VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat
Not a member yet
467 research outputs found
Sort by
Analisis Prosedur Penyusutan Dokumen Rekam Medis di Puskesmas Rawat Inap di Kota
Public Health Center (PHC) is a central health development in its working area. The orientation of PHC is the patient safety, so medical records have to be kept safely in the appropriate order. Therefore, medical record documents can be traced easily and quickly. For maintaining medical records documents in a particular numbers in the spaces, it needs medical record documents retention to reduce the burden of storage and workload of file officer, that is associated with patient’s medical record documents tracking speed. There were some medical record documents missfile incidences due to stacking file.The research desain was a case study with cross sectional approach. Data was collected by observation and interviews and analyzed by descriptive analysis. The result showed that the numbering system that applied on the patient’s family folder was Unit Numbering System (UNS). Generally, PHCs implemented Terminal Digit Filing (TDF) system, but Puskesmas Tlogosari Kulon still applied Straight Numerical Filing (SNF). The retention system was decentralization, while Tlogosari Kulon implemented centralized. The retention of medical record documents was not scheduled routinely and there was no documentation. Several PHCs did not perpetuate medical record documents as regulated on The Permenkes Nomor 269/Menkes/PER/III/2008. Medical record documents retention required the disease index, patient index, standard operating procedure, record retentions schedules and documentation. In addition, it needs to reform the medical record documents management to facilitate the implementation of retention system.Keywords: medical record document, retention, public health center (PHC
PENGGUNAAN PESTISIDA SEBAGAI FAKTOR RISIKO “MCI†(MILD COGNITIVE IMPAIREMENT) PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MIJEN KOTA SEMARANG
Pertumbuhan penduduk lanjut usia (lansia) diprediksi meningkat cepat terutama di negaranegaraberkembang termasuk Indonesia berdasarkan proyeksi 2010-2035. Masalah terbesarlansia adalah penyakit degeneratif antara lain demensia dan parkinson. Tingginya insidensipenyakit ini di daerah pedesaan juga dilaporkan oleh Lu, et. al (1995) dan hubungan antarazat pestisida juga terdapat pada Alzheimer Disease dan Parkinson. Sektor pertanian masihmenjadi tumpuan sebagian besar pekerja lansia (60,92%), kemudian jasa (28,80%) danindustri (10,28%). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis penggunaan pestisida sebagai11PENDAHULUANIndonesia sebagai salah satu negaraberkembang juga akan mengalami ledakanjumlah penduduk lansia (50-64 tahun dan65+) berdasarkan proyeksi 2010-2035.Meningkatnya populasi lansia ini membuatpemerintah perlu merumuskan kebijakan danprogram agar lansia tidak menjadi beban bagimasyarakat. Peningkatan jumlah lansia diIndonesia diiringi pula peningkatanpermasalahan penyakit akibat prosespenuaan. Otak sebagai organ kompleks,pusat pengaturan sistem tubuh dan pusatkognitif, merupakan salah satu organ tubuhyang sangat rentan terhadap proses penuaanatau degeneratif. Berbagai penyakitdegeneratif di otak, seperti Demensiaalzheimer, Demensia vaskular, danParkinson, sampai saat ini pengobatannyabelum memberikan hasil yang diharapkan.Hampir semua obat tidak dapatmenghentikan proses penyakit. 1Gangguan kognitif ringan adalah suatukondisi awal perkembangan sebelumnyaterjadinya dementia. Gangguan kognitiffaktor risiko gangguan kognitif ringan (MCI) pada lansia.Jenis penelitian ini adalah survey “cross sectional†terhadap 50 lansia di wilayah kerjapuskesmas Mijen Kota Semarang yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulandata melalui wawancara dengan kuesioner serta MMSE (Mini-Mental State Examination)dan dianalisis dengan uji statistik “Chi Squareâ€.