429 research outputs found
Sort by
Laporan Eksplorasi Flora Nusantara: Proyek pelestarian, penelitian dan pengembangan flora Indonesia Taman Nasional Gunung Halimun 2004
Telah dilakukan kegiatan pengumpulan material tumbuhan dan data ekologi dalam rangka perbanyakan tanaman kritis koleksi Kebun Raya Cibodas untuk peningkatan koleksi dan rehabilitasi selama sepuluh hari di tiga kawasan Tanaman Nasional Gunung Halimun, yaitu Gunung Botol, Cirangkong dan Cikeris. Dari ketiga kawasan tersebut didapatkan 12 jenis tanaman target. Quercus acuminatissima (Blume) A.DC merupakan tumbuhan target yang ditemukan di setiap kawasan dengan nilai penting yang cukup tinggi.Bahasa Inggris:Plants and ecological data collection have been conducted in three location of Gunung Halimun National Park (Gunung Botol, Cirangkong and Cikeris). These activities was part of propagation of plant Collection Cibodas Botanical gaden's program. Twelve object plants were collected from those areas and Quercus acuminatissima (Blume) A.DC were found in every location.vii, 30 hal
Laporan Hasil Eksplorasi: Kajian Status Keberadaan Tumbuhan Obat Langka di Pulau Jawa dan Upaya Perbanyakannya Dalam Rangka Reintroduksi: Studi Kasus di Taman Nasional Gede Pangrango
17 hal
Laporan Hasil Eksplorasi: Flora Unik , Endemik dan Langka di Kawasan Konservasi HL. Sinekeleri dan HL Gunung Marmer, di Pengununggan Mekongga; TN Rawa Aopa Watumohai; SM Tanjung Peropa Sulawesi Tenggara
vi, 58 hal
Pengukuran Iklim Mikro Kebun Raya Bogor Dan Sekitarnya
Kebun Raya Bogor yang mempunyai luas 87 Hektar terletak ditengah-tengah kota Bogor, Jawa Barat, kurang lebih 60 Km dari Jakarta dengan letak lintang 6 derajat 37'LS106 derajat 32'BT. Kebun Raya Bogor terletak pada ketinggian 235 - 260 Meter diatas permukaan laut (mdpl). secara administratif Kebun Raya Bogor termasuk dalam wilayah kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. berdampingan dengan Istana Gubernur jendral dibogor atau terkenal dengan istana Presiden Bogor. keadaan tofografi secara umum datar dengan kemiringan 3 - 5%. Kawasan kebun raya bogor dilalui oleh sungai Ciliwung dan anak sungainya serta sungai cibatok. Bogor yang disebut sebagai " Kota Hujan " mempunyai curah hujan rata-rata 4330mm per tahun, hari hujan rata-rata 165 hari pertahun dengan 12 bulan Basah. curah hujan tertinggi > 400mm / bulan yang terjadi pada bulan-bulan November, Desember dan Januari dengan hari hujan rata-rata lebih dari 14 hari perbulan sedangkan curah hujan rendah, 250mm / bulan terjadi pada bulan-bulan juni, Juli, dan Agustus dengan hari hujan rata-rata lebih kecil dari 10 hari perbulan berdasarkan pola curah hujan tersebut menurut Schmidt dan Fergusson (1951) Bogor mempunyai tipe curah hujan a. Kebun raya bogor dapat dicapai dengan mudah baik melalui kendaraan umum maupun melalui kendaraaan pribadi. kendaraan umum tersedia selama 24jam sehingga Aksesibilitasnya mudah untuk dicapai karena berada dipusat kota Bogor Pengukuran iklim mikro kebun raya dan sekitarnya bertujuan untuk mengetahui iklim mikro dari kebun raya dan keadaan sekitanya bertujuan untuk mengetahui iklim mikro baru dari kebun raya dan keadaan sekitar kebun raya juga untuk mengetahui pengaruh dari keberadaan kebun raya terhadap suhu udara dan kelembaban relatifnya pelaksanaan tugas akhir dengan judul pengukuran iklim mikro kebun raya dan sekitarnya bertempat didalam kebun raya,Jl. Otto Iskandardinata, Jl. Padjajaran, Jl. Harupat dan Jl. Djuanda. metodologi dari tugas akhir yaitu dengan