Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
697 research outputs found
Sort by
GROWTH, BIOMASS AND PHYTOCHEMICAL COMPOUND OF SEAGRASS (CASE STUDY: MALANG REGENCY COASTAL)
Seagrass, yang umum disebut sebagai lamun dalam bahasa indonesia merupakan satu satunya tumbuhan tingkat tinggi yang dapat hidup terendam air laut. Padang lamun memiliki peran kunci dalam ekosistem, antara lain sebagai produsen primer, habitat hidup organisme bentik, menstabilkan sedimen, dan menyimpan karbon di laut dangkal. Komunitas lamun monospesies dapat ditemukan di Kabupaten Malang, namun penelitian terkait lamun di Kabupaten Malang juga masih terbatas, sehingga kajian ini dirasa penting untuk dilakukan. Tujuan dari kajian ini untuk mengetahui laju pertumbuhan daun dan biomassa lamun, serta mengetahui kandungan fitokimianya. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus hingga November Tahun 2014 dan Tahun 2015. Pengukuran laju pertumbuhan daun dan biomassa lamun dilakukan secara in situ dengan metode penandaan selama satu minggu, serta pengambilan contoh daun lamun dilakukan secara acak di lokasi penelitian. Tahap selanjutnya bahan diekstraksi dengan methanol untuk mendapatkan kandungan senyawa fitokimia. Analisis data di Laboratorium Eksplorasi Sumberdaya Perikanan dan Kelautan, FPIK–UB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua jenis lamun, yaitu Syringodium isoetifolium di Pantai Kondang Merak dan Thalassia hemprichii di Pantai Bale Kambang. Laju pertumbuhan daun kedua jenis lamun secara berurutan menunjukkan nilai positif yaitu 0,45±0,19 cm/hari dan 0,25±0,14 cm/hari. Nilai biomassa kedua jenis lamun menunjukkan bahwa biomassa pada bagian bawah substrat lebih tinggi dibandingkan bagian atas substrat. Uji fitokimia menunjukkan bahwa kedua jenis lamun ini mengandung senyawa bioaktif jenis flavonoid dan saponin.Seagrass known as Lamun in Bahasa is one of the species that are can live in submerged marine habitats. Seagrasses have an important role in the ecosystems, including as primary producers, living habitats of benthic organisms, stabilize bed sediments and carbon storage in shallow-water coastal. Monospecies community of seagrass was found in Malang, however, only limited number studies of seagrass have been done in the area. This study aimed to determine the growth rate and biomass of the seagrass, as well as the phytochemical compounds. Experiments were conducted during August-November in 2014 and 2015. Measurement of in situ growth and biomass leaf were made using marking techniques in one week also the data of leaf seagrass collected were using a random sampling method. Extracted materials were tested by methanol to get the phytochemical compound. Data were analyzed at the Fisheries and Marine Exploration Laboratory, FPIK-UB. The results of the present study showed that two species of seagrass, Syringodium isoetifolium at Kondang Merak and Thalassia hemprichii at Bale Kambang. The growth rate of the seagrass leaves of the former species had positive values with 0.45±0.19 cm/day, hile the later species had 0.25±0.14 cm/day. Furthermore, the biomass value of the two types seagrass obtained that in the below-ground was higher than the above-ground. Phytochemical tests showed that both of type seagrass contained bioactive compounds such as flavonoids and saponins
IMPACT OF MARINE PROTECTED AREA ON REEF FISH POPULATION IN AY AND RHUN ISLANDS, BANDA ISLANDS, MALUKU PROVINCE
Kawasan konservasi perairan (KKP) berfungsi untuk mengelola sumber daya perikanan dan keanekaragaman hayati laut agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Kondisi ikan karang merupakan salah satu bioindikator untuk mengukur dampak pengelolaan KKP. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat dampak pembentukan KKP Daerah (KKPD) Pulau Ay dan Pulau Rhun terhadap sumber daya perikanan karang di Kepulauan Banda, Maluku, Indonesia. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu Underwater Visual Census (UVC) dan Fish Length Estimation dengan bantuan peralatan SCUBA. Analisis data dilakukan dengan membandingkan data sekunder dan data primer yang meliputi kelimpahan, biomassa, status tropik dan komposisi ukuran ikan besar dan ikan kecil dari 10 famili ikan target dan ekonomis penting sebelum dan sesudah Pulau Ay dan Pulau Rhun dicadangkan sebagai KKP. Hasil penelitian menunjukan bahwa kelimpahan dan biomassa ikan karang secara temporal berfluktuasi sebelum dan sesudah Pulau Ay dan Pulau Rhun dicadangkan sebagai KKP, namun masih dalam kondisi melimpah dan tinggi. Status tropik dan komposisi ukuran ikan karang berubah-ubah sebelum dan sesudah pencadangan KKP, namun masih dalam kondisi seimbang antar kelompok tropik, ikan besar dan ikan kecil. Kesimpulan penelitian ini adalah pencadangan KKPD memberikan dampak positif terhadap sumber daya ikan karang di Pulau Ay dan Pulau Rhun.The function of marine protected area (MPA) is to manage marine biodiversity and fisheries resources toward sustainability utilization. The reef fish condition is one of bioindicator to measure the MPA management impact. The purpose of this research was to study impact of Ay and Rhun Islands MPA establishment on the reef fish resources in the Banda Island, Maluku, Indonesia. The methods used for data collection were the Underwater Visual Census (UVC) and Fish Length Estimation supported with SCUBA equipment. Data analysis was operated by comparing secondary and primary data which included abundance, biomass, tropic level status and the composition of large fish and small fish from 10 target and economically important fish families, before and after Ay and Rhun Islands declared as MPA. The results presented that the abundance and biomass of reef fish were fluctuated temporally before and after Ay and Rhun Islands designated as MPA, however in good and high rating. Whereas the tropic level status and the composition of reef fish sizes changed before and after MPA designation, on the contrary, stationary in a balanced condition between tropic groups, large and small fish. The conclusion is Ay and Rhun Islands MPA have positive impact on the reef fish resources
SEAGRASS DIVERSITY AS THE FEED POTENTIAL OF Dugong dugon IN LAMTENG BAY, ACEH BESAR REGENCY
Teluk Lamteng memiliki potensi ekosistem lamun yang sangat besar. Potensi lamun yang besar ini turut menyokong kelimpahan sumberdaya perikanan di daerah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman lamun. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2018, dimana penentuan stasiun pengamatan menggunakan metode purposive sampling yaitu berdasarkan observasi mencakup area yang terdapat dermaga, baik dermaga kecil maupun dermaga besar. Analisis data yang digunakan yaitu persentase tutupan lamun (C), kerapatan jenis lamun (Di), keanekaragaman lamun (H’), serta indikator keberadaan dugong yaitu dengan melakukan survei feeding trail yang ditinggalkan oleh dugong dan menduga preferensi lamun yang menjadi favorit dugong sebagai makanannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi jenis lamun yang ditemukan di perairan Teluk Lamteng terdiri dari tiga spesies yaitu Cymodocea serrulata, Halodule pinifolia dan Halophila ovalis. Penutupan lamun tertinggi oleh spesies H. pinifolia adalah 67,84%, selanjutnya diikuti C. serrulata sebesar 44,79% dan paling rendah yaitu spesies H. ovalis dengan angka 2,21%. Secara keseluruhan stasiun, spesies H. pinifolia memiliki nilai kerapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kedua spesies lamun lainnya, yaitu antara 55-316 ind/m2. Keanekaragaman lamun tergolong rendah dengan nilai berkisar antara 0-0,9. Ketiga spesies lamun yang ditemukan merupakan sumber pakan bagi D. dugon yang termasuk dalam kategori preferensi lamun kesukaannya.Lamteng Bay has a very large ecosystem potential. The potential of this large seagrass also supports the abundance of fisheries resources in the area. This study aims to determine the diversity of seagrasses. This research was conducted in December 2018, where the determination of observation stations using the purposive sampling method is based on observations covering the area contained a pier, both small and large docks. The data analysis used is the percentage of seagrass cover (C), density of seagrass species (Di), and seagrass diversity (H\u27), and to see indicators of the presence of feeding trail left by dugongs and suspecting seagrass preferences which is a favorite dugong as food. The results showed that the composition of seagrass species found in Lamteng Bay waters consisted of three species (Cymodocea serrulata, Halodule pinifolia, Halophila ovalis). The highest seagrass cover by H. pinifolia species was 67.84%, followed by C. serrulata 44.79% and the lowest was H. ovalis species 2.21%. As a whole station, H. pinifolia species have a higher density value compared to the two other seagrass species with values ranging from 55-316 ind/m2. Seagrass diversity is relatively low with values ranging from 0-0.9. The three species of seagrass found were a source of food for the Dugong dugon which was included in his favorite seagrass preference category
