Idea Nursing Journal
Not a member yet
388 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN FUNGSI MANAJEMEN KEPALA RUANG DENGAN PENERAPAN PATIENT SAFETY CULTURE DI RUMAH SAKIT UMUM DR. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH
ABSTRAKLangkah awal yang harus dilakukan oleh rumah sakit untuk memperbaiki mutu pelayanan terkait keselamatan pasien adalah dengan menerapkan patient safety culture. Manajemen fungsi kepala ruang merupakan salah satu faktor penting yang berperan dalam keberhasilan program patient safety culture. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan fungsi manajemen kepala ruang dengan penerapan patient safety culture oleh perawat pelaksana di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Penelitian berbentuk kuantitatif dengan desain cross- sectional. Penelitian dilaksanakan di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh terhadap 75 orang perawat pelaksana (simple random sampling). Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner checklist dengan menyebarkan angket, analisis hubungan fungsi manajemen kepala ruang dengan penerapan patient safety culture menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan bermakna antara fungsi manajemen kepala ruang pada perencanaan, pengorganisasian, pengaturan staf, dan pengendalian dengan penerapan patient safety culture. Tidak ada hubungan yang signifikan antara fungsi pengarahan kepala ruang dengan penerapan patient safety culture. Kepala ruang perlu untuk selalu meningkatkan fungsi pengarahan dan pengendalian dalam upaya membudayakan patient safety sehingga akan terciptanya kualitas keselamatan pasien.Kata Kunci : manajemen fungsi kepala ruang, patient safety culture, perawat ABSTRACTThe first thing that has to be done by hospitals in order to improve the service quality related to patient safety is to implement patient safety culture. Managerial function of head nurse is one of the essensial factors that play a role in the success of patient safety culture program.The objective of the research was to find out the correlation of head nurse management function with the implementation of patient safety culture by associate nurses at dr. Zainoel Abidin Regional General Hospital Banda Aceh. The research used quantitative method with cross sectional design. It was conducted at dr. Zainoel Abidin Regional General Hospital Banda Aceh on 75 associate nurses (simple random sampling). Method of data collection using a questionnaire checklist with distribution questionnaires, analysis of the correlation between the head nurse management function with the implementation of patient safety culture with chi square test. The result of research shown there was significant correlation between head nurse management functions on planning, organizing, staffing, and controlling the application of patient safety culture. There was not any significant correlation between the direction of head nurse with the implementation of patient safety culture. It was recommended that the head nurse improve the function of directing and controlling all the time in order to entrench patient safety for a quality patient safety.Keywords : managerial function of head nurses, patient safety culture, nurse
MEMUTUS MATA RANTAI PENULARAN KONJUNGTIVITIS BAKTERI AKUT
ABSTRAK Konjungtivitis adalah penyakit mata yang sering dijumpai oleh dokter umum. Konjungtivitis bakteri akut adalah jenis konjungtivitis yang paling sering didapatkan. Penanganan yang tepat diperlukan untuk menghindari komplikasi yang dapat mengancam penglihatan. Konjungtivitis bakteri akut mudah menyebar dari mata satu ke mata yang lain dan ke orang lain. Untuk memutus mata rantai ini penting dilakukan edukasi ke pasien tentang penularan konjungtivitis secara langsung dan benda yang kontak dengan mata penderita agar dapat diambil tindakan pencegahan dari rute penularan tersebut. Dilaporkan satu kasus laki laki 14 tahun datang ke RSU Lirboyo Kediri dengan keluhan kedua mata merah sejak empat hari yang lalu. Keluhan mata merah ini disertai dengan rasa mengganjal seperti kemasukan pasir, banyak mengeluarkan kotoran mata dan pagi hari saat bangun tidur pasien susah membuka mata dan terasa seperti lengket. Pasien menceritakan bahwa sebelum sakit teman sebangku sekolah pasien menderita sakit mata merah. Pada pemeriksaan klinis didapatkan VOD 6/6 VOS 6/6, tidak didapatkan blepharospasme, didapatkan hiperemi konjungtiva, kornea