Geoid (E-Journal)
Not a member yet
    504 research outputs found

    ANALISA PERUBAHAN GARIS PANTAI MUARA MERICAN DAN TANJUNG LANTERA DI DESA RANTEREIJO KABUPATEN PEKALONGAN PROPINSI JAWA TENGAH

    No full text
    Kabupaten Pekalongan adalah sebuah Kabupaten di Propinsi Jawa Tengah Ibu Kotanya adalah Kanjen. Kabupaten Pekalongan terdiri dari 19 Kecamatan yang dibagi lagi atas sejumlah 270 desa, dan 13 Kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Kanjen. Luas Kabupaten Pekalongan adalah 836,13 km2, jumlah penduduk 891,442, serta Kepadatan Penduduk 979 jiwa / km2. Sedimentasi  juga dapat dilihat di Rantereijo (terutama di Muara Merican dan di Tanjung Lantera ) sejauh 1,4 Km. Kontur dasar laut dan kontur daratan sekitar Muara Merican dan Tanjung Lantera terdapat kelandaian pantai sampai pada jarak 50 meter dari garis pantai bagian utara pulau mempunyai kedalaman 1,0 – 1,5 meter, sedangkan kedalaman perairan yang agak jauh dari garis pantai yaitu sekitar 100 sampai 110 meter, kedalaman perairannya mencapai 10 – 11 meter. Semakain ke Timur kondisi garis pantai semakin landai dimana kedalaman perairan tersebut dicapai pada jarak yang semakin jauh dari garis pantai. Angin dominan berhembus dari arah barat sebesar 19.226 kali atau sebesar 23,76% dengan kecepatan 0-7 knot dan dari arah Utara sebanyak 16.3756 kali  atau sebesar 18,47%. Perhitungan tinggi dan durasi gelombang  Hs = 0,01616 UA . F1/2 dan Ts = 0,6238 (UA . F)1/3 didapat tinggi gelombang (H) arah Barat 1,61 meter dengan durasi (T) 6,31 detik dan (H) arah Utara 2,72 meter dengan durasi (T) 5,85 detik. Dari pengamatan peta (1997 dan 2002) didapatkan hasil berupa perubahan garis pantai (setelah 5 tahun) dengan angka yang terjadi erosi (arah gelombang Barat) yaitu pada titik pias  6 (-4,556) maksimal dan titik pias 7 (-3,152) minimal, adapun sedimentasi terjadi pada titik pias 51 (90,990) maksimal dan titik pias 18 (22,778) minimal. Sedangkan erosi (arah gelombang Utara) yaitu pada titik pias 72 (-14,403) maksimal dan titik pias 67 (-0,375) minimal, serta sedimentasi terjadi pada titik pias 15 (17,750) maksimal dan titik pias 8 (0,044) minimal. Akan tetapi juga terdapat garis pantai yang tidak mengalami perubahan yaitu pada titik pias 15 (arah gelombang Barat). Berdasarkan data-data dan hasil analisa yang telah diperoleh maka pada daerah pantai Muara Merican dan Muara Tanjung Lantera di pilih bangunan pelindung pantai dapat berupa kombinasi antara Jetty maupun Groin

    APLIKASI PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK EVALUASI KELAYAKAN DI AREA LUMPUR LAPINDO

    No full text
    Hampir 2 tahun lumpur Lapindo yang terjadi di daerah Porong belum juga bisa diatasi, bahkan sampai detik ini masih banyak semburan-semburan baru yang keluar terutama di daerah permukiman rumah penduduk sehingga menyebabkan banyak kerusakan terutama bangunan dan adanya pencemaran air, tanah dan udara. Hal ini yang menyebabkan kekhawatiran para penduduk sekitar khususnya di desa-desa yang berada didekat tanggul lumpur Lapindo yaitu Siring Barat, Jatirejo Barat, Mindi, Gedang, Ketapang, Gempolsari, Pamotan, dan Glagaharum. Dengan menggunakan sistem informasi geografis melalui metode scoring kita dapat mengetahui dan memantau perkembangan daerah permukiman karena hasil yang didapat nantinya merupakan pengklasifikasian kondisi daerah permukiman sehingga dapat diketahui daerah mana yang masih layak dihuni. Hasil yang diperoleh adalah peta tutupan lahan dan perubahannya untuk tahun 2006 dan 2008 yang menunjukkan perubahan yang signifikan terutama untuk kelas lumpur yaitu sebesar 470,698 Ha, permukiman sebesar 210,738 Ha dan sawah sebesar 388,642 Ha. Selain itu menghasilkan suatu informasi mengenai kerusakan bangunan, pencemaran air, tanah dan udara yang terjadi di daerah Siring Barat, Jatirejo Barat, Mindi, Gedang, Ketapang, Gempolsari, Pamotan, dan Glagaharum sehingga dapat diketahui tingkat kelayakan pada masing-masing desa

