Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Not a member yet
814 research outputs found
Sort by
Karakteristik hidrolisat kolagen kulit ikan tenggiri kering dengan enzim papain: The characteristics of spanish mackerel dry skin collagen hydrolisate with papain enzyme
Spanish mackerel dried skin is commonly used in chips, crackers, and empek-empek products. However, its potential for transformation into value-added products such as collagen hydrolysate still needs to be explored. Processing this material using papain enzyme offers an efficient method to enhance its economic value, owing to its high yield and effectiveness. The aim of this study was to determine the optimum concentration of papain enzyme and soaking time for the hydrolysis of dried mackerel skin collagen based on the characteristics of dried mackerel skin collagen. This study applied a completely randomized design (CRD) with two factors: papain enzyme concentration (1% and 2%) and soaking time (12 and 24 h). The results indicated that the interaction between enzyme concentration and soaking time significantly affected key parameters, including hydrolysis degree, whiteness, protein content, viscosity, gel strength, melting point, solubility, and foaming ability, whereas yield, moisture, ash, fat, pH, and zeta potential were unaffected. Optimal conditions were achieved with 2% papain enzyme and 24-hour soaking time, resulting in a 2.30% yield, 35.62% hydrolysis degree, 77.73% white degree, 6.94% moisture, 1.44% ash, 95.35% protein, 2.33% lipid, 6,13cp viscosity, 46.64 gBloom gel strength, 14.67OC melting point, 5.83 pH, 2.47mV zeta potential, 82.00% solubility, and 31.67% foaming ability. These results highlight the significant potential of Spanish mackerel dried skin as a raw material for collagen hydrolysate production, supporting its application in developing high-value fishery by-products and promoting sustainable economic development.Pemanfaatan kulit ikan tenggiri kering saat ini terbatas pada produk keripik, kerupuk dan empek-empek. Perlu usaha pengolahan menjadi produk yang kaya manfaat, yaitu hidrolisat kolagen untuk peningkatan nilai guna. Enzim papain digunakan pada proses hidrolisis kolagen karena lebih efektif dan menghasilkan rendemen yang lebih banyak dibandingkan enzim lainnya. Tujuan penelitian untuk menentukan persentase enzim papain dan lama perendaman optimum pada proses hidrolisis kolagen kulit ikan tenggiri kering berdasarkan karakteristik kolagen kulit ikan tenggiri kering. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial (RALF) dengan dua faktor, yaitu perbedaan persentase enzim papain (1 dan 2%) dan lama waktu perendaman (12 dan 24 jam). Interaksi kedua faktor tersebut berpengaruh pada derajat hidrolisis, derajat putih, kadar protein, viskositas, kekuatan gel, titik leleh, kelarutan dan kemampuan membentuk busa namun tidak memengaruhi redemen, kadar air, abu, lemak, pH dan zeta potensial hidrolisat kolagen. Hasil menunjukkan kondisi optimum hidrolisis kolagen kulit ikan tenggiri kering, yaitu menggunakan enzim papain 2% dan lama perendaman 24 jam dengan rendemen 2,30%, derajat hidrolisis 35,62%, derajat putih 77,73%, kadar air 6,94%, abu 1,44%, protein 95,35%, lemak 2,33%, viskositas 6,13cp, kekuatan gel 46,64 gBloom, titik leleh 14,67OC, pH 5,83, zeta potensial 2,47mV, kelarutan 82,00% dan pembentukan busa 31,67%. Hidrolisat kolagen kulit kering ikan tenggiri mendukung pengembangan produk samping perikanan bernilai tinggi dan mendorong pembangunan ekonomi berkelanjutan
Karakteristik biskuit bagiak dengan substitusi konsentrat protein ikan (KPI) dan tepung tulang ikan : Characteristics of bagiak biscuits with fish protein concentrate and fish bone flour substitution
