Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
    697 research outputs found

    VERTICAL SRUCTURE AND VARIABILITY OF INDONESIAN THROUGHFLOW (ITF) IN TO WESTERN BANDA SEA

    Get PDF
    Arus Lintas Indonesia (Arlindo) merupakan sistem arus antara samudera Pasifik dan Hindia yang melewati Laut Indonesia, seperti melalui jalur primer Selat Makassar ke Laut Flores dan melalui jalur sekunder Selat Lifamatola ke Laut Banda. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur vertikal dan variabilitas Arlindo di Laut Flores Timur (Flores) dan Laut Banda Utara (Banda) yang berasal dari keluaran model laut INDESO antara tahun 2008 dan 2014. Analisis struktur Arlindo dengan menghitung rataan komponen arus secara vertikal. Volume transpor dihitung dari penampang di Laut Banda dan Laut Flores. Deret waktu Arlindo dianalisis variabilitasnya menggunakan filter band-pass dan transformasi wavelet kontinu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Arlindo Banda secara dominan mengalir ke selatan, sedangkan Arlindo Flores mengalir ke timur di sepanjang utara Kepulauan Nusa Tenggara. Struktur vertikal aliran Arlindo mengalami penguatan di kedalaman antara 50 m dan 150 m. Perkiraan total volume transpor selama periode 7 tahun dari kedua jalur Arlindo yang masuk ke Laut Banda bagian barat sebesar 6,27 Sv (±3,81 Sv), yang merupakan kesepakatan baik dengan studi model sebelumnya. Variasi tahunan transpor Arlindo Banda (Flores) maksimum selama musim Barat Laut (Tenggara) dan minimum selama musim Tenggara (Barat Laut). Variabilitas yang mendominasi pada transpor Arlindo Banda ialah periode intra-musiman (ISV) dan semi-tahunan (SAV), sedangkan variabilitas transpor Arlindo Flores didominasi oleh periode tahunan (AV).The Indonesian Throughflow (ITF) is an inter-ocean Pacific-Indian current system that passes Indonesian Seas, such as via the primary path of Makassar Strait to Flores Sea and via the secondary path of Lifamatola Strait to Banda Sea. This study aims to investigate the structure and volume transport estimate of ITF Eastern Flores Sea (Flores) and Northern Banda Sea (Banda) derived from ocean model output of INDESO between 2008 and 2014. Structure of the ITF is analyzied by the average of current component vertically and transport volume estimated by cross-section at Banda and Flores sea. Time-series variability of ITF is analyzed  using band-pass filter and continuous wavelet transforms. The results showed that ITF Banda was characterized by flow dominantly towards south while ITF Flores depicted was flowing east along the North of Nusa Tenggara Islands. The vertical structure of ITF flow is intensified at a depth between 50 m and 150 m. The total volume transport estimate over the 7-year period from both ITF paths into the western Banda Sea is about 6.27 Sv (±3.81 Sv), which is a good agreement with previous model studies. Variations of transports ITF in Banda (Flores) is maximum during northwest (southeast) monsoon and minimum during southeast (northwest) monsoon. The variability of the ITF Banda is dominated intra-seasonal (ISV) and semi-annual periods (SAV), while the ITF Flores is annual period (AV)

    ANALYSIS OF BENTHIC HABITAT CHANGE BY USING HIGH RESOLUTION SATELLITE IMAGERY IN KARANG LEBAR, KEPULAUAN SERIBU

    Get PDF
    Keperluan data dan informasi tentang habitat bentik sangat diperlukan untuk menjaga dan melestarikan ekosistem yang ada di perairan. Rusaknya habitat bentik dapat terjadi karena adanya aktifitas antropogenik dan bencana alam yang akan berimbas pada biota dan ekosistem yang ada disekitarnya, oleh karena itu untuk mengetahui dan memantau kondisi perairan dan habitat perairan dangkal perlu dilakukannya pemetaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan habitat dasar perairan laut dangkal di Karang Lebar, Kepulauan Seribu. Penelitian ini memanfaatkan citra multispektral resolusi tinggi QuickBird 2008 dan WordView-2 2018 untuk mendeteksi perubahan geospasial habitat bentik. Klasifikasi citra multispektral dilakukan dengan penerapan algoritma SVM (Support Vector Machine) dan transformasi DII (Depth Invariant Index) pada kedua citra yang digunakan. Jumlah kelas habitat bentik yang dihasilkan adalah sebanyak lima kelas yaitu terumbu karang, karang mati, padang lamun, pasir, dan rubble. Hasil analisis menunjukkan akurasi keseluruhan 58,18% dan 70,9% pada penerapan klasifikasi dengan input band multispektral masing-masing untuk citra 2008 dan 2018, serta 60% dan 80% pada hasil transformasi DII masing masing untuk citra 2008 dan 2018. Perubahan kelas rubble di tahun 2008 menjadi kelas pasir tahun 2018 merupakan yang paling besar luasannya dibandingkan dengan perubahan pada kelas lainnya, yaitu 81,46 ha.The need for data and information about benthic habitat is very necessary to maintain and conserve the ecosystems that exist in the waters. Damage to benthic habitats can occur due to anthropogenic activities and natural disasters that will impact on the surrounding biota and ecosystem, therefore to know and monitor the condition of waters and shallow water habitats it is necessary to do mapping. This study aims to detect the change of ​​benthic habitats in Karang Lebar, Kepulauan Seribu. This study utilized high resolution multispectral imagery QuickBird (2008) and WordView-2 (2018) to detect changes in the distribution and the area of the benthic habitat coverage at the study site. The classification of multispectral imagery was carried out with two approaches, namely the application of the Support Vector Machine (SVM) algorithm and Depth Invariant Index (DII) transformation on both satellite imageries. The number of benthic habitat classes produced was five classes, namely live coral, dead coral, seagrass beds, sand, and rubble. The results of the analysis showed an overall accuracy of 58.18% and 70.9% in the classification with multispectral input bands for the 2008 and 2018 imagery, and 60% and 80% for the DII transformation on 2008 and 2018 imageries respectively. The results of change detection showed the rubble class to sand had the largest area of 81.46 ha

    TEMPORAL STUDY OF REEF FISH COMMUNITIES (2014-2018) WATER OF MESJID RAYA SUB-DISTRICT AND PEUKAN BADA, ACEH BESAR DISTRICT

    Get PDF
    Ikan karang merupakan ikan yang memanfaatkan ekosistem terumbu karang sebagai tempat tinggal, mencari makan, memijah dan pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunitas ikan karang melalui pendekatan kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman dan dominansi ikan karang pada tahun 2014-2018 di perairan Kecamatan Mesjid Raya dan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini dilaksanakan dari tahun 2014 hingga tahun 2018, dengan lokasi penelitian ada 8 lokasi. Pengambilan data ikan karang dilakukan dengan menggunakan metode underwater visual cencus (UVC). Total spesies ikan karang yang ditemukan selama tahun 2014 dan 2018 adalah sebanyak 115 spesies dari 39 famili. Perairan Kecamatan Mesjid Raya memiliki nilai kelimpahan ikan karang terendah sejumlah 128 ind/ha pada pengamatan tahun 2014 di perairan Lhok Mee dan kelimpahan ikan tertinggi sejumlah 796 ind/ha di perairan Benteng Inong Balee tahun 2017. Sedangkan perairan Kecamatan Peukan Bada memiliki kelimpahan ikan karang dengan nilai terendah sejumlah 96 ind/ha pada pengamatan tahun 2014 di perairan Lhok Mata Ie dan mencapai nilai tertinggi sejumlah 2401,70 ind/ha di perairan yang sama tahun 2018. Hasil rata-rata nilai indeks ekologi ikan karang di Kecamatan Mesjid Raya dan Peukan Bada tahun 2014-2018 tidak memiliki perbedaan yang signifikan.Reef fishes are the group of fish that have a high association with the coral reef ecosystem as spawning, nursery, and feeding grounds. This study aims to determine the reef fish community through the approach of abundance, diversity, uniformity, and dominance of reef fish in 2014-2018 in the waters of the Mesjid Raya Sub-district and Peukan Bada, Aceh Besar District. This research was carried out from 2014 to 2018, with research locations, there are 8 locations. Reef fish data collection was carried out using the underwater visual census (UVC). The total species of reef fish found during 2014-2018 were 115 species from 39 families. The waters of Mesjid Raya sub-district have the lowest abundance of reef fish with a number of 128 ind/ha in 2014 observations in Lhok Mee waters and the highest abundance of fish as much as 80 ind/ha in the waters of Fort Inong Balee in 2017. It is different from sub-district waters Peukan Bada has an abundance of reef fish with the lowest value of 96 ind/ha in 2014 observations in the waters of Lhok Mata Ie and reached the highest value of 2401.70 ind/ha in the same waters in 2018. Results of the average ecological index value Reef fish in the District of Mesjid Raya and Peukan Bada in 2014-2018 did not have a significant difference

