Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
PENENTUAN DOSIS STERILISASI MEMBRAN SELULOSA MIKROBA DENGAN IRADIASI BERKAS ELEKTRON BERDASARKAN ISO 11137
Telah dilakukan perhitungan dosis sterilisasi membran selulosa bakteri dengan iradiasi berkas elektron berdasarkan pada International Standard Organization (ISO) 11137. Pelikel selulosa mikroba dibuat dari fermentasi statis bakteri A. xylinum dalam media yang mengandung air kelapa sebagai sumber mikronutrien. Pelikel kemudian ditekan pada suhu kamar menggunakan alat hand press sehingga dihasilkan membran dengan ketebalan 0,03 ± 0,01 mm. Dosis sterilisasi iradiasi berkas elektron ditentukan berdasarkan ISO 11137 melalui 3 tahap yaitu: penghitungan jumlah kontaminasi awal mikroba (bioburden), penentuan dosis verifikasi dan penetapan dosis sterilisasi menggunakan Tabel 2. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai bioburden rata-rata batch 1, 2 dan 3 masing-masing adalah 67,4; 92,6; 91 cfu. Sedangkan bioburden rata-rata keseluruhan batch membran adalah 83,7 cfu. Bioburden rata-rata masing-masing batch lebih kecil dari dua kali bioburden rata-rata keseluruhan batch, sehingga bioburden yang digunakan untuk penetapan dosis verifikasi adalah bioburden rata-rata keseluruhan batch. Berdasarkan pada ISO 11137, maka dosis verifikasi adalah 7,8 kGy. Hasil pengujian pertumbuhan mikroba pada 100 sampel membran setelah menerima dosis verifikasi menunjukkan bahwa hanya satu mikroba yang tumbuh sehingga dosis verifikasi dapat diterima. Dari hasil ini disimpulkan bahwa dosis sterilisasi iradiasi berkas elektron untuk membran mikroba pada tingkat Sterility Assurance Level (SAL) 10-6 adalah 21 kGy.
 
EFFECT OF GAMMA IRRADIATION ON MICROBIAL CELLULOSE MEMBRANE FOR APPLICATION IN GUIDED BONE REGENERATION (GBR)
The synthesis and effect of gamma irradiation on characteristics of microbial cellulose membrane have been evaluated. Microbial cellulose gel (nata de coco) was produce using bacteria Acetobacter xylinum incubated in bacterial growth medium containing coconut water as a micro nutrient source. Microbial cellulose membrane was prepared using mould compression at 120°C for 5 minutes. The membranes were irradiated using gamma rays with doses of 25 and 50 kGy respectively at dose rate of 10 kGy/h. Several parameters such as water absorption, surface morphology, thermal and mechanical properties of un- irradiated and irradiated membranes were analyzed. The results showed that optimum production of microbial cellulose by A. Xylinum is 10 to 12 days at incubation temperature of 30°C and pH 4. Chemically treatments of MC membrane by NaOH and NaOCl solution were effective to remove the bacteria contaminant, bacterial cells embedded in the polymer net and endotoxin which occurred during cellulose production as well as produced membrane with more white colour. Water absorptionproperties of MC membranes showed maximum value at immersion temperature of 25°C, 37°C and 50°C were 110, 137 and 140 %, respectively. Water absorption of MC membrane decreases by increasing irradiation dose. Microscopic photograph of MC membrane showed that the membrane was consisted of interconnected nano to micro porous structures with diameter ranging from 0.05 to 0.5 μm. Thermal properties of MC showed that decomposition temperature of un-irradiated and irradiated MC membrane at dose of 25 and 50 kGy were 328°C, 328°C and 295°C, respectively. Tensile strength of un-irradiated MC membrane in dry state was 102 MPa. Irradiation at 25 and 50 kGy reduced tensile strength to become 85 and 51 MPa respectively. The decrease of thermal property and mechanical strength of MC membrane by irradiation is due to decomposition of polymeric cellulose to the lower molecular weight. This degradation hopefully improve biodegradation and resorption of MC membrane in tissue cell.
 
PENGARUH IRADIASI SINAR GAMMA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PEMBUNGAAN STEK PUCUK KRISAN (Chrysanthemum morifolium Ramat.) CV. PINK FIJI
Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh iradiasi sinar gamma terhadap pertumbuhan stek pucuk krisan kultivar Pink Fiji. Stek pucuk yang telah berakar diiradiasi dengan sinar gamma masing-masing dengan dosis 0, 10, 15, 20 dan 25 Gy, kemudian ditanam di rumah plastik daerah Gadog, Ciawi. Pertumbuhan tanaman dari masing-masing dosis menunjukkan perbedaan, baik dalam tinggi tanaman maupun dalam proses pembungaan. Tanaman dosis 15 Gy ke atas berbunga lebih lambat dan tanaman menjadi kerdil. Dosis optimal untuk iradiasi kultivar Pink Fiji adalah 10-15 Gy. Mutasi yang diperoleh terbanyak adalah warna bunga kuning, kemudian diikuti oleh orange, putih, pink gelap dan pink pucat.
 
