Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
697 research outputs found
Sort by
PEMETAAN HABITAT BENTIK BERBASIS OBJEK MENGGUNAKAN CITRA SENTINEL-2 DI PERAIRAN PULAU WANGI-WANGI KABUPATEN WAKATOBI
Penelitian pemetaan habitat bentik di Pulau Wangi-wangi masih sangat sedikit dilakukan, sehingga ketersediaan data spasial habitat bentik di daerah ini sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan habitat bentik perairan dangkal menggunakan citra Sentinel-2 dengan metode klasifikasi berbasis objek/OBIA dan menghitung tingkat akurasi hasil klasifikasi habitat bentik di perairan Pulau Wangi-wangi Kabupaten Wakatobi. Penelitian ini dilaksanakan di perairan Pulau Wangi-wangi, khususnya perairan Sombu Dive dan sekitarnya. Penelitian ini menggunakan data satelit Sentinel-2 dengan resolusi spasial 10x10 m2 yang diakuisisi pada tanggal 4 April 2017 dan pengambilan data lapangan dilakukan pada bulan Maret - April 2017. Klasifikasi citra dengan metode OBIA menggunakan metode contextual editing pada level 1. Level 2 menggunakan klasifikasi terbimbing dengan beberapa algoritma klasifikasi yaitu support vector machine (SVM), decision tree (DT), Bayesian, dan k-nearest neighbour (KNN) dengan input themathic layer dari data lapangan. Klasifikasi habitat bentik dilakukan pada 12 dan 9 kelas dengan penerapan optimasi skala segmentasi yaitu 1, 1,5, 2, dan 2,5. Berdasarkan metode OBIA, habitat bentik dapat dipetakan dengan tingkat akurasi sebesar 60,4% dan 64,1% pada citra klasifikasi 12 dan 9 kelas secara berturut-turut pada nilai optimum skala segmentasi 2 dengan algoritma SVM
PERKEMBANGAN MORFOLOGI DAN PERILAKU LARVA IKAN KERAPU HIBRIDA CANTIK PADA PRODUKSI MASSAL
Ikan kerapu cantik merupakan hibrida antara betina kerapu macan E. fuscoguttatus dan jantan kerapu batik E. microdon. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati perkembangan dan tingkah laku larva ikan kerapu cantik agar bisa diambil langkah-langkah untuk perbaikan pada pemeliharaan larva sehingga dapat meningkatkan produksi. Penelitian dilakukan di Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan Gondol, Bali Tahun 2016. Larva dipelihara pada tiga buah bak semen ukuran 10 m3 yang diisi telur dengan kepadatan 50.000 butir/bak, dipelihara hingga juvenil umur 40 hari (D40). Pemeliharaan larva diulang tiga kali dengan waktu yang berbeda, yaitu siklus 1: Januari-Maret; siklus 2 : Mei-Juli dan siklus 3 : September-Nopember. Pengamatan perkembangan dan tingkah laku larva dilakukan pada setiap siklus yang dibagi menjadi 4 kelompok umur, yakni: 1) D1 sampai D10; 2). D11 sampai D20; 3). D21 sampai D30; dan 4). D31 sampai D40. Hasil menunjukkan larva ikan kerapu cantik mulai buka mulut dan makan pada D3, aktif berenang setelah tumbuh sirip punggung dan dada yaitu D4, sirip terus berkembang menjadi duri memanjang. D7 kondisi larva terlihat padat dilakukan penjarangan. Duri punggung dan dada mulai memendek, berubah menjadi sirip mulai D30, selanjutnya menjadi juvenil dilakukan grading untuk menekan kanibalisme, D40 dengan ukuran panjang total sekitar 3 cm larva ikan kerapu cantik seluruhnya menjadi juvenil. Perkembangan dan tingkah laku larva ikan kerapu cantik berpengaruh terhadap hasil produksinya
ANALISIS HAMBUR BALIK AKUSTIK UNTUK KLASIFIKASI DAN PEMETAAN SUBSTRAT DASAR PERAIRAN DI TELUK YOS SUDARSO, KOTA JAYAPURA
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik kuat hambur balik akustik dasar perairan. Echosounder bim tunggal Simrad EK15 frekuensi 200 kHz digunakan untuk perekaman data hidroakustik yang dilaksanakan pada tanggal 29 April sampai 2 Mei 2017 di perairan Teluk Yos Sudarso, Kota Jayapura, Provinsi Papua. Pengambilan contoh substrat digunakan untuk data validasi menggunakan sedimen grab. Pengolahan data hasil rekaman akustik menggunakan satuan dasar pencuplikan sebesar 100 ping data perekaman dengan ambang batas nilai E1 adalah -50 dB dan E2 adalah -70 dB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan nilai hambur balik akustik antar tipe substrat dasar perairan. Nilai E1 karang -15,62 dB dan E2 -30,70 dB, untuk substrat pasir E1 berkisar antara -28,40 dB sampai -27,36 dB dan E2 berkisar antara -50,96 dB sampai -47,44 dB, sedangkan substrat lumpur E1 berkisar antara -37,81 dB sampai -35,99 dB dan E2 berkisar antara -62,85 dB sampai -54,12 dB. Ukuran butiran substrat sangat berpengaruh terhadap kuat hambur balik akustik dasar perairan. Berdasarkan hasil deteksi akustik, substrat karang berada pada kedalaman 2-3 m, substrat pasir pada kedalaman 2-10 m, dan substrat lumpur dominan pada kedalaman lebih dari 10 m
INVESTIGASI PENYAKIT PADA PEMBESARAN LOBSTER PASIR Panulirus homarus DI KARAMBA JARING APUNG (LOMBOK, PEGAMETAN DAN PANGANDARAN)
Lobster pasir, Panulirus homarus adalah salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi, baik di pasar lokal maupun internasional. Akan tetapi, dalam usaha pembesaran lobster terdapat hambatan yaitu tingginya mortalitas yang disebabkan oleh infeksi penyakit. Oleh karena itu, dilakukan penelitian ini dengan tujuan untuk melakukan investigasi penyakit pada pembesaran lobster pasir P. homarus di tiga lokasi karamba jaring apung (KJA). Metode penelitian meliputi pengambilan sampel lobster, pengamatan parasit, isolasi bakteri dan jamur, serta deteksi Milky Hemolymph Disease of Spiny Lobster (MHD-SL) melalui analisis Polymerase Chain Reaction (PCR). Lokasi pengambilan sampel meliputi Lombok (NTB), Pangandaran (Jabar) dan teluk Pegametan (Bali) dengan sampel lobster masing-masing sebanyak 5 ekor. Tiga ekor lobster dari Pangandaran terinfeksi parasit Octolasmis sp. yang menginfeksi terutama pada lamela insang. Satu sampel lobster dari Lombok terinfeksi jamur Fusarium sp. yang merupakan penyebab penyakit black gill disease dengan gejala insang yang menghitam. Dua lobster dari Lombok dan 1 lobster dari Pegametan terinfeksi oleh MHD-SL yang ditandai dengan hemolimfa berwarna putih susu
STRATEGI PENGELOLAAN LIMBAH DI PELABUHAN ARAR KABUPATEN SORONG YANG BERKELANJUTAN
Pelabuhan Arar merupakan pelabuhan yang sedang berkembang dan terletak di kawasan ekonomi khusus, sehingga menghasilkan limbah dan sampah yang semakin banyak. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi strategi pengelolaan limbah di Pelabuhan Arar Kabupaten Sorong yang berkelanjutan. Pada penelitian ini dilakukan wawancara terhadap lima pakar ahli yang dipilih secara purposive dengan bantuan kuesioner khusus untuk keperluan analisis AHP. Data yang diperoleh dianalisis dengan analytical hierarchy process (AHP) menggunakan perangkat lunak expert choice 2000. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ada tiga strategi utama yang perlu dilakukan agar pengelolaan limbah di Pelabuhan Arar Kabupaten Sorong menjadi berkelanjutan, yakni membuat pengolahan limbah dan sampah menjadi satu kebiasaan dan budaya keseharian (habituasi) dari masyarakat, mencari dan menerapkan teknologi zerowaste serta melakukan penegakan hukum
LENGTH-WEIGHT RELATIONSHIP AND CONDITION FACTOR OF YELLOWSTRIPE SCADS Selaroides leptolepis IN SUNDA STRAIT
