KONSELING RELIGI Jurnal Bimbingan Konseling Islam
Not a member yet
140 research outputs found
Sort by
Mengikis Prasangka Terhadap Agama, Suku Dan Etnis Dengan Konsep Model Konseling Psikologi Islam
Problematika keagamaan dan sosial saat ini semakin kompleks, seperti adanya prasangka terhadap agama, suku dan etnis di masyarakat. Hal ini akan menjadi bom waktu (konflik) yang dapat meledak. Artikel ini bermaksud mendeskripsikan hasil penelitan mengenai fenomena prasangka di kalangan pelajar guna menyusun model konseling Mengikis Prasangka Berbasis Psikologi Islam (model konseling MEPRASGI). Dalam penelitian ini digunakan teknik random sampling dengan mengikutkan sebanyak 230 siswa SMA dari Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan Nasional di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Digunakan dua alat penelitian berupa skala jarak sosial dan skala stereotip untuk mengungkap prasangka secara kognitif dan afektif terhadap agama, suku dan etnis di Sulawesi Selatan. Hasil penelitian mendapatkan adanya fenomena prasangka, yaitu pada aspek kognisi terdapat kecenderungan agama tertentu mempunyai jarak sosial yang dekat terhadap suku dan etnis tertentu dan sebaliknya. Pada aspek afeksi, didapatkan orang Sulawesi Selatan secara umum mempunyai sifat positif berupa pemberani dan semangat dalam bekerja, sedangkan sifat negatif yang dominan adalah banyak bicara. Berdasar temuan itu, maka disusun konsep model konseling MEPRASGI yang dirancang untuk mengikis prasangka pada aspek psikologis terdiri dari kognitif, afektif dan psikomotor. Bukan itu saja, prasangka dapat dihilangkan dengan cara melakukan terapi tazkiyatunnufus di pusat fungsi psikis yaitu qalbu
Bimbingan dan Konseling Keagamaan Bagi Manusia Usia Lajut Dalam Islam
Penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis (1) bimbingan dan konseling keagamaan dalam Islam (2) kehidupan psikologis usia lanjut dan (3) bimbingan dan konseling keagamaan bagi usia lanjut dalam Islam. Metode penelitian penelitian ini menggunakan content analysis. Data penelitian diperoleh dari bahan-bahan yang terdokumentasi dalam bentuk buku, artikel penelitian, dan bentuk dokumen lainnya. Data dianalisis dengan teknik (1) metode berfikir deduktif, (2) metode berfikir induktif, (3) metode berfikir komparatif. Hasil penelitian menyatakan bahwa bimbingan dan konseling keagamaan dalam islam adalah upaya yang sistematis dan terencana yang dilakukan untuk memberikan pendampingan, pembimbingan dan diskusi yang komunikatif dengan klien tentang berbagai persoalan psikologis untuk menuju kehidupan pribadi yang seimbang dan bahagia dalam tuntutan islam yang berlandaskan kepada al-quran dan sunnah nabi Muhammad SAW. Manusia di usia lanjut secara fisik mengalami kemunduran kualitas kesehatannya. Pendengaran yang sudah tidak sensitif, penglihatan yang kabur dan sensitif dengan cahaya, berkurangya cairan tubuh dan kekuatan fisik yang semakin melemah. Secara psikologis, orang usia lanjut mengalami tanda-tanda kejiwaan secara umum seperti perasaan asing dengan kehidupan sosial, meningkat kesadaran keagamaanya dan takut dengan kematian. Bimbingan dan konseling keagamaan bagi usia lanjut dalam Islam adalah kegiatan yang sistematis dan terencana yang memberikan pembimbingan dan konsultasi keagamaan yang lebih mendalam kepada proses pemantapan, pertaubatan dan penyempurnaan amalan agama yang dilandasi oleh kesadaran akan kehidupan setelah kematian, yakni kehidupan alam barzah dan alam akhirat. Cara yang digunakan dalam bimbingan dan konseling dengan teori Al- hikmah, Al-Mauidhoh Hasanah , dan Al- Mujadalah
Konseling Gestalt Sebagai Upaya Kuratif Pengaruh Paham Radikalisme Di kalangan Remaja
