SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
Not a member yet
    436 research outputs found

    Peran Nahdlatul Ulama dalam Menangkal Radikalisme di Kalangan Pemuda di Tulungagung

    No full text
    ABSTRAK Abror, Silahul. 2016. Peran Nahdlatul Ulama dalam Menangkal Radikalisme di Kalangan Pemuda di Tulungagung. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. A Rosyid Al Atok, M.Pd., M.H., (II) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si. Kata Kunci: Peran Nahdlatul Ulama, Radikalisme, Pemuda Radikalisme ialah paham atau aliran yang menginginkan perubahan,  baik perubahan sosial maupun politik dengan cara yang keras atau drastis.Radikalisme di Indonesia telah memiliki akar sejarah yang panjang sejak zaman pra kemerdekaan dan kemerdekaan.Namun tumbangnya orde baru memberikan peluang kepada kelompok maupun tokoh-tokoh radikal untuk kembali ke permukaan.Situasi politik, ekonomi, dan sosial Indonesia maupun internasional juga banyak memberikan pengaruh terhadap proses radikalisme kepada organisasi-organisasi yang terbentuk dikalangan masyarakat.Iklim kebebasan yang dibuka sejak reformasi pada tahun 1998 memberi ruang luas berkembangnya radikalisme.Peristiwa penggrebekan dan penangkapan yang dilakukan oleh aparat Detasemen Khusus 88/Antiteror Polri terhadap seorang pria yang bernama Ridwan Sungkar alias Iwan alias Abi Bilal alias Ewo yang berusia sekitar 40 tahun warga Dusun Grobokan, Desa Mangunsari, Kecamatan Kedungwaru,  Kabupaten Tulungagung, pada Jumat (27 Maret 2015), karena yang bersangkutan diduga terlibat dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), merupakan indikasi bahwa paham radikal dan jaringannya semakin meluas di seluruh daerah-daerah di Indonesia. Bahkan telah merambah dan mencapai daerah pinggiran, dan jauh dari pusat pemerintahan seperti Kabupaten Tulungagung. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) perkembangan radikalisme di kalangan pemuda di Tulungagung; (2) usaha Nahdlatul Ulama dalam menangkal radikalisme dikalangan pemuda di Tulungagung; (3) kendala dan hambatan dalam pelaksanaan usaha untuk menangkal radikalisme dikalangan pemuda di Tulungagung; dan (4) solusi untuk mengatasi hambatan dalam pelaksanaan usaha menangkal radikalisme dikalanganpemuda di Tulungagung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data penelitian yang berupa dokumentasi dan hasil wawancara dengan beberapa informan yaitu Sekretaris PCNU Tulungagung, Ketua ASWAJA Center, Ketua kader penggerak NU, dan wakil ketua Gerakan Pemuda Ansor cabang Tulungagung. Kegiatan analisis data dengan menggunakan model analisis interaktif, dimulai dari tahap (1) reduksi data; (2) penyajian data; dan(3) penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama mengenai Perkembangan radikalisme di Tulungagung sudah ada dan mulai berkembang, meski masih relatif kecil dan tidak menggunakan kekerasan. Perkembangannya melalui kampus, sekolah maupun organisasi-organisasi kepemudaan, dimana yang menjadi sasaran adalah pemuda-pemuda yang masih awam dan pemahaman agamanya masih kurang.Kedua, Program yang dilakukan PCNU Tulungagung dalam usaha menangkal radikalisme antara lain melalui bidang pendidikan, bidang ekonomi, dan bidang dakwah, pemberian rekomendasi pada pemerintah daerah untuk menanggulangi bahaya radikalisme, membentuk tim-tim kader inti untuk pengembangan paham Aswaja di setiap MWC dan ranting, melakukan kajian-kajian keislaman, pembinaan keislaman yang berstandar Ahlussnunnah Wal Jamaah, mengadakan workshop deradikalisasi yang melibatkan beberapa elemen pemuda, melakukan penguatan kapasitas melalui diklat, penguatan pemahaman dan ideologisasi termasuk penanggulanhan radikalisme, melakukan gerakan majlis dzikir dan shalawat rijalul ansor, penguatan terhadap nasionalisme dan cinta tanah air untuk membentengi para pemuda dari radikalisme. Sedangkan hasil pelaksanaan program PCNU Tulungagung untuk menangkal radikalisme di kalangan pemuda di Tulungagung masih belum maksimal karena tidak terlepas dari adanya berbagai hambatan, tapi sudah bisa berjalan dan dapat dirasakan manfaatnya, antara lain masyarakat dan pemuda yang awalnya tidak mengerti radikalisme menjadi lebih tahu akan bahaya radikalisme.Ketiga, kendala yang dihadapi PCNU Tulungagung dalam pelaksanaan program menangkal radikalisme dikalangan pemuda di Tulungagung yaitu warga NU dan pemudanya yang plural dan bermacam-macam, PCNU belum memiliki aset yang memadahi untuk mendirikan lembaga pendidikan, tingkat kemauan pemuda untuk mengikuti kursus keahlian yang disediakan oleh PCNU masih kurang diminati, kondisi geografis dan akses transportasinya lumayan sulit, pemahaman warga dan juga pemuda mengenai pemahaman radikalisme masih kurang, lemahnya pemahaman dibidang IT serta pengkoordinasian penggalian dana yang masih lemah.Keempat, solusi yang dilakukan PCNU untuk mengatasi kendala yang dihadapi dalam upaya menangkal radikalisme di kalangan pemuda di Tulungagung adalah meynusun perencanaan program. dan anggaran di tahun 2016 untuk melaksanakan program deradikalisasi, pemanfaatan dan pemaksimalan anggaran yang ada, untuk melaksanakan program yang tepat sasaran, PCNU harus merubah metode dan pendekatannya, tidak hanya menggunakan pendekatan keagamaan, tempat-tempat yang menjadi focus kelompok radikal akan mendapat pendampingan khusus untuk membentengi dari pengaruh radikal, Melaksanakan program PCNU dan juga GP Ansor di daerah yang rawan paham radikalisme guna untuk mensupport mental dan moral masyarakat dan pemuda di daerah tersebut

    . Peran Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga dalam mengembangkan objek wisata yang berbasis kearifan lokal di Kabupaten Sumenep

