Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Not a member yet
814 research outputs found
Sort by
Karakteristik fish cake dari surimi lele dumbo (Clarias gariepinus) dengan bahan pengikat yang berbeda: Characteristic of fishcake made from african catfish surimi with a different binding agent
Lele dumbo adalah jenis ikan air tawar yang tumbuh cepat, pangsa pasar cukup besar, tetapi memiliki nilai ekonomi rendah. Nilai ekonomi lele dumbo dapat ditingkatkan melalui pengolahan surimi sebagai bahan baku fish cake. Tepung maizena dan tepung kentang dapat digunakan sebagai bahan pengikat pada pembuatan fish cake. Tujuan penelitian ini adalah menentukan formulasi campuran tepung maizena dan tepung kentang terbaik pada pengolahan fish cake dari surimi ikan lele dumbo berdasarkan penilaian hedonik, mikroba, dan nilai kalori. Surimi ikan lele dumbo dihasilkan dengan menambahkan tepung Na-alginat 0,4% dan CaCl2 0,5%. Perlakuan pada penelitian ini adalah rasio tepung maizena dan tepung kentang terhadap jumlah surimi yang digunakan, yaitu P0 (10%:0%); P1 (7,5%:2,5%); P2 (5%:5%); P3 (2,5%:7,5%); P4 (0%:10%). Parameter yang dianalisis meliputi kekuatan gel surimi, komposisi kimia, hedonik, perhitungan kalori, dan cemaran mikroba fish cake selama penyimpanan. Hasil karakterisasi surimi memiliki kekuatan gel (1.042,8 g/cm2); kadar air (55,48%); lemak (4,74%); abu (0,6%); dan protein (15,05%). Formulasi tepung maizena dan tepung kentang yang berbeda berpengaruh signifikan terhadap komposisi gizi fish cake, dengan rerata kadar air (43,84±0,2%), lemak (10,32±0,57%), abu (1,83±0,41%), dan protein (11,31±0,12%). Nilai kalori produk fish cake, yaitu 45 kcal dari 5 g lemak, 25 kcal dari 6 g protein dan 80 kcal dari 20 g karbohidrat. Hasil uji TPC dan TVB-N fish cake, yaitu 1,0x105 cfu/g dan 10,94 mg/100 g. Perlakuan P1 menghasilkan fish cake yang paling disukai panelis, dengan total nilai kalori sebesar 150 kcal per takaran saji (2 pcs), serta nilai TPC dan TVB-N yang masih pada batas aman hingga penyimpanan hari ke-10 pada suhu -18℃.African catfish is a type of freshwater fish that grows quickly and has a large market share, but low economic value. The economic value of dumbo catfish can be increased by processing surimi as a raw material for fish cake. Cornstarch and potato starch can be used as binding ingredients in fish cake production. The aim of this study was to determine the best mixture of cornstarch and potato flour for processing fishcake from African catfish surimi based on hedonic, microbial, and calorific values. Surimi for African catfish was produced by the addition of 0.4% sodium alginate flour and 0.5% CaCl2. The treatments in this study were the ratio of cornstarch and potato flour to the amount of surimi used: P0 (10%:0%), P1 (7.5%:2.5%), P2 (5%:5%), P3 (2.5%:7.5%), and P4 (0%:10%). The parameters analyzed included surimi gel strength, chemical composition, hedonics, calorie calculations, and microbial contamination of the fish cakes during storage. The results of the characterization of surimi have gel strength (1,042.8 g/cm2); moisture content (55.48%); fat (4.74%); ash (0.6%); and protein (15.05%). Different formulations of corn starch and potato starch had a significant effect on the nutritional composition of fishcakes, with average moisture content (43.84±0.2%), fat (10.32±0.57%), ash (1.83±0.41%), and protein (11.31±0.12%). The calorific value of the fishcake products was 45 kcal from 5 g fat, 25 kcal from 6 g protein, and 80 kcal from 20 g carbohydrates. The TPC and TVB-N fishcake test results were 1.0x105 cfu/g and 10.94 mg/100 g. Treatment P1 produced fishcakes that were most liked by the panelists, with a total calorific value of 150 kcal per serving size (2 pcs), as well as TPC and TVB-N values that were still within safe limits until the 10th day of storage at a temperature of -18℃
Characteristics of carrageenan from seaweed hydrolysis using marine fungi as hard-shell capsule material : Karakteristik karagenan dari hidrolisis rumput laut menggunakan kapang laut sebagai bahan cangkang kapsul keras
