Geoid (E-Journal)
Not a member yet
504 research outputs found
Sort by
PEMODELAN MEKANISME GEMPA BUMI PADANG 2009 BERDASARKAN DATA SUGAR
Indonesia is located among three tectonic plates, namely Eurasia, Hindia-Australia and Pasific plate. It is affected some tectonic activities such as earthquake and volcano eruption at nearest tectonic zone. On September 31st 2009 around Padang, Pariaman, epicenter 99 52’1.2”E; 0 43’12”S, occurred an earthquake with magnitude 7.6 Mw and as one of disaster mitigation action in the earthquake zone societies, geodynamic analysis nowdays is needed in modelling the earthquake probability. Geodynamic study is easier to be completed by using continued GPS method. It can be analyzed the displacement at the earthquake phase. This research will examine modelling mechanism earthquake (coseismic) Padang 2009 by GPS continued method using GPS network Sumatran GPS Array (SuGAr) and dislocation model elastic half-space. The results showed that the biggest displacement happened in MSAI station with -6.26 mm on horizontal axis (easting, northing) and TLLU station with 20.83 mm on vertical axis (up). The most fit model for visualizing the mechanism earthquake Padang 2009 is model number 3 with the parameters of width 69 km, slipage -5 m and dipping angle 12.762 . Model number three represented mechanism earthquake Padang 2009 because the highest score of correlation which is -0.71965mm in horizontal displacement and 0.75906 in vertical displacements. It shows that earthquake mechanism that happened in Padang is Thrust Faul
ANALISA PERUBAHAN IONOSFER AKIBAT GEMPA MENTAWAI TAHUN 2010 BERDASARKAN KEDALAMAN DAN MAGNITUDE (Studi Kasus : Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat)
Gempa merupakan fenomena alam akibat aktifitas tektonik yang sering terjadi di Indonesia. Sepanjang pulau Sumatra merupakan pertumbukan antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia menjadikan Sumatra sebagai daerah paling aktif dengan aktifitas tektoniknya. Pada tahun 2010 tercatat tiga gempa besar yang terjadi, yaitu gempa berkekuatan 6,8 SR pada 5 Maret, disusul 6,5 SR pada 5 Mei dan terakhir 7,8 SR pada 25 Oktober 2010. Sebelumnya pada tahun 2009 juga terjadi gempa di padang dengan kekuatan 7,6 SR. Setiap gempa mempunyai kedalaman dan magnitude yang berbeda-beda.Post-earthquake anomali merupakan fluktuasi TEC yang terjadi sesaat setelah terjadinya gempa, fenomena ini terjadi 3 menit hingga 1 jam setelah gempa terjadi.
Post-earthquake anomali dapat digunakan sebagai early warning sebelum tsunami datang. Pengamatan TEC (Total Electron Content) dilakukan dengan menggunakan GPS. Satelit GPS akan secara kontinyu memancarkan sinyal gelombang double frequency pada L band. Pada saat terjadi gempa, sinyal yang dipancarkan oleh satelit GPS akan mengalami delay ketika melewati lapisan ionosfer kira-kira 300 km dari permukaan bumi. Variasi ionosfer diamati pada saat terjadi time-delay ini, sehingga didapat nilai TEC dimana I TECU sama dengan 1016 elektron/m2. Nilai tersebut yang akan menggambarkan besaran gangguan akibat adanya gempa.
