JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
Not a member yet
226 research outputs found
Sort by
PENGARUH RELIGIUSITAS TERHADAP KESEJAHTERAAN SUBJEKTIF PADA KELUARGA IBU BEKERJA INFORMAL SELAMA PANDEMI COVID-19
Pandemi Covid-19 memberikan dampak pada kesejahteraan subjektif keluarga serta kualitas perkawinan. Pandemi Covid-19 memnyebabkan perubahan pada kehidupan keluarga. Kemampuan beradaptasi keluarga menentukan kualitas hidup keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh antara karakteristik keluarga dan religiusitas terhadap kesejahteraan subjektif keluarga selama masa pandemi Covid-19. Penelitian ini melibatkan 100 orang ibu yang berasal dari keluarga utuh yang bekerja di sektor informal dan berdomisili di Jabodetabek. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Pemilihan contoh dilakukan secara non prbability sampling dengan teknik purposive sampling. Pengambilan data dilakukan secara online menggunakan google form Berdasarkan hasil penelitian lebih dari separuh (56%) tingkat religiusitas keluarga responden termasuk dalam kategori sedang. Sebesar lima puluh persen keluarga memiliki kesejahteraan subjektif dalam kategori tinggi. Berdasarkan analisis korelasi, lama bekerja istri per hari berhubungan negatif signifikan dengan kesejahteraan subjektif keluarga. Berdasarkan analisis regresi (Adjust R square = 0,174) artinya variabel karakteristik keluarga dan religiusitas memengaruhi kesejahteraan subjektif keluarga sebesar 17,4 persen. Variabel yang berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan subjektif adalah lama bekerja istri dan religiusitas
BUMBU TABUR TEMPE SEHAT, GURIH, DAN PEDAS UNTUK KELUARGA
Bumbu tabur merupakan bumbu yang fungsinya untuk memberikan rasa pelezat pada makanan atau jajanan.Rasa dan warna pada bumbu tabur bermacam-macam jenisnya menambah daya tarik tersendiri. Kandungan protein dari tepung tempe untuk mencukupi kebutuhan gizi masyarakat dengan harga relatif terjangkau. Kandungan gizi pada serbuk cabai tersebut dijadikan penambahan dalam pembuatan bumbu tabur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesukaan konsumen terhadap bumbu tabur dengan penambahan serbuk cabai 0%, 20%, 25%dan 30%ditinjau dari aspek aroma,warna,rasa,dantekstur, serta untuk mengetahui kandungan protein pada bumbu tabur.Metode pendekatan yang digunakan adalah metode eksperimen dikarenakan adanya perlakuan atau percobaan. Desain eksperimen yang digunakan adalah pretest-posttest control group desain. Hasil analis yang diperoleh kemudian dianalisa secara statistik.Untuk mengetahui kandungan gizi protein menggunakan metode Kjeldahl. Berdasarkan hasil uji kesukaan, sampel yang disukai masyarakat adalah sampel B dengan penambahan cabe 25% dan rata-rata 84,05% yang memiliki rasa cukup pedas. Hasil uji laboratorium kandungan protein tertinggi pada sampel A dengan penambahan cabe 0% dan rata-rata prosentase protein 20,45685%
APAKAH PEMBELAJARAN JARAK JAUH MEMICU TERJADINYA CULTURE SHOCK PADA PESERTA DIDIK? SEBUAH STUDI LITERATUR
The covid-19 pandemic has changed the face of education in Indonesia over the past 2 years. The learning pattern that was originally carried out face-to-face was later changed to distance learning. Distance learning is still a solution in protecting students from exposure to covid-19 in public places. On the other hand, distance learning triggers negative feelings and reduces learning motivation. The phenomenon of culture shock or culture shock is thought to be able to explain students' feelings and experiences during distance learning. This study uses a qualitative approach with analysis of literature studies from various relevant scientific sources. This study was conducted in the period from January to August 2021. The results of the literature review in this study indicate that many students experience culture shock in all levels of education (from students to university students) and cannot be avoided during distance learning. Distance learning, which demands independence, contributes to learning motivation, adjustment, and interaction with the surrounding environment. During the distance learning period, culture shock often triggers a decrease in motivation and negative feelings in the learning process. To be able to reduce the impact that arises due to culture shock, the support of people around is very necessary. The role of parents and teachers is considered capable of keeping students through the culture shock phase during distance learning during the covid-19 pandemic.
