JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
Not a member yet
226 research outputs found
Sort by
POLA ASUH IBU TERKAIT NUTRISI DAN GIZI UNTUK ANAK USIA DINI
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk dapat memberikan gambaran yang kuat dan jelas berdasarkan sumber-sumber yang relevan dan terpercaya mengenai pengaruh dari pola asuh nutrisi gizi Ibu yang relatif keterbatasan ekonomi terhadap perkembangan fisik anak usia dini. Jenis penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif. Penelitian dilakukan dengan cara mewawancarai Ibu anak usia dini usia 3-5 tahun di wilayah Rawamangun, Jakarta Timur pada bulan Mei 2023. Hasil dari penelitian kali ini yaitu dari total 20 responden, terdapat 7 ibu dengan pola asuh nutrisi gizi yang baik dan 13 ibu dengan pola asuh nutrisi gizi yang buruk. Dari total tersebut, 11 anak atau 55% mengalami stunting. Dapat disimpulkan dari hasil penelitian yang kami lakukan bahwa pertumbuhan fisik anak bergantung pada cara orang tua membesarkannya, terutama dari pola asuh nutrisi dan gizi. Akan tetapi, untuk membesarkan serta memastikan anak itu tumbuh dengan sehat para Ibu perlu memiliki dasar ilmu dalam menguasai pola asuh yang baik pada anak. Maka, untuk mencegah adanya penghambatan pada pertumbuhan anak usia dini terutama pada orang tua yang mengalami kesulitan ekonomi, diperlukan pengadaan sosialisasi mengenai pola asuh nutrisi dan gizi yang baik, agar permasalahan gizi yang dialami para anak usia dini yang hidup di keluarga yang kesulitan ekonomi dapat teratasi, tidak hanya sosialisasi untuk ibunya, tetapi juga untuk anaknya. Sosialisasi tersebut dapat dilakukan di posyandu di lingkungan tersebut.
Abstract
This research aims to provide a solid and clear picture based on relevant and reliable sources regarding the influence of mothers' nutritional parenting patterns with relatively economic limitations on the physical development of early childhood. This type of research was carried out using descriptive qualitative methods. The research was conducted by interviewing mothers of early childhood children aged 3-5 years in the Rawamangun area, East Jakarta, in May 2023. The results of this research were from 20 respondents: seven mothers with good nutritional parenting patterns and 13 mothers with poor nutritional parenting patterns. Of the total, 11 children or 55% experienced stunting. The research results we conducted show that a child's physical growth depends on how parents raise him, especially on nutritional and nutritional parenting patterns. However, to raise and ensure that children thrive, mothers need to have basic knowledge in mastering good parenting patterns for children. So, to prevent obstacles to early childhood growth, especially for parents who experience economic difficulties. It is necessary to provide outreach regarding good nutritional care so that families can resolve nutritional problems experienced by families with economic difficulties, not only socialization for the mother but also for the child. This outreach can be carried out at integrated service posts in the area
THE INFLUENCE OF PARENTAL ATTACHMENT AND PEER INTERACTION ON THE AGGRESSIVE BEHAVIOR OF ADOLESCENTS IN BOGOR
The environment, including family and peer interactions, can influence the level of aggressiveness in adolescents. This quantitative study aims to analyze the influence of parental attachment and peer interaction on adolescent aggressive behavior in Bogor. The study involved 115 respondents from grade 10 at the Bina Bangsa Sejahtera Islamic High School, consisting of 68 male students (59%) and 47 female students (41%), aged between 13-18 years. Data were collected using questionnaires and analyzed using statistical correlation and multiple regression tests with SPSS 26. The results show that secure parental attachment is associated with lower adolescent aggression, while insecure attachment positively correlates with higher aggression. Peer interaction, including relationships and bonds with friends, and variables like school conditions, significantly impact adolescent aggressive behavior. These findings indicate that parental and school roles can help prevent aggressive behavior in adolescents. Therefore, it is essential to educate parents, teachers, and adolescents on maintaining healthy parental relationships, fostering positive peer interactions, and understanding the dangers of aggressive behavior. Government involvement is also needed to support the development of such programs
PEMBENTUKAN RESILIENSI SOSIAL ANAK MELALUI PROGRAM PENGUATAN KAPASITAS PENGASUHAN ORANG TUA
Abstrak
Resiliensi sosial pada anak merupakan kemampuan untuk menghadapi stres, tantangan, dan kesulitan dalam interaksi sosial, termasuk kemampuan menyelesaikan masalah interpersonal, mengendalikan emosi dan perilaku, menjaga hubungan sosial yang positif, serta memperoleh dukungan dari lingkungan sekitar. Program penguatan kapasitas pengasuhan orang tua yang diselenggarakan oleh Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Bayi Sehat Muhammadiyah Bandung menjadi solusi bagi keluarga dhuafa dalam meningkatkan kualitas pola asuh melalui pelatihan yang dilaksanakan secara berkala. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program dilaksanakan secara terstruktur dari tahap perencanaan hingga evaluasi, dan berdampak pada terbentuknya resiliensi sosial anak melalui internalisasi pola asuh oleh orang tua, yang ditandai dengan kemampuan coping yang baik, keterampilan interpersonal, sikap optimisme, dan empati tinggi. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa program penguatan kapasitas pengasuhan orang tua berkontribusi dalam memperbaiki pola asuh dan mendukung pembentukan resiliensi sosial anak, serta diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah, praktisi, dan akademisi dalam penyelenggaraan program serupa.
Abstract
Social resilience in children refers to their ability to cope with stress, challenges, and difficulties in social interactions, including the ability to resolve interpersonal problems, regulate emotions and behavior, maintain positive social relationships, and seek support from their surroundings. The parenting capacity strengthening program organized by the Child Welfare Institution (LKSA) Bayi Sehat Muhammadiyah Bandung serves as a solution for underprivileged families to improve the quality of parenting through regular training sessions. This study employs a qualitative approach with a case study method, using data collection techniques such as observation, in-depth interviews, and document analysis. The findings reveal that the program is implemented in a structured manner, from planning to final evaluation, and contributes to the development of children's social resilience through the internalization of parenting practices by parents. This resilience is characterized by effective coping strategies, interpersonal skills, optimism, and high empathy. The implications of this study indicate that the parenting capacity strengthening program plays a significant role in improving parenting practices and supporting the development of children's social resilience, and it is expected to serve as a reference for government, practitioners, and academics in implementing similar programs
MARRIAGE EDUCATION PRACTICES AT RECONCILIATION SCHOOLS
Abstract
This study explores community-based marital education practices implemented by the Reconciliation School (SR), an initiative designed to help individuals heal emotional wounds caused by dysfunctional family systems. Employing a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews, observations, and document analysis. The SR program adopts therapeutic frameworks developed by John Bradshaw and Virginia Satir, emphasizing family systems theory, inner child healing, and identity reconstruction. Data analysis was conducted using thematic coding and triangulation to ensure validity. Findings reveal significant improvements in participants’ interpersonal relationships and self-perception after completing the program. Participants reported enhanced emotional awareness, improved communication skills, and greater resilience in managing family dynamics. These results underscore the potential of community-based marriage education as a strategic alternative for strengthening family systems in Indonesia, particularly amid rising divorce rates, which currently range between 15–20 percent annually. Furthermore, SR’s hybrid model—integrating psychotherapy principles, adult learning theory, and spiritual reflection—creates a safe and transformative space for personal growth without requiring formal clinical intervention. The study recommends scaling similar programs through policy support and cross-sector collaboration to broaden accessibility. Ultimately, community-based family education offers a preventive approach to mitigating family dysfunction and its social consequences, fostering healthier relationships and sustainable family well-being.
Abstrak
Penelitian ini mengkaji praktik pendidikan perkawinan berbasis komunitas yang dilaksanakan oleh Sekolah Rekonsiliasi (SR), sebuah inisiatif yang bertujuan membantu individu memulihkan luka emosional akibat keluarga disfungsional. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen. Program SR mengadopsi metode terapeutik dari John Bradshaw dan Virginia Satir yang menekankan pemahaman sistem keluarga, penyembuhan luka batin, serta penguatan identitas diri. Analisis data dilakukan melalui pengkodean tematik dan triangulasi untuk menjamin validitas. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan positif pada hubungan interpersonal dan persepsi diri peserta setelah mengikuti program. Peserta melaporkan peningkatan kesadaran diri, kemampuan mengelola emosi, serta keterampilan membangun komunikasi yang sehat dalam keluarga. Temuan ini menegaskan bahwa pendidikan perkawinan berbasis komunitas dapat menjadi alternatif strategis untuk memperkuat sistem keluarga di Indonesia, khususnya di tengah meningkatnya angka perceraian yang mencapai 15–20 persen per tahun. Selain itu, model SR yang mengintegrasikan pendekatan psikoterapi, pembelajaran orang dewasa, dan refleksi spiritual menunjukkan efektivitas dalam menciptakan ruang aman bagi proses transformasi personal. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan program serupa dengan dukungan kebijakan dan kolaborasi lintas sektor agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat. Dengan demikian, pendidikan keluarga berbasis komunitas berpotensi menjadi solusi preventif terhadap disfungsi keluarga dan dampak sosial yang ditimbulkannya
WORK FROM HOME, WORK FROM OFFICE, DAN KESEIMBANGAN KERJA-KELUARGA
Abstrak
Kebijakan bekerja dari rumah (work from home) berdampak pada keseimbangan pekerjaan dan keluarga. Tujuan penelitian ini menganalisis perbedaan bekerja dari rumah (work from home/WFH) dan bekerja dari kantor (work from office/WFO) terhadap keseimbangan kerja-keluarga. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional study. Keseimbangan kerja-keluarga diukur menggunakan skala keseimbangan kerja-keluarga, lokasi bekerja (bekerja di rumah (WFH) atau bekerja di kantor (WFO) diketahui dari identitas responden. Teknik sampling menggunakan purposive random sampling dengan karakteristik subyek sudah menikah, memiliki anak dan bekerja di instansi baik yang menjalani aktivitas dari rumah (work from home) maupun bekerja di kantor (work from office). Pengambilan data secara online melalui google form pada 19 Mei – 31 Mei 2020. Analisis data menggunakan uji beda (uji t). Berdasarkan hasil penelitian terdapat 189 responden berasal dari 13 Provinsi di Indonesia. Hasil penelitian diketahui tidak ada perbedaan perbedaan bekerja dari rumah (work from home/WFH) dan bekerja dari kantor (work from office/WFO) terhadap keseimbangan kerja-keluarga.
Abstract
Working from home policy in Covid 19 pandemic era has brought its own challenges particularly in the management of time and energy which then affects work and family balance. This study aims to analyze the differences between the effect of work from home/WFH and work from office/WFO on work-family balance. This study was conducted using cross-sectional study research design. Work-family balance was measured using work-family balance scale. Meanwhile, workplace (either work from home/WFH) or work from office/WFO) was identified from respondents’ identity. The sampling technique applied in this study was purposive random sampling. The characteristics of the research subject were married with children and worked in an office either work from home or work from office setting. Data were collected online through Google form from 19th May to 31st May 2020. The data then analyzed using t-test. There were 189 respondents from 13 Provinces from all over Indonesia. The result of the research shows that both work from home and work from office have given no different effect on work-family balance
STUDI FENOMENOLOGI WORK-FAMILY CONFLICT GURU HONORER DI MADRASAH IBTIDAIYAH
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali secara mendalam fenomena work‐family conflict yang dialami oleh guru honorer di Madrasah Ibtidaiyah melalui pendekatan studi fenomenologi. Penelitian ini mengungkap pengalaman subjektif para guru honorer terkait konflik antara tuntutan profesional dan peran di ranah keluarga, dengan fokus pada tiga faktor utama yang muncul, yaitu faktor finansial, kendala waktu, dan keharmonisan keluarga. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan empat narasumber yang memiliki pengalaman mengajar selama minimal sepuluh tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya pendapatan, tekanan beban kerja yang tinggi, serta keterbatasan waktu yang tersedia untuk keluarga menjadi penyebab utama terjadinya work‐family conflict. Temuan ini memberikan gambaran tentang kebutuhan mendesak untuk pengelolaan waktu dan sumber daya yang lebih optimal serta program dukungan bagi guru honorer guna meningkatkan kesejahteraan kerja dan keluarga.
Abstract
The purpose of this research is to explore in depth the problem of work-family conflict that occurs in honorary teachers, work-family conflict is a conflict that occurs in work and family, both conflicts are involved in each other, choosing honorary teachers at Madrasah Ibtidaiyah level as the object research: With research to determine the factors that influence the occurrence of work-family conflict that occurs among honorary teachers at madrasah ibtidaiyah. This research uses a qualitative phenomenological study method and data collection techniques by conducting interviews so that it can describe the phenomena experienced by the sources in detail. In general, the research results show that there are 3 factors that influence the occurrence of work-family conflict for honorary teachers in Ibtidaiyah madrasahs, namely the financial factor because the income received by honorary teachers, especially at the Ibtidaiyah madrasah level, is low, the time factor at work because being an honorary teacher has a lot more activity at the madrasah than at home and family harmony, there is a tendency for honorary teachers to spend little time with their families, resulting in estrangement with their families. In general, these 3 factors influence the occurrence of work-family conflict for honorary teachers at madrasah ibtidaiyah
PERAN KELEKATAN ORANGTUA TERHADAP PENYESUAIAN DIRI ANAK RANTAU
Abstrak
Anak rantau seringkali harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru dan berbeda secara sosial, budaya, dan geografis. Hidup di perantauan menuntut mereka menjadi anak yang bisa menangani segala situasi dan kondisi apapun yang menimpanya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana peran orangtua mempengaruhi penyesuaian diri terhadap anak yang merantau melalui kelekatan mereka. Karena pembentukan karakter anak tidak terlepas dari lingkungannya. Maka dukungan emosional dari orangtua menjadi sangat penting. Dan dukungan orangtua didapat dari hubungan emosional mereka yang dibentuk dari kecil. Inilah yang dimaksud dengan kelekatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah studi kepustakaan. Sumber data yang didapatkan berasal dari berbagai karya tulis seperti artikel, buku, dan tulisan-tulisan yang berkaitan atau membahas tentang objek penelitian. Maka penelitian ini disebut penelitian normatif. Dari sumber data yang dikumpulkan, peneliti kemudian menganalis dan hasilnya dipaparkan secara deskriptif. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini berupa gambaran tentang perbedaan proses penyesuaian diri anak rantau yang disebabkan oleh perbedaan gaya kelekatan orangtua yang dimiliki. Semakin aman gaya kelekatan yang dimiliki orangtua dengan anak, maka semakin mudah bagi anak untuk menyesuaikan diri di lingkungan baru. Dengan demikian, peran kelekatan orangtua dengan anak harus diperbaiki sedini mungkin, agar menjadi solusi bagi anak dalam membentuk karakter yang mampu menyesuaikan dirinya sebaik mungkin.
Abstract
Overseas children often have to adapt to a new and different environment socially, culturally and geographically. Living abroad requires them to be children who can handle any situation and any condition that befalls them. This study aims to analyze how the role of parents affects the adjustment of children who migrate through their attachment. Because the formation of children's character can not be separated from the environment. So emotional support from parents becomes very important. And parental support is obtained from their emotional connection which was formed from childhood. This is what is meant by attachment. The method used in this research is library research. The sources of data obtained come from various written works such as articles, books, and writings related to or discussing the object of research. So this research is called normative research. From the data sources collected, the researcher then analyzed and the results were presented descriptively. The results obtained from this study are in the form of an overview of the differences in the process of self-adjustment of overseas children caused by differences in parental attachment styles. The safer the attachment style that parents have with their children, the easier it is for children to adjust to a new environment. Thus, the role of parental attachment to children must be corrected as early as possible, so that it becomes a solution for children in forming characters that are able to adapt themselves as well as possible
PENGEMBANGAN VIDEO PENYULUHAN KESIAPAN KEHIDUPAN BERKELUARGA BAGI REMAJA MENGGUNAKAN APLIKASI CANVA PADA KAMPUNG KELUARGA BERENCANA
Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keterbatasan pada video penyuluhan Kesiapan Kehidupan Berkeluarga yang selama ini digunakan di Kampung KB, khususnya pada aspek materi yang belum lengkap. Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan video penyuluhan Kesiapan Kehidupan Berkeluarga bagi remaja menggunakan aplikasi Canva. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan video penyuluhan Kesiapan Kehidupan Berkeluarga bagi remaja pada Kampung Keluarga Berencana. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan model Planning, Production, and Evaluation (PPE). Peneliti melalui tiga tahapan dalam penelitian, yaitu analisis kebutuhan, pengembangan produk, dan uji kelayakan oleh ahli (expert judgment). Hasil validasi pada aspek media menunjukkan rata-rata sebesar 85,3% dengan kriteria sangat layak, khususnya pada aspek ketepatan tata letak, kesesuaian backsound dengan visual, kejelasan informasi tulisan, dan kelancaran video. Hasil validasi pada aspek materi menunjukkan rata-rata sebesar 95,83% dengan kriteria sangat layak, terutama pada aspek kesesuaian materi dengan tujuan penyuluhan, serta kemampuan video dalam mengedukasi sasaran penyuluhan mengenai kesiapan berkeluarga. Kesimpulannya, video penyuluhan Kesiapan Kehidupan Berkeluarga bagi remaja layak diproduksi dengan beberapa revisi dari para ahli. Video yang telah dikembangkan diharapkan dapat bermanfaat bagi penyuluh Kampung KB maupun remaja pada umumnya.
Abstract
This research was motivated by the limitations of the existing counseling videos on Family Life Preparedness for adolescents used in Family Planning Villages, particularly in terms of incomplete material. Therefore, it is necessary to develop a new counseling video using the Canva application. This study aims to produce a counseling video on Family Life Preparedness for adolescents in Family Planning Villages. The research employed a descriptive method using the Planning, Production, and Evaluation (PPE) model. The researcher went through three stages: needs analysis, product development, and expert judgment. The validation results for the media aspect showed an average score of 85.3%, categorized as very feasible, particularly in terms of layout accuracy, background sound suitability, clarity of written information, and video smoothness. The validation results for the content aspect showed an average score of 95.83%, also categorized as very feasible, especially regarding the relevance of the content to the counseling objectives and the video's ability to educate the target audience about family life readiness. In conclusion, the Family Life Preparedness counseling video for adolescents is feasible to be produced with revisions based on expert input. The developed video is expected to be beneficial for both Family Planning Village counselors and adolescents in general
PENGARUH KETERLIBATAN AYAH DALAM PENGASUHAN TERHADAP KEMANDIRIAN REMAJA
Abstrak
Kehadiran sosok ayah dalam pengasuhan anak mampu memberikan keteladan yang positif bagi perkembangan remaja di masa dewasanya kelak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keterlibatan ayah dalam pengasuhan terhadap kemandirian remaja. Penelitian dilakukan menggunakan metode kuantitatif asosiatif dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner online dengan kelompok remaja berusia 16- 20 tahun, belum menikah, dan masih memiliki ayah sebagai sampel penelitian. Sebanyak 102 sampel penelitian berhasil dikumpulkan pada akhir November sampai dengan awal Desember tahun 2022. Selanjutnya data diolah dengan SPSS menggunakan uji statistik deskriptif, normalitas, linearitas, dan regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan dan positif antara keterlibatan ayah dalam pengasuhan terhadap kemandirian remaja. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Sig. yang lebih kecil dari 0,05 (0,00<0,05). Hubungan yang positif menunjukkan bahwa semakin tinggi keterlibatan ayah dalam pengasuhan, maka semakin tinggi pula tingkat kemandirian remaja. Besar pengaruh keterlibatan ayah dalam pengasuhan terhadap kemandirian remaja menunjukkan nilai sebesar 0,181 atau 18,1%, yang berarti 81,9% lainnya dipengaruhi variabel lain yang tidak diteliti sehingga dapat dikatakan kemandirian remaja banyak dipengaruhi oleh faktor lain. Dalam pengasuhan, orang tua dapat meningkatkan kemandirian remaja dengan menerapkan gaya pengasuhan demokratis yang mampu mendorong remaja untuk bebas memilih dan melakukan tindakannya secara mandiri, namun tetap dalam pengawasan orang tua yang bertanggung jawab dalam menentukan batasan dan kendali atas tindakan remaja.
Abstract
The presence of a father figure in child-rearing can provide positive role models for adolescent development into adulthood. This study aims to determine the influence of father involvement in parenting on adolescent independence. The research was conducted using an associative quantitative method with purposive sampling technique. Data were collected through an online questionnaire with a group of adolescents aged 16-20 years, unmarried, and still having a father as the research sample. A total of 102 research samples were collected from late November to early December 2022. The data were then processed using SPSS with descriptive statistical tests, normality, linearity, and simple regression. The results showed a significant and positive influence of father involvement in parenting on adolescent independence. This is indicated by a Sig. value smaller than 0.05 (0.00<0.05). The positive relationship indicates that the higher the father's involvement in parenting, the higher the level of adolescent independence. The influence of father involvement in parenting on adolescent independence shows a value of 0.181 or 18.1%, meaning that the remaining 81.9% is influenced by other variables not studied, suggesting that adolescent independence is largely influenced by other factors. In parenting, parents can enhance adolescent independence by applying a democratic parenting style that encourages adolescents to freely choose and act independently, while still under the supervision of responsible parents in setting limits and control over adolescent actions
PERAN KELUARGA DALAM MENCEGAH KECANDUAN GAME ONLINE PADA REMAJA
Game online merupakan game yang sangat digemari oleh berbagai kalangan usia, salah satunya yang paling menonjol adalah pada kalangan remaja. Permainan yang dimainkan melalui internet memang dianggap lebih seru dan lebih menantang, namun tak sedikit juga para pemain game online yang terjerumus menjadi kecanduan akan game online. Seseorang yang dianggap kecanduan dalam game online adalah ketika waktu yang dihabiskan untuk bermain sudah melebihi batas waktu, sudah mengganggu produktivitas kesehariannya, serta keinginan untuk terus-menerus memainkan game-nya. Terdapat beberapa kasus di Indonesia terkait seorang remaja yang kecanduan akan game online yang berdampak pada kematian. Banyak faktor yang dapat membuat seseorang menjadi kecanduan akan game online, salah satunya adalah faktor eksternal yang bersumber dari keluarga. Beberapa penelitian menunjukkan jika seseorang memiliki hubungan yang kurang baik dalam keluarga dapat membuat seseorang memiliki perilaku yang negatif seperti kecanduan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu studi literatur dengan mengumpulkan dan mengelaborasikan informasi dari berbagai penelitian sebelumnya secara sistematis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi bagaimana peran orang tua dalam mencegah anaknya terhadap kecanduan game online. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa banyaknya permasalahan yang ditimbulkan pada anak yang mengalami kecanduan game online, maka pentingnya peran dari pihak keluarga dalam mengawasi dan membimbing anaknya untuk dapat mengontrol dirinya agar tidak mengalami kecanduan akan game online.
Abstract
Online games are games that are very popular with various age groups, one of which is most prominent is among teenagers. Games played over the internet are indeed considered more exciting and more challenging, but not a few online game players who fall into addiction to online games. Someone who is considered addicted to online games is when the time spent playing has exceeded the time limit, has interfered with their daily productivity, and the desire to continue playing the game. There are several cases in Indonesia of teenagers addicted to online games that resulted in death. Many factors can make a person become addicted to online games, one of which is external factors that come from the family. Some studies show that if someone has a bad relationship in the family, it can make someone have negative behavior such as addiction. This research uses a qualitative method, which is a literature study by systematically collecting and elaborating information from various previous studies. The purpose of this study is to provide information on how the role of parents in preventing their children from online game addiction. The results of this study indicate that there are many problems caused to children who experience online game addiction, so the importance of the role of the family in taking care of their children