Bagiak is a biscuit made of sago flour, tapioca, arrowroot starch, sugar, and other ingredients. Bagiak is high in carbohydrates, but low in proteins. The aim of this study was to determine the best formulation resulting from the substitution of catfish protein concentrate and addition of catfish bone meal in making bagiak biscuits. The study used an experimental method with a completely randomized factorial design (RALF) with two treatments, namely substitution of catfish protein concentrates (FPC) for main meal (0%, 10%, 20%, and 30%) and addition of catfish bone meal (0, 1, 2, 3 %). For the selected formulas, the hedonic test results were analyzed, including protein and calcium levels, and test parameters according to SNI Biscuits 2973:2022. The selected formula was a 10% KPI formulation and 3% fishbone meal. The selected bagiak formulation produced a protein content of 10.90±0.01% and calcium of 572.32 mg/100 g. The protein and calcium levels of the selected bagiak were greater than those of the control and commercial bagiak. Test results for selected water content parameters, total aerobic plate number, Enterobacteriaceae, Salmonella spp., Staphylococcus aureus, heavy metal contamination: Lead (Pb), Cadmium (Cd), Tin (Sn), Mercury (Hg), and (As) met the SNI Biscuit quality requirements, SNI 2973:2022. The 10% FPC formulation and 3% fish bone meal have the potential to be nutritious snacks with better protein and calcium contents than commercial products.Bagiak merupakan biskuit yang terbuat dari tepung sagu, tapioka, tepung pati garut, gula dan bahan lainnya. Bagiak memiliki karbohidrat yang tinggi namun rendah protein. Tujuan penelitian ini adalah menentukan formula terbaik hasil substitusi konsentrat protein ikan lele dan penambahan tepung tulang ikan lele pada pembuatan biskuit bagiak berdasarkan nilai gizi. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap faktorial (RALF) dengan dua perlakuan, yaitu substitusi konsentrat protein ikan (KPI) lele terhadap tepung utama (0, 10, 20 dan 30%) dan penambahan tepung tulang ikan lele (0, 1, 2, dan 3%). Bagiak formula terpilih hasil uji hedonik dianalisis kadar protein, kalsium dan parameter uji sesuai SNI Biskuit 2973:2022. Formula terpilih adalah hasil substitusi KPI 10% dan tepung tulang ikan 3%. Formula bagiak terpilih mengandung protein 10,90±0,01% dan kalsium 572,32 mg/100g. Kadar protein dan kalsium bagiak terpilih lebih besar dibandingkan bagiak kontrol dan komersial. Hasil pengujian bagiak terpilih parameter kadar air, angka lempeng total aerob, Enterobacteriaceae, Salmonella spp., Staphylococcus aureus, cemaran logam berat: timbel (Pb), kadmium (Cd), timah (Sn), merkuri (Hg), arsen (As) memenuhi persyaratan mutu SNI Biskuit (SNI 2973:2022). Bagiak formula KPI 10% dan tepung tulang ikan 3% berpotensi menjadi camilan yang bergizi dengan kandungan protein dan kalsium yang lebih baik dari produk komersial
Identifikasi dan prevalensi parasit Anisakis sp. pada ikan tongkol di tempat pelelangan ikan (TPI) Oeba-Kota Kupang: Identification and prevalence of Anisakis sp. parasites in tuna at the Oeba Fish Auction Site (FAS)—Kupang City
Ikan tongkol (Euthynnus affinis) merupakan inang bagi berbagai jenis parasit metazoa, yaitu parasit monogenea, digenea, acantocephala dan nematoda. Anisakis sp. merupakan parasit dari kelompok nematoda, yaitu penyebab penyakit yang mempunyai hubungan dengan inangnya. Tujuan penelitian ini adalah menentukan prevalensi dan derajat infeksi kontaminasi parasit Anisakis sp. pada ikan tongkol yang didaratkan di tempat pelelangan ikan (TPI) Kota Oeba-Kupang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif komparatif. Uji laboratorium digunakan untuk identifikasi dan prevalensi parasit Anisakis sp. mengacu pada SNI 2332.6:2015. Hasil penelitian menunjukkan parasit Anisakis sp. paling banyak ditemukan pada usus ikan tongkol sebanyak 21, hati 17, lambung 13, dan pada gonad sebanyak 7 parasit. Perhitungan prevalensi pada ikan tongkol dari 8 sampel positif terinfeksi parasit Anisakis sp. dengan nilai 20% yang termasuk dalam kategori sering (often). Ikan tongkol yang didaratkan di TPI Oeba-Kota Kupang positif terinfeksi parasit L3 Anisakis sp. tipe I pada 8 dari 40 sampel. Derajat infeksi pada ikan tongkol sebesar 7,25 individu parasit per ikan yang termasuk kategori rendah.Euthynnus affinis is home to a variety of metazoa parasites, including monogenae, digenea, acanthocephala, and nematodes. Anisakis sp. is a parasitic nematode that causes host-related diseases. The purpose of this study was to determine the prevalence and degree of parasite infection by Anisakis sp. in stalk fish landed at the fish auction site (FAS) of the City of Oeba-Kupang. The research used a comparative descriptive method. Laboratory tests used for the identification and prevalence of the parasite Anisakis sp. refer to SNI 2332.6:2015. The results of the study showed that the Anisakis sp. parasite was most commonly found in the intestines of barley fish (21), liver (17), stomach (13), and gonads (seven). Calculation of the prevalence of eight positive specimens infected with the Anisakis sp. parasite showed a prevalence of 20%, which belongs to the frequent category (often). The degree of infection in stick fish was 7.25 parasitic individuals per fish in the low category
Karakterisasi nanokalsium tulang ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) dengan variasi waktu ekstraksi: Characterization of red snapper (Lutjanus malabaricus) bone nanocalcium with variations in extraction time
Kalsium merupakan salah satu mineral makro yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Kekurangan asupan kalsium di dalam tubuh dapat menyebabkan gangguan kesehatan tulang. Limbah tulang ikan kakap merah merupakan salah satu sumber kalsium. Penyerapan kalsium dalam tubuh akan maksimal apabila memiliki ukuran yang kecil (nanokalsium). Penelitian ini bertujuan menentukan waktu ekstraksi terbaik dalam menghasilkan nanokalsium tulang ikan kakap merah berdasarkan parameter kadar air, ukuran partikel, dan rendemen. Ekstraksi nanokalsium tepung tulang ikan kakap merah menggunakan larutan NaOH 1 N (1:3) dengan variasi waktu ekstraksi 30, 60, dan 90 menit. Tepung tulang ikan kakap merah dianalisis rendemen, ukuran partikel, komposisi kimia, mineral kalsium, dan fosfor. Nanokalsium tulang ikan kakap merah dianalisis kadar air, ukuran partikel, rendemen, dan struktur nanokalsium. Ukuran partikel diukur menggunakan Particle Size Analyzer (PSA) dan struktur nanokalsium dengan Scanning Electron Microscope (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung tulang ikan kakap merah memiliki rendemen 85,57%, ukuran partikel 1.029,69 nm, kadar air 5,52%, abu 78,82%, protein 18,11%, lemak 2,02%, kalsium 20,07%, dan fosfor 9,95%. Perlakuan ekstraksi selama 90 menit merupakan perlakuan terbaik dalam menghasilkan nanokalsium tulang ikan kakap merah dengan kadar air 3,63%, rendemen 6,94%, dan ukuran partikel 440,3 nm.Calcium (Ca) is a vital macronutrient required by the body. An inadequate calcium intake may result in bone health issues. One source of calcium is the red snapper fish bone waste. The optimal absorption of calcium in the body occurs when it is present in a minute form, especially in the form of nanocalcium.The primary objective of this study was to establish the optimal extraction time for generating nanocalcium from red snapper fishbone flour, taking into account the moisture content, particle size, and yield. The extraction of nanocalcium from red snapper fish bone flour was accomplished using a solution of NaOH 1N (1:3) with extraction times of 30, 60, and 90 min. The chemical composition, yield, particle size, calcium, and phosphorus content of red snapper fish bone flour were assessed.The analysis of red snapper fish bone nanocalcium included evaluations of moisture content, particle size, yield, and nanokalsium structure. The particle size was determined using a Particle Size Analyzer (PSA), whereas the nanocalcium structure was examined using a Scanning Electron Microscope (SEM). The data obtained from the research revealed that the red snapper fish bone flour had a yield of 85.57%, particle size of 1,029.69 nm, moisture content of 5.52%, ash content of 78.82%, protein content of 18.11%, fat content of 2.02%, calcium content of 20.07%, and phosphorus content of 9.95%. The most effective treatment for producing nanocalcium from red snapper fish bones with a moisture content of 3.63%, yield of 6.94%, and particle size of 440.3 nm is the 90-minute extraction process
Mutu sensori dan keamanan mikrob garam dengan fortifikasi kerang pisau (Solen sp.): Sensory quality and microbial safety of salt with razor clam (Solen sp.) fortification
Prevalensi angka hipertensi di Indonesia cukup tinggi 31,4% yang disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya tingkat konsumsi garam berlebihan. Diet garam atau mengonsumsi garam rendah natrium merupakan alternatif untuk mengurangi kasus hipertensi. Garam diet dapat diproduksi dengan beberapa metode salah satunya metode fortifikasi. Kerang pisau memiliki kandungan gizi tinggi khususnya kandungan protein, oleh karena itu baik digunakan sebagai bahan pembuatan garam fortifikasi. Tujuan penelitian ini adalah menentukan konsentrasi garam kasar dan tepung kerang pisau terbaik dalam pembuatan garam fortifikasi berdasarkan karakteristik sensori dan mikroba. Perlakuan yang digunakan meliputi garam kasar yang dihaluskan dan tepung kerang pisau. Perbandingan konsentrasi garam (%) dan tepung kerang pisau (%) yaitu 95:5 (F1), 90:10 (F2), 85:15 (F3), 80:20 (F4), 75:25 (F5), dan 50:50 (F6). Parameter kimia yang diamati, yaitu NaCl, kadar air, protein, abu, lemak, dan karbohidrat. Parameter mikroba yang diamati, yaitu bakteri Escherichia coli. Parameter sensori yang diamati meliputi tekstur, warna, aroma, dan rasa. Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa perlakuan F6 (50:50%) terbaik dengan nilai tekstur 7,2 (suka); aroma 6,53 (netral); warna 7,2 (suka); dan rasa 7,93 (suka) dari skala 1-9. Karakteristik kimia garam fortifikasi perlakuan terbaik (F6), yaitu NaCl 52,52%, kadar air 6,61%, protein 42,11%, abu 46,6%, lemak 0,98%, dan karbohidrat 3,7%. Kelimpahan bakteri E. coli pada seluruh produk yaitu <3 MPN/g. Perlakuan F6 (50%:50%) dapat direkomendasikan sebagai perlakuan terbaik berdasarkan hasil pengujian parameter mikroba dan sensori.The prevalence of hypertension in Indonesia is significant, accounting for approximately 31.4% of the population. This condition is attributed to a range of factors, one of which is excessive consumption of salt. Adopting a diet low in salt or utilizing salt with reduced sodium content may prove effective in mitigating instances of hypertension. Diet salt can be produced through various means, including the fortification method. Razor clams are rich in nutritional content, particularly protein, making them an ideal component for producing fortified salt. The objective of this study was to identify the optimal combination of coarse salt and razor clam flour for crafting fortified salt, considering both sensory and microbial aspects. Therapy entails the use of finely ground coarse salt and clam flour. The table below presents the percentages of salt and razor clam flour in various formulations: F1 (95:5), F2 (90:10), F3 (85:15), F4 (80:20), F5 (75:25), and F6 (50:50). The chemical parameters measured were NaCl, water content, protein, ash, fat, and carbohydrates. The microbial parameter observed was Escherichia coli. Additionally, sensory parameters such as texture, color, aroma, and taste were observed. The results of the organoleptic evaluation indicated that the F6 treatment, comprising a 50:50 ratio, achieved the highest score with a texture value of 7.2, corresponding to a "like" rating; an aroma value of 6.53, equivalent to a "neutral" rating; a color value of 7.2, reflecting a "like" rating; and a taste value of 7.93, corresponding to a "like" rating, all on a scale of 1 to 9. The chemical composition of the most effectively treated fortified salt (F6) comprised NaCl at 52.52%, water content at 6.61%, protein at 42.11%, ash at 46.6%, fat at 0.98%, and carbohydrates at 3.7%.The results of testing microbial and sensory parameters indicate that Treatment F6 (50%:50%) is the most suitable treatment because of its low abundance of E. coli bacteria in all products, which is less than 3 MPN/g
Aktivitas antioksidan dan tingkat penerimaan konsumen yoghurt yang diperkaya rumput laut Caulerpa lentillifera: Antioxidant activity and consumer acceptance level of yogurt enriched with Caulerpa lentillifera seaweed
Rumput laut Caulerpa lentillifera mengandung berbagai senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan sehingga dapat diaplikasikan untuk produk pangan salah satunya adalah yoghurt. Penambahan rumput laut diharapkan dapat memberikan cita rasa dan meningkatkan aktivitas antioksidan pada yoghurt. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perlakuan terbaik penambahan rumput laut C. lentillifera pada yoghurt berdasarkan parameter kimia, mikrobiologi, aktivitas antioksidan, dan tingkat penerimaan konsumen. Yoghurt rumput laut dibuat dengan cara menambahkan rumput laut C. lentillifera dengan konsentrasi 0, 5, 10, dan 15% (v/v), kemudian dilakukan uji pH, asam laktat, bakteri asam laktat, total fenol, aktivitas antioksidan metode DPPH, dan tingkat penerimaan konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi rumput laut C. lentillifera berpengaruh terhadap karakteristik kimia dan mikrobiologi, total fenol, aktivitas antioksidan, dan tingkat penerimaan konsumen yoghurt. Perlakuan terbaik diperoleh pada penambahan rumput laut 5% dengan nilai pH 3,97±0,035, kadar asam laktat 1,08±0,09%, jumlah bakteri asam laktat 1,74x108 cfu/mL, total fenol 39,62±0,49 mg GAE/g, aktivitas antioksidan 39,32±0,45%, dan nilai hedonik warna (3,64±0,98), aroma (3,59±0,83), tekstur (3,44±0,91), dan rasa (3,45±1,16). Hasil uji proksimat yang meliputi kadar air, protein, lemak, dan abu pada yoghurt rumput laut telah sesuai dengan SNI 2981:2009. Penambahan rumput laut C. lentillifera pada pembuatan yoghurt dapat meningkatkan cita rasa dan aktivitas antioksidan.Caulerpa lentillifera seaweed comprises several bioactive compounds that possess health-promoting properties, which make it suitable for incorporation into food items, including yogurt. The purpose of adding seaweed to yogurt is to enhance its flavor and boost its antioxidant activity. The objective of this study was to determine the optimal concentration of C. lentillifera seaweed to evaluate its chemical, microbiological, and antioxidant properties, as well as to assess the level of consumer acceptance of yogurt. To achieve this, seaweed yogurt was prepared by incorporating C. lentillifera seaweed at concentrations of 0, 5, 10, and 15% (v/v), and the pH, lactic acid, lactic acid bacteria, total phenols, and antioxidant activity (using the DPPH method) were analyzed. In addition, the level of consumer acceptance was evaluated. The findings of this study demonstrated that disparities in the amounts of C. lentillifera seaweed affected the chemical and microbiological traits, including total phenols, antioxidant activity, and consumer preferences for yogurt. The optimal treatment was achieved with the addition of 5% seaweed at a pH level of 3.97±0.035, lactic acid content of 1.08±0.09%, lactic acid bacteria count of 1.74x10^8 cfu/mL, and total phenol content of 39.62±0.49 mg GAE/g. Additionally, the antioxidant activity value was 39.32±0.45%, and the hedonic values for color (3.64±0.98), aroma (3.59±0.83), texture (3.44±0.91), and taste (3.45±1.16) were also favorable. According to the proximate analysis, which evaluated the moisture, protein, fat, and ash content of seaweed yogurt, the results were consistent with SNI 2981:2009. Furthermore, the inclusion of C. lentillifera in yogurt production enhanced both its flavor and antioxidant activity
Karakteristik pepton ikan kembung (Rastrelliger sp.) tidak layak konsumsi dan aplikasi pada pertumbuhan Wickerhamomyces anomalus: Characteristic of spoiled mackerel fish peptone (Rastrelliger sp.) and application in Wickerhamomyces anomalus growth
