Geoid (E-Journal)
Not a member yet
504 research outputs found
Sort by
PENGARUH TINGKAT BAHAYA EROSI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) KALI SERANG TERHADAP DINAMIKA TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) DI WADUK KEDUNG OMBO
Waduk Kedung Ombo adalah waduk yang terletak di perbatasan tiga kabupaten yaitu Kabupaten Grobongan, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Sragen tepatnya di Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Jawa tengah. Waduk Kedung Ombo mempunyai peran penting sebagai sumber perairan untuk berbagai keperluan. Seiring berjalannya waktu, Waduk Kedung Ombo mengalami penurunan kualitas dikarenakan permasalahan kondisi waduk serta permasalahan kawasan di sekitarnya.. Tingkat sedimentasi yang tinggi pada perairan dapat mengakibatkan degradasi kualitas air dan berpengaruh terhadap besaran potensi erosi yang dapat ditunjukkan dari tingginya nilai Total Suspended Solid (TSS) yang merupakan material padatan yang tersuspensi di daerah perairannya.Besarnya nilai TSS didapatkan dari hasil pengolahan menggunakan algoritma TSS pada citra Landsat 8 tahun 2014, 2016, dan 2018 yang dibandingkan dengan nilai hasil validasi sampel air yang telah di uji secara gravimetri. Konsentrasi TSS yang didapatkan kemudian dikaitkan dengan besaran potensi erosi dengan melakukan suatu prediksi erosi menggunakan metode empiris USLE (Universal Soil Loss Equation) pada Daerah Aliran Sungai Kali Serang di Waduk Kedung Ombo.Hasil penelitian ini menunjukkan kelas tingkat bahaya erosi di Daerah Aliran Sungai Kali Serang pada Waduk Kedung Ombo yang paling besar adalah kelas 15-60 ton/ha/tahun dengan luas pada tahun 2014 sebesar 20.368,786 ha dan 2016 sebesar 23.320,163 ha. Algoritma yang paling baik untuk pengolahan TSS dengan nilai koefisien determinasi mendekati 1 adalah Algoritma Parwati dengan nilai determinasi mencapai 0,6404 atau 64,04%. Penurunan terhadap sebaran Total Suspended Solid pada konsentrasi 100 mg/l dan kenaikan terhadap konsentrasi 0-20 mg/l sebanding dengan perubahan luasan Tingkat Bahaya Erosi pada Daerah Aliran Sungai Kali Serang di Waduk Kedung Ombo. Perubahan Total Suspended Solid sangat signifikan di area sub DAS Karangboyo dan sub DAS Laban
ANALISA FENOMENA ENSO DI PERAIRAN INDONESIA MENGGUNAKAN DATA ALTIMETRI TOPEX/POSEIDON DAN JASON SERIES TAHUN 1993 – 2018
ENSO (El Nino Oscillation Southern Oscilation) adalah fenomena yang terjadi karena penyimpangan hubungan El Nino Oscillation Southern Oscilation antara laut dan atmosfer sepanjang Samudera Pasifik dari kondisi normalnya.Dampak dari fenomena adalah kekeringan, banjir, pemutihan karang, dan perubahan tinggi muka air laut. Salah satu wilayah yang terdampak El Nino Oscillation Southern Oscilation adalah perairan Indonesia. Untuk menentukan wilayah laut Indonesia yang terpengaruh fenomena El Nino Oscillation Southern Oscilation dilakukan dengan menghitung korelasi antara sea level anomaly dari daa satelit altimetri dengan indeks El Nino Oscillation Southern Oscilation (Multvariate ENSO Index, Southern Oscillation Index, Nino Oscillation Index). Nilai korelasi mean sea level anomaly dengan Multivariate ENSO Index dan Oscillation Nino Index adalah kuat dan negatif. Hasil korelasi mean sea level anomaly dengan Southern Oscilation Index adalah kuat dan positif. Wilayah yang memiliki korelasi kuat antara sea level anomaly dengan indeks ENSO adalah Laut Halmahera, Laut di Utara Papua, Laut Maluku, Laut Sulawesi, dan perairan sekitar Nusa Tenggara Timur. Sedangkan wilayah yang memiliki koreasi lemah ada di perairan sekitar Sumatera, Laut Natuna dan perairan sekitar Jawa bagian barat