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 80% responden pernah mengggunakan pestisida dan78.8% responden menderita gangguan kognitif. Distribusi tingkat gangguan kognitif terdiridari 56.41% gangguan ringan dan 43.59% gangguan berat. Ada hubungan penggunaanpestisida pertanian (p value = 0.041; OR=4.455) dan pembasmi serangga (p value = 0.004;OR = 8.889) dengan gangguan kongnitif lansia. Tidak terbukti adanya hubungan antarapenggunaan obat nyamuk bakar (p value = 0.293; OR = 2.400), lotion anti nyamuk (p value =0.306; OR = 2.533) dan racun tikus (p value = 0.445; OR = 1.905) dengan gangguan kognitiflansia.Disarankan perlunya sosialisasi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentangpenggunaan pestisida secara aman, dampak kesehatan, keselamatan, pemantauan danpengawasan peredaran pestisida secara rutin dan ketat serta pendampingan dan pembinaanguna meningkatkan kemandirian hidup lansia melalui posyandu lansia.Kata Kunci : Gangguan Kognitif Ringan, Lansia, Petan
FAKTOR TERJADINYA TUBERKULOSIS PARU PADA ANAK BERDASARKAN RIWAYAT KONTAK SERUMAH
Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mycobacteriumtuberculosis. Data dari penemuan kasus TB Paru anak di BKPM Semarang pada bulanJanuari Tahun 2013 – Juli 2014 terdapat jumlah kasus TB anak sebanyak 139 penderita.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor risiko kejadian penyakit TBParu pada anak usia 0-5 tahun berdasarkan riwayat kontak serumah.Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode wawancara dan observasionaldengan pendekatan uji beda. Besar sampel sebanyak 44 responden terdiri atas 22 kontakdan 22 tidak kontak. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan antara sampel kontak(penderita TB Paru dengan kontak serumah dengan TB BTA+ dewasa) dan tidak kontak dan mendiskripsikan faktor risiko terjadinya TB paru antara variabel bebas (jenis kelamin, statusgizi, berat badan lahir rendah, pengetahuan orang tua dan imunisasi BCG) dan variabel terikat(kejadian TB Paru pada anak usia 0-5 tahun). Uji yang digunakan dalam penelitian ini adalahkorelasi Chi Square.Hasil penelitian : tidak terdapat hubungan jenis kelamin dengan kejadian TB Paru pada anakdengan p value : 1,00, terdapat hubungan antara status gizi dengan kejadian TB Paru padaanak dengan p value : 0,038, tidak terdapat hubungan Berat Badan Lahir Rendah dengankejadian TB Paru pada anak dengan p value : 1,00, tidak terdapat hubungan pengetahuanorang tua dengan kejadian TB Paru pada anak dengan p value : 0,763, tidak terdapat hubunganimunisasi BCG dengan kejadian TB Paru pada anak dengan p value : 1,00.Disarankan perlu dilakukan peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentangpencegahan penyakit TB Paru pada anak, menambah pengetahuan asupan gizi yang harusdiberikan kepada anak.Kata kunci : TB paru anak, faktor risiko TB par
HEALTH LITERACY TENTANG KEPUTUSAN PROLIFE PADA REMAJA YANG MENGALAMI KEHAMILAN TIDAK DIKEHENDAKI
Unwanted Pregnancy in Indonesia is still high. Health literacy is crucial to decrease abortion numbers and unwanted pregnancy among adolescence. Its related with how to access information, to understand, to appraise and to apply the information. Good literacy effects adolescence avoid unsafe abortion and decide to keep their fetus This study used qualitative methods with a case study design on six main informants and five informants cross check. The data was collected by indepth interview and analyzed by thematic analysis. The results showed that the majority of informants get information from friends and midwives and they could understand those information. Only small number of informants who got information from internet because it used medical terminology.Most informants consider that the information from their friends and midwife were more credible. Most of informants also apprised that abortion decision was a wrong way. So that, all of informants decided to choose prolife.The governmentand non-government organization should cooperate in giving education about the prevention of unwanted pregnancy and abortion. Good literacy of peers can avoid adolescencewho had pregnant to decide abortion. Keywords: Unwanted pregnancy, Prolife, Health Literac