Selenium is a mineral element that acts as an antioxidant and affects enzyme formation, the immune system, and reproduction in livestock. Selenium yeast is an organic form of Se. The high availability of inedible mackerel can be utilized as a raw material for peptone in the growth medium of yeasts that produce organic Se. The objective of this study was to determine the characteristics of pepton derived from inedible mackerel as a growth medium for W. anomalus. Pepton was analyzed for amino acid composition using HPLC, solubility of pepton in water (gravimetric method), pepton yield, pH, proximate analysis, free α-amino nitrogen content, total nitrogen, AN/TN ratio, and salt content (Volhard method). Mackerel fish pepton has the following characteristics: protein content 75.5%, free α-amino nitrogen 1.9%, solubility 99.9%, total nitrogen 12.1%, salt content 7.9%, AN/TN ratio 16.2%, and pH 7.0. Mackerel fish pepton unfit for consumption applied to the growth medium of Wickerhamomyces anomalus as Se-Yeast has a higher growth rate compared to commercial pepton.Selenium merupakan unsur mineral yang berpengaruh sebagai antioksidan terhadap komponen pembentukan enzim, sistem imun dan reproduksi pada ternak. Selenium yeast merupakan salah satu selenium organik. Ketersediaan ikan kembung tidak layak konsumsi yang tinggi dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pepton pada media pertumbuhan khamir penghasil selenium organik. Tujuan penelitian ini adalah menentukan karaktristik pepton dari ikan kembung tidak layak konsumsi sebagai media pertumbuhan W. anomalus. Pepton dilakukan analisis komposisi asam amino menggunakan metode HPLC, kelarutan pepton dalam air (metode Gravimetrik), rendemen pepton, pH), analisis proksimat. kadar α-amino nitrogen bebas, total nitrogen, AN/TN dan kadar garam (metode Volhard). Pepton ikan kembung memiliki karakteristik kadar protein 75,5%, a-amino nitrogen bebas 1,9%, kelarutan 99,9%, total nitrogen 12,1%, kadar garam 7,9%, rasio AN/TN 16,2%, dan pH 7,0. Pepton ikan kembung tidak layak konsumsi yang diaplikasikan pada media pertumbuhan Wickerhamomyces anomalus sebagai Se-Yeast memiliki kecepatan pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan pepton komersial
Nilai gizi, kadar kalsium, dan hedonik nuget ikan pari (Dasyatis sp.) dengan penambahan rumput laut latoh (Caulerpa sp.): Nutritional value, calcium content, and hedonic of nugget from stingray (Dasyatis sp.) with addition latoh seaweed (Caulerpa sp.)
Nuget merupakan salah satu diversifikasi produk pangan yang digemari masyarakat karena proses penyajianya yang cepat dan mudah. Nuget ikan pari (Dasyatis sp.) mengandung protein dan lemak yang tinggi. Inovasi produk nuget dengan kombinasi rumput laut (Caulerpa sp.) dapat menambah nilai gizi dan kadar kalsium, sehingga direkomendasikan sebagai bahan konsumsi harian. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formulasi terbaik nuget dengan kombinasi ikan pari dan rumput laut berdasarkan nilai gizi, kadar kalsium, dan kesukaan konsumen. Penelitian merupakan Research and Development dengan model 4D (define, design, development, and disseminate). Formula dalam pembuatan nuget menggunakan daging ikan pari dengan variasi penambahan rumput laut latoh yaitu 10, 15, dan 20%. Data dianalisis secara deskriptif dan uji paired t-Test untuk semua parameter organoleptik aspek ketampakan, warna, rasa, tekstur, dan keseluruhan. Formulasi terbaik yaitu penambahan Caulerpa sp. 20% dengan karakteristik teksturnya padat, rasanya gurih, dan aroma tidak amis. Kandungan gizi nuget ikan pari dan rumput laut latoh per 100 g terdiri atas karbohidrat 22,24 g, protein 11,37 g, lemak 9,21 g, energi 217,31 kkal, dan kalsium 235,99 mg. Uji organoleptik menunjukkan nilai rata-rata pada parameter keseluruhan nuget ikan pari dan rumput laut latoh sebesar 4,15 yang termasuk dalam kategori suka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nuget ikan pari dan rumput laut latoh dapat dijadikan produk makanan yang tinggi gizi.The general population favors nuggets as a versatile food item because of their efficient and convenient serving method. Stingray fish nuggets, specifically from the Dasyatis species, are rich in protein and fat. The inclusion of seaweed (Caulerpa sp.) in the nuget product improves its nutritional profile and calcium content, making it a highly recommended element for regular consumption. The objective of this study is to identify the optimal composition of a nugget by combining stingray and seaweed, depending on criteria such as nutritional value, calcium content, and consumer preferences. Research refers to the systematic investigation and study undertaken to acquire new knowledge and understanding. It involves a 4D model, which includes defining the research objectives, designing the research methodology, developing the research findings, and disseminating the results. The nuget recipe involves using stingray meat and adjusting the amount of latoh seaweed added, specifically in proportions of 10%, 15%, and 20%. The data were examined using descriptive statistics and a paired t-test for all organoleptic test criteria, including appearance, color, taste, texture, and overall evaluation. The optimal composition consists of incorporating 20% Caulerpa sp. into the formulation, resulting in a dense texture, savory flavor, and absence of fishy fragrance. The nutritional composition of stingray nuggets with latoh seaweed per 100 g includes 22.24 g of carbohydrates, 11.37 g of protein, 9.21 g of fat, 217.31 kcal of calories, and 235.99 mg of calcium. The organoleptic test revealed that the average score for the overall characteristics of stingray nuggets and latoh seaweed was 4.15, placing them in the favorable category. This study\u27s findings demonstrate the excellent nutritional value of stingray nuggets and latoh seaweed, making them suitable for use as food products
Aplikasi edible coating karagenan dengan penambahan kunyit dan kitosan pada bandeng cabut duri: Application of edible coating carrageenan with curcuma and chitosan addition on the bone-pulled milkfish
Bandeng cabut duri merupakan salah satu olahan ikan bandeng dengan mencabut duri-durinya menggunakan peralatan, yaitu pinset atau sejenisnya. Penggunaan edible coating untuk melapisi bandeng cabut duri bertujuan untuk mempertahankan masa simpan bandeng terutama jika disimpan pada suhu dingin. Bahan alami sebagai pengawet pada edible coating telah umum digunakan, namun penggunaan ekstrak kunyit dan kitosan untuk mempertahankan masa simpan bandeng cabut duri belum dilaporkan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh penambahan ekstrak kunyit dan kitosan pada edible coating karagenan terhadap perubahan kualitas ikan bandeng cabut duri selama penyimpanan suhu dingin. Ikan bandeng difilet butterfly kemudian dicoating dengan karagenan yang ditambahkan perlakuan ekstrak kunyit 25% (A) dan karagenan yang ditambahkan ekstrak kunyit 25% dan kitosan 1,5% (B). Ikan disimpan pada suhu dingin selama 8 hari dan dianalisis TPC, TVBN, pH, warna, dan sensori setiap 2 hari sekali. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan edible coating berpengaruh nyata terhadap masa simpan ikan bandeng cabut duri. Penambahan ekstrak kunyit dan kitosan pada edible coating lebih mampu mempertahankan umur simpan bandeng cabut duri selama 8 hari dibandingkan edible coating dengan ekstrak kunyit, dengan nilai TPC 4,5×105 cfu/g, TVBN 11,16 mgN/100 g, dan pH 5,9. Nilai uji warna lightness (L) 59,13; redness (a*) 13,65; dan yellowness (b*) 38,21. Ikan bandeng cabut duri penyimpanan hari ke-8 memiliki ketampakan ruas antar daging agak kokoh dan berwarna sedikit kusam dengan nilai 7,33; berbau segar namun kurang spesifik jenis dengan nilai 7,13 dan tekstur bandeng agak padat, agak kompak dan agak elastis dengan nilai 7,46.Milkfish with their bones removed were prepared by extracting spines with tweezers. Edible coatings are applied to items to preserve their shelf