Geoid (E-Journal)
Not a member yet
504 research outputs found
Sort by
PENGARUH JUMLAH DAN SEBARAN GCP PADA PROSES REKTIFIKASI CITRA WORLDVIEW II (Studi Kasus : Kota Kediri, Jawa Timur)
Pada penelitian ini dilakukan uji coba penggunaan titik kontrol tanah (GCP) secara variatif, yang terbagi menjadi 5 model jumlah dan distribusi titik kontrol tanah yaitu model 1 dan model 2 menggunakan jumlah 4 GCP dengan pola distribusi pada model 1, GCP hanya terpusat di suatu tempat, tidak menyebar pada keseluruhan citra, sedangkan pada model 2, GCP terletak pada titik terluar citra. Model 3 dan model 4 menggunakan jumlah 8 GCP, dengan pola distribusi pada model 3 titik tersebar merata pada seluruh citra, baik dipinggir maupun ditengah citra, dan pada model 4, GCP terpusat di tengah citra, tidak mencakup pinggir citra. Model 5 merupakan representasi dari model 1 sampai model 4 dengan menggunakan 12 GCP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyaknya GCP yang digunakan dalam proses rektifikasi citra sangat berpengaruh terhadap ketelitian hasil rektifikasi yang ditunjukkan melalui harga Root Mean Square Eror (RMSE) hasil uji ketelitian jarak dan koordinat. Melalui uji ketelitian ini maka dapat diperoleh skala peta setiap model, yaitu pada model 1 dapat memenuhi skala 1:5000, model 2 skala 1:6000, model 3 skala 1:5000, model 4 skala 1:3000 dan model 5 skala 1:3000
CHLOROPHYLL-A SPREAD ANALYSIS USING MERIS AND AQUA MODIS SATTELLITE IMAGERY (Case Study: Coastal Waters of Banyuwangi)
Indonesian is the archipelago country, 2/3 of the total area of Indonesia is the ocean. Oceans become a source of life for Indonesia people, including in the region of Banyuwangi. The potential of marine products in Banyuwangi regency not only fish, but also there are squid, crab, shellfish and others. Existence of fish can not be separated from the marine ecosystem, especially the food producers who are in the sea, the chlorophyll-a in phytoplankton. Information used to obtain the distribution of chlorophyll-a concentration value can be obtained from the data processing Aqua MODIS and Envisat Meris satellite imagery; which is reinforced by in situ data in the form of sea water sampling tested in the laboratory. Image processing using algorithms ATBD-19 for the Aqua MODIS imagery and algorithms Case-2 Water Processor (C2WP) for Envisat MERIS imagery. From this research, obtained a map of the distribution of chlorophyll-a concentrations in coastal waters of Banyuwangi generated from satellite image processing and analysis of several in situ data, based on the parameters of chlorophyll-a concentration. These results can be concluded that Aqua MODIS has a strong enough correlation to data in situ, with a correlation coefficient of r2 amount 0.5495. While the correlation between data in situ with Envisat MERIS imagery is quite weak with r2value amount 0.3782
STUDI PENGEMBANGAN WEBGIS SARANA DAN PRASARANA PELABUHAN (STUDI KASUS: TANJUNG PERAK SURABAYA)
