Jurnal Geofisika Eksplorasi
Not a member yet
    196 research outputs found

    ANALISIS HIPSOMETRI DI ZONA SESAR SEMANGKO, LAMPUNG BARAT

    Full text link
    Sesar Semangko merupakan salah satu segmen dari Sesar Sumatra yang terletak di Lampung Barat dengan panjang 65 km, membentang dari Teluk Semangko hingga Lembah Suoh. Sesar ini adalah sesar aktif, sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa kejadian gempa dengan magnitudo Mw < 6,5. Selain kondisi litologi, keberadaan dan pergerakan Sesar Semangko memengaruhi kondisi geomorfologi di area penelitian. Seberapa tinggi tingkat keaktifan Zona Sesar Semangko mempengaruhi geomorfologi dapat diketahui melalui analisis morfometri. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan tingkat aktivitas tektonik di Zona Sesar Semangko. Parameter geomorfometri yang digunakan adalah kurva hipsometrik (HC) dan integral hipsometrik (HI). Data yang digunakan dalam perhitungan HC dan HI adalah 266 SubDAS (Daerah Aliran Sungai) di Zona Sesar Semangko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata SubDAS berada pada tahap dewasa (mature stage) berdasarkan kurva hipsometrik. Sebanyak 196 SubDAS memiliki nilai HI antara 0,4 dan 0,5, yang menunjukkan aktivitas tektonik aktif, sedangkan 74 SubDAS memiliki nilai HI ≥ 0,5. Adapun nilai rata-rata HI adalah 0,5. Hal ini mengindikasikan aktivitas tektonik yang lebih aktif. Berdasarkan temuan ini, dapat disimpulkan bahwa Zona Sesar Semangko berada dalam kondisi tektonik aktif hingga lebih aktif, menunjukkan adanya potensi risiko tektonik yang signifikan di wilayah tersebut

    IDENTIFIKASI LAPISAN BAWAH PERMUKAAN TANAH PADA DAERAH LAND APPLICATION MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK

    No full text
    Penelitian terkait identifikasi lapisan bawah permukaan pada land application di Desa Tapang Tingang telah dilakukan menggunakan metode geolistrik resistivitas jenis konfigurasi Wenner-Schlumberger. Land application menggunakan limbah cair kelapa sawit sebagai pupuk dan diaplikasikan pada tanah dengan media flatbed (parit). Pengambilan data dilakukan pada tiga lintasan dengan panjang setiap lintasan adalah 195 m. dan jarak antar elektroda yaitu 5 meter. Hasil pengolahan data menunjukan tiga buah lapisan penyusun yaitu lapisan pasir, lempung pasiran dan lapukan batuan granit. Nilai resistivitas bervariatif mulai dari nilai 3,15-1339 Ωm. Ketiga lapisan berada pada kedalaman 1,25-39,4 m pada ketiga lintasan. Pembangunan flatbed direkomendasikan di atas zona lapisan lempung pasiran dan lapukan batuan granit