pengukuran langsung dilapangan (Data Primer) dan penelusuran pustaka (Data Sekunder). Pengumpulan data primer dilakukan dengan dua cara yaitu dengan pengambilan data suhu udara dan kelembaban langsung dilapangan pada tiga jarak yang berbeda yaitu didalam kebun raya, 20 meter dari batas terluar Kebun raya dan 40 meter dari batas terluar kebun raya pengukuran ini dilakukan diempat arah yang berbeda yaitu arah selatan (Jl. Ottto Iskandardinata), arah barat (JL. Harupat), arah utara (Jl. Djuanda), dan arah timur (Jl. Padjajaran). pengukuran suhu udara dan kelembaban udara pada tiap titik dilakukan secara serentak (pada waktu bersamaan), diulangi tiap 15 menit yang dimulai dari pukul 12.00 - 15.00 WIB. Data sekunder diambil untuk melengkapi data primer dengan cara studi pustaka. data yang dikumpulkan yaitu meliputi Sejarah kebun raya, peta kerja dll. analisis data yang dilakukan yaitu suhu udara dan kelembaban udara dihitung rataannya kemudian membandingkan antara suhu udara dan kelembaban udara dari keempat lokasi pada jarak yang berbeda-beda. Suhu udara didalam kebun raya lebih rendah dari pada suhu udara dijarak 20 dan 40 meter dari batas terluar kebun raya. Suhu udara yang lebih rendah didalam kebun raya disebabkan karena keberadaan pohon-pohon penghijau yang dapat mengurangi radiasi matahari yang diterima antara tegakan pohon Suhu udara rata-rata dijarak 1 (2.8 derajat celcius) lebih tinggi dibandingkan dengan jarak 2. suhu udara rata-rata dijarak 2 (1.3 derajat celcius) lebih rendah dari pada dijarak 3. suhu udara dijarak 3. (4.1 derajat celcius) lebih tinggi dari pada jarak 1. pada jarak pengukuran 3 suhu udara lebih tinggi dari pada jarak 1 dan 2 hal ini disebabkan 3 merupakan jarak terjauh dari kebun raya yang intensitas mataharinya lebih banyak masuk dibandingkan dengan jarak 1 dan 2 semakin jauh dari kebun raya maka suhu udara semakin meningkat Kelembaban udara yang lebih tinggi dijarak 1 disebabkan oleh pepohonan sebagai bahan penguap. sebaliknya dijarak 3 kelembaban udara lebih rendah hal ini disebabkan udaranya lebih kering sehingga kapasitas udara menampung uap air besar sedangkan bahan penguapnya kurang, kedua hal tersebut menyebabkan kelembaban udara didaerah terbuka lebih rendah dibandingkan kelembaban udara didaerah pepohonan Didalam kebun raya (jarak 1) kelembaban udara tinggi karena dipengaruhi oleh kerapatan pohon yang tinggi dibandingkan dengan jarak pengukuran lainnya (20 meter dan 40 meter dari batas terluar kebun raya), keberadaan bangunan, gedung dan lapangan terbuka yang terbuat dari materi pengaru oleh iklim mikro lingkungan sekitarnya Nilai terendah kelembaban udara berada pada lokasi 2. lokasi 2 (JL. harupat) berada pada tempat terbuka sehingga kelembaban udara lebih rendah. bangunan kota menyebabkan kelembaban udara menjadi kecil karena kurangnya pemukaan air terbuka untuk transpirasi tanaman.III, 69 Hl
Laporan Eksplorasi Populasi Rotan Manau (Calamus Manan Miq.) di Kecamatan Pauh Taman Nasional Bukit Dua Belas Propinsi Jambi