HUBUNGAN ANTARA GAYA HIDUP DENGAN KEJADIAN STROKE USIA DEWASA MUDA (18-40 TAHUN) DI KOTA SEMARANG
Pada tahun 2012, penderita stroke usia 15-44 tahun sebanyak 121 kasus, tahun 2013 sebanyak168 kasus, dan tahun 2014 tri wulan kedua sebanyak 59 kasus. Tujuan dari penelitian ini untukmengetahui hubungan antara kebiasaan makan yang mengandung lemak, natrium, dan serat,aktifitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan tingkat stres dengan kejadian strokeusia dewasa muda (18-40 tahun). Jenis penelitian ini analitik observasional dengan pendekatankasus kontrol. Sampel sebesar 40 orang kasus dan 40 orang kontrol yang diambil secarapurposive sampling. Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa faktor yang berhubungan dengankejadian stroke usia dewasa muda adalah kebiasaan makan makanan sumber natrium (p=0,044;OR= 2,513), kebiasaan makan makanan sumber serat (p=0,024; OR=2,852), aktifitas fisik(p=0,007; OR=3,567), dan tingkat stres (p=0,010; OR=4,200). Kebiasaan makan makanansumber lemak (p=0,348), kebiasaan merokok (p=0,340), dan kebiasaan konsumsi alkohol(p=0,531) tidak berhubungan dengan kejadian stroke usia dewasa muda. Simpulan dari hasilpenelitian ini bahwa kebiasaan makan makanan sumber natrium dan serat, aktifitas fisik, dantingkat stres dengan kejadian stroke usia dewasa muda.Kata Kunci : Gaya Hidup, Stroke, Usia Dewasa Mud
FAKTOR RISIKO PAPARAN GAS AMONIA DAN HIDROGEN SULFIDA TERHADAP KELUHAN GANGGUAN KESEHATAN PADA PEMULUNG DI TPA JATIBARANG KOTA SEMARANG
Pengelolaan sampah di TPA Jatibarang yang tidak konsisten membuat dekomposisi sampahmenjadi tidak sempurna sehingga menimbulkan gas amonia (NH3) dan hidrogen sulfida (H2S)yang dapat berisiko tinggi bagi pemulung. Survei awal dari 5 pemulung wanita ada 3 pemulungyang mengalami gangguan kesehatan dimana 2 pemulung mengeluh pusing dan mata pedihserta 1 pemulung mengeluh nyeri dada.Tujuan penelitian ini adalah menganalisa faktor-faktorrisiko paparan gas amonia dan hidrogen sulfida terhadap keluhan gangguan kesehatan padapemulung wanita di TPA Jatibarang.Jenis penelitian adalah explanatory research dengan desain cross sectional.Teknikpengambilan sampel adalah purposive random sampling. Populasi penelitian terdiri dari 60pemulung wanita, sampel 30 pemulung wanita dengan kriteria inklusi yaitu pemulung wanitayang bermukim di sekitar TPA, tidak seorang perokok, tidak memiliki penyakit asma, bronkitis,TBC, alergi, serta tidak dalam keadaan flu.Hasil penelitian menunjukkan rerata pemulung wanita berumur 39 tahun, masa kerja 10 tahun,20 pemulung wanita memiliki pola paparan sedang dengan kriteria e†8 jam kerja per hari, eâ€7 hari kerja dalam seminggu, istirahat > 3 kali sehari, istirahat dalam satu kali e†6-10 menitdan 50% pemulung wanita beristirahat di area TPA. Keluhan gangguan kesehatan yang seringdialami oleh pemulung wanita selama memulung di TPA Jatibarang adalah nyeri dadasebanyak 16,7%, mata pedih 13,3%, tenggorokan kering 10,0%, tenggorokan panas 6,7%,kepala pusing 6,7%, batuk-batuk 6,7%, sesak nafas 3,3%.Simpulan adalah kadar gas amonia dan hidrogen sulfida di zona I dan II berada di bawahbaku mutu. Ada hubungan antara umur (pvalue = 0,026) dan masa kerja (pvalue = 0,002)dengan keluhan gangguan kesehatan pada pemulung di TPA Jatibarang. Tidak ada hubunganantara pola paparan (p value = 0,878), kebiasaan istirahat (p value = 0,094) dan jarak tempattinggal ke TPA (p value = 0,567) dengan keluhan gangguan kesehatan pada pemulung di TPAJatibarang Kota Semarang.Kata Kunci : Pemulung, TPA, Amonia, Hidrogen Sulfid
