JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
Not a member yet
    226 research outputs found

    PENGEMBANGAN MEDIA EDUKASI PRANIKAH BERBASIS ISPRING SUITE UNTUK CALON PENGANTIN

    Full text link
    Abstrak Pendidikan pranikah memiliki urgensi tinggi sebagai upaya membekali calon pengantin dengan pengetahuan dan keterampilan yang mendukung kehidupan pernikahan yang sehat dan harmonis. Persiapan yang matang sebelum menikah diyakini dapat mencegah konflik rumah tangga dan meningkatkan kualitas hubungan pasangan. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi berbagai kendala, terutama dalam hal penyediaan media pembelajaran yang menarik dan mudah diakses. Penelitian ini bertujuan untuk merancang media edukasi pranikah berbasis aplikasi iSpring Suite sebagai media pendukung dalam pelaksanaan pendidikan pranikah bagi calon pengantin. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan model penelitian Planning, Production, and Evaluation (PPE). Tahap perancangan dimulai dengan analisis kebutuhan melalui wawancara dan observasi, dilanjutkan dengan pengembangan media edukasi menggunakan aplikasi iSpring Suite. Media yang dikembangkan terdiri dari tiga bagian utama: tampilan muka (identitas dan petunjuk penggunaan), bagian isi (fitur learn dan test berisi materi dalam bentuk teks, gambar, video, soal pilihan ganda, dan studi kasus), serta bagian penutup (fitur guidelines dan profil pengembang). Pada tahap evaluasi, dilakukan expert judgment oleh ahli media dan ahli materi untuk menilai kelayakan media yang telah dibuat. Hasil validasi menunjukkan bahwa media edukasi pranikah berbasis iSpring Suite sangat layak digunakan. Media ini diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran interaktif yang mendukung pelaksanaan pendidikan pranikah secara fleksibel, mudah diakses kapan saja dan di mana saja, serta menjadi inovasi dalam penyelenggaraan pendidikan pranikah. Abstract Premarital education is highly essential as an effort to equip engaged couples with the knowledge and skills necessary for a healthy and harmonious marriage. Well-prepared couples are believed to be better equipped to prevent marital conflicts and enhance the quality of their relationship. However, its implementation still faces various challenges, particularly in providing engaging and accessible learning media. This study aims to design a technology-based premarital education media using the iSpring Suite application as a supportive tool for premarital education delivery. A descriptive method was employed, using the Planning, Production, and Evaluation (PPE) research model. The design process began with a needs analysis through interviews and observations, followed by the development of the educational media using iSpring Suite. The media consists of three main components: the front page (containing media identity and usage instructions), the content section (featuring learn and test modules with materials in the form of text, images, videos, multiple-choice questions, and case studies), and the closing section (including guidelines and developer profiles). In the evaluation phase, expert judgment was conducted by media and content experts to assess the feasibility of the developed media. The validation results indicated that the premarital education media developed using iSpring Suite is highly feasible for use. This media is expected to serve as an interactive learning tool that supports flexible premarital education, accessible anytime and anywhere, and offers an innovative approach to its implementation

    PENGARUH STATUS SOSIAL EKONOMI ORANG TUA TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII MTs MAARIF NU 01 KERTANEGARA