    APLIKASI PERANGKAT LUNAK GRASS 6.3.0 UNTUK PEMODELAN DAN ANALISA TERRAIN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PERMUKAAN DIGITAL DARI DATA LIDAR

    No full text
    GRASS sebagai salah satu alternatif perangkat lunak yang berbasis ”public domain” sehingga dapat mempermudah pengguna untuk mengaksesnya dapat menunjang dalam pengolahan DTM. Di antara sekian banyak cara memperoleh data mentah untuk pembuatan DTM, Light Detection And Ranging (LiDAR) menjadi salah satu metode untuk akuisisi data topografi, khususnya untuk rekonstruksi digital terrain model (DTM). LiDAR merupakan teknologi yang lebih efektif dan efisien karena memiliki kerapatan dan ketelitian yang tinggi. Penelititan ini mengkaji aplikasi perangkat lunak GRASS 6.3.0 untuk mengolah data yang diperoleh dari LiDAR menjadi DTM dan DSM sehingga dapat diketahui perbedaan topografinya. Hasil penelitian menunjukkan data LiDAR yang memiliki data titik tinggi sebanyak 1000000 titik per 1 km2, hal ini menunjukkan bahwa sensor LiDAR dapat memperoleh data sebanyak 1 titik per 1 m2. Selain itu, GRASS 6.3.0 mampu melakukanpengolahan data DSM dan DTM dari data LiDAR yang dapat dikonversikan dalam format yang lain sehingga dapat diperoleh model permukaan digital yang dapat digunakan pada perangkat lunak yang lain sebagai data geospasial yang berupa DTM dan DSM

    EVALUASI KONDISI TUTUPAN LAHAN DI WADUK GAJAH MUNGKUR DAN SEPANJANG SUB DAS BENGAWAN SOLO HULU DENGAN MENGGUNAKAN METODE KLASIFIKASI TERBIMBING

    No full text
    Fenomena bencana banjir yang terjadi disepanjang sungai Bengawan Solo akhir tahun 2007 sampai dengan awal 2008 telah menimbulkan dampak dan kerugian yang sangat besar. Hal ini dikarenakan Waduk Gajah Mungkur dan daerah hulu tidak dapat memerankan fungsinya sebagai kawasan lindung dan tangkapan air bagi keseluruhan wilayah DAS. Sehingga dibutuhkah suatu evaluasi untuk mengaji ulang penyebab terjadinya banjir yang nantinya didapatkan data dan suatu kebijaksanaan untuk mengantisipasi terjadinya bencana yang akan datang. Teknologi penginderaan jauh dapat digunakan untuk mengetahui perubahan tutupan lahan waduk Gajah Mungkur dan sepanjang Sub DAS Bengawan Solo Hulu di daerah Wonogiri dan Sukoharjo. Peta perubahan tutupan lahan ini bersumber dari data cita Landsat 7 Ortho untuk kondisi tahun 2000/2001 dan citra ALOS untuk kondisi tahun 2006 dimana pengolahan citra dilakukan  menggunakan metode klasifikasi terbimbing dalam software Er Mapper 7.0 dan software Arc View 3.3. Dari penelitian ini didapatkan nilai rata-rata RMS error Citra ALOS sebesar 0,269 dan ketelitian klasifikasi sebesar 75,8%. Hasil perubahan luasan waduk Gajah Mungkur tahun 2000 – 2006 sebesar  3.646,14 Ha (50,30 %), sedangkan  perubahan tutupan lahan di sepanjang sub DAS Bengawan Solo Hulu untuk wilayah Wonogiri dan Sukoharjo tahun 2000/2001-2006 mengalami pengurangan pada kelas badan air dan perkebunan, untuk kelas lainnya mengalami peningkatan

    ANALISA KESALAHAN LINIER KERANGKA KONTROL HORIZONTAL DENGAN MENGGUNAKAN VISUAL BASIC 6.0

    No full text
    Pengukuran merupakan suatu pekerjaan yang dilakukan untuk memperoleh suatu data pengamatan, terutama pengukuran kerangka kontrol horizontal  yang merupakan kerangka dasar pemetaan untuk memperlihatkan posisi horizontal (X dan Y) antara satu titik terhadap titik yang lain di permukaan bumi pada bidang datar. Metode yang di gunakan untuk penentuan posisi horizontal adalah metode poligon. Salah satu metode pengukuran kerangka kontrol horizontal (x dan y) dengan menggunakan poligon terbuka terikat tidak sempurna adalah dengan menggunakan metode pendekatan. Metode pendekatan adalah metode pengukuran yang kedua ujungnya terikat koordinat yaitu memilki satu koordinat titik awal dan satu koordinat titik akhir. Jenis metode ini tidak mempunyai koreksi sudut tetapi mempunyai koreksi koordinat. Pengukuran kerangka kontrol horizontal dengan metode pendekatan ini dilakukan di tiga jalur yang berbeda-beda sehingga bisa diketahui besar koreksi koordinat masing-masing titik di setiap jalur kerangka kontrol horizontal. Analisa kesalahan linier dengan menggunakan metode pendekatan dihitung menggunakan software microsoft visual basic 6.0 dan hasil perhitungan dengan software microsoft visual basic 6.0 digunakan untuk menganalisa besar koreksi koordinat di tiap-tiap titik di jalur kerangka kontrol horizontal yang berbeda

    PEMODELAN KADASTER DALAM TIGA DIMENSI UNTUK PENAKSIRAN NILAI JUAL OBYEK PAJAK (NJOP) SEBAGAI DASAR PENGENAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

    No full text
    Penerimaan Negara di sektor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah wajib pajak yang memiliki hak atas obyek pajak. Maka peran serta Pemerintah untuk mengoptimalkan penerimaan tersebut harus membangun infrastruktur dan jaringan data spasial melalui instansi Pemerintah yang berkompeten dalam pengumpulan data yang berkaitan dengan sektor PBB. Penelitian ini pada dasarnya menggunakan konsep visualisasi sederhana dari data spasial mengenai obyek pajak dari instansi yang terkait untuk dapat dibuat gambaran mengenai kondisi obyek pajak atas prinsip bahwa suatu pengambilan atau penarikan biaya dari masyarakat yang berkaitan dengan suatu pelayanan, harus memenuhi aspek rasional, obyektif, proporsional dan ada landasan hukumnya. Hasil yang diperoleh dari sampel penelitian menunjukkan adanya ketidaksesuaian kondisi obyek pajak dengan pajak yang tertanggung. Penelitian ini hanya sebuah wacana untuk memberikan gambaran umum mengenai perlunya suatu hubungan yang terpadu antar instansi Pemerintah dalam hal peran serta pembangunan infrasrtuktur data spasial dari sektor Pajak Bumi dan Bangunan

    ANALISA HUBUNGAN VARIASI PENGGUNAAN TANAH (LAND USE) DAN NILAI TANAH (STUDI KASUS : KOTA BLITAR)

    No full text
    Land use suatu daerah (perkotaan) biasanya bervariasi, yang variasinya bergantung pada aksesibilitas. Variasi  land use umumnya bergerak dari land use produktif (kota) ke land use konsumtif (pedesaan). Semakin tinggi produktifitas/efisiensi ekonomi suatu land use maka akan semakin tinggi nilai tanah di lokasi tersebut, demikian sebaliknya.  Dengan memperlihatkan overlay beberapa peta yaitu peta Zone Nilai Tanah (ZNT), peta land use dan peta jaringan infrastruktur maka akan didapat pola hubungan antara variasi land use dan nilai tanah. Dimana hasil yang didapat adalah pada tahun 2000 hubungan antara variasi land use dan nilai tanah di Kota Blitar adalah kuat yaitu sebesar 0,601. Polanya yaitu Y = -7,4882X4 + 80,407 X3 – 275,71X2 + 355,83X -112,8 dengan R-square (R2) = 0,563. Sedangkan untuk tahun 2005 nilai korelasinya adalah kuat yaitu sebesar 0,613 dan polanya yaitu Y = -11,632X4 + 118,94X3 – 370,67 X2 + 397 X – 37,818 dengan R-square (R2) = 0,528. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tanah di Kota Blitar diantaranya adalah variasi land use, lokasi, aksesibilitas yang tinggi dan tersedianya sarana dan prasarana jaringan infrastruktur.&nbsp

    AUSPOS ON-LINE GPS DATA PROCESSING IN DETECTING CRUSTAL DISPLACEMENTS DUE TO 2005 NIAS EARTHQUAKE

    No full text
    The development of on-line GPS data processing nowadays is promising to be used. Therefore, it is necessary to assess the on-line GPS data processing by comparing the results to scientific GPS data processing. The 8.7Mw earthquake on 28th March 2005 in Nias Island displaced northern part of Sumatra Island. It includes small islands in the western part of Sumatra. To detect these displacements, GPS campaigns have been conducted in Simeulue Island, Nias Island and Siberut Island. These GPS data are processed by using AUSPOS facilities. A root mean square (RMS) is used as a quality indicator in GPS data processing. The results show that on-line GPS processing can be used as a tool to process GPS data to detect crustal displacements due to a big earthquake

