Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Not a member yet
814 research outputs found
Sort by
Strategi Pengembangan Bisnis Olahan Ikan Beku di PT XYZ: Frozen Fish Processing Business Development Strategy at PT XYZ
Perkembangan makanan beku Indonesia mengalami peningkatan permintaan yang cukup signifikan pada saat situasi pandemic COVID-19. Perkembangan tersebut sejalan dengan kenaikan permintaan makanan olahan ikan beku Indonesia, yang kini mendapatkan nilai lebih dari masyarakat. Pengembangan bisnis olahan ikan memiliki potensi yang tinggi untuk dikembangkan, mengingat kemudahan dalam mendapatkan, menyimpan serta menyajikan untuk dihidangkan sebagai tambahan lauk dalam konsumsi keseharian. Tujuan penelitian adalah Menganalisis faktor internal dan eksternal olahan ikan PT XYZ, Merumuskan alternatif strategi pengembangan usaha PT XYZ, menentukan prioritas strategi kebijakan untuk pengembangan usaha PT XYZ. Pengambilan data dilakukan di PT XYZ yang berlokasi di Sidoarjo, Jawa Timur pada Juli hingga September 2021. Metode penelitian secara deskriptif, diolah dan dianalisis menggunakan matriks IFE, EFE, IE, SWOT dan QSPM. Hasil penelitian menunjukkan terdapat bahan baku ikan beku yaitu ikan swangi. Ada 7 alternatif strategi diantaranya yaitu menjual produk kepada distributor tunggal, produksi ikan segar beku, menambah jaringan distributor luar Jawa Timur, meningkatkan branding, mengolah ikan menjadi bubur ikan, dan kampanye ikan sebagai sumber protein. Prioritas yang dihasilkan dari penelitian adalah memproduksi ikan beku kualitas ekspor sebagai produk baru menjadi alternatif yang paling prioritas yang dapat dilakukan oleh perusahaan. Hingga saat ini komoditas ikan yang digunakan adalah ikan swanggi menjadi bahan baku utama perusahaan yang kemudian diolah menjadi aneka olahan ikan beku. Sehingga harapannya PT XYZ tidak hanya menjual produk di pasar domestik, akan tetapi pasar internasional menjadi sebuah peluang bagi perusahaanThe development of frozen food production in Indonesia have a significant increase in demand during the COVID-19 pandemic situation. This development is in line with the increasing demand for Indonesian seafood frozen, which are now getting more added value from the community. The development of the fish processing business has high potential to be developed, considering the ease of obtaining, storing and serving to serve as an additional side dish in the daily life. The research objectives are to analyze the internal and external factors of PT XYZ processed fish, formulating alternative business development strategies of PT XYZ, determining the priority of the policy strategy for the business development of PT XYZ. Descriptive research method, processed and analyzed using IFE, EFE, IE, SWOT and QSPM matrices. The results showed that there were raw material fo frozen is swangi fish. In addition, 7 alternative strategies including selling products to sole distributors, producing frozen fresh seafood, adding distributors outside East Java, increasing branding, processing fish into minced fish, and campaigning for fish as a source of protein. The priority resulting from the research is producing export grade frozen fresh seafood as a new product to be the most priority alternative that can be done by the company. So hopefully PT XYZ not only selling products in the domestic market, but the international market becomes an opportunity for the company
Optimasi Tahap Demineralisasi pada Ekstraksi Kitosan dari Cangkang Kepiting Bakau (Scylla sp.): Optimization of Demineralization Stage in Chitosan Extraction from Mud Crab Shell (Scylla sp.)