    Full text link
    Abstrak Hasil belajar merupakan tingkat penguasaan yang dicapai siswa selama proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Salah satu faktor eksternal yang kerap mempengaruhi pencapaian belajar siswa adalah kondisi sosial ekonomi orang tua diukur berdasarkan tingkat pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh status sosial ekonomi orang tua terhadap hasil belajar siswa kelas VIII MTs Maarif NU 01 Kertanegara. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan dua variabel yaitu status sosial ekonomi dan hasil belajar. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII sebanyak 97 siswa dan menggunakan teknik total sampling. Metode pengumpulan datanya menggunakan angket yang menyajikan 20 pernyataan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu uji prasarat yang meliputi uji normalitas dan uji linieritas, kemudian untuk uji hipotesisnya menggunakan uji regresi linier sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas responden dalam penelitian ini berasal dari kelompok ekonomi menengah. Nilai F hitung sebesar 2,607 dengan signifikansi 0,110 yang lebih besar dari 0,05 mengindikasikan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan antara status sosial ekonomi dan hasil belajar.   Abstract Learning outcomes are the level of mastery achieved by students during the teaching and learning process in accordance with the established educational objectives. One of the external factors that often influences student learning achievement is the socioeconomic conditions of parents, measured by their level of education, occupation, and income. The purpose of this study was to determine the effect of parental socioeconomic status on the learning outcomes of grade VIII students of MTs Maarif NU 01 Kertanegara. This type of research is quantitative, examining two variables: socioeconomic status and learning outcomes. The population of this study consisted of 97 grade VIII students, and a total sampling technique was employed. The data collection method used a questionnaire presenting 20 statements. The data analysis technique used in this study included a prerequisite test that consisted of a normality test and a linearity test. For hypothesis testing, a simple linear regression test was employed. The results of this study indicate that most respondents came from the middle economic group. The calculated F-value of 2.607, with a significance level of 0.110, which is greater than 0.05, indicates that there is no significant influence between socioeconomic status and learning outcomes

    PERAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA TERHADAP RESILIENSI ORANG TUA TUNGGAL DALAM MENJALANKAN PERAN GANDA

    Full text link
    Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran dukungan sosial dalam membentuk ketahanan (resiliensi) orang tua tunggal yang menjalankan peran ganda dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus, melibatkan tiga orang tua tunggal dengan latar belakang berbeda, yaitu cerai hidup dan cerai mati. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi pola makna terkait bentuk dukungan sosial, strategi adaptasi, serta proses pembentukan ketahanan individu. Subjek penelitian terdiri atas tiga orang tua tunggal, yaitu dua ibu tunggal dan satu ayah tunggal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial, baik dalam bentuk emosional, instrumental, maupun spiritual, memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan psikologis orang tua tunggal. Dukungan dari keluarga inti, khususnya dari orang tua dan anak, menjadi sumber utama penguatan mental, penurunan stres, serta keseimbangan peran dalam menjalani fungsi ganda sebagai ayah dan ibu. Penelitian ini menegaskan bahwa dukungan sosial tidak hanya berfungsi sebagai bantuan eksternal, tetapi juga sebagai pondasi dalam pembentukan makna dan keteguhan diri dalam menghadapi tekanan hidup. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap dinamika dukungan sosial dapat memperkaya kajian tentang ketahanan keluarga serta menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan sosial yang lebih responsif terhadap kebutuhan keluarga tunggal di Indonesia. Abstract This study aims to describe the role of social support in shaping the resilience of single parents who perform dual roles in their daily lives. A qualitative approach was employed using a case study method involving three single parents with different backgrounds: divorce and widowhood. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using thematic analysis to identify patterns of meaning related to forms of social support, adaptation strategies, and the process of individual resilience formation. The research subjects consisted of three single parents: two single mothers and one single father. The findings indicate that social support—emotional, instrumental, and spiritual—plays a significant role in strengthening the psychological resilience of single parents. Support from the nuclear family, particularly from parents and children, serves as the main source of mental reinforcement, stress reduction, and role balance in fulfilling dual functions as both mother and father. This study affirms that social support functions not only as external assistance but also as a foundation for meaning making and self-determination in facing life pressures. The implications of this research suggest that understanding the dynamics of social support can enrich studies on family resilience and serve as a basis for developing more responsive social policies to meet the needs of single-parent families in Indonesia

