KONSELING RELIGI Jurnal Bimbingan Konseling Islam
Not a member yet
140 research outputs found
Sort by
URGENSI ADVERSITY QUOTIENT DALAM MEMBANGUN KELUARGA SAKINAH (PENDEKATAN KONSELING PERNIKAHAN)
Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis peran konseling perkawinan dalam penanganan problem relasi keluarga dalam membangun keluarga sakinah. Metode yang digunakan library research, dengan teknik analisis data menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa problematika relasi keluarga semakin komplek sehingga mengakibatkan ketidakharmonisan dalam keluarga. Upaya yang dapat digunakan untuk mencegah dan mengurangi problem relasi keluarga adalah melalui layanan konseling perkawinan. Konseling perkawinan diarahkan pada lima tahap orientasi yaitu memahami makna keluarga, meningkatkan kesadaran dan dinamika keluarga, komunikasi dan terapi, membangun interaksi dan relasi keluarga, penanganan problem keluarga, membina hubungan keluarga melalui gaya kelekatan keluarga. Lima orientasi ini merupakan upaya preventif mengurangi dan menangani problem relasi keluarga, selanjutnya dapat digunakan sebagai salah satu strategi membangun hubungan keluarga sakinah.Kata kunci: Konseling perkawinan, problem relasi keluarga, keluarga sakinah. COUNSELING MARRIAGE (HANDLING STRATEGY IN THE PROBLEM OF FAMILY RELATIONS TO BUILD SAKINAH FAMILY). Aim of this paper to describe and analyze the role of marriage counseling in family relations problem to establishing sakinah family. The method used library research, with qualitative descriptive techniques. The results showed that problematic family relations more complex, the effect are disharmony in the family. Efforts that can be used to prevent and reduce the problems of family relationships is through marriage counseling services. Marriage counseling directed at the five stages of the orientation is to understand the meaning of family, raise awareness and family dynamics, communication and therapy, interaction and build family relationships, establishing family problems, family relationships through family attachment style. Five of this orientation is a preventive effort to reduce and tackles the problem of family relationships can then be used as a strategy to establish harmonious family relations.Key Words: marriage counseling, family relations problem, sakinah famil
KONSELING ISLAM DALAM LINTAS BUDAYA PADA MASYARAKAT PANTURA TIMUR JAWA TENGAH
Konseling lintas budaya (cross-culture counseling) melibatkan konselor dan klien yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, maka proses konseling rawan terjadinya bias budaya yang akan mengakibatnya proses konseling berjalan kurang efektif. Konselor dituntut memiliki kepekaan budaya dan melepaskan diri dari bias-bias budaya, mengerti dan dapat mengapresiasi diversitas budaya, dan memiliki keterampilan-keterampilan yang responsif secara kultural. Konseling lintas budaya mewarisi berbagai perinsip keilmuan dari psikologi, antropologi, sosiologi, psikologi sosial dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Pelayanan konseling hakikatnya merupakan proses pemberian bantuan dengan penerapkan prinsip-prinsip psikologi. Secara praktis dalam kegiatan konseling akan terjadi hubungan antara satu dengan individu lainnya (konselor dengan klien). Dalam hal ini individu tersebut berasal dari lingkungan yang berbeda dan memiliki budayanya masing-masing. Oleh karena itu dalam proses konseling tidak dapat dihindari adanya keterkaitan unsur-unsur budaya. Keragaman budaya dapat menimbulkan konsekuensi munculnya etnosetrisme dan kesulitan komunikasi. Etnosetrisme mengacu pada adanya perasaan superior pada diri individu karena kebudayaan atau cara hidupnya yang dianutnya dianggap lebih baik. Sedangkan bahasa adalah simbol verbal dan nonverbal yang memungkinkan manusia untuk mengkomunikasikan apa yang dirasakannya dan dipikirkannya. Apabila terjadi perbedaan dalam menginterpretasikan simbol-simbol verbal dan nonverbal diantara dua orang atau lebih yang sedang berkomunikasi, maka akan timbul persoalan. Sesuai dengan fokus penelitian, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang disebut juga sebagai penelitian naturalistik. Disebut kualitatif karena sifat data yang dikumpulkan yang bercorak kualitatif, bukan kuantitatif, karena tidak menggunakan alat-alat pengukur. Disebut naturalistik, karena situasi lapangan penelitian bersifat natural atau wajar sebagaimana adanya, tanpa dimanipulasi atau diatur dengan eksperimen atau riset
TERAPI SUFISTIK UNTUK PENYEMBUHAN GANGGUAN MENTAL DAN MEWUJUDKAN PRIBADI YANG SEHAT
Setiap individu berharap memiliki kesehatan mental dan pribadi yang sehat. Ia ingin jasmani dan rohani dalam keadaan seimbang, tidak mengalami masalah yang berarti. Di era yang serba modern ini, muncul beragam masalah yang menghantui masing-masing individu, sehingga ia membutuhkan solusi atas masalah yang menimpanya. Terapi/konseling sufistik merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan untuk membantu seseorang yang mengalami gangguan mental dan pribadi yang sakit. Terapi sufistik meliputi tiga hal, yaitu: takhalli (mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela), tahalli (menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji) dan tajalli (kenyataan Tuhan). Ketiga tahapan terapi apabila dilalui dengan berkesinambungan diharapkan dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap individu yang mengalami gangguan mental.
