Indonesian Institute of Sciences

perpustakaan.krbogor.lipi.go.id
Not a member yet
    429 research outputs found

    Usulan Kegiatan Eksplorasi Flora Kalimantan Timur

    No full text
    3 hal

    Laporan Eksplorasi Flora Nusantara Cagar Alam Gunung Tilu Kabupaten Bandung - Jawa Barat (14 - 29 Agustus 2002)

    No full text
    Eksplorasi anggrek di kawasan cagar alam gunung tilu merupakan kegiatan eksplorasi flora nusantara, khususnya eksplorasi anggrek di jawa. adapun kawasan yang dijelajahi meliputi 3 desa yaitu: desa Sugih Mukti, Tenjo Laya, dan Mekar Sari.Kawasan Cagar Alam Gunung Tilu ini merupakan hutan alam yang terdiri dari 3 resort yaitu: Resort Konservasi Mandala, Resort Konservasi Gambung, dan Resort Pangalengan.Populasi anggrek yang mendominasi di Cagar Alam Gunung Tilu terutama resort Mandala dan Pangalengan adalah: Bulbophyllum odoratum (Blume) Lindl, Paphioprdilum javanicum (Reinw. ex Lindl) Pfitzer, Coelogyne miniata (Blume) Lindl, Eria javanica (Sw.) Blume.Sedangkan resort Gambung terutama di kaki gunung adalah Vanda tricolor Lindl. Dari 105 nomor koleksi yang di peroleh 4 nomor diantaranya merupakan koleksi baru di Kebun Raya Bogor yaitu: Cymbindium roseum J. J. Smith dan Eria sp. Yang sangat dikhawatirkan adalah jenis Vanda tricolor yang sangat susah ditemukan di resort Mandala, padahal sepanjang jalan menuju kawasan hampir setiap rumah menanam jenis ini. Hal ini karena tanaman Vanda tricolor sudah merupakan perburuan untuk keperluan pribadi atau diperjual belikan. Yang sangat diharapkan ialah kegiatan penanaman kembali jenis Vanda tricolor di Kawasan Cagar Alam Gunung Tilu.v, 25 Hal

    Laporan Eksplorasi Flora Nusantara di Kawasan Hutan Lindung Pulau Belitung (17 Juni - 7 Juli 2002)

    No full text
    SUMMARYKebun Raya Bogor exploration team has been conducted in Belitung Island, Bangka Belitung Province from 17 June - 7 July 2002. The island is the second biggest part of the new Province of Indonesia after Bangka, which occupied 67.622 ha protected forest and 115.165 ha productive forest. There are some endemic flora and fauna are occured in this province.The aims of flora exploration are collection, inventorry and observation of flora in some forest areas in Belitung island. These are parallel to Global Strategy for plant Conservation which has been declared at Grand Canaria in February 2002, which is mentioned 60% of threatened species must be collected in ex-situ conservation area.Renggiang Protected Forest, and Gunung Tajam Protected Fores are the location where exploration be conducted. There are several habitats in Renggiang area such as lowland mix forest, swamp forest, and savannah.Observation have been carried out in these areas, particularly in savannah where Nepenthes spp. and Drocera burmanii are life. Renggiang resort is located 90 Km from eastern of Tanjung Pandan City or is about 90 minute by car. Burung Mandi forest is located nearby Burung Mandi Beach, Manggar district, is about 120 km from Tanjung Pandan City. The Beach forest of Burung Mandi is hilly and warm climate. A species of terestrial orchid Spathoglottis olicata, is found in this area. Gunung Tajam is located more or less 30 km from Tanjung Pandan or is about 90 km from Manggar district. There are beutiful scene and fantastic water fall, where some particular plants species could be found.The following tables are showing result of collection, inventory and observation of selected flora in Belitung Island.The number of plants have been collected from forest protected areas in Belitung Island is 105 collection numbers, consisits of 40 families and 44 genera. Myrtaceae, Clusiaceae, and Araceae are the three familes which have species collected more than the others.Myrtaceae resprested by 12 genera, Clusiaceae represted by 11 genera, and Areceae represpented by 10 genera. Not all species are collected. The criteria of collection sre based on endemic species, endanger species or have hight potential as ornamental plants and medical plants.Some wild medicinal species are found in Belitung. It is suprised that Eurycoma longifolia is very abundant in renggiang and Gunung Tajam Protected forest. It also could be found Callophyllum lanigerum which has anti-HIV substance. Some of medicinal species are listed as endangered or rare species such as Arcangelicia flava, Aquilaria malaccensis, Cinnamomum sp., and Morinda citrifolia are available in the forest.Most of araceae, Araceae, Araceae and Zingiberaceae have potential as ornamental plants such as from genera alocasia, Homalomena (Araceae) , Korthalsia, Areca, Pinanga, (Areceae) and Alpinia (Zingiberaceae). It is also found 4 species of Nepenthes (Pitcher plant) and one Drocera burmanni in Renggiang Forest. Ixora sp which has white flower is also abundant in the forest.Some species have potential as fruit plants such as Mangifera sp., Syzygium sp. and Eleiodoxa conferta. These species occurred in Belitung. Kelubi (Eleiodoxa conferta) is special fruit from Renggiang swamp Forest, it is possible to promote as excellent fruit of Belitung.All of materials (seedling,seed,and cutting) were sent to Kebun Raya nursery in Bogor.The materials collection is not only living speciment but also herbarium speciment. The acclimatisation of living specimens is always observed by the team. RINGKASANPulau Belitung adalah salah satu kabupaten yang terletak di kawasan propinsi baru Bangka-Belitung. Pulau ini cukup luas dengan lahanya yang banyak tak termanfaatkan dan dicirikan dengan tanah yang kering , walaupun demikian di beberapa kawasan berhutanya terdapat banyak potensi tumbuhan baik sebagai tumbuhan endemik maupun berpotensi dalam menunjang perekonomian setempat. Luas total pulau Belitung adalah 480.000 ha dimana 182.787 ha diantaranya dikategorikan sebagai kawasan hutan, yaitu hutan lindung 67.622 ha dan hutan produksi 115.165 ha.x, 31 hal