Penelitian ini dilatar belakangi oleh pengaruh radikalisme agama di Indonesia yang semakin meningkat khususnya di kalangan remaja. Secara psikologis, remaja memiliki keingintahuan yang tinggi dan senang mencoba pengalaman baru serta identik dengan masa pencarian identitas diri. Hal ini dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk mempengaruhi remaja dengan doktrin-doktrin ideologi radikalisme. Beberapa survei membuktikan bahwa remaja banyak yang membenarkan tindakan kelompok radikal dalam mengamalkan perintah agama. Berdasarkan survei tersebut perlu adanya peran konselor khususnya di sekolah dalam memberikan pendekatan konseling sebagai upaya penanganan kasus radikalisme agama di kalangan remaja. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode deskriptif. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara dan observasi. Penelitian ini menunjukkan pendekatan konseling gestalt sebagai upaya penanganan kasus radikalisme agama di kalangan remaja. Hasil penelitian menunjukkan tahapan-tahapan konseling gestalt dalam penanganan radikalisme di kalangan remaja, yaitu: (1) the begining phase, (2) clearing the ground, (3) the existential encounter, (4) integration, (5) ending. Terdapat dua teknik konseling gestalt yang digunakan, yaitu (1) Teknik Topdog versus Underdog dan, (2) Teknik Reframing
Model of Accompaniment in Pesantren in Forming Positive Behaviors of the Santri Based on Sufistic Counseling
This paper tries to reveal and describe the mentoring model in pesantren, in shaping the santris’ positive behavior with the sufistic counseling approach. The research covers the concepts and methods of mentoring to the santris as the objects with diverse backgrounds, ages and problems. It uses the qualitative descriptive approach to search for the pricture of a counseling model based on the sufistic counseling. Through the phenomenological analysis, the result shows that the mentoring model is based on the principle of optimizing the potential knowledge and religious nature inherited in each individual santri so that it will form self-awareness to change their behavior from the negative to the positive one. The sufistic counseling which refers to mental balance focuses on efforts to influence the heart (qalb) through the dhikr activities, controlling desires (nafs) by preoccupying learning activities and reading the Quran, and improving their ability of rational and critical thinking through studies on classic Islamic books
Guidance and Counseling of Inabah Method: Building The Sufis Behavior as Life Style in Digital Era
The problems and challenges to educate the millennial muslims generations in the global and digital era are more difficult and complex. The millennial generations often to behave and have a lifestyle determined by trends on social media, even though not all of those trends are suitable with religion or national culture. Some efforts were made in order to help the younger generation to behave well which are suitable with the guidance of religion or national culture. One of the effort is Guidance and Counseling of the Inabah method by using a religious approach and it is usually done by Sufis, such as: the practice of worship, zikir (remembrance of Allah), and riyadhah. This research used a qualitative approach and descriptive method, the researcher describes the results of the research through the data collection techniques: interviews, observations, and documentation studies. The purpose is to research the guidance and counseling of the Inabah Method in building sufis behavior as a lifestyle in the digital era. Research shows that the students who have given Guidance and Counseling of the Inabah Method have better cognitive functions, a more peaceful and better mood because they find the meaning of life, have the brighter and the better perceptions, increased self-awareness, have the ability to appreciate time and life, and a variety of positive changes that greatly determine the personality and daily behavior
GESTALT PROFETIK (G-PRO) BEST PRACTICE PENDEKATAN BIMBINGAN DAN KONSELING SUFISTIK
