Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Not a member yet
814 research outputs found
Sort by
Identifikasi kandungan ikan tenggiri (Scomberomorus commerson) dan ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys sp) pada otak-otak: Identification of mackerel (Scomberomorus commerson) and suckermouth catfish (Pterygoplichthys sp) in otak-otak
Ikan tenggiri merupakan jenis ikan yang umumnya digunakan dalam pembuatan otak-otak. Autentikasi produk pangan berbahan dasar ikan sulit dilakukan jika dilihat dengan mata telanjang sehingga adanya pemalsuan atau mislabeling pada produk tersebut sangat mungkin terjadi. Daging ikan sapu-sapu juga dapat digunakan sebagai bahan baku produk berbahan dasar ikan karena memiliki kandungan protein yang tinggi. Namun sumber ikan sapu-sapu yang diambil dari Sungai Ciliwung berpotensi mengandung logam berat di antaranya Pb, Cd, Hg, Sn, dan As. Tujuan penelitian yaitu mengidentifikasi kandungan ikan tenggiri dan ikan sapu-sapu pada produk otak-otak, dan identifikasi kandungan logam berat pada sampel otak-otak yang mengandung ikan sapu-sapu. Sampel otak-otak yang dianalisis sebanyak 19 dengan tiga sampel menuliskan keterangan ikan tenggiri pada kemasannya. Analisis DNA ikan sapu-sapu dan tenggiri pada otak-otak menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) yang menggunakan primer spesifik. Analisis logam berat menggunakan metode Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 12 sampel teridentifikasi adanya pita berukuran 423 pb pada gel elektroforesis. Pita tersebut terkonfirmasi spesies ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys sp.). Pita berukuran 238 pb juga ditemukan pada 9 sampel yang sesuai dengan produk PCR menggunakan primer ikan tenggiri (Scomberomorus commerson). Total 12 sampel otak-otak teridentifikasi mengandung ikan sapu-sapu, 11 di antaranya mengandung logam Pb dengan konsentrasi <0,034 mg/kg dan 1 sampel mengandung logam Pb dengan konsentrasi 0,34 mg/kg. Adanya kandungan logam berat pada sampel otak-otak yang konsentrasinya melebihi ambang batas maksimum menjadikan otak-otak tersebut tidak halalan thayyiban untuk dikonsumsi.Mackerel fish is commonly used in the manufacturing of otak-otak. Authentication of fish-based food products by visual method is not possible so counterfeiting or mislabeling in these products is very likely to occur. Suckermouth catfish meat can also be used as a raw material for fish-based products because it contains high protein content. However, the source of suckermouth catfish taken from the Ciliwung River has the potential to contain heavy metals such as Pb, Cd, Hg, Sn, and As. The purpose of this study was to analyze the content of mackerel and suckermouth catfish in otak-otak, and identify the presence of heavy metal content in otak-otak samples containing suckermouth catfish. Nineteen otak-otak samples analyzed with 3 samples wrote the description of mackerel on the packaging. DNA analysis of suckermouth catfish and mackerel in otak-otak using Polymerase Chain Reaction (PCR) methods that use a specific primer. Analysis of heavy metals using the Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) method. Twelve of the nineteen samples identified a 423 bp band in the electrophoresis gel. The band was confirmed belonging to the suckermouth catfish species after analysis using sanger sequencing methods. Nine of the nineteen samples showed a 238 bp band that corresponded to mackerel. A total of 12 otak-otak samples were identified as containing suckermouth catfish, 11 of which contained Pb metal with a concentration of <0.034 mg/kg and 1 sample containing Pb metal with a concentration of 0.34 mg/kg. The presence of heavy metal content in the otak-otak samples whose concentration exceeds the maximum limit makes this otak-otak can’t halalan thayyiban for consumption
Potensi ikan bleberan (Thryssa sp.) sebagai sumber zat gizi balita tengkes: The potential of Bleberan fish (Thryssa sp.) as nutritional source for toddler stunting
