MAJALAH ILMIAH GLOBE
Not a member yet
    68 research outputs found

    VARIABILITAS TINGKAT KEHIJAUAN VEGETASI BERDASARKAN ENHANCED VEGETATION INDEX SELAMA KEKERINGAN EKSTRIM TAHUN 2015 DI PULAU JAWA: (Variability of Vegetation Greenness Level based on Enhanced Vegetation Index during the 2015 Extreme Drought in Java Island)

    Get PDF
    Bencana kekeringan memiliki dampak yang sangat besar terhadap sektor pertanian dan perekonomian, sehingga pemantauan kekeringan perlu dilakukan secara berkala. Pemantauan kekeringan berbasis indeks vegetasi dari data satelit semakin berkembang dan perlu dikaji lebih lanjut khususnya untuk wilayah Indonesia. Pada tahun 2015 terjadi fenomena El Niño yang menyebabkan kondisi kekeringan ekstrim khususnya di wilayah Indonesia. Kondisi ini berpotensi untuk menjadi bahan kajian dalam pemantauan kekeringan menggunakan data penginderaan jauh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan pengkelasan Tingkat Kehijauan Vegetasi (TKV) dalam menggambarkan kondisi kekeringan, serta untuk menganalisis keterkaitan waktu terjadinya kekeringan meteorolgis dengan kekeringan pertanian. Pemantauan kondisi kekeringan dilakukan menggunakan indikator TKV. Variabilitas TKV diperoleh dari pengkelasan indeks vegetasi yaitu Enhanced Vegetation Index (EVI) dari data MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer), yang dianalisis mewakili kondisi kekeringan ekstrim yaitu pada saat El Niño tahun 2015 di Pulau Jawa dan dibandingkan dengan kondisi TKV 2019 yang mewakilli kondisi netral.  Hasil perbandingan menunjukkan bahwa TKV dapat digunakan untuk pemantauan kondisi kekeringan di suatu wilayah, dimana saat musim kemarau di kedua waktu tersebut sama-sama menunjukkan kondisi kering, namun pada tahun 2015 saat iklim ekstrim TKV menunjukkan tingkat kehijauan vegetasi yang rendah hingga sangat rendah di sebagian besar Pulau Jawa. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa rendahnya tingkat kehijauan vegetasi dapat mengindikasikan terjadinya kekeringan pertanian, dimana terdapat jeda waktu sekitar 2 bulan, dampak dari kekeringan meteorologi terhadap menurunnya kondisi tutupan vegetasi secara alami

    KLASIFIKASI HABITAT BENTIK PERAIRAN LAUT DANGKAL DI PULAU BARRANG CADDI DENGAN PENDEKATAN OBIA MENGGUNAKAN CITRA SENTINEL-2 DAN SPOT-7 DENGAN PENERAPAN ALGORITMA BAYESIAN DAN K-NEAREST NEIGHBOR: (Classification of Shallow Water Benthic Habitat in Barrang Caddi Island with OBIA Approach using Sentinel-2 and SPOT-7 Satellite Images with Bayesian and K-Nearest Neighbor Algorithm)

    Get PDF
    Penelitian terkait pemetaan habitat bentik perairan laut dangkal telah banyak dilakukan. Namun, masih terdapat beberapa lokasi penting di Indonesia yang hingga saat ini belum dilakukan pemetaan bentiknya dengan menggunakan teknologi terbaru, sehingga pembaharuan data habitat bentik masih perlu dilakukan. Algoritma-algoritma klasifikasi yang telah dikembangkan dalam pemetaan masih perlu dikaji karena setiap wilayah perairan memiliki karakteristik yang berbeda. Kajian ini bertujuan untuk menguji performa algoritma Bayesian dan K-Nearest Neighbour (K-NN) dengan pendekatan berbasis objek (Object-Based Image Analysis/OBIA) dalam mengklasifikasi habitat bentik perairan laut dangkal baik dengan dan tanpa penerapan algoritma Depth Invariant Index (DII). Penelitan ini dilaksanakan di perairan Pulau Barrang Caddi, Kepulauan Spermonde. Citra SPOT-7 dan Sentinel-2 dengan masing-masing resolusi spasial 6 x 6 m2 dan 10 x 10 m2 digunakan pada penelitian ini yang diakuisisi pada tanggal 10 Agustus 2021 dan 1 Oktober 2021. Skala segmentasi yang digunakan pada level 1 yaitu 20 dan level 2 dengan skala 10. Algoritma Bayesian dan K-NN digunakan dalam proses klasifikasi level 2. Skema klasifikasi yang digunakan yaitu sebanyak 7 kelas. Tingkat akurasi yang tertinggi pada penelitian ini dihasilkan dari algoritma Bayesian dengan menggunakan citra SPOT-7 tanpa penerapan algoritma DII yaitu sebesar 61.8%