Keywords: culture shock, distance learning, students
Abstrak
Pandemi covid-19 telah mengubah wajah pendidikan di Indonesia selama 2 tahun terakhir. Pola pembelajaran yang semula dilakukan secara tatap muka kemudian diubah menjadi pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran jarak jauh masih menjadi solusi dalam melindungi peserta didik dari paparan covid-19 di tempat umum. Di sisi lain, pembelajaran jarak jauh memicu perasaan negatif dan mengurangi motivasi belajar. Fenomena culture shock atau gegar budaya diduga mampu menjelaskan perasaan dan pengalaman siswa selama pembelajaran jarak jauh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis studi kepustakaan dari berbagai sumber ilmiah yang relevan. Studi ini dilakukan dalam rentang waktu Januari hingga Agustus 2021. Hasil tinjauan literatur dalam studi ini menunjukkan bahwa culture shock banyak dialami oleh peserta didik di segala rentang pendidikan (mulai dari siswa hingga mahasiswa) dan tidak dapat dihindari selama pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran jarak jauh yang menuntut kemandirian ternyata turut berkontribusi pada motivasi belajar, penyesuaian diri, dan interaksi dengan lingkungan sekitar. Selama masa pembelajaran jarak jauh, culture shock banyak memicu penurunan motivasi dan perasaan negatif dalam proses pembelajaran. Untuk mampu mengurangi dampak yang muncul akibat culture shock, dukungan orang sekitar sangatlah diperlukan. Peran orang tua dan pendidik dinilai mampu menjaga peserta didik melalui fase culture shock selama pembelajaran jarak jauh di masa pandemi covid-19
DAMPAK PERCERAIAN ORANGTUA TERHADAP MEANING OF LIFE REMAJA
Pada umumnya konflik selalu terjadi dalam kehidupan rumah tangga, namun konflik yang terjadi merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya perceraian. Perceraian tidak hanya berdampak bagi yang bersangkutan (suami istri), namun juga melibatkan anak khususnya yang memasuki usia remaja. Remaja yang orangtuaya bercerai akan mempengaruhi makna hidupnya. Hal ini dikarenakan masa remaja merupakan proses dalam pencarian jati diri mereka dan dimasa inilah ditentukan masa depan dari seorang remaja tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran dari makna hidup remaja yang menjadi korban dari perceraian kedua orangtua. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Metode ini digunakan untuk melihat dan mendeskripsikan makna hidup remaja yang menjadi korban dari perceraian kedua orangtua. Penelitian ini dilakukan terhadap 4 orang remaja wanita yang orangtuanya bercerai (umur rata-rata 16-18 tahun; berstatus pelajar) melalui wawancara. Data dianalisis dengan model interaktif yang terdiri dari tiga langkah diantaranya rediksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat informan memiliki pandangan positif dan dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian memilukan mengenai perceraian orangtuanya. Meskipun para informan memiliki masa lalu yang kurang baik, dikarenakan mereka mencari pelarian untuk mendapatkan kebahagiaan yang tidak mereka dapatkan di rumah. Positifnya, para informan mampu belajar dari kesalahan-kesalahan di masa lalu dan memiliki keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Terkait dengan temuan ini, para orangtua yang sudah bercerai namun memiliki anak dari hasil pernikahannya, disarankan untuk tetap dan lebih memberikan perhatian, kasih sayang dan kebutuhan anak. Agar anak tetap merasa berharga dan tidak terjerumus dalam hal-hal negatif. Kepada informan untuk dapat mempertahankan dan meningkatkan kerukunan dalam hubungan dengan keluarga dan orang sekitar dengan harapan dapat meningkatkan kebermaknaan hidup pada remaja yang menjadi korban perceraian dari orangtuanya. Konselor juga memiliki peran dalam meminimalisir dampak yang akan terjadi akibat perceraian orangtua bagi remaja, terutama dampak negatif agar membantu remaja untuk dapat memahami kebermaknaan hidup. Layanan Bimbingan dan Konseling yang dapat diberikan yaitu layanan informasi dan layanan konseling individual.