Permasalahan gangguan pertumbuhan balita secara langsung dipengaruhi oleh kurangnya asupan gizi dan adanya penyakit infeksi. Protein sebagai salah satu asupan penting sangat diperlukan dalam pertumbuhan balita. Indonesia merupakan negara maritim, kaya hasil laut, tetapi pemanfaatannya belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menggali potensi ikan lokal di Provinsi Bengkulu sebagai solusi sumber protein bagi balita stunting. Pada umumnya ikan hanya digoreng atau dimasak santan dalam keluarga, sehingga balita tidak pernah diberikan, hal ini mempertimbangkan duri ikan yang dapat membahayakan sistem pencernaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengetahui kebiasaan ibu balita memanfaatkan ikan yang ada di sekitar tempat tinggal. Setelah diperoleh gambaran jenis ikan lokal yang mudah diakses yaitu Thryssa sp., dilanjutkan analisis zat gizi secara laboratorium. Kandungan protein dan zat besi hanya dapat dipenuhi oleh makanan mahal ternyata tidak selalu benar. Setiap 100 g ikan Thryssa sp. giling mengandung energi 153 kkal, protein 18,75 g, lemak 1,13 g, karbohidrat 0,19 g, dan Fe 1,71 mg.Toddler nutritional problems are directly influenced by nutritional intake and infectious diseases. Protein, as an important intake, is indispensable for the growth of toddlers. Indonesia has merged with a maritime country rich in marine products, but its use is not typical. This study aimed to explore the potential of local fish populations in Bengkulu Province as a protein source for stunting toddlers. In general, fish are only fried or cooked with coconut milk in the family, so toddlers are never given it, considering that fish spines can harm the digestive system. This study uses a quality approach to determine the habit of toddler mothers to use fish on the menu of the place of residence. After obtaining an overview of the types of local fish that are easily accessible, namely Thryssa sp., the laboratory analysis of nutrients was continued. Protein and iron can only be obtained from expensive foods, which is not always true. Every 100 g of Thryssa sp. groundfish contains 153 kcal of energy, 18.75 g of protein, 1.13 g of fat, 0.19 g of carbohydrates, and 1.71 mg of Fe
Komposisi kimia, mineral, dan vitamin crackers prebiotik dengan penambahan garam rumput laut: Chemical composition, mineral, and vitamin of prebiotic crackers with addition of seaweed salt
Pangan prebiotik telah menjadi tren pangan konsumsi dewasa ini karena manfaatnya yang sangat baik untuk kesehatan tubuh terutama untuk pencegahan tengkes pada balita dan anak-anak. Tepung mocaf yang dikombinasikan dengan kacang ercis dan garam rumput laut dapat diolah menjadi crackers prebiotik tinggi protein dan mineral. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi kimia, mineral, dan vitamin crackers prebiotik dengan penambahan garam rumput laut Sargassum polycystum. Penelitian terdiri dari tahap pembuatan crackers tanpa garam rumput laut (F0) dan dengan garam rumput laut 2% (F1) kemudian dilanjutkan ke tahap pengujian komposisi kimia, mineral, dan vitamin. Data diolah menggunakan Microsoft Office Excel 16 dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan crackers prebiotik dengan penambahan garam S. polycystum 2% dapat meningkatkan kadar abu dan lemak namun menurunkan kadar air, karbohidrat, serta serat pangan. Crackers prebiotik tanpa dan dengan penambahan garam S. polycystum memiliki kadar protein yang sudah sesuai dengan SNI 2973:2018, yaitu 8,72% (F0) dan 8,63% (F1). Crackers prebiotik dengan penambahan garam S. polycystum memiliki kandungan mineral Na (389,72 mg/100 g), K (1.271,60 mg/100 g), Ca (224,61 mg/100 g), Mg (73,83 mg/100 g), dan Fe (4,22 mg/100 g) serta vitamin B6 (7,02 mg/100 g). Penambahan garam S. polycystum dapat meningkatkan kandungan mineral dan vitamin crackers prebiotik.Prebiotic food has become a food consumption trend because of its health benefits, especially for the prevention of stunting in toddlers and children. Mocaf flour combined with pea powder and seaweed salt can be processed into high-protein and high-mineral prebiotic crackers. This study aimed to determine the chemical composition, minerals, and vitamins of prebiotic crackers supplemented with Sargassum polycystum salt. This study consisted of making crackers without seaweed salt (F0) and with 2% seaweed salt (F1), followed by testing the chemical composition, minerals, and vitamins. The