    Font_matter: Font_matter

    No full text
    Font_matte

    KLASTERISASI ARMADA PERIKANAN SKALA KECIL DI PULAU KEI KECIL BAGIAN TIMUR, KEPULAUAN KEI

    Get PDF
    Kebijakan dan regulasi dengan sifat armada perikanan skala kecil yang multispesies dan multigear dapat menyebabkan terjadinya penurunan hasil tangkapan di setiap daerah penangkapan ikan. Klasterisasi armada perikanan dapat memberikan informasi yang lebih efektif dan efisien untuk tindakan pengelolaan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi klasterisasi armada perikanan skala kecil berdasarkan kemiripan hasil tangkapan, pendapatan dan biaya operasional. Metode penelitian menggunakan metode survei, penentuan responden dengan teknik purposive sampling. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan Square Euclidean Distance. Hasil penelitian mendapatkan hasil tangkapan, pendapatan dan biaya operasional tertinggi pada musim barat dan pancaroba 1 adalah armada purse seine, musim timur dan pancaroba 2 adalah armada bagan, sedangkan terendah pada musim barat sampai pancaroba 2 adalah armada gillnet hanyut. Secara umum pada musim barat terdapat 3 kelompok klaster besar, musim pancaroba 1 terdapat 2 kelompok klaster besar, musim timur terdapat 3 kelompok klaster besar, musim pancaroba 2 terdapat 4 kelompok klaster besar. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa klasterisasi yang terjadi dalam setiap musim dipengaruhi oleh hasil tangkapan, pendapatan dan biaya operasional. Jumlah dan struktur klasterisasi armada perikanan skala kecil selalu berubah dalam setiap musim.Policies and regulations with the nature of the multispecies and multigear fleets of small-scale can cause a decrease in the catch in each fishing area. Fishing fleet clustering can provide more effective and efficient information for management actions. This study aims to identify clustering fleets of small-scale fisheries based on the similarity of catch, income, and operational costs. The research method uses survey methods, primary and secondary data types, and the determination of respondents by purposive sampling technique. Analysis of data used is descriptive analysis and Square Euclidean Distance. The results show that the highest catch, income and operational costs during the west season and transition 1 are purse seine, east season and transition 2 are lift net, while the lowest in west season to transition 2 is drift gillnet fleet. In general, in the west season there are 3 large cluster groups, transition season 1 has 2 large cluster groups, east season there are 3 large cluster groups, transition season 2 has 4 large cluster groups. This results showed that the number and structure fleets of small-scale fisheries clustering always changes in every season

    CHARACTERIZATION OF HYDROCARBON RESERVOIR USING SWEETNESS ATTRIBUTE AND ACOUSTIC IMPEDANCE INVERSION IN NORTH BALI WATERS