Kata kunci: makna hidup, perceraian, remaja
Abstract
In general, conflict always occurs in domestic life, but the conflict that occurs is one of the triggering factors for divorce. Divorce does not only affect the person concerned (husband and wife), but also involves children, especially those entering their teens. Adolescents whose parents are divorced will affect the meaning of their lives. This is because adolescence is a process in the search for their identity and it is at this time that the future of a teenager is determined. This study aims to find out how the description of the meaning of life for teenagers who are victims of the divorce of their parents. The method used in this study is a qualitative descriptive method. This method is used to see and describe the meaning of life for teenagers who are victims of the divorce of their parents. This research was conducted on 4 young women whose parents divorced (mean age 16-18 years; student status) through interviews. The data were analyzed using an interactive model consisting of three steps including data rediction, data presentation and conclusion drawing. The results showed that the four informants had a positive view and could take lessons from every heartbreaking incident regarding their parents' divorce. Although the informants have a bad past, because they are looking for an escape to get happiness that they don't get at home. Positively, the informants are able to learn from past mistakes and have the desire to become a better person. Related to this finding, parents who are divorced but have children from their marriage are advised to stay and pay more attention, affection and children's needs. So that children still feel valuable and do not fall into negative things. To informants to be able to maintain and improve harmony in relationships with family and people around in the hope of increasing the meaning of life in adolescents who are victims of divorce from their parents. Counselors also have a role in minimizing the impact that will occur due to parental divorce for adolescents, especially the negative impact in order to help teenagers to be able to understand the meaning of life. Guidance and Counseling services that can be provided are information services and individual counseling services.
Keywords: divorce, meaning of life, yout
KOMUNIKASI DI DALAM KELUARGA ANTARA ORANG TUA PEKERJA DAN ANAK DI KOTA SURAKARTA
This study describes how the communication carried out by working parents and children in the family in the city of Surakarta. This study uses two kinds of data collection techniques, namely quantitative and qualitative. Qualitative data was obtained through an interview process while quantitative data was obtained through a survey of children from working families and parents who are workers. The results showed that most of the working parents were able to carry out their dual roles. Even though they don't have much time to see each other, working parents can still communicate with their children. The communication that exists between working parents and children is interpersonal communication that occurs directly and face to face. In addition, working parents and children use communication tools and social media to communicate when they cannot meet in person. Communication that exists between workers' parents and children can be verbal and nonverbal. With the busyness that parents have, they are still able to take the time to control and socialize their children. In other cases, there are parents who only focus on the purpose of meeting the needs of their children economically, thus ignoring the importance of intimate communication with children in the family. The better the communication parents provide, the better the impact on the child. Likewise, if communication is not going well in the family, it will have a bad impact on the child.