data were processed using Microsoft Office Excel 16 and descriptively analyzed. The results showed that prebiotic crackers with the addition of 2% S. polycystum salt increased the ash and lipid content but decreased the moisture, carbohydrate, and dietary fiber contents. Prebiotic crackers with and without the addition of S. polycystum salt had appropriate protein content appropriate SNI 2973:2018 about biscuit, namely 8.72% (F0) and 8.63% (F1). Prebiotic crackers with addition of S. polycystum salt has mineral content Na (389.72 mg/100 g), K (1,271.60 mg/100 g), Ca (224.61 mg/100 g), Mg (73.83 mg /100 g), Fe (4.22 mg/100 g), and vitamin B6 (7.02 mg/100 g). The addition of salt can increase the mineral and vitamin contents of prebiotic crackers
Evaluasi tingkat keasinan relatif dan profil sensori garam rumput laut menggunakan metode magnitude estimation dan rate-all-that-apply (RATA): Evaluation of relative saltiness level and sensory profile of seaweed salt using magnitude estimation and Rate-All-That-Apply (RATA)
Hypertension is a silent killer disease, with the highest mortality rate in Indonesia. The high risk of developing this disease is caused by an unhealthy lifestyle, one of which is excessive consumption of salt/sodium. Seaweed salt is an alternative to low-sodium salt that can be consumed by people with hypertension. Sensory parameters, especially the level of saltiness and sensory profiles, are important for the future development of seaweed salt. This study aimed to determine the relative saltiness level and sensory profile of seaweed salt by using a consumer-based method. This study consisted of seaweed preparation, seaweed salt Sargassum polycystum, and Ulva lactuca production and evaluation of relative saltiness using the magnitude estimation (ME) method and sensory profile using the rate-all-that-apply (RATA) method. Data were analyzed using an independent sample t-test with a 95% confidence level. The results showed that seaweed salt S. polycystum and U. lactuca had NaCl levels of 43.77±0.54% and 18.98±0.29%. The relative saltiness of the seaweed salt solution was lower than the NaCl 0.54% solution, a higher concentration was needed to provide the same stimulus as the 0.54% NaCl solution. The seaweed salt S. polycystum solution felt a salty taste stimulus equivalent to the 0.54% NaCl solution at a concentration of 0.85% and U. lactuca at a concentration of 0.89%. Seaweed salt has the dominant sensory attributes of being salty, umami, bitter, and eggy. S. polycystum salt has a more neutral and preferred sensory profile.Garam rumput laut berpotensi sebagai alternatif garam rendah natrium yang dapat dikonsumsi penderita hipertensi. Parameter sensori terutama tingkat keasinan dan profil sensori berbasis konsumen menjadi salah satu kriteria penting untuk pengembangan garam rumput laut ke depan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat keasinan relatif dan profil sensori garam rumput laut melalui metode berbasis konsumen. Penelitian ini terdiri atas preparasi rumput laut, pembuatan garam rumput laut Sargassum polycystum dan Ulva lactuca, dan evaluasi tingkat keasinan relatif dengan metode magnitude estimation (ME) dan profil sensori dengan metode rate-all-that-apply (RATA). Data dianalisis menggunakan independent sample t-test dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan garam S. polycystum dan U. lactuca memiliki karakteristik kadar NaCl 43,77±0,30% dan 18,98±0,29%. Tingkat keasinan relatif larutan garam rumput laut lebih rendah dibandingkan larutan garam NaCl 0,54% sehingga diperlukan konsentrasi yang lebih tinggi untuk dapat memberikan stimulus yang sama dengan garam NaCl 0,54%. Garam S. polycystum dapat dirasakan rasa asin yang setara dengan sampel reference garam NaCl 0,54% pada konsentrasi 0,85% dan garam U. lactuca pada konsentrasi 0,89%. Garam rumput laut memiliki atribut sensori dominan, yaitu salty, umami, bitter, dan eggy/sulfur. Garam S. polycystum memiliki profil sensori yang lebih netral dan lebih disukai
Pengaruh konsentrasi dan waktu perendaman NaOH terhadap karakteristik gelatin kulit ikan patin: The effect of NaOH concentration and soaking time on the characteristics of striped catfish (Pangasianodon hypophthalmus) skin gelatin