    PEMETAAN KERENTANAN SEISMIK MELALUI ANALISIS MIKROTREMOR HVSR DI WILAYAH KECAMATAN KEMILING DAN SEKITARNYA

    No full text
    Wilayah Kemiling yang terletak di Kota Bandar Lampung sering kali mengalami gempa lokal dengan magnitudo kecil. Gempa ini terjadi secara berulang dan dirasakan di daerah Kemiling dan sekitarnya. Hal tersebut dapat menimbulkan kekhawatiran bagi warga dan dapat merusak bangunan. Fokus utama pada studi ini adalah untuk memahami bagaimana karakteristik tanah dan indeks kerentanan seismik di daerah tersebut. Untuk meminimalisir dampak kerusakan akibat gempa, perlu dilakukan mikrozonasi pada wilayah rawan gempa. Parameter mikrozonasi yang digunakan untuk mengetahui karakteristik tanah antara lain amplifikasi (A0), frekuensi natural (f0), indeks kerentanan seismik (Kg), periode dominan (T0), dan kecepatan gelombang geser hingga kedalaman 30 meter (VS30). Sebanyak 65 titik pengukuran mikrotremor telah diukur di Kecamatan Kemiling dan sekitarnya meliputi kota Bandar Lampung, Kecamatan Gedong Tataan, dan Kecamatan Natar. Pada penelitian ini digunakan analisis metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) dan didapatkan bahwa frekuensi natural berkisar antara 0,5-31,47 Hz, periode dominan 0,03-2,0 sekon, amplifikasi 0,76-7,67 kali penguatan, indeks kerentanan seismik 0,05-76,31, dan VS30 49,61-777,80 m/s. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah barat daya hingga utara Kemiling memiliki risiko kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya dengan tipe tanah berupa tanah lunak. Oleh karena itu, diperlukan tindakan mitigasi yang tepat, termasuk pengembangan rencana mitigasi risiko, pemantauan lanjutan, dan keterlibatan aktif masyarakat dalam perencanaan darurat

    Foreword July 2024

    No full text
    Foreword July 202

    SPATIAL AND TEMPORAL B-VALUE ANALYSIS OF THE YOGYAKARTA REGION USING EARTHQUAKE DATA 1960 – 2024

    No full text
    Yogyakarta is one of the areas in Indonesia with a high risk of earthquakes due to its proximity to the subduction zone of the Indo-Australian Plate and Eurasian Plate and the presence of active fault activity, namely the Opak fault, which generates shallow earthquakes. A total of 13 destructive earthquakes were recorded in Yogyakarta and surrounding areas from 1840 to 2023, with the most destructive earthquake occurring in 2006 in Bantul. A total of 417 earthquakes were felt in the Yogyakarta area between May 2006 and March 2016. The high earthquake activity after the 26 May 2006 earthquake indicates a stress field on the active fault segment that has not been fully released.  This study aims to analyze the seismotectonic parameter b-value spatially and temporally to determine the accumulation of tectonic stress in Yogyakarta. The method used is a frequency-magnitude distribution with Gutenberg-Richter relation and Maximum Likelihood approach. Earthquake data were obtained from ISC and BMKG catalogs, with a total of 205 events. The results show that spatially, the b-value of the Yogyakarta region is generally low with a range of values of 0.35 - 0.75 using a grid of 1.5 x 1.5 km and a radius of 15 km with low values around the Opak fault and Ngalang Fault, meaning that the area still holds a high accumulation of stress energy and has the potential for large earthquakes to occur again in the future. Temporal analysis of the b-value shows a tendency for the b-value to decrease before a large earthquake and increase afterwards, reflecting the accumulation and release of stress in the rock