jernih, bilik mata depan kesan dalam, pupil bulat isokor 3mm/3mm. Pasien diberikan terapi antibiotik topikal spektrum luas, analgesik oral serta diberi edukasi.Kata kunci: konjungtivitis bakteri akut, penularan, edukasiABSTRACT Conjunctivitis is the eye disease most common seen by general practitioner. Acute bacterial conjunctivitis is the most frequent type of conjunctivitis. Right treatment is necessary to prevent complication that can threat the vision. Acute bacterial conjunctivitis is easily spread from one eye to another and another person. To cut the spreading chain education to patient about spreading route is essential to take preventive step. Reported male 14 years old came to RSU Lirboyo Kediri with chief complain redness of the eye since 4 days ago. It also followed by grittiness, discharge and in the morning when patient wakes the eyes felt sticky and difficult to be opened. Before the patient had this illness his friend next to him in school had sick with red eye. From the clinical evaluation VOD 6/6, VOS 6/6, blepharospasm is unavailable, there is hyperemic conjunctiva, cornea is clear, anterior chamber is deep, pupil round isochor 3mm/3mm. Patient was given topical broad spectrum antibiotic, oral analgesic and educated properly about the disease.Keyword: Acute bacterial conjungtivitis, infection, educatio
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU BULLYING
ABSTRAKBullying salah satu tindakan agresif yang menjadi permasalahan di dunia. Hasil penelitian sebelumnya di Indonesia di dapatkan bahwa 10-60% siswa melaporkan mendapat ejekan, cemoohan, pengucilan, pemukulan tendangan ataupun dorongan sedikitnya sekali dalam seminggu. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku bullying meliputi harga diri, kepribadian, keluarga, sekolah dan teman sebaya pada siswa-sisiwi di SMPN 3 Meureudu Kabupaten Pidie Jaya. Jenis penelitian bersifat deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional study. Jumlah populasi 94 orang siswa-siswi dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Alat pengumpulan data kuesioner dengan cara ukur self report. Penelitian dilakukan pada 2-8 Juli 2015 di SMPN 3 Meureudu. Hasil analisa data secara bivariat menunjukkan ada hubungan harga diri dan perilaku bullying (p=0,014), kepribadian dan perilaku bullying (p=0,006), keluarga dan perilaku bullying (p=0,017), sekolah dan perilaku bullying (p=0,002) dan teman sebaya dan perilaku bullying (p=0,006) dengan perilaku bullying. Diharapkan kepada orang tua dan pihak sekolah untuk lebih memperhatikan faktor-faktor tersebut sehingga dapat mencegah tindakan perilaku bullying pada siswa/siswi.Kata kunci: bullying, harga diri, kepribadian, keluarga, sekolah, teman sebaya.ABSTRACTBullying is one of aggressive behavior that becomes a problem in entere world. The purpose of this study was to find out the factors that related to bullying behavior, including self-esteem, personality, family, school, and friends of Junior High School students in Meureudu Pidie Jaya. It was a descriptive correlative study with cross sectional approach. The number of population was 94 students and the sampling technique used was a total sampling. The data was collected on July 2-8, 2015 in SMPN 3 Meureudu by using questionnaire with self-report technique. The results of bivariate analysis showed there was correlation betweeen self-esteem (p=0.014); personality (p=0.006); family (p=0.017); school (p=0.002); and friends (p=0.006) with bullying behavior. The conclusion of this study was the self-esteem, personality, family, school, and friends related to the bullying behavior. It is expected to parents and school staff to pay more attention to these factors in preventing the bullying behavior of the students.Keywords: bullying, self-esteem, personality, family, school, friends
EFEKTIFITAS PENDEKATAN POSITIVE DEVIANCE POS GIZI DALAM PENINGKATAN STATUS GIZI BATITA DI KOTA SABANG
