Geoid (E-Journal)
Not a member yet
    504 research outputs found

    Analisis Pemodelan Tiga Dimensi Candi Gunung Gangsir Menggunakan Low-Cost LiDAR dan Terrestrial Laser Scanner

    Get PDF
    Candi Gunung Gangsir, salah satu warisan bangunan cagar budaya yang memiliki nilai budaya dan ilmu pengetahuan yang penting. Candi ini perlu dilestarikan dengan cara pendokumentasian secara digital. Perkembangan teknologi memungkinkan dalam bentuk pemodelan 3D menggunakan sensor berupa LiDAR (Light Detection and Ranging). Telah ada teknologi terkini berupa smartphone Phone 12 Pro Max dengan tambahan built-in sensor LiDAR. Sensor LiDAR pada iPhone tersebut lebih terjangkau jika dibandingkan dengan alat TLS (Terrestrial Laser Scanner). Akuisisi data dengan iPhone 12 Pro Max sebagai Low-Cost LiDAR dan Leica RTC360 sebagai TLS. Low-Cost LiDAR melakukan pemindaian secara bergerak sehingga menghasilkan 8.234.112 point cloud, sementara TLS menggunakan pemindaian statik menghasilkan 1.359.463.159 point cloud. Secara visual model 3D yang dihasilkan oleh TLS menampilkan detail yang lebih baik daripada hasil dari Low-Cost LiDAR. Diperoleh RMS Error untuk Low-Cost LiDAR sebesar 19,3 cm dan TLS sebesar 0,5 cm, sehingga hanya TLS yang memenuhi batas toleransi yang telah ditetapkan. Pengujian akurasi point cloud menggunakan 3 parameter eigen value based yaitu planarity, linearity, dan sphericity menunjukkan data yang dihasilkan oleh Low-Cost LiDAR tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan data yang dihasilkan oleh TLS secara uji statistik

    Prototipe Augmented Reality Berbasis Mobile untuk Navigasi Pelayaran yang Aman di Wilayah Perairan Selat Madura

    Get PDF
    oai:journal.its.ac.id:article/1124Menurut Badan Pusat Statistik Kota Surabaya (2018), sebanyak 2066 nelayan di pesisir Kota Surabaya memiliki pendapatan rata-rata Rp 11.000.000,00. Hal tersebut tentunya berbeda antara satu nelayan dengan nelayan yang lain dikarenakan perbedaan sumber daya dan armada kapal. Diberitakan juga melalui Kurniawan (2020), bahwa nelayan-nelayan tersebut membutuhkan alat bantu navigasi seperti Global Positioning System (GPS) dan Handy Talky (HT). Meskipun hal tersebut bisa dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya, namun alangkah lebih baik apabila difokuskan pada teknologi yang sudah dimliki oleh para nelayan, yaitu smartphone. Dengan menggunakan teknologi Augmented Reality (AR), penelitian ini bertujuan untuk membuat prototipe AR dalam mengakomodasi kebutuhan keselamatan navigasi pelayaran, khususnya kepada para nelayan. Dalam pembuatannya akan digunakan diagram Unified Modeling Language (UML) tipe use-case yang terintegrasi dengan standar IHO S-100 sebagai dasar pembuatan aplikasi. Pembuatan prototipe AR menggunakan data peta laut nasional dan data batimetri nasional yang nantinya akan dibuat dalam bentuk aplikasi smartphone berbasis android. Aplikasi yang diberi nama Marine Augmented Reality System (MARS) akan memiliki fitur berupa peta 3D berbasis gambar dan simulasi kapal yang bisa digerakkan agar pengguna bisa mempelajari sistem buoy

    Analisis Tingkat Kerawanan COVID-19 Menggunakan Metode Random Forest (Studi Kasus: Unit Pengembangan II Kertajaya dan III Tambak Wedi Kota Surabaya)

