Persona:Jurnal Psikologi Indonesia
Not a member yet
304 research outputs found
Sort by
Kepemimpinan inklusif dan persepsi keamanan psikologis: Peran mediasi kepercayaan pada manajemen: Inclusive leadership and perceptions of psychological safety: The mediating role of trust in management
This study aims to examine the effect of inclusive leadership on psychological safety mediated by trust in management. Based on the conservation of resources theory, inclusive leadership serves as external resources that enable individuals to have higher trust in management which in turn will enhance their psychological safety. Participants in this study were healthcare workers, i.e., doctors and nurses, from two private hospitals in Medan (N = 241). Data were obtained both offline by paper and pencil survey and online via g-form for those who were convenient with the online form of survey. The instruments used were the inclusive leadership scale (a = 0,94), psychological safety (a = 0,71), and trust in management scale (a = 0,92). The sampling technique used was convenient sampling, and data were analyzed using Hayes’ PROCESS macro version 4.1) on SPSS software. The results showed that trust in management partially mediated the relationship between inclusive leadership and psychological safety. Theoretical and practical implications are discussed.
Keywords: Conservation of Resources Theory; Healthcare; Inclusive Leadership; Psychological Safety; Trust in Management.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara kepemimpinan inklusif dengan keamanan psikologis melalui kepercayaan terhadap manajemen. Berdasarkan teori konservasi sumber daya, atasan yang menampilkan perilaku inklusif akan menjadi sumberdaya bagi individu yang dapat meningkatkan kepercayaan mereka pada manajemen, dan kepercayaan pada manajemen pada gilirannya akan menjadi sumberdaya bagi individu untuk meningkatkan perasaan aman secara psikologis di organisasi. Partisipan dalam penelitian ini merupakan tenaga kesehatan, yaitu dokter dan perawat, dari dua rumah sakit swasta di Medan (N = 241). Data diperoleh secara online menggunakan g-form dan offline dengan mendatangi partisipan di tempat mereka bekerja dan memberikan kuesioner tertulis. Teknik sampling yang digunakan adalah convenient sampling, dan pengambilan data hanya dilakukan pada dokter dan perawat yang bersedia berpartisipasi pada saat pengambilan data. Alat ukur yang digunakan adalah kepemimpinan inklusif (a = 0,94), persepsi keamanan psikologis (a = 0,71), dan kepercayaan pada manajemen (a = 0,92). Data dianalisis menggunakan macro-PROCESS versi 4.1 dari Hayes pada SPSS versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan pada manajemen memediasi hubungan antara kepemimpinan inklusif dan keamanan psikologis secara parsial. Implikasi teori dan praktis dari penelitian akan didiskusikan.
Kata kunci: Keamanan Psikologis; Kepemimpinan Inklusif; Kepercayaan pada Manajemen; Tenaga Kesehatan; Teori Konservasi Sumber Daya
Loyalitas pelanggan dalam E-commerce: Menguji anteseden melalui Structural Equation Modeling: E-commerce's customer loyalty: Antecedents testing through Structural Equation Model
Abstract
This research is to determine the role of customer satisfaction as a mediator between utilitarian service quality and pleasant service quality on customer loyalty. The research used a questionnaire conducted online using the Google Form feature. Using a convenience sampling technique, 455 e-commerce users throughout Indonesia who are in the millennial to baby boomer generation (20-74 years) are found as research samples. The researcher developed a questionnaire using a Likert scale that modified the instruments from previous research to suit current research needs. The construct validity was reviewed again using CFA (confirmatory factor analysis). CFA results reveal that all indicators of the research measuring tool get a loading factor ≥ 0.50, construct reliability ≥ 0.70, and Average Variance Extracted ≥ 0.50. The data analysis process was carried out using Structural Equation Modeling. The study results show that customer satisfaction is a mediator between utilitarian and pleasant service quality on customer loyalty. This research implies that e-commerce can consider factors such as Customer Relationship Management, Customer Satisfaction, Pleasant Service Quality, and Utilitarian Service Quality to achieve customer satisfaction, ultimately maximizing company profits.