Limbah cangkang kepiting bakau yang dihasilkan dari industri pengolahan kepiting bakau di Kota Tarakan menjadi salah satu penyebab masalah pencemaran lingkungan. Salah satu cara untuk dapat mengurangi risiko pencemaran yaitu dengan mengolah limbah cangkang kepiting bakau menjadi kitosan. Penelitian terkait modifikasi pada tahap demineralisasi dilakukan karena kepiting bakau mengandung mineral yang tinggi sehingga akan mengurangi kualitas kitosan yang dihasilkan. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan optimasi tahapan demineralisasi pada ekstraksi kitosan dari cangkang kepiting bakau (Scylla sp.) melalui analisis rendemen, kadar air, abu, nitrogen total, FTIR, derajat deasetilasi, dan SEM-EDX. Perlakuan pada penelitian ini yaitu pada tahapan demineralisasi dilakukan perlakuan perbandingan berbeda antara serbuk cangkang kepiting bakau dan HCl 1N yaitu a (1:10) dan b (1:15). Hasil penelitian ini diketahui mutu kitosan cangkang kepiting bakau memiliki nilai rendemen, kadar air, kadar abu, dan nitrogen total sebesar (15,08±0,04%, 1,65±0,00%, 2,87±0,07%, 1,35±0,00%) pada perbandingan 1:10 dan (6,37±0,04%, 1,66±0,01%, 1,75±0,00%, 1,29±0,004%) pada perbandingan 1:15. Derajat deasetilasi pada kitosan a (47%) tidak sesuai dengan ketiga standar karena dibawah (≥70%), sedangkan kitosan b (76%) sesuai dengan standar Protan Laboratory dan SNI (≥70%). Unsur-unsur kitosan cangkang kepiting bakau yang terdeteksi dari analisis SEM EDX terdiri dari C, O, Ca, Mg, Al. Unsur C dan O yang terdeteksi adalah komponen pembentuk kitosan. Karakteristik mutu kitosan terbaik dihasilkan pada tahap deminerarisasi dengan perlakuan perbandingan sampel dan HCl 1N b(1:15) karena terbukti sesuai dengan standar mutu kitosan.Mangrove crab shell waste generated from the mangrove crab processing industry in Tarakan City is one of the causes of environmental pollution problems. One way to reduce the risk of pollution is to process mangrove crab shell waste into chitosan. Modifications at the demineralization stage were carried out because mangrove crabs contain high minerals, reducing the quality of the chitosan produced. This study aimed to optimize the demineralization step in the extraction of chitosan from mud crab shells (Scylla sp.) through analysis of yield, moisture content, ash, total nitrogen, FTIR, degree of deacetylation, and SEM-EDX. The treatment in this study was at the demineralization stage, and different comparisons were made between mud crab shell powder and 1N HCl, namely a (1: 10) and b (1:15). The results of this study showed that the quality of chitosan from mud crab shells had yield values, water content, ash content, and total nitrogen (15.08±0.04%, 1.65±0.00%, 2.87±0.07%, 1.35±0.00%) at a ratio of 1:10 and (6.37±0, 04%, 1.66±0.01%, 1.75±0.00%, 1.29±0.004%) at a ratio of 1:15. The degree of deacetylation of chitosan a (47%) did not match the three standards because it was below (≥70%), while chitosan b (76%) was following the Protan Laboratory standard and SNI (≥70%). The elements of mangrove crab shell chitosan detected from SEM EDX analysis consisted of C, O, Ca, Mg, and Al. The detected elements of C and O are components that form chitosan. The best quality characteristics of chitosan were produced at the demineralization stage with a comparison of the sample and 1N HCl b (1:15) treatment because it was proven to be in accordance with chitosan quality standards
Efektivitas Karbon Aktif dalam Pembuatan Garam Rumput Laut Cokelat (Sargassum polycystum dan Padina minor): Effectiveness of Active Carbon in the Production of Brown Seaweed Salt (Sargassum polycystum and Padina minor)