    Get PDF
    Pada bulan Maret 2020 pandemi COVID-19 telah melanda seluruh dunia termasuk Indonesia. Oleh karena itu, dinas kesehatan, pemerintah, dan layanan publik perlu bekerja sama secara global untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. Analisis dan pemetaan kerawanan sangat dibutuhkan untuk mengembangkan informasi terkait pandemi COVID-19 dari beberapa faktor yang yang mempengaruhi penularan COVID-19, salah satunya adalah faktor sosial- ekonomi yang memiliki tingkat interaksi antar manusia yang cukup beresiko. Dengan Machine Learning Technique Random forest dapat membantu dalam memberikan keputusan tingkatan atau prioritas parameter dalam analisis dan pemetaan kerawanan pandemi COVID-19 dengan akurat dan mendukung keputusan serta tindakan pencegahan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis dan pemetaan kerawanan pandemi COVID-19 berdasarkan faktor sosial-ekonomi di Unit Pengembangan II Kertajaya dan III Tambak Wedi Kota Surabaya. Penelitian ini menggunakan data statistik jumlah kasus penderita COVID-19 pada bulan Maret tahun 2020 hingga Agustus tahun 2021 dan data fasilitas sosial-ekonomi berupa jumlah fasilitas kesehatan (rumah sakit, puskesmas, dan klinik), objek wisata (tempat wisata dan taman kota), perbankan (atm dan bank), pasar, mall, SPBU, dan terminal. Hasil pengolahan random forest didapatkan tingkat pengaruh dari setiap parameter terhadap penyebaran COVID-19, yaitu fasilitas kesehatan 24,135%, terminal 20,338%, objek wisata 19,916%, mall 19,574%, pasar 11,317%, perbankan 2,628%, dan SPBU 2,092%. Berdasarkan penelitian terdahulu, uji akurasi model yang dihasilkan dapat dikatakan baik dengan nilai akurasi sebesar 0,946 dan nilai kappa sebesar 0,892 serta nilai AUC sebesar 0,984. Hasil pemetaan dari model random forest tersebut, didapatkan daerah dengan tingkat kerawanan rendah pada bagian sebelah utara Kecamatan Kenjeran dan sebelah timur Kecamatan Sukolilo dan Kecamatan Mulyorejo, sedangkan tingkat kerawanan tinggi pada bagian tengah Kecamatan Mulyorejo, dan bagian tengah Kecamatan Sukolilo

    Evaluasi Prioritas Kesesuaian Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kecamatan Kanigaran

    Get PDF
    Pertambahan jumlah penduduk di Kota Probolinggo setiap tahunnya menyebabkan kebutuhan ruangmeningkat sehingga terjadi pengalihan fungsi lahan di perkotaan dan keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) semakinterancam. Analisis kesesuaian lahan dapat menjadi alternatif untuk mengatasi alih fungsi lahan, yakni melalui sisteminformasi geografis (SIG) dan dikombinasikan dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP)untuk mendapatkan prioritas kesesuaian lokasi. Dalam penelitian ini akan menganalisis hasil AHP sebagai bobotdalam menentukan kesesuaian ruang terbuka hijau (RTH) di Kecamatan Kanigaran. Kriteria yang digunakan ialahkemiringan lereng, kepadatan penduduk, penggunaan lahan, aksesibilitas, dan kedekatan RTH terhadap kawasanperkotaan. Bobot dari masing-masing kriteria ini nantinya digunakan dalam weighted overlay. Didapatkan 5 tingkatkesesuaian ruang terbuka hijau (RTH), yaitu sangat sesuai (S1), sesuai (S2), cukup sesuai (S3), tidak sesuai (N1), dansangat tidak sesuai (N2). Analisis kesesuaian yang bernilai “S” terhadap kondisi eksisting dilakukan dengan mengoverlay tutupan lahan melalui Peta Dasar Kecamatan Kanigaran 1:1000. Kemudian, didapatkan perbandingankesesuaian dengan penggunaan eksisting di setiap kelurahanny

    Perancangan Sistem Informasi Geografis berbasis Web untuk Pembuatan Objek Wisata Waduk Selorejo dengan QuantumGIS

    Get PDF
    Waduk Selorejo secara administratif berada pada Kabupaten Malang dan tepatnya berada pada Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang. Waduk Selorejo menjadi salah satu destinasi wisata yang cukup  terkenal di Jawa Timur. Waduk Selorejo merupakan kawasan wisata yang memiliki banyak  potensi yang dapat dikembangkan. Sistem Informasi Geografis merupakan sistem informasi  berbasis komputer yang digunakan untuk mengolah dan menyimpan data atau informasi geografis. Sistem Informasi Geografis berbasis Web merupakan sistem informasi geografis yang didistribusikan diseluruh lingkungan jaringan komputer untuk mengintegrasikan, menyebarkan, dan mengkomunikasikan informasi geografis secara visual di World Wide Web melalui internet. Quantum GIS (QGIS) adalah perangkat lunak desktop pada Sistem Informas Geografis yang memiliki fungsi yaitu menyediakan data, melihat, mengedit, dan memiliki kemampuan analisis spasial. Dengan menggunakan data potensi wisata Waduk Selorejo yang dimasukan kedalam perangkat lunak QGIS. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan yang dapat dijadikan acuan oleh instansi terkait dalam melaksanakan pengembangan potensi wisata Waduk Selorejo