ABSTRAKMetode positive deviance dan pos gizi telah memberikan hasil yang signifikan dalam meningkatkan status gizi balita yang mengalami kurang gizi. Saat ini di NAD juga masih ditemukan kejadian gizi kurang pada balita termasuk di Kota Sabang. Namun khususnya di Kota Sabang terutama di kelurahan Paya Seunara belum ada suatu hasil penelitian yang menunjukkan bahwa metode positive deviance pos gizi juga memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan status gizi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi efektifitas Pendekatan Positive deviance Pos Gizi dalam upaya meningkatkan status gizi balita Di Kelurahan Paya Seunara Kota Sabang tahun 2010. Desain penelitian berupa kuasi eksperimenpre-post test, jumlah sampel sebanyak 18 orang yang merupakan total populasi. Penelitian ini dilakukan selama 6 bulan menggunakan instrumen pengembangan dari formulir pencatatan status gizi (PSG) balita dari DepKes RI, sedangkan untuk menilai status gizi digunakan pengukuran BB anak balita dan kuisioner tentang cara pemenuhan gizi balita oleh keluarga serta instrument food record untuk memudahkan pengontrolanpemenuhan gizi pada balita yang dilakukan selama intervensi positive deviance pos gizi baik di posyandu maupun di keluarga. Hasil penelitian menunjukkan Pendekatan Positive deviance Pos Gizi efektif dalam upaya meningkatkan status gizi balita Di Kelurahan Paya Seunara Kota Sabang dengan p value = 0.000, ada perbedaan pemenuhan zat gizi balita oleh keluarga sebelum dan setelah dilakukan positive deviance posgizi di kelurahan Paya Senara Kota Sabang p value = 0.000 serta ada perbedaan Status gizi balita di Kelurahan Paya Seunara Kota Sabang sebelum dan setelah dilakukan pendekatan positive deviance pos gizi denagn p value = 0.000. Diharapkan kepada para stakeholder dan jajaran terkait agar merencanakan kegiatan postive deviance pos gizi untuk setiap posyandu yang ada diwilayah kerjanya guna meningkatkan status gizi balita sebagai program tahunan yang berkesinambungan.Kata Kunci : Positive deviance, pos gizi, status gizi balita.ABSTRACTThe Positive deviance method and the post nutrition had been given a significant result on increasing the nutritional status of malnutrition toddlers. Currently, in NAD, it still found the incidence of malnutritionamong toddlers including Sabang city. However, in Sabang city particularly, Paya Seunara village especially did not have a research result which showed that the positive deviance method and the postnutrition had a significant impact on increasing nutritional status of the family. This study aimed to identify the effectiveness of the Positive deviance approach and the post nutrition in order to increase nutritionalstatus among toddlers in Paya Seunara village, Sabang city, 2010. The study design is quasi-experimental study using pretest - posttest tested; the samples are 18 people who are total population. This study was conducted during 6 months using the developed instrument from the documentation of the toddlers nutrition form (PSG) by Depkes RI; while, to assess the toddlers nutritional status are used the toddlers body weight measurements and questionnaire about how the family meet the toddlers needs and food record instrument controlling the easier fulfillment of the toddlers nutrition, it conducted during positive deviance and post nutrition intervention, both in posyandu or in the family. Result of the study showed that the Positive deviance - post nutrition approach was effective in increasing the toddlers nutritional status in Paya Seunara village, Sabang city with p value = 0.000, there is a difference fulfillment nutrients of toddlers by the family before and after the positive deviance and post nutrition intervention in Paya Seunara village, Sabang city with p value = o.ooo, and there is a difference of nutritional status in Paya Seunara village, Sabang citybefore and after positive deviance - post nutrition approach intervention with p value = 0.000. It is expectedto stakeholders and related parties to plan the positive deviance - post nutrition activities for every posyandu existent in work area to improve the nutritional status of toddlers as an ongoing annual program.Keywords: Positive deviance, post nutrition, nutritional status of toddlers
EFEK PEMBERIAN ASI TERHADAP TINGKAT NYERI BAYI SAAT PENYUNTIKAN IMUNISASI DI KOTA DEPOK