    KESIAPAN MENTAL IBU MUDA DARI PERNIKAHAN USIA DEWASA AWAL DI KOTA SURABAYA

    Full text link
    Abstrak Fenomena pernikahan pada usia muda atau dewasa awal tidak lagi dianggap sebagai hal yang tabu dalam masyarakat Indonesia. Banyak individu yang memilih untuk menikah pada usia tersebut dengan alasan cinta, tanpa mempertimbangkan secara matang berbagai risiko yang mungkin timbul dalam kehidupan rumah tangga. Keputusan ini berpotensi memengaruhi kondisi psikologis perempuan yang menikah muda, terutama karena kesiapan fisik dan mental yang belum optimal, sehingga rentan mengalami stres. Selain aspek psikologis, pernikahan pada usia dewasa awal juga kerap menimbulkan permasalahan lain, seperti ketidakstabilan finansial. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kesiapan mental ibu muda yang menikah pada usia dewasa awal di Kota Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan teori fenomenologi sebagai landasan analisis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi mendalam dan wawancara terstruktur terhadap partisipan yang memenuhi kriteria penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan mental merupakan faktor krusial dalam menjalani kehidupan pernikahan, khususnya bagi individu yang menikah pada usia dewasa awal. Pada usia tersebut, kemampuan berpikir dan pengendalian emosi belum sepenuhnya matang, sehingga banyak ibu muda yang mengalami tekanan psikologis akibat tuntutan untuk mengelola keluarga. Ketidaksiapan secara fisik, emosional, dan mental menjadi pemicu utama munculnya stres. Lebih lanjut, perempuan yang menikah pada usia dewasa awal juga memiliki risiko kesehatan yang lebih tinggi, baik bagi diri sendiri maupun anak yang dilahirkan. Risiko tersebut mencakup komplikasi kehamilan serta gangguan kesehatan pada anak, yang dapat berdampak jangka panjang terhadap kesejahteraan keluarga. Abstract The phenomenon of early marriage or marriage during early adulthood is no longer considered taboo in Indonesian society. Many individuals choose to marry at a young age for reasons of love, often without thoroughly considering the potential risks that may arise in married life. This decision can significantly affect the psychological condition of young brides, particularly due to their physical and mental readiness being less than optimal, making them more vulnerable to stress. In addition to psychological aspects, marriage during early adulthood often leads to other challenges, such as financial instability. Based on this background, the present study aims to examine the mental preparedness of young mothers who marry during early adulthood in the city of Surabaya. This research employs a qualitative method with a descriptive approach, using phenomenological theory as the analytical framework. Data collection was conducted through in-depth observation and structured interviews with participants who met the study criteria. The findings indicate that mental readiness is a crucial factor in sustaining a marriage, especially for individuals who marry during early adulthood. At this age, cognitive maturity and emotional regulation are not yet fully developed, resulting in many young mothers experiencing psychological pressure due to the demands of managing a household. The lack of physical, emotional, and mental preparedness is a primary trigger for stress. Furthermore, women who marry during early adulthood are at higher risk of health complications, both for themselves and their children. These risks include pregnancy-related complications and potential health issues in children, which may have long-term impacts on family well-being

    EVALUASI KEPUASAN PENGUNJUNG TERHADAP PROSESI UPACARA ADAT SEREN TAUN DI KASEPUHAN SINAR RESMI

    Full text link
    Abstrak Kepuasan pengunjung merupakan evaluasi terhadap sejauh mana produk memenuhi harapan mereka. Jika produk sesuai dengan harapan, pengunjung akan merasa puas. Evaluasi kepuasan pengunjung dalam upacara adat seren taun di Kasepuhan Sinar Resmi mencakup pengalaman selama prosesi upacara, pemahaman terhadap makna setiap unsur adat, interaksi dengan komunitas lokal, serta kepuasan terhadap fasilitas dan koordinasi acara. Penelitian ini bertujuan menganalisis kepuasan pengunjung terhadap prosesi upacara adat seren taun di Kasepuhan Sinar Resmi, dengan fokus pada indikator kepuasan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode penelitian yang digunakan ialah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian ditetapkan menggunakan purposive sampling, dengan jumlah subjek lima orang pengunjung yang berasal dari luar daerah Kasepuhan Sinar Resmi, berusia 19 tahun ke atas, menghadiri seluruh prosesi upacara adat seren taun dari awal hingga akhir, dan yang telah menghadiri prosesi lebih dari sekali, dengan kehadiran 2-3 kali sebagai parameter yang relevan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan tinjauan pustaka, dengan pedoman wawancara sebagai instrumen penelitian. Teknik analisis meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan/verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengunjung mengalami kepuasan mendalam, dengan sebagian besar memberikan penilaian positif terhadap semua indikator dan faktor kepuasan, yang memungkinkan mereka untuk mengalami kedalaman spiritual dan kekayaan budaya dari upacara tersebut. Abstract Visitor satisfaction is an evaluation of the extent to which a product meets their expectations. If the product meets expectations, visitors will be satisfied. The evaluation of visitor satisfaction in the seren taun traditional ceremony at Kasepuhan Sinar Resmi includes experiences during the ceremony, understanding the meaning of each traditional element, interaction with the local community, and satisfaction with event facilities and coordination. This study aims to analyze visitor satisfaction with the seren taun traditional ceremony at Kasepuhan Sinar Resmi, focusing on satisfaction indicators and influencing factors. The research method used is qualitative with a descriptive approach. The research subjects were determined using purposive sampling, with five visitors from outside the Kasepuhan Sinar Resmi area, aged 19 years and above, attending the entire seren taun ceremony from start to finish, and having attended the ceremony more than once, with 2-3 attendances as the relevant parameter. Data collection techniques included interviews and literature review, with interview guidelines as the research instrument. Data analysis techniques included data reduction, data display, and conclusion drawing/verification. The results show that visitors experienced deep satisfaction, with most giving positive assessments of all satisfaction indicators and factors, allowing them to experience the spiritual depth and cultural richness of the ceremony