Gelatin is widely used in the food and non-food sectors; therefore, its use continues to increase. The need for gelatin in Indonesia still depends on its imports from other countries. Commercial gelatin generally originates from pork and beef, which is a concern for some religions regarding halalness, and there is a prohibition against consuming pork or beef. Therefore, alternative sources of raw materials are needed to overcome this problem by utilizing sources from fishery products, such as striped catfish skin. Gelatin preparation involves several stages, including pretreatment, extraction, and drying. The pretreatment process can be carried out using alkaline, acidic, or a combination of both. The combination of alkaline and acidic conditions improved the properties of the resulting gelatin. Concentration and soaking time are factors that can affect gelatin. Therefore, this study aimed to analyze the effects of NaOH concentration and soaking time on the physicochemical properties of gelatin. This study used a Random Design complete (RAL) factorial with two factors. The treatment used was the concentration of NaOH (0.1 M, 0.2 M, and 0.3 M) and the soaking time of NaOH (1 hour and 3 hours). Data analysis was performed using one-way analysis of variance (ANOVA) with Duncan’s test at 95% confidence interval (p<0.05). The results showed that the interaction between different NaOH concentrations and NaOH soaking times had a significant effect on the yield parameters, pH, gel strength, and viscosity, while the interaction between the different NaOH concentrations had no effect on the water and ash content. The results of striped catfish skin gelatin in all treatments had characteristics (moisture, ash, pH, gel strength, and viscosity) that were in accordance with gelatin standards SNI 8622-2018 and GMIA 2019.Gelatin banyak digunakan dalam bidang pangan dan non pangan, sehingga kebutuhannya terus meningkat. Kebutuhan gelatin di Indonesia masih bergantung pada impor dari negara lain. Gelatin komersial umumnya berasal dari babi dan sapi yang menjadi kekhawatiran bagi beberapa agama terkait kehalalan dan terdapat larangan untuk mengonsumsi babi atau sapi. Oleh karena itu, diperlukan sumber bahan baku alternatif untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan memanfaatkan sumber dari hasil perikanan, salah satunya kulit ikan patin. Gelatin dibuat dengan beberapa proses tahapan antara lain praperlakuan, ekstraksi, dan pengeringan. Proses praperlakuan dapat dilakukan dengan cara basa, asam, atau kombinasi basa dan asam. Kombinasi basa dan asam dapat meningkatkan sifat gelatin yang dihasilkan. Konsentrasi dan lama waktu perendaman yang digunakan menjadi faktor yang dapat memengaruhi gelatin yang dihasilkan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh konsentrasi dan waktu perendaman NaOH terhadap sifat fisikokimia gelatin. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan 2 faktor. Perlakuan yang digunakan yaitu konsentrasi NaOH (0,1 M: 0,2 M: dan 0,3 M) dan waktu perendaman NaOH (1 jam dan 3 jam). Analisis data dilakukan menggunakan ANOVA satu arah dengan uji lanjut Duncan pada selang kepercayaan 95% (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi NaOH dan waktu perendaman NaOH yang berbeda memberikan pengaruh nyata terhadap parameter rendemen, pH, kekuatan gel, dan viskositas, sedangkan interaksi antara perlakuan konsentrasi NaOH dan waktu perendaman NaOH yang berbeda tidak berpengaruh terhadap kadar air dan kadar abu. Hasil gelatin kulit ikan patin pada semua perlakuan memiliki karakterikstik (kadar air, kadar abu, pH, kekuatan gel, dan viskositas) yang telah sesuai dengan standar gelatin menurut SNI 8622-2018 dan GMIA 2019
Pengaruh jenis kemasan dan posisi penyimpanan terhadap kualitas surimi ikan swanggi selama penyimpanan suhu chilling: The impact of packaging and storage position on the chilling temperature for surimi quality from purple-spotted bigeye fish (Priacanthus tayenus)