Imunisasi merupakan salah satu prosedur yang menimbulkan nyeri karena sebagian besar diberikan melalui penyuntikan. Salah satu manajemen nyeri untuk menurunkan nyeri imunisasi adalah dengan pemberian ASI. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sejauhmana efek pemberian ASI terhadap tingkat nyeri bayi saat penyuntikan imunisasi. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimental, dengan pendekatan static group comparison yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat nyeri pada responden yang diberikan dan tidak diberikan ASI dengan menggunakan kelompok kontrol. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bayi yang diimunisasi di wilayah kerja Puskesmas Beji dan Puskesmas Pancoran Mas Kota Depok Provinsi Jawa Barat. Jumlah sampel 88 orang, 44 orang kelompok intervensi dan 44 orang kelompok kontrol. Analisis perbedaan tingkat nyeri saat penyuntikan imunisasi menggunakan Independent sample t-Test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat nyeri bayi yang diukur dengan skala FLACC (p=0,0001) dan skala RIPS (p=0,001) saat penyuntikan imunisasi pada bayi yang diberi ASI lebih rendah dibandingkan pada bayi yang tidak diberi ASI. Karakteristik bayi tidak mempengaruhi tingkat nyeri bayi yang diberi ASI saat penyuntikan imunisasi. Pemberian ASI sebagai pemenuhan kebutuhan dan hak anak, juga memiliki manfaat sebagai analgesik yang dapat menurunkan tingkat nyeri bayi yang disusui sebelum dan selama prosedur berlangsung. Selama menyusui, kebersamaan ibu dengan bayi memberikan rasa aman dan nyaman sehingga hal ini dapat dijadikan manajemen nyeri non-farmakologi dan penerapan atraumatic care guna meningkatkan pelayanan dan kenyamanan pasien. Perawat anak sebagai salah satu praktisi yang dapat melakukan manajemen nyeri yang tepat bagi anak memerlukan kerja sama dengan tim kesehatan lainnya, serta pemerintah yang ada di daerah setempat
ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI
ABSTRAKHipertensi merupakan salah satu penyakit sistem kardiovaskuler yang banyak dijumpai di masyarakat.Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten, di mana tekanan sistoliknya di atas 140mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. Saat ini, angka kematian karena hipertensi di Indonesia sangattinggi. Angka prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan riskesdas (riset kesehatan dasar) 2007 mencapai30 persen dari populasi. Hipertensi dibedakan menjadi 2, yaitu hipertensi essensial dan hipertensi sekunder.Penyebab hipertensi pada lanjut usia dikarenakan terjadinya perubahan-perubahan pada; katup jantungmenebal dan menjadi kaku, kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur20 tahun, sehingga kontraksi dan volumenya pun ikut menurun. manifestasi klinis pasien hipertensidiantaranya: Mengeluh sakit kepala, pusing, lemas, kelelahan, gelisah, mual dan muntah, epistaksis,kesadaran menurun. Pemeriksaan Penunjang pada hipertensi antara lain: pemeriksaan laboratorium, CT Scan,EKG, IU, dan Photo dada. Tujuan terapi antihipertensi adalah pengurangan morbiditas dan mortalitaspenyakit kardiovaskular dan ginjal. Hal ini dapat dilakukan dengan terapi non-farmakologis danfarmakologis. Pasien hipertensi biasanya meninggal dunia lebih cepat apabila penyakitnya tidak terkontroldan telah menimbulkan komplikasi ke beberapa organ vital. Usia, ras, jenis kelamin, kebiasaanmengkonsumsi alkohol, hiperkolesterole-mia, intoleransi glukosa dan berat badan, semuanya mempengaruhiprognosis dari penyakit hipertensi esensial pada lansia. Asuhan keperawatan yang dapat dilaksanakan padapasien hipertensi mencakup pengkajian pada riwayat atau adanya faktor-faktor resiko, penegakan diagnosa,perencanaan dan intervensi, serta evaluasi dan dokumentasi yang tepat.Kata Kunci: Hipertensi, lansia, terapi hipertensi, asuhan keperawatan.ABSTRACTHypertension is a disease of the cardiovascular system is often found in the community. Hypertension isdefined as persistent blood pressure, where the systolic pressure above 140 mmHg and diastolic pressureabove 90 mmHg. In the elderly population, hypertension was defined as systolic pressure of 160 mmHg and adiastolic pressure of 90 mmHg. Currently, the number of deaths due to hypertension in Indonesia is veryhigh. The prevalence of hypertension in Indonesia based RISKESDAS (basic medical research) in 2007 up to30 percent of the population. Hypertension is divided into two, namely essential and secondary hypertension.The cause of hypertension in the elderly due to the changes in; heart valves thicken and become stiff, theheart's ability to pump blood decreased 1% per year after age 20, so the contraction and the volume isdecreased. Clinical manifestations of hypertensive patients include: Complaining of headaches, dizziness,weakness, fatigue, anxiety, nausea and vomiting, epitasis, and decreased consciousness. Diagnostic test inhypertension includes: laboratory tests, CT-Scan, ECG, IU, and chest x-ray. The goal of