    A STUDY OF REGULAR STUDENTS’ SOCIAL SUPPORT FOR STUDENTS WITH SPECIAL NEEDS: HOW DOES IT RELATE TO SOCIAL ACCEPTANCE?

    Full text link
    Abstract The implementation of inclusive education in Indonesia is still a challenge. Not all students with special needs are treated well by regular students. Students with special needs need social support in carrying out the learning process in inclusive schools. More studies need to be conducted on the social acceptance of regular students towards students with special needs. This study analyses the relationship between social acceptance and social support of regular students towards students with special needs. This research uses a correlational quantitative approach. Research data were collected using a proportionate stratified random sampling technique. The sample of this study totaled 209 regular students at SMP N 259 Jakarta, grades 7, 8, and 9, in whose classes there were students with special needs. Data collection used a questionnaire guided by the researcher. The instrument used to measure social acceptance consists of 21 items, while the instrument used to measure social support consists of 20 items. The results showed a correlation coefficient (r) of 0.832. This result means that the relationship between social acceptance and social support of regular students towards students with special needs is significant. So, the higher the social acceptance, the higher the social support. There needs to be socialization about inclusive education to encourage social acceptance of students with special needs. That way, social support will also increase.   Abstrak Implementasi pendidikan inklusi di Indonesia masih menjadi tantangan. Tidak semua siswa berkebutuhan khusus diperlakukan dengan baik oleh siswa reguler. Siswa berkebutuhan khusus membutuhkan dukungan sosial dalam menjalankan proses pembelajaran di sekolah inklusi. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penerimaan sosial siswa reguler terhadap siswa berkebutuhan khusus. Penelitian ini menganalisis hubungan antara penerimaan sosial dan dukungan sosial siswa reguler terhadap siswa berkebutuhan khusus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Sampel penelitian ini berjumlah 209 siswa reguler di SMP N 259 Jakarta, kelas 7, 8, dan 9, yang di dalam kelasnya terdapat siswa berkebutuhan khusus. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dipandu oleh peneliti. Instrumen yang digunakan untuk mengukur penerimaan sosial terdiri dari 21 item, sedangkan instrumen yang digunakan untuk mengukur dukungan sosial terdiri dari 20 item. Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi (r) sebesar 0,832. Hasil ini berarti hubungan antara penerimaan sosial dan dukungan sosial siswa reguler terhadap siswa berkebutuhan khusus adalah signifikan. Jadi, semakin tinggi penerimaan sosial maka semakin tinggi pula dukungan sosialnya. Perlu adanya sosialisasi mengenai pendidikan inklusi untuk mendorong penerimaan sosial terhadap siswa berkebutuhan khusus. Dengan begitu, dukungan sosial juga akan meningkat