ANALISIS POLA SEBARAN SEDIMEN UNTUK MENDUKUNG PEMELIHARAAN KEDALAMAN PERAIRAN PELABUHAN MENGGUNAKAN PEMODELAN HIDRODINAMIKA 3D (STUDI KASUS: PELABUHAN TANJUNG PERAK, SURABAYA)
Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya merupakan salah satu pelabuhan di Indonesia yang menjadi pusat distributor barang ke kawasan timur Indonesia. Keberadaan sedimen di dalam perairan akan mempengaruhi kondisi fisik perairan pelabuhan tersebut dikarenakan pengendapan sedimen di suatu perairan akan mempengaruhi bentuk topografi di dasar perairan. Pengerukan secara rutin diperlukan untuk memelihara kedalaman suatu kolam dan alur pelayaran dari pendangkalan akibat pergerakan dan pengendapan material sedimen. Salah satu penyebab dari proses sedimentasi adalah arus dan pasang surut air laut. Pasang surut adalah fluktuasi muka air laut karena adanya gaya tarik benda-benda di langit, terutama matahari dan bulan terhadap massa air laut di bumi. Dalam hal ini dilakukan analisis pola sebaran sedimen menggunakan pemodelan hidrodinamika 3D menggunakan perangkat lunak Delft3D. Pemodelan arus dan sebaran sedimen dilakukan menggunakan metode simulasi numerik dengan parameter data batimetri, pasang surut air laut, river discharge, densitas, dry density dan konsentrasi sedimen. Dari penelitian ini didapatkan hasil nilai sebaran sedimen paling besar terjadi pada saat spring tide mencapai 2x10-3 m2/s. Berdasarkan data kumulatif erosi dan sedimentasi, daerah perairan Pelabuhan Tanjung Perak yang mengalami sedimentasi paling besar adalah kolam pelabuhan, Terminal Teluk Lamong dan daerah sekitar bangunan jetti, sehingga diperlukan monitoring secara rutin di daerah tersebut
ANALISIS KETELITIAN HASIL PENGAMATAN GNSS METODE RADIAL BERDASARKAN LAMA PENGAMATAN UNTUK EFISIENSI PENGUKURAN GROUND CONTROL POINT
Saat ini GNSS memiliki peran yang sangat penting di bidang survei pemetaan, terutama dalam menentukan koordinat GCP untuk keperluan foto udara, citra satelit resolusi tinggi dan LiDAR. Masing-masing proses rektifikasi ini membutuhkan akurasi koordinat yang berbeda antara 5 cm hingga 30 cm. Sering kali pelaksanaan pengukuran GCP tidak sesuai dengan perencanaan karena faktor non teknis. Oleh karena itu sangatlah penting untuk menentukan waktu minimum yang efektf untuk pengukuran GCP di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan yang ada dengan melakukan pengolahan data GNSS dengan interval 15 menit dengan metode radial. Dengan demikian dapat diketahui berapa lama waktu yang dibutuhkan dan metode apa yang digunakan untuk mendapatkan akurasi minimum pengukuran GCP foto udara, CSRT dan LiDAR. Secara umum hasil penelitian menunjukan bahwa semakin lama pengamatan GNSS akan menghasilkan koordinat yang lebih akurat, dari ketelitian 0,923 m pada pengamatan 15’ hingga 0,011 m pada pengamatan 120’. GCP dengan baseline 0-10 km menggunakan metode radial selama 15’ dapat memperoleh akurasi kurang dari 5 cm. Hasil pengamatan tersebut dapat digunakan untuk rektifikasi foto udara resolusi 10 cm, CSRT dan LiDAR. Panjang baseline 10-20 km membutuhkan waktu 90’ untuk dapat digunakan untuk GCP foto udara resolusi 10 cm, sedangkan CSRT dan LiDAR membutuhkan waktu pengamatan GCP 75’