Pada penelitian ini mengamati perubahan ionosfer pada saat gempa dengan kedalaman dan magnitude yang berbeda. Studi kasus pertama magnitude berbeda dengan kedalaman yang sama dan studi kasus kedua kedalaman yang sama dengan magnitude yang berbeda. Berdasarkan penelitina yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa perubahan ionosfer dipengaruhi oleh kedalaman dan magnitude gempa
STUDI ANALISIS KETELITIAN GEOMETRIK HORIZONTAL CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI SEBAGAI PETA DASAR RDTR PESISIR (STUDI KASUS: KECAMATAN BULAK, SURABAYA)
The availability various of high resolution satellite imagery with high accuracy at less than one meter, show that remote sensing technology is developed, that impact on the increased accuracy of various base maps that require a high scale example of at least 1: 5000 in the preparation of base maps a detailed plan to spatial structure of urban, industrial and coastal which will be reviewed in this study. Of course, to meet the high scale, high-resolution satellite images must be processed and corrected to minimize Geometrik errors. The data that is used in this study is the high-resolution satellite Pleiades 1B imagery in 2015 data acquisition and Geoeye in 2013. Each imagery data carried out Geometrik correction process that is carried out using the Affine and Polynomial Order 2 transformation method. As the supporting data is Ground Control Points (GCP) data as much as 9 points and 23 Independent Check Points (ICP), all of the Control Point is measured using GPS Geodetik and also 21 planimetric distance measurement data, this data is used for Geometrik correction process until the Geometrik accuracy tests performed on each image. In the end the results of this study showed that each of image that has performed Geometrik correction have the results of the accuracy that meets the standards of accuracy base map up to a scale of 1: 5000 in Class 1, with details of the correction process Geometrik rectification generate the RMS Error indicating that the Polynomial Order 2 method on the image of the Pleiades 1B 0,158 and GeoEye 0,089 have RMS Error values are better than the Affine method on Pleides 1B and GeoEye that have result of 0,253 and 0,173, horizontal Geometrik accuracy CE90 Geoeye satellite imagery with a value of 0,697 better than the Pleiades 1B that has a value of 0 , 731. as well as on the planimetric accuracy test showed GeoEye imagery with a value of 0,506 accuracy better than Pleiades 1B at 0,648.ye imagery with a value of 0,506 accuracy better than Pleiades 1B at 0,648
IDENTIFIKASI POTENSI PANAS BUMI MENGGUNAKAN LANDSAT 8 SERTA PENENTUAN LOKASI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI (Studi Kasus : Kawasan Gunung Lawu)
Indonesia is located in the meeting point of several tectonic plates that related to the potential of geothermal energy. Geothermal energy in Indonesia spread in Jawa, Sumatra, Sulawesi, Nusa Tenggara, and other provinces. Their surface manifestations such as fumaroles, hot ground, sinter silica, hydrothermal alteration and hot springs is an indicator of geothermal energy. All manifestations of the surface has a relatively higher temperature than the surrounding environment (anomaly). First step to identify geothermal, is to study the characteristics of the potential area (landform). Identifying potential areas of geothermal can be detected using remote sensing (thermal channels) Landsat 8. Thermal channels is very effective to identify geothermal manifestations with wide area of research. The results of the processing of Landsat 8 will generate to temperature anomalies that indicate of heat manifestations. However, these anomalies are not all manifestations of geothermal. Therefore, there should be a further processing with predetermined parameters.Mount Lawu, located in Karanganyar District, Central Java and Magetan District, East Java, has predicted geothermal potential energy. Total potential of geothermal energy was proccess by overlay several parameters; land surface temperature anomalies, vegetation density anomaly, and preliminary survey data. The identification results of Geothermal Potential is 275 MWe . Using geographical information system analysis show that potential area for power plant is 159 920 km2 ( 15992.094 Ha ) and not potential area is 487 560 km2 ( 48756.068 Ha)
ORTOREKTIFIKASI FOTO FORMAT KECIL UNTUK PERHITUNGAN DEFORMASI JEMBATAN (Studi Kasus : Jembatan Suramadu, Surabaya - Madura)