Keywords: Customer Loyalty; Customer Relationship Management; Customer Satisfaction; Service Quality Pleasant; Service Quality Utilitarian
Abstrak
Penelitian ini untuk mengetahui peran customer satisfaction sebagai mediator antara service quality utilitarian dan service quality pleasant terhadap customer loyalty. Penelitian menggunakan kuesioner yang dilakukan secara online menggunakan fitur dari Google Form. Dengan teknik convenience sampling, didapatkan 455 pengguna e-commerce di seluruh Indonesia yang berada pada generasi millennials hingga generasi baby boomer’s (20-74 tahun) sebagai sampel penelitian. Peneliti mengembangkan kuesioner dengan menggunakan skala Likert yang memodifikasi instrumen-instrumen dari penelitian terdahulu agar sesuai dengan kebutuhan penelitian saat ini yang dilihat Kembali validitas konstruknya menggunakan CFA (confirmatory factor analysis). Hasil CFA mengungkapkan bahwa semua indikator alat ukur penelitian mendapatkan loading factor ≥ 0,50, construct reliability ≥ 0,70, dan Average Variance Extracted ≥ 0,50. Proses analisis data dilakukan dengan menggunakan Structural Equation Modeling. Hasil penelitian menunjukan bahwa customer satisfaction berperan sebagai mediator antara service quality utilitarian dan service quality pleasant terhadap customer loyalty. Implikasi dari penelitian ini, e-commerce dapat mempertimbangkan faktor-faktor seperti Customer Relationship Management, Customer Satisfaction, Service Quality Pleasant, dan Service Quality Utilitarian untuk mencapai kepuasan pelanggan yang pada akhirnya memaksimalkan keuntungan perusahaan.
Kata kunci: Kepuasan Pelanggan; Kualitas Layanan Kesenangan; Kualitas Layanan Utilitarian; Loyalitas Pelanggan; Pengelolaan Hubungan Pelanggan 
Stres warga binaan pemasyarakatan di masa pandemi Covid-19: Menguji peranan dukungan sosial dan orientasi budaya
Abstract
This study aims to determine whether there is a simultaneous influence of social support and cultural orientation on the stress level of correctional inmates in Rutan Class II B Salatiga. One hundred thirty-two prisoners participated in the study. This study used a quantitative approach with regression analysis to answer the research objectives. The measuring tools are the Social Support Scale (α=0,912), Cultural Orientation Scale (α=0,722), and DASS-21 (α=0,846). The results showed no significant effect between social support and cultural orientation on the stress level of WBP in Salatiga Rutan. The results of the descriptive analysis showed that most of the participants' stress and social support were moderate, and all participants had a high vertical collectivism cultural orientation. So, the detention center needs to pay attention to the condition of the inmate's stress level and minimize the factors that can affect stress.
Keywords: stress, social support, culture orientation, correctional inmates, COVID-19 pandemic
Abstrak
Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh dukungan sosial dan orientasi budaya secara simultan dengan tingkat stres Warga Binaan Pemasyarakatan di Rutan Klas II B Salatiga. Sebanyak 132 orang Warga Binaan Pemasyarakatan menjadi partisipan. Pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi berganda untuk menjawab pertanyaan penelitian. Skala pengukuran yang digunakan adalah Social Support Scale (α=0,912), Cultural Orientation Scale (α=0,722), dan DASS-21 (α=0,846). Dari hasil penelitian disimpulkan tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan antara dukungan sosial dan orientasi budaya dengan tingkat stres Warga Binaan Pemasyarakatan. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa stres maupun dukungan sosial sebagian besar partisipan berada pada tingkat sedang dan seluruh partisipan memiliki orientasi budaya vertical collectivism pada taraf tinggi. Untuk itu pihak Rutan perlu memperhatikan kondisi kesehatan mental Warga Binaan Pemasyarakatan dan meminimalkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya.
Kata kunci: tingkat stres, dukungan sosial, orientasi budaya, warga binaan pemasyarakatan, pandemi COVID-1
Adaptasi dan validasi the Intolerance of Uncertainty Scale-12 pada individu yang telah menikah selama pandemi Covid-19
Abstract
This study aims to adapt and validate the Intolerance of Uncertainty Scale-12 in a group of married individuals in Indonesia during the pandemic of Covid-19. Getting married is a significant transitional stage for individuals. Previous research has shown that married couples experience anxiety over their lives and family as a response to uncertain conditions. The Intolerance of Uncertainty Scale-12 is a scale to measure individual responses to uncertainty. However, as the best of researcher’s knowledge, there was no Indonesian version that has been culturally adapted and validated. This research used quantitative method and 203 participants participated in this study through snowball sampling. Data analysis utilized factor analysis with the exploratory factor analysis (EFA) and confirmatory factor analysis (CFA) to measure construct validity, Aiken’s V to measure content validity, and Cronbach’s Alpha to measure reliability. Results showed that model fit at the 4 factors according to χ2, RMSEA, SRMSR, CFI, and TLI scores. Those aspects are negative perception of uncertainty, desire for certainty, behavioral inhibition due to uncertainty, and helplessness toward uncertainty. Furthermore, explanation about the factors formation will be discussed.
Keywords: adaptation, Indonesia, IUS-12, married individuals, validation
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengadaptasi dan memvalidasi the Intolerance of Uncertainty Scale-12 pada kelompok individu yang telah menikah di Indonesia selama pandemi Covid-19. Menikah merupakan tahap transisi yang cukup signifikan bagi individu. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa pasangan menikah mengalami kecemasan sebagai respon atas ketidakpastian. The Intolerance of Uncertainty Scale-12 merupakan skala untuk mengukur respon individu atas ketidakpastian namun sebatas pengetahuan peneliti, belum ada versi Bahasa Indonesia yang telah melalui proses adaptasi dan validasi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan partisipan berjumlah 203 orang yang diperoleh dengan snowball sampling. Analisis data menggunakan analisis faktor dengan exploratory factor analysis (EFA) dan confirmatory factor analysis (CFA) untuk mengukur validitas konstruk, Aiken’s V untuk mengukur validitas isi, dan Cronbach’s Alpha untuk mengukur reliabilitas. Hasil analisis menunjukkan kesesuaian model dengan 4 faktor (aspek) didasarkan pada skor χ2, RMSEA, SRMSR, CFI, dan TLI. Aspek tersebut yaitu persepsi negatif terhadap ketidakpastian, hasrat akan kepastian, tindakan terhalangi oleh ketidakpastian, dan ketidakberdayaan menghadapi ketidakpastian. Lebih jauh lagi, terdapat penjelasan mengenai faktor-faktor yang terbentuk.
Kata kunci: adaptasi, individu menikah, Indonesia, IUS-12, validas
Intensi tidur cukup mahasiswa berdasarkan Theory Of Planned Behavior: Analisis Structural Equation Modelling
Abstract
Adequate sleep is essential since short sleep duration can cause various adverse effects. Previous research found that college students often find it difficult and have low intentions to get enough sleep due to several factors. This study aims to see the role of adequate sleep intention factors based on the Theory of Planned Behavior in college students, namely attitude toward behavior, subjective norm, and perceived behavioral control. Participants were 600 college students at a state university in Indonesia. The data was obtained through a questionnaire adapted from the Theory of Planned Behavior Questionnaire (α=0,793) and statistically analyzed using Structural Equation Modeling and Kruskal-Wallis. The results show that attitude toward behavior, subjective norm, and perceived behavioral control had a significant role in predicting adequate sleep intention in college students. Furthermore, attitude toward behavior has the most substantial role among the other factors. Through this research, future interventions that aim college students’ sleep intention can focus on targeting students’ attitude toward sleep behavior.
Keywords: adequate sleep; college students; sleep intention; structural equation modelling; theory of planned behavior
Abstrak
Tidur cukup sangat penting bagi manusia dan kurangnya waktu tidur dapat menyebabkan berbagai dampak negatif. Pada penelitian sebelumnya, ditemukan bahwa mahasiswa sering mengalami kesulitan dan memiliki intensi yang rendah untuk tidur cukup karena berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran faktor-faktor yang mendasari intensi tidur cukup berdasarkan Theory of Planned Behavior pada mahasiswa, yaitu attitude toward behavior, subjective norm, dan perceived behavioral control. Partisipan pada penelitian ini adalah 600 mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari Theory of Planned Behavior Questionnaire (α=0,793) dan dianalisis secara statistik dengan Structural Equation Modeling serta Kruskal-Wallis. Hasil menunjukkan bahwa attitude toward behavior, subjective norm, dan perceived behavioral control berperan secara signifikan terhadap intensi tidur cukup mahasiswa. Adapun faktor yang memiliki peran terbesar dalam memprediksi intensi tidur cukup pada mahasiswa adalah attitude toward behavior. Melalui hasil penelitian ini, para praktisi dapat menyasar sikap mahasiswa terhadap perilaku tidur cukup saat hendak merancang intervensi tidur cukup pada mahasiswa.