Pengaruh Pupuk Kandang dan SP-36 Terhadap Pertumbuhan Tanaman Padi Sawah
Sebuah penelitian telah dilakukan dengan menggunakan pupuk organik (pupuk kandang) dan pupuk anorganik (SP-36) dalam berbagai taraf. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa P-total tertinggi diperoleh pada perlakuan A3 (pemberian 50% SP-36 bersama-sama dengan pupuk organik 5 t ha-1 pada tanah dengan residu 15 t ha-1) untuk gabah dan A7 (pemberian 100% pupuk SP-36 pada tanah dengan residu 20 t ha-1) untuk jerami. Teknik P-32 yang digunakan mampu menentukan secara kuantitatif P-berasal dari pupuk dan tanah. P berasal dari pupuk yang tertinggi pada gabah dan jerami (%) didapatkan pada perlakuan A7. P berasal dari tanah dalam gabah dan jerami yang tertinggi didapatkan pada perlakuan A0 (%) sedangkan nilai persentase P berasal dari tanah terendah pada gabah dan jerami didapatkan pada perlakuan A7. Pertumbuhan tanaman yang diamati meliputi berat kering gabah, berat kering jerami, jumlah anakan dan tinggi tanaman. Pemberian pupuk anorganik (SP-36) memberikan pengaruh walaupun tanpa pemberian pupuk organik (kandang)
EVALUASI KERAGAMAN GALUR MUTAN ARTEMISIA HASIL IRADIASI GAMMA
Serangan penyakit malaria di Indonesia terus meningkat. Di lain pihak, penyebab penyakit ini yaitu Plasmodium falciparum telah resisten terhadap obat malaria yang selama ini digunakan. Artemisinin, dari tanaman artemisia telah diteliti dapat mengendalikan malaria. Permasalahan yang dihadapi adalah kandungan artemisinin dari Artemisia annua yang ditanam di Indonesia masih sangat rendah, yaitu berkisar 0.1 — 0.5 %. Peningkatan keragaman genetik artemisia dengan menggunakan iradiasi sinar gamma merupakan metode alternative untuk mengatasi masalah tersebut. Pada penelitian sebelumnya telah dilakukan induksi mutasi pada biji artemisia dengan dosis 10-100 Gy. Planlet hasil iradiasi yang mempunyai perakaran yang baik, diaklimatisasi di rumah kaca dan galur mutan yang didapatkan ditanam di Kebun Percobaan Gunung Putri, Balittro dengan ketinggian 1545 m dpl. Sebagai pembanding digunakan tanaman yang berasal dari biji (kontrol biji) dan tanaman dari kultur in vitro yang tidak diradiasi (kontrol in vitro). Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur-galur mutan nmemperlihatkan keragaman morfologi, antara lain tinggi tanaman, bentuk daun, umur berbunga. Galur mutan umumnya berbunga lebih lambat dibandingkan tanaman kontrol. Sepuluh galur mutan telah terseleksi berdasarkan bobot basah dan bobot kering tanaman yang kemudian di analisis kandungan artemisininnya. Hasil penelitian menunjukkan kandungan artemisinin dari galur mutan bervariasi antara 0.44 — 1.41%, sedangkan kandungan artemisinin dari tanaman kontrol in vitro adalah 0.43%
SINTESIS HIDROGEL POLIETILEN OKSIDA BERIKATAN SILANG DAN IMOBILISASI ANTIBIOTIK DENGAN CARA INDUKSI RADIASI GAMMA UNTUK APLIKASI PEMBALUT LUKA
Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari karakter fisik hidrogel polietilen oksida (PEO) berikatan silang hasil iradiasi gamma serta mempelajari kemampuannya sebagai matriks pelepasan obat yang akan dipakai sebagai bahan pembalut luka. PEO berikatan silang telah disintesis dalam bentuk hidrogel menggunakan teknik iradiasi pada dosis 20; 30 dan 40 kGy dengan konsentrasi PEO 1-7 % b/v. Kandungan gel yang mencerminkan derajat ikatan silang, dan kemampuan hidrogel dalam menyerap air sebagai rasio swelling diukur secara gravimetri. Kandungan gel meningkat dengan naiknya dosis iradiasi mencapai nilai tertinggi 95 % pada dosis 40 kGy. Rasio swelling maksimum yang terukur selama 8 jam perendaman berkisar 10-15 g/g pada dosis 20 kGy. Uji pelepasan obat dilakukan dalam media air suling pH = 7,4 dengan antibiotik sebagai model obat diukur dengan spektrofotomer UV-Vis. Konsentrasi PEO yang digunakan untuk immobilisasi antibiotik adalah 7 % (b/v) yang dimuati dengan 10 mg antibiotik. Antibiotik yang dilepaskan dari matriks hidrogel adalah berkisar 80- 90 % dari jumlah total pada selang waktu 24 jam. Hidrogel PEO perlu dipertimbangkan sebagai carrier antibiotik dalam pembalut luka dan untuk pemakai luar (transdermal
 