Pelabuhan Tanjung Perak merupakan salah satu pelabuhan pintu gerbang di Indonesia, yang menjadi pusat kolektor dan distributor barang ke Kawasan Timur Indonesia, khususnya untuk Propinsi Jawa Timur. Karena letaknya yang strategis dan didukung oleh daerah hinterland Jawa Timur yang potensial maka Pelabuhan Tanjung Perak juga merupakan pusat pelayaran interinsulair Kawasan Timur Indonesia. Pada penelitian ini akan dilakukan pembuatan sistem informasi geografis berbasis Web mengenai sarana dan prasarana Pelabuhan Tanjung Perak dengan menggunakan Citra Resolusi Tinggi Worldview-2, Peta Kawasan Pelabuhan Tanjung Perak 2012 dan basis data Sarana dan Prasarana Pelabuhan meliputi Terminal Penumpang Darat, Terminal Penumpang Laut, Gudang, Lapangan Penumpukan, Pasar, Perkantoran, Lapangan Parkir. Sedangkan fokus sarana dan prasarana yang digunakan adalah Gudang, Lapangan Penumpukan, dan Terminal Penumpang yang meliputi area Terminal Jamrud, Mirah, Berlian dan Kalimas. Hasil penelitian ini menunjukkan perbandingan perubahan sarana dan prasarana di Kawasan Pelabuhan Tanjung Perak mengalami perubahan yang signifikan pada area gudang, lapangan penumpukan, dan terminal penumpang tahun 2012-2013. Dimana terdapat penambahan luasan gudang sebesar 67,610 %, Kemudian terdapat penambahan pada lapangan penumpukan sebesar 80,075%. Dan pada terminal penumpang terdapat penambahan sebesar 24,637 % dan pengurangan sebesar 35,795 %
KALIBRASI KAMERA NON METRIK DIGITAL PADA KEGIATAN FOTOGRAMETRI BAWAH AIR
Kalibrasi kamera pada kegiatan fotogrametri bawah air memerlukan perlakuan khusus pada proses kalibrasi kameranya dikarenakan adanya efek pembiasan cahaya antara dua medium yang berbeda. Dari hasil pengambilan data di air dapat dilihat foto mengalami pergeseran ke luar sehingga pendekatan nilai koefisien distorsi radial haruslah dilakukan perhitungan. Proses kalibrasi kamera di udara menghasilkan nilai parameter orientasi dalam (K1, K2, K3, P1, P2, x0, y0, f) berturut-turut sebesar 0,065;-0,073; 0,009; 0,004; 0; 0 mm; 0 mm; dan 5,778 mm dengan kesalahan piksel x dan y sebesar 0,002 mm dan 0,003 mm serta nilai parameter orientasi dalam di air sebesar 0,342;0,312; 0,017; 0,002; 0; 0,039 mm; -0,084 mm; dan 5,759 mm dengan kesalahan piksel x dan y sebesar 0,008 mm dan 0,006 mm. Kesalahan piksel di bawah air bernilai lebih besar dibandingkan nilai kesalahan piksel di udara dikarenakan pengaruh distorsi radial yang cukup besar sebagai akibat dari pembiasan cahaya di medium air. Oleh karena itu, kalibrasi kamera pada kegiatan fotogrametri bawah air harus dilakukan di bawah air dengan nilai pendekatan koefisien distorsi radial menggunakan perhitungan
STUDY OF CORAL BLEACHING MAPPING USING HIGH RESOLUTION IMAGES (A case study: The Water Area of PLTU Paiton Probolinggo)
The rising temperature of Andaman Sea in May 2010 causing many Indonesia’s waters experienced 4°C temperature rise. This phenomena triggers coral bleaching in many Indonesia’s coastal area, one of them is Probolinggo beach. Probolinggo beach is a beach with very fascinating coral reefs, one of them is located near Paiton Power Plant area. Paiton plant unit is a power plant that is owned by PT. PJB which used to supply almost three of fourth part of the electricity in Java and Bali. PLTU Paiton is established at the seaside of Probolinggo beach, which has a coolant circulation system located adjacent to the sea. Coral bleaching mapping with remote sensing method with in situ data was used to detect the extent of areas experiencing coral bleaching. WorldView-2 Satellite Imagery was used with the processing performed on the blue bands and green bands which has the depth of water penetration. Water column correction is done to eliminate the effect of depth. Supervision classification is performed to get the alleged spot of coral bleaching. Classification results showed that the total area of the bleached corals from the five-point field observations with area of each point is 100m^2 is ± 726 m^2.The coral bleaching phenomenon in Paiton’s Power Plant coastal waters is caused by two main factors, the former is the rise of sea surface temperatures and the latter is the activity of Paiton itself. Dredging activities for the construction of new generating units and water discharge processing activities plant added the negative effect for the bleaching, aside from rising sea surface temperatures of ± 4° C