Rumput laut cokelat memiliki potensi menjadi bahan baku garam diet untuk hipertensi, namun terdapat permasalahan dari produk akhir garam rumput laut yaitu aroma khas rumput laut (amis) yang masih kuat. namun Bahan alami yang dapat mencegah aroma ini salah satunya adalah karbon aktif. Tujuan penelitian adalah menentukan konsentrasi karbon aktif dalam proses pembuatan garam S. polycystum dan P. minor untuk menghasilkan garam yang bisa diterima oleh masyarakat. Metode yang digunakan dengan perlakuan konsentrasi karbon aktif berbeda (0%, 0,50%, 0,75%, 1%, 1,25%, 1,50% (b/v)) pada proses pembuatan garam, uji sensori aroma dan karakterisasi garam rumput laut. Karakteristik garam meliputi kadar mineral (Mg, Fe, Ca, Na, K), rasio Na:K, kadar NaCl dan aktivitas antioksidan. Konsentrasi karbon aktif optimum garam S. polycystum 1,50% dengan karakteristik Mg 29,24 mg/g; Fe 0,15 mg/g; Ca 27,66 mg/g; rasio Na:K 0.87 mg/g; NaCl 33.87%; aktivitas antioksidan 201,0 mg/L. Konsentrasi karbon aktif optimum garam P. minor yaitu 1% dengan karakteristik Mg 39,05 mg/g; Fe 0,03 mg/g; Ca 32,28 mg/g; rasio Na:K 1,97 mg/g; NaCl 28.34% dan aktivitas antioksidan111,39 mg/L.Brown seaweed has the potential to be developed as a source of salt for hypertension, but the distinctive aroma of seaweed is still an obstacle in the final product. Activated carbon is a non-toxic material that can be used to reduce the aroma of S. polycystum and P. minor salts . The purpose of this research is to determine the concentration of activated carbon in the process of making S. polycystum and P. minor salts to produce salt that is acceptable to the public. The method used with different concentrations of activated carbon (0%, 0.50%, 0.75%, 1%, 1.25%, 1.50% (w/v)) in the salt making process ,Sensory test of aroma and characterization of seaweed salt. Salt characteristics include mineral content (Mg, Fe, Ca, Na, K), Na:K ratio, NaCl content and antioxidant activity. The optimum activated carbon concentration of S. polycystum salt is 1.50% with Mg 29.24 mg/g; Fe 0.15 mg/g; Ca 27.66 mg/g; Na:K ratio 0.87 mg/g; NaCl 33.87%; antioxidant activity 201.0 mg/L. The optimum concentration of activated carbon of P. minor salt is 1% with Mg 39.05 mg/g; Fe 0.03 mg/g; Ca 32.28 mg/g; Na:K ratio 1.97 mg/g; NaCl 28.34% and antioxidant activity 111.39 mg/L. 
Aktivitas Antioksidan Kolagen dari Kulit Ikan Patin (Pangasius sp.) dengan Enzim Bromelin Kasar Kulit Nanas (Ananas comosus L.): Antioxidant Activity of Collagen from the Skin of Pangas Catfish (Pangasius sp) with Crude Bromelain Enzyme of Pineapple Peel
Kulit patin merupakan salah satu hasil samping industri perikanan memiliki kandungan senyawa yang berpotensi sebagai sumber alternatif kolagen mengandung aktivitas antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan aktivitas antioksidan yang terkandung dalam kolagen dari kulit ikan patin diekstraksi dengan enzim bromelin kasar dari kulit buah nanas. Kolagen dibuat dengan menggunakan enzim bromelin kasar dari kulit nanas dengan aktifitas 1.0 U/g dengan beberapa tahapan yaitu praperlakuan, deproteinase, degrasing dan ekstraksi, data perlakuan dengan kombinasi waktu perendaman dan kosentrasi enzim bromelin kasar, dengan waktu perendaman 3 jam, 3,5 jam dan 4 jam dan kosentrasi enzim bromelin kasar 0; 1,5; 2%, dianalisis dengan statistik menggunakan RAL faktorial. Hasil dari pengamatan menunjukkan bahwa kelarutan terbaik didapat pada perlakuan T3.E2 yaitu 98,96%, Viskositas terbaik yaitu 22,67 cP , derajat keasaman (pH) terbaik pada T1.E2 yaitu 6,73, berat molekul α1, α2, β dan γ adalah : 131,51 kda, 110,48 kda, 202,48 kda dan 243,93 kda, aktivitas antioksidan terbaik pada perlakuan T1.E3 yaitu 20,45 ferrous sulfate/g.Pangas catfish skin is one of fishery by-products containing certain compounds which have the potential to be