Gestalt Profetik (G-Pro) lahir dari hasil evaluasi dan pengembangan terhadap konsep dan praktik Terapi Gestalt Frederik S. Perls. Pendekatan bimbingan dan konseling G-Pro merupakan best practice pendekatan bimbingan dan konseling sufistik dengan merekonstruksi konsep, praktik, dan media layanan bimbingan dan konseling sehingga sejalan dengan tujuan pendidikan Islam. Konsep G-Pro dikenal dengan istilah kesadaran penuh (full awareness), kontak penuh (full contact), dan dukungan penuh (full support). Praktik G-Pro menggunakan strategi bimbingan kelompok dan konseling individual. Strategi bimbingan kelompok dilakukan dalam bentuk small group untuk memberikan layanan dasar pada semua konseli sebagai awal terapi dengan menggunakan pendekatan permainan kartu SDBHSM. Permainan kartu SDBHSM adalah permainan interaktif antara konselor dan konseli yang bertujuan mendorong konseli mengalami situasi dalam kontinum kesadaran yang melemah kemudian bergeser pada kesadaran penuh dengan prinsip di sini dan sekarang. Kartu SDBHSM merupakan media G-Pro yang berisi enam slogan, yaitu: (S) siapakah anda?; (D) dari mana anda berasal?; (B) berada di mana anda saat ini?; (H) hendak kemana tujuan anda?; (S) sedang apa anda saat ini?; dan (M) manfaat apa yang anda peroleh?. Strategi konseling individual dilakukan dengan permainan dialog internal meliputi berbagai permainan dialog internal yang diadaptasi dari Terapi Gestalt Frederik S. Perls yaitu permainan dialog internal (empty chair) untuk menghadapi urusan yang belum selesai; teknik “Saya memikul tanggung jawab“; teknik ”saya memiliki suatu rahasia” dan “Bolehkah saya memberimu sebuah kalimat”; teknik bermain proyeksi; teknik pembalikan; teknik pengulangan; teknik melebih-lebihkan; teknik “bisakah anda tetap dengan perasaan ini”. Melalui pendekatan G-Pro, konseli dapat dibantu dan dibangun untuk mampu: meningkatkan kesadaran diri akan eksistensinya sebagai makhluk Allah; secara bertahap dapat mengambil hikmah dari pengalaman dan bersyukur/bersabar atas pengalaman yang telah dilalui; mengembangkan kemampuan secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan tanpa harus melanggar syariat agama Islam dan atau melanggar hak-hak orang lain; lebih sadar akan gerak hati, kecenderungan dan perasaannya; belajar bertanggung jawab pada apa yang mereka lakukan termasuk di dalamnya menerima konsekuensi dari pilihan dan perbuatannya; beralih dari dukungan dari luar meningkat menjadi didukung oleh diri sendiri dan dukungan Allah; menyadari membutuhkan orang lain dan dapat menerima pertolongan orang lain dan mampu menolong orang lain dengan berharap mendapat ridlaNya. AbstractGESTALT PROFETIK (G-PRO) BEST PRACTICE GUIDANCE AND COUNCELLING SUFISTIK APPROACH Gestalt[LD1] of Prophetic (G-Pro) was born from the results of the evaluation and development concept and practice of Frederik S. Perls Gestalt Therapy . Approach G-Pro guidance and counseling is a best practice of approach sufistik guidance and counseling by reconstruct concept, practice, and media of guidance and counseling so that it aligns with the objective of Islamic education. The concept of G-Pro is known as full awareness, full contact, and full support. G-Pro Practice uses the strategy of group guidance and individual counseling. Strategy of group guidance is in the form of a small group to provide basic service to all counselees as first therapy by using an approach SDBHSM card game. SDBHSM card game is interactive game between counselor and counselee that aims to encourage the counselee experiencing a situation in a continuum of consciousness that weakens then shifts in full awareness of the principle here and now. SDBHSM card is a G-Pro medium that contains six slogans, those are: (S) who are you ?; (D) where are you from ?; (B) where are you now ?; (H) where do you want to go ?; (S) what are you doing now?; and (M) what benefit do you get ? Individual counseling strategy used by the internal dialogue game that consists many kinds of internal dialogue games adapted from Frederik S. Perls Gestalt Therapy is a game of internal dialogue (empty chair) to deal with unfinished