DETEKSI MUTASI GEN KATG MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS DENGAN METODE PCR (POLYMERASE CHAIN REACTION) - HIBRIDISASI DOT BLOT MENGGUNAKAN PELACAK OLIGONUKLEOTIDA BERTANDA 32
Penanganan dan pengendalian penyakit tuberkulosis (TB), penyakit yang disebabkan kuman M. tuberculosis, menjadi semakin sulit dengan meningkatnya kasus resistensi kuman penyebab terhadap obat anti tuberkulosis (oat) seperti isoniazid. Resistensi dapat terjadi karena penggunaan obat yang tidak tepat dan tidak teratur, sehingga menimbulkan mutasi pada gen yang mengkode/menyandi target oat seperti gen katG (katalase peroxidase G) untuk isoniazid. Teknik biologi molekuler seperti PCR dilanjutkan dengan hibridisasi dot blot dengan pelacak oligonukleotida berlabel radioisotop merupakan teknik deteksi cepat adanya mutasi pada gen tersebut. Percobaan ini bertujuan menerapkan teknik PCR-hibridisasi dot blot dengan pelacak oligonukleotida bertanda radioisotop (32P) untuk mendeteksi adanya mutasi gen katG pada kodon 315 yang menyebabkan M. tuberculosis resisten terhadap isoniazid. Dalam penelitian ini digunakan 89 contoh sputum dan kuman standar M. tuberculosis H37Rv. Ekstraksi DNA dilakukan dengan menggunakan metode BOOM untuk contoh sputum dan metode fenol kloroform untuk kuman standar. Primer oligonukleotida yang dipakai untuk proses PCR adalah Pt8 & Pt9 untuk mendeteksi Mycobacterium penyebab tuberkulosis dan RTB 59 & RTB36 untuk mendeteksi keberadaan gen katG, yang masing-masing dirancang dari daerah pada sekuens sisipan IS6110 dan gen katG M. tuberculosis. Hasil PCR dideteksi dengan teknik elektroforesis gel agarosa. Metode hibridisasi dot blot dengan pelacak oligonukleotida 315 mu bertanda radioisotop 32P, dilaksanakan untuk mengetahui adanya mutasi gen katG dari hasil PCR dengan primer RTB59 & RTB36. Proses PCR dengan primer Pt8 dan Pt9 menunjukkan hasil positif untuk semua contoh sputum yang menyatakan sputum mengandung Mycobacterium penyebab tuberkulosis. Hasil proses hibridisasi dot blot dengan pelacak oligonukleotida 315 mu bertanda 32P, memperlihatkan, 11 strain dari 89 strain M. tuberculosis pada contoh sputum, mengalami mutasi pada kodon 315 dari gen katG. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dinyatakan bahwa teknik PCR-hibridisasi dot blot dengan pelacak oligonukleotida bertanda 32P adalah metode yang cepat, spesifik, dan sensitif untuk mendeteksi adanya mutasi gen katG M. tuberculosis yang berkaitan dengan resistensinya terhadap isoniazid.
 