Kata kunci: intensi; mahasiswa; structural equation modelling; theory of planned behavior; tidur cuku
Peranan trait kepribadian dalam health risk behavior: Tinjauan berdasarkan Five Factors Model
Abstract
Non-communicable diseases cause around 70% of deaths in the world due to health risk behaviours. Several studies reveal that health risk behaviours are associated with personality traits possessed by individuals. The purpose of this study was to determine the correlation between personality traits and health risk behaviour. This study uses a quantitative approach with a cross-sectional study design. The number of research samples was 399 first-year students who were taken using a simple random sampling technique. The research instrument used the big five personality test (α= 0.829) and the health risk behaviour inventory (α=0.784). The results of the Pearson correlation test showed that the five personality traits were negatively correlated with physical activity; neuroticism, openness, and conscientiousness traits were negatively correlated with eating and sleeping habits; extraversion and openness traits correlated with alcohol consumption; whereas smoking is correlated with conscientiousness, and use of drugs is correlated with agreeableness, both in the direction of negative correlation. Further research is needed to include other factors that can influence whether there is a correlation or the direction of correlation between variables.
Keywords: five-factor model; college student; health risk behaviour; personality traits
Abstrak
Sekitar 70% kematian di dunia diakibatkan oleh penyakit-penyakit tidak menular yang dapat terjadi karena perilaku berisiko kesehatan. Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa perilaku berisiko kesehatan yang dilakukan berkaitan dengan trait kepribadian yang dimiliki individu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara trait kepribadian dengan perilaku berisiko kesehatan (health risk behavior). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Jumlah sampel penelitian sebanyak 399 orang mahasiswa tahun pertama yang diambil menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian menggunakan the big five personality test (α= 0.829) dan health risk behavior inventory (α=0.784). Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan bahwa kelima trait kepribadian berkorelasi negatif dengan aktivitas fisik; trait neuroticism, openness dan conscientiousness berkorelasi negatif dengan kebiasaan/pola makan dan kebiasaan tidur; trait extraversion dan openness berkorelasi dengan konsumsi alkohol; sedangkan merokok berkorelasi dengan conscientiousness; dan penggunaan obat-obatan berkorelasi dengan agreeableness, keduanya dengan arah korelasi negatif. Penelitian secara lebih lanjut diperlukan dengan mengikutsertakan faktor-faktor lain yang memiliki kemungkinan dalam mempengaruhi ada tidaknya korelasi ataupun arah korelasi antar variabel.
Kata kunci: five-factor model; mahasiswa; trait kepribadian; health risk behavio
Analisis mediasi moderasi pada interaksi persepsi beban kerja rendah dan kebosanan kerja
Abstract
Millennial employees experience twice as much boredom at work as the previous generation. They often feel bored because lack of challenges and meaning in work and perceive their work as underloading. This study aimed to examine the mediating role of positive meaning in work in the relationship between the perception of underload work and boredom at work and to see whether that mediation relationship depends on increasing challenging job demands. The instruments used are boredom at work scale (∝ = 0.714), perception of underload work (∝ = 0.75), positive meaning in work (∝ = 0.87), and increasing challenging job demands (∝ = 0.83). The sampling technique used was purposive sampling with the characteristic employee born from 1982 to 1999 who had already worked at their current job for a minimum of six months. Data analysis used PROCESS HAYES model 4 for the mediation model and model 14 for the moderation mediation model. Data obtained from 327 participants showed that positive meaning in work mediated the relationship between the perception of underload work and boredom at work, and increasing challenging job demands had also been found as a moderating role in the relationship between positive meaning in work and boredom at work.
Keywords: boredom at work; increasing challenging job demands; perception of underload work; positive meaning in work; millennials.