KONSELING PERKAWINAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Problem-problem rumah tangga yang diakibatkan dari perkawinan, seperti perselingkuhan, konflik antar anggota keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, dan perceraian merupakan fenomena nyata yang ada di masyarakat. Untuk membantu mengatasi problem-problem rumah tangga tersebut, diperlukanadanya konseling perkawinan. Salah satu sumber rujukan dalam mengkaji konseling perkawinan berasal dari Al-Qur’an. Al-Qur’an dapat dijadikan sebagai sumber rujukan dalam pengembangan konseling karena di dalam Al-Qur’an banyak dibahas tentang manusia dan relasinya dengan Tuhan, antar sesama, dan dengan alam semesta. Pandangan Al-Qur’an tentang manusia yang komprehensif dapat menjadi alternatif dalam menutupi kelemahan yang ada dalam beberapa pendekatan konseling yang ada. Konseling perkawinan dalam Al-Qur’an mencakup proses pendidikan, pendampingan, pengembangan, dan pemecahan masalah perkawinan. Selanjutnya, konseling perkawinan dalam Al-Qur’an juga tidak memisahkan antara konseling keluarga, konseling individu, dan konseling perkawinan itu sendiri. Semuanya menjadi satu kesatuan dalam konseling perkawinan, diawali dari pendidikan pra nikah, proses pernikahan, pasca pernikahan, pembentukan keluarga, hingga proses perceraian (jika terjadi). Pendekatan yang digunakan Al-Qur’an dalam melaksanakan konseling perkawinan bersifat komprehensif dan multifungsional, yakni gabungan dari pendekatan premarital counseling, structured modalities, multifamily group counseling, dan marital therapy.Kata Kunci: Konseling, Perkawinan, Al-Qur’an, keluarga, dan Islam. MARRIAGE COUNSELING IN AL-QURAN PERSPECTIVE. Household problems resulting from marriage, such as infidelity, conflicts between family members, domestic violence, and divorce are a real phenomenon in society. To help overcome the problems of the household, the needed marriage counseling. One source of reference in assessing marriage counseling comes from al-Qur'an. Al-Qur'an can be used as a reference source in the development of counseling because in the Qur'an, there are a lot of discussion about people and their relationships with God, among others, and with the universe. The views of the Al-Qur’an on human being comprehensivelyand it can be an alternative to cover the weaknesses in some of the existing counseling approach. Marriage counseling in the Qur'an includes the process of education, advocacy, development, and problem solving of marital. Furthermore, marriage counseling in the Qur'an also does not separate between family counseling, individual counseling and marriage counseling itself. Everything becomes a unity in marriage counseling, begins from premarital education, the process of marriage, after marriage, the family formation, to the process of divorce (if it happens). The approach of the Qur'an in performing marriage counseling is comprehensive and multi-functional, i.e, a combination of approaches premarital counseling, structured modalities, multifamily group counseling, and marital therapy.Key words: counseling, marriage, Al-Qur’an, family, and Isla
TERAPI KONSTRUKTIF UNTUK MEMBANGUN KOMUNIKASI KELUARGA ISLAMI
Judul Penulisan jurnal ini diharapkan menjawab rumusan masalah mengenai bagaimana pengaruh terapi konstruktif untuk membangun komunikasi keluarga islami?. Berdasarkan permasalahan tersebut di atas penulisan jurnal ini menetapkan tujuan yaitu untuk mengetahui pengaruh terapi konstruktif untuk membangun komunikasi kelurga islami. Metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan. Setelah pemaparan teori yang berhubungan dengan permasalahan maka dapat disimpulkan bahwa pernikahan merupakan satu-satunya sarana untuk membina keluarga yang menghalalkan hubungan pasangan suami istri untuk memperolah keturunan. Setiap