ANALISIS KEMAMPUAN CITRA SATELIT PLEIADES-1B DALAM MENGESTIMASI KEDALAMAN PERAIRAN GILI IYANG DENGAN MENERAPKAN GEOGRAPHICALLY WEIGHTED REGRESSION (GWR)
Untuk menyediakan sebuah peta batimetri yang dapat dipercaya, pada umumnya menggunakan echosounder dalam aktivitas survei bathimetri. Teknologi tersebut memerlukan biaya yang cukup besar dan pengolahan data yang rumit, terlebih lagi kendala akses kapal pada area perairan dangkal dan susah dijangkau. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, Satellite Derived Bathymetry, sebuah teknologi pemetaan yang memperoleh data bathimetri dari citra satelit multispektral resolusi tinggi diterapkan. Pada penelitian ini, data satelit Pleiades-1B digunakan untuk mengestimasi kedalaman melalui algoritma kedalaman Van Hengel & Spitzer dengan terlebih dahulu membangun geographically weighted regression (GWR) dan teknik interpolasi spasial Inverse Distance Weighted. Pada tahap pre-prosesing, diterapkan koreksi atmosfer 6SV. Hasil dari proses tersebut digunakan sebagai masukan dalam algoritma VHS untuk mengestimasi kedalaman relatif. Kedalaman absolut diperoleh dengan membangun GWR dari data insitu dan kedalaman relatif. Kedalaman absolut estimasi kemudian divalidasi menggunakan data insitu. Hasil validasi menunjukkan bahwa nilai NMAE yang diterima sebesar 27.49% dengan 2.46 RMSE. Berdasarkan statistik bias, dari 2.090 m batas toleransi, kedalaman absolut optimum yang dihasilkan data Pleiades-1B adalah pada rentang 6 – 16 m. Tingginya resolusi spasial dari Pleiades-1B serta penerapan GWR dan IDW didapatkan sebuah keuntungan besar dalam penyediaan informasi kedalaman khususnya pada kedalaman 6 – 16 m
PEMETAAN DAERAH RAWAN BANJIR (STUDI KASUS: BANJIR PACITAN DESEMBER 2017)
Setiap tahun bencana alam terjadi di berbagai tempat di wilayah Indonesia. Menurut Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI)-BNPB, lebih dari 78% kejadian merupakan bencana hidrometeorologi. Kejadian bencana hidrometeorologi merupakan kelompok kejadian bencana banjir, gelombang ekstrim dan cuaca esktrim. Curah hujan merupakan fenomena yang sudah biasa mengingat lokasi Indonesia yang berada di daerah tropis. Wilayah satu dengan yang lain dapat memiliki faktor penyebab banjir yang berbeda. Analisa multi-kriteria dapat digunakan untuk melihat kriteria spesifik dari penyebab banjir di suatu wilayah. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah Penyusunan basis data penyebab banjir yang kemudian digunakan unuk membuat Peta daerah rawan banjir kabupaten Pacitan. Peta daerah rawan banjir di hasilkan dari overlay dari parameter curah hujan, jenis tanah, kerapatan aliran,tutupan lahan, ketinggian dan kemiringan lereng yang kemudian dilakukan skoring dan pembobotan menggunakan metode CMA (Composite Mapping Analysis). Dari hasil pengolahan didapatkan peta daerah rawan banjir dengan luas daerah rawan banjir yang dibagi menjadi 3 kelas, yaitu kelas tidak rawan dengan luas daerah 61.879 ha (44%), kelas rawan dengan luas daerah 67.885 ha (48%) dan kelas sangat rawan dengan luas daerah 11.144 ha (8%)
ANALISA KESESUAIAN UNSUR PENYAJIAN PETA KELURAHAN PANYURAN BERDASARKAN PERKA BIG NO. 3 TAHUN 2016