life, particularly when stored at low temperatures. Although additional materials have commonly been employed as preservatives in edible coatings, the utilization of extracted turmeric and chitosan to extend the shelf life of products has not been documented. The objective of this study was to investigate the impact of incorporating turmeric extract and chitosan into a carrageenan edible coating on the quality of plucked whitefish during refrigerated storage. The butterfly filleted milkfish were coated with edible carrageenan. Treatment A involved adding 25% turmeric extract to the coating, whereas Treatment B involved adding 25% turmeric extract and 1.5% chitosan to the coating. The fish were kept at a low temperature for a duration of eight days and were subjected to analysis for TPC, TVBN, pH, color, and sensory evaluation every two days. The findings demonstrate that the application of an edible coating has a significant impact on the duration for which products can be stored without spoilage. When chitosan was added to edible coatings, it effectively extended the shelf life of items by eight days compared to edible coatings containing only turmeric. The addition of chitosan resulted in a TPC value of 4.5×105 Cfu/g, TVBN of 11.16 mg/100 g, and pH of 5.9. The color test values were as follows: L = 59.13, a = 13.65, and b = 38.21. After eight days of storage, the flesh had a slightly dull and segmented appearance, with a compactness value of 7.33. It smelled fresh but not specifically, products with a value of 7.13. The milkfish texture was somewhat dense, compact, and elastic with a value of 7.46
Isolation and characterization of collagen from salmon (Salmo salar) skin using papain enzyme: Isolasi dan karakterisasi kolagen dari kulit ikan salmon (Salmo salar) menggunakan enzim papain
Kulit ikan salmon merupakan salah satu hasil samping yang dapat diolah menjadi kolagen. Kolagen larut papain (PaSC) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kolagen yang diekstraksi menggunakan kombinasi asam dan enzim papain. PaSC berpotensi menjadi sumber kolagen halal. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu ekstraksi dan konsentrasi enzim papain terbaik dalam menghasilkan kolagen kulit ikan salmon berdasarkan persentase rendemen dan sifat kimia. Kulit ikan salmon diekstrak menggunakan kombinasi asam asetat (0,5 M) dan enzim papain (500; 1.000; 1.500 U/mg/g kulit) selama 1; 2; dan 3 jam. Parameter yang dianalisis dalam penelitian ini meliputi logam berat, rendemen, asam amino, gugus fungsional, dan berat molekul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi asam asetat konsentrasi 0,5 M dan enzim papain 1.000 U/mg/g selama 2 jam menghasilkan kelarutan kolagen yang maksimal dengan rendemen sebesar 15,38% (bk). Kolagen PaSC kulit ikan salmon terdeteksi memiliki asam amino prolin, glisin, dan arginin. Distribusi berat molekul kolagen berada pada rentang 20-142 kDa. Struktur triple helix kolagen tidak mengalami perubahan selama proses ekstraksi berdasarkan analisis FTIR.Kulit ikan salmon merupakan salah satu produk samping yang dapat menghasilkan kolagen. Ada beberapa cara untuk mengekstraksi kolagen, salah satunya dengan menggabungkan proses kimia (asam) dan enzimatik (protease). Kolagen larut papain (PaSC) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kolagen yang diekstraksi. Kolagen yang diekstrak dari kulit ikan menggunakan enzim tumbuhan berpotensi menjadi sumber kolagen halal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu ekstraksi optimum, konsentrasi, dan karakter PaSC dari kulit ikan salmon. Kombinasi asam asetat konsentrasi 0,5 M dan enzim papain 1000 U/mg/g kulit selama tiga hari menghasilkan kelarutan kolagen yang maksimal. Rendemen PaSC dari kulit ikan salmon sebesar 15,58% (db). Asam amino yang paling umum di PaSC adalah prolin, glisin, dan arginin. Kisaran distribusi berat molekul kolagen ditentukan sebesar 20-142 kDa. Struktur triple helix tidak diubah oleh ekstraksi PaSC, menurut spektrum FTI