JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
Not a member yet
226 research outputs found
Sort by
KORELASI ANTARA KOMUNIKASI INTERPERSONAL DAN PERILAKU ALONE TOGETHER PADA REMAJA
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kemampuan komunikasi interpersonal dengan perilaku alone together pada remaja. Studi ini dilakukan terhadap 75 siswa kelas XI di MAN 2 Ciamis dengan menggunakan teknik pengambilan sampel simple random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas skala komunikasi interpersonal dan skala alone together. Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa skala komunikasi interpersonal memiliki nilai reliabilitas sebesar 0,764, sedangkan skala alone together memperoleh nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,911, yang keduanya berada dalam kategori reliabel. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment. Sebelum dilakukan uji korelasi, data diuji terlebih dahulu melalui uji prasyarat yang meliputi uji normalitas dan uji linearitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi interpersonal responden berada pada kategori rendah (16%) dan sedang (84%). Sementara itu, perilaku alone together berada pada kategori rendah (16%), sedang (72%), dan tinggi (12%). Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kemampuan komunikasi interpersonal dengan perilaku alone together, dengan nilai signifikansi sebesar 0,002 (p<0,05) dan koefisien korelasi sebesar -0,358. Temuan ini menunjukkan bahwa rendahnya kemampuan komunikasi interpersonal dapat berkontribusi terhadap meningkatnya perilaku alone together di kalangan remaja. Oleh karena itu, diperlukan intervensi pendidikan yang menekankan pada pengembangan keterampilan komunikasi interpersonal melalui pembelajaran di kelas, kegiatan ekstrakurikuler, serta peningkatan kualitas interaksi sosial di lingkungan sekolah. Upaya ini penting untuk mencegah kecenderungan remaja menarik diri secara sosial meskipun secara fisik berada dalam kelompok.
Abstract
This study aims to examine the relationship between interpersonal communication skills and alone together behavior among adolescents. The study involved 75 eleventh-grade students at MAN 2 Ciamis, selected using a simple random sampling technique. The research instruments consisted of an interpersonal communication scale and an alone togetherbehavior scale. Reliability testing showed that the interpersonal communication scale had a reliability coefficient of 0.764, while the alone together scale had a Cronbach’s Alpha value of 0.911, indicating that both instruments were reliable. Data analysis was conducted using the Pearson Product Moment correlation test. Prior to the correlation analysis, prerequisite tests were performed, including normality and linearity tests. The results indicated that interpersonal communication skills among respondents were in the low category (16%) and moderate category (84%). Meanwhile, alone together behavior was categorized as low (16%), moderate (72%), and high (12%). The correlation test revealed a significant negative relationship between interpersonal communication skills and alone together behavior, with a significance value of 0.002 (p < 0.05) and a correlation coefficient of -0.358. These findings suggest that lower interpersonal communication skills may contribute to higher levels of alone together behavior among adolescents. Therefore, educational interventions that emphasize the development of interpersonal communication skills—through classroom learning, extracurricular activities, and the enhancement of social interaction quality within the school environment—are essential to prevent adolescents from socially withdrawing despite being physically present in group settings
KONSTRUKSI MEDIA ONLINE TERKAIT ISU CHILDFREE
Abstrak
Keputusan untuk tidak mempunyai anak atau yang biasa disebut childfree mulai menjadi sebuah perbincangan yang hangat. Banyak pakar Kesehatan yang membicarakan hal tersebut karena berhubungan dengan Kesehatan. Di Indonesia sendiri hal ini menjadi topik yang menimbulkan pro dan kontra, karena childfree dapat mengganggu tingkat pertumbuhan penduduk dan juga kesehatan. Semakin banyak orang yang berfikir untuk childfree, maka angka kelahiran pasti akan menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami pandangan para pakar kesehatan terhadap fenomena keputusan childfree, di mana individu atau pasangan memilih untuk tidak memiliki anak. Fokus utama penelitian adalah menganalisis bagaimana pandangan-pandangan pro dan kontra dari para pakar kesehatan terhadap fenomena childfree yang sedang marak hingga kalangan Gen Z. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis wacana kritis. Peneliti akan mencari berita berita yang relevan dan menganalisisnya. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan gambaran yang komprehensif tentang cara pandang para pakar kesehatan terhadap keputusan childfree, termasuk faktor-faktor kesehatan yang mereka pertimbangkan. Penelitian ini dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman lebih lanjut tentang kompleksitas keputusan childfree dari sudut pandang kesehatan, serta menggambarkan peran para pakar kesehatan dalam membentuk narasi seputar pilihan hidup ini.
Abstract
The decision not to have children, commonly referred to as childfree, has become an increasingly prominent topic of public discourse. Many health experts have engaged in discussions surrounding this issue due to its implications for physical and reproductive health. In Indonesia, the childfree phenomenon has sparked debate and controversy, as it is perceived to potentially disrupt population growth and raise health concerns. As more individuals, particularly from Generation Z, consider the childfree lifestyle, birth rates are projected to decline.This study aims to explore how health experts perceive and respond to the childfree phenomenon, examining both supportive and opposing viewpoints. Employing a critical discourse analysis approach, the research analyzes online news articles from Indonesian media platforms that explicitly present expert opinions on childfree choices. The study seeks to provide a comprehensive understanding of how health-related factors influence the childfree decision and how media contribute to shaping the narrative surrounding this personal life choice. The findings are expected to offer valuable insights into the complexity of the childfree phenomenon from a health perspective and highlight the role of health professionals in influencing public opinion and discourse in digital spaces
MANFAAT HASIL PENYULUHAN PENCEGAHAN STUNTING PADA IBU HAMIL DI KECAMATAN NUSAHERANG, KABUPATEN KUNINGAN
Abstrak
Stunting merupakan permasalahan kesehatan yang berdampak jangka panjang dari generasi ke generasi. Tingginya prevalensi stunting menunjukkan perlunya peningkatan wawasan bagi ibu hamil guna mencegah kelahiran bayi dengan kondisi stunting agar dapat tumbuh sehat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manfaat penyuluhan pencegahan stunting bagi ibu hamil di Kecamatan Nusaherang, Kabupaten Kuningan, ditinjau dari aspek kognitif, psikomotor, dan afektif. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui angket daring dalam bentuk Google Form dengan instrumen pengukuran menggunakan skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuluhan pencegahan stunting memberikan manfaat yang sangat tinggi bagi ibu hamil dalam berbagai aspek. Pada aspek kognitif, mayoritas responden menyatakan bahwa penyuluhan sangat bermanfaat dalam meningkatkan pemahaman mengenai pengertian, ciri-ciri, dan dampak stunting. Pada aspek psikomotor, penyuluhan juga dinilai sangat bermanfaat dalam meningkatkan keterampilan ibu hamil dalam penatalaksanaan dan pencegahan stunting. Sementara itu, pada aspek afektif, sebagian besar responden menyatakan bahwa penyuluhan sangat bermanfaat dalam membentuk pola makan, pola asuh, dan kebersihan lingkungan yang mendukung pencegahan stunting. Berdasarkan temuan ini, disarankan agar ibu hamil terus berpartisipasi dalam penyuluhan pencegahan stunting untuk memperoleh lebih banyak informasi mengenai pemenuhan gizi dan kesehatan selama kehamilan. Hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan kondisi kesehatan ibu dan janin serta mencegah risiko stunting pada bayi yang akan lahir.
Abstract
Stunting is a health issue with long-term impacts that persist across generations. The high prevalence of stunting highlights the need to enhance pregnant women’s awareness to prevent the birth of stunted babies, ensuring their healthy growth. This study aims to analyze the benefits of stunting prevention counseling for pregnant women in Nusaherang District, Kuningan Regency, from cognitive, psychomotor, and affective aspects. The research method employed is a descriptive method with a quantitative approach. Data collection was conducted through an online questionnaire using Google Forms, with measurement instruments utilizing the Likert scale. The study results indicate that stunting prevention counseling provides significant benefits to pregnant women across various aspects. In the cognitive aspect, the majority of respondents stated that the counseling was highly beneficial in enhancing their understanding of the definition, characteristics, and impacts of stunting. In the psychomotor aspect, the counseling was also considered highly beneficial in improving pregnant women’s skills in stunting management and prevention. Meanwhile, in the affective aspect, most respondents found the counseling highly beneficial in shaping proper eating habits, parenting styles, and environmental hygiene that support stunting prevention. Based on these findings, it is recommended that pregnant women continue to participate in stunting prevention counseling to gain more information on nutritional fulfillment and maternal health during pregnancy. This aims to optimize the health conditions of both the mother and fetus while preventing the risk of stunting in newborns
HUBUNGAN INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TIKTOK DAN PERILAKU KONSUMTIF REMAJA
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan media sosial TikTok dengan perilaku konsumtif pada remaja. Perkembangan teknologi yang pesat telah mendorong perubahan perilaku sosial, termasuk kebiasaan berbelanja secara daring melalui media sosial. TikTok kini tidak hanya menjadi platform hiburan, tetapi juga wadah promosi dan transaksi yang mendorong perilaku konsumtif di kalangan remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei korelasional. Populasi penelitian adalah remaja berusia 17–22 tahun dengan jumlah sampel sebanyak 84 responden, terdiri dari 62 perempuan dan 22 laki-laki, yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen penelitian meliputi skala intensitas penggunaan media sosial TikTok (23 item) dan skala perilaku konsumtif remaja (33 item). Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment menunjukkan hasil r = 0,572 dengan p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan positif dan signifikan antara intensitas penggunaan media sosial TikTok dengan perilaku konsumtif remaja, dengan keeratan hubungan dalam tingkat sedang. Hasil ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi frekuensi penggunaan TikTok, semakin besar pula kecenderungan remaja untuk berperilaku konsumtif. Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya literasi digital dan kontrol diri agar remaja dapat menggunakan media sosial secara bijak dan tidak terjebak dalam perilaku konsumtif yang berlebihan.
Abstract
This study aims to determine the relationship between the intensity of TikTok social media use and adolescent consumer behavior. Rapid technological developments have driven changes in social behavior, including online shopping habits through social media. TikTok is now an entertainment platform and a promotional and transaction platform that encourages consumer behavior among adolescents. This study used a quantitative approach with a correlational survey method. The study population was adolescents aged 17–22 with a sample of 84 respondents, 62 females and 22 males, selected through a purposive sampling technique. The research instruments included a scale of TikTok social media use intensity (23 items) and a scale of adolescent consumer behavior (33 items). Data analysis using the Pearson Product-Moment correlation test showed a result of r = 0.572 with p = 0.000 (p < 0.05), which means there is a positive and significant relationship between the intensity of TikTok social media use and adolescent consumer behavior, with a moderate level of closeness. These results indicate that the higher the frequency of TikTok use, the greater the tendency of adolescents to behave in a consumer manner. The implications of this study emphasize the importance of digital literacy and self-control so that teenagers can use social media wisely and not get caught up in excessive consumer behavior
TAHAPAN PEMBENTUKAN RESILIENSI DIRI IBU TUNGGAL PASCA KEMATIAN SUAMI: LITERATURE REVIEW
Abstrak
Fenomena Ibu tunggal kerap kali terjadi di beberapa dekade terakhir ini. Ibu tunggal merupakan seorang wanita yang memikul tanggung jawab besar dan mengharuskannya untuk memberi nafkah pada keluarga dengan bekerja, membimbing, mengasuh, dan membesarkan anak. Pencapaian resiliensi bagi Ibu tunggal merupakan hal yang sulit, karena Ibu tunggal dihadapi dengan kondisi kehidupan yang penuh tekanan sehingga menciptakan kondisi baru bagi Ibu tunggal. Untuk menjadi individu yang resilien, dapat dilalui dengan berperilaku dan kognitif, seperti menghargai kehidupan serta berinteraksi. Ibu tunggal dapat dikatakan memiliki resiliensi ketika berhasil dan mampu melalui kondisi buruk dan menjalani kehidupan yang lebih baik. Berdasarkan permasalahan, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses tahapan resiliensi diri pada Ibu tunggal pasca kematian suami. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review atau narrative review. Kajian Literature menggunakan 10 dari 30 artikel yang telah ditemukan yang menggunakan penelitian kualitatif dengan berbagai metode sampling dan responden Ibu tunggal pasca kematian suami. Hasil penelitian literature yang telah dilakukan, ditemukan bahwa Ibu tunggal melewati beberapa tahapan untuk mencapai resiliensi, tahapan tersebut yaitu Berserah (succumbing), Bertahan (survival), Pemulihan (recovery), dan Berkembang (thriving). Adapun faktor yang menyongkong pencapaian resiliensi Ibu tunggal yaitu faktor dukungan sosial. Dengan memiliki resiliensi yang baik, Ibu tunggal akan dapat mengatasi masa-masa sulit, menjadikan pengalaman sebagai motivasi kedepannya, serta percaya bahwa setiap individu memiliki karakter uniknya sendiri.
Abstract
The phenomenon of single mothers has become increasingly common in recent decades. A single mother is a woman who bears significant responsibilities, requiring her to provide for her family by working, guiding, nurturing, and raising her children. Achieving resilience for a single mother is challenging, as they face a life full of pressures that create new conditions for them. To become a resilient individual, one can engage in behavioral and cognitive practices, such as valuing life and interacting with others. A single mother is considered resilient when she successfully overcomes adverse conditions and leads a better life. Based on these issues, this study aims to analyze the process of self-resilience stages in single mothers following the death of their husbands. The approach used in this research is a literature review or narrative review. The literature study used 10 out of 30 articles found, employing qualitative research with various sampling methods and respondents being single mothers after the death of their husbands. The literature findings indicate that single mothers go through several stages to achieve resilience, which include Succumbing, Survival, Recovery, and Thriving. A supporting factor for achieving resilience in single mothers is social support. With good resilience, single mothers can overcome difficult times, use experiences as motivation for the future, and believe that everyone has their own unique character
THE INFLUENCE OF PSYCHOSOCIAL DEVELOPMENT ON THE LEARNING RESPONSIBILITY OF SCHOOL-AGED CHILDREN
Abstract
Psychosocial development that is not fully mature can impact the learning responsibility of school-aged children. This study aims to analyze the influence of psychosocial development on the learning responsibility of school-aged children. Data was collected using the cluster random sampling technique. The research sample consisted of 172 fifth and sixth-grade students from one school in Bekasi city and two schools in Bekasi Regency. Data collection was conducted using a questionnaire. The instrument used to measure psychosocial development consisted of 19 items based on the dimensions of industry and inferiority. The instrument used to assess learning responsibility consisted of 22 items based on the dimensions of learning responsibility during the course and learning responsibility outside the course. The collected data was processed and analyzed using descriptive and inferential statistics, specifically simple linear regression tests. The results of the study showed that psychosocial development positively influences learning responsibility. The determination coefficient obtained was 0.496%, meaning that psychosocial development affects learning responsibility by 49.6%, while the remaining 50.1% is influenced by other factors. Therefore, it is essential for involved parties to be aware of children's psychosocial development to enhance their learning responsibility.
Abstrak
Perkembangan psikososial yang belum matang sepenuhnya dapat memengaruhi tanggung jawab belajar anak usia sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perkembangan psikososial terhadap tanggung jawab belajar anak usia sekolah. Data dikumpulkan menggunakan teknik cluster random sampling. Sampel penelitian terdiri dari 172 siswa kelas V dan VI dari satu sekolah di Kota Bekasi dan dua sekolah di Kabupaten Bekasi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner. Instrumen yang digunakan untuk mengukur perkembangan psikososial terdiri dari 19 butir berdasarkan dimensi industri dan inferioritas. Instrumen yang digunakan untuk menilai tanggung jawab belajar terdiri dari 22 butir berdasarkan dimensi tanggung jawab belajar selama pembelajaran dan tanggung jawab belajar di luar pembelajaran. Data yang terkumpul diolah dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensial, khususnya uji regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan psikososial berpengaruh positif terhadap tanggung jawab belajar. Koefisien determinasi yang diperoleh sebesar 0,496%, yang berarti perkembangan psikososial memengaruhi tanggung jawab belajar sebesar 49,6%, sedangkan sisanya 50,1% dipengaruhi oleh faktor lain. Oleh karena itu, penting bagi pihak terkait untuk memperhatikan perkembangan psikososial anak guna meningkatkan tanggung jawab belajarnya
PENGALAMAN ORANG TUA YANG BEKERJA DENGAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS: STUDI FENOMENOLOGI
Abstrak
Orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus menghadapi berbagai tantangan dalam pengasuhan, terutama bagi mereka yang juga memiliki tanggung jawab sebagai pekerja. Mereka harus mampu menyeimbangkan kehidupan keluarga dan pekerjaan secara bersamaan. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk memahami lebih dalam pengalaman hidup orang tua yang bekerja dan memiliki anak berkebutuhan khusus. Studi fenomenologi ini mengeksplorasi pengalaman para orang tua melalui pendekatan deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode bola salju berdasarkan kriteria tertentu, menghasilkan 8 partisipan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan format semi-terstruktur, kemudian dianalisis menggunakan metode fenomenologi Moustakas. Hasil penelitian mengungkapkan dua tema utama, yaitu: (1) berdamai dengan keadaan, dan (2) keseimbangan antara kehidupan keluarga dan pekerjaan. Temuan ini dapat menjadi referensi bagi para spesialis, konselor, serta pekerja sosial dalam merancang strategi dan intervensi yang dapat membantu orang tua bekerja dalam menghadapi tantangan emosional, psikologis, dan finansial dalam mengasuh anak berkebutuhan khusus. Beberapa strategi yang dapat diterapkan meliputi komunikasi terbuka, penjadwalan rutin, melibatkan anak dalam aktivitas sehari-hari, dukungan di lingkungan kerja, pelatihan khusus bagi orang tua, bantuan dari spesialis, pemanfaatan teknologi pendukung, fleksibilitas di rumah, dukungan sosial, serta manajemen stres.
Abstract
Parents of children with special needs face numerous challenges in caregiving, especially when they also have professional responsibilities. Balancing family and work life simultaneously can be demanding. This qualitative study aims to gain deeper insight into the experiences of working parents raising children with special needs. Using a phenomenological approach, this study explores the lived experiences of parents through descriptive analysis. Criterion sampling with a snowball method was used to recruit eight participants. Data were collected through in-depth, semi-structured interviews and analyzed using Moustakas' phenomenological method. The findings revealed two main themes: (1) making peace with the situation and (2) balancing family and work life. These findings can serve as a reference for specialists, counselors, and social work professionals in designing strategies and interventions to help working parents manage the emotional, psychological, and financial challenges of raising children with special needs. Some recommended strategies include open communication, establishing a structured routine, involving children in daily activities, workplace support, specialized parental training, assistance from specialists, utilizing assistive technology, creating household flexibility, social support, and stress management
DIGITAL CITIZENSHIP: PERAN PARENTAL MEDIATION DAN KUALITAS LINGKUNGAN KELAS DALAM PENGEMBANGAN DIGITAL CITIZENSHIP PADA SISWA
Abstrak
Kemajuan teknologi digital menuntut siswa untuk memiliki kemampuan berperilaku secara bertanggung jawab, kritis, dan etis dalam ruang digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh parental mediation dan kualitas lingkungan kelas terhadap digital citizenship siswa. Penelitian ini melibatkan 222 orang siswa dari salah satu sekolah di DKI Jakarta yang dipilih melalui teknik acak sederhana. Peneliti mengumpulkan data menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji regresi linear berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa parental mediation dan kualitas lingkungan kelas memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap digital citizenship. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin optimal peran orang tua dalam membimbing anak dalam penggunaan media digital, serta semakin kondusif lingkungan kelas yang diciptakan oleh sekolah, maka semakin tinggi pula tingkat digital citizenship yang dimiliki oleh siswa. Penelitian ini menegaskan pentingnya sinergi antara keluarga dan sekolah dalam membentuk karakter digital siswa yang bertanggung jawab.
Abstract
The advancement of digital technology requires students to behave responsibly, critically, and ethically in digital spaces. This study aims to examine the influence of parental mediation and the quality of the classroom environment on students' digital citizenship. The research involved 222 students from a school in DKI Jakarta, selected through a simple random sampling technique. Data were collected using a questionnaire and analyzed using multiple linear regression. The results indicate that parental mediation and the quality of the classroom environment have a positive and significant influence on digital citizenship. These findings suggest that the more optimal the role of parents in guiding their children in using digital media, and the more conducive the classroom environment created by the school, the higher the level of digital citizenship possessed by students. This study highlights the importance of synergy between families and schools in shaping students' digital citizenship
DAMPAK PERCERAIAN ORANG TUA TERHADAP MOTIVASI BELAJAR ANAK DI DESA KARUMBU, KECAMATAN LANGGUDU, KABUPATEN BIMA
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi alasan perceraian di Desa Karumbu Kecamatan Langgudu Kabupaten Bima untuk mengetahui pengaruh perceraian orang tua terhadap motivasi belajar anak di Desa Karumbu Kecamatan Langgudu Kabupaten Bima. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data yang dikumpulkan peneliti berasal dari observasi dan wawancara. Informasi yang diperoleh dianalisis secara deskriptif melalui reduksi dan penyajian data serta inferensi. Berdasarkan penelitian, Faktor penyebab perceraian di Desa Karumbu Kecamatan Langgudu Kabupaten Bima: 1) faktor tidak saling setia satu sama lain atau adanya perselingkuhan, 2) faktor ekonomi, 3) terjadinya pernikahan di usia muda, 4) Munculnya kesalahpahaman sehingga terus terjadi pertengakaran. Sedangkan dampak dari perceraian orang tua terhadap motivasi belajar anak di Desa Karumbu Kecamatan Langgudu Kabupaten Bima ialah: 1) motivasi belajar sangat rendah karena kurangnya perhatian dan dorongan semangat dari orang tua sehingga motivasi belajar dalam diri anak semakin menurun, 2) konsentrasi belajar anak terganggu contohnya ketika di rumah anak biasanya sering mendengar orag tua bertengkar atau marah-marah sehingga menyebabkan konsentrasi belajar anak terganggu, 3) kurang disiplin atau sopan biasanya dalam hal ini anak kurang sopan dan disiplin anak karena kurangnya bimbingan dan arahan dari orang tuanya untuk berprilaku yang baik. contohnya seperti anak suka bolos sekolah, jarang masuk sekolah, dan sering membuat maslaah untuk mendapatkan perhatian dari orang lain di sekitarnya.
Abstract
The purpose of this study was to find out what factors influenced the reasons for divorce in Karumbu Village, Langgudu District, Bima Regency, and to determine the effect of parental divorce on children's learning motivation in Karumbu Village, Langgudu District, Bima Regency. In this study, researchers used a qualitative descriptive method. The data collected by researchers came from observations and interviews. The information obtained was analyzed descriptively through reduction and presentation of data and inferences. Based on research, the causes of divorce in Karumbu Village, Langgudu District, Bima Regency: 1) factors of not being loyal to each other or having an affair, 2) economic factors, 3) the occurrence of marriage at a young age, 4) The emergence of misunderstandings that continue to occur quarrels. Meanwhile, the impact of parental divorce on children's learning motivation in Karumbu Village, Langgudu District, Bima Regency is: 1) learning motivation is very low due to lack of attention and encouragement from parents so that motivation to learn in children decreases, 2) the child's learning concentration is disrupted, for example when at home the child usually often hears the parents arguing or getting angry, causing the child's learning concentration to be disrupted, 3) lack of discipline or politeness, usually in this case the child is impolite and disciplined because of a lack of guidance and direction from his parents for good behavior. For example, children like to skip school, rarely go to school, and often make trouble to get attention from other people around them
ANALISIS SISTEM KELUARGA KRISTEN KATOLIK JAWA YANG MEMILIKI ANAK DENGAN AUTISME: SEBUAH STUDI NARATIF
Abstrak
Penelitian bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan bagaimana sistem keluarga yang memiliki peran tersendiri yang berbeda pada keluarga pada umumnya. Terlebih lagi, terdapat seorang anak dengan autisme sebagai anggota keluarga yang tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Pada keluarga ini, ibu menjadi tulang punggung ekonomi dan ayah cenderung sebagai pendamping bagi anak dalam memenuhi kebutuhan pendidikan. Oleh karena itu, terjadi suatu hal yang menjadi permasalahan ketika terdapat peran yang tidak umum dan ditambah pula hadirnya anak dengan autisme yang tentunya memerlukan pengasuhan, pendidikan, dan perhatian yang lebih intens. Untuk menjawab rumusan masalah tersebut, peneliti menggunakan metode kualitatif dengan naratif deskriptif secara holistik. Hasil penelitian ini terbagi pada lima bagian, yakni struktur keluarga, tahap perkembangan berkeluarga, fungsi dan peran dalam berkeluarga, serta sistem keluarga. Ditemukan bahwa dinamika sistem pada keluarga ini cenderung pada teori ekologi. Dalam keluarga ini, terdapat mikorsistem, makrosistem, dan eksosistem yang berjalan. Secara mikrosistem, terdapat pemenuhan kebutuhan fisik dan emosional melalui komitmen dan komunikasi positif. Selain itu, pemenuhan spiritualitas dengan rutin ibadah ke Gereja juga menjadi sarana penguatan ketahanan keluarga. Kemudian, secara makrosistem, budaya Jawa yang kental dianut pun membawa keluarga ini pada tradisi tertentu yang kemudian dapat memberi dampak pada sistem dan dinamika keluarga. Di sisi lain, lingkup eksosistem, seperti lingkungan sosial serta media massa atau penggunaan teknologi pun terlihat dalam dinamika keluarga ini. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat menjadi rujukan bagi keluarga lainnya dalam membangun sistem keluarga yang memiliki ketahanan baik.
Abstract
The research aims to find out and explain how the family system has its own role that is different from the family in general. Moreover, there is a child with autism as a family member which is certainly a challenge for parents. In this family, the mother plays the important role to fulfill the economic needs and the father tends to be a companion for the child in the educational needs. Therefore, there is something that becomes a problem when there is an unusual role and the presence of a child with autism is added which of course requires more intense treatment, education and attention. To answer the formulation of the problem, the researcher used a qualitative method with a holistic descriptive narrative. The results of this study are divided into five parts, namely family structure, family development stages, functions and roles in family, and family system. It was found that the dynamics of the system in this family tends to be ecological theory. Within this family, there are microsystems, macrosystems, and ecosystems. In microsystems, there is fulfillment of physical and emotional needs through commitment and positive communication. In addition, fulfilling spirituality by regularly going to Church is also a means of strengthening family resilience. Then, on a macrosystem basis, the strong adherence to Javanese culture also brings this family to certain traditions which can then have an impact on the system and family dynamics. On the other hand, the scope of the ecosystem, such as the social environment and mass media or the use of technology can also be seen in the dynamics of this family. With this research, it is hoped that it can become a reference for other families in building a family system that has good resilience