Karagenan adalah polisakarida dari alga merah yang dapat digunakan sebagai bahan baku cangkang kapsul keras. Karagenan dapat diproduksi melalui metode hidrolisis biologis menggunakan cendawan laut. Bahan yang digunakan untuk memodifikasi karakteristik produk berbasis polisakarida salah satunya adalah gelatin. Interaksi karagenan dan gelatin dipengaruhi oleh karakteristik dan jenis karagenan, serta pemlastis (plasticizer). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik karagenan hasil hidrolisis rumput laut untuk cangkang kapsul keras. Karakteristik fisik dari karagenan yang diproduksi dengan hidrolisis, yaitu rendemen, viskositas, dan kekuatan gel. Cangkang kapsul keras dianalisis dengan menentukan berat kapsul, waktu pemecahan, dan kadar air. Hasil menunjukkan rendemen karagenan 25%, viskositas 45 cP, dan kekuatan gel 175 gf. Karakteristik kimia karagenan, yaitu kadar air 13%, abu 8%, dan tingkat selulosa 8%. Semi refined carrageenan yang diperoleh dari hidrolisis rumput laut yang selanjutnya dipilih dalam pembuatan cangkang kapsul keras. Cangkang kapsul keras yang dihasilkan memiliki karakteristik panjang total 18 mm, panjang kapsul 10 mm, berat 0,9 g, waktu desintegrasi 10 menit, dan kadar air 12%.Carrageenan is a polysaccharide extracted from red algae and can be used as a raw material for hard-shell capsules. Carrageenan can be produced by biological hydrolysis of marine fungi. The viscosity of carrageenan resulting from hydrolysis using marine fungi is lower than that of commercial carrageenan. Gelatine can be used to modify the characteristics of polysaccharide-based materials. The characteristics and types of carrageenan and plasticizers influence the interactions between carrageenan and gelatin. This study aimed to determine the characteristics of carrageenan produced by seaweed hydrolysis of a hard-shell capsule material. The physical characteristics of the carrageenan produced by hydrolysis were determined, including yield, viscosity, and gel strength. The properties of the hard-shell capsules, including dimensions, capsule weight, disintegration time, and moisture content, were analyzed. The yield was 25%, and the viscosity and gel strength of carrageenan were 45 cP and 175 gf, respectively. Carrageenan contains 13% moisture, 8% ash, and 8% cellulose. Semi-refined carrageenan produced by this treatment was used to prepare hard-shell capsules. The capsule made from semi-refined carrageenan had a body length of 18 mm, capsule length of 10 mm, capsule weight of 0.9 grams, disintegration time of 10 min, and moisture content of 12%
Profil asam lemak abon ikan dengan penambahan buah nangka selama penyimpanan: Fatty acid profile of fish floss with the addition of jackfruits during storage
Abon ikan merupakan produk yang terbuat dari daging ikan yang diberi bumbu sebagai penambah citarasa. Penambahan buah nangka pada abon diharapkan dapat menambah citarasa dan aroma, meningkatkan nilai gizi dan menambah variasi produk abon ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik mutu abon ikan patin dengan penambahan nangka selama penyimpanan. Rasio antara ikan patin dan nangka adalah 2:1 (b/b). Parameter uji yang dilakukan antara lain kadar lemak, asam lemak bebas, bilangan peroksida dan asam lemak total. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan lama penyimpanan berbeda, yaitu 15, 30 dan 45 hari dengan 3 kali ulangan. Lama penyimpanan berbeda menunjukkan kadar lemak 23,39-23,45%, asam lemak bebas 0,34-0,38% dan bilangan peroksida pada abon ikan nangka meningkat pada penyimpanan 45 hari dengan nilai 5,74-8,26 meq/Kg. Asam lemak total pada abon nangka selama penyimpanan mengalami peningkatan berkisar 80,58-88,48%. Kandungan asam lemak tertinggi, yaitu pada asam oleat 33,36-36,57%, sedangkan yang paling rendah, yaitu asam pentadekanoat 0,03-0,04% dan asam arakidonat 0,03-0,04%.Fish floss is a product made from seasoned fish meat to add flavor. The