    Laporan Eksplorasi Flora Nusantara Kawasan Cagar Alam Tinombela Sulawesi Tengah

    No full text
    Kawasan Cagar Alam Tinombala Di Sulawesi Tengah Merupakan Kawasan Yang kaya Akan Flora Khas Sulawesi Dan Memiliki Jenis Flora Yang Berpotensi. Luas Kawasan Ini Berdasarkan SK Menteri Kehutanan 50/Kbpts-VII/1987 Adalah +_ 37.106,12 ha . Kondisi Tanah Kering, Berpasir Dan Berbatu - batu Dengan Kelembaban 20-55%. Jenis Pohon Yang Banyak Dijumpai Adalah Polyalthia Spp.( Annonaceae) Dan Aglaia Spp. (Meliaceae). Jenis Tumbuhan Yang Berpotensi Sebagai Bahan Industri Atau Kayu Di kawasan Ini Antara Lain Adalah Rotan Tohiti (Calamus Inops Becc), Rotan Umbul (Calamus symphisypus Becc.) , Rotan Susu ( Daemonorops robusta) , Rotan Lambang (Calamus Ornatus BI. Var. Celebicus Becc.), Binong (Homalanthus Sp .), Bayur ( Pterospermum Celebicum ) , Dan Kembang ( Trema Sp .) .Dijumpai Pula Pohon Gaharu ( Aquilaria Sp .) Yang Banyak Dicari Oleh Penduduk Karena Harganya Mahal .Tumbuhan Berpotensi Hias Antara Lain Jenis Jenis Anggrek (Orchidaceae ) Seperti Ascocentrum Miniatum Yang Banyak Tumbuh Di Daerah Yang Sudah Terbuka, Begonia Spp. (Begoniaceae), Alocasia Sp. (Araceae ) Dan Hoya Spp. ( Asclepiadaceae ) . Tidak Banyak Informasi Potensi Flora Yang Dapat Diperoleh Dari Penduduk lokal Karena Tidak Ada Suku Asli Di Kawasan CA Tinombala . Sebagian Besar Pendududk Yang Ada Di Desa Sekitar Kawasan Adalah Transmigran Dari Jawa Barat , Jawa Tengah , Jawa Timur Dan Bali Yang Sudah Bermukim Sejak Sekitar Tahun 1967. Kondisi Desa Umumnya Sangat Baik Dan Perekonomiannya Cukup Maju Terlihat dari Tersedia Fasilitas Umum Seperti Sekolah, Sarana Transportasi , Listrik Dan Telepon . Tingkat Keterancaman Flora Di kawasan CA Alam Tinombala Sangat Karena Pembukaan Lahan Hutan Oleh Penduduk Sekitar Untuk Dikonversi Menjadi Kebun Coklat Atau Kopi Cukup Intensif . Selama Ini Hasil Pertanian Coklat Atau Kopi Mempunyai Cukup Baik Di Pasaran Sehingga Mendorong Masyarakat Untuk Memperluas Lahan Pertanian Dengan Membuka Hutan Di Kawasan Tanapa Menyadari Bahwa Kawasan CA Tinombala Adalah Kawasan Konservasi .41 hal

    Laporan Eksplorasi Flora Nusantara : Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon Banten

    No full text
    iv. 21 hal

    Laporan Eksplorasi Flora Nusantara Kawasan Gunung Lawu Jawa Timur

    No full text
    23 hal

    Laporan Eksplorasi Flora Nusantara: Kawasan Pegunungan Cakrabuna Kabupaten Sumedang Jawa Barat ( 15 - 30 April 2002 )

