork. Based on the VE stage, what will be discussed in this article is the evaluation stage. The conclusions are that the method of installation of GRC board formwork accelerates the installation time duration about 80%, the cost efficiency by the formwork installation method using GRC board is around 22%, and multiplex formwork requires more manpower than GRC board formwork