    PENDUGAAN ZONA SESAR BERDASARKAN GEOLISTRIK 2D PADA ULUJADI, KOTA PALU, SULAWESI TENGAH

    No full text
    Daerah Ulujadi, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah sering mengalami gempabumi karena dilalui sesar aktif yaitu sesar Palu Koro. Hal tersebut mengakibatkan kerugian yang besar bagi penduduk setempat, sehingga diperlukan upaya mitigasi bencana gempabumi untuk masa yang akan datang. Sebagai bentuk dukungan untuk keberhasilan mitigasi tersebut dilakukanlah penelitian dengan tujuan untuk mengidentifikasi jenis lapisan batuan bawah permukaan dan menduga keberadaan zona sesar. Metode geofisika yang digunakan adalah metode Geolistrik 2D Konfigurasi Wenner sebanyak 3 lintasan. Berdasarkan hasil analisis pemodelan 2D terdapat 3 lapisan batuan bawah permukaan yang terdiri dari batupasir pada rentang 0,86 – 163 Ωm, batugamping pada rentang 164 -1.013 Ωm, dan batu konglomerat pada rentang 1.014 – 10.527 Ωm. Terdapat 3 terduga zona sesar pada lintasan 2 dan lintasan 3 yang tergolong pada sesar minor (patahan dangkal) yang termasuk jenis sesar normal dengan arah kemenerusan dominan timur laut-barat daya daerah penelitian. Hasil penelitian ini, diharapkan menambah informasi terkait zona sesar, agar upaya mitigasi bencana dapat diupayakan lebih baik.Ulujadi, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah sering mengalami gempabumi karena dilalui sesar aktif yaitu sesar Palu Koro. Hal tersebut mengakibatkan kerugian yang besar bagi penduduk setempat, sehingga diperlukan upaya mitigasi bencana gempabumi untuk masa yang akan datang. Sebagai bentuk dukungan untuk keberhasilan mitigasi tersebut dilakukanlah penelitian dengan tujuan untuk mengidentifikasi jenis lapisan batuan bawah permukaan dan menduga keberadaan zona sesar. Metode geofisika yang digunakan adalah metode Geolistrik 2D Konfigurasi Wenner  sebanyak 3 lintasan. Berdasarkan hasil analisis pemodelan 2D terdapat 3 lapisan batuan bawah permukaan yang terdiri dari batupasir pada rentang 0,86 – 163 Ωm, batugamping pada rentang 164 -1.013 Ωm, dan batu konglomerat pada rentang 1.014 – 10.527 Ωm. Terdapat 3 terduga zona sesar pada lintasan 2 dan lintasan 3 yang tergolong pada sesar minor (patahan dangkal) yang termasuk jenis sesar normal dengan arah kemenerusan dominan timur laut-barat daya daerah penelitian. Hasil penelitian ini, diharapkan menambah informasi terkait zona sesar, agar upaya mitigasi bencana dapat diupayakan lebih baik

    IDENTIFIKASI DAN KARAKTERISASI GEMPA INTRASLAB DI PULAU JAWA 2017-2021 DENGAN METODE SEGMEN IRISAN VERTIKAL (STUDI KASUS GEMPA INTRASLAB TASIKMALAYA)

    No full text
    Pulau Jawa merupakan salah satu daerah seismik aktif karena terdapat zona subduksi yang disebabkan oleh pergerakan di bagian selatan Laut Pulau Jawa, yaitu Trench Sunda sehingga sering terjadi gempabumi. Keberadaan sesar-sesar yang melintang di daerah Jawa Barat sesar di Pulau Jawa juga termasuk dalam faktor yang menyebabkan gempabumi merusak. Untuk mengidentifikasi jenis gempa, perlu dilakukan analisis berdasarkan besar magnitudo, kedalaman hiposenter, dan mekanisme fokalnya. Dengan menggunakan metode segmen irisan vertikal (vertical cross-section) dapat diketahui arah subduksi lempeng, kedalaman hiposenter, dan jarak hiposenter terhadap titik awal lintasan, serta persebaran gempabumi. Pada penelitian ini, gempa intraslab di Tasikmalaya terjadi dengan kedalaman lebih dari 60 km, yaitu 115 km dengan Mw (moment magnitude) 6,5 dan mekanisme fokal oblique strike-slip

    ANALISIS STRUKTUR GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN DI KABUPATEN SLEMAN BERDASARKAN ANOMALI DATA GRAVITASI

    No full text
    Pada kejadian gempa Yogyakarta tanggal 27 Mei 2006, Kabupaten Sleman merupakan daerah yang mengalami kerusakan terparah. Hal ini diduga disebabkan karena adanya patahan aktif Opak berarah timur laut-barat daya yang berada di selatan Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur geologi bawah permukaan di Kabupaten Sleman berdasarkan data topex. Data yang diperoleh sebanyak 235 data anomali gravitasi yang terdapat pada area dengan luas 653,157 km2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai anomali Bouguer di lokasi penelitian adalah 78 mGal - 114 mGal. Berdasarkan analisis Second Vertical Derivative (SVD) terhadap empat slice pada sebaran anomali regional terdapat lima struktur patahan, yang berupa patahan normal. Selain itu, berdasarkan pemodelan 2D, diperoleh formasi batuan bawah permukaan yang tersusun atas batuan hasil dari aktivitas Gunung Merapi, yang didominasi oleh batuan vulkanik, batu lempung, batu tuff lapili, batu pasir, batu sekis, dan diorit. Investigasi lebih mendalam terhadap lima struktur patahan yang telah teridentifikasi dapat memberikan gambaran lebih detail tentang mekanisme pergerakan patahan, potensi seismisitas, dan hubungannya dengan aktivitas patahan Opak