PENGGUNAAN [3H]-LEUSIN UNTUK MEMPELAJARI SENYAWA KOMPLEKS PERSEITOL·K+ YANG DIISOLASI DARI BENALU ALUS Scurrula fusca SEBAGAI INHIBITOR SINTESIS PROTEIN PADA SEL
Telah dilakukan pengujian aktivitas senyawa perseitol·K+ (2) yang diisolasi dari benalu alus Scurrula fusca (BL.) G. DON terhadap inhibisi sintesis protein oleh sel kanker Ehrlich ascites dari tikus. Pengujian dilakukan dengan menggunakan L-[3,4,5-3H(N)] leusin dan pengukuran dilakukan dengan pencacah sintilasi cair. Hasil percobaan menunjukkan bahwa senyawa isolat tersebut mnunjukkan aktivitas inhibisi sebesar 13% pada konsentrasi sampel 10-7 M. Aktivitas ini lebih tinggi dibandingkan senyawa perseitol (3) tanpa ion K+ yang hanya menunjukkan aktivitas inhibisi sebesar 5%. Keberadaan ion K+ dalam senyawa kompleks merupakan faktor esensial dalam aktivitasnya sebagai inhibitor sintesis protein oleh sel kanker. Percobaan yang sama yang dilakukan terhadap berbagai komposisi campuran senyawa perseitol (3) dan ion K+ dengan perbandingan molar 24:1, 22:1, 20:1, dan 18:1 menunjukkan bahwa komposisi perseitol : K+ = 20:1 memberikan aktivitas inhibisi tertinggi terhadap sintesis protein yaitu 40% pada konsentrasi 10-4 M. Aktivitas inhibisi ini lebih tinggi dibandingkan cycloheximide sebagai kontrol positif (25% inhibisi pada 0.5×10-6 M). Hal ini diduga pada komposisi perbandingan molar tersebut, perseitol (3) dan ion K+ membentuk senyawa kompleks perseitol·K+ seperti isolat benalu alus. Selain pengaruh keberadaan ion K+, perbandingan molar 20:1 merupakan faktor yang sangat berperan dalam aktivitasnya sebagai inhibitor sintesis protein oleh sel kanker
 
STUDI SUMBER AIR KELUARAN YANG TERDAPAT DI TUBUH BENDUNGAN JATILUHUR DENGAN MENGGUNAKAN PERUNUT ISOTOP OKSIGEN-18 DAN ION KLOR
Beberapa air keluaran yang asal usulnya belum diketahui muncul di sekitar bendungan Jatiluhur. Air keluaran tersebut bahkan terdapat di sekitar menara yang terdapat ditengah bendungan. Studi ini dilakukan untuk mempelajari asal-usul air keluaran tersebut. Didalam studi ini, salah satu perunut yang paling konservatif dalam kimia hidrologi yaitu ion Cl dan isotop stabil oksigen-18 telah digunakan untuk mengidentifikasi asal-usul setiap sumber keluaran yang dicurigai sebagai bocoran. Dalam pelaksanaannya, penelitian ini dilakukan dengan pengumpulan data sekunder yang berhubungan dengan bendungan Jatiluhur dan pekerjaan lapangan yang meliputi pengambilan contoh air dari berbagai sumber diantaranya air keluaran, air dalam lubang piezometer dan sumur pantau, air hujan, dan air waduk. Masing-masing contoh air yang dikumpulkan kemudian dibawa ke laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi-Badan Tenaga Nuklir Nasional untuk dilakukan analisis kelimpahan relatif oksigen-18 dan hidro-kimianya. Penelitian ini telah berhasil mengidentifikasi bahwa ada 2 sumber air keluaran yang mempunyai hubungan langsung dengan air waduk yaitu mata air asenceur dan mata air RD yang berada di sekitar menara utama diujung dalam galeri bendungan. Namun, rembesan yang terdapat disebelah kanan bendungan yang dikenal dengan rembesan di pohon asam dan air keluaran V-NOTCH di sisi kiri tailrace merupakan air tanah lokal.
 
PENELITIAN POLA STRATIFIKASI AIR WADUK JATILUHUR DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK PERUNUT ISOTOP ALAM
Penyelidikan pola stratifikasi waduk Jatiluhur telah dilakukan dengan menggunakan teknik perunut isotop alam yang ditunjang dengan parameter insitu seperti kadar oksigen terlarut dan suhu air waduk. Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan contoh air pada kedalaman yang berbeda pada dua periode yaitu pada bulan Juli 2004 dan September 2004. Untuk setiap contoh yang diambil, pengukuran parameter suhu dan oksigen terlarut dilakukan secara insitu sedangkan analysis kelimpahan relatif Oksigen-18 dari contoh dilakukan di laboratorium PATIR-BATAN di Jakarta. Hasil penelitian baik dari isotop alam maupun parameter suhu dan oksigen terlarut menunjukkan adanya stratifikasi pada air waduk khususnya di daerah bagian tengah waduk yang kedalamannya > 16 m. Hal ini dapat dilihat dari besaran parameter suhu, oksigen terlarut dan kelimpahan relatif oksigen-18 dan variasinya sebagai fungsi kedalaman. Dari dua kali pengamatan yang dilakukan, besaran parameter yang diamati sebagai fungsi kedalaman menunjukkan pola yang sama yaitu terjadinya penurunan suhu, oksigen terlarut maupun kelimpahan relatif oksigen-18 dengan bertambahnya kedalaman. Namun karena keterbatasan alat pengambil contoh air yang digunakan dan waktu pengamatan, lapisan stratifikasi epilimnion, methalimnion, dan hypolimnion tidak dapat diidentifikasi secara jelas.