Village map is a basic thematic map that contains elements and information on boundaries, transportation infrastructure, toponyms, waters, infrastructure, land cover and land use that are presented in several map forms. The diversity of village map types in Indonesia is one of the reasons for the Geospatial Information Agency to make a standardization policy of village mapping as a national reference. Procurement of village maps is needed to accelerate the process of village and rural development by utilizing spatial data. The final result of this study is a village map consisting of an image map, a map of land cover, and a map of infrastructure. The presentation of the Panyuran Sub-District map is adjusted to the map elements that must be displayed in accordance with BIG Decree No. 3 of 2016. The percentage of conformity of the presentation of image maps to the mandatory elements is 71.43%, 0% selected elements, and conditional elements 91.30%. Then the percentage of suitability of the presentation of the map of land cover to the mandatory elements is 71.43%, the optional element is 0%, and the conditional element is 88.89%. While the percentage of suitability of the presentation of infrastructure map is 75.00% mandatory element, 0% optional element, and 92.00% conditional element
ANALISIS TINGKAT KEKUMUHAN DAN POLA PENANGANANNYA PADA LOKASI PERMUKIMAN (Studi Kasus: Kelurahan Keputih, Surabaya)
Kota Surabaya sebagai ibukota dari Provinsi Jawa Timur merupakan kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dan tingginya tingkat migrasi mengakibatkan sebagian besar masyarakat menempati lokasi tempat tinggal yang tidak sesuai standar sehingga menimbulkan permasalahan permukiman kumuh. Kelurahan Keputih sebagai salah satu kawasan dengan perkembangan kegiatan bisnis, pendidikan dan perdagangan yang pesat, terindikasi terdapat kawasan kumuh. Oleh karena itu, dilakukan pemetaan kawasan kumuh yang kemudian diklasifikasikan berdasarkan empat tingkat kekumuhan yakni, bukan kawasan kumuh, kawasan kumuh ringan, kawasan kumuh sedang dan kawasan kumuh berat. Dari klasifikasi tersebut ditambah dengan variabel legalitas lahan dapat direncanakan pola penanganan sesuai penetapan lokasi kawasan kumuh. Metode skoring digunakan penelitian ini dalam melakukan identifikasi kawasan permukiman kumuh dengan menggunakan tujuh indikator kekumuhan dari Direktorat Pengembangan Kawasan Pemukiman, 2016 yaitu: kondisi bangunan, kondisi jalan lingkungan, kondisi drainase lingkungan, kondisi penyediaan air minum, kondisi pengelolaan air limbah, kondisi pengelolaan persampahan dan kondisi proteksi kebakaran. Hasil penelitian menunjukkan di Kelurahan Keputih hanya menghasilkan dua klasifikasi tingkat kekumuhan, 14 RT termasuk dalam bukan kawasan kumuh dengan luas total wilayah permukiman 39,839 Ha dan 10 RT termasuk dalam kawasan kumuh ringan dengan luas total wilayah permukiman 21,137 Ha. Sedangkan dari rencana pola penanganan didapatkan, 2 wilayah RT perlu pemugaran, 6 wilayah RT dilakukan permukiman kembali dan 2 wilayah RT perlu dilakukan pemugaran dan permukiman kembali
Analisis Nilai Massal Tanah Terhadap Nilai Individual Pada Properti Jenis Rumah Tinggal dan Ruko (Studi Kasus: Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik)
Gresik merupakan salah satu kabupaten yang mengalami perkembangan sangat pesat dan menjadi salah satu kota dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Indonesia. Akibat dari semakin padatnya kabupaten Gresik maka nilai individual properti di kabupaten Gresik mengalami peningkatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat peta selisih nilai individual terhadap nilai massal. Memberikan referensi selisih nilai tanah pada properti rumah tinggal dan ruko untuk kemudian dapat dianalisa penyebab adanya selisih nilai individual tersebut.