    No full text
    ABSTRAK Adhim, Faisal. 2016. Peran Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga dalam mengembangkan objek wisata yang berbasis kearifan lokal di Kabupaten Sumenep . Skripsi,Program Studi S1 PendidikanPancasiladanKewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Suko Wiyono. S.H, M.H (II) Dra. Arbaiyah Prantiasih, M.Si Kata Kunci: Peran Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, mengembangkan, Kearifan Lokal Dalam rangka mengembangkan objek wisata yang berbasis kearifan lokal yang ada di Kabupaten Sumenep, Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga bekerjasama untukmengembangkan objek wisata yang ada di Kabupaten Sumenep dengan Kementrian PariwisataRI dan juga Badan Pengembangan Wilayah Suramadu dalam mengembangkan objek wisata yang ada di Kabupaten Sumenep. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) peran Dinas kebudayaan, pariwisata, pemuda dan olahraga  (disbudparpora) dalam mengembangkan objek wisata di Kabupaten Sumenep; (2) program Dinas kebudayaan, pariwisata, pemuda dan olahraga  (disbudparpora) dalammengembangkanobjekwisata di KabupatenSumenep;(3) Kendala yang ditemuidalammelaksanakan program dariDinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) dalam mengembangkanobjekwisata di KabupatenSumenepdan(4) upaya yang dilakukan dalam melaksanakan program oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) dalam mengembangkan objekwisata di KabupatenSumenep Penelitianinimenggunakanpendekatankualitatif, denganjenis penelitiandeskriptif.Pengumpulan data dilakukandenganmenggunakanpengamatan, wawancara,dandokumentasi.Data penelitian yang berupadokumentasidanhasilwawancaradenganbeberapainforman yaitukepala Disbudparpora, penjaga tempat wisata, danpelaku usaha yang ada di tempat wisata. Dianalisisdenganmenggunakanmodel analisis interaktif, dimulaidaritahap(1) Pengumpulan data;(2) Reduksi data; (3) Penyajian data; dan(3) penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama mengenai peran disbudparpora yaitupelaksana dan bertanggung jawab terhadap pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Sumenep, fasilitator dalam pengembangan pariwisata dan perencana tempat wisata. Kedua, Program Disbudparpora dalam mengembangkan pariwisata di Kabupaten Sumenep yaitu perbaikan tempat bermain di semua tempat Wisata di Kabupaten Sumenep, renovasi gedung Museum Keraton, pemeliharaan dan perawatan sarana wisata seni dan budaya, pembuatan booklet dan kalender pariwisata, mengadakan pameran wisata, pelatihanSumberDayaManusia(SDM) pariwisata, publikasi di Media Promosi, promosi dan pemasaran Kabupaten Sumenep.Ketiga,Kendala-kendala yang dihadapi oleh disbudparpora dalam mengembangkan objek wisata yang ada di Kabupaten Sumenep adalah (1) keterbatasan anggaran dari pemerintah ; (2) paradigma masyarakat yang beranggapan bahwa dalam pengembangan pariwisata identik dengan mengembangkan maksiat. (3) belum adanya regulasi yang mengatur tentang kepariwisataan di Kabupaten Sumenep.Keempat, upaya yang dilakukan oleh disbudparpora dalam mengembangkan objek wisata yang ada di Kabupaten Sumenep antara lain (1) melakukan kordinasi dengan Kementrian Pariwisata RI, (2) melakukan kordinasi dengan Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS). Beberapa saran daripenelitidiajukankepadabeberapapihak, yakni(1) bagi masyarakat, perlunya kesadaran bahwa mengembangkan objek wisata tidak hanya menjadi tanggung jawab dari pemerintah daerah melainkan juga harus adanya dukungan dari masyarakat yang ada di sekitar objek wisata,(2) masyarakat hendaknya ikut serta dalam kegiatan pengembangan yang dilakukan oleh disbudparpora,  baik itu membantu secara finansial ataupun membantu dengan tenaga,(3) Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) diharapkan bisa mengembangkan objek wisata secara maksimal dengan dana yang telah diberikan oleh pemerintah meskipun masih membutuhkan bantuan dari berbagai pihak lain, (4) Perlunya menumbuhkan kepercayaan kepada masyarakat bahwa mengembangkan objek wisata tidak semata-mata identik dengan mengembangkan maksiat, (5) Perlunya diadakan kegiatan pembinaan terhadap Sumber Daya Manusia (SDM) Pariwisata. SumberDayaManusia (SDM) Pariwisata disiniyang dimaksud adalah masyarakat di sekitar tempat wisata, guide, pengusaha hotel, rumah makan dan restoran, biro travel dan semua pihak terkait penyedia usaha jasa pariwisata

    Peran Dinas Perindustrian dan Perdagangan dalam Pemberdayaan Pengrajin Mebel Kayu Di Desa Sukorejo Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro

    No full text
    ABSTRAK   Rachmawati, Rike Aprilia. 2015. Peran Dinas Perindustrian dan Perdagangan dalam Pemberdayaan Pengrajin Mebel Kayu Di Desa Sukorejo Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro. Skripsi, Jurusan Hukum Dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sri Untari, M.Si, (II)  Dr. Didik Sukriono, SH, M.Hum            Kata Kunci: Peran Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Pemberdayaan Pengrajin Kayu   Kemiskinan dan pengangguran merupakan masalah yang dihadapi Indonesia saat ini, oleh karena itu pemerintah berperan untuk mengatasi kemiskinan dan pengangguran melalui usaha kecil dan menengah serta taraf hidup masyarakat harus ditingkatkan guna mewujudkan pertumbuhan ekonomi masyarakat luas. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan berupaya semaksimal mungkin dalam membuat program pemberdayaan industri dan kerajinan yang dimiliki masyarakat, yaitu program pemberdayaan industri pengrajin mebel kayu di Desa Sukorejo Bojonegoro. Usaha Pemberdayaan secara berkelanjutan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bojonegoro sangat penting dilakukan, hal ini mengingat pada upaya untuk menjadikan mebel kayu di Bojonegoro semakin membaik dalam pasar global di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) bentuk program pemberdayaan yang dilakukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bojonegoro terhadap pengrajin mebel kayu di Desa Sukorejo; (2) pelaksanaan program Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bojonegoro dalam pemberdayaan pengrajin mebel kayu di Desa Sukorejo; (3) kendala-kendala yang ditemui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bojonegoro dalam pemberdayaan pengrajin mebel kayu di Desa Sukorejo; (4) upaya Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bojonegoro dalam mengatasi kendala-kendala dalam pemberdayaan pengrajin mebel kayu di Desa Sukorejo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Sumber data penelitian yaitu orang, peristiwa, dan dokumen. Penelitian dilakukan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bojonegoro yang berlokasi di Jalan Lettu Suyitno No. 39 Bojonegoro dan di Desa Sukorejo Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan domumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: pertama, pemberdayaan untuk pengrajin mebel kayu Sukorejo yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan adalah melalui (a) pelatihan-pelatihan, seperti pelatihan pertukangan kayu, pelatihan desain mebel (ukir), pelatihan limbah kayu, pelatihan finishing, pelatihan website, (b) promosi melalui pameran-pameran, (c) bantuan alat pertukangan, (d) pembinaan kelembagaan dengan dibentuknya AFERO (Asosiasi Furniture Bojonegoro), (e) permodalan dengan meminjam uang di bank, (f) keberadaan UPT Kayu untuk menyewa jasa alat pertukangan. Kedua, pelaksanaan  proragram Dinas Perindustrian dan Perdagangan dalam pemberdayaan pengrajin mebel kayu Sukorejo adalah (a) pelatihan dilaksanakan dari tahun 2014 sampai tahun 2015 di Desa Sukorejo, Bangilan dan Genjor, (b) pameran dilaksanakan satu tahun sekali, (c) bantuan alat pertukangan dilaksanakan dengan mengajukan proposal, (d) pembinaan kelembagaan dilaksanakan satu bulan sekali, (e) permodalan dilaksanakan dengan meminjam uang ke bank dengan menggunakan BPKB, (f) keberadaan UPT Kayu dilaksanakan dengan pengrajin membawa bahan baku untuk dikerjakan di UPT. Ketiga, kendala-kendala yang ditemui Dinas Perindustrian dalam pemberdayaan pengrajin kayu mebel adalah (a) pelatihan-pelatihan, seperti tingkat kehadiran peserta tidak tepat waktu, (b) promosi, tidak semua pengrajin dapat mengikuti kegiatan pameran karena terbatasnya dana Disperindag, (c) bantuan alat pertukangan tidak dapat diberikan secara langsung kepada pengrajin, karena harus melalui proses, (d) AFERO dalam melaksanakan kegiatannya dilakukan sendiri tanpa didampingi oleh Disperindag, (e) pengrajin tidak mempunyai BPKB  ketika ingin meminjam modal ke bank, (f) IKM (Industri Kecil Menengah) kayu mebel sudah punya alat untuk pengolahan kayu sendiri, jadi tidak membutuhkan bantuan UPT Kayu lagi. Keempat, upaya yang dilakukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan dalam mengatasi kendala-kendala tersebut adalah (a)  pelatihan-pelatihan, seperti menambah waktu pelatihan, (b) memberikan kesempatan pada pengrajin kayu untuk mengikuti pameran berikutnya, (c) pemberian bantuan alat dilakukan secara bertahap dan bergantian, (d) pihak Disperindag harus mengatur jadwal agar dapat mendampingi AFERO dalam melaksanakan kegiatan, (e)  pengrajin yang ingin meminjam modal, yang tidak mempunyai BPKB pinjam ke bank lain yang agunannya berupa sertifikat selain BPKB, (f) pihak UPT dapat melayani sewa jasa alat kayu di luar IKM Sukorejo. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan (1) Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bojonegoro dapat menjalankan program kerja dengan baik, sesuai dengan rencana kerja, dengan tetap melaksanakan kegiatan pemberdayaan terhadap pengrajin mebel kayu Sukorejo seperti mengadakan pelatihan website dan kegiatan kemitraan, study banding. Dengan harapan program dilaksanakan sesuai dengan harapan dan tujuan untuk keberhasilan di masa mendatang untuk para pengrajin mebel kayu; (2) Para pengrajin kayu harus mengikuti program pemberdayaan yang diberikan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan agar dapat menambah wawasan serta pengalaman. Adanya pelatihan-pelatihan, promosi, bantuan alat pertukangan dan lain-lain untuk memfasilitasi usaha permebelan pengrajin kayu; (3) Masyarakat Kabupaten Bojonegoro turut serta mendukung program pemberdayaan pengrajin mebel kayu Sukorejo dengan melestarikan tempat penimbunan kayu (TPK) yang berada di Desa Sukorejo, agar pengrajin dapat memproduksi mebel serta meningkat penjualan dan menambah penghasilan daerah Kabupaten Bojonegoro.  

    Pendidikan Karakter Melalui TPQ Miftahul Huda Pada Anak Di Lingkungan Lokalisasi Kampung Baru Desa Sukodadi Kecamatan Kabuh Kabupaten Jombang