Ikan swanggi (Priacanthus tayenus) merupakan salah satu jenis ikan yang berpotensi sebagai bahan baku surimi. Surimi adalah produk antara bernilai tinggi yang banyak digunakan dalam pembuatan fish cake. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh jenis kemasan dan posisi penyimpanan terhadap kualitas surimi ikan swanggi melalui pengujian sensori, kadar air, dan mikrobiologi. Surimi ikan swanggi dikemas menggunakan tiga jenis plastik yang berbeda, yaitu polietilen (PE), polipropilen (PP), dan nilon. Surimi disimpan selama 28 hari di dalam freezer dengan suhu penyimpanan sebesar 2-8°C, dan posisi penyimpanan yang berbeda. Parameter yang dianalisis meliputi penilaian sensori, kadar air, dan angka lempeng total. Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 ulangan. Data sensori dan kadar air diolah menggunakan SPSS 26.0 dengan analisis sidik ragam, jika terdapat perbedaan yang signifikan, dilakukan uji Duncan dan Tukey pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa surimi yang dikemas dengan plastik nilon memiliki atribut kenampakan uji gigit, dan uji lipat yang lebih baik dibandingkan surimi yang dikemas plastik PE dan PP. Rata-rata kadar air surimi yang dikemas dengan ketiga jenis plastik berkisar antara 70-78% selama penyimpanan 28 hari dengan posisi penyimpanan yang berbeda. Kadar air pada surimi yang dikemas menggunakan ketiga jenis kemasan mengalami peningkatan seiring lamanya waktu penyimpanan. Angka lempeng total surimi menunjukkan nilai yang melebihi standar SNI 2694:2013. Semakin lama penyimpanan, maka semakin bertambah pula jumlah mikroba pada surimi.The Purple-Spotted Bigeye Fish (Priacanthus tayenus) is a fish with high potential for use as a raw material for surimi. Surimi is an intermediate and high-value product that is extensively used in the production of fish cake products. The objective of this study was to determine the impact of packaging type and storage position on the quality of purple-spotted bigeye fish surimi via sensory, moisture content, and microbiology analyses. Three plastic packaging types - polyethylene (PE), polypropylene (PP), and nylon - were used to store the fish surimi, which was then placed in a freezer for 28 days at a temperature of 2-8°C in various storage positions. Sensory characteristics, moisture levels, and total bacterial count were assessed in this study, which utilized a completely randomized design (CRD) with three replications. The SPSS 26.0 program was employed to analyze sensory and moisture data via ANOVA, followed by Duncan\u27s test and Tukey\u27s test at a 95% confidence level in the event of a significant disparity. The study revealed that surimi stored in nylon plastic showed improved bite and fold test appearance attributes as compared to surimi stored in PE and PP plastic. Throughout the 28-day storage period in various storage positions, the average total water content of surimi across all three packaging types ranged from 70-78%. The water content in surimi increased over time in all three types of packaging. The plate count for surimi surpassed the limit stated by the National Standardization Agency of Indonesia in 2013 (SNI 2694:2013). As the duration of storage increases, so does the amount of microbes in surimi
Karakteristik serum wajah dari sediaan filtrat rumput laut Eucheuma cottonii dan Ulva lactuca: Characteristics of facial serum from seaweed filtrate of Eucheuma cottonii and Ulva lactuca
Kulit membutuhkan antioksidan untuk menangkal radikal bebas yang di antaranya berasal dari polusi udara dan paparan sinar ultraviolet. Rumput laut Eucheuma cottonii dan Ulva lactuca dikenal memiliki kandungan antioksidan yang cukup tinggi. Produk perawatan kulit salah satunya serum dapat dijadikan alternatif dalam mengurangi permasalahan pada kulit melalui penambahan bahan aktif dari rumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formulasi terbaik dan pengaruh penambahan E. cottonii dan U. lactuca terhadap karakteristik produk serum wajah melalui parameter uji hedonik, pH, kelembapan, homogenitas, viskositas, dan aktivitas antioksidan. Perlakuan dalam penelitian dibagi menjadi empat, yaitu serum tanpa penambahan filtrat rumput laut (F0), serum dengan penambahan filtrat E. cottonii (F1), serum dengan penambahan filtrat U. lactuca (F2), dan serum kombinasi filtrat E. cottonii dan U. lactuca (F3). Analisis data menggunakan uji Kruskal Wallis dan one