Yellowstripe scad Selaroides leptolepis is important product of small pelagic fishery resources in Java Sea. This fish also has high economic value and mostly captured by fisherman. The purpose of this study was to determine length weight relationship and condition factor of yellowstripe scads Selaroides leptolepis in Sunda Strait. Sampling was conducted from April to August 2015 with stratified random sampling method from catch landed at Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Labuan, Banten. The results showed that 757 fish captured consists of 337 females and 420 males. The length weight relationship was W= 0.00004L2.7176 for female and W= 0.00003L2.7871 for male. The results indicated that the length weight relationship was highly correlated (r > 95%). the relative condition factors of fish varied from 1.0061-1.1926, of which females were generally in better condition than the males. Keywords: condition factor, length-weight relationship, yellowstripe scads, Sunda Strai
THE HISTOLOGICAL, EXTRACTION AND CHARACTERIZATION COLLAGENS YELLOW-PIKE CONGER Muarenesox talabon
By product Muarenesox talabon swim bladders can be used as a raw material for desperately needed in the food, biomedical, pharmaceutical, and cosmeceuticals industries. The aims of the research were to observed the histological and determine chemical characteristics of swim bladder including proximate and amino acids; extraction of acid soluble collagen and determine the characteristics of collagen including proximate, pH, heavy metals, microbial, amino acids, functional groups, molecular weights, and thermal stability. The morphology of cunang swim bladder consists of outer, middle, and inner layers containing collagen fibers; 33.67±0.71%wb and protein whichwere dominated by three amino acids that were glycine, proline, and alanine. Pretreatment by 0.1 M NaOH for 8 hours (K1T4) and acid extraction by 0.25 M acetic acid for 72 hours (M1T3) was the best treatment yielding 14.51± 0.43% of collagen; having 12.12±0.04% wb of moisture; 88.54 ± 0.08% wb of protein; 1.31±0.23% wb of fat; 0.17±0.03% wb of ash. Not detected any heavy metals (Pb, Hg, As, Cd). Acidity pH was 4.31 and negative of E. coli and Salmonella. The main amino acids detected were glycine 241.06 mg/g; proline 88.73mg/g; and alanine 86,98 mg/g; FTIR spectra were revealed the presence of triple helix structures; electrophoresis patterns consisted of 136 kDa of mol weight of α1 and 117 kDa of mol weight of α2 were characterisedto be type I collagen; which had Tmax of 195.59ºC and ΔH 7.8113 J/g. Keywords: acid extraction, swim bladder, collagens, thermal stabilit
POTENSI KERUSAKAN TERUMBU KARANG PADA KEGIATAN WISATA SNORKELING DI DESTINASI WISATA TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA
Wisata snorkeling di Taman Nasional Karimunjawa merupakan salah satu sektor wisata yang paling pesat perkembanganya saat ini di Karimunjawa. Semakin meningkatnya wisatawan snorkeling dapat menimbulkan tekanan ekologi terumbu karang pada lokasi snorkeling. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kontak langsung wisatawan snorkeling dan operator wisata terhadap kerusakan terumbu karang, penelitian ini dilakukan dengan mengikuti operator wisata. Kontak fisik yang paling sering dilakukan oleh wisatawan adalah sit stand kneel pada karang, sedangkan untuk operator wisata adalah penambatan perahu, pemberian pakan pada ikan, serta tidak menegur wisatawan. Nilai kontak fisik pada spot Ujung Bintang 0,029 individu per menit, nilai kontak fisik pada spot Maer 0,063 individu per menit, nilai kontak fisik pada spot Karang Sendok 0,038 individu per menit