Abstrak
Penelitian ini mendeskripsikan bagaimana keberjalanan komunikasi yang dilakukan oleh orang tua pekerja dan anak di dalam keluarga di Kota Surakarta. Penelitian ini menggunakan dua macam teknik pengambilan data yaitu kuantitatif dan kualitatif. Data kualitatif diperoleh melalui proses wawancara sementara data kuantitatif diperoleh melalui survei terhadap anak yang berasal dari keluarga bekerja dan orang tua yang merupakan seorang pekerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua bekerja mampu menjalankan peran ganda yang dimilikinya. Meski tidak banyak waktu yang dimiliki untuk saling bertemu, orang tua pekerja tetap dapat mampu menjalin komunikasi dengan anak. komunikasi yang terjalin di antara orang tua pekerja dan anak merupakan komunikasi interpersonal yang terjadi secara langsung dan tatap muka. Selain itu orang tua pekerja dan anak memanfaatkan alat komunikasi dan media sosial untuk berkomunikasi di saat tidak dapat bertemu secara langsung. Komunikasi yang terjalin antara orang tua pekerja dan anak dapat berupa verbal dan juga nonverbal. Dengan kesibukan yang dimiliki orang tua tetap mampu meluangkan waktu untuk melakukan kontrol dan sosialisasi terhadap anak. Dalam kasus lain terdapat orang tua yang hanya berfokus pada tujuan memenuhi kebutuhan anak secara ekonomi saja sehingga mengabaikan pentingnya keintiman komunikasi dengan anak di dalam keluarga. Semakin baik komunikasi yang orang tua pekerja berikan, maka semakin berdampak baik pula bagi diri anak. begitu pula sebaiknya, apa bila komunikasi kurang berjalan baik di dalam keluarga, maka akan berdampak kurang baik pula bagi anak
FENOMENA NOMOPHOBIA PADA ANAK USIA DINI BERDASARKAN TIPOLOGI WILAYAH DAN HUBUNGANNYA TERHADAP PERILAKU PROSOSIAL DAN ANTISOSIAL
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi fenomena nomophobia pada anak usia dini di wilayah perdesaan dan perkotaan, menganalisis perbedaan perilaku nomophobia dan perilaku sosial antara kedua wilayah, serta menganalisis hubungan perilaku nomophobia terhadap perilaku sosial. Penelitian ini dilakukan di dua wilayah yaitu di Kabupaten Kuningan (representatif wilayah perdesaan) dan Kota Depok (representatif wilayah perkotaan) dengan responden masing-masing sebanyak 50 orang, sehingga total responden adalah 100 orang. Data yang dikumpulkan dari penelitian ini adalah perilaku nomophobia yang menggunakan instrumen NMP-Q (Yildirim,2015) dan perilaku sosial diukur berdasarkan dimensi yang dikembangkan oleh Hurlock (1978) yang terdiri atas perilaku prososial dan antisosial. Melalui uji independent sample t-test, hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada perilaku nomophobia antara wilayah perdesaan dan perkotaan. Skor rata-rata perilaku nomophobia di perdesaan adalah 35,61 sedangkan di perkotaan adalah 35,72 yang termasuk kategori rendah. Perilaku sosial di kedua wilayah sebagian besar menunjukkan kategori tinggi (64%) dan tidak ada perbedaan perilaku sosial secara umum baik di perdesaan maupun perkotaan. Hasil uji korelasi menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan antara perilaku nomophobia dan perilaku sosial namun koefisien korelasi negatif yaitu -0,085 menjadi indikasi bahwa semakin tinggi perilaku nomophobia maka akan semakin rendah perilaku sosial anak usia dini. Hal ini perlu mendapat perhatian bersama, mengingat dampak buruk yang dapat ditimbulkan dari adanya fenomena nomophobia terutama pada anak usia dini.