    Analisis Data DEM untuk Hidroponik Presisi: Menemukan Lokasi Penyinaran Matahari yang Optimal (Studi Kasus: Rooftop di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda)

    Get PDF
    Pertumbuhan penduduk Kalimantan Timur yang sangat cepat dan juga pelaksanaan kegiatan pertanian di Kalimantan Timur yang relatif rendah menimbulkan permasalahan dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat di Kalimantan Timur. Dalam usaha meningkatkan pelaksanaan kegiatan pertanian di Kalimantan Timur, perlu dilakukan pertanian skala mikro, yaitu dengan melakukan pertanian hidroponik dengan memanfaatkan lahan kosong di atas gedung (rooftop). Untuk meningkatkan keberhasilan dalam pertanian mikro tersebut, perlu memperhatikan lama penyinaran matahari pada lokasi pertanian tersebut. Dengan berkembangnya teknologi GIS dan Remote Sensing, hal ini dapat memungkinkan untuk dilakukan kajian penentuan lokasi yang optimal untuk pertanian pintar (smart farming) hidroponik, khususnya pada parameter lama penyinaran matahari di lingkungan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Salah satu data spasial yang dapat digunakan dalam kajian ini adalah data Digital Elevation Model (DEM) dari pesawat nirawak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV). Berbagai metode analisis spasial dapat diterapkan untuk dapat mengekstraksi nilai lama penyinaran matahari pada suatu lokasi, salah satunya adalah penentuan area bayangan sinar matahari (Hillshade) dan teknik penjumlahan dengan pembobotan (Weighted Sum). Hasil Dari penelitian ini didapatkan bahwa ada 3 Gedung yang memiliki kriteria cocok sebagai rencana lokasi hidroponik, yaitu antara lain: a) Gedung I, dengan luas 172.5 m2 dan lama penyinaran maksimal 12 jam/hari; b) antara GedungG dan H, dengan luas 130 m2 dan lama penyinaran maksimal 12 jam/hari; serta Gedung E, dengan luas 737,49 m2 dan lama penyinaran maksimal 12 jam/hari. Dari hasil kajian dimana didapatkan area yang sesuai dan memiliki lama penyinaran matahari yang optimal di lingkungan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, memberikan gambaran bagi pelaku pertanian, baik dosen maupun mahasiswa, dapat mengembangkan pertanian pintar hidroponik pada lokasi rooftop tersebut. Selain itu penelitian ini dapat tingkatkan lebih lanjut untuk mengkaji lokasi yang optimal untuk produksi daya mandiri (Panel Surya) sebagai supply daya pada kebutuhan pertanian pintar hidroponik selanjutnya

    Analisis Kesesuaian Lokasi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Kota Surabaya