used as an alternative source of collagen having antioxidant activity. The purpose of this study is to determine the antioxidant activity in collagen, so that it can be used as an antioxidant material. Collagen was made using crude bromelain enzyme from pineapple peel with an activity of 1.0 U/g in several stages, which were pretreatment, deproteinization, degrasing, and extraction, using factorial RAL with a combination of 3 hours, 3.5 hours and 4 hours and crude enzyme concentration of 0 ; 1.5% ; 2%. The results of the observations showed that the best solubility was obtained in the T3E2 treatment which was 98.96%. The best viscosity was 22.67 cP. The best acidity (pH) at T1.E2 was 6.73. The molecular weights α1, α2, β and ƴ were : 131.51 kDa, 110.48 kDa, 202.48 kDa and 243.93 kDa. The best antioxidant activity was in T1.E3 treatment, which was 20.45 ferrous sulfate/g
Pemanfaatan Kombinasi Rumput Laut dan Ubi Jalar Ungu yang Ditambahkan Garam Rumput Laut sebagai Minuman Kaya Serat: Characterization of Powder Drink based on Sargassum Seaweed, Purple Sweet Potatoes, and Seaweed Salts
Rumput laut Sargassum sp. berpotensi dikembangkan menjadi produk minuman serbuk, namun memiliki kekurangan yaitu aroma yang amis dan warna kehitaman. Kombinasi dengan ubi jalar ungu, garam rumput laut, dan jahe merah dilakukan untuk meningkatkan daya terima dan nilai fungsional produk. Penelitian ini bertujuan menentukan karakterisasi minuman serbuk berbasis Sargassum sp., ubi jalar ungu, dan jahe merah serta penambahan garam rumput laut terbaik. Tahapan penelitian ini yaitu pengeringan bahan baku menjadi serbuk, pembuatan formulasi, dan analisis. Formulasi 1 terdiri dari Sargassum sp. 25%, ubi jalar ungu 45%, jahe merah 15% dan gula rendah kalori 15%. Formulasi 2 terdiri dari Sargassum sp. 22,5%, ubi jalar ungu 42,5%, jahe merah 15%, gula rendah kalori 15%, dan garam rumput laut cokelat 5%. Hasil uji serat pangan larut air yaitu 5,06% (F1) dan 5,14% (F2), sedangkan serat pangan tidak larut airnya mencapai 22,62% (F1) dan 20,09% (F2). Mineral yang terkandung yaitu kalsium 6,53–7,35 mg/g, kalium 7,41–9,075 mg/g, magnesium 3,16–3,28 mg/g, natrium 1,95–6,32 mg/g, dan besi 0,07 mg/g. Minuman serbuk memiliki nilai aktivitas air sebesar 0,29. Kadar abu tidak larut asam pada produk hanya 0,15–0,20% dan kadar logam berat masih berada di bawah batas maksimum. Senyawa fitokimia yang terkandung yaitu alkaloid, flavonoid, triterpenoid, fenol, tanin dan glikosida. Nilai aktivitas antioksidannya sebesar 86,708 μmol troloks/g (F1) dan 87,499 μmol troloks/g (F2).Sargassum sp. has the potential to be developed into powdered drink products, but the drawbacks are a fishy aroma and blackish color. The combination with purple sweet potato, seaweed salt, and red ginger was done to increase the acceptability and functional value. This study aims to characterize powder drinks based on Sargassum sp., purple sweet potato, and red ginger and analyze the effect of adding seaweed salt. The stages of this research are drying raw materials into powder, making formulations and analysis. Formulation 1 consists of Sargassum sp. 25%, purple sweet potato 45%, red ginger 15%, and low-calorie sugar 15%. Formulation 2 consists of Sargassum sp. 22.5%, purple sweet potato 42.5%, red ginger 15%, low-calorie sugar 15%, and brown seaweed salt 5%. The results of the water-soluble dietary fiber test were 5.06% (F1) and 5.14% (F2), while the insoluble dietary fiber reached 22.62% (F1) and 20.09% (F2). The minerals contained were calcium 6.53–7.35 mg/g, potassium 7.41–9.075 mg/g, magnesium 3.16–3.28 mg/g, sodium 1.95–6.32 mg/g, and 0.07 mg/g iron. The activity of powdered drink water was 0.29. The acid-insoluble ash content in the product was only 0.15-0.20% and the heavy metals content were still below the maximum limit. Alkaloid, flavonoid, triterpenoid, phenol, tannin, and glycoside were among the phytochemical compounds found. The antioxidant activity values were 86.708 mol trolox/g (F1) and 87.499 mol trolox/g (F2)
Karakteristik Fisikokimia Papain Soluble Collagen dari Gelembung Renang Ikan Tuna (Thunnus sp.): Physicochemical Characteristics of Papain Soluble Collagen from Tuna (Thunnus sp.) Swim Bladder
Kolagen merupakan protein jaringan ikat yang tersusun oleh asam amino glisina, prolina, alanina dan hidroksiprolina, yang terdapat pada jaringan kulit, tulang, sisik, dan gelembung renang ikan. Gelembung renang ikan sebagai hasil samping industri perikanan potensial dikonversi menjadi kolagen halal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas proses praekstraksi kombinasi NaOH dan ultrasonikasi serta penggunaan enzim papain pada proses ekstraksi terhadap karakteristik fisikokimia kolagen gelembung renang ikan tuna. Metode penelitian ini adalah praekstraksi kombinasi NaOH dan ultrasonikasi 150 menit serta perendaman selama 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, 16, 18, 20, 22, dan 24 jam, ekstraksi menggunakan enzim papain dengan konsentrasi 0, 3.500, dan 5.000 U/g dan waktu ekstraksi selama 36 dan 48 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses praekstraksi menggunakan ultrasonikasi 150 menit dengan perendaman selama 22 jam merupakan waktu terbaik dalam mengeliminasi protein non kolagen, dan ekstraksi menggunakan enzim papain konsentrasi 5.000 U/g dan perendaman 36 jam merupakan perlakuan terpilih terhadap derajat pengembangan kolagen. Rendemen kolagen yang diperoleh sebesar 7,01±0,4%, asam amino yang mendominasi ialah glisina, arginina dan prolina, kolagen gelembung renang ikan tuna memiliki pita protein rantai α1 sebesar 117 kDa, rantai α2 sebesar 107 kDa dan rantai β sebesar 244 kDa serta nilai zeta potensial sebesar 0,496 mV.Collagen is a connective tissue protein composed of the amino acids glycine, proline, alanine and hydroxyproline, which are found in the skin, bones, scales and swim bladder tissue of fish. Fish swim bladder as a by-product of the fishing industry have the potential to be converted into halal collagen. This study aims to evaluate the effectiveness of the pre-extraction process of the combination of NaOH and ultrasonication and the use of papain enzyme in the extraction process on the physicochemical characteristics of tuna swim bladder collagen. The research method was a combination of pre-extraction of NaOH and 150 minutes of ultrasonication and immersion for 2; 4; 6; 8; 10; 12; 14; 16; 18; 20; 22 and 24 hours, extraction using the papain enzyme with a concentration of 0; 3,500 and 5,000 U/g and extraction time of 36 and 48 hours. The results showed that the pre-extraction process using 150 minutes of ultrasonication with soaking for 22 hours was the best time to eliminate non-collagen proteins, and extraction using papain enzyme with a concentration of 5,000 U/g and soaking for 36 hours was the preferred treatment for the degree of collagen development. The yield of collagen obtained was 7.01±0.4%, the dominant amino acids were glycine, arginine and proline, tuna swim bladder collagen had a protein band of α1 chain of 117 kDa, α2 chain of 107 kDa and β chain of 244 kDa and zeta potential value of 0.496 mV
Kandungan Senyawa Polifenol dan Aktivitas Antioksidan Daun Tumbuhan Apu-apu (Pistia stratiotes) dengan Metode Pengeringan yang Berbeda: Polyphenol Compounds and Antioxidant activity of Water Lettuce (Pistia stratiotes) Leaf Extract with Different Drying Methods