FINANCIAL VALUE AND POTENTIAL CONFLICT OF MANTIS SHRIMP IN KUALA TUNGKAL, JAMBI
Mantis shrimp is an export commodity that caught by fishermen in Kuala Tungkal. Mostly, the fishermen use gillnet as their main fishing gear. However, this fishing effort shares open access and common property to be its aquatic resources with other fishing businesses that may bring potential conflicts related to fishing areas, utilization of aquatic resources, fishing gear, etc. Thus, this current study aims to analyze economic value and potential conflicts in mantis shrimp catch in Kuala Tungkal. A survey method was applied as the research method. From 2015 to 2017, the export volume and value of shrimp commodities continued to increase. The results show that profit value (π) possessed by catching mantis shrimp is Rp637.500,00 per trip, R/C 5.6 and PP 39 trips showing a good financial value and potential to be developed. Meanwhile, potential conflicts in catching mantis shrimp tend to be low since there is no overlapping fishing area for each fishing gear operated by different aquatic resource users. It means that the operation of fishing gear has been set well by the community of fishing businesses in that area so that the potential for social conflicts between aquatic resources users is also low.Udang mantis (Harpiosquilla rapidhea) merupakan komoditas ekspor hasil tangkapan nelayan dengan alat tangkap gillnet di Kuala Tungkal yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Penangkapan udang mantis di perairan Kuala Tungkal menjadi sebuah entitas usaha yang memanfaatkan sumberdaya perairan yang bersifat open access (terbuka untuk dimanfaatkan) dan common property (sumberdaya milik bersama), sehingga para pelaku usaha penangkapan udang mantis harus berhadapan dengan berbagai pelaku usaha penangkapan lain yang memiliki pemanfaatan sumberdaya berbeda terhadap wilayah perairan yang sama. Kondisi tersebut memunculkan berbagai potensi konflik terkait pembagian wilayah penangkapan, pemanfaatan sumberdaya perairan (hasil tangkapan), penggunaan alat tangkap dan lain sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk menduga nilai finansial serta potensi konflik yang mungkin ditimbulkan dari penangkapan udang mantis. Metode yang digunakan adalah metode survei. Dalam kurun waktu 2015 sampai dengan 2017, volume ekspor dan nilai komoditas udang mantis terus mengalami peningkatan. Nilai keuntungan usaha (π) yang dimiliki oleh penangkapan udang mantis sebesar Rp637.500,00 per trip, R/C 5,6 dan PP 39 trip. Berdasarkan hasil tersebut maka penangkapan udang mantis memiliki kelayakan nilai finansial serta dapat dikembangkan. Potensi konflik usaha penangkapan udang mantis cenderung rendah. Hal tersebut ditunjukkan dengan tidak ditemukan adanya wilayah penangkapan yang sama untuk setiap alat tangkap yang beroperasi, penggunaan alat tangkap tidak mengganggu hasil tangkapan pada alat tangkap lain serta ketergangguan secara sosial dari penangkapan udang mantis dengan alat tangkap lain cenderung rendah
GROWTH AND NUTRITION CONTENTS OF CORAL TROUT Plectropomus leopardus REARED IN THE SEA CAGES, PONDS, AND TANKS
Pendederan kerapu banyak dilakukan di bak-bak semen dan hatchery, tetapi usaha pendederan juga dapat dilakukan di laut dengan menggunakan karamba jaring apung (KJA) maupun di tambak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pertumbuhan, dan kandungan nutrisi pada kerapu sunu yang dipelihara pada lingkungan berbeda yaitu di KJA, tambak dan bak hatchery. Benih ikan kerapu sunu berukuran panjang total 6,56±0,52cm dan berat 4,48±1,04 g dengan kepadatan 50 ekor/jaring dipelihara dalam jaring berukuran 1mx1mx1m dengan ukuran mata jaring 4 mm yang ditempatkan dalam KJA di laut (A), tambak (B) dan bak hatchery (C) sebagai perlakuan percobaan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan diulang 3 kali. Penelitian dilakukan selama 90 hari pemeliharaan, dan benih ikan kerapu sunu diberi pakan buatan komersial dengan kandungan protein 48%. Frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari pada pagi dan sore hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeliharaan pada lingkungan berbeda tidak berpengaruh terhadap sintasan dan pertumbuhan mutlak panjang total namun berpengaruh terhadap pertumbuhan mutlak bobot benih (P<0,01). Pertumbuhan mutlak benih