way ANOVA. Penambahan filtrat E. cottonii dan U. lactuca dapat memengaruhi nilai antioksidan, hedonik, homogenitas, pH, viskositas, dan kelembapan pada produk serum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula serum terbaik diperoleh pada perlakuan penambahan filtrat E. cottonii (F1) dengan aktivitas antioksidan (IC50) sebesar 299,29 µg/mL, kelembapan 58,42%, nilai pH 6,25, viskositas 276,71 cP dan paling disukai oleh panelis berdasarkan parameter ketampakan, warna, aroma, tekstur, dan homogenitas.The skin needs antioxidants to counteract free radicals that can originate from air pollution and exposure to ultraviolet rays. Eucheuma cottonii and Ulva lactuca are known to have high antioxidant content. Skincare products, including serums, can be used as an alternative to tackle skin issues by incorporating active ingredients from seaweed. This study aimed to determine the effect of adding E. cottonii and U. lactuca on the properties of facial serum products. Hedonic test parameters, pH, moisture, homogeneity, viscosity, and antioxidant activity were assessed objectively. The study\u27s treatments were classified into four categories: serum without the addition of seaweed filtrate (F0), serum with the addition of E. cottonii filtrate (F1), serum with the addition of U. lactuca filtrate (F2), and serum with the combined addition of E. cottonii and U. lactuca filtrate (F3). The method of data analysis employed the Kruskal-Wallis test and one-way ANOVA. The serum product\u27s antioxidant value, hedonic score, homogeneity, pH, viscosity, and moisture can be influenced by the addition of E. cottonii and U. lactuca filtrate. The study results indicate that the most optimal serum formulation was achieved by supplementing with E. cottonii filtrate (F1), exhibiting antioxidant activity (IC50) of 299.29 µg/ml, moisture of 58.42%, pH of 6.25, and viscosity of 276.71 cP. Moreover, this formulation was favored most by the panellists based on parameters such as appearance, color, odor, texture, and homogeneity
Aktivitas antioksidan DPPH dari ekstrak rumput laut dengan kajian metaanalisis: Antioxidant activity of DPPH from seaweed extract using meta analysis study
Rumput laut merupakan komoditas perikanan yang memiliki bioaktivitas sebagai antioksidan dan dimanfaatkan sebagai sumber pangan fungsional. Antioksidan alami semakin diminati karena dinilai memiliki tingkat keamanan lebih baik. Aktivitas antioksidan dari rumput laut dengan metode pengujian 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) pada beberapa tahun terakhir telah dilaporkan, namun didapatkan hasil yang berbeda-beda. Oleh karena itu, diperlukan teknik analisis dan penarikan kesimpulan data dari berbagai literatur dengan meta-analisis. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan aktivitas antioksidan tertinggi pada ekstrak rumput laut berdasarkan jenis rumput laut, habitat, metode ekstraksi, dan jenis pelarut melalui kajian meta-analisis. Penelitian ini dilakukan dengan tahap perumusan pertanyaan penelitian, penentuan kriteria inklusi dan eksklusi, pencarian dan penyeleksian artikel, ekstraksi data, pengolahan data, dan interpretasi hasil meta-analisis. Analisis data secara kuantitatif menggunakan software OpenMEE. Kajian meta-analisis dari 14 artikel terpilih menghasilkan nilai overall effect size (SMD) bernilai negatif (-10.563) yang menunjukkan aktivitas antioksidan asam askorbat lebih tinggi secara signifikan dibandingkan rumput laut dan nilai heterogenitas tinggi sehingga dilakukan analisis subgroup. Hasil analisis subgroup menunjukkan aktivitas antioksidan terbaik pada jenis rumput laut merah, habitat di India, metode ekstraksi soxhlet, dan jenis pelarut etanol 95%. Hasil uji Rosenthal menunjukkan penelitian ini tidak terdapat bias publikasiSeaweed is a fishery product that possesses antioxidant activity and is used as a functional food source. The popularity of natural antioxidants is on the rise due to the perception that they are more secure in terms of their level of safety. In recent years, reports have emerged regarding the antioxidant activity of seaweeds using the 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) testing method; however, the findings