Peta selisih nilai individual terhadap nilai massal dihasilkan dari overlay zona nilai tanah, Informasi harga properti sampel dan koordinat dari properti sampel. Informasi harga properti sampel yang ada kemudian dihitung menggunakan peraturan penilaian yang dimuat dalam Standar Penilaian Indonesia Edisi Ke 6 tahun 2015 yang kemudian dihitung selisihnya terhadap Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).
Selisih nilai massal terhadap nilai individual pada properti jenis ruko memiliki nilai selisih tertinggi pada RUK14 dengan selisih sebesar Rp 17.642.000/m2. Nilai selisih terendah pada RUK194 dengan selisih sebesar Rp 142.541/m2. Pada properti jenis rumah tinggal, selisih nilai massal terhadap nilai individual memiliki nilai selisih tertinggi pada RU163 dengan selisih sebesar 12.050.555/m2. Nilai selisih terendah pada RU122 dengan selisih sebesar Rp 75.752/m2
TOP.AR - TEKNOLOGI AUGMENTED REALITY UNTUK MEDIA PEMBELAJARAN BENTUK TOPOGRAFI 3 DIMENSI PERMUKAAN BUMI
Augmented Reality (AR) merupakan teknologi visualisasi yang saat ini sedang marak dikembangkan dalam bidang game, hiburan maupun teknologi. Dalam bidang pendidikan, teknologi augmented reality masih belum terlalu banyak penggunanya. Di bidang kebumian kemampuan berfikir spasial - menggambarkan bentuk, posisi, dan orientasi objek - membuat dan membaca peta serta memvisualisasikan proses hubungan antara representasi 2D dan objek 3D dalam tiga dimensi adalah penting untuk memahami proses seperti fenomena yang terjadi di bumi seperti elevation model dan garis kontur. Para peneliti telah menggunakan berbagai model - model fisik, virtual, dan augmented reality (AR) dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan berpikir spasial. Sistem dan algoritma perangkat ini telah dibuat dan dikembangkan tahun 2014 oleh tim UC Davis dalam pameran Advancing Earth Science Education, American Geophysical Union (Reed et all, 2014). Sistem yang besifat open-source ini selanjutnya banyak diterapkan dan digunakan di banyak negara terbukti menjadi media pembelajaran yang menarik. Dengan alat ini diharapkan para pendidik/guru/dosen/peneliti dapat memberikan metode pembelajaran yang menarik dan interaktif kepada pelajar/mahasiswa di laboratorium maupun dikelas. Sedangkan bagi masyarakat luas dapat dipamerkan pada exhibition/museum. Diharapkan dengan sistem ini akan lebih memahami ilmu bumi yang dalam implikasinya dapat disertakan dalam visualisasi pengelolaan ekosistem atau landskap misalnya serta proses sains bumi dengan visualisasi tiga dimensi dari bentu garis kontur, sungai, danau, lembah serta pegunungan..
Penelitian ini menghasilkan seperangkat alat dengan material lokal dan dinamai Topography Augmented Reality (Top.AR). Topography Augmented Reality (Top.AR) adalah sebuah sistem yang terdiri dari komputer, sensor, projector dan media pasir yang memungkinkan pengguna secara visual dapat membuat topographic surface model secara real time. Sistem ini akan memperlihatkan degradasi warna karena perbedaan ketinggian, bentuk dan kerapatan garis kontur serta simulasi gerakan air dimuka bumi. Dengan sistem ini mahasiswa khususnya dibidang kebumian akan belajar konsep elevation surface model seperti dalam teori di bidang geodesi/geomatika, geografi, lanskap/tata ruang, geologi/mining atau hidrologi. Produk ini ideal untuk digunakan sebagai alat pembelajaran/pameran/peraga langsung di kelas, pameran teknologi maupun museum dalam rangka proses pembelajaran tentang ilmu kebumian.