pasangan laki-laki dan perempuan melangsungkan pernikahan tentu tujuannya tidak lain adalah untuk memperolah kebahagiaan, keberkahan, dan keturunan. Namun seiring dengan dibangunnya bahtera rumah tangga, seringkali banyak problem keluarga yang muncul silih berganti. Dan terkadang permasalahan itu tidak bisa diselesaikan secara mandiri oleh kedua pasangan suami istri—mereka membutuhkan pihak lain untuk menjadi problem solver. Di sinilah terapi konstruktif dalam pernikahan diperlukan sebagai usaha untuk membantu mengentaskan kesulitan-kesulitan pasangan suami istri dalam rumah tangga mereka untuk memperoleh kebahagiaan dalam menempuh kehidupan berumah tangga. Salah satu alternatif model terapi yang digunakan dalam mewujudkan keluarga islami adalah terapi konstruktif, yaitu model terapi disandarkan pada pemahaman tentang keluarga yang tidak sekedar berkonsentrasi pada teori-teori tetapi, juga tentang cara keluarga berfungsi secara normal. Melalui terapi konstruktif seorang konselor bisa membantu konseli keluar dari permasalahan keluarga mereka.Kata Kunci: Terapi Konstruktif, Komunikasi, Keluarga Islami BUILDING ISLAMIC FAMILY COMMUNICATION THROUGH CONSTRUCTIVE THERAPHY. The title of the journal writing is expected to answer the formulation of problems about how the influence of constructive therapy to build communication Islamic family?. Based on the problems in the writing of the journal of this specifies the purpose of which is to know the influence of constructive therapy to build communication do away with the Islamic. The method that I will use in this research is the method literature. After revealing the theory that related with the problems it can be concluded that marriage is the only means to build the family which justifies the relationship of husband and wife pair permission for generations. Each couple male and female holds the marriage of course the aim is to permission of happiness, blessings, and offspring. But along with constructing the ark household, often many problems in the family that appears to surmount. And sometimes the issue could not be completed independently by the two pairs of husband and wife and they need other parties to become the problem solver. This is where the constructive therapy in a marriage is required as an effort to help alleviate the difficulties the couple of husband and wife in their household to obtain happiness in taking the life of housekeeping. One of the alternative therapy model that is used in realizing the family of Islamic law is constructive therapy, namely therapy model is predicated on the understanding of the family that is not just to concentrate on the theory of the theory but also about how the family is functioning normally. Through constructive therapy a counselor can help konseli out from the problems of their families.Key Words: constructive therapy, Communication, Islamic Famil
KETERAMPILAN KOMUNIKASI KONSELING BERBASIS AYAT ALQUR’AN DALAM LAYANAN KONSELING SUFISTIK
Tulisan ini akan membahas tentang keterampilan komunikasi konseling berbasis ayat Alqur’an sebagai solusi alternatif praktis dalam konseling sufistik. Selama ini dalam proses konseling terjadi hambatan komunikasi karena adanya kecemasan komunikasi disebabkan moral judgment antara konselor dengan konseli yang ditengarai karena adanya konseli menghindari memberi informasi yang bisa menimbulkan kritik, atau penilaian buruk terhadap pribadinya. Khusus tentang pelaksanaan konseling melalui pendekatan Islam dapat dilakukan dengan menggunakan ayat Alqur’an sebagai dasar pelaksanaan komunikasi konseling sufistik. Hasil dari pembahasan ini adalah sebagai berikut: 1) Gambaran dimensi ‘al-maqamat’ dan ‘al-ahwal’ dalam proses konseling merupakan dimensi manusia mencapai fitrah yang terdiri dari taubat, wara,’zuhud, sabar, qana’ah, ridha, tawakal, ikhlas, muqarabah, muraqabah, khawf dan rajā,’maḥabbah dan ma’rifah. Melalui pisau bedah analisis menggunakan model Skilled Helper yang digagas oleh Gerad Egan pada tataran tertentu dapat digunakan sebagai proses keterampilan komunikasi konseling berdimensi ‘al-maqamat’ dan ‘al-ahwal.’ 2) Keterampilan komunikasi konseling yang digunakan berdasarkan ayat Alqur’an keterampilan komunikasi konseling sufistik untuk mencapai ‘al-maqamat’ dan ‘al-ahwal’ adalah surah Al-Furqaan ayat 63, An-Nisa ayat 46, Al-Baqarah ayat 155, An-Nahl ayat 125 dan Ali Imran ayat 159