    HUBUNGAN PERILAKU MAKAN DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN STATUS GIZI REMAJA

    Full text link
    Abstrak Status gizi merupakan hasil keseimbangan antara asupan zat gizi dari makanan dan pengeluaran energi melalui aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku makan dan aktivitas fisik dengan status gizi remaja di SMA Negeri 1 Sei Rampah. Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 1 Sei Rampah pada bulan November 2022 hingga Februari 2023, dengan jumlah sampel sebanyak 71 remaja yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran antropometri dan pengisian kuesioner. Analisis bivariat menggunakan uji Rank Spearman, sedangkan analisis multivariat menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 50,7% remaja memiliki perilaku makan yang kurang baik, 90,10% memiliki tingkat aktivitas fisik sedang, dan 43,70% memiliki status gizi kurang. Uji Rank Spearman menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara perilaku makan dan aktivitas fisik dengan status gizi (p = 0,000). Hasil regresi linier berganda menunjukkan bahwa perilaku makan dan aktivitas fisik berhubungan signifikan dengan status gizi remaja (Y = -1,906 + 0,062 perilaku makan + 0,002 aktivitas fisik; p = 0,000), dengan perilaku makan sebagai faktor yang paling dominan. Dengan demikian, terdapat hubungan antara perilaku makan dan aktivitas fisik dengan status gizi remaja di SMA Negeri 1 Sei Rampah. Hasil ini mengindikasikan bahwa program edukasi gizi dan promosi gaya hidup aktif di lingkungan sekolah dapat menjadi strategi yang efektif untuk mencegah dan mengatasi masalah gizi pada remaja. Intervensi yang berkelanjutan dan berbasis sekolah perlu dikembangkan untuk meningkatkan kualitas perilaku makan dan aktivitas fisik sebagai upaya mendukung perkembangan remaja yang optimal. Abstract Nutritional status is the result of a balance between nutrient intake from food and energy expenditure through physical activity. This study aims to examine the relationship between eating behavior and physical activity with the nutritional status of adolescents at SMA Negeri 1 Sei Rampah. The research employed an observational design with a cross-sectional approach. The study was conducted at SMA Negeri 1 Sei Rampah from November 2022 to February 2023, involving 71 adolescents selected through random sampling. Data collection was carried out through anthropometric measurements and questionnaire completion. Bivariate analysis was performed using the Spearman rank test, while multivariate analysis used multiple linear regression. The results showed that 50.7% of adolescents had poor eating behavior, 90.10% had moderate physical activity levels, and 43.70% had poor nutritional status. The Spearman rank test indicated a significant relationship between eating behavior and physical activity with nutritional status (p = 0.000). The multiple linear regression analysis revealed a significant relationship between eating behavior and physical activity with adolescents’ nutritional status (Y = -1.906 + 0.062 eating behavior + 0.002 physical activity; p = 0.000), with eating behavior being the most dominant factor. Thus, there is a significant relationship between eating behavior and physical activity with the nutritional status of adolescents at SMA Negeri 1 Sei Rampah. These findings suggest that nutrition education programs and the promotion of active lifestyles within the school environment can be effective strategies to prevent and address nutritional problems among adolescents. Sustainable, school-based interventions should be developed to improve the quality of eating behavior and physical activity as part of efforts to support optimal adolescent development