Kata Kunci: anak usia dini, nomophobia, perilaku sosial
Nomophobia Phenomenons in Early Childhood based on Regional Typology and Its Relationship to Prosocial and Antisocial Behaviors
Abstract
This study aims to identify the phenomenon of nomophobia in early childhood in rural and urban areas, to analyze differences in nomophobic behavior and social behavior between the two regions and to analyze the relationship between nomophobic behavior and social behavior. This research was conducted in two areas, namely Kuningan District (rural area representative) and Depok City (urban area representative) with 50 respondents each, so that the total number of respondents was 100 people. The data collected from this study were nomophobic behavior using the NMP-Q instrument (Yildirim, 2015) and social behavior was measured based on the dimensions developed by Hurlock (1978) which consisted of prosocial and antisocial behavior. Through the independent samples t-test, it was found that the results of the study showed no significant difference in nomophobic behavior between rural and urban areas. The average score of nomophobic behavior in rural areas is 35,61, while in urban areas it is 35,72 which is in the low category. Most of the social behavior in the two regions shows the high category (64%) and there is no difference in social behavior in general, both in rural and urban areas. The results of the correlation test showed that there was no significant relationship between nomophobic behavior and social behavior, but the negative correlation coefficient, namely -0,085, is an indication that the higher the nomophobic behavior, the lower the social behavior of early childhood. This needs mutual attention, considering the bad effects that can be caused by the phenomenon of nomophobia, especially in early childhood.
Keywords : early childhood, nomophobia, social behavio
KUALITAS PERKAWINAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP KESEHATAN MENTAL ANAK
Abstrak
Di dalam penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan mengenai kualitas perkawinan dan dampaknya terhadap kesehatan mental anak. Sistem perkawinan yang sehat, merupakan relasi yang baik antara suami dan istri serta hubungan orangtua dan anak-anak. Sedangkan perkawinan yang tidak sehat karena orang tua yang suka cekcok, dan karena masih menjalani hubungan dengan wanita idaman lain dan pria idaman lain, maka berdampak pada kesehatan mental anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas perkawinan dan dampak pada kesehatan mental anak berusia 6-12 tahun di desa Tesabela, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan subjek berjumlah 7 orang yang terdiri atas 2 keluarga. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh dari masing-masing keluarga mengatakan bahwa dalam perkawinan yang sudah dibangun selama ini cenderung di dalam sikap maupun kata-kata sering menyertakan kekerasan secara verbal dan nonverbal yang dapat berdampak pada kesehatan mental anak, di mana anak merasa bodoh sehingga berkelanjutan dengan dampak anak lambat dalam hal berpikir dan yang belum terarah. Dampak kesehatan mental terhadap kelakuan anak yang nakal, sering menyendiri, dan berkemauan keras. Demikian juga dampak yang ditimbulkan adalah anak menjadi pendiam dan pemalu, tidak menghargai khususnya pada ayah dan bersifat kasar. Akibatnya anak memiliki perasaan tentang keadaan diri yang kurang diterima.
Kata kunci: anak, keluarga, kesehatan mental, kualitas perkawinan
The Quality of Marriage and its Impact on the Mental Health of children
Abstract
This research is motivated by problems regarding the quality of marriage and its impact on the mental health of children. A healthy marriage system is a good relationship between husband and wife as well as the relationship between parents and cildren. Meanwhile, unhealthy marriages because parents are bickering, and because they are still in relationships with other ideal women and other ideal men, have an impact on the mental health of the children. The purpose of this study was to determine which families in unhealthy marriages have an impact on the mental health of children aged 6 – 12 years in Tesabela Village, West Kupang District, Kupang Regency. The method used in this study is a qualitative research method with 7 subjects consisting of 2 families. Based on the result of the data analysis obtained from each family, it is said that in marriages that have been built so far, the attitude and words often include non-verbal violence which can have an impact on the mental health of the child, where the child feels stupid so that it issustainable. With the impact of the child being slow in thinking and unfocused. Mental health impacts on child behaviour that is naughty, often aloof, and strong-willed. Likewise, the resulting impact is that the child becomes quiet and shy, does not respect especially the father and is rude. As a result, the child has feelings about their self that are less than acceptable.