PROBLEM SOLVING BERBSIS KONSELING AL-QUR’AN
Studi ini meneliti tentang Problem Solving Berbasis Konseling al Qur’an. Subjek penelitian ini terdiri atas 3 orang subjek masing-masing adalah ibu rumah tangga dari latar belakang yang berbeda. Ketiga Subjek mempunyai permasalahan dan bersedia mengikuti konseling al-Qur’an. Pemilihan subjek menggunakan teknik aksidental sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Data kemudian diolah dengan menggunakan kaedah-kaedah penelitian kualitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiga subjek memberikan respon positif terhadap konseling al-Qur’an. Ketiga subjek mengakui bahwa konseling al-Qur’an memberikan solusi atas permasalahan yang mereka alami. Ini menunjukkan bahwa konseling al-Qur’an memberikan pengaruh terhadap pemecahan masalah
IMPLEMENTASI METODE SILATURAHIM DALAM BIMBINGAN KONSELING SOSIAL BERBASIS DAKWAH
Dinamika kehidupan masyarakat Bandung dewasa ini semakin kompleks, sistemik, dan cenderung mengarah semakin individualistik. Ragam permasalahan muncul membutuhkan penanganan dari para konselor sosial. Tidak terkecuali, konselor sosial yang bertugas di Kecamatan Cibiru, Kota Bandung. Beragam metode pun diuji coba untuk diterapkan dalam membina masyarakat. Salah satu metode yang mereka gunakan adalah silaturrahim. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi metode silaturrahim tersebut dalam pemberian layanan Konseling Sosial. Untuk itu, penelitian ini menggunakan metode deskriptif pendekatan naturalistik-kualitatif, penelitian ini dilakukan dalam situasi yang wajar dan alami. Temuan penelitian menunjukan bahwa metode silaturahim diimplementasikan melalui tahapan: Taaruf, Tafahum, Taawun dan Takaful. Sehingga hasil penelitian ini menawarkan salah satu metode yang dapat digunakan oleh konselor sosial, guna pengembangan masyarakat ke arah yang semakin baik, sesuai misi dakwah Islam
KONSELING PERKAWINAN Strategi Preventif Penanganan Problem Relasi Keluarga dan Membangun Hubungan Keluarga yang Sakinah
Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis peran konseling perkawinan dalam penanganan problem relasi keluarga dan membangun hubungan keluarga yang sakinah. Metode yang digunakan library research dengan teknik analisis data menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa problematika relasi keluarga semakin komplek sehingga mengakibatkan ketidakharmonisan dalam keluarga. Upaya yang dapat digunakan untuk mencegah dan mengurangi problem relasi keluarga adalah melalui layanan konseling perkawinan. Konseling perkawinan diarahkan pada lima tahap orientasi yaitu memahami makna keluarga, meningkatkan kesadaran dan dinamika keluarga, komunikasi dan terapi, membangun interaksi dan relasi keluarga, penanganan problem keluarga, membina hubungan keluarga melalui gaya kelekatan keluarga. Lima orientasi ini menjadi upaya preventif mengurangi dan menangani problem relasi keluarga, selanjutnya dapat digunakan sebagai salah satu strategi membangun hubungan keluarga yang sakinah
KESETARAAN SUAMI DAN ISTRI DALAM KELUARGA (Analisis Kesetaraan Pembagian Kerja dalam Keluarga Madura)