    No full text
    ABSTRAK   Wahyuni, Devy Tri. 2015. Pendidikan Karakter Melalui TPQ Miftahul Huda Pada Anak Di Lingkungan Lokalisasi Kampung Baru Desa Sukodadi Kecamatan Kabuh Kabupaten Jombang. Skripsi, jurusan Hukum dan Kewarganegaraan FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. I Ketut Diara Astawa, S.H, M.Si, (II) Dr. Didik Sukriono, S.H, M.Hum.   Kata kunci : TPQ (Taman Pendidikan al-Qur’an), Lokalisasi, Program Pengembangan TPQ, Pendidikan karakter, Hambatan Pelaksanaan TPQ, Cara Mengatasi Hambatan Pelaksanaan TPQ   TPQ merupakan kepanjangan dari Taman Pendidikan al-Qur’an, lembaga pendidikan non formal yang ada di bidang agama dan berlangsung di surau atau masjid sedangkan lokalisasi merupakan pembatasan pada suatu tempat atau lingkungan. Dalam hal ini lokalisasi yang dimaksud adalah lokalisasi prostitusi atau suatu bentuk perilaku seksual dengan sering berganti pasangan. Berdekatannya kedua tempat ini mengharuskan pihak TPQ harus lebih bekerja keras dalam upaya penanaman pendidikan karakter karena pendidikan karakter merupakan upaya pengembangan karakter baik dengan dasar kebajikan inti secara objektif. Tentunya dalam pelaksanaan yang telah direncanakan selalu terdapat hambatan, untuk itu para pelaksana penanaman pendidikan karakter khususnya di wilayah lokalisasi dengan perantara Taman Pendidikan al-Qur’an harus senantiasa memikirkan cara mengatasi hambatan dari pelaksanaan program-programnya. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan dan menganalisis: (1) latar belakang keberadaan TPQ Miftahul Huda di lingkungan lokalisasi Desa Sukodadi Kecamatan Kabuh Kabupaten Jombang; (2) program pengembangan yang dilaksanakan oleh TPQ Miftahul Huda dalam rangka penanaman pendidikan karakter di lingkungan lokalisasi; (3) produk dari pelaksanaan program pengembangan yang telah dirancang oleh TPQ Miftahul Huda; (4) hambatan dalam pelaksanaan program TPQ Miftahul Huda; (5) cara mengatasi berbagai hambatan yang ada selama pelaksanaan program TPQ Miftahul Huda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian mengkaji proses. Lokasi penelitian dilakukan di  Dusun Klubuk Timur, Desa Sukodadi Kecamatan Kabuh Kabupaten Jombang. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis dalam penelitian ini berdasarkan wawancara dan observasi partisipasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa: (1) TPQ (Taman Pendidikan al-Qur’an) Miftahul Huda berdiri sekitar tahun 2007-2008 karena warga ingin anak-anak mereka dapat belajar agama dan akhlak yang baik meski berada di lingkungan lokalisasi; (2) Program pengembangan di TPQ Miftahul Huda meliputi belajar membaca Al-qur’an, belajar kesenian Hadrah dan penanaman pendidikan karakter yang meliputi: a)Ilmu Pengetahuan, b)Budi Pekerti atau akhlak, c)Kreativitas, dan d)Inovatif melalui pengajaran dan penyampaian dengan disesuaikan kondisi lingkungan yang berkembang di masyarakat, bercerita pengalaman, bercerita kisah-kisah nabi yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan dan teguran-teguran saat santri melakukan kesalahan; (3) produk dari program yang telah dilaksanakan adalah saat ini beberapa santri dapat menghafal juz amma, dapat memainkan banjari serta dalam hal akhlak mereka semakin mengerti antara yang baik dengan yang buruk, bahkan salah satu diantara mereka yang merupakan anak dari PSK (Pekerja Seks Komersial) menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh orang tuanya adalah perbuatan yang salah sehingga ia memberanikan diri untuk menegur ibunya dan telah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari; (4) Hambatan yang timbul dalam penanaman pendidikan karakter yang dilakukan di TPQ Miftahul Huda beruapa kurangnya Sumber Daya Manusia sebagai pengajar, minimnya dana untuk pengelolaan TPQ Miftahul Huda; (5) untuk tenaga pengajar yang hanya dua orang tidak membuat para pengajar patah semangat dan untuk pendanaan ditopang oleh Ustadz Puji dengan mencari kayu dan mengajar mengaji di tempat lain serta dibantu dengan beberapa donatur tidak tetap yang silih berganti datang untuk membantu pembiayaan TPQ. Saran yang dapat dikemukakan dalam penelitian ini adalah: (1) Pemerintah Desa diharapkan bisa mendukung dan mengayomi  TPQ Miftahul Huda yang berada di dekat lokalisasi, mendampingi baik secara moral dan materiil; (2) pengelola TPQ Miftahul Huda harus selalu melakukan inovasi dalam pembelajaran terutama dalam penanaman pendidikan karakter kepada para santri agar mereka dapat mengikuti pembelajaran dengan senang dan tanpa ada rasa bosan; (3) para Pekerja Seks Komersial (PSK) dan mucikari mewajibkan putra-putrinya untuk belajar agama dan akhlak di TPQ Miftahul Huda agar ketika mereka besar tidak meneruskan pekerjaan orang tuanya menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK), mucikari maupun penikmat dari jasa-jasa tersebut

    Penanaman Semangat Nasionalisme Pancasila Melalui Gerakan Saka Wira Kartika Di Komando Rayon Militer (KORAMIL) 0819/07 Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan

    No full text
    ABSTRAK   Susilowati, Eni. 2015. Penanaman Semangat Nasionalisme PancasilaMelalui Gerakan Saka Wira Kartika di Komando Rayon Militer (Koramil) 0819/07 Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Ketut Diara Astawa, M. Si (II) Dr. H. Mohamad Yuhdi Batubara, SH, MH   Kata Kunci: SemangatNasionalisme, Pancasila, Saka Wira Kartika,   Saka Wira Kartika adalah wadah kegiatan bagi pramuka penegak dan pramuka pandega untuk meningkatkan kesadaran bela negara melalui pengetahuan dan keterampilan dibidang matra darat. Membentuk patriot bangsa yang setia, berbakti, dan menjunjung tinggi nilai luhur bangsa serta tetap menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sedangkan Nasionalisme adalah suatu rasa cinta tanah air yang dimiliki suatu masyarakat atau bangsa yang mempunyai kesamaan kebudayaan, dan wilayah serta kesamaan cita-cita dan tujuan, dan memiliki rasa kesetiaan yang mendalam terhadap bangsa sendiri. Penanaman semangat nasionalisme pada diri generasi penerus bangsa sangatlah diperlukan, karena nasionalisme lahir dari budaya dan karakter yang memiliki mental dan kepribadian warga negara indonesia. sehinggamemunculkanmasalahyaitu : (1) Bagaimanakah bentuk-bentuk program kegiatan anggota Saka Wira Kartika di Komando Rayon Militer (Koramil) 0819/07 Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan; (2) Bagaimanakah pelaksanaan program kegiatan Saka Wira Kartika dalam menanamkan semangat nasionalisme Pancasiladalam diri para anggotanya; (3)Apa saja faktor penghambat pelaksanaan program kegiatan Saka Wira Kartika dalam menanamkan semangat nasionalismePancasila dalam diri anggotanya; (4) Bagaiamana cara mengatasi faktor penghambat pelaksanaan program kegiatan Saka Wira Kartika dalam menanamkan semangat nasionalismePancasila dalam diri anggotanya. Penelitian ini bertujuan untukmendeskripsikan: (1) Bentuk  program kegiatan Saka Wira Kartika; (2) pelaksanaan program kegiatan Saka Wira Kartika; (3) Faktor penghambat pelaksanaan program kegiatan Saka Wira Kartika; dan (4) Cara mengatasifaktor penghambat pelaksanaan program kegiatan Saka Wira Kartika. Penelitianinimenggunakanpendekatankualitatif, denganjenis penelitiandeskriptif.Pengumpulan data dilakukandenganmenggunakanteknikobservasi, wawancara,dandokumentasi.Data penelitian yang berupadokumentasidanhasilwawancaradenganbeberapainforman yaituPamong Saka Wira Kartika, Instruktur Saka Wira Kartika, dananggotaSaka Wira Kartika. Kegiatananalisis data denganmenggunakanmodel analisis interaktif, dimulaidaritahap(1) reduksi data;(2) penyajian data; dan(3) penarikan kesimpulan. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwa (1) Bentuk  program kegiatan Saka Wira Kartika yaitu latihan rutin, pelantikan dewan kerja saka, masa orientasi saka, bakti sosial, dan refreshing; (2) Pelaksanaan program kegiatan Saka Wira Kartikayaitu latihan rutin, dengan materi kepramukaan, latihan baris-berbaris dan tali-temali; pelantikan dewan kerja saka yang diisi dengan penyerahan tanda kehormatan dewan kerja saka, pembacaan tri satya dan dasa dharma pramuka dengan menyematkan Sang Saka Merah Putih di dada; masa orientasi saka yang diisi dengan kegiatan outbond untuk melatih kekompakan anggota; dan bakti sosial di lingkungan masyarakat sekitar Koramil yang diisi dengan kegiatan membagikan baju dan buku-buku bekas yang layak pakai. (3) kendala dalam pelaksanaan program kegiatan Saka Wira Kartika yaituWaktudanalattransportasi;Kesibukan Pembina dan penyampaian materi yang kurang menarik;  Kurang saranadanprasarana; Keadaan cuaca dan penilaian masyarakat. (4) upaya untuk mengatasi kendala pelaksanaan program kerja kegiatan Saka Wira Kartika yaitu : Memberikan motivasi dan variasi kegiatan;Mengikut sertakan anggota saka dalam kegiatan Instruktur Saka; Menjaga komunikasi dengan pembina dan anggota Saka Wira Kartika; Memperbanyak aksi bakti sosial. BerdasarkanHasil penelitian dapatdisimpulkanPenanaman semangat nasionalisme Pancasila melalui gerakan Saka Wira Kartika di Komando Rayon Militer (Koramil) 0819/07 kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan dapat menanamkan semangat nasionalisme Pancasila dalam diri anggotanya. keberhasilan  ini dapat dilihat dari sikap dan tingkah laku anggota Saka Wira Kartika yaitu  anggotaSakaWiraKartikamemilikisikap disiplin, bertanggung jawab, mempunyai mental yang kuat, danmandiri, sertadapatmenjaga dan melestarikan alam IndonesiasesuaidenganDhasa Dharma Pramukapoinketigayaitucintaalamdankasihsayangsesamamanusia, kekompakan dan rasa persaudaraan yang ditanamkan dalam diri anggota saka mampu membangun rasa persatuan dan kesatuan, serta  dapat menghormati bendera Merah Putih dan saling menghormati antar anggota saka yang lain