    Get PDF
    Transisi penggunaan kendaraan bermotor berbahan bakar listrik menjadi salah satu solusi pengendalian polusi udara di kota-kota besar salah satunya Kota Surabaya. Untuk mewujudkan upaya tersebut, penyiapan infrastruktur pendukung kendaraan berbahan bakar listrik sangat diperlukan, salah satunya stasiun pengisian kendaraan lsitrik umum (SPKLU). Penelitian ini melakukan analisis tingkat kesesuaian lokasi SPKLU di Kota Surabaya menggunakan pendekatan spatial multi-criteria evaluation (SMCE) dengan menerapkan analytitchal hierarchy process (AHP) sebagai alat pendukung. Penelitian ini mempertimbangkan 4 kriteria yaitu faktor lingkungan, infrastruktur transportasi, ketersediaan energi, dan sosio-ekonomi. Setiap kriteria memiliki 3 sub-kriteria. Berdasarkan perbandingan berpasangan menggunakan AHP, faktor infrastruktur transportasi memiliki bobot tertinggi dengan nilai 0,679. Pada faktor tersebut, sub-kriteria dengan bobot tertinggi adalah jarak dari jalan utama dengan nilai 0,655. Oleh karena itu, parameter jarak dari jalan memiliki bobot akhir tertinggi yaitu 0,445. Nilai inkonsistensi pada semua perbandingan berpasangan yang dilakukan kurang dari 0,1. Analisis kesesuaian lokasi SPKLU Kota Surabaya menunjukkan bahwa area studi didominasi oleh tingkat kesesuaian sangat tinggi dengan luasan  141,620 km2 (42,10% luasan keseluruhan). 20 titik acak dalam wilayah dengan kelas kesesuaian sangat tinggi dipilih sebagai pilihan alternatif penentuan prioritas utama pembangunan SPKLU. Dari 20 titik tersebut A20 merupakan titik dengan prioritas tertinggi yaitu 5,6%,. Berdasarkan analisis sensitivitas, alternatif tersebut merupakan alternatif yang paling stabil posisi urutannya pada simulasi penghilangan salah satu bobot. Dari model kesesuaian lokasi SPKLU, didapatkan evaluasi model dengan nilai AUC (area under curve) sebesar 0,959 yang termasuk kategori sangat baik. Penelitian ini dapat membantu pemegang kepentingan dalam penyediaan infrastruktur kendaraan berbahan bakar listrik di Kota Surabaya pada lokasi yang tepat. Dengan demikian, infrastruktur tersebut dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat luas

    Analisis Hubungan Kemunculan Hiu Paus (Rhincodon typus) dengan Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-a Pada Perairan Botubarani Provinsi Gorontalo

    Get PDF
    Hiu Paus merupakan salah satu hewan yang terancam punah, sehingga masuk dalam hewan yang dilindungi. Salah satu lokasi kemunculan Hiu Paus di Indonesia adalah perairan Botubarani Provinsi Gorontalo. Perairan tersebut dijadikan Kawasan Ekowisata Hiu Paus yang bertujuan meningkatkan ekonomi masyarakat setempat sekaligus menjadi lokasi riset dan konservasi Hiu Paus. Kemunculan Hiu Paus pada perairan Botubarani masih belum banyak diketahui penyebabnya. Secara umum kemunculan Hiu Paus pada suatu lokasi tergantung pada kondisi kimia, fisik, dan biologi perairan. Penelitian bertujuan mencari korelasi antara kemunculan Hiu Paus pada perairan Botubarani menggunakan parameter suhu permukaan laut (SPL) dengan dan Klorofil-a. Kedua data tersebut diperoleh dari data citra Modis dan Landsat-8. Hasil pengujian korelasi antara kemunculan Hiu Paus dengan Klorofil-a dari data harian MODIS Aqua dan Terra masing-masing adalah -0,356 dan -0,077, sedangkan korelasi dengan SPL masing-masing adalah 0,338 dan 0,108. Hasil ini menunjukkan korelasi moderat antara kemunculan Hiu Paus dengan SPL dari data MODIS Aqua, tetapi korelasi yang lemah dengan Klorofil-a. Pengujian korelasi menggunakan data Landsat-8 menunjukkan korelasi moderat positif antara kemunculan Hiu Paus dengan Klorofil-a sebesar 0,499, sementara korelasi dengan SPL menunjukkan nilai yang sangat lemah sebesar -0,183. Selain itu, terdapat korelasi negatif kuat antara Klorofil-a dan SPL dengan nilai -0,782 pada data Landsat-8, mengindikasikan fenomena upwelling. Disparitas dalam hasil ini disebabkan perbedaan resolusi spasial antara data MODIS dan Landsat-8 serta kompleksitas dinamika perairan pesisir yang mempengaruhi kualitas data satelit

    ANALISIS KENAIKAN MUKA AIR LAUT INDONESIA TAHUN 1993-2018 MENGGUNAKAN DATA ALTIMETRI

    No full text
    Kenaikan muka air laut (sea level rise) merupakan konsekuensi dari perubahan iklim yang memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan infrastruktur, serta ancaman tenggelamnya kawasan pesisir Indonesia yang ditinggali oleh 60% penduduknya. Sejak akhir abad ke-19, perubahan kedudukan air laut diamati dari stasiun pasang surut di sepanjang garis pantai. Namun, pengamatan stasiun pasang surut memiliki keterbatasan dalam jumlah, distribusi, dan jangkauannya, serta adanya pengaruh land subsidence. Oleh karena itu, penelitian ini menganalisis tren kenaikan muka air laut Indonesia menggunakan data pengamatan misi referensi satelit altimetri, yaitu Topex/Poseidon, Jason 1, Jason 2, dan Jason 3. Setelah dilakukan least square intercalibrated dan a-seasonal-trend decomposition procedure based on loess diketahui bahwa laju sea level rise di Indonesia +4,5 mm/tahun pada periode tahun 1993-2018. Tren linier bernilai positif ini menunjukkan bahwa ketinggian muka laut di Indonesia akan terus meningkat dengan persamaan y = 4,6x - 9133,5 mm, dimana y adalah sea level anomaly dan x adalah waktu. Sehingga berdasarkan hasil tersebut dapat dilakukan perencanaan pra-kejadian terhadap dampak dari sea level rise yang akan mendatang

    Kajian Pengurangan Sampah pada TPS3R Kecamatan Gunung Anyar, Kota Surabaya: Assessment of Municipal Solid Waste Reduction in Community-Based Reduction Facility District of Gunung Anyar Surabaya City

    Get PDF
    Abstrak: Timbulan sampah Kecamatan Gunung Anyar Kota Surabaya mengalami peningkatan walaupun telah memiliki berbagai fasilitas pengelolaan sampah seperti TPS3R. TPS3R Gunung Anyar direncanakan mengelola sampah sebesar 1.161 ton/tahun, namun saat ini hanya mampu mengelola sampah sebesar 595 ton/tahun dengan residu 48,7%, melebihi batas yang seharusnya mampu dihasilkan oleh TPS3R sebesar 30%. Penelitian ini menganalisis kondisi pengelolaan sampah di TPS3R Gunung Anyar dan optimalisasi kinerjanya untuk mencapai target pengurangan sampah pemerintah. Metode yang digunakan pada perhitungan timbulan dan komposisi sampah mengacu pada SNI 19-3964-1994 dengan menggunakan metode load count analysis. Metode yang digunakan dalam analisis partisipasi masyarakat adalah penyebaran kuesioner dengan pembuatan kuesioner yang mengacu pada metode skala likert. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa TPS3R Gunung Anyar mampu menangani rata-rata 3.502 kg sampah per hari dengan densitas 264 kg/m³. Saat ini TPS3R Gunung Anyar memiliki tingkat pengurangan sampah mencapai 41,2% dengan residu 58,8%. Mayoritas masyarakat memiliki pengetahuan baik (72%) dan sikap positif (92%) terhadap pengelolaan sampah berbasis 3R, tetapi hanya 35% yang aktif berpartisipasi. Dua alternatif dianalisis sebagai rencana untuk meningkatkan pengurangan sampah. Alternatif pertama meliputi optimalisasi pemilahan dan jam kerja, dengan potensi pengurangan sampah 2.551 kg/hari (55%). Alternatif kedua, yang mencakup pengembangan lahan dan perubahan pihak ketiga, berpotensi mengurangi sampah hingga 3.244 kg/hari (70%). Abstract: Municipal solid waste generation in Gunung Anyar District Surabaya City has risen despite having TPS3R facilities. TPS3R Gunung Anyar is designed to handle municipal solid waste of 1,161 tons/year, but currently, it manages only 595 tons/year, with a residue rate of 48.7%, exceeding the acceptable limit of 30%. This study examines municipal solid waste management at TPS3R Gunung Anyar and determines the performance optimization to meet government solid waste reduction targets. Determination of municipal solid waste generation and composition was conducted based on SNI 19-3964-1994 and load count analysis. Community participation was assessed using Likert-scale questionnaires. TPS3R Gunung Anyar handled an average solid waste of 3,502 kg/day with a density of 264 kg/m³. The facility achieved a reduction rate of 41.2%, with a residue of 58.8%. Most of the community had good knowledge (72%) and a positive attitude (92%) toward 3R waste management, but only 35% actively participated. Two alternatives were analyzed to improve solid waste reduction. The first alternative is optimizing sorting and working hours, potentially reducing solid waste by 2,551 kg/day (55%). The second alternative involves expanding the facility and changing waste collectors, with a potential reduction of up to 3,244kg/day (70%

    41

    full texts

    504

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Geoid (E-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