Jurnal Geofisika Eksplorasi
Not a member yet
196 research outputs found
Sort by
PETROLOGI GRANITOID KAPUR DI KOMPLEKS GRANITOID PADEAN
Batuan granitoid di Provinsi Lampung dapat ditemukan di peta geologi regional lembar Kota Agung dan Lembar Tanjungkarang. Masih sedikitnya penelitian tentang batuan granitoid Formasi Granit Kapur di Lampung mendasari penelitian ini. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi jenis batuan granitoid dan melihat komposisi mineral batuan granitoid Formasi Granit Kapur. Metode yang digunakan adalah observasi lapangan untuk deskripsi petrologi dan pengambilan sampel batuan dan dengan metode pengamatan petrografi. Dari hasil observasi lapangan didapatkan 3 jenis batuan granitoid di lokasi penelitian dengan warna, komposisi mineral dan ukuran kristal yang berbeda, 3 batuan tersebut adalah Tonalit, Granodiorit dan Monzogranit, komposisi mineral utama dari batuan granitoid di lokasi penelitian antara lain, plagioklas, potassium feldspar, kuarsa, hornblende dan biotit, dengan komposisi mineral sekunder antara lain klorit, apatit, muskovit, titanit, turmalin dan opak. Dari hasil penelitian dapat diinterpretasikan jika batuan granitoid di lokasi penelitian berasal dari satu magma yang sama dan hasil proses diferensiasi magma dimana tonalit membeku terlebih dulu dan monzogranit yang memiliki ukuran kristal paling besar dan diinterpretasikan merupakan hasil kristalisasi di tahap akhir dari pembekuan magma. Dari data kelimpahan mineral dapat diklasifikasikan jika batuan granitoid di daerah penelitian merupakan tipe KCG (K-rich and K-feldspar porphyritic Calc-alkaline Granitoids)
THE DIRECT-INVERSION DECONVOLUTION AND ITS APPLICATION IN SEISMIC DATA
Seismic traces are generated by the convolution of reflectivity and seismic wavelet. Due to limited frequency bandwidth, reflectivity can not be resolved easily. Deconvolution is a method to increase the frequency bandwidth and gives seismic data higher resolution, which makes it easier to analyze. Deconvolution is a common method in the seismic data processing. The mathematical definition of deconvolution is an inverse process of convolution, but the computation of deconvolution uses convolution in its process (Wiener deconvolution). We explained a method that is direct from the mathematical definition. We refer to it as direct-inversion deconvolution. The direct-inversion deconvolution process involves the matrix operation between seismic trace and wavelet instead of the deconvolution filter. By applying the direct-inversion deconvolution, the produced (or deconvolved) seismic trace shows a better result with higher resolution, regardless of the wavelet’s phase. Finally, we performed a phase rotation experiment, and the deconvolution result shows no seismic phase alteration. In comparison, we also perform spiking deconvolution in synthetic data experiments. This method is applied to The North Sea Volve Data Village seismic data, and more thin layers are significantly detected. Finally, it turns out that direct-inversion deconvolution gives a higher resolution to seismic data
METODE GEOBIA DALAM KLASIFIKASI ZONA GEOMORFOLOGI TERUMBU KARANG DI PULAU POMBO
Terumbu karang merupakan komponen penting dalam ekosistem pesisir, karena keanekaragaman habitat yang hidup di terumbu karang, dan juga menawarkan keuntungan bagi manusia dalam eksploitasinya. Tapi keadaan terumbu karang di dunia mengalami degradasi, sehingga diperlukan metode untuk monitoring terumbu karang dengan pembuatan informasi spasial yang cepat dan akurat. Aplikasi penginderaan jauh terbukti memiliki kemampuan untuk proses pemantauan (monitoring) daerah geomorfologi pada terumbu karang. Studi ini menerapkan metode pengklasifikasian dengan basis obyek GEOBIA (Geographic Object-Based Image Analysis) di Pulau Pombo. Metode ini dapat mengklasifikasikan terumbu karang berdasarkan objek untuk dapat