Geoid (E-Journal)
Not a member yet
504 research outputs found
Sort by
Analisis Kenaikan Muka Air Laut Terhadap El-Niño Southern Oscillation (ENSO) di Laut Jawa Menggunakan Data Satelit Altimetri Cryosat-2
Kenaikan permukaan air laut atau sea level rise akibat perubahan iklim adalah salah satu masalah serius pada saat ini. Air laut yang bersentuhan langsung dengan wilayah pesisir membuat wilayah tersebut menjadi rentan terhadap lingkungan. Salah satunya Laut Jawa di Indonesia dengan cakupan yang cukup luas akan memberi banyak dampak di wilayah pesisir Pulau Jawa bila adanya kenaikan permukaan laut. Untuk pengamatan tersebut dilakukan perhitungan sea level anomaly (SLA) agar membantu dalam memberi pemahaman permukaan laut serta perubahannya dari waktu ke waktu. Perhitungan SLA menggunakan data dari Satelit Cryosat-2. Cryosat-2 adalah satelit altimetri yang dirancang untuk misi pengamatan lapisan es dan oseanografi yang baik di laut. Serta satelit yang memiliki muatan utama SIRAL (SAR Interferometer Radar Altimetri) dan tingkat akurasi yang sangat baik walaupun tidak memiliki micorwave radiometer. Dari penilitian ini diharapkan mengetahui sea level variability permukaan Laut Jawa dari tahun 2011 sampai dengan 2019. Didapatkan berdasarkan perhitungan regresi linier tren SLA Cryosat-2, Laut Jawa mengalami penurunan sebesar 27,9746 mm dengan laju -3,55 mm/tahun. Hal ini disebabkan oleh fenomena El-Niño Southern Oscillation (ENSO). Hasil perhitungan koefisien korelasi dari detrended sea level anomaly (SLA) dan Multivariate ENSO Index (MEI) adalah -0,6451 yang menandakan korelasi antara keduanya memiliki hubungan cukup namun tidak searah. Semakin tinggi index MEI maka nilai SLA akan semakin rendah di Laut Jawa, begitupun sebaliknya
Pemetaan Bahaya Erosi Di Area Lingkar Tambangan Di Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur
Erosi tanah adalah proses yang terjadi secara alami akibat fenomena geologi yang berhubungan dengan daur hidrologi. Bagian daur hidrologi yang berkaitan dengan terjadinya erosi yaitu limpasan air permukaan. Limpasan air permukaan yang berulang mengakibatkan air melepaskan dan menghilangkan tanah sehingga partikel tanah memburuk. Kabupaten Berau dikenal menyimpan berbagai jenis mineral dan batubara yang terkandung di dalamnya. Formasi geologi yang menyusun sebagian besar adalah batuan sedimen, sehingga cenderung rentan terhadap gerak massa batuan. Ditambah dengan aktifitas pertambangan cut and fill dengan pengambilan material tanah dan kemudian dipindahkan dengan cara ditimbun memiliki risiko terjadinya longsor di area pertambangan maupun di wilayah lingkar tambang. Melalu metode USLE dan Sistem Informasi Geografis mengidentifikasi distribusi spasial dan menghitung luasan bahaya erosi di wilayah lingkar tambang Kabupaten Berau. Tingkat Bahaya Erosi (TBE) diklasifikasikan menjadi 5 (lima) yaitu tingkat 1 erosi sangat ringan, tingkat 2 erosi ringan, tingkat 3 erosi sedang, tingkat 4 erosi berat, dan tingkat 5 erosi sangat berat. Bahaya erosi level I (sangat ringan) dengan perkiraan kehilangan tanah (soil loss) kurang dari atau sama dengan 15 ton/ha dengan luas area 211.627,5 ha. Kelas ini tersebar di sekitar Kecamatan Tanjung Redeb, Kecamatan Sambaliung, Kecamatan Teluk Bayur, Kecamatan Gunung Tabur, Kecamatan Kelay, Kecamatan Segah serta dibeberapa titik di Kecamatan Pulau Derawan. bahaya erosi kelas IV (sangat berat) memiliki luasan 8.517,7 Ha terkonsentrasi di beberapa area pertambangan dan lingkar tambang terdekat dari lokasi pertambangan seperti di Kecamatan Tanjung Redeb, Kecamatan Sambaliung, dan Kecamatan Gunung Tabur.