    Cover JGE

    No full text
    Cover JG

    PENERAPAN METODE VERTICAL ELECTRICAL SOUNDING (VES) DALAM PENENTUAN KEDALAMAN AKUIFER DI KELURAHAN SUKARAME

    No full text
    Kelurahan Sukarame di sebelah selatan kampus ITERA memiliki lahan kosong yang potensial untuk pembangunan perumahan, rumah kontrakan, dan industri. Namun, eksplorasi air tanah di daerah ini kurang banyak dilakukan, sehingga memerlukan perhatian khusus untuk dilakukan eksplorasi air tanah untuk kebutuhan pembangunan dan penduduk sekitar. Langkah penting dalam menghadapi masalah ini adalah mengetahui keberadaan akuifer untuk memperoleh sumber air tanah yang memadai. Identifikasi akuifer dilakukan menggunakan metode Vertical Electrical Sounding (VES). Dengan studi ini akan dapat menentukan jenis litologi bawah permukaan, mengetahui kedalaman lapisan akuifer dan dapat juga mengidentifikasi jenis akuifernya. Pengukuran dilakukan dengan 11 titik sounding menggunakan konfigurasi Schlumberger dengan AB/2 maksimal 100 meter. Berdasarkan nilai resistivitas, kawasan tersebut tersusun dari batu lempung tufan dengan nilai resistivitas < 20 Ωm, batu pasir tufan dengan rentang nilai resistivitas antara 20-80 Ωm, dan batu tuf dengan nilai resistivitas > 80 Ωm. Lapisan batu pasir tufan diduga merupakan lapisan dari akuifer. Pada daerah penelitian terdapat dua jenis akuifer yaitu akuifer bebas yang ditemukan pada kedalaman < 3 meter dan akuifer semi-tertekan pada kedalaman > 5 meter.Kelurahan Sukarame di sebelah selatan kampus ITERA memiliki lahan kosong yang potensial untuk pembangunan perumahan, rumah kontrakan, dan industri. Namun, eksplorasi air tanah di daerah ini kurang banyak dilakukan, sehingga memerlukan perhatian khusus agar dilakukan eksplorasi air tanah untuk kebutuhan pembangunan dan penduduk sekitar. Langkah penting dalam menghadapi masalah ini adalah mengetahui keberadaan akuifer untuk memperoleh sumber air tanah yang memadai. Dalam penelitian ini, dilakukan pengidentifikasian akuifer menggunakan metode Vertical Electrical Sounding (VES) yang diharapkan dapat menentukan jenis litologi di bawah permukaan. Kemudian menentukan  kedalaman lapisan akuifer dan mengenali jenis akuifernya. Pengukuran dilakukan di 11 titik sounding dengan menggunakan konfigurasi Schlumberger. Kemudian jarak maksimal AB/2 dibentang sejauh 100 meter. Berdasarkan nilai resistivitas hasil inversi VES, area penelitian terdiri atas lapisan lempung tufan dengan resistivitas <20 Ωm, lapisan pasir tufan memiliki resistivitas berkisar antara 20 hingga 80 Ωm, sedangkan lapisan tuf dengan nilai resistivitas > 80 Ωm. Lapisan pasir tufan diperkirakan sebagai lapisan akuifer. Dari hasil pemodelan antar titik pengukuran, teridentifikasi dua jenis akuifer yang terdapat di area penelitian. Pertama merupakan jenis  akuifer bebas yang dapat ditemukan pada kedalaman < 3 meter. Kedua merupakan jenis akuifer semi-tertekan yang dapat dijumpai pada kedalaman > 5 meter

    116

    full texts

    196

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Geofisika Eksplorasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