    Get PDF
    Reservoir adalah salah satu objek yang menjadi fokus pada tahap eksplorasi dalam industri minyak dan gas. Proses identifikasi dan penggambaran karakter reservoir baik secara kualitatif maupun kuantitatif dilakukan menggunakan data sumur dan data seismik karena kedua data tersebut saling me-lengkapi. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis karakter reservoir hidro-karbon di Perairan Utara Bali menggunakan metode atribut sweetness dan metode inversi impedansi akustik berbasis model. Penelitian ini menggunakan empat buah lintasan seismik laut 2D post-stack time migration dan sebuah data sumur (BLJ-1). Metode atribut sweetness dilakukan dengan menurun-kan informasi data seismik berupa amplitudo dan frekuensi, sedangkan metode inversi impedansi akustik berbasis model dilakukan dengan mengin-tegrasikan data seismik dan data sumur agar di-peroleh sebaran nilai impedansi akustik secara lateral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atribut sweetness dapat mengenali zona reservoir hidrokarbon dari anomali sweet spots pada rentang waktu 750-850 ms. Zona reservoir utamanya tersusun atas batuan karbonat berupa batu gamping (limestone) yang berumur Late Pliocene dan terletak pada kedalaman 680-740 m. Metode inversi berbasis model mampu memberikan nilai korelasi yang tinggi dan galat inversi yang rendah sehingga dapat mendeter-minasi lapisan batuan yang diprediksi mengandung gas. Penggunaan atribut sweetness dan inversi berbasis model, dapat mengidentifikasi dan mampu menggambarkan karakter reservoir dengan baik.Reservoir is an object that be focus at exploration stage of the oil and gas industry. The process of identifying and depicting reservoir characters both qualitatively and quantitatively is carried out using well and seismic data because these two data are complementary. The aim of this study is to identify and analyze the character of hydrocarbon reservoir in North Bali Waters using sweetness attribute method and model-based acoustic impedance inversion method. This study uses four 2D post-stack time migration seismic and a well (BLJ-1) data. The sweetness attribute method is carried out by extracting basic information derivatives from seismic data (amplitude and frequency), while the model-based acoustic impedance inversion method is carried out by integrating seismic and well data in order to obtain the lateral distribution of acoustic impedance values. The results showed that sweet-ness attribute can identify the hydrocarbon reservoir zone from sweet spots anomaly at time window 750-850 ms. The main reservoir zone is composed by carbonate rocks (limestone) aged Late Pliocene and located at 680-740 m depth. Model-based inversion method is able to provide high correlation values and low inversion errors, so it can determines the rock layers that predicted with gas-contain. The use of sweetness attribute and model-based inversion method can identify and describe reservoir characters well