    No full text
    Eksplorasi anggrek di kawasan Cakrabuana merupakan rangkaian kegiatan dari eksplorasi flora nusantara khususnya eksplorasi anggrek di Jawa. Kawasan yang dijelajahi meliputi 4 desa yaitu Cilengkrang, Sukajadi, Cimungkal, dan Ganjaresik. Hutannya terbagi menjadi dua kawasan yaitu hutan lindung dan hutan produksi. Hutan lindung merupakan hutan primer dan sekunder. Dalam hutan primer inilah banyak ditemukan koleksi anggrek yang cukup beragam. Sementara dalamhutan sekunder jarang ditemukan populasi anggrek. Populasi anggrek yang mendominasi pegununganCakrabuana adalah Paphiopedilum javanicum, Vanda tricolo, Nephelaphyllum pulchrum, Eria javanica, dan Phaius flavus. Dari 52 nomor kolekso yang diperoleh 3 nomor diantaranya merupakan koeksi baru bagi Kebun Raya Bogor adalah Dendrobiun erosum, Corybas pictus, dan Corybas Umbrosus. Sementara jenis endemik Jawa yang diperoleh adalah Anoectochilus setaceus.Hal yang sangat memprihatinkan adalahtidak ditemukannya jenis-jenis tertentu yang hampir punah atau bernilai ekonomi tinggi seperti anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis) yang dikabarkan beberapa tahun lalu populasinya cukup banyak. Hal tersebut disebabkan oleh perburuan masyarakat untuk keprluan pribadi atau diperjualbelikan. Keberadaannya bisa diharapkan apabila dilakukan kegiatan penanaman kembali dikawasan Cakrabuana.v, 28 Hal

    Eksplorasi Anggrek di Gunung Lawu-Jawa Timur

    No full text
    18 hal

    Laporan Eksplorasi Flora Nusantara: Inventarisasi dan Study Ekology Pakis Pohon Cyathea Contaminans dan Dicksonia Blumei di Hutan Gunung Gede, Jawa Barat

    No full text
    Kegiatan eksplorasi yang dilaksanakan di Gunung Gede, kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dilaksanakan pada 17 - 27 Juni 2002. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengetahui penyebaran, kelimpahan, dan ekologi C. contaminans dan D. blumei di hutan G. Gede guna mendapatkan perkiraan populasinya. Selain itu, mengumpulkan sporanya untuk penelitian lebih lanjut dengan teknik penanaman budidaya. Pengamatan terhadap penyebaran dan kelimpahan C. contaminans dan D. blumei di lakukan dengan metode pencarian acak dan petak acak. Sedangkan untuk mengetahui ekologi atau hubungan kehidupan organisme (C. contaminans dan D. blumei) dengan lingkungannya, maka dilakukan pengamatan ketinggian tempat, habitat, pH tanah, kelembapan tanah, suhu udara, kelembapan udara, intensitas cahaya matahari dan asosiasi dengan tumbuhan lain. C. contaminans tumbuh di Hutan G. Gede pada ketinggian di bawah 2170 m dpl terutama melimpah di trail panyancangan (1600 m dpl) hingga air terjun (1700 m dpl). D. blumei tumbuh pada ketinggian 2170 m dpl (air panas) sampai dengan 2700 m dpl (simpang kawah wadon). Di simpang kawah wadon D. blumei banyak ditemui dalam ukuran dibawah 1 m terutama pada parit-parit (tempat aliran air jika hujan). Berdasarkan data hasil pengamatan, ternyata C. contaminans lebih sering ditemukan di hutan jalur air terjun di bandingkan dengan hutan lainnya dengan frekuensu 0.7, artinya dari 100 buah plot pengamatan dapat ditemukan C. contaminans sebanyak 70 plot. D. blumei muda lebih sering ditemukan di hutan simpang kawah wadon (frekuensi 0.50) sedangkan yang dewasa lebih banyak ditemukan di sekitar kandang batu dengan frekuensi 0.3. C. contaminans tumbuh pada pH 5.6 - 6.9 sedangkan D. blumei pada pH. 4.0 - 9.9. Habitat kedua paku pohon ini adalah disekitar ailiran air seperti tepi sungai, tepi air terjun dan tepi air panas atau parit kering tempat aliran air hujan. Hal ini karena spora mampu berkecambah jika ada air. C. contaminan dan D. blumei dikoleksi dalam bentuk spora, kemudian disemai pada media semai humus bambu, mos kadaka, lu7mpur dan cacahan pakis untuk diketahui media semai terbaik dalam pertumbuhan paku tersebut. Bibit hasil semaian direncanakan akan ditanam kembali dihabitat asalnya supaya keberadaan tumbuhan ini tetap lestari di alam. Tumbuhan paku pohon berasosiasi dengan pohon dan semak atau perdu. Asosiasi ini menimbulkan persaingan dalam menggunaka cahaya matahari dan penyerapan nutrisi oleh akar. Persaingan tersebut bisa bermanfaat dan bisa juga merugikan, pengaruhnya tidak di amati.vii, 28 hal

    0

    full texts

    429

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    perpustakaan.krbogor.lipi.go.id
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