EFEKTIVITAS TANAMAN TERATAI (Nympahea Firecrest) DAN ECENG GONDOK (Eichhornia Crassipes) DALAM MENURUNKAN KADAR BOD (BIOCHEMICAL OXYGEN DEMAND) PADA LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU
Industri tahu pada umumnya banyak berbentuk usaha rumahan dan limbah yang dihasilkannyatidak dikelola terlebih dahulu, seperti yang ada di Kelurahan Lamper Kidul KecamatanSemarang Selatan terdapat 3 pengrajin tahu rumahan yang belum memiliki pengolahanlimbah, salah satunya yaitu usaha pengrajin Setia Makmur yang berlokasi di Jl. CempedakSelatan RT 2 / RW 1 Kelurahan Lamper Kidul. Industri ini berdiri sudah 7 tahun tetapi belummemiliki pengolahan limbah tahu limbah yang dihasilkan terdapat dua jenis yaitu limbah cairdan padat, untuk limbah cair dibuang langsung keselokan lingkungan sekitar dan selanjutnyamenuju aliran sungai, sedangkan untuk limbah padat berupa ampas dijual ke pengusaha perternakan. Dalam satu hari bahan baku yang digunakan 50-100 kg kedelai limbah yangdihasilkandapat mencapai 100-150 L air limbah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahuiefektifitas tanaman teratai dan eceng gondok menurunkan kadar BOD pada limbah cair tahu.Jenis penelitian ini adalah Pra-Eksperimental Static Group Comparation Design denganmelibatkan kelompok kontrol. Penelitian ini melakukan replikasi sebanyak 5 kali pengulangandari percobaan dasar, uji labolatorium menggunakan metode SNI 6989.72.2009 sampel yangdiuji sebanyak 33 terdiri dari 30 sampel perlakuan dan 3 kontrolHasil penelitian kadar BOD pada hari ke 6 belum sesuai dengan baku mutu yaitu, 784,7 mg/l pada tanaman teratai, 1131,38 mg/l tanaman eceng gondok baku mutu yang ditetapkansesuai PERDA Jawa Tengah no. 5 tahun 2012 yaitu 150 mg/l. Yang telah sesuai denganbaku mutu pada perlakuan tanaman teratai pada hari ke 12 yaitu 57,42 mg/l dan hari ke 18yaitu 63,44 mg/l, pada eceng gondok penurunan pada hari ke 12 yaitu 52,72 mg/l dan hari ke18 yaitu 33,68 mg/l dari kadar BOD awal sebesar 1280 mg/l.Tanaman eceng gondok lebih efektif dalam menurunkan kadar BOD, karena dari hasilpenelitian angka penurunan lebih rendah dan perawatan tanaman eceng gondok juga lebihmudah dibandingkan denan tanaman teratai, eceng gondok telah efektif dalam penurunanBOD pada hari ke 12. Industri skala rumah yang lokasinya berdekatan dalam membangunpengolahan limbah sebaiknya melakukan pembangunan secara bersama disatu lokasi yangsama, untuk mengurangi beban biaya operasional pembangunan pengolahan limbah.Kata kunci : Limbah cair tahu, Teratai, Eceng Gondo
HUBUNGAN ANTARA SANITASI LINGKUNGAN DAN PERSONAL HYGIENE IBU DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MANGKANG
Penyakit diare merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena angkakesakitan dan kematian akibat diare masih tinggi. Begitu pula di wilayah kerja PuskesmasMangkang, dimana angka kejadian diare menduduki peringkat 1 di Kota Semarang denganinsidence rate 32,75/1000 penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui hubunganantara sanitasi lingkungan dan personal hygiene ibu dengan kejadian diare pada balita diwilayah kerja Puskesmas Mangkang.Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study dengan jumlah sampel sebanyak94 ibu yang memiliki balita di wilayah kerja Puskesmas Mangkang. Faktor – faktor yang ditelitiadalah personal hygiene ibu, kondisi lingkungan, penyediaan air bersih dan ketersediaan jamban. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi langsungmenggunakan kuesioner.Hasil penelitian menunjukkan 45,7% balita mengalami diare pada 3 bulan terakhir. Faktorfaktoryang terbukti ada hubungan dengan kejadian diare antara lain personal hygiene (p=0,000)dimana sebagian responden termasuk dalam kategori personal hygiene baik (53,3%), kondisilingkungan (p=0,000) dimana sebagian besar responden termasuk dalam kategori kondisilingkungan baik (51,1%) dan penyediaan air bersih (p=0,023) dimana sebagian besarresponden termasuk dalam kategori tersedia (81,9%). Sedangkan ketersediaan jamban(p=0,504) terbukti tidak ada hubungan.Disarankan kepada masyarakat untuk menjaga kondisi lingkungan dan meningkatkan perilakuhidup bersih dan sehat, terutama dalam melakukan tindakan pencegahan terjadinya diareseperti mencuci tangan dengan sabun setelah BAB, sebelum makan, sebelum menyiapkandan menyuapi balita.Kata kunci : diare, personal hygiene, lingkunga