Keyword: children, family, mental health, quality of marriag
PENGARUH PELATIHAN TENTANG PEMILIHAN MAKANAN SEHAT UNTUK MENCEGAH TERJADINYA STUNTING MELALUI EDUKASI GIZI TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI
Stunting adalah salah satu dari tiga beban masalah gizi di Indonesia yang harus segera ditangani. Perbaikan gizi pada remaja melalui intervensi gizi spesifik seperti pendidikan gizi, fortifikasi dan suplementasi serta penanganan penyakit penyerta perlu dilakukan. Masa remaja adalah windows of opportunity kedua yang sangat sensitif dalam menentukan kualitas hidup saat menjadi individu dewasa dan juga dalam menghasilkan generasi selanjutnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan remaja puteri tentang pemilihan makanan sehat melalui edukasi gizi untuk mencegah stunting. Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan rancangan penelitian menggunakan pretest dan post test pada remaja puteri di Kelurahan Benda Baru, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan dengan sampel penelitian sebanyak 20 orang remaja puteri. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah soal berupa pretest yang diberikan sebelum perlakuan dan soal posttest yang diberikan setelah perlakuan. Hasil penelitian ini didapatkan terdapat peningkatkan pengetahuan pemilihan makanan sehat melalui media edukasi gizi pada remaja puteri di Kelurahan Benda Baru dengan hasil pre test sebesar 73,5 yang berarti pengetahuan remaja puteri sebelum menggunakan media edukasi gizi masih tergolong rendah dan setelah menggunakan media edukasi gizi diberikan soal post test dan mendapatkan hasil sebesar 84,5 yang berarti terdapat peningkatan pengetahuan pemilhan makanan remaja puteri setelah menggunakan media edukasi gizi. Hasil uji t diperoleh bahwa adanya pengaruh pelatihan tentang pemilihan makanan sehat untuk mencegah stunting terhadap peningkatan pengetahuan remaja puteri.
Kata kunci: edukasi gizi, makanan sehat, remaja putri, stunting
Abstract
Stunting is one of the three burdens of nutritional problems in Indonesia that must be addressed immediately. It is necessary to improve nutrition in adolescents through specific nutritional interventions such as nutrition education, fortification and supplementation as well as treatment of comorbidities. Adolescence is the second window of opportunity that is very sensitive in determining the quality of life as an adult individual and also in producing the next generation. The purpose of this study was to increase the knowledge of young women about choosing healthy foods through nutrition education to prevent stunting. This type of research is a quasi-experimental research design using pretest and post-test on young women in Benda Baru Village, Pamulang District, South Tangerang City with a research sample of 20 young women. The data collection tools used are questions in the form of pretest given before treatment and posttest questions given after treatment. The results of this study showed that there was an increase in knowledge of healthy food choices through nutrition education media for young women in Benda Baru Village with a pre-test result of 73.5 which means that the knowledge of young women before using nutrition education media is still relatively low and after using nutrition education media questions are given. post test and get a result of 84.5 which means there is an increase in knowledge of adolescent girls' food choices after using nutrition education media. The results of the t-test showed that there was an effect of training on healthy food selection to prevent stunting on increasing knowledge of young women.