Radikal bebas yang meningkat dapat menyebabkan kerusakan pada sel dan jaringan di dalam tubuh. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kemampuan antioksidan dalam meredam paparan radikal bebas sehingga membutuhkan antioksidan di luar tubuh. Salah satu tumbuhan yang dapat digunakan sebagai sumber antioksidan yaitu tumbuhan apu-apu (Pistia stratiotes) karena memiliki golongan senyawa polifenol, namun senyawa polifenol bersifat termolabil sehingga proses pengeringan merupakan hal penting dalam proses preparasi dan ekstraksi. Penelitian ini bertujuan mengekstraksi senyawa polifenol dari daun tumbuhan apu-apu dengan metode pengeringan yang berbeda dan menguji aktivitas antioksidan senyawa tersebut. Pengeringan dilakukan dengan tiga metode yang berbeda, yaitu pengeringan matahari, oven pada suhu 40ºC, dan pengeringan beku (freeze drying) dengan tiga pengulangan. Data dianalisis menggunakan one-way analysis of variance (ANOVA) dengan uji lanjut Duncan dan disajikan dalam bentuk grafik. Ekstraksi menghasilkan nilai rendemen tertinggi pada pengeringan beku (15,64±1,19%) dan terendah pada pengeringan matahari (8,48±3,34%). Pengujian total polifenol dan flavonoid menghasilkan nilai tertinggi pada pengeringan beku, yaitu masing-masing sebesar 32,94±1,34 mg GAE/g sampel kering dan 146,80±5,29 mg QE/g sampel kering, sedangkan terendah pada pengeringan matahari. Adapun tingkat aktivitas antioksidan pada pengeringan beku dengan IC50 sebesar 266,33±5,77 mg/mL dan pengeringan oven sebesar 305,67±22,85 mg/mL yang memiliki aktivitas yang lebih efektif dalam menghambat radikal bebas jika dibandingkan dengan metode pengeringan matahari dengan IC50 sebesar 462,67±56,52 mg/mL). Pada peneilitian ini disimpulkan bahwa metode pengeringan beku dan oven dapat menjadi pilihan sebagai metode pengeringan yang tepat dalam mengekstrak senyawa polifenol dan flavonoid yang digunakan sebagai bahan antioksidan.Increased free radicals cause damage to cells and tissues in the body. This is due to the lack of antioxidant ability in the body, therefore it requires external antioxidants. One of the plants that can be used as a source of antioxidants is water lettuce (Pistia stratiotes) because it has polyphenol compounds. However, polyphenolic compounds are thermolabile, so the drying process is important in preparation and extraction. Thus, this study aimed to extract polyphenolic compounds from the leaves of the water lettuce (P. stratiotes) with different drying methods and to determine the antioxidant activity of these compounds. Drying was carried out by 3 different methods, namely sun drying, oven at 40ºC, and freeze drying and repeated 3 times. The data were analyzed using a one-way analysis of variance (ANOVA) with Duncan\u27s post-hoc test and presented in graphical form. The results showed the highest extraction yield on freeze-drying (15.64±1.19%) and the lowest on sun-drying (8.48±3.34%). Total polyphenols and flavonoids were also highest in the freeze-drying method (32.94±1.34 mg GAE/g dry sample and 146.80±5.29 mg QE/g dry sample, respectively), while the lowest was in sun-drying. Whereas the antioxidant activity of freeze-drying (IC50 266.33±5.77 mg/mL) and oven (IC50 305.67±22.85 mg/mL) had not significantly different. However, these activities were more effective in inhibiting free radicals when compared with sun-drying (IC50 462.67±56.52 mg/mL). Therefore, freeze-drying and oven-drying can be an option as an appropriate drying method to extract polyphenol and flavonoid compounds which are used as antioxidants
Nutritional Characteristics of Curry fish Sea Cucumber (Stichopus vastus) using Chemicals and Physical Treatment: Karakteristik Gizi Teripang (Stichopus vastus) yang Diberi Perlakuan Kimia dan Fisik