Pembuatan Model Geoid Lokal Menggunakan Data Gayaberat Airborne dan Model Geoid Global (EGM2008) (Studi Kasus: Pulau Bali)
Sistem GPS (Global Positioning System) sudah banyak diaplikasikan, terutama yang terkait dengan aplikasi-aplikasi yang menuntut informasi tentang posisi. Geoid merupakan permukaan dasar geodesi fisik yang didefinisikan sebagai permukaan ekipotensial yang berhimpit dengan tinggi permukaan laut rata-rata. Geoid juga merupakan referensi tinggi yang dipakai dalam penentuan tinggi orthometrik. Studi kasus yang diambil pada penelitian ini mencakup seluruh wilayah Pulau Bali. Penulis melihat bahwa masih minim informasi ataupun penelitian tentang model geoid Pulau Bali sehingga melakukan penelitian ini. Lokasi yang digunakan dalam penelitian meliputi seluruh wilayah Pulau Bali. Data yang digunakan berupa model geoid global EGM2008 yang mewakili komponen gelombang panjang, DEMNAS Pulau Bali yang mewakili komponen gelombang pendek, dan nilai gayaberat airborne yang mewakili komponen gelombang menengah. Pengolahan komponen gelombang panjang mendapatkan nilai anomali gayaberat sebesar -10mGal hingga 150mGal. Pengolahan komponen gelombang pendek mendapatkan nilai anomali gayaberat yang cukup kecil yaitu sebesar -50mGal hingga 0mGal. Pengolahan komponen gelombang menengah didapatkan nilai Free Air Anomaly (FAA) pada ketinggian terrain sebesar -100mGal hingga 300mGal. Kesimpulan yang didapatkan yaitu data anomali gayaberat free-air di Pulau Bali yang didapatkan dari pengukuran gayaberat airborne dapat dioptimalkan sebagai komponen gelombang menengah dalam proses pemodelan geoid Pulau Bali. Proses pemodelan geoid dilakukan dengan penjumlahan kontribusi dari data model geoid global (EGM2008), data DEMNAS, dan data anomali gayaberat free-air, sehingga dihasilkan model geoid total serta anomali gayaberat dan undulasi geoid pada tiap komponen gelombang. Uji akurasi model geoid total dengan 184 titik jalur validasi di Pulau Bali menghasilkan akurasi sebesar 52.5 cm dengan standar deviasi sebesar 28.9 cm. Nilai akurasi dari model geoid total yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan dengan model geoid global (EGM2008)
Visualisasi Objek Fisik dan Yuridis Kadaster 3 Dimensi Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tentang Rumah Susun Tahun 2011 (Studi Kasus: Rumah Susun Grudo, Surabaya)
Berdasarkan pasal 1 ayat 7 Undang-Undang nomor 20 tahun 2011, Rumah Susun Grudo merupakan Rumah susun umum yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Rumah susun sederhana sewa Grudo, berdasarkan peraturan Walikota nomor 24 tahun 2019 merupakan Rumah Susun Sederhana Sewa yang dikuasai oleh pemerintah Surabaya.Rumah Susun Grudo memiliki 97 unit rumah susun. Lantai 1 terdiri atas Ruang BLC, Ruang Panel serta Genset, Ruang Tidur Penjaga, Kantor Kelurahan Dr Soetomo (Sementara), Ruang Serbaguna, Musala, dua Lokasi Parkir Sepeda Motor, Perpustakaan, Gudang, sebuah satuan rumah susun, dan Ruang Pengelola Satuan Rumah Susun, Lantai 2-4 Terdapat 72 unit rumah susun dengan 3 tangga setiap lantainya dan di lantai 5 terdapat 24 unit. Bagian atap terdiri dari dua genting, tiga tandon air, dan bagian atap. Rumah Susun Grudo terdiri atas 5 lantai, 108 ruang yang terbagi atas 11 bagian bersama berupa ruangan, 12 benda bersama berupa tangga, 2 benda bersama berupa dua genting, 3 benda bersama berupa 3 tandon air dan 97 satuan rumah susun. Pembuatan model tiga dimensi dapat diambil dari Detailed Engineering Design. Metode yang digunakan pure 3D cadastre yang menyatakan volume digunakan sebagai entitas dasar dari kadaster, suatu hak atas tanah tidak dapat dikenakan pada bentuk persil tanah saja namun pada bentuk volume [14]. Pemodelan tiga dimensi bertujuan untuk mengerintegrasikan objek yuridis dengan objek fisik sesuai undang-undang nomor 20 tahun 2011. Pada kadaster dua dimensi di mana bidang tanah (benda hukum) mewakili batas fisik tanah yang secara hukum memiliki hak atas ruang ke atas dan ke bawah yang tidak terbatas. Sehingga pada kadaster tiga dimensi objek direpresentasikan oleh struktur fisik seperti dinding, lantai, dan langit-langit pada gedung adalah sebagai obyek fisik yang terintegrasi dengan obyek yuridisnya yaitu berupa ruang yang terbatas oleh obyek fisik tersebut
Analitik Visual Deteksi Dampak Pemanfaatan Lahan Terhadap Kemacetan Lalu Lintas Melalui Crowdsourced dan Citra Penginderaan Jauh Di Kawasan Peri-Urban Kota Yogyakarta
Perkembangan teknologi informasi yang cepat mengakibatkan munculnya beragam media komunikasi untuk bertukar informasi dan/atau menyebarkan informasi. Informasi kemacetan menjadi salah satu fenomena sehari-hari yang marak di media sosial. Informasi kemacetan disampaikan dalam bentuk pesan teks, gambar, dan geolokasi. Melalui geolokasi membuka peluang baru untuk mengumpulkan data secara crowdsourced. Melalui crowdsourced mampu memberikan informasi secara cepat dan aktual. Kemacetan lalulintas terjadi diakibatkan oleh perubahan lahan yang terjadi secara cepat baik di pusat kota maupun di peri-peri kota. Perkembangan kota dapat dilihat melalui Citra Penginderaan Jauh Resolusi Tinggi (CSRT) secara timeseries. Dengan melihat pola perubahan lahan dan pola kemacetan secara timeseries, dapat dilakukan analisis tingkaat keterkaitan kemacetan lalulintas dengan perubahan lahan. Analisis tersebut dapat didesiminasikan melalui Geovisualisai Heat-Maps dan Space Time Cube (STC)
Analisis Nilai Tanah Di Wilayah Kota Penyangga (Studi Kasus: Kota Surabaya)
Kebutuhan lahan permukiman yang semakin terbatas dan mahalnya lahan permukiman di daerah Kota Surabaya terutama yang berada di pusat kota membuat masyakarat lebih memilih bermukim di wilayah penyangga yaitu pinggiran kota Surabaya. Oleh karena itu, para pengembang cenderung membangun perumahan di wilayah penyangga tersebut yang harga lahannya relatif murah dan lahan yang masih tersedia. Penelitian ini bertujuan utuk mengetahui nilai tanah di wilayah penyangga di Kota Surabaya dan dapat menggambarkannya dalam bentuk peta ZNT. Pada jenis penelitian ini menggunakan metode pendekatan pasar. Hasil nya terdapat 19 zona yang terdiri dari Kecamatan Karangpilang, Kecamatan Jambangan, Kecamatan Gayungan, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Kecamatan Rungkut, dan Kecamatan Gununganyar dengan rentang nilai tanah 1 s/d 1,500,000 sampai dengan 12.000.001 s/d 13.500.000. Hasil untuk zona tertinggi ada di zona SUB2 yang merupakan zona Perumahan di Kecamatan Gayungan dengan NIR Rp 11,775,252 dan zona dengan nilai terendah adalah SUB17 yang merupakan zona Pemukiman di Kecamatan Karang Pilang dengan NIR Rp 4,394,569 dan zona dengan nilai tengah adalah SUB13 yang merupakan zona industri di Kecamatan Gununganyar dengan NIR Rp 7,869,938