    COASTLINE CHANGES IN BANYUASIN ESTUARY WATERS IN RELATION TO SEDIMENTATION

    Get PDF
    The estuary waters of the Banyuasin River are one of the river estuary waters that is affected by the sedimentation process. This area gets a big influence from land input. This study aims to analyze the changes in the coastline in Muara Banyuasin Waters, South Sumatra associated with sediment characteristics and sedimentation rates. This research was conducted in October 2018 and sampling was carried out by installing sediment traps for 14 days. Samples were taken once a week and then the rate of sediment accumulation were calculated. Analysis of coastline changes is done using image data processing with a span of 5 years using ErMapper 7.0 software. The results of image data processing are discussed descriptively with sedimentation rates and sediment characteristics. The results showed that the predominant characteristics of sediments were clay and silt with sediment accumulation rates ranging from 2.06 kg/m2/day-6.55 kg/m2/day. The estuary waters of the Banyuasin River undergo a change in coastline in the form of sedimentation and abrasion. Sedimentation occurred at 6 stations while abrasion occurred at 2 stations. Coastline changes are ranged ±33 m-±322 m. Stations that experience high coastline changes are characterized by high sedimentation rates and subtle dominant substrate types (silty clay). Whereas areas that experience low coastline changes have low sedimentation rates with coarser substrate types (sandy silt).Perairan muara Sungai Banyuasin merupakan salah satu perairan muara sungai yang dipengaruhi oleh proses sedimentasi. Perairan ini mendapatkan pengaruh besar dari masukan daratan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan garis pantai di Perairan Muara Banyuasin, Sumatera  Selatan yang dikaitkan dengan karakteristik sedimen dan laju sedimentasi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2018 dan pengambilan sampel dilakukan dengan memasang sedimen trap selama 14 hari. Sampel diambil 1 kali dalam 1 minggu kemudian dihitung laju akumulasi sedimen. Analisis perubahan garis pantai dilakukan menggunakan pengolahan data citra dengan rentang waktu 5 tahun  menggunakan software ErMapper  7.0. Hasil pengolahan data citra dibahas secara deskriptif dengan laju sedimentasi dan karakteristik sedimen pada daerah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik sedimen yang mendominasi adalah dominan lempung dan lumpur dengan laju akumulasi sedimen berkisar antara 2,06 kg/m2/hari-6,55 kg/m2/hari. Perairan muara Sungai Banyuasin mengalami perubahan garis pantai berupa sedimentasi dan abrasi. Sedimentasi terjadi pada 6 stasiun sedangkan abrasi terjadi pada 2 stasiun. Perubahan garis pantai berkisar ±33 m-±322 m. Stasiun yang mengalami perubahan garis pantai tinggi dicirikan oleh laju sedimentasi yang tinggi dan berjenis substrat dominan lebih halus (lempung berlanau). Sedangkan daerah yang mengalami perubahan garis pantai rendah memiliki laju sedimentasi rendah dengan tipe substrat yang lebih kasar (lempung berpasir)

    VARIBEL-VARIABEL YANG BERPERAN PENTING DALAM SISTEM PERIKANAN TANGKAP NASIONAL

    Get PDF
    Masalah utama perikanan tangkap Indonesia adalah overfishing, kemiskinan nelayan, dan kerusakan ekosistem laut dimana terdapat hubungan yang kompleks satu sama lain. Oleh karena itu, penelitian yang berlangsung Oktober 2018-Oktober 2019 ini bertujuan untuk mengurai peubah/variabel penting pada struktur sistem perikanan tangkap nasional yang dapat membantu pemerintah dalam mengambil kebijakan perikanan tangkap untuk lebih efektif dengan menggunakan metode dan software MICMAC (Matrice d\u27Impacts Croisés-Multiplication Appliquee à un Classement). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 28 peubah sistem perikanan tangkap nasional yang terdiri dari 5 kategori, yaitu ekonomi, kebijakan, sosial budaya, lingkungan, serta sains dan teknologi. Analisis struktural sistem perikanan tangkap Indonesia menunjukkan bahwa peubah yang paling berpengaruh berdasarkan Matrix of Direct Influences (MDI) dan Matrix of Indirect Influences (MII) adalah produksi perikanan tangkap, IUU fishing, policy/kebijakan perikanan tangkap, dan biaya melaut.  Sementara peubah yang memiliki tingkat ketergantungan paling tinggi berdasarkan MDI dan MII adalah stok ikan dan industri perikanan.  Selain itu, displacement map dari MDI ke MII hanya terjadi di dalam kuadran (dari empat kuadran), kecuali peubah bantuan pemerintah yang berpindah dari kuadran relay variable ke kuadran dependent variable. The main problems of Indonesian capture fisheries are overfishing, fishermen poverty, and degradation of marine ecosystems in which there are complex relationships. Therefore, the research in October 2018-October 2019 aims to determine essential variables of the national capture fisheries system that can assist the government in the making capture fisheries policies more effectively by using method and software MICMAC (Matrice d\u27Impacts Croisés-Multiplication Appliquee à un Classement). The results showed that there were 28 variables of national capture fisheries system that consist of 5 categories, namely economy, policy, social-cultural, environment, and science and technology. Structural analysis shows that variables with the most substantial influence based on Matrix of Direct Influences (MDI) and Matrix of Indirect Influences (MII) are the production of capture fisheries, IUU fishing, policy on capture fisheries, and cost of fishing.  Meanwhile, variables with the most substantial dependence based on MDI and MII are the fish stock and fisheries industry.  Also, the displacement map from MDI to MII is only occurred within the quadrant (out of four quadrants), but the variable of government subsidy that changes from relay variable quadrant to dependent variable quadrant