dianalisis geomorfologinya. Tahapan metode ini diproses dari segmentasi citra menjadi segmen objek yang homogen sesuai dengan parameter yang ditetapkan. Hasil geomorfologi berdasarkan hasil pemetaan zona terumbu karang diklasifikasikan pada beberapa tingkatan, yakni laguna dengan luas 28,81 Ha, luas terumbu di bagian dalam adalah 71,69 Ha, luas terumbu di bagian luar adalah 30,75 Ha, puncak terumbu seluas 18,84 Ha, dan lereng terumbu seluas 18,19 Ha. Penerapan metode GEOBIA dapat dilakukan dengan cepat dan sangat baik untuk monitoring terumbu karang di perairan Indonesia dengan presentase 80%. Sebagai pengembangan riset selanjutnya, dengan data lapangan, data sekunder dan lokasi yang sama, perlu dilakukannya metode klasifikasi yang berbeda, misalnya klasifikasi tidak terbimbing dan terbimbing. Hasil masing-masing klasifikasi dibandingkan satu dengan yang lain, agar dapat diketahui kelebihan dan kekurangan setiap metode
PEMODELAN PROPERTI ELASTIK DAN ANISOTROPI PADA BATUSERPIH ORGANIK IMMATURE
Batuserpih organik merupakan salah satu reservoar non konvensional yang memiliki heterogenitas dan struktur yang kompleks. Pemodelan fisika batuan pada batu serpih organik penting dilakukan untuk mengetahui karakteristik dari reservoar tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kerogen dan mineral terhadap properti fisis dan sifat anisotropi dari batuserpih organik. Pemodelan dilakukan dengan menggunakan: teori efektif medium Kuster Toksöz untuk menggabungkan fluida dan solid pada masing-masing matriks, Self-Consistent Approximation (SCA) untuk mengetahui properti fisis dari keseluruhan batuserpih, serta Backus Average untuk menentukan parameter anisotropi dari batuserpih organik. Penelitian ini melakukan perhitungan rasio Vp/Vs, impedansi akustik, dan parameter anisotropi untuk tingkat kematangan immature dengan variasi mineral lempung serta jumlah material organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio Vp/Vs, impedansi akustik dan parameter anisotropi batuserpih sangat sensitif terhadap kandungan material organik dan variasi mineralogi. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa peningkatan kandungan material organik menurunkan rasio Vp/Vs dan impedansi akustik batuan, namun meningkatkan sifat anisotropi. Sementara itu, peningkatan kandungan mineral lempung meningkatkan rasio Vp/Vs namun menurunkan impedansi akustik, serta meningkatkan nilai parameter anisotropi
PENDUGAAN KANDUNGAN AIR DEKAT PERMUKAAN MENGGUNAKAN METODE SELF POTENTIAL DI KABUPATEN KONAWE
Pendugaan sebaran air dan pola aliran air tanah di area perkebunan kelapa sawit Kabupaten Konawe dilakukan dengan menggunakan metode Self Potential. Pengambilan data dilakukan menggunakan konfigurasi fixed-based dengan 5 lintasan. Pola kontur yang diperoleh dapat diketahui berdasarkan respons mineral bawah permukaan yang bersifat resistif dan konduktif. Gejala tingginya nilai positif dari potensial terukur secara numerik, maka tanah tersebut bersifat resistif dan sebaliknya. Pada daerah penelitian hasil interpretasi menghasilkan peta isopotensial yang menghasilkan wilayah dominan positif yang berarti resistif. Sifat konduktif yang cukup besar terlihat pada daerah barat lintasan yang diindikasikan merupakan tempat keberadaan air. Pola aliran air dari timur menuju ke arah menyesuaikan ketinggian daerah penelitian
DAMPAK MEKANIS DARI BATU LEMPUNG YANG DISEBABKAN OLEH SLAKING