have been inconsistent. Hence, the necessity of employing analytical techniques and extracting conclusions from a diverse range of literature through meta-analysis has become apparent. The objective of this study was to conduct a meta-analysis to identify the highest antioxidant activity in seaweed extracts, considering the type of seaweed, habitat, method of extraction, and type of solvent used. This study was conducted through a series of steps, including the formulation of research questions, establishment of inclusion and exclusion criteria, conduct of a literature search and selection of articles, extraction of data, processing of data, and interpretation of the results of the meta-analysis. Using quantitative data analysis with the aid of OpenMEE software, our meta-analysis of 14 pertinent articles yielded an overall effect size (SMD) of -10,563, indicating a statistically significant superiority of ascorbic acid\u27s antioxidant activity in comparison to that of seaweed. Moreover, the high level of heterogeneity necessitated a subgroup analysis. Subgroup analysis revealed that among the various subgroups examined, red seaweed grown in India exhibited the highest antioxidant activity when subjected to the Soxhlet extraction method and 95% ethanol solvent. According to the Rosenthal test, this study was free of publication bias
Pengembangan produk sambal roa inovatif melalui formulasi undur-undur laut: The development of innovative sambal roa product through mole crab formulation
Sambal roa merupakan salah satu sambal khas nusantara dengan rasa dan aroma ikan roa asap yang khas. Produksi ikan roa yang terus menurun menuntut adanya inovasi pengembangan produk. Undur-undur laut merupakan bahan pengganti yang potensial, karena memiliki cita rasa krustasea/rebon yang mirip dengan terasi serta kandungan karotenoid yang dapat berperan sebagai pewarna alami. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formula sambal roa inovatif melalui formulasi cabai, ikan roa asap, dan undur-undur laut menggunakan I-optimal mixture amount design. Penelitian meliputi modifikasi, pembuatan, dan uji sensori deskriptif sambal roa, optimasi formulasi sambal roa dengan undur-undur laut, serta perbandingan antara sambal roa dengan undur-undur laut dan sambal roa komersial. Formula sambal roa didasarkan pada jumlah total campuran sebesar 150 g dengan proporsi cabai 40%-70%, ikan roa asap 20%-30%, dan undur-undur laut 35%-50%. Hasil formulasi tersebut, diperoleh keberterimaan optimal dengan proporsi cabai 40%, ikan roa asap 21,68%, dan undur-undur laut 38,32%. Karakteristik sambal roa inovatif dengan formulasi cabai, ikan roa asap, dan undur-undur laut adalah berbentuk pasta, memiliki viskositas 9.547±948,54 cP, warna oranye kemerahan L*: 19,64±0,76, a*: 17,58±0,80, dan b*: 22,75±0,68. Sensori aroma khas krustasea (undur-undur laut) dapat dirasakan, serta memiliki sensasi pedas dengan kadar kapsaisin 701,78±0,028 ppm, kadar protein 11,32±0,007%, kadar lemak 15,28±0,049%, aktivitas air (Aw) 0,84±0,0001, dan total mikrobiologi 6,3×10²±1,90 koloni/g.Sambal roa is one of the typical nusantara sauces with a distinctive taste and aroma of roa fish smoked using traditional methods. The decreasing production of roa fish demands innovation in its product development. Mole crab is a potential substitute ingredient because it has a crustacean/rebon taste similar to shrimp paste, as well as carotenoid content that can act as a natural dye. This innovation requires accurate formulation. This study aimed to develop an innovative sambal roa product through the formulation of chili, smoked roa fish, and mole crab using an I-optimal mixture amount design. The study included modification, production, and descriptive sensory testing of sambal roa, optimization of the sambal roa formulation with mole crab, and comparison between mole crab-sambal roa and commercial sambal roa. The sambal roa formula is based on a total mixture amount of 150 g with a proportion of chili of 40%-70%, smoked roa fish of 20%-30%, and mole crab of 35%-50%. Optimal acceptability was achieved with chili 40%, 21.68% smoked roa fish, and mole crab 38.32%. The characteristics of the innovative sambal roa with the formulation of chili, smoked roa fish, and mole crab are in the form of paste, have a viscosity of 9.547±948.54 cP, an orange-red color with L*:19.64±0.76, a*:17.58±0.80, and b*:22.75±0.68. The distinctive crustacean aroma (mole crab) can be sensed, and it has a spicy sensation with a capsaicin content of 701.78±0.028 ppm, protein content of 11.32±0.007%, fat content of 15.28±0.049%, water activity (Aw) of 0.84±0.0001, and total bacterial colonies of 6.3 ×10²±1.90 colonies/g
The antibacterial activity of Lactobacillus sp. GMP1 and Weisella sp. GMP12 against some foodborne disease causing-bacteria: Aktivitas antibakteri Lactobacillus sp. GMP1 dan Weisella ap. GMP12 terhadap beberapa bakteri pembawa penyakit pada makanan
Bakteri asam laktat (BAL) telah dilaporkan memiliki aktivitas penghambatan terhadap bakteri-bakteri kontaminan pangan dan di antaranya telah diakui sebagai generally recognize as safe (GRAS). Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi bakteri asam laktat halotoleran (BALH) dari produk fermentasi perikanan pakasam dan wadi serta mengetahui potensinya dalam menghambat pertumbuhan bakteri kontaminan dan juga bakteri penghasil amina biogenik. Isolasi BALH dilakukan dengan agar De Man, Rogosa dan Sharpe (MRSA) yang disuplementasi dengan 1% CaCO3 dan 7% NaCl. Koloni yang tumbuh dan menunjukkan zona jernih di sekitarnya dilanjutkan ke uji pertumbuhan halotoleran dalam MRS cair dengan beberapa konsentrasi NaCl. Dua isolat terpilih diidentifikasi sebagai bakteri asam laktat halotoleran yaitu Lactobacillus sp. GMP1 dan Weisella sp. GMP12. Isolasi senyawa antibakteri dengan target bakteriosin dilakukan dengan fermentasi pada media MRSB pada 37°C selama 24 jam, dilanjutkan dengan pemisahan supernatan dan isolasi senyawa antibakterinya dengan pengendapan amonium sulfat dan dialisis. Uji aktivitas antibakteri yang dilakukan dengan difusi cakram didapatkan bahwa senyawa antibakteri yang dihasilkan oleh Lactobacillus sp. GMP1 dan Weisella sp. GMP12 mampu menghambat Staphylococcus aureus ATCC 6538 dengan aktivitas penghambatan masing-masing sebesar 5.868,19 AU dan 3.693,60 AU. Senyawa antibakteri yang dihasilkan juga dapat menghambat Salmonella sp. 230C dengan aktivitas bakteriosin masing-masing adalah 1.696,39 AU dan 2.254,17 AU, namun hanya Weisella sp. GMP12 yang mampu menghambat Klebsiella sp. CK2 dengan aktivitas bakteriosin sebesar 3.165,51 AU. Hasil ini menunjukkan bahwa Lactobacillus sp. GMP1 dan Weisella sp. GMP12 memiliki potensi untuk digunakan sebagai starter pada produk fermentasi.Lactic acid bacteria (LAB) have been reported to have inhibitory activity against foodborne causative bacteria, some of which are generally recognized as safe (GRAS). The aim of this study was to isolate halotolerant lactic acid bacteria (HLAB) from fermented fish products, namely pakasam and wadi, and to determine their potential to inhibit the growth of contaminant bacteria and biogenic amine-producing bacteria. Isolation of HLAB was performed using De Man, Rogosa, and Sharpe agar (MRSA) supplemented with 1% CaCO3 and 7% NaCl. Colonies that grew and showed clear zones continued to undergo halotolerant growth tests in MRS broth with several NaCl concentrations. Two selected isolates were identified as lactic acid bacteria: Lactobacillus sp. GMP1 and Weisella sp. GMP12. The isolation of antibacterial compounds targeting bacteriocin was carried out by fermentation in MRSB media at 37°C for 24 h, followed by separation of the supernatant and isolation of the antibacterial compounds by precipitation with ammonium sulfate and dialysis. Antibacterial activity tests showed that bacteriocins produced by Lactobacillus sp. GMP1 and Weisella sp. GMP12 is able to inhibit Staphylococcus aureus ATCC 6,538 with bacteriocin activity of 5,868.19 AU and 3,693.60 AU, respectively. Bacteriocins can also inhibit Salmonella spp.. 230C with bacteriocin activity respectively is 1,696.39 AU and 2,254.17 AU, respectively, whereas only Weisella sp. GMP12 inhibits Klebsiella sp. CK2 with bacteriocin activity is 3,165.51 AU. These results indicate that Lactobacillus sp. GMP1 and Weisella sp. GMP12 has the potential to be used as a starter culture in fermented products