addition of jackfruit to fish floss is expected to add flavor and aroma, increase the nutritional value, and increase the variety of fish floss products. This study aimed to determine the quality characteristics of shredded catfish and jackfruit during storage. The catfish to jackfruit ratio was 2:1 (w/w). The test parameters included the fat content, free fatty acids, peroxide value, and total fatty acid content. The study used a completely randomized design (CRD) with different storage length treatments, namely 15, 30, and 45 days, with three replications. Different storage times showed that the fat content is 23.39–23.45%, the free fatty acids are 0.34–0.38%, and the peroxide value in jackfruit shredded fish increased after 45 days of storage, with a value of 5.74–8.26 meq/kg. The total fatty acid content in jackfruit shreds during storage increased by approximately 80.58–88.48%. The highest fatty acid content was oleic acid (33.36–36.57%), while the lowest was pentadecanoic acid (0.03–0.04%) and arachidonic acid (0.03–0.04%)
Purifikasi dan karakterisasi parvalbumin patin dan gurami: Purification and characterization of catfish and gourami parvalbumin
Parvalbumin merupakan protein penyebab utama alergi ikan. Namun, penderita alergi ikan menunjukkan reaksi yang berbeda terhadap jenis ikan yang berbeda. Oleh karena itu, purifikasi dan karakterisasi parvalbumin pada berbagai spesies ikan penting untuk dilakukan sebagai upaya pengembangan teknologi deteksi alergi ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan saturasi ammonium sulfat terbaik untuk purifikasi parvalbumin dan mengkarakterisasinya secara in silico. Parvalbumin dari ikan patin dan gurami mentah dan hasil pemasakan dimurnikan dan dikarakterisasi. Parvalbumin dimurnikan dengan metode presipitasi amonium sulfat (20-90% saturasi), kemudian diidentifikasi menggunakan metode SDS-PAGE. Sifat alergenisitas parvalbumin dari gurami dan patin dianalisis secara in silico. Identifikasi profil protein menunjukkan adanya 2 pita yang merepresentasikan parvalbumin dengan bobot molekul 11 dan 14 kDa. Pemurnian menggunakan amonium sulfat belum menghasilkan parvalbumin yang murni karena masih ditemukan adanya pita-pita protein lain yang cukup tebal. Namun, amonium sulfat dengan saturasi 80-90% menghasilkan profil yang terbaik pada proses pemurnian parvalbumin dari ikan mentah dan 90-100% untuk ikan yang dimasak. Hasil analisis bioinformatika menunjukkan adanya 7 sekuen parvalbumin untuk ikan patin, tetapi tidak ditemukan adanya sekuen parvalbumin untuk ikan gurami. Sekuen parvalbumin ikan patin dengan kode XP_026772003.1 memiliki kemiripan yang tinggi dengan parvalbumin dari spesies lain misalnya salmon dan tilapia yang terbukti alergenik. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam karakterisasi parvalbumin lebih lanjut untuk mendukung adanya diagnosis yang lebih baik.Parvalbumin is the main protein responsible for fish allergies. However, allergic sufferers show different reactions to different types of fish. Therefore, it is important to purify and character-ize parvalbumin from various fish species. In this study, parvalbumin from raw and cooked catfish and gourami fish was purified and characterized. Parvalbumin was purified using the ammonium sulfate precipitation method and identified using SDS-PAGE. The allergenic properties of parvalbumin from gourami and catfish were analyzed in silico. Protein profiling using SDS-PAGE showed the presence of two bands representing parvalbumin with molecu-lar weights ranging from 12-14 to kDa. Purification using ammonium sulfate did not result in pure parvalbumin because the other protein bands were still quite thick. However, ammonium sulfate at 80-90% saturation produced the best profile in the purification process of parvalbu-min from raw fish and 90-10% for cooked fish. Bioinformatics analysis showed seven parval-bumin sequences in catfish, but no parvalbumin sequences were found in gourami fish. One catfish parvalbumin sequence with the code XP_026772003.1, showed high similarity with parvalbumin from other species known to be allergenic. The results of this study can serve as a basis for further characterization of parvalbumin to support better diagnosis
Kinerja membran karagenan-PVA sebagai anode baterai fleksibel: Performance of carrageenan-pva membrane as anode for flexible battery
Energi listrik berperan penting dalam kehidupan manusia dan telah menjadi kebutuhan utama dalam aktivitas sehari-hari. Sumber energi listrik yang umum digunakan salah satunya adalah baterai, yang dikenal sebagai sumber energi yang fleksibel karena dapat dimanfaatkan di berbagai tempat dan situasi. Baterai mengandung berbagai bahan kimia yang berbahaya misalnya merkuri, mangan, timbel, nikel, litium, dan kadmium. Kebutuhan akan energi terbarukan dan teknologi penyimpanan yang ramah lingkungan sangat dibutuhkan untuk mengurangi dampak lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rasio karagenan dan PVA terbaik berdasarkan kinerja membran karagenan-PVA sebagai anode organik dalam aplikasi baterai kertas. Metode yang digunakan meliputi persiapan membran dengan variasi rasio karagenan dan PVA, karakteristik membran, daya serap air, analisis gugus fungsi, kuat tarik, konduktivitas proton dan elektrisitas baterai kertas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa membran dengan rasio 3:1 memberikan hasil terbaik dengan konduktivitas proton tertinggi sebesar 9,310-6 S/cm, daya serap air sebesar 93,91%, arus listrik tertinggi sebesar 0,008±0,001 mA, tegangan listrik tertinggi sebesar 0,24±0,02 V dan daya listrik tertinggi sebesar 0,0019±0,0004 mW. Hasil spektrum FTIR dari membran karagenan-PVA menunjukkan tidak terjadi reaksi kimia atau pembentukan gugus baru. Karagenan-PVA berpotensi menjadi bahan baterai fleksibel yang ramah lingkungan.Electrical energy plays an important role in human life and has become a major necessity for daily activities. One of the most commonly used sources of electrical energy is batteries, which are known as flexible energy sources because they can be utilized in various places and situations. However, batteries contain various hazardous chemicals, such as mercury, manganese, lead, nickel, lithium, and cadmium. Renewable energy and environmentally friendly storage technologies are urgently needed to reduce environmental impacts. This study aimed to determine the best ratio of carrageenan and PVA based on the performance of a carrageenan-PVA membrane as an organic anode in paper battery applications. The methods used included membrane preparation with varying ratios of carrageenan and PVA, membrane characteristics, air absorption, functional group analysis, tensile strength, proton conductivity, and electrical properties of paper batteries. The results of the study showed that the membrane with a ratio of 3:1 gave the best results, with the highest proton conductivity of 9.310-6 S/cm, air absorption of 93.91%, the highest electric current of 0.008±0.001 mA, the highest electric voltage of 0.24±0.02 V and the highest electric power of 0.0019±0.0004 mW. The FTIR spectrum of the carrageenan-PVA membrane showed no chemical reaction or the formation of new groups. Carrageenan-PVA has the potential to be an environmentally friendly, flexible battery material
Isolasi klorofil a dan analisis aktivitas antioksidan dari mikroalga C. vulgaris: Isolation of chlorophyll a and analysis of antioxidant activity from microalgae C. vulgaris
Klorofil adalah pigmen hijau yang ditemukan dalam membran tilakoid yang terdiri atas klorofil a, b, c, d, dan e, yang bermanfaat sebagai antioksidan, antiinflamasi, antimutagenik, dan antikanker. Penggunaan klorofil dari mikroalga belum banyak dieksplorasi dibandingkan dengan klorofil dari tanaman darat. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan menentukan aktivitas antioksidan klorofil a dari mikroalga C.vulgaris. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen laboratorium, dengan tahapan ekstraksi mikroalga C. vulgaris menggunakan pelarut etanol 96%, fraksinasi crude ekstrak C. vulgaris dengan n-heksana, identifikasi klorofil dan penentuan eluen terbaik untuk isolasi KLT, isolasi fraksi untuk memperoleh pigmen klorofil selanjutnya diuji KLT, kadar total klorofil dan aktivitas antioksidan. Hasil pengujian meliputi uji rendemen, kromatografi lapis tipis (KLT), kadar total klorofil, dan uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klorofil a dapat diisolasi melalui ekstraksi menggunakan etanol 96%, fraksinasi dengan n-heksana, dan pemurnian dengan kromatografi kolom menggunakan pelarut petroleum eter (7:3). Nilai IC50 dari klorofil a yang dihasilkan adalah 63,99±5,46 ppm, yang termasuk dalam kategori antioksidan kuat. Temuan ini menunjukkan bahwa klorofil a dari C. vulgaris memiliki potensi sebagai sumber antioksidan alami yang efektif.Chlorophyll is a green pigment found in the thylakoid membrane, consisting of chlorophyll a, b, c, d, and e, and is beneficial as an antioxidant, anti-inflammatory, antimutagenic, and anticancer agent. The use of chlorophyll from microalgae has not been extensively explored compared with that from terrestrial plants. This study aimed to isolate and determine the antioxidant activity of chlorophyll-a from C. vulgaris. The research method used was laboratory experiments, with stages including the extraction of C. vulgaris microalgae using 96% ethanol solvent, fractionation of crude C. vulgaris extract with n-hexane, chlorophyll identification and determination of the best eluent for TLC isolation, and fraction isolation to obtain chlorophyll pigments, followed by TLC testing, total chlorophyll content, and antioxidant activity. The test results included the yield test, thin-layer chromatography (TLC), total chlorophyll content, and antioxidant activity test using the DPPH method. The research results show that chlorophyll-a can be isolated through extraction using 96% ethanol, fractionation with n-hexane, and purification by column chromatography using a petroleum ether solvent. (7:3). The IC50 value of the produced chlorophyll-a is 63.99±5.46 ppm, which falls into the category of strong antioxidants. These findings indicate that the chlorophyll-a from C. vulgaris has the potential to be an effective source of natural antioxidants
Karakteristik organoleptik dan kimia kue kering dengan penambahan daging dan tepung keong bakau (Telescopium telescopium): Organoleptic and chemistry characteristics of pastries with the addition of mangrove snail meat and powder (Telescopium telescopium)
Kue kering adalah kue berukuran kecil, renyah, tipis, datar (gepeng), memiliki rasa manis dan asin gurih. Kue kering dapat dijadikan salah satu alternatif makanan selingan yang praktis dan sehat atau bersifat fungsional apabila di dalam proses pembuatannya ditambahkan bahan yang dapat memberikan efek positif bagi kesehatan tubuh. Penambahan daging keong bakau menjadi pilihan untuk memperoleh kue kering yang bergizi dan dapat diterima oleh konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik kimia dan organoleptik terbaik dari kue kering dengan penambahan daging keong bakau (Telescopium telescopium). Perlakuan yang digunakan pada penelitian ini meliputi perlakuan tanpa penambahan daging cincang dan tepung keong bakau sebagai perlakuan kontrol (A0), penambahan daging cincang keong bakau 15% (A1), tepung keong bakau 15% (A2), campuran daging cincang keong bakau 7,5% dan tepung keong bakau 7,5% (A3). Parameter yang diamati dalama penelitian ini meliputi parameter kimia yaitu kadar air, abu, protein, lemak, karbohidrat secara by difference dan mineral kalsium. Parameter fisik yang diamati meliputi ketampakan, rasa, bau, dan tekstur. Pengolahan data dilakukan menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dengan tiga kali ulangan dan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik kimia kue kering dengan penambahan daging keong bakau menghasilkan kadar air berkisar antara 4,92-6,81%; lemak 20,7-27,68%; abu 2,4-3,06%; protein 8,46-15,46%; karbohidrat 50,6-58,3% dan mineral kalsium 0,88-6,29 ppm. Karakteristik organoleptik berkisar antara tidak suka sampai sangat suka dengan nilai tertinggi pada perlakuan penambahan daging cincang keong bakau 15% (A1). Perlakuan A1 dapat direkomendasikan sebagai perlakuan terbaik dalam pembuatan kue kering dari daging dan tepung keong bakau dari segi nilai gizi dan organoleptiknya.Pastries are small, crispy, thin, and flat cakes with a sweet and savory taste. They can be a practical and healthy alternative snack if ingredients are added during the manufacturing process to positively impact one\u27s health. The possibility exists to add mangrove snail meat to create nutritious pastries that are appealing to consumers. This study aimed to determine the optimal chemical and sensory properties of pastries containing mangrove snail meat (Telecopium telescopium). The treatments consisted of a control treatment (A0) with no addition of snail meat or flour, 15% mangrove snail minced meat (A1), 15% mangrove snail flour (A2), and a combination of 7.5% mangrove snail minced meat and 7.5% mangrove snail flour (A3). The study observed various chemical parameters, namely moisture content, ash, protein, fat, carbohydrates by difference and the mineral calcium, as well as physical parameters such as appearance, taste, smell, and texture. To process the data, we used analysis of variance (ANOVA) with three replications. If significant effects appear, we will continue with the Duncan test. The chemical composition of pastries including mangrove snail meat was analyzed, resulting in moisture contents ranging from 4.92% to 6.81%, lipid levels between 20.7% and 27.68%, ash concentrations of 2.4%-3.06%, protein levels of 8.46%-15.46%, and carbohydrate levels of 50.6%-58.3%. Additionally, mineral calcium levels ranged from 0.88 ppm to 6.29 ppm. Sensory evaluations indicated a range of preferences from dislike to really like, with the highest rating among samples containing 15% mangrove snail minced meat (treatment A1). Consequently, treatment A1 is recommended as the optimal choice based on both sensory and nutritional factors
Formulasi body lotion dari ekstrak lamun dan gonad bulu babi: Formulation of body lotion from seagrass and sea urchin gonads extracts
Inovasi body lotion pada dekade ini telah banyak dimodifikasi mengandung senyawa untuk mencegah dampak paparan sinar ultraviolet berupa radikal bebas yang berbahaya bagi kulit. Bahan alami dari laut yang berpotensi sebagai tabir surya pada body lotion adalah ekstrak lamun (Enhalus acoroides) dan gonad bulu babi (Diadema setosum). Tujuan penelitian adalah menentukan kombinasi ekstrak lamun dan gonad bulu babi terbaik sebagai sediaan body lotion berdasarkan informasi kandungan senyawa metabolit sekunder lamun sebagai bahan dasar, indeks kelayakan fisik, dan nilai sun protection factor (SPF) terbaik. Penelitian ini dilakukan dengan melihat perbedaan perbandingan lamun dan gonad bulu babi yaitu F1 (2:1), F2 (1:2), F3 (3:3) dan kontrol F0 (0:0). Analisis yang dilakukan dengan metode uji dan observasi meliputi uji fitokimia, uji organoleptik, dan uji nilai SPF sediaan secara in vitro menggunakan Spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa fitokimia yang terdeteksi pada ekstrak lamun diantaranya flavonoid, triterpenoid, saponin. Sediaan body lotion layak digunakan dengan indeks iritasi merasa tidak gatal tertinggi pada F3 sebanyak 17 panelis. Nilai SPF tertinggi yaitu F1 sebesar 12,2 sedangkan nilai terendah pada F0 sebesar 3,5 sehingga sediaan F1 berpotensi sebagai tabir surya untuk proteksi sinar UV-B maksimal.In the last decade, body lotion innovations have been modified to contain compounds to prevent the effects of exposure to ultraviolet rays in the form of free radicals that are harmful to the skin. Seagrass extracts (Enhalus acoroides) and sea urchin gonads (Diadema setosum) are natural ingredients from the sea that have the potential to be used as sunscreens. The aim of this study was to determine the best combination of seagrass extract and sea urchin gonads as a body lotion, based on information on the content of secondary metabolites as a basic ingredient, physical fitness index, and the best SPF value. This research was conducted by looking at the different ratios of seagrass and sea urchin gonads, namely F1 (2:1), F2 (1:2), F3 (3:3) and control F0 (0:0). Analyses were carried out using test and observation methods, including phytochemical tests, organoleptic tests, and in vitro SPF value tests using UV-Vis Spectrophotometry. The results showed that the phytochemical compounds detected in the seagrass extract included flavonoids, triterpenoids, and saponins. Body lotion preparations were suitable for use with the highest irritation index, feeling no itching on F3, as many as 17 panelists. The highest SPF value is F1 = 12.2, while the lowest value is at F0 = 3.5, so that the F1 preparation has potential as a sunscreen for maximum UV-B protection
Kelayakan dasar UMKM pengolahan ikan di Kecamatan Pulau Banyak, Aceh Singkil: The prerequisite program in fish processing MSME Banyak Island District, Aceh Singkil
Kualitas produk menjadi syarat penting bagi industri yang bergerak di bidang pangan, termasuk industri pada taraf usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Produk UMKM yang bermutu dapat meningkatkan kemampuan berkompetisi di pasar, seperti peningkatan jangkauan pemasaran. Penerapan mutu yang baik, diawali dengan penerapan kelayakan dasar (prasyarat program) yang meliputi Good Manufacturing Practice (GMP) dan Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP). Jenis penelitian yang dilakukan, yaitu penelitian kualitatif melalui kegiatan observasi dan penelitian eksperimen melalui pengujian di laboratorium. Tahapan penelitian terdiri dari evaluasi penerapan kelayakan dasar, tahapan kedua pengambilan sampel produk UMKM, dan tahapan ketiga, yaitu pengujian cemaran mikroorganisme. Hasil evaluasi penerapan kelayakan dasar menunjukkan UMKM 1, 2 dan 3 memperoleh tingkat penerapan C yang terdiri dari jumlah penyimpangan mayor 6, serius 3 dan kritis nihil pada UMKM 1 dan 2 serta penyimpangan mayor 6, serius 4 dan kritis nihil pada UMKM 3. UMKM 4 memperoleh tingkat penerapan D dengan jumlah penyimpangan mayor 7, serius 2 dan kritis 1. Hasil analisis cemaran mikroba parameter ALT sebanyak <2.500 koloni/g, parameter E. coli dan Salmonella negatif (-) pada keempat produk UMKM. UMKM 1, 2, 3, dan 4 memenuhi persyaratan SNI 7388:2009 pada parameter cemaran mikroba. Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan keempat UMKM belum menerapkan kelayakan dengan baik, namun cemaran mikroba pada produk yang dihasilkan di bawah ambang batas SNI.The quality of products is vital for businesses operating within the food sector, including those at the micro, small, medium enterprise (MSME) level. By creating quality products, MSME can improve their chances of success in the market through better marketing outreach. To achieve good quality, it is essential to implement a prerequisite program, which incorporates both Good Manufacturing Practices (GMP) and Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP). This study examines the implementation of the prerequisite program and the microbial contamination of fisheries products produced by MSME in Pulau Banyak District, Aceh Singkil District. The methodology employed includes qualitative research through observation and experimental research through laboratory testing. The evaluation of the prerequisite program revealed that MSME 1, 2, and 3 achieved an application level C with six major deviations. MSME 3 exhibited serious issues, whereas no critical deviations were detected in MSME 1 and 2. MSME 3 had six major deviations and four serious deviations, while MSME 1 and 2 had no necessary deviations. The four MSME attained application level D with seven major deviations, two of which were serious, and one critical. The results of the analysis on microbial contamination revealed that the total plate count (TPC) parameter was less than 2,500 colonies/g, the E. coli and Salmonella was undetectable in all four MSME products. These findings suggest that all MSME fulfill the standards established by SNI 7388:2009 for the microbial contamination parameter. Based on the findings, it can be inferred that the four MSME did not adequately implement feasibility measures. Nonetheless, the microbial contamination found in the produced goods remained within the SNI threshold
Peningkatan volume pemurnian minyak ikan tuna (Thunnus sp.) dari hasil samping pengalengan: Increased refining volume of tuna (Thunnus sp.) fish oil from canning by-products
The canned fish industry produces by-products such as low-quality fish oil with non-oil ingredients according to the International Fish Oil Standards (IFOS); therefore, purification must be carried out by neutralization and bleaching using centrifugation to obtain fish oil according to consumer needs. The results of previous research were generally limited to small scales of the quantity and quality of tuna oil, so its application to Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs) cannot be immediately adopted. This study aimed to obtain a tuna fish oil refining process that complied with IFOS standards. This study used a Completely Randomized Design (CRD) with purification volume levels (5, 7.5, and 10 L) by centrifugation at 10,000 rpm for 10 min. The test analysis included the free fatty acid (FFA) content, peroxide value (PV), p-anisidine value (p-Anv), total oxidation number (totox), clarity number, yield number, heavy metal content, and fatty acid profile. The total saturated fatty acid (SFA) content in crude tuna oil was 22.46%. Monounsaturated Fatty Acids (MUFA) accounted for 25.38%, while Polyunsaturated Fatty Acids (PUFA) accounted for 25.01%. PUFA was dominated by DHA (15.57 %), whereas EPA fatty acid content was 3.15%. The best treatment was obtained in the treatment of 10 L purification volume with oxidation parameters namely free fatty acids 0.36±0.05%, peroxide value 6.87±0.09 mEq/kg, p-anisidine value 6.28±0.1 mEq/kg; total oxidation value 20±0.29 mEq/kg, physical parameters for clarity was 91.88±0.04%, with a yield value 87±1.70%.Industri pengalengan ikan menghasilkan produk samping berupa minyak ikan yang mengandung bahan non minyak dengan mutu rendah di bawah standar IFOS (International Fish Oil Standard), sehingga perlu dilakukan pemurnian dengan netralisasi dan bleaching menggunakan sentrifugasi untuk mendapatkan minyak ikan yang sesuai dengan kebutuhan pangan. Hasil penelitian terdahulu umumnya terbatas pada skala yang kecil, kuantitas, dan kualitas minyak tuna yang dihasilkan bervariasi, sehingga penerapannya di lapangan pada Usaha Kecil Menengah (UKM) tidak dapat langsung diadopsi. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh proses pemurnian minyak ikan tuna yang sesuai dengan standar IFOS. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen rancangan acak lengkap (RAL) dengan taraf perlakuan volume pemurnian (5; 7,5; 10)L menggunakan sentrifugasi dengan kecepatan 10.000 rpm selama 10 menit. Analisis pengujian yang dilakukan meliputi kadar asam lemak bebas (FFA), nilai peroksida (PV), nilai p-anisidin (p-Anv), total oksidasi (totoks), nilai kejernihan, nilai rendemen, kandungan logam berat, dan profil asam lemak. Total asam lemak jenuh (SFA) pada minyak ikan tuna kasar sebesar 22,46%. Asam lemak tak jenuh tunggal (MUFA) yaitu 25,38%, sedangkan asam lemak tak jenuh majemuk (PUFA) yaitu 25,01%. PUFA didominasi oleh DHA yaitu 15,57%, sementara kandungan asam lemak EPA yaitu 3,15%. Perlakuan terbaik didapatkan pada perlakuan volume pemurnian 10 L dengan parameter oksidasi yakni asam lemak bebas (FFA) 0,36±0,05%, bilangan peroksida (PV) 6,87±0,09 mEq/kg, bilangan p-anisidin (p-AnV) 6,28±0,1 mEq/kg; nilai total oksidasi (totoks) 20±0,29 mEq/kg, parameter fisika yakni kejernihan 91,88±0,04%, dengan nilai rendemen yakni 87±1,70%