Analisis Interval Jarak Profil Melintang Terhadap Perhitungan Volume pada Jalan Lurus dan Jalan Berkelok
Kegiatan perhitungan volume galian dan timbunan pada pekerjaan jalan raya umumnya digambarkan pada sebuah gambar profil melintang sesuai dengan rencana perkerasan jalan. Jarak antar profil melintang jalan ditentukan dengan interval jarak tertentu yang diberi tanda dengan notasi STA. Adanya perbedaan interval jarak antar STA di setiap instansi pelaksana proyek akan mempengaruhi nilai volume galian dan timbunan yang diperoleh. Oleh karena itu, penelitian ini akan menganalisis interval jarak profil melintang dalam perhitungan volume menggunakan metode penampang rata-rata serta pengaruhnya pada jalan lurus dan jalan berkelok. Hasil perhitungan volume pada setiap interval akan dibandingkan dengan data yang dianggap benar. Data perhitungan volume yang dianggap benar adalah hasil perhitungan manual volume data profil interval STA 25 meter. Selisih volume hasil perhitungan dengan volume yang dianggap benar akan dianalisis menggunakan standard deviasi dan uji toleransi ASTM (American Society for Testing and Material) dengan batas toleransi sebesar 2,78%. Berdasarkan hasil yang telah diperoleh, pada jalan lurus memiliki standard deviasi volume cut sebesar 367,350 m3 dan standard deviasi volume fill sebesar 326,187 m3. Sedangkan pada jalan berkelok memiliki standard deviasi volume cut sebesar 80,372 m3 dan standard deviasi volume fill sebesar 227,323 m3. Hal tersebut menunjukkan bahwa, perubahan penggunaan interval dalam perhitungan volume pada jalan lurus memiliki pengaruh yang lebih besar daripada jalan berkelok. Sedangkan pada uji toleransi ASTM, hanya pada interval 25 meter yang memenuhi toleransi. Pada jalan lurus, prosentase selisih volume cut sebesar 0,040% dan volume fill sebesar 0,074%, sedangkan pada jalan berkelok memiliki prosentase selisih volume cut sebesar 0,170% dan volume fill sebesar 1,196%
Studi Pengamatan Penurunan Permukaan Tanah Menggunakan Metode PS-InSAR di Daerah Blok Cepu
Pengambilan bahan cair dari dalam tanah dapat berupa pengambilan air tanah atau ekstraksi minyak bumi dari dalam tanah. Pengambilan bahan cair dapat menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya penurunan tanah. Salah satu wilayah eksploitasi minyak bumi adalah Blok Cepu, yang terletak di Kabupaten Blora, Jawa Tengah dan Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Saat ini Blok Cepu diproyeksikan menjadi tulang punggung produksi minyak nasional dengan produksi minyak mencapai 225 ribu barel per hari. Dengan besarnya eksploitasi tersebut, perlu dilakukan pengamatan terkait kemungkinan adanya penurunan tanah di wilayah tersebut. Studi pengamatan dilakukan dengan menggunakan metode PS-InSAR dengan data Sentinel-1A dari akhir tahun 2014 hingga 2019 menggunakan perangkat lunak SARProz. Dari hasil pengolahan data menunjukkan bahwa penurunan tanah terjadi di semua blok dari Blok Cepu, kecuali di Blok D yang tidak terdeteksi titik PS. Penurunan tanah tertinggi terjadi di Blok dengan rata-rata laju mencapai -27,75 mm/tahun. Selama rentang akuisisi citra, jumlah produksi minyak pun berangsur angsur meningkat sehingga dilakukan potongan melintang untuk Blok A dimana terdapat cukup banyak sumur di wilayah tersebut
Evaluasi Ruang Terbuka Hijau Kecamatan Semarang Tengah Berbasis Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis
Pemerintah Kota Semarang mengeluarkan Peraturan Daerah Kota Semarang No. 7 Tahun 2010 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau. Proses penataan ruang terbuka hijau Kota Semarang dalam peraturan tersebut meliputi proses perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian. Peraturan daerah tersebut berisi antara lain perencanaan luasan ruang terbuka hijau untuk setiap klasifikasi ruang terbuka hijau di setiap kecamatan di Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan Citra Satelit World-View 2 tahun 2016 untuk membuat klasifikasi penggunaan lahan ruang terbuka hijau. Hasil klasifikasi Ruang Terbuka Hijau Kecamatan Semarang Tengah sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Semarang No. 7 tahun 2010 sejumlah 11 klasifikasi dengan luas total 75,849 Hektar. Evaluasi hasil klasifikasi Ruang Terbuka Hijau Kecamatan Semarang Tengah terhadap Peraturan Daerah Kota Semarang No. 7 tahun 2010 menunjukkan empat kawasan yang luasannya memenuhi yaitu perdagangan dan jasa, pendidikan, rekreasi dan olahraga, dan jalur jalan. Sedangkan untuk kawasan sempadan sungai, areal halaman/pekarangan perumahan. areal taman lingkungan permukiman, areal ruang hijau jalan, perkantoran dan fasilitas umum, pemakaman, serta pertamanan dan lapangan belum memenuhi luas rencana pada peraturan tersebut
Pengaruh Perubahan Batas Desa Terhadap Alokasi Formula Dana Desa di Kabupaten Melawi
Alokasi Dana Desa (ADD) merupakan salah satu kebijakan di bidang ekonomi. Dalam pembagian ADD terdapat alokasi formula yang berkaitan dengan aspek teknis yaitu perhitungan luas wilayah. Luas wilayah yang valid dapat diperoleh melalui kebijakan satu peta (KSP), akan tetapi Kabupaten Melawi sebagai salah satu Kabupaten yang berada di wilayah Indonesia ternyata masih menggunakan berbagai versi peta dalam praktiknya. Salah satu alasan penggunaan berbagai versi peta ini disebabkan belum adanya batas desa yang bersifat definitif. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian terhadap berbagai versi peta batas desa yang digunakan dan pengaruhnya tehadap kebijakan alokasi formula dana desa di Kabupaten Melawi. Penelitian ini menggunakan metode overlay melalui sistem informasi geospasial terhadap berbagai versi peta batas Kabupaten Melawi yaitu dari Rupa Bumi Indonesia, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Melawi serta Badan Pusat Statistik Indonesia. Berdasarkan penelitian didapati 218 kondisi segmen batas yang sama di antara ketiga peta tersebut, sedangkan 16 segmen hanya berbatasan pada DPUPR dan BPS, 20 segmen hanya berbatasan pada RBI dan BPS, 15 segmen hanya berbatasan pada RBI dan DPUPR, 31 segmen hanya berbatasan pada RBI, 29 segmen hanya berbatasan pada DPUPR, dan 20 segmen hanya berbatasan pada BPS. Kemudian berdasarkan perbandingan luas terhadap data luas wilayah DPMD diperoleh hasil yaitu seluruh desa mengalami perubahan luas wilayah, dengan perubahan tertinggi terjadi pada Desa Balai Agas. Terakhir, terdapat 7 desa pada perbandingan RBI dan DPMD, 6 desa pada perbandingan DPUPR dan 7 desa pada perbandingan BPS yang mengalami perubahan dengan nominal di atas Rp.100.000.000,-. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat terlihat besarnya pengaruh perubahan batas desa terhadap alokasi formula dana desa sehingga penataan batas dan penerapan KSP dalam berbagai kebijakan di bidang spasial perlu segera dilaksanakan.