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PPKn SISWA KELAS X SMK NEGERI 3 KOTA MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Safitri, Devi Wahyu. 2015. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Hasil Belajar PPKn Siswa Kelas X SMK Negeri 3 Kota Malang. Skripsi, Jurusan Hukum Dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. M. Yuhdi Batubara, SH., M.H., (II)  Siti Awaliyah, S.Pd.,SH., M.Hum.,           Pembelajaran PPKn di kelas X. JB 3 diperoleh beberapa hal berikut: (1) hasil belajar PPKn siswa kelas X.JB 3 SMK Negeri 3 Kota Malang  pada ulangan harian materi Hak Asasi Manusia ketuntasan siswa secara klasikal 46,87% dari keseluruhan jumlah siswa dalam satu kelas, (2) siswa cenderung masih berorientasi pada buku teks, sehingga kurang memanfaatkan lingkungan sekitar, misalnya melalui koran, internet, dan sumber lain yang relevan, (3) pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah sehingga siswa dapat menghasilkan suatu proyek/produk setelah melakukan proses pembelajaran tersebut belum pernah dilakukan. Pemanfaatan lingkungan sekitar untuk menambah pengalaman belajar siswa, misalnya melalui internet, dan sumber lain yang relevan, siswa dibiasakan untuk dapat belajar mandiri dalam memecahkan suatu permasalahan, selain itu pembelajaran sebaiknya tidak hanya menggunakan metode ceramah dan diskusi saja, tetapi juga dapat menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum 2013 salah satunya adalah model pembelajaran berbasis masalah. Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan hasil belajar PPKn siswa kelas X. JB 3 di SMK Negeri 3 Kota Malang. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran berbasis masalah dalam pembelajaran PPKn pada siswa kelas X. Jasa Boga 3 di SMK Negeri 3 Kota Malang; (2) menganalisis peningkatan hasil belajar PPKn siswa kelas X. JB 3 di SMK Negeri 3 Kota Malang setelah menerapkan model pembelajaran berbasis masalah Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. PTK ini dilaksanakan dalam dua siklus, siklus pertama terdiri dari tiga  pertemuan, siklus kedua terdiri dari empat pertemuan. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi (pengamatan), dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X.JB 3 yang berjumlah 32 siswa yang terdiri dari 6 siswa laki-laki dan 26 siswa perempuan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September-November 2015. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi kegiatan guru, lembar catatan lapangan, instruksi kerja penyusunan laporan proyek HAM, laporan kelompok, dan soal evaluasi. Hasil belajar siswa dengan imstrumen yang berupa tes tulis  yang diberikan pada siklus I dan siklus II.  Untuk menunjang data penelitian digunakan data aktifitas guru selama pembelajaran dan foto siswa. data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran Berbasis Masalah dapat meningkatkan hasil belajar PPKn siswa kelas X. JB 3 pada materi Hak Asasi Manusia. Peningkatan ini dapat dilihat dari rerata evaluasi belajar secara klasikal pada siklus I (83,5) dan pada siklus II (96,3). Peningkatan juga dilihat dari ketuntasan belajar siswa secara klasikal yaitu pada siklus I (84,38%), dan pada siklus II (100%). Selain itu, hasil belajar juga dilihat dari rerata hasil laporan proyek yang dikerjakan oleh siswa pada siklus I (88,25) dan pada siklus II (98,25). Nilai siswa selama proses pembuatan proyek juga mengalami peningkatan yaitu pada siklus I (82,08) sedangkan pada siklus II yaitu (92,85). Berdasakan hasil penelitian, maka dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar PPKn siswa kelas X. JB 3 di SMK Negeri 3 Kota Malang

    Peranan Kepolisian Resort Malang Kota dalam Menanggulangi Tindak Pidana Pencurian Kendaraan Bermotor (curanmor) di Kota Malang