    PEMAAFAN ISTRI PASCA PERSELINGKUHAN SUAMI: KAJIAN LITERATUR

    Full text link
    Abstrak Perselingkuhan menjadi salah satu masalah kompleks yang terjadi di kehidupan pernikahan. Perselingkuhan yang dilakukan oleh suami dapat memicu keretakan dalam rumah tangga. Namun, tidak semua istri memutuskan untuk mengakhiri hubungan suami-istri setelah mengetahui suaminya berselingkuh. Forgiveness menjadi salah satu cara yang diterapkan istri untuk mempertahankan rumah tangganya. Dalam proses pemaafan, istri melewati berbagai tantangan hingga akhirnya berdamai dengan peristiwa yang terjadi dalam rumah tangganya. Metode yang digunakan pada artikel ini adalah literature review. Literature review ini bertujuan untuk melihat bagaimana proses forgiveness seorang istri demi mempertahankan pernikahannya pasca perselingkuhan suami. Literatur yang digunakan dalam kajian ini diterbitkan dalam 8 tahun terakhir. Kajian literatur secara deskriptif dilakukan pada 10 artikel yang menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan fenomenologi serta subjek pada kajian literatur ini adalah individu usia dewasa. Terdapat satu artikel yang menggunakan metode penelitian kualitatif sebagai pengambilan data utama dan kuesioner berupa NEO PI-R serta TRIM-18 untuk melengkapi data wawancara. Hasil dari literature review ini menunjukkan terdapat empat tahap yang dilalui istri dari awal mengetahui perselingkuhan suami hingga mampu memaafkan perselingkuhan dan mempertahankan rumah tangganya. Tahap yang dilalui istri terdiri dari Uncovering Phase (Tahap Pengungkapan), Decision Phase (Tahap Keputusan), Work Phase (Tahap Kerja), dan Deepening Phase (Tahap Pendalaman). Kata kunci: pemaafan istri, mempertahankan pernikahan, perselingkuhan suami Abstract Infidelity is one of the complex problems that occur in married life. Infidelity committed by the husband can trigger a rift in the household. However, not all wives decide to end their husband-wife relationship after finding out that their husbands are cheating on them. Forgiveness is one of the ways that wives apply to maintain their household. In the process of forgiveness, the wife went through various challenges to finally make peace with the events that occurred in her household. The method used in this article is literature review. This literature review aims to see how the forgiveness process of a wife in order to maintain her marriage after the husband's infidelity. The literature used in this review was published in the last 8 years. Descriptive literature review was conducted on 10 articles that used qualitative research with a case study approach and phenomenology and the subjects in this literature review were adult-age individuals. There is one article that uses qualitative research methods as the main data collection and questionnaires in the form of NEO PI-R and TRIM-18 to complement interview data. The results of this literature review show that there are four stages that wives go through from the beginning of knowing their husband's infidelity to being able to forgive infidelity and maintain their household. The stages that wives go through consist of the Uncovering Phase, Decision Phase, Work Phase, and Deepening Phase

    EKSPLORASI PERILAKU CYBERBULLYING REMAJA DI MEDIA WHATSAPP: PERAN POLA KOMUNIKASI DALAM KELUARGA

    Full text link
    Perundungan dunia maya atau cyberbullying masih menjadi permasalahan yang marak terjadi di kalangan remaja. Fenomena ini menggambarkan bentuk intimidasi yang dilakukan secara sengaja dan berulang menggunakan teknologi digital untuk menyakiti individu atau kelompok tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor-faktor penyebab munculnya perilaku cyberbullying di kalangan remaja serta menganalisis peran pola komunikasi keluarga dalam membentuk perilaku tersebut, khususnya pada media WhatsApp. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus dan dilaksanakan di SMKN 2 Purwodadi pada bulan Mei–Juli 2024. Informan penelitian terdiri atas tiga siswa kelas XI Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB) 2 yang pernah terlibat dalam kasus cyberbullying serta tiga orang tua (ayah atau ibu) dari masing-masing siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi teknik dan member check kepada informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku cyberbullying remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu perilaku suka meniru, intensitas penggunaan handphone yang tinggi, kurangnya pengawasan orang tua, pola asuh yang tidak tepat, pengaruh lingkungan sebaya, serta rendahnya pemahaman mengenai dampak cyberbullying. Selain itu, ditemukan tiga pola komunikasi keluarga (otoriter, permisif, dan demokratis) yang memiliki pengaruh berbeda terhadap perilaku remaja dalam berinteraksi di dunia digital. Pola komunikasi demokratis cenderung mendorong terbentuknya perilaku positif dan empatik, sedangkan pola otoriter dan permisif berpotensi meningkatkan risiko keterlibatan remaja dalam cyberbullying. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya komunikasi terbuka dan positif antara orang tua dan anak sebagai upaya pencegahan serta penanganan cyberbullying secara efektif.   Abstract Cyberbullying remains a prevalent issue among adolescents, representing a form of intentional and repeated intimidation through digital technology aimed at harming individuals or groups. This study aims to explore the factors contributing to adolescent cyberbullying behavior and to analyze the role of family communication patterns in shaping such behavior, particularly on the WhatsApp platform. Employing a qualitative descriptive approach with a case study design, the research was conducted at SMKN 2 Purwodadi from May to July 2024. The informants consisted of three students from Class XI of the Building Design and Information Modeling (DPIB) 2 program who had been involved in cyberbullying cases, along with one parent (father or mother) of each student, selected using purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, and analyzed using the interactive model of Miles and Huberman, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing. Data validity was ensured through technique triangulation and member checking. The findings reveal that adolescent cyberbullying behavior is influenced by several factors, including imitation tendencies, high mobile-phone usage intensity, lack of parental supervision, inappropriate parenting styles, peer influence, and limited understanding of the impact of cyberbullying. Furthermore, three family communication patterns (authoritarian, permissive, and authoritative) were identified, each exerting a different influence on adolescents’ digital behavior. Democratic communication patterns tend to foster positive and empathetic behavior, while authoritarian and permissive patterns may increase the risk of adolescents engaging in cyberbullying. The study concludes that open and positive communication between parents and children plays a crucial role in preventing and addressing cyberbullying effectively