Jembatan Suramadu merupakan jembatan terpanjang di Indonesia yang melintasi Selat Madura untuk menghubungkan Pulau Jawa (di Kota Surabaya) dan Pulau Madura (di Bangkalan), Indonesia. Pengamatan deformasi dilakukan untuk memberikan informasi geometrik dari benda terdeformasi. Fotogrametri jarak dekat digunakan untuk pengamatan deformasi karena kelebihannya dalam hal efisiensi biaya serta ukuran dan jangkauan objek yang diamati. Proses kalibrasi kamera dan ortorektifikasi (pembuatan foto tegak) dilakukan untuk mereduksi pergeseran film akibat ketidakstabilan parameter orientas pada kamera dijital non metrik format kecil. Hasil dari proses ortorektifikasi berupa mosaik ortofoto dengan sistem koordinat 2 dimensi dan DEM. Pengamatan deformasi menggunakan proses ortorektifikasi sisi Gresik jembatan Suramadu pada tanggal 19 Maret 2015 dan 7 Mei 2015 menunjukkan bahwa di bentang 1 (antara Abutment Surabaya dan pilar 1, deformasi pada sumbu XY berkisar antara 1 – 16 mm dan pada sumbu Z berkisar antara 0 – 35 mm. Dan di bentang 100 (antara pilar 99 dan 100), deformasi pada sumbu XY berkisar antara 11 – 55 mm dan pada sumbu Z berkisar antara 6 – 37 mm. Uji validasi koordinat mosaik ortofoto terhadap koordinat pengukuran terestris menunjukkan bahwa koordinat mosaik ortofoto di arah Surabaya tidak memiliki nilai yang signifikan sedangkan di arah Madura memiliki nilai yang signifikan terhadap koordinat hasil pengukuran terestris. Terdapat beberapa saran untuk penelitian berikutnya. Pertama, melakukan pengamatan lebih dari 2 kala. Kedua, menggunakan GCP yang memiliki tanda silang. Ketiga, melakukan proses kalibrasi bundle adjustment self calibration dengan menggunakan titik kontrol pada jembatan dan keempat adalah melakukan percobaan lebih dari 1 kali dalam proses ortorektifikasi
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN PERUNTUKAN KAWASAN PERMUKIMAN, INDUSTRI, MANGROVE WILAYAH PESISIR UTARA SURABAYA TAHUN 2010 DAN 2014
Pesisir menyediakan aksesibilitas yang lebih tinggi bagi kegiatan transportasi dan pelabuhan, serta ruang yang relatif mudah dan murah bagi kegiatan industri pergudangan, dan merupakan tempat konsentrasi penduduk yang paling padat, sekitar 75% dari total penduduk dunia bermukim di kawasan pesisir. Salah satu wilayah pesisir di Jawa Timur, yaitu pesisir utara Surabaya, mengalami dinamika perubahan cukup cepat. Surabaya sebagai pusat urban yang menunjang kegiatan sosial perekonomian wilayah Gerbangkertasusila dan sebagai pusat pengembangan ekonomi bagian timur Indonesia. Penelitian ini mengkaji mengenai kesesuaian lahan untuk permukiman, industri, mangrove berdasarkan kondisi fisik lahan dan tingkat kesesuaian tutupan lahannya pada tahun 2010 dan 2014. Tutupan lahan diperoleh dari hasil klasifikasi digital citra ALOS AVNIR-2 dan Landsat 8. Metode analisis pada penelitian ini anatara lain reklasifikasi, overlay, scoring dan pembobotan dengan pairwise comparison, sehingga diperoleh peta kesesuaian lahan yang menggunakan basis aturan dari penelitian terdahulu. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah diperoleh luasan tutupan lahan paling besar pada tahun 2010 adalah kelas rawa/tambak dan pada tahun 2014 kelas lahan terbuka. Hasil kesesuaian lahan dengan parameter fisik dari tiga fungsi kawasan diperoleh kelas sangat sesuai hingga sesuai marginal. Pada analisa tingkat kesesuaian eksisting permukiman di pesisir utara Surabaya dengan tipe kesesuaian sangat sesuai (S1) mengalami peningkatan sebesar 69,90 Ha, kelas indutri didominasi kelas cukup sesuai mengalami peningkatan sebesar 72,30 Ha sedangkan kelas mangrove didominasi kelas sangat sesuai dan mengalami pengurangan sebesar 4,91 Ha antara tahun 2010 dengan 201
ANALISA KESESUAIAN LAHAN TEH DI BANJARNEGARA MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
Teh merupakan komoditas unggulan Kabupaten Banjarnegara. Peluang pengembangan teh di banjarnegara sangat baik karena pasar ekspor yang masih belum terpenuhi. Akan tetapi masih minimnya informasi terkait daerah yang sesuai untuk budidaya teh menyebabkan investasi the di Banjarnegara tidak berkembang dengan pesat. Penelitian ini menggunakan teknologi penginderaan jauh dan Sistem informasi Geografis untuk menganalisa daerah potensi pengembangan budidaya teh berdasarkan kesesuaian lahan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan lahan yang sesuai (S2) untuk budidaya teh seluas 2147,21 Ha (6,58%) dan Sesuai marjinal (S3) seluas 6882,32 Ha (21,10%). Validasi hasil peta ini dilakukan dengan ground truth pada 32 titik sampel dengan tingkat kebenaran 88 %