    PEMETAAN MANGROVE MENGGUNAKAN ALGORITMA MULTIVARIATE RANDOM FOREST: Studi Kasus di Segara Anakan, Cilacap

    Get PDF
    Potensi pengembangan dan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning (ML) terus meningkat untuk dimanfaatkan dalam pemrosesan data penginderaan jauh pada periode waktu terakhir. Teknologi penginderaan jauh telah terbukti dapat diandalkan untuk mendeteksi sebaran tutupan mangrove. Salah satu metode berbasis ML yang digunakan untuk melakukan deteksi sebaran tutupan mangrove adalah metode Random Forest. Penelitian ini berfokus pada pengujian akurasi klasifikasi Random Forest dalam mengidentifikasi mangrove di Segara Anakan, Cilacap. Seluruh pemrosesan data dan analisis dilakukan menggunakan platform berbasis cloud, Google Earth Engine. Data yang digunakan yaitu citra satelit Sentinel-2A akuisisi tanggal 1 Januari - 31 Desember 2020. Metode klasifikasi menggunakan algoritma RF dengan 12 kombinasi band dan indeks yang berbeda: biru, hijau, merah, red edge, NIR, SWIR-1, SWIR-2, NDVI, MNDWI, SR, GCVI, MMRI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil klasifikasi menggunakan 12 parameter mampu mengidentifikasi mangrove dengan nilai akurasi yang tinggi (OA = 0,892; kappa = 0,782). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa MMRI menjadi parameter yang diketahui memiliki kemampuan yang paling baik dalam memisahkan objek mangrove dan non-mangrove, diikuti selanjutnya oleh SWIR-2

    MODEL SPASIAL LINGKUNGAN BUATAN KAWASAN TRANSIT-ORIENTED DEVELOPMENT (TOD) DKI JAKARTA: Studi Kasus Kawasan TOD Dukuh Atas DKI Jakarta

    Get PDF
    Transit Oriented Development (TOD) adalah sebuah konsep pengembangan kawasan perkotaan berbasis lingkungan yang menyediakan solusi menyelesaikan permasalahan lingkungan akibat tekanan pertumbuhan penduduk. Konsep TOD menjadi konsep yang populer di negara-negara maju, sehingga indikator-indikator keberhasilannya juga berkiblat pada negara maju. Namun demikian, permintaan akan konsep pengembangan kawasan perkotaan seperti TOD tidak hanya pada negara maju, melainkan juga untuk negara berkembang. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi indikator keberhasilan konsep TOD untuk negara berkembang dan mengevaluasi rencana pengembangan TOD yang ada. Studi ini dilakukan di kawasan TOD Dukuh Atas DKI Jakarta sebagai kawasan TOD yang diarahkan menjadi pusat hub internasional. Studi ini menggunakan metode sistem informasi geografis (SIG) yaitu berupa analisis overlay antara kondisi aktual dan perencanaan dari masing-masing indikator TOD. Indikator yang digunakan pada studi ini adalah jalur pejalan kaki, jalur sepeda, penggunaan lahan campuran, dan ruang terbuka hijau. Hasil studi ini menunjukkan bahwa kawasan TOD Dukuh Atas memiliki rencana jalur pejalan kaki, jalur sepeda, penggunaan lahan campuran, dan ruang terbuka hijau. Akan tetapi, kondisi aktual kawasan TOD Dukuh Atas menunjukkan bahwa jalur pejalan kaki, jalur sepeda, penggunaan lahan campuran, dan ruang terbuka hijau belum memenuhi kriteria kelayakan kawasan TOD karena belum sesuai dengan yang direncanakan. Oleh karena itu, studi ini memberikan beberapa rekomendasi pada penyempurnaan desain kawasan TOD berdasarkan indikator keberhasilan TOD di Kawasan TOD Dukuh Atas. Hal ini dikarenakan desain dan rancangan yang ada sulit untuk dilakukan mengingat kawasan TOD Dukuh Atas telah terbangun sebelumnya

    PENGAWASAN MARITIM EFEKTIF MELALUI IMPLEMENTASI AUTOMATIC IDENTIFICATION SYSTEM (AIS) UNTUK JALUR PELAYARAN SURABAYA-MAKASSAR

    Get PDF
    Pengawasan maritim yang efektif sangat penting untuk menjaga keamanan dan efisiensi jalur pelayaran, terutama di era globalisasi yang ditandai dengan meningkatnya aktivitas perdagangan internasional. Penelitian ini mengkaji efektivitas implementasi Automatic Identification System (AIS) dalam pengawasan jalur pelayaran Surabaya-Makassar, bagian dari Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II. Metode observasi digunakan untuk mengumpulkan data posisi kapal selama 24 jam melalui situs MarineTraffic dengan interval pengambilan data setiap 15 menit. Data dianalisis menggunakan metode Haversine untuk menghitung jarak antar titik di permukaan bumi berdasarkan koordinat geografis kapal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AIS memberikan informasi real-time dan menyeluruh mengenai situasi maritim, memungkinkan optimalisasi rute, peningkatan keselamatan dan keamanan pelayaran, serta peningkatan efisiensi operasional. Informasi mengenai kecepatan rata-rata kapal dan jarak tempuh penting untuk menilai efisiensi dan keselamatan pelayaran. Rata-rata kecepatan kapal KM. Gunung Dempo adalah 14 knot, dengan total jarak tempuh 757,06 km. Implementasi AIS dalam pengawasan jalur pelayaran Surabaya-Makassar memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan efisiensi dan keamanan maritim, memastikan jalur pelayaran yang lebih aman dan efisien

    ANALISIS DAYA DUKUNG LAHAN UNTUK PERMUKIMAN BERBASIS ANCAMAN BENCANA DI PULAU-PULAU KECIL : Studi Kasus di Pulau Panggang dan Pulau Pramuka, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu

    Get PDF
    Pulau-pulau kecil merupakan wilayah yang memiliki lahan terbatas namun banyak dimanfaatkan manusia sebagai tempat bermukim. Peningkatan jumlah penduduk dan ancaman bencana merupakan tantangan dalam pengelolaan pulau-pulau kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya dukung lahan untuk permukiman dan ancaman bencana di Pulau Panggang dan Pulau Pramuka. Daya dukung lahan didasarkan pada ketersediaan lahan dengan mengacu Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 17 Tahun 2016 dan sempadan pantai dengan metode buffer dari garis pantai pasang tertinggi ke arah daratan sejauh 10 m untuk Pulau Panggang, sedangkan 20 m untuk Pulau Pramuka. Kebutuhan lahan setiap individu dihitung dengan menggunakan Standar Nasional Indonesia (SNI) 03–1733:2004. Ancaman bencana gelombang ekstrim dan abrasi ditentukan berdasarkan Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 2 Tahun 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan yang tersedia untuk permukiman di Pulau Panggang dan Pulau Pramuka yaitu 5,91 ha dan 8,65 ha. Kebutuhan lahan untuk permukiman penduduk tahun 2021 Pulau Panggang dan Pulau Pramuka masing-masing 16,89 ha dan 3,64 ha. Ketersediaan potensi lahan yang dapat dimanfaatkan untuk permukiman di Pulau Panggang sudah melebihi dari kebutuhannya 10,98 ha sedangkan ketersediaan potensi lahan untuk permukiman di Pulau Pramuka 5,01 ha. Hasil perhitungan ancaman gelombang ektrim dan abrasi kawasan pesisir Pulau Panggang dan Pulau Pramuka untuk ancaman tinggi seluas 67,12%, ancaman sedang 1,55% dan ancaman rendah sebesar 31,34%. Adanya analisis kebutuhan dan ketersediaan lahan serta ancaman bencana pada pulau kecil yang dialokasikan untuk permukiman akan menjadi dasar dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang di suatu wilayah

    ANALISIS PENGARUH SUHU PERMUKAAN LAHAN TERHADAP ELEMEN IKLIM MIKRO DI SURAKARTA MENGGUNAKAN CITRA PENGINDERAAN JAUH MULTITEMPORAL

    Get PDF
    Perubahan penutup lahan seperti ekspansi lahan terbangun berpotensi untuk mengalami peningkatan suhu permukaan lahan dan perubahan elemen iklim mikro yang menyebabkan penurunan kenyamanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan data penginderaan jauh untuk memperoleh paramater penutup lahan dan suhu permukaan lahan serta mengkaji pengaruh suhu permukaan lahan terhadap elemen iklim mikro (suhu udara, kelembapan udara relatif, dan kecepatan angin). Data penginderaan jauh yang digunakan adalah citra Landsat-8 OLI/TIRS, Aqua MODIS perekaman tanggal 19 Juli 2013 dan 23 Juni 2015. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah klasifikasi Maximum Likelihood, Split Windows Algorithm (SWA), Inverse Distance Weighted (IDW), dan pengukuran di lapangan. Analisis statistik yang digunakan adalah korelasi Pearson Product Moment, regresi, Confusion Matrix, dan RMS Difference. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, data penginderaan jauh dapat digunakan untuk memperoleh informasi yang akurat untuk penutup lahan dengan akurasi 92% serta suhu permukaan lahan dengan dengan nilai RMS 5,8°C dan 4,8°C. Suhu permukaan lahan dengan suhu udara dan kelembapan udara tahun 2015 memiliki hubungan yang kuat dan siginifkan, sementara dengan kecepatan angin memiliki hubungan yang rendah dan tidak signifikan. Selain itu, hubungan pada tahun 2013 lebih rendah dibandingkan tahun 2015

    PEMETAAN DISTRIBUSI SPASIAL PADANG LAMUN MENGGUNAKAN CITRA SATELIT SENTINEL-2A DI DESA BATU LUNGUN KECAMATAN NASAL KABUPATEN KAUR

    Get PDF
    Lamun merupakan tumbuhan tingkat tinggi (Anthophyta) yang tumbuh subur dilingkungan laut. Lamun di lingkungan perairan juga berfungsi sebagai habitat dan sumber makanan bagi berbagai jenis hewan, termasuk ikan, burung dan invertebrata. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemetaan distribusi spasial lamun dan menghitung tingkat akurasi dengan data citra Sentinel-2A di Desa Batu Lungun Kecamatan Nasal Kabupaten Kaur. Pengambilan data lapangan dilakukan secara systematic random sampling. Data diambil dengan metode Underwater Photo Transect (UPT) yang dilakukan di 138 titik dengan bantuan transek kuadrat berukuran 10 x 10 meter dengan jarak antar transek ±20 meter. Foto hasil survei lapang dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak CPCE (Coral Point Count with Excel Extensions). Berdasarkan hasil pengamatan di perairan Pantai Batu Lungun ditemukan 2 jenis lamun yaitu jenis Thallasia hemprichii dan Cymodocea rotundata. Luasan tutupan lamun jarang dengan kondisi tutupan lamun buruk sebesar 1,40 ha (12%), luas tutupan lamun sedang dengan kondisi sedang sebesar 2,76 ha (24%), luas tutupan lamun padat dengan kondisi baik sebesar 4,43 ha (39%) dan luas tutupan lamun sangat padat dengan kondisi sangat baik sebesar 2,82 ha (25%). Tingkat akurasi secara keseluruhan yaitu (Overall Accuration) yaitu sebesar 61,53 %

    ANTESEDEN INTENSI UNTUK MENGADOPSI APLIKASI PEMETAAN PARTISIPATIF PETAKITA DI INDONESIA

    Get PDF
    Adopsi dan penggunaan aplikasi berbasis Sistem Informasi Geospasial (SIG) tidak hanya bergantung pada aspek teknis dan kecanggihan teknologi, tetapi juga pada sejauh mana aplikasi tersebut mampu menjawab kebutuhan publik serta aspek sosial dan psikologi pengguna seperti risiko yang dirasakan, harapan, kepercayaan, dukungan, dan keterlibatan publik. Tanpa itu, upaya pemerintah dalam memanfaatkan teknologi geospasial untuk kepentingan publik akan dihadapkan berbagai hambatan. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana Badan Informasi Geospasial (BIG) sebagai penyedia data menjalankan eGovernment. Secara khusus, untuk menggambarkan faktor-faktor yang memengaruhi niat perilaku adopsi dalam menggunakan aplikasi dalam pemetaan partisipatif berbasis SIG dengan mengambil kasus pada Aplikasi PetaKita. Penelitian ini memodifikasi Unified Model of Electronic Government Adoption (UMEGA) dengan menambahkan variabel Trust in Government Agency (TIA), Trust in Government Technology (TIT), dan Trust in Government Data (TID). Dari sampel bersih sebanyak 130 dengan unit analisis pemilik akun Single Sign On (SSO) InaGeoportal, data ini kemudian diolah dengan metode SEM-PLS melalui software SmartPLS3. Hasilnya, Intensi Penggunaan aplikasi PetaKita dari BIG dipengaruhi oleh faktor Attitude dan TIT. Kemudian Attitude dipengaruhi secara signifikan oleh TIA, dan TIT. Selain itu, Facilitating Conditions berpengaruh signifikan terhadap Effort Expectancy. Meskipun factor Performance Expectancy, Effort Expectancy, Facilitating Conditions terhadap Behavioral Intention, Perceived Risk, TIA terhadap Behavioral Intention, dan TIT terhadap Attitude tidak berpengaruh signifikan. Temuan ini memberikan wawasan untuk meningkatkan adopsi aplikasi e-Government, serta merancang strategi komunikasi publik yang efektif, melalui aplikasi yang diterima oleh masyarakat dalam meningkatan kepercayaan, dukungan, dan keterlibatan publik pada kebijakan pemerinta

    55

    full texts

    68

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    MAJALAH ILMIAH GLOBE
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