Abstrak
Karyawan milenial mengalami kebosanan kerja dua kali lebih sering dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Karyawan milenial sering merasa bosan karena kurangnya tantangan dan makna di dalam pekerjaannya, serta mempersepsikan pekerjaan mereka memiliki beban kerja yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran mediasi positive meaning in work dalam hubungan antara persepsi beban kerja rendah dan kebosanan kerja, serta untuk melihat hubungan mediasi tersebut apakah tergantung dari increasing challenging job demands. Instrumen yang digunakan adalah skala kebosanan kerja (∝ = 0.714), persepsi beban kerja rendah (∝ = 0.75), positive meaning in work (∝ = 0.87), dan increasing challenging job demands (∝ = 0.83). Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan kriteria karyawan yang lahir pada tahun 1982-1999 dan telah bekerja minimal 6 bulan pada pekerjaan saat ini. Analisis data menggunakan PROCESS HAYES model 4 untuk model mediasi dan model 14 untuk model mediasi moderasi. Data dari 327 partisipan menunjukkan bahwa positive meaning in work memediasi hubungan antara persepsi beban kerja rendah dan kebosanan kerja dan increasing challenging job demands juga ditemukan memiliki peran moderasi dalam hubungan positive meaning in work dan kebosanan kerja.
Kata Kunci: kebosanan di tempat kerja; increasing challenging job demands; persepsi beban kerja rendah; positive meaning in work; millennial
Efek mediasi ketakutan menjadi lajang dalam hubungan antara stereotip negatif dan kesejahteraan psikologi perempuan lajang
Abstract
The number of single women in Indonesia is increasing, but single women in Indonesia are also vulnerable to negative stereotypes. Unpleasant experiences experienced by single women can have a negative impact. This study examines the association between negative stereotypes and psychological well-being and the mediating effect of fear of being single. The study participants were 196 single women aged 25 – 55 years, had completed their high school, and staying in Indonesia. Participants reported their experiences as single such as psychological well-being, happiness, negative stereotypes, fear of being single, dating experience, and desire to marry. Those experiences were measured by Ryff’s psychological well-being scale (α=0,80), Pignotti’s & Abell’s negative stereotyping of single persons scale(α=0,754-0,88) , Spielman’s fear of being scale (α=0,829), conscientiousness of BFI personality scale (α=0,821) and open questionnaire. Linear regression analysis was performed to test the relationship between variables. The results show that negative stereotypes reduce the psychological well-being of single women in Indonesia, and the fear of being single mediates the association between the two variables. Findings of this study indicate the need for social change to replace unfavourable labels received by single women in Indonesia and provide information for improving the psychological well-being of single Indonesian women.
Keywords: fear of being single; negative stereotypes; psychological well-being; single women
Abstrak
Jumlah perempuan lajang di Indonesia semakin meningkat, namun perempuan lajang di Indonesia juga rentan mengalami stereotip negatif. Pengalaman tidak menyenangkan yang dialami perempuan lajang ini dapat membawa dampak negatif. Penelitian ini mengkaji asosiasi antara stereotip negatif dan kesejahteraan psikologis serta efek mediasi dari ketakutan menjadi lajang. Partisipan penelitian adalah 196 perempuan lajang berusia 25 – 55 tahun, berpendidikan minimal setara dengan SMA dan berdomisili di Indonesia yang melaporkan pengalaman sebagai lajang seperti kesejahteraan psikologis, kebahagiaan, stereotip negatif, ketakutan menjadi lajang, pengalaman berpacaran, dan keinginan untuk menikah. Pengalaman partisipan diukur dengan skala kesejahteraan psikologis Ryff (α=0,80), skala stereotip negatif individu lajang Pignotti dan Abell (α=0,754-0,88), skala fear of being single Spielman (α=0,829), skala BFI kepribadian conscientiousness (α=0,821). Analisis regresi linear dilakukan untuk menguji hubungan antar variabel. Hasil menunjukkan stereotip negatif menurunkan kesejahteraan psikologis perempuan lajang di Indonesia dan ketakutan menjadi lajang memediasi asosiasi kedua variabel tersebut. Temuan penelitian ini menunjukkan perlunya perubahan sosial untuk mengganti label buruk yang diterima perempuan lajang di Indonesia serta menjadi informasi bagi peningkatan kesejahteraan psikologis perempuan lajang Indonesia.
Kata kunci: ketakutan menjadi lajang; kesejahteraan psikologis; perempuan lajang; stereotip negati