Keywords: Adolescent Women, Healthy Food, Nutrition Education, Stuntin
PENGARUH KETERLIBATAN ORANGTUA DALAM KELUARGA TERHADAP SIKAP DISIPLIN DI ERA DIGITAL
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh keterlibatan orangtua terhadap disiplin di era digital. Penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Diniyah Takmiliyah Ar-Rahmah, Bogor pada Januari sampai November 2020. Metode penelitian ini menggunakan metode survey dengan pendekatan kuantitatif asosiatif. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas 1–4 di Madrasah Diniyah Takmiliyah, dengan jumlah sampel sebesar 93 responden. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah proportionate stratified random sampling. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk variabel keterlibatan orangtua pada dimensi kemitraan antara orangtua dengan satuan pendidikan memiliki persentase sebesar 57% dan termasuk ke dalam kategori sedang. Sedangkan untuk variabel disiplin di era digital diperoleh hasil bahwa mayoritas anak belum memiliki disiplin yang tinggi. Hasil analisis data disimpulkan bahwa keterlibatan orangtua memiliki pengaruh yang signifikan terhadap disiplin di era digital. Sebesar 27,4% variasi variabel sikap disiplin di era digital dapat dijelaskan oleh variabel keterlibatan orangtua, sedangkan 72,6% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti.Abstract
This study aims to analyze the effect of parental involvement on discipline in the digital age. This research was conducted at Madrasah Diniyah Takmiliyah Ar-Rahmah, Bogor from January to November 2020. This research method used a survey method with an associative quantitative approach. The population in this study were students grade 1–4 at Madrasah Diniyah Takmiliyah, with a total sample size of 93 respondents. The sampling technique used in this study was proportionate stratified random sampling. Based on the results of the study, it shows that the variable of parental involvement in the partnership dimension between parents and educational units has a percentage of 57% and is included in the medium category. As for the discipline variable in the digital era, the results show that most children do not have high discipline. The results of data analysis concluded that parental involvement has a significant effect on discipline in the digital era. 27.4% of the variation in the variable attitude of discipline in the digital era can be explained by the variable of parental involvement, while 72.6% is influenced by other factors that are not examined
TINGKAT PENDIDIKAN DAN MOTIVASI KESIAPAN SUKSESOR PADA BISNIS KELUARGA
Bisnis keluarga merupakan bisnis yang diturunkan pendiri kepada generasi berikutnya. Tetapi tidak banyak bisnis keluarga khususnya di Indonesia yang memikirkan dan merencanakan proses suksesi. Pendidikan dan motivasi pada kesiapan suksesor merupakan bagian proses suksesi yang sangat penting dalam bisnis keluarga. Pendidikan yang tinggi diharapkan agar anak mampu mengembangkan ilmunya dalam berbagai bidang dan memenuhi keinginannya. Dalam bisnis keluarga, jika anak memiliih mengembangkan bisnis keluarga dengan ilmu yang dimiliki serta motivasi dan potensi yang ada padanya maka pendiri akan membimbingnya dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pendidikan dan motivasi kesiapan suksesor pada bisnis keluarga. Penelitian ini akan dilakukan pada generasi kedua dari pemilik usaha kuliner berasal dari budaya Betawi yang sudah menetap di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode Interpretative Phenomenological Analysis yang pengumpulan datanya dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat satu responden yang menyelesaikan pendidikannya hingga sarjana agar dapat menjadi suksesor dan kedua responden lainnya hanya sampai tingkat SMA untuk menjadi suksesor selain itu ketiga responden memiliki motivasi yang berbeda-beda dalam mempersiapkan diri sebagai suksesor. Maka sebaiknya, sebelum menentukan suksesor pendiri harus menetapkan secara tegas terkait syarat pendidikan dan melihat bagaimana motivasi kesiapan secara matang pada diri suksesor agar bisnis keluarga dapat terus bertahan dan tidak mengalami kegagalan.
Abstract
A family business is a business that the founders pass on to the next generation. But not many family businesses, especially in Indonesia, think about and plan the succession process. Education and motivation for successor readiness is a very important part of the succession process in a family business. High education is expected so that children can develop their knowledge in various fields and fulfill their desires. In the family business, if the child chooses to develop a family business with the knowledge they have and the motivation and potential that is in him, the founder will guide him well. This study aims to determine the level of education and motivation for successor readiness in the family business. This research will be conducted on the second generation of culinary business owners who come from Betawi culture who have settled in DKI Jakarta. This study used a qualitative approach and the Interpretative Phenomenological Analysis method, where data collection was carried out by observation, interviews, and documentation. The results show that the level of education is not a special requirement in the Betawi family business, although it is believed that the higher the level of education the successor has, the more knowledgeable both theoretically and practically about business are gained. In addition, in the beginning, to become a successor, of course the founder also saw the motivation of the readiness of successors who already know and are directly involved in helping founders manage the family business