business; technique "I take responsibility"; technique "I have a secret" and "Can I give you a sentence"; technique of playing projections; reversal technique; technique of repetition; exaggerating technique ; technique "Can you stay with this feeling". Through the G-Pro approach, counselee can be helped and built to be able to: increase the self-awareness of the existence as a creature of God; gradually able to take lessons from the experience and grateful / patient on the experience that has been passed; develop the ability independently to meet needs without violating Islamic law or violating the rights of others; more aware of the impulse, tendency and feeling; learn to be responsible in what they do which includes accepting the consequences of their choice and action; switch from external support to be supported by themselves and the support of God; aware of the need of others and can receive help others and able to help others expecting to get His pleasure
KONSELING PERNIKAHAN BERBASIS ASMARA ( As-Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah )
Keluarga merupakan sistem sosial yang alamiah dan keluarga berfungsi membentuk aturan-aturan, komunikasi serta negosiasi diantara para anggota keluarga. Ketiga fungsi keluarga ini mempunyai sejumlah implikasi terhadap perkembangan dan keberadaan para anggota keluarga. Keluarga melakukan suatu pola interaksi yang diulang-ulang melalui partisipasi seluruh anggota keluarga. Sehingga strategi konseling pernikahan yang dibangun akan membantu terpeliharanya hubungan-hubungan keluarga harmonis As-Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah juga dituntut untuk memodifikasi pola-pola transaksi dalam memenuhi kebutuhan keluarga yang mengalami perubahan yang didambakan. Membangun Keluarga bahagia melalui pendekatan konseling pernikahan pada dasarnya merupakan upaya untuk memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan hidup baik lahir maupun batin. Keluarga dibentuk untuk memadukan rasa kasih dan sayang diantara dua makhluk berlainan jenis, yang berlanjut untuk menyebarkan rasa kasih dan sayang keibuan dan keayahan terhadap seluruh anggota keluarga. Namun apa yang didambakan, apa yang diidealkan serta apa yang seharusnya dalam kenyataan tidak senantiasa berjalan mulus sebagaimana mestinya. Kebahagiaan yang diharapkan semoga dapat diraih dari bahtera kehidupan berumah tangga dan bukan sebaliknya yang kerapkali dirasakan justru kesedihan.Kata kunci : konseling pernikahan, sakinah mawaddah wa rahmah MARRIAGE COUNSELING BASED ON AS-SAKINAH MAWADDAH WA RAHMAH. The family is the natural and social system functioning family formed the rules, communication and negotiations between members of the family. The three functions of this family has a number of implications for the development and the existence of the family members. Perform a family interaction patterns that are repeated through the participation of all members of the family. So the marriage counselling strategy built will help the nurturing harmonious family relationships, As-Sakinah, Mawaddah Wa Rahmah is also required to modify the patterns of discounted rates in meeting the needs of the family experiencing the changes longed. Build happy family through marriage counselling approach is basically an attempt to gain happiness and prosperity of life in both the physical and the spiritual sense. The family was formed to integrate the feeling of love and affection between two different kinds of creatures that continues to spread compassion and mercy motherhood and fatherhood leads to all members of the family. But what longed, what diidealkan and what should be in reality does not always run smoothly properly. The expected happiness may be achieved from the ark life housekeeping and rather an often felt thus sorrow.Key Words : marriage counselling, sakinah mawaddah wa rahma
Nilai-Nilai Sufistik dalam Pelayanan Kesehatan : Studi tehadap Husnul Khatimah Care (Hu Care) Di Rumah Sakit Nur Hidayah Bantul Yogyakarta