    ANALISA PENGARUH TEKANAN UDARA DAN TEMPERATUR TERHADAP REFRAKSI ATMOSFER PADA PERHITUNGAN TINGGI

    No full text
    Salah satu kesalahan sistematik yang terjadi pada pengukurun tinggi metode sipat datar adalah kesalahan karena adanya refraksi atmosfer.  Kesalahan refraksi atmosfer terjadi karena cahaya atau gelombang elektomagnetik melalui udara yang kerapatannya berbeda.  Kerapatan udara dipengaruhi oleh tekanan udara dan temperatur yang berubah dengan ketinggian di atmosfer.  Perlu adanya penelitian untuk mengetahui pengaruh besarnya temperatur dan tekanan terhadap refraksi atmosfer yang terjadi pada pengukuran tinggi metode sipat datar. Data yang diperlukan dalam penelitian adalah data pengukuran yang terdiri dari data jarak, beda tinggi, temperatur dan tekanan udara.  Data-data tersebut diolah sehingga didapatkan nilai refraksi atmosfer setiap pengukuran dan dapat digambarkan dalam grafik.  Analisa yang digunakan adalah analisa regresi linear berganda. Hasil dari penelitian yang berupa grafik menunjukkan bahwa nilai rata-rata refraksi atmosfer yang terjadi pada pengukuran siang hari lebih besar daripada pengukuran pagi atau sore hari.  Hal ini menunjukkan bahwa besarnya refraksi atmosfer berbanding lurus dengan temperatur dan tekanan udara.   Hasil dari analisa regresi linear berganda menunjukkan nilai koefisien korelasi linier berganda  antara refraksi dengan temperatur dan tekanan pada daerah yang relatif datar adalah sebesar 0,021 sedangkan untuk daerah yang relatif bergelombang adalah sebesar 0,076.  Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh temperatur dan tekanan udara terhadap refraksi atmosfer pada pengukuran tinggi adalah sangat lemah atau dianggap tidak ada

    PEMANFAATAN DATA CITRA MULTITEMPORAL UNTUK PREDIKSI ARAH SEBARAN LUMPUR LAPINDO DI KABUPATEN SIDOARJO

    No full text
    Banjir lumpur panas Sidoarjo merupakan peristiwa menyemburnya lumpur panas di lokasi pengeboran PT Lapindo Brantasdi Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, yang diawali pada tanggal 29 Mei 2006. Sebaran lumpur yang makin lama makin meluas menyebabkan daerah yang ikut tergenang juga semakin bertambah banyak. Kemampuan penginderaan jauh dalam pengolahan dan penyajiannya diharapkan dapat membantu menyediakan informasi yang lengkap tentang arah sebaran lumpur lapindo dan daerah-daerah yang dianggap berbahaya terhadap bencana semburan lumpur lapindo di Kabupaten Sidoarjo sesuai dengan zonasi bahaya pada daerah disekitar bencana lumpur lapindo. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra satelit Ikonos multitemporal tanggal 31 Oktober 2006, 5 Januari 2007, 22 April 2007, 7 Agustus 2007, 5 Januari 2008, 2 April 2008 dan data DEM SRTM. Dalam penelitian ini digunakan klasifikasi visual. Hasil yang diperoleh adalah peta tutupan lahan dan peta perubahan tutupan lahan tahun 2006-2008 yang menunjukkan perubahan yang signifikan serta peta kontur untuk mengetahui arah sebaran lumpur lapindo. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa prediksi arah sebaran lumpur lapindo menuju ke arah timur laut (Gempolsari, Glagaharum dan Kalidawir) dan tenggara (Besuki dan Keboguyang). Ini disebabkan daerah tersebut mempunyai ketinggian yang lebih rendah dibandingkan daerah yang lainnya. Luasan lumpur tersebut yaitu pada tanggal 17 Juli 2006 sebesar 173,856 Ha; 31 Oktober 2006 sebesar 264,514 Ha; 5 Januari 2007 sebesar 472,797 Ha; 22 April 2007 sebesar 600,144 Ha; 7 Agustus 2007 sebesar 555,543 Ha; 5 Januari 2008 sebesar 611,575 dan 2 April 2008 sebesar 635,432 Ha. Selain itu, didapatkan peta zona bahaya dimana peta tersebut menggambarkan daerah-daerah yang dianggap berbahaya. Dari data tersebut maka kita dapat mengurangi kerugian yang nantinya dapat dialami oleh penduduk disekitar lumpur lapindo.

    41

    full texts

    504

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Geoid (E-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