    Front Matter

    No full text
    Front Matte

    KLASIFIKASI HABITAT PERAIRAN DANGKAL DARI CITRA MULTISPASIAL DI PERAIRAN PULAU KAPOTA DAN PULAU KOMPOONE, KEPULAUAN WAKATOBI

    Get PDF
    Habitat perairan dangkal sangat penting dipetakan diantaranya karena: (1) mendukung perencanaan, manajemen, dan pengambilan keputusan tata ruang pemerintah; (2) mendukung dan mendesain Marine Protected Area (MPA); (3) melakukan program penelitian ilmiah yang bertujuan untuk menghasilkan pengetahuan tentang ekosistem bentik dan geologi dasar laut; (4) melakukan penilaian sumber daya dasar laut yang hidup dan tidak hidup untuk tujuan ekonomi dan menajemen, termasuk rancangan cadangan perikanan. Hingga saat ini belum ada standar untuk tingkat kedetailan peta tematik ekosistem pesisir khususnya habitat perairan dangkal sesuai kebutuhan pengelolaan wilayah pesisir dengan skema klasifikasi tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan akurasi peta hasil klasifikasi habitat perairan dangkal antara citra SPOT 6, Sentinel 2A, dan Landsat 8 menggunakan algoritma klasifikasi support vector machine. Lokasi penelitian terletak di Kepulauan Wakatobi, meliputi 2 lokasi yaitu Pulau Kapota dan Pulau Kompoone. Pengambilan data in-situ dilaksanakan pada tanggal 7-11 Juli 2019. Sebanyak 347 ground truth dan foto transek hasil sampling di lapangan telah dianalisis menggunakan coral point count with excel extension (CPCe). Skema klasifikasi yang dihasilkan yaitu 8 kelas habitat bentik, selanjutnya dilakukan klasifikasi dengan mengkelaskan kembali menjadi 6 dan 5 kelas. Hasil yang diperoleh pada citra SPOT-6 untuk semua kelas habitat perairan dangkal yang digunakan memiliki overall accuracy yang lebih besar. Perbedaan ukuran piksel (resolusi spasial) dan jumlah skema klasifikasi sangat memengaruhi hasil akurasi.Shallow water habitat mapping is important to do because: (1) it can support the planning, management, and decision making of government spatial; (2) it can support and design a Marine Protected Area (MPA); (3) it can conduct a scientific research program to determine a knowledge about benthic ecosystem and seabed geology; (4) it can do seabed resource valuation, both biotic and abiotic, for economic and management goals. Nowadays, the standardization of thematic map details level in coastal ecosystem has not determined, especially in shallow water habitat based on coastal management needs in certain scale. The study aims to compare map accuracy level between SPOT 6, Sentinel 2A, and Landsat 8 classification results using support vector machine algorithm. The study site is in Wakatobi Island, including Kapota Island and Kompoone Island. The in-situ data took on July 2019. The 347 ground truth and transect images in the field analyzed using Coral Point Count with Excel Extension (CPCe). The classification scheme that was gotten is 8 habitat benthic classes, then conducted classification with classify them to be 6 and 5 classes. The result from SPOT 6 for 5 habitat classes has the highest overall accuracy. The differences between pixel (spatial resolution) and the amount of classification scheme influence accuracy results

    639

    full texts

    697

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