antihypertensivetherapy is the reduction of morbidity and mortality of cardiovascular and renal disease. This can be donewith non-pharmacologic therapy and pharmacological. Hypertensive patients usually die faster if the diseaseis not controlled, and has caused complications to some vital organs. Age, race, gender, alcoholconsumption habits, hypercholesterolemia, glucose intolerance and weight, all influence the prognosis ofessential hypertension in the elderly. Nursing care can be carried out in hypertensive patients include anassessment on the history or presence of risk factors, diagnosis enforcement, planning and intervention, andevaluation and proper documentation.Keywords: Hypertension, elderly, hypertensive therapy, nursing car
REDUCING SOCIAL ISOLATION AMONG ELDERLY: A LITERATURE REVIEW
ABSTRACTThe living alone for elderly is undesirable condition that they have to face in their later life. Elderly need a lot of assistance from others which becomes more complicated as their physical and mental conditions are getting degenerative because of aging. Mental health promotion has similarity with health promotion. Both aim to enhancement of well-being rather than on illness and addressing the population as a whole. Using a wide range of strategies such as communication, education, policy development, organizational change, community development and local activities, acknowledge and reinforce the competencies of the population encompass the health and social fields as well as medical services. The aim of this paper is to develop nursing care plan by using theoretical frame work of community nursing mental health promotion. The nursing actions and interventions will be developed based on the program from the existing study in term of reducing social isolation among elderly in community.Keywords: Mental health, community, elderly
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN ASMA DENGAN TINGKAT KONTROL ASMA DI POLIKLINIK PARU RSUD dr. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH
ABSTRAKTingkat pengetahuan asma pada pasien asma sangat berpengaruh terhadap derajat asma dan tingkat kontrolasma, dimana pengetahuan asma yang baik dapat memberikan kontrol asma yang baik, dan kontrol yang baik akan cenderung membawa ke derajat yang lebih baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan pasien asma dengan derajat asma dan tingkat pengetahuan pasien asma dengan tingkat kontrol asma di poliklinik RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Penelitian ini dilakukan secara analitik observasional dengan rancangan penelitian cross sectional survey dari bulan Januari Maret 2014 dengan jumlah sampel 41 sampel. Pada penelitian ini menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan umum asma (Asthma General Knowledge Quisionaire) untuk menilai tingkat pengetahuan asma pada pasien asma, menggunakan Asthma Control Test untuk menilai tingkat kontrol asma dan spirometri untuk menilai derajat asma. Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan tingkat pengetahuan pasien asma dengan tingkat kontrol asma dengan (P 0,05) dan terdapat hubungan tingkat pengetahuan pasien asma dengan derajat asma (P 0,05).Kata Kunci : Pengetahuan Asma, Derajat Asma, Tingkat KontrolABSTRACTThe level of asthma knowledge in asthma patients greatly affect the degree of asthma and asthma control level. A good asthma knowledge can provide good asthma control and good control will tend to bring to a better degree. The purpose of this study was to determine the correlation between the degree of patients' asthma knowledge and the degree of asthma then asthma control level in lung poliklinic RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. This study is observational analytic cross-sectional study design . In this study, using a level of general knowledge of asthma questionnaire (Asthma General Knowledge Quisionaire) to assess the level of asthma knowledge in asthma patients, use the Asthma Control Test to assess the level of asthma control and spirometry to assess the degree of asthma . In this study showed that there is a correlation between the level of knowledge of asthma patients with asthma control ( P 0.05 ) and there is a correlation between the degree of knowledge of asthma patients with the degree ofasthma ( P 0.05 ) .Keyword: Asthma Knowledge, Level Asthma, Asthma Contro
PERAWATAN PASIEN YANG MENJALANI PROSEDUR KATETERISASI JANTUNG