Indonesia merupakan salah satu sumber utama teripang di dunia dengan total produksi yang tinggi untuk konsumsi domestik dan pasar ekspor. Teripang memiliki potensi sebagai sumber makanan tradisional, obat-obatan, dan pangan fungsional karena komponen gizi yang tinggi pada teripang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan karakteristik gizi teripang yang diperoleh secara kimiawi (ekstraksi etanol 20%, 25%, dan 30%) dan perlakuan fisik (perebusan dan pengukusan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kimia (etanol 30%) memiliki komponen nutrisi terbaik yang terdiri dari protein 77,35%; kelembapan 9,14%; abu 6,67%; lemak 0,10%; dan karbohidrat 6,18%, sedangkan dalam perlakuan fisik, pengukusan memiliki komponen nutrisi terbaik yang terdiri dari kandungan protein 61,49%, kelembaban 11,53%, abu 10,76%, lemak 2,22%, dan karbohidrat 14,00%. Profil asam amino dalam perlakuan kimia (etanol 20%, 25%, dan 30%) masing-masing adalah 53,60%, 56,74%, dan 61,65%, sedangkan profil asam amino dalam perlakuan fisik (perebusan dan pengukusan) masing-masing adalah 50,31% dan 52,96%. Glisina dan asam glutamat, yang merupakan asam amino non-esensial, merupakan profil asam amino yang dominan.Indonesia is one of the main sources of sea cucumber in the world with high total production for domestic consumption and export market. Sea cucumber has potential as a source of traditional foods, medicine, and functional food due to the high nutritional component in sea cucumbers. The purpose of this research was to determine the different nutritional characteristics of sea cucumber obtained by chemical (ethanol extractions of 20%, 25%, and 30%) and physical treatment (boiling and steaming). The results showed that chemical treatment (30% ethanol) had the best nutritional components being composed of protein 77.35%; moisture 9.14%; ash 6.67%; fat 0.10%; and carbohydrate 6.18%, while in physical treatment, steaming had the best nutritional components in composed of 61.49% protein content, 11.53% moisture, 10.76% ash, 2.22% fat, and 14.00% carbohydrate. Amino acid profiles in chemical treatments (ethanol 20%, 25%, and 30%) were 53.60%, 56.74%, and 61.65% respectively, while the amino acid profiles in physical treatments (boiling and steaming) were 50.31% and 52.96%, respectively. Glycine and glutamate acid, non-essential amino acid, were dominated by both chemical and physical treatments
Pemurnian Minyak Ikan Patin menggunakan Magnesol dalam Pembuatan Mayones: Purification of Catfish Oil With Addition of Magnesol Adsorbent in Mayonnaise
Ikan patin (Pangasius hypophthalmus) adalah salah satu ikan air tawar dengan nilai ekonomi tinggi. Pengasapan ikan patin di Kecamatan XIII Koto Kampar menghasilkan lemak isi perut. Mayoritas minyak dari limbah ikan patin merupakan lemak perut. Tingginya rendemen minyak mendorong pemanfaatan sebagai produk pangan, seperti mayones. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dari minyak ikan patin dan uji sensori mayones. Minyak diekstraksi dari pemanasan lemak perut ikan patin di suhu 65°C selama 7 jam dengan pemurnian magnesium silikat (magnesol) konsentrasi (1, 2, 3, 4, dan 5%) dalam mengadsorpsi warna dan aroma dari minyak ikan patin. Hasil sidik ragam memperlihatkan bahwa konsentrasi magnesol 3% berpengaruh nyata dalam menurunkan karakteristik minyak antara lain viskositas, kadar ALB, bilangan peroksida, dan bilangan TBA dari 61,83 menjadi 37,00 cP; 0,70 menjadi 0,15%, 3,03 menjadi 1,94 meq.O2.kg-1, dan 9,58 menjadi 6,79 mg.mal.kg-1. Mayones dengan minyak murni konsentrasi magnesol 3% berwarna kuning cerah, tidak beraroma amis, bertekstur agak kental, dan berasa minyak ikan patin. Secara keseluruhan, mayones agak disukai oleh panelis berdasarkan penilaian hedonik.Catfish (Pangasius hypophthalmus) is