    MAPPING KOMPETENSI CAREGIVER SEBAGAI PANDUAN KERJA

    Full text link
    Abstrak Dalam dunia pendidikan, institusi pendidikan dituntut untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi guna mengubah manajemen sumber daya manusia yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Teknologi dapat diaplikasikan pada bidang caregiver yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari, perawatan kesehatan, dan manajemen penyakit untuk meningkatkan kesejahteraan lansia. Untuk menghasilkan tenaga kerja dalam bidang caregiver yang berkualitas diperlukan keselarasan antara kompetensi yang sesuai dengan standar serta perkembangan zaman saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan mapping kompetensi caregiver sebagai panduan kerja yang selaras dengan standar dan perkembangan zaman saat ini. Metode penelitian ini menggunakan Systematic Literature Review (SLR) dengan tahapan planning, conducting, dan reporting. Data diperoleh dari 32 artikel internasional dan nasional pada periode 2018-2022 melalui Google Scholar, ScienceDirect, Taylor & Francis, dan Sage Journal. Hasil penelitian menunjukkan 10 kompetensi caregiver yaitu kesehatan lansia, pendampingan lansia, kebersihan diri lansia, mobilitas lansia, teknologi dan informasi, manajemen emosi, gizi lansia, pekerjaan rumah tangga, komunikasi efektif, serta pengetahuan dan perawatan lansia. Mapping kompetensi dirumuskan dalam 3 tema yaitu Pengembangan Diri, Activities of Daily Living (ADL), dan Instrumental Activities of Daily Living (IADL) yang mencakup domain Pengetahuan, Keterampilan, dan Sikap. Mapping kompetensi caregiver ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas, mudah dipahami, dan menjadi panduan kerja sesuai perkembangan zaman saat ini.   Abstract In the world of education, educational institutions are required to adapt to developments in information and communication technology to transform human resource management, which affects the quality of education. Technology can be applied in the field of caregiving, which focuses on meeting daily needs, health care, and disease management to improve the well-being of the elderly. To produce a quality workforce in the field of caregiving, there needs to be harmony between competencies that are in line with current standards and developments. This study aims to produce a mapping of caregiver competencies as a work guide that is in line with current standards and developments. This research method uses Systematic Literature Review (SLR) with the stages of planning, conducting, and reporting. Data were obtained from 32 international and national articles in the 2018-2022 period through Google Scholar, ScienceDirect, Taylor & Francis, and Sage Journal. The results showed 10 caregiver competencies, namely elderly health, elderly assistance, elderly personal hygiene, elderly mobility, technology and information, emotion management, elderly nutrition, housework, effective communication, knowledge and care of the elderly. The competency mapping was formulated into three themes, namely Self-Development, Activities of Daily Living (ADL), and Instrumental Activities of Daily Living (IADL), which cover the domains of Knowledge, Skills, and Attitudes. This caregiver competency mapping is expected to provide a clear and easy-to-understand overview and serve as a work guide in line with current developments

    216

    full texts

    226

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