ABSTRAKPenyakit jantung koroner merupakan penyakit jantung yang diakibatkan oleh adanya stenosis pada arteri koroner. Derajat stenosis arteri koroner dapat dinilai dengan melakukan pemeriksaan diagnostik invasif yaitu kateterisasi jantung. Prosedur ini akan berjalan dengan baik apabila perawat maupun tim medis lain melakukan perawatan pasien mulai dari perawatan dan persiapan pasien sebelum, selama dan setelah menjalani prosedur kateterisasi jantung. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman dalam melakukan perawatan pada pasien sebelum dan setelah menjalani kateterisasi jantung.Metode penulisan artikel ini berupa tinjauan kepustakaan yang diperoleh dari berbagai sumber yang relevan. Diharapkan kepada perawat dan tim medis lain untuk melakukan perawatan pasien mulai dari persiapan pasien sebelum, selama serta setelah menjalani prosedur kateterisasi jantung dengan baik tanpa ada komplikasi selama dan setelah prosedur dilakukan.Kata kunci: perawatan, kateterisasi jantungABSTRACTCoronary heart disease is a heart disease caused by the presence of stenosis in coronary arteries. The degree of coronary artery stenosis can be assessed by examining the invasive diagnostic cardiac catheterization. This procedure will run well if nurses and other medical teams perform patient treatment start from the treatment and preparation of patient before, during, and after undergoing cardiac catheterization procedures. This study aimed to give knowledge and understanding the patient treatment before and after undergoing cardiac catheterization. This article is a literature review based on some relevant resources. It is recommended for nurses and others medical teams for doing good treatment for patient start from patient preparation before, during, and after undergoing cardiac catheterization procedure without complication during, and after the procedure.Keywords: treatment, cardiac catheterizatio
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI WANITA USIA SUBUR MEMILIH KONTRASEPSI SUNTIK
ABSTRAKKontrasepsi adalah usaha-usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan, usaha tersebut dapat bersifat sementara maupun permanen. Kontrasepsi suntikan adalah salah satu jenis kontrasepsi dengan jalan penyuntikan sebagai usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan melalui suntikan hormonal. Berdasarkan fenomena Pasangan Usia Subur yang menggunakan kontrasepsi suntik sebanyak 51,21%, pil 40,02%, implant 4,93%, Intra Uterine Device (IUD) 2,72%, Metode Operasi Wanita (MOW) (2,6%), Metode Operasi Pria (MOP) (0,3%), dan kondom (0,6%) dari hasil prevalensi angka saat ini kontrsepasi suntik adalah jenis kontrasepsi yang banyak dipilih oleh akseptor KB. Faktor-faktor yang mempengaruhi wanita usia subur memilih kontrasepsi suntik antara lain, pendidikan, sosial ekonomi, sikap, pelayanan kontrasepsi dan dukungan keluaraga. Agar penggunaan kontrasepsi suntik secara dapat efektif, dalam hal ini perawat maternitas perlu memberikan konseling dan informasi secara lengkap agar pencapaian angka keberhasilan kontrasepsi suntik tercapai. Informasi yang perlu diketahui oleh akseptor sampai dengan bagaimana efek samping dari kontrasepsi suntik karena pada dasarnya alat kontrasepsi yang efektif adalah jenis kontrasepsi seperti alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR).Kata kunci: Wanita usia subur, kontrasepsi, suntik ABSTRACTContraception is efforts to prevent pregnancy which can be temporary or permanent. Contraceptive injection is one of contraception types with injection as an effort to prevent pregnancy by means of hormonal injection.according to phenomenon, reproductive couples use contraceptive injection i.e. 51,21%, pills 40,02%, implants 4,93%, Intra Uterine Device (IUD) 2,72%, women surgery method (2,6%), men surgery method (0,3%), and condom (0,6%). From the current prevalence, contraceptive injection is the most chosen by family planning acceptors. Factors affect reproductive women include education, socioeconomic, behaviour, centraception services and family support. To use contraceptive injection effectively, maternity nurses require to deliver counseling and information adequately so that contraceptive injection successfully achieved. Acceptors needs to acquire information relate side effects since basically contraception devices are effective for instance intrauterin device (IUD).Keywords: Reproductive women, contraception, injectio