Refleksi
Not a member yet
390 research outputs found
Sort by
Kontekstualitas Vs Universalitas Hadis: Problem Metodologi
Perbedaan dan variasi interpretasi terhadap teks merupakan problem metodologi, khususnya tentang bagaimana memahami dan menafsirkan teks. Tulisan ini fokus pada analisis metodologi memahami-menafsirkan dalam interpretasi terhadap teks, khususnya teks hadis Nabi Muhammad saw., yang telah berumur 1400 tahun lalu dan dari geografis serta budaya yang berbeda juga
Orientasi Kajian Hadis Kontemporer Indonesia (Studi Artikel E-Jurnal Dalam Portal Moraref 2015-2017)
This study examines the development, orientation and characteristics of the study of contemporary traditions in all online journals PTKI Indonesia on the portal Moraref. According to R. Michel Feener and Daniel Djuned, the study of hadith in Indonesia is growing dynamically and PTKI is at the center of its development. This is contradictory to Martin Van Bruinessen and Ahmad Rafiqi\u27s assertion that the opposite is even less likely to develop. The methodology used by the author is descriptive-content analysis. Where the authors make all the journal articles containing the hadith studies in the Moraref Portal as the main data in the study, in addition to the literature relating to the study of hadith as secondary data. This research found Characteristics of study of Hadith in Indonesia if traced through e- journals that have been indexed Moraref categorized in six categories, namely thematic Hadith Studies with the number of articles 80 articles, Hadith scholarship as many as 74 articles, Studies of Hadits and hadith thinking with 49 articles, as many as 35 articles Hadith Studies orientalisme as many as 36 articles Studies of living hadith as many as 18 articles. So the most dominant in the study of hadith in Indonesia is a thematic research both in religious rituals and social issues
Kyai dan Jawara Banten: Keislaman, Kepemimpinan dan Magic
This article tries to describe kiyai’s and jawara’s leadership inBanten. Kiyai and jawara are prominent figures, who become a symbol ofidentity of Banten, which is well known a religious region and a “countryof ‘ulamā’ and jawara.” The role and position of kiyai and jawara areimportant since the era of Kasultanan Banten until nowadays. Kiyai, withhis religious knowledge and magic competence (acquired from religoussources), serves people as an informal leader. While jawara, because of hiscourage and magic competence (obtained from kiyai), becomes a secondinformal leader after kiyai
Paradigma Metode Pemahaman Hadis Klasik dan Modern: Perspektif Analisis Wacana
Tulisan ini mendiskusikan paradigma yang berada di balik metode pemahaman hadis klasik dan modern. Kesimpulan sementara, metode pemahaman hadis klasik –yang diwakili ilmu matan hadis, dibangun di atas dasar paradigma positivis, dan metode modern dibangun di atas paradigma konstruktivis. Penelitian juga mengarah kepada kesimpulan belum berkembangnya metode pemahaman hadis berdasar paradigma kritis. Dalam penelitian ini, dua variabel yang diteliti adalah ilmu matan hadis sebagai instrumen pemahaman yang populer dan pemahaman pemilahan peran Nabi berdasar maqāṣid al-sharī‘ah yang dikembangkan Ibn ‘Āshūr (1973 M.). Kedua variabel tersebut dipotret dalam kerangka pergeseran paradigma analisis wacana
Ritualitas Ibadah, Antara Qurbah dan Kurbah Dari Dimensi Spiritual-Dogmatis Sampai Dimensi Sosial-Praktis
Pemahaman antara berqurban (dengan huruf ‘q’) dan berkurban (dengan huruf ‘k’), bagi kebanyakan lidah masyarakat Indonesia, sering diartikan simpang siur, sehingga tidak jarang makna hakiki dari ibadah itu sendiri lebur begitu saja dengan sangat mudah. Padahal, jika direnungkan lebih mendalam, masing-masing term memiliki karakteristik yang khas. Di dalamnya, meskipun terkadang memiliki tujuan yang sama, yakni sesuatu yang bisa saja berbentuk materi untuk orang lain yang membutuhkan atau kesusahan, baik sebagai korban kezhaliman atau korban bencana alam, namun akan nampak jelas perbedaan pada penghayatan keduanya. Tulisan ini mencoba untuk menjembatani, dan sebisa mungkin akan memberikan penyelesaian terhadap seputar pembahasan kedua terminologi tersebut
Studi Living Al-Qur’an Pada Praktek Quranic Healing Kota Bengkulu (Analisis Deskriptif Terhadap Penggunaan Ayat-ayat Al-Qur’an)