    No full text
    ABSTRAK   Imaniar, Desi Nurul. Peranan Kepolisian Resort Malang Kota dalam Menanggulangi Tindak Pidana Pencurian Kendaraan Bermotor (curanmor) di Kota Malang. Skripsi. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Suko Wiyono, S.H, M.H (II) Dr. Nuruddin hady S.H, M.H.   Kata Kunci: Polres Malang Kota, menanggulangi, curanmor   Kejahatan merupakan hal yang tidak asing lagi dikalangan masyarakat kota Malang. Salah satu tindak kejahatan adalah pencurian. Pencurian yang sering terjadi di kota Malang adalah pencurian kendaraan bermotor (curanmor). Dari tahun ketahun laporan kasus curanmor di kota Malang mengalami peningkatan. Hal ini sangat meresahkan masyarakat kota Malang. Untuk menanggulangi hal tersebut dibutuhkan peran lembaga penegak hukum dalam hal ini Kepolisian Resort Malang Kota. Perlu adanya upaya-upaya dari Polres Malang Kota untuk menanggulangi masalah curanmor di kota Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) wilayah yang banyak terjadi kasus tindak pidana curanmor di kota Malang; (2) upaya-upaya yang dilakukan Kepolisian Resort Malang Kota dalam menanggulangi curanmor di Kota Malang; (3) Kendala-kendala yang dihadapi oleh Kepolisian Resort Malang Kota dalam menanggulangi curanmor di kota Malang; (4) upaya-upaya Kepolisian Resort Malang Kota untuk mengatasi kendala yang dihadapi dalam menanggulangi curanmor di kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi.  Data penelitian berupa dokumentasi dan hasil wawancara dengan beberapa informan yaitu AKP Hery Purwanto (Bagian Ops.), Aiptu Andik Puji Karyanto S.H dan Bribda Aditya Anggoro, (Bareskrim Polres Malang Kota), dan korban curanmor Maria Ulfa (Mahasiswi Universitas Negeri Malang). Kegiatan analisis data dengan menggunakan tiga langkah pokok dalam analisis data pengamatan yaitu (1) memilih dan merumuskan masalah, konsep, dan indeks yang digunakan. (2) mengukur kekerapan dan penyebaran peristiwa-peristiwa atau karakteristik yang dikaji. (3) pemasukan temuan-temuan ke dalam model deskriptif umum tentang kelompok yang dikaji. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama mengenai wilayah yang banyak terjadi kasus tindak pidana curanmor di kota Malang yaitu di kecamatan Lowokwaru karena kecamatan Lowokwaru merupakan daerah perguruan tinggi mengingat bahwasanya yang menjadi korban curanmor terbanyak adalah dari kalangan mahasiswa. Kedua, upaya-upaya yang dilakukan Polres Malang Kota dalam menanggulangi curanmor di kota Malang yaitu terdapat upaya preventif yang terdiri dari (1) kerja sama dengan masyarakat, (2) himbauan kepolisian untuk menggunakan kunci ganda pada kendaraan bermotor, (3) patroli di semua wilayah kota Malang, (4) razia sepeda motor, dan upaya represif diantaranya (1) pemblokiran nomor kendaraan bermotor, (2) buser lapangan untuk menangkap pelaku curanmor, (3) Pemanggilan korban curanmor, (4) Proses persidangan untuk memberikan sanksi kepada pelaku curanmor. ketiga, kendala-kendala yang dihadapi oleh Polres Malang Kota dalam menanggulangi curanmor di kota Malang yaitu (1) kecerobohan masyarakat dalam memarkir kendaraan, (2) masyarakat tidak mau bekerja sama dalam proses razia, (3) maraknya penadah curanmor, (4) penghilangan barang bukti curanmor. Keempat, upaya-upaya Polres Malang Kota untuk mengatasi kendala yang dihadapi dalam menanggulangi curanmor di Kota Malang diantaranya (1) Melakukan penyuluhan terhadap masyarakat dan pemilik dealer sepeda motor, (2) Melakukan razia sesuai dengan prosedur yang berlaku agar masyarakat mau bekerja sama dalam proses razia, (3) Meminimalisir jumlah penadah curanmor dengan mengadakan patroli bersekala besar dan melarang operasional toko yang tidak memiliki izin resmi untuk menjual barang kendaraan bermotor, (4) menindak tegas orang-orang yang menjual barang hasil curanmor di pasar loak

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENGEMUKAKAN PENDAPAT PADA MATA PELAJARAN PPKn DI MAN 2 MADIUN

    No full text
    ABSTRAK   Witantra, Amirtama. 2015. Penerapan Model Pembelajaran Problem Solving untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Mengemukakan Pendapat  Pada Mata Pelajaran PPKn di Madrasah Aliyah Negeri 2 Madiun. Skripsi, Program Studi PPKn, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Margono, M.Pd, M.Si (II) Siti Awaliah SP.d, M.Hum   Kata Kunci: model pembelajaran problem solving, mengemukakan pendapat.   Minat belajar siswa Madrasah Aliyah Negeri 2 Madiun terhadap mata pelajaran PPKn masih tergolong sangat rendah. Hal ini disebabkan karena sikap siswa selama mengikuti proses pembelajaran tidak fokus. Bahkan ada sebagian siswa yang menganggap mata pelajaran PPKn tidak begitu penting dikarenakan tidak masuk pada mata pelajaran yang diujikan pada Ujian Nasional (UN). Penggunaan metode dalam pembelajaran sangat diutamakan guna menimbulkan gairah belajar, motivasi belajar, dan merangsang siswa agar berperan aktif dalam proses pembelajaran. Penggunaan gaya belajar di kelas yang konvensional membuat para pelaku kegiatan pembelajaran menjadi jenuh dalam mempelajari materi. Penggunaan model problem solving  merupakan salah satu alternatif dalam menciptakan suasana belajar yang baru di dalam kelas. Metode problem solving diharapkan dapat lebih mempermudah pemahaman materi pembelajaran yang diberikan oleh guru dan nantinya dapat mempertinggi kualitas proses pembelajaran. Dengan penggunaan metode tersebut, minat dan hasil belajar siswa dapat ditingkatkan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendiskripsikan penerapan  model problem solving di kelas XI Mia 5 dan untuk mengetahui bagaimana peningkatan kemampuan mengemukakan pendapat siswa setelah diterapkan model problem solving di kelas XI Mia 5 Madrasah Aliyah Negeri 2 Madiun. Penelitian menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (classroom action research). Peneliti berperan sebagai perencana, pelaksana tindakan, pengamat, pengumpul dan penganalisa data, sekaligus menjadi pelapor dari hasil penelitiannya sendiri. Peneliti dibantu oleh guru mata pelajaran PPKn dan satu teman sebaya dari Jurusan PPKn sebagai mitra observasi dan pengumpul data. Penelitian dilaksanakan di Madrasah Aliyah Negeri 2 Madiun, jalan Sumberkarya No.5 kecamatan Taman, Kota Madiun dengan subyek penelitian adalah kelas XI Mia 5 di Madrasah Aliyah Negeri 2 Madiun Tahun ajaran 2015/2016 semester gasal dengan jumlah siswa sebanyak 33 siswa yaitu 12 siswa laki-laki dan 21 siswa perempuan. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini diperoleh dari proses pembelajaran melalui pendekatan scientific dengan menggunakan model problem solving dalam meningkatkan kemampuan mengemukakan pendapat siswa. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah analisis model pembelajaran problem solving dan analisi data kemampuan mengemukakan pendapat siswa pada observasi, siklus I dan siklus II. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, dimana dalam setiap siklus difokuskan pada kegiatan pokok yaitu (1) planning; (2) implementing; (3) observing; (4) reflecting. Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, peneliti memperoleh kesimpulan sebagai berikut. Pertama, model pembelajaran problem solving merupakan salah satu model pembelajaran yang sangat baik untuk diterapkan dalam pembelajaran PPKn di kelas XI Mia 5 Madrasah Aliyah Negeri 2 Madiun. Model pembelajaran ini telah mengubah kondisi belajar yang sebelumnya cenderung pasif menjadi aktif dan kritis. Kedua, pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran problem solving terbukti dapat meningkatkan kemampuan mengemukakan pendapat siswa pada mata pelajaran PPKn di kelas XI Mia 5 Madrasah Aliyah Negeri 2 Madiun