Kegiatan pengamatan populasi rotan manau di Taman Nasional Bukit Dua Belas, bertujuan untuk mengetahui populasi rotan manau di Taman Nasional Bukit dua Belas, dan melakukan perbanyakan rotan manau dengan biji hasil eksplorasi dari Taman Nasional Bukit Dua Belas, Propinsi jambi, Kegiatan ini dilaksanakan di tiga desa yaitu desa pematang Kabau, desa Bukit suban dan desa Lubuk Jering, Kecamatan pauh, Kabupaten Sarolangunn meliputi bukit panggang, bukit punai Banyak Timur dan Selatan, bukit Suban, air panas, dan bukit Teregang. mulai 21 Mei - 8 Juni 2003 pada ketinggian antara 50-200 mdpl. Metode pengamatan dilaksanakan dengan metrode acak (random). Berdasarkan hasil pengamatan dilapanagan (T.N. Bukit Dua Belas) ternyata di kawasan ini keberadaan rotan manau sudah sangat sulit diketemukan, poplasinya sedikit, sehingga kelestarian tumbuhan ini sangat menghawatirkan. Manau yang sedang berbuah masak hanya ditemukan satu pohon. Buahnya diambil untuk dikoleksi di Kebun raya. Tersebut dibibitkan untuk program reintroduksi.vii, 22 hal
Laporan eksplorasi: Eksplorasi Anggrek di Taman Nasional Meru Betiri dan Jawa Timur Sekitarnya
41 hal
Laporan Perjalanan Ekspedisi Muller: Menembus Jantung Borneo Cagar Alam Sapat Hawung Pegunungan Muller Kabupaten Murung Raya Kalimantan Tengah
Tim-3 Ekspedisi Muller, perjalanan menembus jantung borneo telah dilakukan pada tanggal 15 September sampai dengan 10 Oktober 2003 dengan lokasi sasaran Cagar Alam Sapat Hawung. Ekspedisi ini bertujuan untuk mengkaji kelayakan Pegunungan Muller untuk di jadikan Alam Warisan Dunia. Tim terdiri dari 6 orang peneliti LIPI yang tergabung dalam beberapa keahlian seperti ekologi, botani khususnya dari suku Araceae (talas-talasan), anggrek serta serangga gua dan tanah. secara umum dapat dikatakn bahwa kondisi Hutan Cagar Alam Sapat Hawung relatif masih bagus. Ketinggian jelajah selama ekspedisi ini berlangsung berkisar antara 300 m - 1100 m untuk flora dan 500 m - 1420 m untuk serangga tanah. Kawasan ini memiliki tipe hutan antara lain tipe hutan pegunungan (hutan lumut), hutan perbukitan, hutan daratan rendah campuran Dipterocarp dan hutan alluvial. Pada tipe hutan ini vegetasinya di dominasi oleh Cassuarina junhuniana, vaccinium serta berbagai jenis dari suku myrtaceae. Untuk anggrek telah terkoleksi sebanyak 122 nomor spesimen. Dari jenis-jenis anggrek yang mendominasi kawasan ini adalah dari marga Bulbophyllum, coelogyne dan Dendrobium. Salah satu anggrek unik yang di temukan adalah anggrek Bulbophyllum beccari atau anggrek kuping gajah yang mempunyai ukuran daun terbesar dari anggrek-anggrek lainnya. Anggrek kuping gajah ini merupakan anggrek endemic bagi kalimantan. Untuk flora non anggrek pengamatannya lebih selektif dan difokuskan pada jenis-jenis dari suku araceae (talas-talasan) dan juga jenis-jenis yang mempunyai nilai konsevasi tinggi baik dari sisi keendemikannya, keunikannya maupun yang mempunyai potensi ekonomi. nepenthes misalnya merupakan jenis-jenis yang sudah dilindungi oleh Undang-Undang karena keberadaannya di alam sudah mulai terancam. Selain itu beragam jenis Durio dan Baccaurea juga dapat di temukan dalam kawasan ini. Sekitar 43 nomor koleksi telah dikumpulkan oleh tim-3. Beberapa jenis araceae yang di temukan merupakan record baru bagi ilmu pengetahuan, antara lain dari marga Buchephalandra, Aridum dan Hottarum. Untuk serangga tanah (Arthropoda) telah di temukan dan di koleksi sebanyak 1592 specimen yang terdiri dari 14 Ordo, 16 suku dan 61 jenis. Arthropoda yang umum di temukan adalah collembola, Acarina dan Hymenoptera. Mengingat beratnya medan dan lamanya waktu yang di butuhkan untuk dapat mencapat kawasan hutan Cagar Alam Sapat Hawung maka di harapkan pada kegiatan ekspedisi selanjutnya dapat diolokasikan waktu lebih lama dari pada yang telah di lakukan pada perjalanan ekspedisi ini. penjelajahan lanjutan ke kawasan hutan Cagar Alam Sapat Hawung disarankan untuk dapat dilakukan dari arah yang berbeda dari perjalanan sebelumnya.vii, 68 hal