terbaik pada pemeliharaan di bak hatchery yakni 23,12±2,91 g, KJA 8,43±2,13 g dan tambak 12,58±2,58 g. Kandungan protein benih ikan kerapu sunu tidak dipengaruhi oleh lingkungan pemeliharaan, namun kandungan kalori benih pada pemeliharaan di bak hatchery dan tambak lebih tinggi dibandingkan dengan yang di KJA. Benih ikan kerapu sunu yang didederkan dalam bak hatchery memiliki pertumbuhan bobot mutlak 1,84 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang di tambak atau 2,74 kali dari yang di KJA.Nursery of groupers is often perfomed in concrete tanks and hatcheries, however it is also possible to be conducted at the sea in cages or in earthen ponds. This study aimed to evaluate growth and nutrition contents of coral trout under 3 different environments: sea cage, pond and tanks. Coral trout with the average size of 6.56±0.52 cm and weight of 4.48±1.04 gwere reared with the density of 50 fish/cage. The volume of the cage was 1x1x1 m with the mesh size of 4 mm. The treatments were reared of coral trout in sea cages (A), in ponds (B) and in tanks (C) with the duration of 90 days. Commercial pellet containing protein 48% was fed to the fish twice a day, morning and afternoon. The results showed that survival and growth of total length the fish nursed in those 3 different environments were not significantly different (p>0.05). However, growth of weight was significantly different among treatments with the highest growth from treatment C (23.12±2.9 g), then followed by treatment A (8.43±2.13 g) and B (12.58±2.58 g). Protein contents of fish among treatments were not significantly different. Calorie contents of fish, both treatment C and B were significantly higher than those of treatment A. To sum up, nursery of coral trout in controlled tanks was likely to increase weight 1,84 times than pond 2.74 times than sea cage
NUMERICAL APPROACH OF REGULAR WAVE DISSIPATION BY MANGROVE FOREST USING DISPERSIVE BOUSSINESQ MODEL
Hutan mangrove adalah salah satu jenis hutan yang berada di wilayah pesisir dan membentuk sebuah ekosistem, sistem perakaran pada mangrove dapat berfungsi sebagai peredam gelombang terutama untuk proteksi pantai. Namun demikian, efektifitas redaman oleh hutan mangrove masih menjadi pertanyaan, terutama untuk gelombang pendek, seperti gelombang regular. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis efektifitas dari redaman gelombang regular oleh hutan mangrove melalui pendekatan simulasi numerik. Oleh karena simulasi gelombang pendek memerlukan model gelombang yang bersifat dispersif, pada penelitian ini digunakan model gelombang tipe Boussinesq, yaitu model Variational Boussinesq (VB). Model ini diimplementasikan secara numerik dengan metode Finite Volume pada grid tipe staggered. Proses disipasi oleh hutan mangrove dimodelkan dengan menambahkan suku disipasi pada dasar fluida yang equivalen dengan suatu koefisien Manning yang diturunkan dari eksperimen fisik. Model hasil implementasi numerik ini kemudian divalidasi dengan hasil eksperimen fisik pada laboratorium hidrodinamika, dimana didapatkan hasil cukup baik. Untuk menganalisis efektivitas dari redaman oleh mangrove, dilakukan berbagai skenario simulasi dengan berbagai panjang hutan mangrove. Didapatkan bahwa untuk mendapatkan redaman tinggi gelombang regular sebesar 67%, dibutuhkan paling tidak hutan mangrove dengan panjang 2 kali lipat dari panjang gelombang datang.Mangrove forest is one type of coastal forest that forming an ecosystem, in which its root system can dissipate waves, especially for coastal protection. Nevertheless, the effectiveness of mangrove forest for dissipating wave is still unclear, especially for short wave such as regular wave. The purpose of this research is to analyze the effectiveness of mangrove forest in dissipating regular wave by using numerical simulation approach. To simulate short waves accurately, one should choose a dispersive wave model. In this research, we choose a Boussinesq type of model, i.e. the Variational Boussinesq (VB) model as the wave model. Here, the Finite Volume method is chosen as the numerical implementation of model, in a staggered grid scheme. The dissipation process by the mangrove forest is modelled as a bottom dissipation that equivalent with a Manning’s coefficient that is derived from physical experiment. The resulting numerical implementation is then validated with experimental data from hydrodynamic laboratory which gives relatively accurate results. To analyze the effectiveness of dissipation by mangrove forest, we perform various simulation scenarios with various length of mangrove forest. From the results, it is shown that to obtain a 67% wave height dissipation of regular wave, we require at a mangrove forest with length as least 2 times the length incoming regular wave
ADDITION OF SHELTERS TO CONTROL THE PHYSIOLOGICAL RESPONSES AND PRODUCTION OF MUD CRAB Scylla serrata IN RECIRCULATION AQUACULTURE SYSTEM
Ketersediaan shelter (tempat perlindungan) pada kepadatan spesifik diharapkan dapat meningkatkan produksi kepiting bakau (Scylla serrata) dalam sistem resirkulasi. Shelter sebagai salah satu faktor abiotik berperan penting dalam mengurangi kematian yang disebabkan oleh kanibalisme kepiting dan menekan tingkat stres biota. Sistem Resirkulasi Akuakultur (RAS) dengan bak kotak kultur berkapasitas 60 L yang didukung oleh shelter diperkirakan menghasilkan respons fisiologis dan pertumbuhan kepiting bakau yang paling baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak penambahan shelter pada lingkungan dengan sistem resirkulasi terhadap respons fisiologis dan produksi kepiting bakau S. serrata dengan kepadatan 10 kepiting per satu bak kultur yang berisi 60 L air laut. Penelitian ini dilakukan dengan tiga perlakuan penambahan shelter, yaitu 2 shelter (S2), 4 shelter (S4), 6 shelter (S6), dan kontrol tanpa shelter (C). S6 adalah perlakuan terbaik dengan tingkat kelangsungan hidup 73,33±5,8%, laju pertumbuhan spesifik 0,886±0,014%, pertumbuhan lebar karapas 0,024±0,004 cm/hari, dan rasio konversi pakan terendah dibandingkan dengan perlakuan lain. Perlakuan S6 secara signifikan mempengaruhi jumlah hemosit total kepiting pada awal budidaya (P <0,05). Penambahan 6 shelter dapat mengoptimalkan pertumbuhan kepiting lumpur dengan kepadatan 10 kepiting dalam satu bak kotak kultur.The availability of shelters in a specific density is expected to increase the production of mud crabs (Scylla serrata) in a recirculation system. Shelter, as one of the abiotic factors, plays a pivotal role in reducing death caused by cannibalism of crab and suppressing the stress levels of biota. Recirculation Aquaculture System (RAS), with the culture box capacity 60 L supported by the shelters, is predicted to produce the best physiological and growth responses of mud crabs. This present study aims to evaluate the effect of shelter addition in the environmental recirculation system on the physiological responses and production of mud crabs S. serrata with a density of 10 crabs per one culture box containing 60 L of seawater. The research was set up with three treatments of shelter addition, i.e., two shelters (S2), four shelters (S4), six shelters (S6), and control without shelter (C). Results showed that S6 was the best treatment with a survival rate of 73.33 ± 5.8%, a specific growth rate of 0.886 ± 0.014%, the growth rate of carapace width 0.024 ± 0.004 cm/day, and the lowest feed conversion ratio than those of other treatments. S6 treatment significantly influenced the total hemocyte count of crabs at the early cultivation (P <0.05). Addition of six shelters could optimize the growth of mud crabs with a stocking density of 10 crabs in one culture box. 
DETEKSI SEBARAN MUATAN PADATAN TERSUSPENSI DENGAN MODEL EMPIRIS DAN MODEL SEMI-ANALITIK DI PERAIRAN BEKASI
One of the parameters in water quality is total suspended solids (TSS). TSS consists of mud and microorganisms caused by erosion of soil flowed into water bodies. This study aimed to detect suspended sediments in Bekasi coastal water by comparing empirical and semi-analytic models. Landsat 8 was used for analysis of suspended solids using the Google Earth Engine platform. The workflow of this study consisted of land masking by area delineation using surface reflectance image data, TSS analysis, and visualization. Then validation was done with in situ data, model selection and time series implementation. TSS detection results were displayed with a different color display according to the concentration. Validation test results with in situ data showed that the value of the Semi-Analytical Absolute Error (NMAE) model was closer to the minimum requirement of 66.8%, far different from the empirical model of 43768%. The value of Root Mean Square Error (RMSE) also showed that the semi-analytic model produced a much smaller value of 51.4 and the empirical model of 58577.2. This showed that the semi-analytic model has a better value in detecting the distribution of TSS. Time series analysis showed that the distribution of MPT in 2015 - 2019 in coastal waters had a very high TSS distribution, due to the number of ponds and river estuaries. Therefore, semi-analytical model was more recommended for estimating TSS concentrations than empirical model.Salah satu parameter dalam kualitas air adalah muatan padatan tersuspensi (MPT). Muatan padatan tersuspensi terdiri dari lumpur, pasir dan jasad renik yang disebabkan pengikisan tanah yang terbawa ke badan air. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi sedimen tersuspensi di perairan Bekasi. Landsat 8 digunakan untuk analisis padatan tersuspensi dengan platform Google Earth Engine dengan membandingkan antara model empiris dan semi-analitik. Alur studi ini meliputi deliniasi wilayah non air menggunakan data citra surface reflectance, analisis MPT, dan visualisasi. Selanjutnya dilakukan validasi dengan data in situ, pemilihan model dan implementasi time series. Hasil deteksi MPT tertampil dengan tampilan warna yang berbeda sesuai dengan konsentrasinya. Hasil uji validasi dengan data in situ menunjukkan nilai Normalized Mean Absolute Error (NMAE) model semi-analitik lebih mendekati syarat minimum yaitu sebesar 66,8%, berbeda jauh dengan model empiris sebesar 43768%. Nilai Root Mean Square Error (RMSE) pun terlihat bahwa model semi-analitik menghasilkan nilai yang jauh lebih kecil sebesar 51,4 dan model empiris sebesar 58577,2. Hal ini menunjukkan bahwa model semi-analitik memiliki nilai yang lebih baik dalam mendeteksi sebaran MPT. Analisis time series menunjukkan bahwa persebaran MPT tahun 2015 – 2019 di perairan pesisir memiliki sebaran MPT yang sangat tinggi, karena banyaknya tambak dan muara sungai. Oleh karena itu, model semi-analitik lebih direkomendasikan untuk mengestimasi konsentrasi MPT dibandingkan dengan model empiris
KLASIFIKASI HABITAT BENTIK PERAIRAN DANGKAL DARI CITRA WORLDVIEW-2 MENGGUNAKAN DATA IN-SITU DAN DRONE
Aplikasi citra Worldview-2 dengan data groud truth habitat masih memiliki kekurangan yaitu membutuhkan waktu yang lama, akses yang terbatas, biaya yang tinggi serta faktor resiko. Teknik survei menggunakan drone dapat mengurangi keterbatasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan klasifikasi dan uji akurasi hasil klasifikasi habitat perairan dangkal di Pulau Lancang dan Pulau Sebaru Besar dari citra Worldview-2 dengan inputan data ground truth habitat (GTH) dan virtual ground truth (VGT) serta mengeksplorasi resolusi spasial citra drone pada ketinggian yang berbeda. Hasil overall accuraccy diperoleh untuk 7 kelas habitat di Pulau Lancang dengan data GTH dan VGT masing-masing sebesar 65,5% dan 60,6%. Sedangkan di Pulau Sebaru Besar masing-masing sebesar 67,5% dan 64,6%. Perbandingan akurasi hasil klasifikasi didapat selisih 4,9% di Pulau Lancang dan 2,9% di Pulau Sebaru Besar. Hasil uji signifikansi metode GTH dan VGT di Pulau Lancang berbeda nyata dengan nilai Z sebesar 2,0851, sedangkan di Pulau Sebaru Besar tidak berbeda nyata dengan nilai Z sebesar 0,5255, sehingga pemetaan habitat bentik dengan metode VGT dapat digunakan sebagai alternatif pengamatan di lapangan secara in-situ, namun ini masih memerlukan penelitian lanjutan.The Worldview-2 imagery application with groud truth habitat data still has shortcomings that require a long time, limited access, high costs and risk factors. Surveying techniques using drones can reduce these limitations. This study aims to classify and test the accuracy of shallow water habitat classification results in Lancang Island and Sebaru Besar Island from Worldview-2 imagery with ground truth habitat (GTH) and virtual ground truth (VGT) input data and explore the spatial resolution of drone images at altitude different. Overall accuracy results were obtained for 7 habitat classes on Lancang Island with GTH and VGT data of 65.5% and 60.6%, respectively. Whereas in Sebaru Besar Island they were 67.5% and 64.6%, respectively. Comparison of the accuracy of the classification results obtained 4.9% selisi on Lancang Island and 2.9% on Sebaru Besar Island. Significance test results of the GTH and VGT methods on Lancang Island were significantly different with a Z value of 2.0851, while on Sebaru Besar Island it was not significantly different from the Z value of 0.5255, so that benthic habitat mapping with the VGT method could be used as an alternative in-situ field observation, however this still requires further research