COMPARISON OF C2WP BOUREAL LAKES PROCESSOR AND REGIONAL WATER PROCESSOR ALGORITHM ON EXTRACTING ESTIMATED TOTAL SUSPENDED SOLID DATA OF LAKE SENTANI
Lake Sentani is one of fifteen Indonesian National Priority Lakes. In the Jurnal Biologi Papua, Surbakti (2011) said that Lake Sentani is an euthropic lake. MEdium Resolution Imaging Spectrometer (MERIS) is one of a few sensors at Envisat Satellite which is used to monitor water-quality conditions. At BEAM VISAT, MERIS image can be processed using 3 algorithms to extract water-quality. Those algorithms are Case-2 Water Processor (C2WP) Euthropic Lakes, Case-2 Water Processor (C2WP) Boureal Lakes, and Regional Water Processor Water Processor (WP). In this research, we compared the performance of C2WP Boureal and Regional WP on extracting Total Suspended Solid (TSS) data. Extracting TSS data using C2WP Euthropic were used as data validation because Lake Sentani was an euthropic lake
PURWARUPA SISTEM INFORMASI KADASTER 3D BERBASIS WEB (STUDI KASUS : RUMAH SUSUN PENJARINGAN SARI, KOTA SURABAYA)
Kebutuhan informasi pertanahan 3D saat ini sangat dibutuhkan masyarakat seiring dengan perkembangan pertumbuhan pembangunan dari pembangunan horizontal ke arah pembangunan vertikal. Salah satu informasi kadaster 3D yang perlu dikembangkan adalah mengenai Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa). Dalam penelitian ini Rusunawa yang dijadikan sebagai studi kasus penelitian adalah Rumah Susun Penjaringan Sari Surabaya yang dikelola oleh Pemerintah Kota Surabaya.Untuk menghasilkan informasi kadaster 3D dari Rumah Susun Penjaringan Sari Surabaya dibutuhkan data denah gedung beserta data penghuni Rumah Susun Penjaringan Sari Surabaya. Data-data tersebut digunakan untuk membuat basis data 3D. Basis data 3D dibuat dengan menggunakan software PostgreSQL+PostGIS dan selanjutnya diintegrasikan dengan sistem informasi sehingga dapat dihasilkan visualisasi dari purwarupa sistem informasi kadaster 3D berbasis web.Penelitian ini menghasilkan produk berupa purwarupa atau prototype berupa web informasi kadaster 3D yang dapat mengakomodasi pendaftaran sewa menyewa dari Rumah Susun Penjaringan Sari dengan model dinamis sehingga data-data yang ada dapat di¬update ketika mengalami perubahan data. Dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk mengaplikasikan sistem informasi kadaster 3D di Indonesia secara online
ANALISA KARAKTERISTIK KECEPATAN ANGIN DAN TINGGI GELOMBANG MENGGUNAKAN DATA SATELIT ALTIMETRI (Studi Kasus : Laut Jawa)
Potensi laut Indonesia amatlah besar terutama di bidang transportasi. Kondisi transportasi laut saat ini belum memberikan informasi yang komprehensif mengenai arah angin dan tinggi gelombang sebagai variabel utama keselamatan pelayaran. Perkembangan teknologi pengideraan jauh terutama satelit altimetri sangat membantu dalam analisa kondisi fisik lautan. Perhitungan kecepatan angin dan tinggi gelombang merupakan salah satu dari produk satelit Altimetri yang penting dalam memnberikan kontribusi informasi pelayaran. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data satelit Jason 2 tahun 2010 pass 51,64,127,140,203,216,227,242. Hasil tersebut akan diklasifikasikan menurut skala Beaufort untuk analisa keamanan dan keselamatan pelayaran. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa nilai skala Beaufort pada Laut Jawa berkisar antara 1 sampai 6. Hasil analisa pembobotan memperlihatkan nilai yang relatif aman, terutama pada kondisi fisik muka air laut untuk transportasi
ANALISA KESEHATAN MANGROVE BERDASARKAN NILAI NORMALIZED DIFFERENCE VEGETATION INDEX MENGGUNAKAN CITRA ALOS AVNIR-2
Pesisir Kota Surabaya merupakan daerah lahan basah yang memiliki keanekaragaman ekosistem, baik ekosistem pasir, ekosistem rawa payau, dan ekosistem mangrove. Ekosistem mangrove adalah salah satu obyek yang bisa diindentifikasi dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra satelit ALOS AVNIR-2 tahun 2009. Dalam menentukan tingkat kesehatan vegetasi mangrove di daerah penelitian, digunakan algoritma Indeks Vegetasi Normalized Difference Vegetation Index (NDVI).Berdasarkan hasil penelitian, korelasi antara NDVI dengan nilai Spektral Ground yaitu 0.817. Hasil korelasi tersebut termasuk korelasi sangat kuat (0.80–1.00). Koefisien korelasi bertanda positif artinya hubungan nilai NDVI pada citra dengan Spektral Ground satu arah, sehingga jika nilai NDVI tinggi (kesehatan vegetasi normal), maka nilai Spektral Ground juga semakin tinggi. Dari hasil klasifikasi vegetasi mangrove berdasarkan nilai NDVI didapatkan kelas vegetasi mangrove dengan kondisi kesehatan rusak (70%) yang didominasi pada Kecamatan Krembangan, sangat buruk (17,7%) terletak di Kecamatan Kenjeran, buruk (7%) terletak di Kecamatan Mulyorejo, dan normal (5,3%) terletak di Kecamatan Rungkut dan Gunung Anyar
ANALISIS PENGARUH TUTUPAN LAHAN TERHADAP KETELITIAN ASTER GDEM V2 DAN DEM SRTM V4.1 (STUDI KASUS: KOTA BATU, KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR)
Data DEM (Digital Elevation Model) merupakan bentuk penyajian ketinggian permukaan bumi secara digital. DEM merupakan data yang banyak digunakan untuk data awal perencanaan regional, kota, pemetaan mitigasi bencana, dengan skala menengah dan kecil. Data DEM yang mudah didapat dan tanpa berbayar yaitu ASTER GDEM V2 dan DEM SRTM V4.1. Pada penelitian terdahulu [6][10], disimpulkan bahwa ASTER GDEM V2 kurang teliti dibandingkan DEM SRTM V4.1 pada tutupan lahan berupa vegetasi. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan hipotesa bahwa secara keseluruhan DEM SRTM V4.1 lebih teliti dibandingkan ASTER GDEM V2. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil 20 titik sample pada 7 jenis tutupan lahan, yaitu hutan, lading/tegalan, perkebunan, semak/belukar, sawah, pemukiman, dan lahan kosong. Tutupan lahan diperoleh dari overlay tutupan lahan peta RBI dengan tutupan lahan hasil klasifikasi citra landsat 8. Sample tersebut berupa titik tinggi peta RBI dan data dari kontur RBI. Ketelitian ASTER GDEM V2 dan DEM SRTM V4.1 dihitung menggunakan RMSE dari selisih titik sample dari kedua DEM tersebut dengan data peta RBI sebagai referensi. Semakin kecil nilai RMSE, maka semakin teliti data DEM tersebut. Hasil dari penelitian ini yaitu ASTER GDEM V2 kurang teliti pada tutupan lahan vegetasi, tetapi lebih teliti pada tutupan lahan bukan vegetasi (pemukiman dan lahan kosong) dibandingkan dengan DEM SRTM V4.1. Nilai RMSE total DEM SRTM V4.1 (11,60 m) lebih kecil dari nilai RMSE total ASTER GDEM V2 (13, 41 m). Sehingga dapat disimpulkan bahwa DEM SRTM V4.1 lebih teliti dibandingkan ASTER GDEM V2