EVALUASI KINERJA KLINIK BERHENTI MEROKOK DI KOTA SEMARANG TAHUN 2014
Evaluasi merupakan suatu penilaian terhadap objek tertentu. Setiap organisasi atau lembagamemiliki kebutuhan untuk menentukan sejauh mana tingkat performa dari mutu pelayananatau program yang akan diberikan. Untuk itu, kegiatan guna melakukan evaluasi terhadapkinerja pelayanan yang diberikan haruslah menjadi bagian dari agenda organisasi. Kinikberhenti merokok di kampus merupakan program yang difasilitasi oleh Dinas PendidikanPropinsi Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja klinik berhentimerokok di kampus yang difasilitasi oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah di KotaSemarang Tahun 2014.Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif . Subyek penelitiannya adalah konselor /pengelolaklinik berhenti merokok di kampus di Kota Semarang. Sedangkan Obyek penelitiannya adalah11 klinik berhenti merokok di kampus di Kota Semarang. Metode pengumpulan data denganwawancara mendalam dan observasi. Crosschecknya mengunakan triangulasi sumber.Hasil penelitian evaluasi yang dihasilkan menunjukan kinerja berhenti merokok di kampusyang difasilitasi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah di Kota Semarang tidak berjalandengan baik karena tidak semua klinik berhenti merokok memilki sumber daya yang lengkap baik dari sumber daya manusia, sarana dan fasilitas, alat dan bahan, metode, dan danayang dapat menunjang kinerja klinik berhenti merokok untuk mencapai tujuan yang diharapkan.Klinik berhenti merokok di kampus belum berjalan sesuai dengan harapan, sehingga perlunyadilakukan evaluasi dan dukungan dari pemerintah dan universitas agar sumber daya di klinikberhenti merokok dapat berjalan dengan baik.Kata kunci : Evaluasi, Klinik Berhenti Merokok, Kampu
PENGARUH SIKAP INDIVIDU DAN PERILAKU TEMAN SEBAYA TERHADAP PRAKTIK SAFETY RIDING PADA REMAJA (STUDI KASUS SISWA SMA NEGERI 1 SEMARANG)
Safety riding adalah perilaku mengemudi secara selamat yang bisa membantu untukmenghindari terjadinya kecelakaan lalu lintas. Safety riding dirancang untuk meningkatkankesadaran pengendara terhadap segala kemungkinan yang terjadi selama berkendara. Tujuanpenelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sikap individu dan perilaku teman sebayaterhadap praktik safety riding pada remaja (studi kasus siswa SMA Negeri 1 Semarang).Jenis penelitian ini menggunakan Eksplanatory Research dengan pendekatan cross sectional.Teknik analisis data menggunakan uji korelasi pearson product moment dan regresilinier sederhana. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII SMA Negeri 1Semarang yang berjumlah 423 siswa. Sampel dalam penelitian ini adalah 82 orang yangdipilih secara “purposive samplingâ€Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktek safety riding responden secara umum baik.Aspek safety yang sering dilakukan yaitu membawa STNK setiap kali berkendara, kendaraandilengkapi STNK, menggunakan helm setiap kali berkendara, menyalakan lampu sein kiri/kanan sebelum belok. Hasil uji statistik menunjukkan adanya pengaruh perilaku teman sebayaterhadap praktik safety riding (p value = 0,000), F=20.593, R2= 0,205 yang artinya 20,5%praktik safety riding dipengaruhi oleh perilaku teman sebaya, sedangkan sisanya 79,5%dipengaruhi oleh sebab-sebab lain.Kata kunci : Perilaku tema sebaya, sikap, Keselamatan berkendaraa