Batuan sedimen khususnya batu lempung sampai saat ini belum banyak digunakan dalam dunia konstruksi sebagai pondasi dan material konstruksi terutama bangunan jalan, dan cenderung memiliki kualitas yang rendah karena kemampuan batu lempung yang jelek sebagai material konstruksi dan memiliki potensi deformasi yang sangat besar. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh fenomena slaking yang meme-ngaruhi deformasi pada batu lempung. Batu lempung yang terbentuk dari rombakan batu lainnya mengalami kompaksi dan suhu yang tinggi sehingga material tersebut menjadi padat, dan memiliki pori yang sangat kecil akibat keseragaman partikelnya. Pengujian yang dilakukan adalah analisa X-Ray Diffraction, Accelerated Slaking Test, serta One Dimensional Compression Test. Diketahui bahwa jenis mineral yang menyusun batuan Daerah Lemong berupa Dolomite, Boron Nitride, 3-Nitro-nitromethyl-1 H-1,2,4-triazole, dan Praseodymium. Berdasarkan hasil uji XRD tersebut dapat diketahui rata-rata penyusun batuan yang dijadikan sampel tersusun oleh mineral Kapur (dolomite), memiliki tekstur yang keras ketika padat. Berdasarkan penelitian ini menunjukkan bahwa jenis batu lempung Lemong mengalami deformasi yang sangat kecil, karena dipengaruhi adanya ukuran pori-pori butiran dalam partikel yang sangat kecil, sehingga peneliti mendapatkan solusi untuk mengetahui tingkat kemampuan batu lempung Lemong layak dijadikan material konstruksi
APPLICATION OF GENERALIZED DERIVATIVE OPERATOR ON BOUGUER ANOMALY FOR DETECTING GEOLOGICAL STRUCTURES
Generalized Derivative Operator (GDO) is one of the first-order derivative filters that could control the derivative’s direction by modifying the value of azimuth () and dip () parameters. This study aims to examine those GDO parameters on synthetic Bouguer anomaly and apply them to field data of the Silver Peak geothermal field to identify the geological structures. We use Python programs to conduct the GDO and other derivative operators such as horizontal gradient (HG), analytic signal amplitude (AS), as well Second Vertical Derivative (SVD) for comparison. The derivative operators are performed in the Fourier domain and spatial domain. The results from synthetic data show that GDO can amplify the response both on local and regional anomalies. Nevertheless, enhanced local and regional anomaly might be shown as the same maximum value of GDO. It appears that GDO disregard the influence of density contrast and depth variation of the anomalous body. Subsequently, anomaly enhancement of Silver Peak area shows that GDO anomaly concurred with geological map. GDO and SVD could amplify the response of geological structures such as intrusive granite, fault lineaments, and lithological contact, as well as the horst-graben structure, as mentioned in previous studies, that might be acting as fluid pathways for the Silver Peak geothermal system
ANALISIS SUHU PERMUKAAN DAN KONDISI GEOMORFOLOGI KAWASAN GEOTERMAL TEHORU MENGGUNAKAN LANDSAT-8 DAN DEM
Penelitian menggunakan citra Landsat-8 dan DEM telah dilakukan untuk analsis suhu permukaan tanah (land surface temperature/LST) dan kondisi geomorfologi kawasan geotermal Desa Tehoru. Penelitian ini dilakukan pada area dengan luasan 71,23 . Data citra Landsat-8 digunakan untuk analisis sebaran tutupan lahan dan LST. Seberan tutupan lahan diperoleh berdasakan klasifikasi nilai normalized difference vegetation index (NDVI). Data DEM digunakan untuk analisis kondisi geomorfologi daerah penelitian. Hasil analisis data menunjukkan bahwa area penelitian didominasi oleh lahan campuran dengan nilai NDVI rata-rata berkisar antara 0,302 – 0,338. Nilai LST di area penelitian berkisar antara C – C. Hasil analisis peta LST menunjukkan anomali LST tinggian lebih dominan pada kawasan permukiman. Anomali LST di sekitar titik manifestasi geotermal hanya terdeteksi sebagian kecil karena pengaruh tutupan lahan. Hasil analisis model topografi dan morfometri permukaan menunjukkan bahwa relief bergelombang dengan kemiringan lereng yang curam mendominasi daerah penelitian. Hasil analisis kelurusan geomorfologi, menunjukkan bahwa titik-titik manifestasi geotermal dominan berada pada daerah dengan tingkat kerapatan kelurusan yang tinggi. Penelitian ini secara langsung dapat memberikan informasi terkait tutupan lahan, LST, dan kondisi geomorfologi pada kawasan geotermal Desa Tehoru