Penelitian ini bertujuan untuk melihat kehadiran budaya dalam kehidupan masyarakat sebagai sebuah struktur dan sistem hukum yang dipatuhi dan ditaati oleh pendukungnya. Hal ini tampak jelas hadir di tengah-tengah kehidupan masyarakat Madura. Struktur keagamaan yang berkembang di tengah-tengah kehidupan mereka menciptakan bangunan sosial yang pada akhirnya disepakati sebagai bagian hukum kebudayaan yang mengikat. Kekuatan budaya keagamaan yang terdapat di tengah-tengah kehidupan masyarakat Madura secara tidak langsung berimplikasi kepada kuatnya sandaran aturan-aturan agama yang mengikat kehidupan mereka mulai dari kehidupan berkeluarga dan bekehidupan sosial kemasyarakatan. Analisis tentang kesetaraan suami dan istri dalam keluarga pada pembagian kerja laki-laki serta perempuan madura ini didekati melalui satu pendekatan analisis antropologi-sosiologi. Analisis antropologi dirancang untuk melihat kehadiran budaya dalam masyarakat yang pada akhirnya hal itu kemudian dijadikan struktur hukum dalam kehidupan mereka. Sementara itu, pada bagian analisis sosiologi, penelitian ini mencoba mendekati, bangunan dari struktur sosial yang berjalan di masyarakat dengan keberadaan para santri, kyai, dan masyarakat biasa yang hidup di tengah-tengah kehidupan masyarakat Madura. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesetaraan kerja dalam kehidupan masyarakat Madura tampak jelas berjalan. Pemisahan pekerjaan yang mengarah kepada saling paham di antara masyarakat tampak jelas dijalankan oleh laki-laki dan perempuan Madura. Seperti halnya dalam pertanian, laki-laki Madura bertindak sebagai pembajak ladang dengan sapi-sapi peliharaan mereka, sementara kaum perempuannya bertugas untuk menanam jagung di ladang terbajak tersebut. Pada kasus nelayan Madura, kaum laki-laki Madura bertugas untuk berlayar menangkap ikan, sementara kaum perempuannya bertugas menunggu kedatangan mereka untuk selanjutnya mengolah hasil tangkapan tersebut atau memasarkannya ke pasar-pasar tradisional.Kata Kunci: Kesetaraan, Pembagian Kerja, Kyai, Pondok Pesantren. THE EQUALITY OF HUSBAND AND WIFE IN FAMILY (EQUALITY ANALYSIS OF THE DIVISION LABOR IN THE FAMILY OF MADURA). This research aim to see the representation of culture inside the life of Madurese people as they assumed it as structure and policy system that to obey and adhered supports. The phenomenon used to find and represented inside a life of Madurese people. The development of religious structure among their life built the social building as they agreed to be a kind of binding law of culture. The religious cultural system inside a life of Madurese people indirectly imply with their supports to the role of religion that binds them in their family life until their social life. The analysis of equality between husband and wife among Madurese family especially the division work between them, to be approached by anthropological analysis. The anthropological analysis built with approached to representation of culture in the middle of their life as it is implying to be law structure. Furthermore, in the sociological analysis, this research try to approach the foundation of social structure as represented with the life of boarding school student santri, kyai, and ordinary people that life inside them. This research conclude, the equality of work really represented inside a life of Madurese people. The division of work as implying the understanding of people a job to be seen and run inside Madurese people. Example of this division represent among Madurese people farming. The gentleman of Madurese people to be hijacker’s paddy with their cows, while the women of Madures people obligate to plant corn. Furthermore, on case of Madurese sailors, the gentleman of Madurese people obligate to sailing on the sea and fishing, while their wife’s to be wait their coming and then cook their fishing or sell it to the traditional market. Key Words: Equality, The Division of Work, Kyai, Boarding Schoo