one of the freshwater fish with high economic value. Smoke catfish processing place produces waste in the form of fish entrails. Abdominal fat is the main component of fish entrails and is a source of fish oil. The high yield of oil encourages its use as a product, such as mayonnaise. This study was aimed at improving the quality of catfish oil and sensory test of quality mayonnaise. The oil was extracted by rendering the abdominal fat at 65°C for 7 h followed up by purification through magnesium silicate (magnesol) at various concentration (1, 2, 3, 4, and 5%) to adsorb the polar compound products of the catfish oil. Result indicate that magnesol at 3% levels significantly reduced the viscosity, free fatty acid content, peroxide values, and thiobarbituric acid value of the treated catfish oil from 61.83 to 37.00 cP, 0.70 to 0.15%, 3.03 to 1.94 meq.O2.kg-1, and 9.58 to 6.79 mg.mal.kg-1. Treatment of mayonnaise with magnesol at 3% levels was observed to be yellow, did not fishy in aroma, rather thick in texture, and had catfish oil flavour. Hedonic tests overall of mayonnaise were rather preferred by panelists
DNA Barcoding untuk Autentikasi Produk Hiu Segar dari Perairan Nusa Tenggara Barat: DNA Barcoding for Fresh Shark Products Authentication from West Nusa Tenggara Waters
Perikanan hiu dan pari di Indonesia, termasuk Tanjung Luar di NTB, menghadapi tantangan besar karena populasi hiu dan pari yang terus menurun. Hiu sangat rentan terhadap penangkapan berlebih dan kepunahan karena faktor seperti kematangan seksual yang lambat dan fekunditas yang rendah. Daging dan sirip hiu umunya diminati konsumen; namun, produk hiu lainnya tidak dicatat secara terpisah dalam statistik perdagangan, sehingga sulit untuk diidentifikasi berdasarkan indikator morfologi. Sebagai alternatifnya dapat menggunakan metode DNA barcoding. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies hiu langka yang terdaftar di CITES yang telah mendarat di pelabuhan NTB menggunakan metode DNA barcoding. Penelitian yang dilakukan meliputi tahap isolasi DNA, amplifikasi DNA, sekuensing dan analisis bioinformatika. Hasil sekuensing DNA dan analisis bioinformatika menunjukkan spesies Sphyrna lewini dan Carcharhinus falciformis teridentifikasi pada sampel dengan tingkat kemiripan 99-100%. Hasil ini menunjukkan ikan hiu yang termasuk dalam daftar CITES masih kerap ditangkap dan dimanfaatkan, sehingga perlu dilakukan regulasi yang lebih tegas dan transfer pengetahuan kepada masyarakat agar spesies hiu yang tergolong terancam punah dapat dilestarikan.Shark and ray fisheries in Indonesia, including Tanjung Luar, West Nusa Tenggara, face considerable challenges where shark and ray populations continue to decrease. Sharks are particularly vulnerable to overfishing and extinction due to slow sexual maturity and low fecundity. Shark meat and fin are generally in demand by consumers; however, other shark products are not separately recorded in trade statistics, making them difficult to identify based on morphological indicators. As an alternative, the DNA barcode method can be applied. This study aims to identify rare shark species recorded on CITES that have landed at the port of NTB using the DNA barcoding method. The research includes the stages of DNA isolation, DNA amplification, sequencing and bioinformatics analysis. The results of sequencing and bioinformatics analysis showed Sphyrna lewini and Carcharhinus falciformis DNA species in samples with 99-100% similarity. These results show that the use of sharks that are included in the CITES list is still often carried out, so it is necessary to implement stricter regulations and transfer public knowledge so that endangered shark species can be preserved