Al-Qur’an adalah representasi dari penjelmaan pesan-pesan universal Tuhan kepada hamba, hadir dalam bentuk teks verbal yang teraplikasikan dengan simbol-simbol bunyi yang mewakili firman Allah swt kepada Nabi Muhammad saw dengan menggunakan bahasa Arab. Sebagai wahyu dan petunjuk hidup bagi manusia, setiap muslim harus membaca, mehamami isinya serta mengaplikasikannya dalam kehidupan. Pembacaan yang dilakukan tentunya akan melahirkan pemahaman yang setiap muslim satu sama lainnya cenderung tidak sama. Hal ini menjadi niscaya karena terkait perbedaan kemampuan dan intensitas dalam membacanya. Dari pemahaman yang berbeda tadi, masing-masing juga akan melahirkan perilaku yang beragam pula Studi Living Al-Qur’an pada Praktek Quranic Healing Kota Bengkulu (Analisis Deskriptif terhadap Penggunaan Ayat-ayat Al-Qur’an) sebagai bentuk tafsir al-Qur’an dalam praksis kehidupan, baik pada wilayah teologis filosofis, psikologis maupun kultural
Hermeneutika Hadis: Tinjauan Pemikiran Yusuf Al-Qordhowi dalam Memahami Hadis
Hadis sebagaimana al-Quran adalah teks yang dihasilkan dari masa lalu dan diperuntukkan untuk sepanjang masa, masa lalu dan juga masa kini. Dalam memahami produk masa lalu banyak metode agar pemahamannya bisa diperuntukkan demi kemaslahatan umat. Hermeneutika hadir sebagai metode baru untuk memahami teks produk masa lalu agar bisa diaplikasikan pada masa kini, didalam heremenutika dikenal yang nama nya tringual, yaitu bagaimana teks, konteks dan pengarang bisa bersatu untuk menghasilkan sebuah pemahaman yang ‘mirip’ dengan yang dimaksudkan oleh sang pembuat teks yaitu Allah(alquran) atau Nabi Muhammad (Hadis). Dalam memahami teks alquran sudah ditawarkan pemahaman dengan menggunakan metode heremeneutika dengan langkah-langkah yang jelas, begitu juga dengan Hadis, banyak cara dalam memahami hadis, diantaranya yang dikemukakan oleh Yusuf Qordhowi, beliau lebih menekankan pemahamana hadis pada maqashid as-syariah dan memperhatikan asbab wurud hadis serta berusaha menemukan signifikansi kontekstualnya. Dalam upaya memahami hadis, pola fikir al-Qordhowi telah terkonstruksi sedemikian rupa, sehingga beliau dalam memahami hadis selalu memperhatikan sisi internal dari hadis dengan tidak melupakan menggunakan pendekatan eksternal. Disinilah titik temu antara tujuan pemahaman hermeneutika dengan pehamahan hadis ala Yusuf Qordhowi
Membongkar Agenda Terselubung Fundamentalisme Islam: dari Nalar Arab ke Nalar Pribumi
The Western modernity has emerged reaction from thecommunity of Islam. The reaction appears into three types: fundamentalist,traditionalist, and liberal Islam. The first one is to refer the Qur’ānic text.The second is to imlement all traditions in the Prophet’s era. The last isto refer the Islamic teaching, religious text, and condition they live. Thispaper will provide some corrections to the thought which globalizedfundemantalist it self with Islamic universalism project. This paper will usePost-colonial study approach
Dialektika Agama: Harmoni dalam Jemaat Ahmadiyah Studi Living Qur’ān dan Konstruksi Damai di Kelurahan Gondrong Kenanga Tangerang Banten
Within vast intolerant attitudes toward Jemaat Ahmadiyah, thecommunity at Gondrong Kenanga, Tangerang, Banten, appears to respectand highly support dissimilarity. Gondrong Kenanga is a place where manyreligious people reside, such as Ahmadiyah, NU, Muhamadiyah and others.They live together without conflict, but in harmony and peaceful condition.This article will discribe a concept of peace belonging to Ahmadiyah atGondrong Kenanga, in which it bases on the Qur’ānic doctrine that relatedto pluralism and harmony
Resolusi Konflik dan Islam Nusantara: Memromosikan Dialog antar Budaya dan Rekognisi Sosial
This paper is a philosophical study about conflicts resolution and Islam Nusantara among multicultural societies. This article discusses the relationships between individuals who produce social conflicts of ethnic and religious nuance. Referring to the theory of multiculturalism from Bhikhu Parekh, literature study method, phenomenology of religious life method, and critical reflection method, it is concluded that the social conflicts (a) emerged from an individual behavior that interprets moral and cultural in different view; and (b) happened in countries that provide political uniformity. These social conflicts should be cultivated by an individual through cultural dialogues and the actions of intercultural dialogue and social recognition. The dialogue is expected to rediscover harmony in social life