FOTO UDARA MENGGUNAKAN WAHANA UAV JENIS FIX WING
Perkembangan teknologi yang semakin cepat dan kebutuhan masyarakat akan informasi spasial menjadi sebuah tantangan bagi para penyedia informasi spasial untuk mendapatkan informasi spasial secara cepat. Salah satu cara untuk mendapatkan informasi spasial adalah dengan foto udara dengan menggunakan pesawat tanpa awak atau UAV. Penelitian ini bertujuan untuk merakit sebuah wahana UAV dengan tipe fix wing dengan estimasi biaya yang murah dan memiliki kemampuan membuat peta foto udara. Peta foto udara yang di dapat dengan menggunakan wahana ini akan di proses dengan menggunakan metode fotogrametri. Dari hasil penilitian ini dihasilkan sebuah prototype UAV Fix Wing dengan total biaya perakitan sebesar Rp.12.850.000. UAV ini dapat melakukan foto udara sesuai dengan jalur terbang yang sudah di rencanakan dan menghasilkan sebuah peta foto. Hasil test terbang di daerah studi didapatkan Wahana yang dihasilkan yaitu Phantom FPV Flying Wing EPO yang didukung dengan Propeller 9x6 serta Turnigy 9 XR + Modul cukup stabil melakukan kegiatan pemotretan udara
ANALISA NILAI KLOROFIL DENGAN MENGGUNAKAN DATA MODIS, VIIRS, DAN IN SITU (Studi Kasus: Selat Madura)
Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan dua pertiga dari luas keselurahan negara Indonesia adalah laut. Maka dari itu diperlukan pemantauan dinamika untuk mengetahui proses lingkungan yang memengaruhi sumberdaya kelautan dan perikanan. Dalam tiga dekade terakhir telah dilakukan pengamatan kandungan klorofil-a dengan memanfaatkan sensor satelit penginderaan jauh yang mengamati warna laut (ocean color). Data yang digunakan untuk mendapatkan persebaran potensi ikan adalah data persebaran klorofil dari hasil pengolahan citra satelit Aqua MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) dan SUOMI NPP VIIRS (Visible Infrared Imaging Radiometer Suite), serta data in-situ berupa sampel air laut yang diuji di laboratorium. Proses pengolahan citra menggunakan algoritma OC3. Hasil dari penelitian ini adalah peta persebaran klorofil-a, peta persebaran potensi ikan di perairan Selat Madura dan analisa beberapa data diantaranya data citra terhadap ground truth, analisa spasial antar citra, dan analisa konsentrasi klorofil-a lapangan dengan parameter lain. Berdasarkan pada proses analisa dapat disimpulkan bahwa Aqua MODIS dan Suomi NPP VIIRS memiliki korelasi yang cukup kuat terhadap data ground truth dengan nilai koefisien korelasi sebesar 54% untuk Data MODIS, dan 59% untuk data VIIRS. Nilai konsentrasi klorofil-a pada citra MODIS dapat mencapai rentang konsentrasi tinggi 2,001 – 3 mg/m3, sedangkan VIIRS hanya mencapai rentang konsetrasi sedang 1,001 – 2 mg/m3. Hal ini disebabkan karena perbedaan resolusi spektral antara dua sensor satelit tersebut
IDENTIFIKASI MORFOLOGI DAN POTENSI BAHAYA SEKITAR TITIK PENGEBORAN MENGGUNAKAN MULTIBEAM ECHOSOUNDER DAN MAGNETOMETER (STUDI KASUS: SELAT MAKASSAR, KALIMANTAN TIMUR)
Konstruksi lepas pantai adalah struktur dan fasilitas di lingkungan laut, digunakan untuk produksi dan mentransmisi listrik, minyak, gas dan sumber daya lainnya. Pembangunan lepas pantai melibatkan ekstraksi energi dalam bentuk minyak atau gas. Hal ini berhubungan dengan pembangunan Bangunan Lepas Pantai. Survei batimetri telah dimaksudkan untuk memperoleh data Kedadalam, topografi dasar laut, dan morfologi dasar laut termasuk lokasi berbahaya dan benda-benda lainnya. Penelitian ini membahas tentang perencanaan pembangunan konstruksi lepas pantai dengan menggunakan beberapa instrumen seperti Multibeam Echo Sounder dan Magnetometer. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang kondisi morfologi dan medan magnet atau benda-benda logam yang tertanam di dasar laut sekitar titik pengeboran yang dapat membahayakan proyek itu sendiri. Multibeam Echo Sounder digunakan untuk mendapatkan gambaran dari fitur dan morfologi dasar laut pada sekitar titik pengeboran dan Magnetometer digunakan untuk mendapatkan gambaran jika ada pipa atau medan magnet di dasar laut sekitar titik pengeboran. Semua instrumen ini dapat saling mendukung dengan kelebihan dan kekurangan mereka dalam rangka untuk menunjukan peta potensi bahaya dari morfologi dan medan magnet untuk mendukung Kegiatan konstruksi lepas pantai