    Peran Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Jombang Dalam Rangka Meningkatkan Partisipasi Politik Pemilih Pemula Pada Pemilu Legislatif 2014

    No full text
    ABSTRAK   Pratama, Akhmad Fajar Surya. 2015. Peran Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Jombang Dalam Rangka Meningkatkan Partisipasi Politik Pemilih Pemula Pada Pemilu Legislatif 2014. Skripsi, Jurusan Hukum Dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nur Wahyu Rochmadi, M.Pd, M.Si, (II) Drs. Ketut Diara Astawa, SH, M.Si.   Kata Kunci: partisipasi politik, pemilih pemula, Pemilu Legislatif 2014, KPU        Kabupaten Jombang   Potensi pemilih pemula dalam pemilu ini sangat besar karena dari 20 persen jumlah pemilih dalam pemilu adalah pemilih pemula. Jumlah pemilih pemula di Kabupaten Jombang adalah 13.045 pemilih. Dari sekian banyak jumlah pemilih pemula tersebut bahwa pemilih pemula ini belum memahami bahkan belum mengetahui informasi tentang Pemilu Legislatif 2014 di Kabupaten Jombang. Maka dari itu Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Jombang berusaha memberikan informasi Pemilu Legislatif 2014 kepada seluruh pemilih pemula yang ada di Kabupaten Jombang dengan tujuan untuk meningkatkan partisipasi politik pemilih pemula. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui program yang dilakukan KPU Kabupaten Jombang dalam meningkatkan partisipasi politik pemilih pemula dalam Pemilu Legislatif 2014, berikut ini rumusan masalahnya yaitu: (a) Bagaimanakah peran KPU Kabupaten Jombang dalam meningkatkan partisipasi politik pemilih pemula dalam Pemilu Legislatif 2014?; (b) Apa saja faktor-faktor yang menghambat peran KPU Kabupaten Jombang dalam meningkatkan partisipasi politik pemilih pemula dalam Pemilu Legislatif 2014 ?; (c) Apa saja faktor-faktor yang mendukung peran KPU Kabupaten Jombang dalam meningkatkan partisipasi politik pemilih pemula di Pemilu Legislatif 2014 ?; (d) Bagaimanakah KPU Kabupaten Jombang mengatasi hambatan meningkatkan partisipasi politik pemilih pemula dalam Pemilu Legislatif 2014 ?. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara dan dokumentasi. Pengumpulan data dengan wawancara semistruktur kepada informan-informan yaitu anggota KPU Kabupaten Jombang, pemilih pemula, dan pihak sekolah serta dengan dokumen-dokumen tentang Laporan Pemilu Legislatif 2014 dari KPU Kabupaten Jombang. Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menggunakan ketekunan pengamat  untuk pengecekan keabsahan data. Berdasarkan hasil analisis data terdapat empat hasil temuan yang dapat disimpulkan yaitu: Pertama, peran KPU Kabupaten Jombang dalam meningkatkan partisipasi politik pemilih pemula di Pemilu Legislatif 2014 dengan cara: (a) Jalan Sehat Pemilu Legislatif 2014, jalan sehat ini dilaksanakan sebanyak tiga kali. Pertama tanggal 7 April 2013 dengan tema “Menyongsong Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD Tahun 2014 yang Jujur dan Adil” yang diikuti oleh 4310 peserta. Kedua tanggal 27 September 2013 dengan tema “Jombang Memilih Semua Terdaftar Semua Bisa Memilih” yang diikuti oleh 4810 peserta. Ketiga tanggal 9 Maret 2014 dengan tema “Menuju Pemilu Jujur dan Adil 2014” yang diikuti oleh 5310 peserta. Program jalan sehat ini diikuti berbagai elemen peserta seperti anggota PPK, anggota PPS, Panwascam, Panitia Pengawas Lapangan, SKPD se-Kabupaten Jombang, masyarakat umum, pengurus parpol peserta Pemilu Legislatif 2014, LSM, Relawan Demokrasi, sekolah seputar alun-alun (SMAN 1 Jombang dan SMKN 2 Jombang); (b) Sosialisasi di Pondok Pesantren, sosialisasi ini dilakukan pada tanggal 9-10 Desember 2014 di delapan pondok pesantren di Kabupaten Jombang yaitu Ponpes Bahrul Ulum, Ponpes Majmaul Bahrain, Ponpes Mambaul Maarif, Ponpes Gadingmangu, Ponpes Tebuireng, Ponpes Paculgowang, Ponpes Rejoso, Ponpes Kalibening. Jumlah pesertanya ada 19.518 santri. Materi yang disampaikan yaitu himbauan kepada santri yang mempunyai hak pilih agar menggunakan hak pilihnya pada 9 April 2014; (c) Apel Pagi Pemilih Pemula Sukses Pemilu 9 April 2014, apel ini dilakukan pada tanggal 26 Maret 2014 dan 7 April 2014. Diikuti oleh 600 peserta dari 44 SMA/SMK di Kabupaten Jombang. Anggota KPU Kabupaten Jombang dan anggota PPK menjadi pembina apel. Materi yang disampaikan tentang pentingnya pemilu, hak dan kewajiban pemilih, dan informasi tentang Pemilu Legislatif 2014; (d) Sosialisasi dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lentera, sosialisasi ini dilakukan di Aula MWC NU Jogoroto yang diikuti oleh 100 peserta dari perwakilan tokoh agama, ormas kepemudaan, LSM, ketua OSIS se-Kecamatan Jogoroto. Materi yang disampaikan peta perpolitikan Indonesia, perbedaan sistem Pemilu 2014 dan 2009, dan tahapan Pemilu Legislatif 2014; (e) Sosialisasi Kepada Siswa SMKN Wonosalam, sosialisasi ini dilakukan pada 1 Maret 2014 yang diikuti oleh 100 peserta dari seluruh kelas XII. Materi yang disampaikan yaitu informasi tentang Pemilu Legislatif 2014. Kedua, faktor yang menghambat peran KPU Kabupaten Jombang dalam meningkatkan partisipasi politik pemilih pemula di Pemilu Legislatif 2014 yaitu : (a) waktu, minimnya waktu yang tersedia untuk melakukan sosialisasi Pemilu Legislatif 2014; (b) kondisi lingkungan sekolah, lingkungan sekolah saat di datangi KPU Kabupaten Jombang sedang melakukan persiapan UN, ujian sekolah, dan ujian masuk perguruan tinggi. Ketiga, faktor yang mendukung peran KPU Kabupaten Jombang dalam meningkatkan partisipasi politik pemilih pemula di Pemilu Legislatif 2014 yaitu (a) support/dukungan, sosialisasi ini didukung dan direspon oleh seluruh warga sekolah; (b) kerjasama, kerjasama dengan berbagai pihak seperti sekolah dan dinas pendidikan agar sosialisasi ini bisa terlaksana. Keempat, solusi dari faktor yang  menghambat peran KPU Kabupaten Jombang dalam meningkatkan partisipasi politik pemilih pemula di Pemilu Legislatif 2014 yaitu: (a) koordinasi, KPU Kabupaten Jombang berkoordinasi dengan pemangku kepentingan dalam pelaksanaan sosialisasi Pemilu Legislatif 2014; (b) pengaturan waktu, dilakukan dengan penyusunan jadwal sosialisasi berdasarkan rekomendasi dinas pendidikan setempat. Saran ditujukan pada KPU Jombang agar berkoordinasi dengan dinas pendidikan di kecamatan setempat, PPK, dan PPS seluruh Kabupaten Jombang dengan maksud untuk melalukan sosialisasi Pemilu Legislatif 2014 di SMA/SMK/MA yang belum didatangi oleh KPU Kabupaten Jombang

    Penerapan Model Pembelajaran Complete Sentence dalam Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar PPKn Siswa Kelas X SMK Negeri 12 Malang

    No full text
    oai:ojs.karya-ilmiah.um.ac.id:article/44637ABSTRAK   Cahyo, Nur Arifan Dwi. 2015. Penerapan Model Pembelajaran Complete Sentence dalam Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar PPKn Siswa Kelas X SMK Negeri 12 Malang. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Arbaiyah Prantiasih, M.Si, (II) Hj. Yuniastuti, S.H, M.Pd   Kata Kunci : Model Pembelajaran Complete Sentence, Aktivitas, Hasil Belajar PPKn   Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan berkontribusi penting menunjang tujuan bernegara Indonesia yang  berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan berkaitan dan berjalan seiring dengan perjalanan pembangunan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Dalam ranah pendidikan di sekolah, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan mengajarkan pada siswa untuk mengimplementasikan nilai-nilai yang tercantum dalam Pancasila. Oleh karena itu, dibutuhkan metode pengajaran yang tepat agar siswa lebih mudah memahami materi pelajaran PPKn. Metode pembelajaran yang  tepat akan mampu meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa, salah satunya adalah model pembelajaran Complete Sentence, model pembelajaran tersebut dapat memunculkan kerjasama antar individu yang dikemas melalui kerja kelompok yang nantinya siswa yang mampu dalam bidang akademik dapat membantu teman yang lain sehingga dapat belajar bersama-sama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya penerapan model pembelajaran complete sentence dan aktivitas siswa serta hasil belajar siswa setelah menggunakan model pembelajaran complete sentence. Bentuk dari penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang diterapkan dengan 2 siklus. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 12 Malang mulai dari 12 Februari 2015 sampai 12 Maret 2015. Selama penelitian baik siklus I dan siklus II banyak mengalami peningkatan pada proses belajar siswa kelas X MM-2 yang berjumlah 38 siswa. Pada kegiatan siklus I, masih ada beberapa siswa yang masih pasif, keaktifan dalam bertanya dan menjawab belum terlihat, saat diskusi kelompok masih banyak siswa yang belum memberikan kontribusi kepada kelompoknya. Sedangkan pada sikllus II siswa menjadi lebih aktif baik dalam bertanya maupun menjawab, antusias anggota dalam kerja kelompok sudah terlihat. Hasil belajar siklus I dengan menggunakan model pembelajaran complete sentence mengalami peningkatan dari hasil belajar pada kegiatan pra tindakan  dengan menggunakan metode pembelajaran ceramah dan tanya jawab. Rata-rata hasil belajar siklus I adalah 75,0. meningkat 15,9 % dari hasil belajar kegiatan pra tindakan yang hanya 59,1. Jika dilihat dari nilai rata-rata kelas sudah mencapai nilai KKM, namun hal ini perlu ditingkatkan. Sedangkan hasil belajar pada tindakan siklus II mencapai 86,5 meningkat 26,4 % dari krgiatan pra tindakan dan meningkat 11,5 % dari tindakan siklus I. Secara garis besar hasil belajar siswa sudah mengalami peningkatan dan mencapai nilai KKM yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran complete sentence telah berjalan dengan baik. Proses dari kegiatan tersebut dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar PPKn pada siswa kelas X MM-2 SMK Negeri 12 Malang yang di dasarkan pada paparan data dari kegiatan Pra Tindakan, kegiatan Siklus I, dan kegiatan siklus II mengalami pningkatan. Dari hasil penelitian ini guru disarankan untuk menerapkan model pembelajaran complete sentence atau model pembelajaran lain di kelas untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa. Hal ini juga bertujuan agar siswa tetap bersemangat dan tidak merasa bosan dalam setiap kegiatan pembelajaran

    0

    full texts

    436

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