Pasien rawat inap merupakan mad’u berkebutuhan karena menderita penyakit tertentu yang membutuhkan perhatian tersendiri. Pasien tidak hanya membutuhkan terapi farmasi, tetapi juga terapi psikospiritual. Penelitian kualitatif deskripstif ini mencoba menguraikan tentang Hu Care (Husnul Khatimah Care) bagi pasien rawat inap di rumah sakit Nur Hidayah Bantul Yogyakarta. Hasil riset menunjukkan bahwa Hu Care merupakan Islamic Palliative Care yang dikembangkan berdasarkan teori pallitive care yaitu perawatan bagi pasien terminal yang tidak hanya mengatasi problem fisik, tetapi juga problem psikologis, sosial, spiritual dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien. Hu Care adalah perawatan yang menggabungkan teori keperawatan medis dengan ajaran Islam terutama nilai-nilai sufistik. Nilai-nilai tersebut antara lain dua kalimat syahadat, Salat, konsep sakit dalam Islam, menerima takdir, dan ruqyah. Berbagai nilai-nilai sufistik tersebut merupakan faktor yang membentuk psikologis positif pada pasien, yang pada gilirannya mampu meningkatkan imun alami dan berpengaruh mempercepat kesembuhan
PROSES KOMUNIKASI DALAM KONSELING KAJIAN ISLAM BAGI MASYARAKAT DIGITAL DI BANDUNG
Jika berbicara mengenai konseling, maka kita akan teringat pada berbagai hal yang berhubungan dengan konsultasi. Konseling bisa mencakup semua aspek dalam kehidupan manusia. Pada era ini, kecenderungan masyarakat di Indonesia dikenal dengan masyarakat digital. Hal ini menyebabkan proses komunikasi pun sebagian besar dilakukan melalui media digital. Penulis juga menemukan fenomena adanya proses komunikasi konseling mengenai kajian islam yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat di Bandung dengan cara yang berbeda. Oleh karena itu, penulis tertarik mengangkat fenomena tentang model komunikasi dalam konseling kajian islam bagi masyarakat digital di Bandung. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Hasil penelitian menggambarkan bahwa proses komunikasi dalam konseling kajian islam bagi masyarakat digital di Bandung meliputi beberapa tahapan, yaitu : (1) Adanya komunikator yang kredibel dari segi pendidikan agama islam; (2) Proses komunikasi dalam konseling kajian islam bagi masyarakat digital terjadi dalam aspek pesan verbal maupun non verbal; (3) Adanya kesepakatan untuk menggunakan media sosial Whatsapp dan LINE sebagai wadah konseling kajian islam bagi masyarakat digital di Bandung
REVITALISASI PERAN PENYULUH AGAMA DALAM FUNGSINYA SEBAGAI KONSELOR DAN PENDAMPING MASYARAKAT
Salah satu wilayah kerja konselor masyarakat adalah menjadi penyuluh agama. Profesi ini mempunyai peran yang strategis, namun selama ini penyuluh agama tidak terlalu popular di masyarakat. Tulisan ini bertujuan menawarkan perspektif baru terkait peran yang harus diambil oleh penyuluh agama. Hal itu dilakukan dengan cara mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi penyebab ketidakidealan fungsi penyuluh agama selama ini. Hasil riset menunjukan bahwa ketidakpopuleran penyuluh agama terjadi karena profesi ini bergerak di wilayah “wacana teologi” semata, bahkan perannya terkesan hanya persoalan “teknis peribadatan” yang sebenarnya sudah bisa dilakukan oleh dai-dai lokal. Untuk menjadi profesi yang bernilai bagi masyarakat, penyuluh agama tidak boleh hanya berfungsi sebagai agen informatif-edukatif yang mewujud dalam ceramah agama, namun penyuluh agama harus bisa menjadi pemungkin (enabler) dalam menyelesaikan semua persoalan masyarakat, baik masalah keagamaan ataupun non-keagama. Untuk itu penyuluh agama harus memainkan fungsinya sebagai konselor dan pendamping-advokat yang selama ini tidak banyak dijalankan. Meskipun penyuluh agama dituntut bisa menyelesaikan semua masalah masyarakat, namun ia tidak harus menyelesaikan masalah tersebut sendiri. Penyuluh agama dapat memainkan peran sebagai broker yang menghubungkan kebutuhan masyarakat berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait.