MAJALAH ILMIAH GLOBE
Not a member yet
68 research outputs found
Sort by
PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM PEMBANGUNAN SISTEM KEAMANAN MARITIM INDONESIA
Indonesia dengan wilayah maritim yang luasnya lebih dari 17.509 pulau dari Sabang hingga Merauke. Wilayah Indonesia mencakup 7,81 juta km2, dengan 2,01 juta km2 di daratan, 3,1 juta km2 di lautan, dan 2,7 juta km2 di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) hal ini menjadikan tantangan besar dalam menjaga keamanan maritimnya. Sistem Informasi Geografi (SIG) menawarkan solusi penting untuk meningkatkan pengawasan dan manajemen keamanan maritim di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana SIG dapat digunakan secara efektif dalam pembangunan sistem keamanan maritim yang lebih terintegrasi dan efisien. Dengan memanfaatkan teknologi pemetaan dan analisis spasial, SIG memungkinkan pengumpulan, penyimpanan, dan analisis data geografis yang penting untuk pengawasan wilayah perairan. Penggunaan SIG dalam konteks keamanan maritim mencakup pemetaan wilayah laut, pengawasan lalu lintas kapal, identifikasi dan pemantauan titik rawan, serta penanggulangan aktivitas ilegal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SIG mampu meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pengawasan maritim dengan memberikan data yang akurat dan real-time, yang sangat diperlukan oleh stakeholders dalam pengambilan keputusan strategis. Selain itu, implementasi SIG mendukung kolaborasi antara berbagai instansi pemerintah, termasuk TNI Angkatan Laut, Badan Keamanan Laut (Bakamla), dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Namun, terdapat tantangan teknis dan logistik yang harus diatasi, seperti keterbatasan infrastruktur teknologi di daerah terpencil dan kebutuhan akan pelatihan SDM yang lebih baik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa optimalisasi penggunaan SIG dapat memainkan peran penting dalam memperkuat keamanan maritim Indonesia, memastikan kedaulatan wilayah, dan mendukung pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan. Rekomendasi mencakup pengembangan lebih lanjut dari infrastruktur SIG dan peningkatan kapasitas teknis melalui pelatihan dan kolaborasi antarinstansi
PENGGUNAAN DATA SATELIT SENTINEL-1A DALAM SOFTWARE SNAP DAN GENERAL NOAA OIL MODELING ENVIRONMENT (GNOME) UNTUK DETEKSI SEBARAN TUMPAHAN MINYAK (OIL SPILL) DI SELAT MADURA DAN LAUT JAWA (SKENARIO TUMPAHAN MINYAK : 13-20 JULI 2024).
Tumpahan minyak di laut dapat menjadi dampak serius bagi lingkungan, terutama ekosistem laut dan kehidupan masyarakat pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan dan memprediksi pergerakan tumpahan minyak di Laut Jawa dan Selat Madura menggunakan perangkat lunak General NOAA Operational Modeling Environment (GNOME). Tumpahan minyak dideteksi menggunakan citra sentinal-1A yang kemudian dikoreksi menggunakan software SNAP (Sentinel Application Platform) untuk mengetahui tumpahan minyak pada citra yang dicirikan dengan rendahnya backscatter (hamburan sinyal radar) sehingga menghasilkan rona hitam. Rona hitam ini menjadi acuan dalam pembuatan model di GNOME. Data angin dan arus laut diintegrasikan pada GNOME mengetahui pola pergerakan tumpahan minyak di kedua wilayah tersebut. Skenario yang digunakan mencakup dua jenis minyak, yaitu fuel oil dengan volume 3000 barrel di Laut Jawa dan crude palm oil (CPO) dengan volume 7000 barrel di Selat Madura dengan periode simulasi di tanggal 13 hingga 20 Juli 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pergerakan minyak di Laut Jawa bergerak ke arah barat laut akibat pengaruh angin dan arus laut, sementara di Selat Madura, minyak bergerak dengan pola sirkular yang sebagian besar mengendap di pesisir. Selain itu, perbedaan jenis minyak mempengaruhi kecepatan pergerakan dan pola penyebaran tumpahan. Simulasi GNOME mengindikasikan bahwa tumpahan minyak di Laut Jawa dan Selat Madura tidak saling mempengaruhi. Penelitian ini memberikan wawasan penting untuk penanganan tumpahan minyak di perairan Indonesia, khususnya terkait mitigasi risiko lingkungan di wilayah laut Jawa dan Selat Madura
Kerentanan Pesisir Kawasan Wisata Mandeh, Sumatera Barat dan Upaya Pengelolaan Ketahanan Lingkungan yang Berkelanjutan: Studi Kasus Pulau Mandeh, Sumatera Barat
Kawasan Mandeh yang berada di Kabupaten Pesisir Selatan merupakan kawasan teluk yang sangat menawan, sehingga pemerintah lokal fokus pada pengembangan pariwisata. Namun, kawasan Mandeh mempunyai potensi terdampak bencana alam, sehingga manajemen pantai yang berkelanjutan sangat penting untuk diterapkan salah satunya dengan melakukan penilaian tingkat kerentanan. Penilaian tingkat kerentanan di Kawasan Mandeh memanfaatkan metode CVI dan Smartline mapping approach dengan mempertimbangkan beberapa parameter fisik yakni material pantai, paparan gelombang, bentuk daratan, fitur berm, fitur beachface, perubahan garis pantai, dan pola tata guna lahan. Hasil penilaian menunjukkan bahwa beberapa area di dalam teluk sebanyak 10% tergolong kerentanan sangat rendah, 27% kerentanan rendah, 18% kerentanan sedang, 31% kerentanan tinggi, dan 14% kerentanan sangat tinggi yang mana sebagian besar kawasan Pantai Utara Kecamatan XI Koto Tarusan didominasi oleh kerentanan tinggi. Oleh karena itu, pembangunan pelindung pantai baik secara struktur alami maupun buatan serta pembuatan regulasi regional terkait dengan pemanfaatan kawasan pesisir untuk mencegah terjadinya degradasi lingkungan dan bahaya pesisir dibutuhkan sebagai bagian dari manajemen pesisir pada area studi
ANALISIS SPASIO-TEMPORAL VARIABILITAS SUHU PERMUKAAN LAUT DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN BERDASARKAN DATA SATELIT MODIS AQUA: STUDI KASUS DI WPP 573 DAN WPP 715
Wilayah Pengelolaan Perairan (WPP) 573 akan lebih dipengaruhi oleh fenomena yang terjadi pada Samudra Hindia, sedangkan Samudra Pasifik akan lebih dominan berpengaruh terhadap karakteristik di WPP 715. Penelitian ini bertujuan untuk melihat variabilitas dan tren suhu permukaan laut (SPL) selama16 tahun (2003-2018) dengan menggunakan data satelit Aqua MODIS. Hasil penelitian menunjukkan variabilitas SPL tahunan di WPP 715 cenderung lebih hangat 0,3ºC dibandingkan dengan SPL tahunan WPP 573. Tren kenaikan suhu teridentifikasi signifikan hanya pada WPP 715 dengan besaran kemiringan 0,038 per tahun, sedangkan di WPP 573 juga terjadi kenaikan suhu dengan kemiringan sebesar 0,029 per tahun namun tidak signifikan berdasarkan perhitungan statistik. Sebaran suhu hangat tahunan secara spasial pada WPP 573 adalah selatan perairan Selat Sunda, Laut Sawu, Selat Lombok, Selat Alas, dan Laut Arafura bagian selatan, sedangkan di WPP 715 adalah Teluk Tomini, pesisir Laut Halmahera, Teluk Berau, dan Teluk Bintuni
DAMPAK PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN PADA SISTEM HIDROLOGI DI JAKARTA
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Jakarta diiringi dengan pertambahan jumlah penduduk dan pembangunan infrastruktur yang semakin padat. Tingginya tingkat pembangunan infrastruktur di Jakarta menyebabkan semakin berkurangnya tutupan vegetasi dan terganggunya fungsi alami ekosistem yang semula ada di Jakarta, seperti fungsi sistem hidrologi. Pembangunan fisik dan infrastruktur di daerah perkotaan seharusnya diimbangi dengan pengelolaan lingkungan yang seimbang sehingga dampak negatif yang timbul dapat diminimalkan. Salah satu bentuk pengelolaan lingkungan dapat dilakukan dengan pengaturan dan pemanfaatan ruang yang optimal sehingga fungsi ekosistem tetap terjaga. Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana hubungan perubahan tutupan lahan terhadap sistem hidrologi yang dilihat dari persediaan air dan fenomena banjir di Jakarta, serta menyiapkan rekomendasi untuk perencanaan ruang berbasis sistem hidrologi. Analisis dilakukan secara kuantitatif dengan bantuan Sistem Informasi Geografis, berdasarkan data sekunder dan studi literatur. Berdasarkan pengolahan citra Landsat tahun 1999-2019, tutupan lahan bervegetasi di Jakarta mengalami penurunan dari 35,5% menjadi 6,4%, sementara luas lahan terbangun terus mengalami peningkatan dari 65,5% menjadi 93,6%. Kepadatan bangunan di Jakarta menyebabkan peningkatan luas permukaan tanah yang bersifat impervious sehingga terjadi peningkatan laju aliran air permukaan dan penurunan laju aliran dasar di bawah tanah yang memicu terjadinya banjir
PEMANFAATAN CITRA PENGINDERAN JAUH MULTI-TEMPORAL UNTUK DETEKSI URBAN HEAT ISLAND (UHI) TERHADAP PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KABUPATEN BULELENG
Fenomena Urban Heat Island (UHI) sering dipengaruhi oleh kepadatan penduduk dan perubahan penggunaan lahan. Perubahan tesebut memiliki hubungan dengan peningkatan suhu permukaan (Land Surface Temperature/LST) sebagai awal terjadinya UHI. Deteksi perubahan penggunaan lahan dan suhu permukaan dilakukan dari tahun 2000, 2010, dan 2018 pada daerah Kabupaten Buleleng dan berfokus di Kecamatan Buleleng karena memiliki perubahan lahan terbangun lebih cepat dibandingkan kecamatan lain. Tujuannya untuk mengetahui bagaimana fenomena UHI itu terjadi akibat dari perubahan penggunaan lahan. Selain itu, seberapa besar peningkatan suhu permukaan selama 18 tahun khususnya di Kecamatan Buleleng dengan mengetahui kondisi sebaran dan intensitas UHI. Metode yang digunakan dalam deteksi UHI menggunakan citra penginderaan jauh multi-temporal yaitu citra Landsat 7 ETM+ dan citra Landsat 8 OLI/TIRS (The Operational Land Imager and the Thermal Infrared Scanner) sebagai data primer. Pengolahan data akan berfokus pada ekstraksi suhu permukaan dengan metode Split-Windows Algorithm Sobrino (SWA-S) untuk Landsat 8 dan metode Brightness Temperature Emissivity Correction untuk Landsat 7, kemudian Maximum Likelihood sebagai metode deteksi perubahan penggunaan lahan. Hasil pengolahan menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan memberikan dampak terhadap fenomena UHI. Perubahan penggunaan lahan dari tahun 2000 hingga 2018 terdapat peningkatan lahan terbangun di Kecamatan Buleleng dan peningkatan suhu permukan sebesar 2°-7°C dari lahan terbangun. Fenomena UHI untuk distribusi dan instensitas UHI terjadi di daerah pusat perkotaan dan kenaikan intensitas UHI sebesar 1.75°C. Kesimpulannya bahwa perubahan lahan terbangun memberikan dampak kenaikan suhu permukaan dan menyebabkan fenomena UHI
PEMETAAN JASA EKOSISTEM MANGROVE DI KAWASAN HUTAN LINDUNG PULAU RIMAU, KABUPATEN BANYUASIN, PROVINSI SUMATERA SELATAN
Ekosistem mangrove memberikan fungsi-fungsi penting bagi manusia dan lingkungan sekitar. Tujuan penelitian adalah menganalisis dan memetakan jasa ekosistem mangrove bagi masyarakat dan lingkungan. Lokasi penelitian adalah ekosistem mangrove di Kawasan Hutan Lindung Pulau Rimau, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Data primer berupa data ekologi dan sosial. Data ekologi meliputi keragaman abiotik, keanekaragaman jenis mangrove, struktur vegetasi pohon mangrove, keragaman fauna, pH substrat mangrove, dan pH air; sedangkan data sosial adalah persepsi masyarakat tentang ekosistem mangrove. Data sekunder mencakup berbagai informasi penunjang yang diperlukan, yaitu penggunaan lahan, pemetaan lahan mangrove, dan data-data lain terkait jasa ekosistem. Untuk pengambilan data sosial, populasi penelitian adalah warga Kecamatan Pulau Rimau dan Tanjung Lago yang memanfaatkan jasa ekosistem mangrove, sedangkan sampel penelitian berjumlah 60 orang, ditentukan secara random sampling. Data primer yang diperoleh dari survei lapangan disajikan dalam bentuk tabulasi, grafik, dan uraian. Analisis jasa ekosistem menggunakan Matriks Permintaaan-Penawaran jasa ekosistem bagi masyarakat, dengan menilai kapasitas ekosistem, permintaan jasa ekosistem, dan keseimbangan jasa ekosistem. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas ekosistem mempunyai relevansi sedang sampai tinggi, dan mempunyai nilai jasa yang berlebih dibandingkan dengan permintaan, artinya ekosistem dalam kondisi baik
KOMPARASI DATA DIGITAL ELEVATION MODEL (DEM) RESOLUSI MENENGAH DALAM MENGESTIMASI KETINGGIAN LAHAN DI KABUPATEN MANOKWARI PROVINSI PAPUA BARAT
Saat ini telah tersedia data Digital Elevation Model (DEM) dalam berbagai resolusi, yaitu resolusi rendah hingga resolusi tinggi. Pada umumnya data DEM tersebut memiliki akurasi yang baik dalam mengestimasi ketinggian suatu lahan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan 4 (empat) DEM resolusi menengah dalam mengestimasi ketinggian lahan di Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat yaitu; Space Shuttle Radar Topography Mission (SRTM), ASTER Global DEM, Jaxa’s Global ALOS 3D World, dan Copernicus Digital Elevation Model. Secara umum penelitian ini terdiri atas 3 (tiga) tahapan utama yaitu inventarisasi data DEM, ekstraksi nilai ketinggian dari data DEM, dan komparasi data DEM. Komparasi data dilakukan secara pixel to pixel pada 400 titik sampel yang dipilih secara acak. Disamping itu dilakukan uji T dan uji korelasi untuk mengetahui tingkat perbedaan dan korelasi data DEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Copernicus GLO-30 Digital Elevation Model memberikan nilai ketinggian lebih tinggi dibandingkan SRTM, ASTER Global Digital Elevation Model, dan Jaxa’s Global ALOS 3D World. Sedangkan Jaxa’s Global ALOS 3D World memberikan nilai ketinggian lebih rendah dibandingkan SRTM, ASTER Global Digital Elevation Model, dan Copernicus GLO-30 Digital Elevation Model. Berdasarkan uji T, terdapat perbedaan yang signifikan antara SRTM, ASTER Global Digital Elevation Model, Jaxa’s Global ALOS 3D World, dan Copernicus GLO-30 Digital Elevation Model dalam mengestimasi ketinggian lahan di Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat. Meskipun memiliki perbedaan yang signifikan, namun keempat DEM tersebut memiliki korelasi yang kuat dengan nilai koefisien korelasi rata-rata sebesar 0,96
PEMETAAN EROSI DI WILAYAH KABUPATEN SITUBONDO
Sebagian besar lahan di wilayah Kabupaten Situbondo, merupakan lahan sub-optimal kering. Prediksi erosi secara menyeluruh dan mencakup wilayah yang cukup luas diperlukan sebagai dasar perencanaan dan tindakan konservasi sumber daya lahan dan air. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengklasifikasikan Tingkat Bahaya Erosi (TBE) di wilayah Kabupaten Situbondo. Model USLE dan GIS digunakan sebagai tool utama dalam penelitian ini. Input data penelitian adalah peta digital, yang terdiri dari layer data hujan, jenis tanah, peruntukan lahan, dan data ASTER GDEM2. Adapun tahapan dalam penelitian meliputi (1) inventarisasi dan pengolahan data, (2) interpretasi faktor erosi (R, K, LS, CP), dan (3) menghitung dan mengklasifikasikan TBE. Faktor erosivitas (R) dihitung dari interpretasi data hujan tahunan. Faktor erodibilitas tanah (K) ditentukan dari analisis peta jenis tanah. Faktor panjang dan kemiringan lereng (LS) dihitung berdasarkan data ASTER GDEM2. Faktor pengelolaan tanaman dan tindakan konservasi (CP) ditentukan dari peta tata guna lahan. Peta tata guna lahan dihasilkan dari Peta Rupa Bumi Indonesia digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata laju erosi di wilayah Kabupaten Situbondo sebesar 73,37 ton/ha/tahun. Sekitar 65,60% dari luas wilayah Situbondo berada pada kelas TBE sangat ringan (0-15 ton/ha/tahun), 9,74% berada pada kelas ringan (15-60 ton/ha/tahun), 11,50% berada pada kelas sedang (60-180 ton/ha/tahun), dan 8,45% dari luas keseluruhan berada pada kelas berat (180-480 ton/ha/tahun). Hanya, sekitar 4,70% dari luas wlayah tergolong pada kelas sangat berat (>480 ton/ha/tahun).Upaya konservasi perlu direncanakan secara paralel dengan aktivitas peningkatan produktivitas lahan sub-optimal kering di wilayah Kabupaten Situbondo